Wanita-Wanita Pilihan

Wanita-Wanita Pilihan
Menjemput Hidayah


__ADS_3

***


Diantar temannya Bu Sarmah kini sedang dalam perjalanan menuju sebuah perkampungan yang terletak di kaki pegunungan. Pemandangan yang hijau menambah asri suasana desa yang masih alami.


Medan jalan yang naik turun tak menyurutkan niat Bu Sarmah untuk menunaikan misinya. Setelah menempuh perjalanan hampir menghabiskan waktu setengah hari kemudian kendaraan roda empat yang dikendarai Kang Supri sopir pribadinya Bu Sinta yang mengantar Bu Sarmah ke tempat yang mereka tuju akhirnya terpakir di sebuah halaman rumah berdinding bilik yang terbuat dari anyaman bambu.


"Beneran ini rumahnya?" tanya Bu Sarmah melirik ragu ke arah Bu Sinta.


"Iya, Jeng, saya masih ingat banget, kok, beberapa tahun yang lalu pun saya pernah mampir ke sini diantar teman." Bu Sinta berusaha meyakinkan Bu Sarmah yang masih menyiratkan keraguan dari sorot matanya.


"Ayo, kita turun sekarang!" ajak Bu Sinta seraya mendorong pintu mobil dan salah satu kakinya yang mengenakkan selop berhak tinggi mulai diturunkan dan menjejak tanah yang terlihat becek karena seperti baru turun hujan.


Bu Sarmah kemudian mengikuti Bu Sinta keluar pintu mobil dari arah berlawanan dengan menenteng tas beranded kebanggaannya.


"Oya, Kang Supri, biar gak jenuh, boleh nunggu kami di tempat perapatan gang yang tadi kita lewati. Saya lihat di sana ada warung kopi yang sepertinya buka dua puluh empat jam. Nanti kalau urusannya sudah selesai saya telepon Kang Supri," saran Bu Sinta kepada pak supir.


"Baik, Bu," jawab laki-laki sekitar berusia lima puluh tahun itu menganggukkan kepala patuh. Setelah memastikan kedua penumpangnya turun Kang Supri pun memutar mobil dan melaju menjauh dari rumah yang dituju dua wanita tadi.


Sambil saling berpegangan tangan kemudian mereka berdua mulai melangkahkan kaki menuju depan rumah yang masih berlantaikan tanah. Punggung tangan Bu Sinta mulai mengetuk pintu yang terbuat dari kayu tanpa cat yang sudah terlihat mulai lapuk dan berlumut halus berwarna hijau.


"Assalamualaikum ... Mbah, Mbah ada di dalam? ucap Bu Sinta harap-harap cemas.


Sedangkan Bu Sarmah masih berdiri mematung sembari memperhatikan sekeliling yang menurutnya terasa sangat asing.


Tak lama kemudian, terdengar suara berat seorang laki-laki sepuh dari arah dalam bangunan yang lebih pantas disebut gubuk itu.


"Siapa? Masuk!" tanyanya sekaligus memberikan perintah.


Bu Sinta mengangguk ke arah Bu Sarmah yang terlihat masih ragu dan takut. Perlahan didorongnya pintu kayu itu yang menimbulkan suara berderit.


Bu Sarmah menjerit histeris ketika ada seekor tikus kecil melintas dan tak sengaja menabrak kakinya ketika sudah berdiri di dalam rumah tua itu.

__ADS_1


Di dalam ruangan yang pengap itu ada satu buah amben yang terbuat dari bilahan bambu. Di sana terlihat seorang bapak tua sedang duduk bersila menghadapi sebaskom air yang sudah ditaburi berbagai macam bunga warna-warni.


Bu Sinta menarik pelan pergelangan tangan Bu Sarmah mengajaknya menaiki amben berukuran sempit itu.


"Ma'af, Mbah Sumo, saya datang kemari mengantar teman saya yang sedang mempunyai keinginan," tutur Bu Sinta langsung mengutarakan maksud dan niat kedatangannya.


Mbah Sumo terbatuk-batuk lalu kemudian berkata, "Apa yang temanmu itu inginkan dari saya?" tanyanya sambil menatap bergantian ke arah kedua tamunya.


"Cepat sampaikan semua keinginanmu, Jeng," bisik Bu Sinta persis di sebelah telinga Bu Sarmah yang duduk berdampingan dengannya.


Bu Sarmah kemudian berdehem. Mengatur napas untuk mengumpulkan keberanian agar bisa berbicara lancar di depan orang yang dianggapnya orang pintar itu. Berusaha menghalau rasa takut yang sedari tadi menyelimutinya. Semenjak ia mulai memasuki gubuk tua itu.


"Emh ... A, anu, Mbah, tujuan saya ke sini untuk meminta bantuan dan pertolongan kepada Mbah." Bu Sarmah seperti kehilangan akal sehat hingga ia melupakan Sang Penciptanya yang sesungguhnya satu-satunya tempat meminta pertolongan. Karena sudah dibutakan dengan keindahan dan kemewahan dunia yang fana ini. Hingga ia keluar dari jalur dan aturan agama.


"Apa tujuanmu?" Kakek tua itu menatap nyalang ke arah Bu Sarmah yang tersenyum risih melihat sorot mata Mbah Sumo.


"Saya ingin usaha toko emas saya semakin ramai pengunjungnya dan toko saingan saya menjadi sepi." Susah payah Bu Sarmah mengutarakan keinginan yang sudah lama disimpannya.


"Sebutkan nama orang yang kini jadi sainganmu itu!" titahnya kemudian.


"Namanya H. Mansyur dan Bu Salimah." Bu Sarmah menyebutkan dua nama orang yang barusan diminta oleh dukun tua itu.


Mbah Sumo kemudian terkekeh panjang, seraya berkata, "Perkara yang sangat gampang bagi saya."


Lalu lelaki tua berjanggut lebat itu mengambil sebuah botol berukuran sedang berisi air bening yang di dalamnya ada sebuah benda seperti batu berukuran sebesar ibu jari.


"Air ini Ibu cipratkan ke depan toko yang jadi sainganmu itu setiap malam Jumat kliwon hingga habis!" titahnya kemudian.


"Serbuk putih ini taburi ke setiap pojok bangunan tokomu sendiri sampai habis tak tersisa," sambungnya menyerahkan serbuk putih yang dibungkus secarik kertas ke hadapan Bu Sarmah.


"Untuk maharnya saya minta tiga juta rupiah sekarang juga," pungkasnya sembari tersenyum menyeringai menampakkan sebagian giginya yang sudah menghitam dan keropos pertanda tidak dirawat. Menguarkan bau yang tidak sedap dari dalam mulut dukun tua itu. Membuat Bu Sarmah seketika merasa mual dan ingin mengeluarkan isi perutnya.

__ADS_1


Dengan tangan gemetar Bu Sarmah menyerahkan amplop cokelat yang sudah dipersiapkan dari rumah untuk membayar yang disebut orang pintar tersebut.


Mbah Sumo tersenyum puas setelah menerima uang pemberian dari Bu Sarmah. Ia langsung menyimpan amplop ke dalam kantong baju lusuh dan kumal seperti tak pernah tersentuh air yang sedang dipakainya.


"Kami pamit, nggih, Mbah." Bu Sinta berpamitan kepada sang dukun setelah dirasa urusan Bu Sarmah sudah selesai. Yang dijawab dengan anggukkan kepala sambil batuk-batuk oleh kakek tua itu.


"Nanti setelah air dan serbuknya sudah habis Ibu harus kembali lagi ke sini. Masih ada tahapan dan ritual berikutnya yang harus dilakukan agar tujuan Ibu cepat terlaksana." Mbah Sumo mengingatkan sambil terus terkekeh di sela batuknya yang terdengar sangat mengerikan.


Mbah Sumo bangkit dari duduk mengantar kedua tamunya itu ke depan rumah hingga punggung kedua wanita separuh baya itu menghilang dari tikungan.


"Dasar, wanita tua serakah. Penampilannya saja yang ngota, tapi otaknya kosong dan bodoh yang mau saja aku kibulin dengan benda-benda kotor itu," gumam Kakek Sumo seraya berjalan memasuki pintu rumah yang disambut perempuan muda nan cantik dari dalam kamar dengan senyuman manis yang siap menerima isi amplop dari lelaki beprofesi dukun itu.


***


Selang dua Minggu kemudian Bu Sinta kembali mengajak Bu Sarmah untuk menemui dukun itu sesuai dengan yang pernah diperintahkan oleh Mbah Sumo saat itu.


"Maaf, Bu Sinta. Sepertinya saya tidak bisa ke sana lagi," ucap Bu Sarmah tegas.


"Lha, kenapa?"


"Saya ingin bertaubat sebelum ajal menjemput. Saya khawatir akhir hidup saya berada dalam kesyirikan. Nauzubillah. Sekarang saya ingin memanfaatkan sisa umur untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dan hidup dalam ketakwaan yang sempurna," pungkas Bu Sarmah bersungguh-sungguh.


Tak disangka Bu Sarmah mendapat hidayah setelah tak sengaja ibu paruh baya itu mendengarkan kajian di televisi yang menerangkan tentang bagaimana hukumnya mendatangi paranormal, orang pintar, atau kiyai yang berkedok sebagai dukun.


Ustaz tersebut menjelaskan sesuai dengan ayat Al-Qur'an yang artinya:


“Sesungguhnya Allah hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahamengenal.” (QS Luqman ayat 34)     


Sementara itu, dalam hadits riwayat Imam Ahmad, Nabi ﷺ Muhammad bersabda sebagai berikut ini:  


من أتى عرافا أو كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد 

__ADS_1


"Barangsiapa mengunjungi seorang arraaf atau peramal (dukun) dan percaya pada apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad (Alquran)." (Hadits sahih diriwayatkan Imam Ahmad) 


__ADS_2