
Usai mengikuti idhofah(ngaji kitab) siang Nisa ikut nimbrung berkumpul bersama teman lainnya yang sedang ramai di halaman belakang pondok. Tepatnya, di belakang dapur umum yang bersebelahan dengan letak kamar mandi. Ia ikut ngobrol ngaler ngidul berhaha hihi ria bersama sahabatnya yang kebetulan ikut duduk di sana.
"Nis, mau ikut gak?" seru Kurnia dari arah luar pintu gerbang belakang pondok. Dilihatnya gadis yang berpenampilan agak tomboy itu sedang bersepedahan seorang diri dengan riangnya mengelilingi halaman belakang asrama yang luas. Entah dari mana Kurnia mendapatkan dan memakai sepeda itu.
"Ana gak bisa naik sepeda tahu!" jawab Nisa seraya menghampiri Kurnia yang masih asyik menggoes.
"Sini ana bonceng di belakang. Ente berdiri nanti ana yang goes," ajak Kurnia bersemangat.
"Tapi, pelan-pelan, ya, bawanya. Ana takut jatoh." Nisa mengiakan ajakan sahabatnya itu sambil mencoba menjejakkan kedua telapak kakinya di atas besi penyangga sepeda yang berada di bagian belakang.
Kurnia mulai mengayuh sepeda perlahan mengitari tanah yang menyerupai lapangan luas. Nisa yang membonceng di belakang mulai menikmati asyiknya bersepeda. Mereka terlihat begitu bahagia seolah anak kecil yang baru menemukan mainan baru. Bercanda dan tertawa terbahak berdua sedikit melupakan setoran hafalan mahfudzot dan muthola'ah kepada ustazah Maryamah esok hari.
Merasa puas bersepeda kedua santri putri itu pun mulai masuk kembali ke dalam gerbang belakang pondok berbaur bersama teman yang lain. Nisa yang sedang duduk di bangku tiba-tiba tubuhnya merasakan dingin yang tidak biasa. Gadis berkulit cokelat itu mengira ia hanya kedinginan karena habis main bersepeda di luar tadi. Tapi, lama kelamaan ia merasakan ada yang aneh dengan badannya.
Padahal niat Nisa di situ sekalian hendak mandi sore, tapi urung karena rasa dingin yang ia rasakan semakin menjadi. Nisa berpamitan kepada temannya kalau ia mau kembali ke kamarnya yang berada di lantai tiga.
Tidak ada satu orang pun di kamar asrama. Semua teman Nisa sedang berada di luar. Ada yang sedang mandi, atau antri ngambil nasi di dapur umum untuk makan sore mereka.
Nisa segera menggelar tikar dan bantal untuk merebahkan badan setelah sebelumnya ia memakai switer terlebih dulu karena seluruh tubuhnya semakin menggigil.
Sudah hampir tiga puluh menit Nisa terbaring lemah seorang diri. Temannya belum ada yang kembali ke dalam kamar. Rasa dingin yang Nisa rasa semakin menusuk tulang sumsum. Hingga ia tak mampu lagi menguasai dirinya. Tangis Nisa pun pecah seketika. Air mata mulai membanjiri bagian pipinya yang mulai memerah menahan rasa antara dingin dan panas. Menjelang Maghrib satu persatu temannya mulai berdatangan dan memasuki kamar. Mereka terheran melihat Nisa yang beberapa menit tadi terlihat bugar tiba-tiba sedang meringkuk.
"Ente kenapa, Nis? Sakit, ya?" tanya salah satu temannya seraya berjongkok mengulurkan dan menempelkan punggung tangan di kening Nisa.
Nisa hanya menjawab dengan anggukkan kepala.
"Ya, ampun, Nis, badanmu panas sekali ini."
"Makan dulu, Nis, biar badannya enakan," saran Romlah yang lemarinya berdampingan persis dengan Nisa.
Namun, karena sudah kebiasaan Nisa dari kecil. Kalau ia sedang tidak enak badan atau sakit maka tidak ada satu potong makanan pun yang bisa masuk ke dalam perut. Jangankan untuk menelan makanan, sekedar menelan ludah pun terasa pahit di tenggorokannya.
Semua temannya kembali mengikuti kegiatan dan aktifitas pondok seperti biasa. Mereka mulai berangkat ke musala untuk melaksanakan salat Maghrib berjama'ah dan belajar baca Al-Qur'an secara berkelompok dilanjut jama'ah salat Isya. Itu semua sudah menjadi peraturan pesantren yang harus ditaati untuk melatih kedisiplinan dalam beribadah bagi para santri tanpa terkecuali.
Sedangkan Nisa hanya terbaring lemah tak berdaya ditemani salah satu temannya. Menjelang malam rasa dingin yang menyelimuti badan Nisa semakin berkurang. Berganti rasa mual yang tak mampu ia tahan. Ia pun mengeluarkan semua isi perutnya di dalam keranjang tempat sampah yang disediakan di dalam kamar.
Hampir semalaman suntuk Nisa tak dapat memejamkan mata. Demam dan mual yang ia rasakan mengalahkan rasa kantuknya.
Pagi menjelang, semua santri beraktivitas seperti biasa. Melihat kondisi Nisa yang tidak ada perubahan sahabatnya memberitahukan keadaan Nisa kepada ustazah.
__ADS_1
Tidak lama kemudian ustazah sekaligus wali kelasnya itu datang ke kamar untuk melihat keadaan Nisa. Ustazah berusaha menguatkan Nisa dengan sedikit memberi wejangan agar Bisa bersabar ketika diberi ujian dengan dikuranginya nikmat sehat sesuai dengan hadits yang artinya:
"Bergembiralah wahai Ummul 'Ala, sesungguhnya sakitnya seorang muslim dijadikan oleh Allah untuk menghilangkan kesalahannya dengannya, sebagaimana api menghilangkan karat emas dan perak." (HR Abu Dawud).
Begitu pun pula dengan yang tertera dalam ayat Al-Qur'an.
Artinya: "Dan jika Allah menimpakan keburukan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia sendiri. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
"Berobat dulu di sini, ya, Nis, diantar ustazah," tutur ustazah Resty menyarankan.
"Kalau diizinkan saya mau pulang saja ustazah," jawab Nisa.
"Saya dan Fauziah siap untuk nganter Nisa pulang, ustazah," ucap Rofidah bersemangat.
Pikir mereka berdua lumayan berkesempatan bisa keluar dari gerbang pondok dan bisa melihat suasana luar sehingga Fauziyah dan Rofidah begitu antusias mengantar Nisa.
Kini ketiga gadis remaja itu sedang berdiri di sebrang jalan depan gapura pondok. Menunggu angkot berplat kuning yang biasa lewat dan membawa penumpang ke perempatan Nagrak.
Angkot yang ditunggu pun muncul dari arah Sepatan. Rofidah melambaikan tangannya agar mobil itu menepi dan berhenti di depan mereka.
Fauziyah segera menuntun tangan Nisa untuk segera menaiki angkot yang sudah terparkir. Sedangkan Ropidah membawakan tas berisi beberapa pakaian Nisa yang dibawa pulang. Kebetulan isi angkot sedang kosong. Hanya ada mereka bertiga.
"Hoeek ... Hoeek .... !"
"Ente mau muntah, Nis? Nih, pakai kantung keresek," seru Fauziyah sambil membukakan pelastik hitam di hadapan Nisa.
Mendengar suara seperti orang muntah, seketika pak sopir yang tadi khusu mengemudi memabilkkan badannya ke belakang sambil berseru, "Jangan muntah di dalam mobil saya, Neng, nanti kotor!" hardiknya tanpa iba.
"Tapi teman saya memang lagi sakit, Pak, ini juga muntahnya ditadahin kantung keresek, kok," sela Ropidah menjawab teguran sopir yang ketus.
"Udah tahu sakit kenapa malah naik angkot saya?"
"Owh, yaudah berhenti di sini aja, Pak, kalau memang Bapak gak mau bawa temen saya yang lagi sakit," pinta Fauziyah yang dari tadi menyimak perdebatan antara sopir dan Ropidah.
"Kiri ... Kiri ... Udah berhenti di sini." Ropidah ikut berteriak merasa kesal dengan supir angkot yang menurutnya tidak punya hati nurani itu.
Sedangkan Nisa hanya mampu terduduk lemas menahan mual yang semakin menjadi.
Benar saja sopir itu pun menghentikan laju mobilnya di pinggir trotoar berharap ketiga penumpangnya itu turun.
__ADS_1
Rofidah dan Fauziyah memapah Nisa perlahan menuju tepi jalan yang tidak terlalu panas setelah angkot itu berlalu begitu saja meninggalkan mereka bertiga.
"Dasar kang angkot gak ada akhlak! Tega bener, ye, die turunin orang sakit di tengah jalan." Fauziyah meluapkan kekesalannya.
"Iya, ya, gak inget dia juga punya keluarga di rumah. Apa salahnya bantu penumpang yang lagi sakit," timpal Ropidah ikutan geram.
"Sudah ... Sudah, yang penting kita sekarang dah turun." Nisa menengahi kedua sahabatnya yang masih terlihat dongkol.
Rasa mual yang berusaha Nisa tahan dari tadi akhirnya jebol juga. Ia mengeluarkan isi perutnya dengan posisi jongkok di pinggir jalan sambil dipijitin bagian tengkuknya oleh kedua sahabat setianya.
Setelah puas mengeluarkan rasa mual dibantu Fauziyah dan Ropidah Nisa berusaha kembali berdiri. Tetapi, saat badannya mencoba ditegakkan Nisa merasa pandangannya mulai berkunang-kunang seoalah tanah yang ia pijak ikut berputar. Gadis itu merasakan ia sudah tak mampu lagi menguasai diri. Seperti hendak pingsan. Membuat kedua sahabatnya semakin panik.
"Ente bawa minyak kayu putih, gak, Nis?" tanya Ropidah kemudian.
Nisa menggelengkan kepalanya lemah.
"Tunggu di sini, ya, ana mau ke warung dulu beli minyak kayu putih," pamit Ropidah seraya berlari menuju toko yang letaknya tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Sedangkan Fauziyah menopang badan Nisa agar tidak limbung.
"Nih, olesin minyak kayu putih dulu," saran Ropidah membuka tutup botol berukuran kecil itu, lalu mengusapkan ke bagian kening dan leher bagian belakang Nisa. Fauziyah membantu mengoleskan minyak kayu putih di bagian perut.
"Dah enakan belum, Nis?" tanya Ropidah memastikan keadaan Nisa.
"Udah mendingan." Nisa menjawab lemah.
"Kuat gak dibawa jalan? Kita nunggu angkot lagi." Fauziyah menambahkan.
"Iya, pelan-pelan," ucap Nisa meyakinkan kedua sahabatnya.
***
Menjelang siang mereka bertiga tiba di rumah Nisa. Setelah istirahat sebentar dan makan siang Rofidah dan Fauziah berpamitan untuk kembali ke pondok.
"Makasih, ya, sudah nganter Nisa pulang," ucap bapaknya Nisa kepada kedua teman anaknya itu.
"Iya, Pak, sama-sama. Kami malah seneng karena diberi kesempatan keluar dari pondok," jawab Fauziyah jujur.
"Iya, Pak, lumayan bisa lihat pemandangan dan menghirup udara luar walaupun banyak polusi," ucap Rofidah menambahkan disambut gelak tawa seisi rumah.
__ADS_1
Begitulah ketika jadi santri. Selalu merasa jenuh dan bosan sepanjang waktu selama tinggal di asrama. Tapi, nanti ketika lulus dan hidup di luaran akan merasa rindu yang berkepanjangan dengan suasana pesantren yang telah mengakar di hati sanubari.