
Menjelang Subuh ketika Indri berada di kamar mandi ia merasakan ada yang merembes mengalir hingga ke bagian betisnya. Wanita itu sedikit panik setelah menyadari jika itu adalah air ketuban.
Yubi, sang suami dengan sigap membawa sang istri ke tempat bidan praktik terdekat saat perempuan yang sudah dinikahinya setahun yang lalu itu mengatakan jika dirinya sudah ada tanda-tanda hendak melahirkan anak pertama mereka.
Setelah dilakukan pemeriksaan bidan menyatakan masih belum ada pembukaan. Yang berarti proses melahirkan masih belum dipastikan dalam waktu dekat. Tapi, setelah Indri memberitahukan kalau ia sudah mengeluarkan air ketuban dari Subuh hingga saat itu, Bu bidan pun menyarankan agar Indri meminum obat pemicu rasangsangan supaya bisa merasakan mulas dalam waktu dekat. Karena Indri belum merasakan nyeri di bagian perut sebagaimana yang biasa dirasakan oleh ibu saat hendak melahirkan.
Menurut sang bidan, jika air ketuban sudah merembes keluar belum pada waktunya maka harus segera diberikan tindakan agar bayi bisa keluar secepatnya.
Setelah kembali berada di rumah Indri langsung meminum obat yang tadi diresepkan untuknya. Berharap ia merasakan mulas. Tak cukup dari itu, wanita berusia dua puluh lima tahun itu pun mencoba melakukan kegiatan berjalan kaki menyusuri jalan gang di tempat tinggalnya.
Namun, menjelang sore Indri masih merasa dirinya baik-baik saja. Sedangkan air ketubannya terus menerus keluar tanpa jeda hingga ia harus memakai pembalut.
"Apa kita periksa lagi ke tempat Bu bidan untuk bisa memastikan?" saran Yubi kepada sang istri. Indri mengiakan ajakan sang suami.
Mengendarai roda dua pasangan suami istri itu pun meluncur membelah jalan raya yang mulai ramai oleh lalu lalang kendaraan.
Karena masih belum ada perubahan Bu bidan langsung membuatkan rujukkan ke rumah sakit terdekat untuk segera dilakukan tindakan operasi caesar. Indri terhenyak mendengar saran yang diberikan Bu bidan barusan. Hati kecilnya belum siap kalau harus berada di ruangan operasi.
"Aku gak mau lahiran caesar, Mas" ucapnya kepada sang suami.
"Ya, mau gimana lagi. Kalau memang tidak ada pilihan kita gak bisa nolak, daripada beresiko sama ibu dan bayinya malah bahaya." Yubi memberikan tanggapan.
"Tapi, masalahnya operasi caesar itu biayanya tidak sedikit, Mas, uang dari mana kita?" Indri masih diliputi kebimbangan.
Indri tahu persis keuangan sang suami yang hanya mengandalkan honor mengajarnya tidak akan mampu mencukupi biaya rumah sakit.
__ADS_1
Wanita berperawakan kecil itu hanya mampu melangitkan do'a kepada Sang Maha Penggenggam Takdir. Berharap ada keajaiban dan ma'unah untuk proses lahirannya.
***
Malam semakin merangkak kian larut. Indri masih belum mampu memejamkan mata. Ia masih terjaga seorang diri. Sementara sang suami sudah terlelap dengan suara khas dengkuran halusnya.
Sesekali Indri membangunkan suaminya. Mengutarakan jika tak bisa tidur karena bagian perutnya sedikit-sedikit terasa melilit nyeri. Hampir menjelang Subuh rasa kantuk pun mulai menyerang Indri . Tapi, lagi-lagi ia harus terjaga kembali karena rasa nyeri yang kian menjadi.
Sampai pagi menjelang Indri melewati malam nyaris tak mampu memejamkan matanya walau sekejap. Karena hampir di setiap hitungan menit ia harus meringis menahan sakit.
Melihat kondisi sang istri sudah terlihat kesakitan, Yubi berinisiatif meminta izin hari ini ia tidak bisa berangkat ke sekolah tempatnya mengabdikan diri. Ia harus membersamai sang istri dalam kondisi seperti ini. Dirinya harus menjadi suami siaga dikala sang istri meminta bantuannya.
"Kalau Kakak tinggal sebentar salat Jum'at ke masjid, bisa gak?" Yubi minta pertimbangan kepada sang istri, khawatir terjadi hal yang tak diinginkan kalau ditinggal walau itu hanya tiga puluh menit.
"Iya, Kak, gak apa-apa. Silakan ke masjid dulu. Adek juga masih kuat kok," jawab Indri tersenyum meyakinkan.
Sekitar jam 15:00 Indri mulai merasakan sakit di bagian perutnya semakin menjadi dan lebih kerap. Hingga ia menangis menahan nyeri yang sedang dirasakan.
Melihat kondisi sang istri seperti itu, Yubi kembali membawa sang istri ke tempat bidan yang tadi.
"Lho, kok, belum ke rumah sakit juga? Bukannya tadi pagi saya sudah kasih rujukkan untuk diambil tindakan?" tanya Bu bidan ketika melihat Yubi mengantar sang istri memasuki ruangan.
"Enggak, Bu, tadi istri saya katanya pengen nunggu di rumah saja," jawab Yubi.
Setelah dilakukan pemeriksaan, Bu bidan menyarankan agar langsung memasuki ruang bersalin yang sudah disediakan di tempat praktiknya itu.
__ADS_1
"Perkiraan ba'da Maghrib udah bisa lahiran," ujar Bu Bidan memberi tahu.
Rasa lega menyelemuti hati Indri saat mendengar penuturan Bu Bidan barusan. Ia pikir dalam waktu beberapa jam ke depan sudah akan terbebas dari rasa sakit yang sedari tadi dirasakan.
Indri turun dari tempat tidur karena dirasanya sakit di perutnya agak berkurang. Ia pun mengajak sang suami untuk duduk-duduk terlebih dulu di teras kamar sambil ngobrol ringan.
Sekitar jam setengah lima sore Indri kembali merasakan sakit di bagian perutnya. Yubi pun menyarankan sang istri untuk berbaring di tempat tidur yang sudah disediakan di ruangan berukuran 3×4 itu.
"Mas ... Sakit banget ini!" rajuk Indri sambil meremas pergelangan tangan sang suami.
"Iya, Dek, sabar, Ya," ucap Yubi berusaha menenangkan.
Karena terus menahan rasa sakit yang kian mendera, Indri pun menangis berharap rasa sakitnya bisa sedikit berkurang.
"Gak usah nangis, Mbak, kan, udah ada Masnya di samping," ujar seorang asisten bu bidan yang sudah siap stand by di ruangan bersalin. Indri hanya tersenyum meringis ke arah mbak asisten.
Setelah melewati perjuangan sekitar dua jam berturut-turut. Sekitar jam setengah 9 malam lahirlah putra pertama mereka. Indri menyerukan rasa syukur sudah terlepas dari rasa nyeri yang sangat menyiksanya tadi. Begitu pun dengan Yubi ia mengecup kening sang istri seraya berucap lembut, "Makasih Sayang, sudah berjuang untuk anak kita."
Indri hanya menjawab dengan anggukan kepala dan senyuman manis ke arah suaminya.
Baru beberapa menit merasa lega. Kini Indri harus kembali menahan rasa sakit yang luar biasa karena harus dijahit di bagian sensitifnya yang masih menyisakan luka. Tubuhnya kembali menggigil untuk kedua kalinya karena harus menahan nyeri yang teramat sangat.
Yubi yang menyaksikan langsung perjuangan sang istri saat harus menukar nyawa demi hadirnya sang buah hati membuat rasa cintanya kepada wanita itu semakin berlipat.
Lelaki itu berjanji dalam hatinya sendiri akan selalu menjaga sang istri di manapun dan kapan pun semampunya. Ingatannya tentang ayat Al-Qur'an yang pernah ia dengar dari seorang ustaz terekam kembali.
__ADS_1
Artinya: "Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).(QS. Al-Ahqaf ayat:15).