
"Mbak, aku minta daun singkongnya boleh, gak?" Mala meminta izin kepada sang pemilik rumah untuk memetik daun singkong yang tumbuh banyak di samping rumah tetangganya.
"Iya, gak apa-apa, ambil aja Mbak Mala," jawab Bi Marti.
Dengan lihai jemari Mala memetik setiap tangkai daun singkong yang masih muda itu lalu dimasukannya ke dalam keresek yang dibawanya sendiri dari rumah.
Begitulah Mala, ibu muda itu harus pandai mengatur keuangan setiap harinya karena uang yang diberi oleh sang suami tidak cukup untuk memenuhi dapurnya yang harus tetap mengepul.
Uang yang dikasih suami hanya cukup untuk membeli tempe atau tahu dan bumbu lainnya, serta jajan anak. Sedangkan, untuk sayur mayur seringnya Mala memilih minta daun singkong, daun pepaya muda atau jantung pisang dari tetangga yang kebetulan baik hati selalu mengikhlaskan semua yang dibutuhkan oleh Mala.
"Kasihan anakmu, La, setiap hari dikasih makan daun-daunan terus. Udah mirip kambing saja," ledek Yu Sakiyah ketika melihat Mala sedang sibuk memetik daun singkong. Kebetulan rumah yu Sakiyah memang bersebelahan dengan rumah pemilik kebun.
Mala hanya menoleh sebentar lalu meneruskan aksinya. Ia merasa jengah tiap kali bertemu dan harus mendengarkan omongan Yu Sakiyah yang sebenarnya masih kakak dari suaminya itu atau kakak iparnya Mala.
"Makanya kerja. Jangan jadi istri pengangguran terus yang hanya mengandalkan pemberian dari suami. Udah tahu suamimu susah, malah bisanya jadi nambah beban saja," cecar Yu Sakiyah yang belum puas dengan omongannya yang tidak mendapatkan respon dari Mala.
Bagi Mala menjawab dan menyangkal setiap omongan yang keluar dari mulut Yu Sakiyah itu sama saja dengan menabur bensin ke dalam api yang hanya akan menimbulkan keributan saja ujung-ujungnya nanti.
Usai merasa cukup kemudian Mala mengucapkan terima kasih kepada Mbak Marti yang sedang menjemur cucian di depan rumah lalu berpamitan untuk pulang ke rumahnya sendiri, demi menghindari ucapan dari Yu Sakiyah yang akan tambah panjang jika ia terus berada di dekatnya.
***
Hati Mala mendadak risau tatkala mendapati ember tempat beras miliknya sudah kosong. Hanya tersisa sekitar 2 gelas belimbing untuk dimasak hari ini.
Ditengah kebimbangannya Mala dikejutkan oleh suara seseorang yang mengetuk pintu depan. Dengan langkah tergesa perempuan bertubuh kurus itu pun menghampiri sumber suara yang mengucapkan salam.
Dibukanya pintu perlahan sekaligus menjawab salam dari sang tamu. Kemudian menyuruh masuk dan mengajak duduk di kursi rotan yang sudah lapuk.
"Maaf Mbak Mala kalau kedatangan saya mengganggu," ucap Bu Darti yang menjadi tamunya Mala.
"Kedatangan saya ke sini selain untuk bersilaturahmi juga ingin memberikan amanat dari seseorang untuk disampaikan kepada Mbak Mala," sambung Bu Darti sembari mengambil sesuatu dari tasnya yang ia bawa.
__ADS_1
Mala mengernyitkan kening. Mencoba mencerna setiap kalimat yang barusan tadi diucapkan Bu Darti.
"Amanat apa, ya, Bu?" tanya Mala yang diliputi rasa penasaran.
Tangan Bu Darti terulur ke arah Mala seperti hendak memberikan sesuatu. Mala pun menerimanya.
"Ini apa dan dari siapa?" tanya Mala untuk kedua kalinya sambil mengamati sebuah amplop berwarna putih yang kini sudah berada di genggamannya.
"Itu dari Pak Susilo. Beliau calon kepala desa kita yang akan ikut pemilihan dengan calon yang lainnya Minggu depan." Bu Darti memberikan penjelasan. Sekaligus menyodorkan kembali satu bingkisan yang terbungkus kantong keresek ke hadapan Mala. Yang isinya sebuah kerudung berwarna hitam.
"Karena sudah dikasih amplop dan kerudung, jadi, usahakan saat pemilihan nanti kita memilih atau mencontreng nama Pak Susilo. Sekalian ajak suami Mbak Mala juga buat ngasih dukungan suaranya," lanjut Bu Darti kemudian.
Kini Mala mulai paham dengan arah pembicaraan tetangganya itu. Hati kecilnya ingin menolak semua pemberian dari Bu Darti. Tapi, setelah mengingat stok berasnya sudah mulai kerontang perasaan Mala kembali diliputi kegundahan.
Dengan ragu diterimanya pemberian dari pak Susilo yang dititipkan lewat Bu Darti barusan. Setelah dipastikan targetnya bersedia menerima dan berjanji akan memberikan dukungan suara Bu Darti pun berpamitan untuk melanjutkan menuju rumah-rumah yang warga yang lain.
***
Mala menceritakan tentang kedatangan Bu Darti kepada sang suami secara gamblang.
"Lumayan, Bang, isi amplopnya ada lima puluh ribu bisa buat beli beras untuk 4 hari kedepan," ungkap Mala dengan sorot mata berbinar.
"Selain itu aku juga dapet kerudung gratis buat salin biar gak pakai yang itu-itu saja," sambung Mala sembari menyiapkan makan siang untuk sang suami.
Romli menyimak semua pembicaraan istrinya dengan wajah datar tanpa memberikan respon apa pun. Setelah menyelesaikan makannya barulah lelaki berusia sekitar tiga puluh delapan tahun itu membuka suara.
"Dek, lebih baik kamu kembalikan lagi amplop dan kerudung yang tadi diberikan Bu Darti," saran Romli kemudian.
"Tapi, Bang .... "
"Gak ada tapi-tapian," tukas Romli memotong kalimat Mala yang tadi belum sempat selesai.
__ADS_1
"Hukum suap menyuap bagi yang memberi maupun yang menerima itu haram dan termasuk ke dalam dosa besar, Dek, walaupun sesusah apapun keadaan kita jangan sampai menukar keimanan dengan rupiah yang tak seberapa itu. Dalam sebuah hadits sudah dijelaskan yang artinya:
Dari Tsauban beliau berkata, “Rasulullah melaknat pemberi suap, penerima suap, dan perantaranya, yaitu orang yang menghubungkan keduanya. (HR. Ahmad, no. 22452; Ibnu Abi Syaibah, no. 21965.
Begitu juga dalam ayat Al-Qur'an:
سَمَّٰعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّٰلُونَ لِلسُّحْتِ ۚ فَإِن جَآءُوكَ فَٱحْكُم بَيْنَهُمْ أَوْ أَعْرِضْ عَنْهُمْ ۖ وَإِن تُعْرِضْ عَنْهُمْ فَلَن يَضُرُّوكَ شَيْـًٔا ۖ وَإِنْ حَكَمْتَ فَٱحْكُم بَيْنَهُم بِٱلْقِسْطِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ
Artinya: Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.(QS.Al-Maidah ayat:42).
Usai mendengar penjelasan yang panjang lebar dari sang suami. Dengan hati mantap kemudian Mala mendatangai rumah Bu Darti untuk mengembalikan semua yang tadi sempat diterimanya. Tak lupa perempuan itu pun memberikan penjelasan alasan penolakannya sesuai dengan apa yang ia dengar dari suaminya tadi.
***
"Bu, saya boleh ambil beras dulu 2 kilo gram saja," ucap Mala penuh harap kepada Bu Salamah pemilik warung di tepi jalan raya.
"Boleh, beras doang apa sama yang lainnya juga?" Bu Salamah menjawab dengan ramah sekaligus menawarkan kebutuhan yang lainnya kepada Mala.
"Makanya jangan belagu jadi orang. Masih hidup kere aja udah sok-sokan gak mau nerima pemberian dari orang lain," ejek Bu Darti yang sedari tadi berdiri sambil memilih bawang merah yang akan dibelinya.
Mala pura-pura tak mendengar ucapan Bu Darti yang jelas-jelas ditujukan kepada dirinya. Setelah menerima sekantung beras dari pemilik warung dan mengucapkan terima kasih Mala bergegas pulang menuju rumahnya.
Baru saja Mala menutup pintu. Terdengar ada suara yang mengucap salam dari arah luar. Wanita itu pun membukanya kembali. Nampak Bu Tini, tetangga yang berprofesi sebagai kepala sekolah SD itu sedang berdiri sambil menenteng tas rinjing.
Mala pun menyilakan Bu Tini untuk masuk.
"Maaf, Mbak, ini saya ada sedikit rezeki buat Mbak Mala dan keluarga mohon diterima ya." Tangan Bu Tini kemudian mengangkat sekantung beras berukuran 5 kg, mie instan 6 bungkus serta telur setengah kg. Kemudian menyelipkan amplop putih dalam genggaman Mala yang masih terpana dengan semua yang sedang dialaminya itu.
Bak di dalam mimpi. Beberapa waktu yang lalu Mala dilanda gundah gulana karena kehabisan beras dan tak ada uang simpanan sepeser pun. Kini Allah mengirim rezeki melalui tangan tetangganya yang memang sudah terkenal dengan kedermawanannya itu di kampung tempat tinggal Mala. Sudah kesekian kalinya Mala menerima pemberian yang serupa dari Bu Tini.
Hati Mala semakin yakin dengan pertolongan Allah kepada setiap hambanya yang sedang kesusahan. Ada rasa syukur karena dirinya kemarin sudah menuruti saran dari sang suami untuk tidak menerima pemberian apapun yang menjerumuskannya ke dalam perbuatan yang tidak diridhai-Nya.
__ADS_1
Mala pernah mendengar ada hadits Nabi yang berbunyi, "Penyuap dan yang disuap tempatnya di neraka."