
"Maaf, Pak, ini Dedeknya sudah bersih dan rapi. Monggo segera diazankan," titah asisten bu bidan sambil menyerahkan bayi mungil yang sudah rapi dibedong ke hadapan Hariz.
Hariz menerima dan mengendong bayi kecilnya itu dalam pangkuan.
"Monggo, Pak, segera diazakan dulu," ujar mbak adisten kembali mengingatkan.
Hariz hanya menjawab dengan senyuman, seraya berkata, "Maaf, Mbak, sampai saat ini saya belum nemu kalau ada anjuran untuk mengazakan bayi yang baru lahir. Setahu saya menyerukan azan itu hanya panggilan ketika hendak melaksanakan salat saja," jelas Hariz panjang lebar.
Mendengar jawaban Hariz Mbak asisten hanya bisa saling berpandangan dengan bu bidan yang kebetulan sedang membereskan sebagian peralatan yang masih tercecer di ruangan.
"Tapi biasanya yang pernah melahirkan di sini semua rata-rata mengazankan bayinya, lho, Pak. Bahkan ada yang suaminya seorang ustaz juga beliau tetap mengazani anaknya," sela bu bidan kemudian.
"Nggih, Bu, saya ngertos. Orang lain mboten nopo-nopo kalau mau melakukannya. Mungkin beliau-beliau itu sudah menemukan anjurannya. Sedangkan saya hingga sekarang belum pernah tahu dan belum mendengar dalil sohihnya. Jadi ya, saya enggak mempraktikannya."
Bu bidan dan sang asisten keheranan dengan sikap Hariz yang menurutnya beda dari orang kebanyakan. Dari sekian pasien yang pernah melahirkan di kliniknya hampir semua bapak atau keluarga atau walinya pasti mengazankan bayi yang baru lahir.
Setelah keluar dari ruangan bersalin asistennya bertanya kepada Bu bidan.
"Bu, apa bapak tadi gak bisa azan kali, ya?"
"Tapi, waktu hendak melaksanakan salat Maghrib di musala saya lihat beliau lho, yang azan," jawab Bu bidan.
"Iya, saya juga baru nemu ada orang tua yang menolak ketika disuruh untuk mengadakan bayinya," sambung Bu u bidan kemudian.
Hariz yang tak sengaja mendengar obrolan dua wanita yang telah menolong istrinya itu hanya berlalu begitu saja menuju pintu keluar untuk mencari bubur kacang ijo pesanan sang istri tadi.
Menurut Hariz terserah apa kata orang pandangan tentang dirinya. Ia hanya berniat untuk berusaha sebisa mungkin mengamalkan apa yang sudah ia ketahui dan ia pahami selama ini. Karena dalam sebuah hadits sudah dijelaskan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
...يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ القَابِضُ عَلَى دِيْنِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْر...
“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.”
__ADS_1
Walaupun mendapat gunjingan dan cemoohan setiap kali ada sikapnya yang berbeda dari orang lain, ia sudah tidak mau mempedulikannya lagi.
Sebaik-baik penilaian itu hanya penilaian dari Allah lah yang paling penting. Sedangkan penilaian dari manusia atau orang lain itu tak terlalu diharapkan. Karena persepsi setiap orang pasti berbeda-beda. Pria itu hanya berniat menjalankan syariat yang sesuai dengan tuntunan serta tidak setengah-setengah dalam pengamalannya sesuai dengan ayat dalam Al-Qur'an yang berbunyi:
Allah Ta’ala berfirman,
... يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا ادْخُلُوْا فِي الْسِّلْمِ...
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan.” (Al-Baqarah: 208)
***
Hampir jam sepuluh malam lewat Hariz baru kembali ke ruangan bersalin sambil menjinjing keresek hitam berisi pesanan dan cemilan lainnya untu Dhena.
"Ini, Dek, dimakan dulu buburnya," perintah Hariz sembari menuangkan bubur kacang ijo itu ke dalam mangkuk kosong.
"Mas dapat dari mana buburnya? Memang malam-malam begini masih ada yang jualan?" tanya Dhena.
"Tadi Mas muter-muter sampe ke alun-alun kecamatan. Alhamdulillah masih ada yang mangkal."
Dhena yang dari tadi mulai terasa lapar usai menguras tenaganya begitu lahap menikmati bubur yang disuapin sang suami dengan penuh perhatian. Padahal tadi sore pihak klinik sudah membawakan dan menyiapkan makan malam khusus untuk pasien yang akan melahirkan dengan menu lengkap.
Namun, Dhena tidak selera untuk memakannya karena pengaruh rasa sakit yang luar biasa ia rasakan ketika kontraksi di dalam perut sudah mulai datang tanpa jeda.
Jangankan untuk bisa menghabiskan nasi satu piring, sekadar untuk minum satu teguk pun Dhena merasa tak mampu untuk melakukannya. Tapi setelah melewati proses melahirkan yang sudah menaruhkan sebagian nyawanya barulah wanita berperawakan kecil itu mulai merasakan perutnya keroncongan.
Hampir menjelang tengah malam Hariz dan Dhena tak bisa memejamkan mata. Dhena yang masih terbaring di dipan pasien merasa risih dengan kondisinya yang masih terus mengeluarkan darah nifas tanpa henti. Sesekali ia meminta tolong suaminya untuk mengganti kain jarik yang masih kering dan bersih. Dengan sigap dan penuh perhatian Hariz melayani setiap keperluan wanitanya kapan pun diminta dan diperlukan.
Hariz yang hanya menggelar tikar di lantai baru saja hendak beralih ke alam mimpinya, ketika ia dikejutkan oleh suara tangis melengking dari bayinya yang sedang tidur di dalam box bayi.
"Mas, dedeknya nangis, gimana ini, aku belum bisa bangun untuk menggendongnya," ucap Dhena karena badannya terasa belum bisa digerakkan walaupun hanya untuk membalikkan badan. Seluruh tulang dan persendiannya seakan terasa copot semua. Lemas.
Hariz pun tak kalah bingung dihadapkan dengan keadaan seperti itu. Hatinya ingin sekali meraih dan menolong bayinya yang semakin keras menangis. Tapi, ia tak tahu bagaimana caranya untuk bisa mengambilnya langsung bayi yang sedang tergeletak di dalam box. Ia khawatir malah terpeleset atau terjadi hal yang tak diinginkan karena belum berpengalaman menggendong bayi yang baru lahir seperti ini.
__ADS_1
Kedua pasangan suami istri itu pun hanya mampu saling berpandangan tanpa bisa berbuat apa-apa, sedangkan tangis bayinya semakin menjadi berharap segera diberi pertolongan.
"Mas bangunin Mbak asisten, sebentar, ya, siapa tahu bisa membantu," ucap Hariz sambil berlalu meninggalkan ruangan.
Setelah beberapa kali mengetuk pintu kamar yang kebetulan berdampingan dengan ruangan bersalin, keluarlah salah satu mbak asisten dan langsung diajak menuju kamar di mana Dhena dan bayinya sedang menangis kejer.
Dengan lihai Mbak adisten itu meraih dan menggendong bayi mungil yang ternyata sudah basah kuyup karena ompol. Lalu Menganti popok dan bedong dengan yang masih kering.
"Makasih, ya, Mbak, maaf mengganggu dan merepotkan," tutur Hariz merasa tak enak hati karena tadi sudah mengganggu tidur orang lain.
"Iya, Pak, gak apa-apa, memang ini sudah bagian tugas saya, kok, membantu pasien yang baru bersalin," ucap gadis berseragam putih itu tersenyum ramah.
***
Jam 8 pagi usai membersihkan diri dan sarapan Dhena sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Karena dilihat kondisi ibu dan bayinya sehat semua.
Bude Wati yang masih kerabatnya Hariz sengaja menjemputnya menggunakan roda empat yang sudah diparkir di halaman klinik.
Dhena berjalan tertatih sambil digandeng Hariz menuju mobil. Sedangkan bayinya sudah digendong bude Wati dan duduk di dalam mobil.
Baru saja Dhena hendak masuk dan duduk di bangku mobil hatinya tegelitik heran melihat di bagian kening bayi mungilnya terlihat seperti ada benda kecil berwarna putih.
Terdorong rasa penasaran yang tinggi lalu Dhena bertanya, "Itu yang ditempeli di dahi Dedek apa, Bude?" tanya Dhena hati-hati.
"Owh, ini bawang putih."
"Lho, kok, dikasih bawang putih, untuk apa?" Dhena makin penasaran.
"Ya, ini kan, mau melakukan perjalanan agak jauh, biar dedeknya selamat gak ada yang nempelin dan ngikutin, jadi harus ada penangkalnya." Bude Wati memberi penjelasan walaupun sebenarnya hati kecil Dhena gak bisa menerima bayinya diperlakuksn seperti itu. Menurutnya yang memberikan keselamatan dan perlindungan hanya Allah semata gak harus melalui benda apalagi bawang putih yang hanya bumbu dapur biasa.
"Gak apa-apa, Bude, gak usah ditempelin itu," ujar Dhena berusaha menolak perlakuan bude Wati.
"Husst! kamu ini Dhena, anak muda gak ngerti apa-apa. Giliran anakmu nanti kenapa-napa malah berabe. Ngerepotin semuanya," sangkal bude Wati ketus.
__ADS_1
Dhena dan Hariz saling berpandangan tanpa bisa berbuat banyak. Tapi dalam hati kecilnya menolak dengan pemandangan yang nampak di depan mata. Karena yang dilakukan budenya itu jelas bertentangan dengan syariat Islam.