
Bunga Surga
***
Maria mendadak risau ketika salah satu petugas kesehatan di puskesmas menyarankan agar secepatnya bayi yang baru dilahirkannya itu dirujuk ke salah satu rumah sakit untuk dilakukan penanganan yang serius karena kondisi bayi memprihatinkan disebabkan keracunan air ketuban.
"Gak usah, Dok, biar bayinya akan saya bawa pulang saja," tolaknya dengan berat hati.
"Tapi, Mbak, ini bisa mengancam keselamatan bayinya jika dibiarkan dan tidak ditindaklanjuti," tutur wanita muda berpakaian serba putih itu dengan raut muka penuh kekhawatiran.
Bukan. Bukannya Maria tega membiarkan kondisi sang bayi yang harus sesegera mungkin dibawa ke rumah sakit. Tapi, wanita bertubuh kurus itu menyadari kondisi keuangannya yang tidak memungkinkan karena pasti akan membutuhkan biaya yang tak sedikit. Sedangkan ia tak memiliki kartu jaminan kesehatan apapun selama ini.
Setelah sehari semalam di puskesmas Maria meminta untuk kembali ke rumah. Perempuan itu begitu yakin jika bayinya akan tumbuh sehat dan baik-baik saja.
Benar saja. Setelah beberapa hari tinggal di rumah keadaan bayi Tyo semakin membaik. Bengkak di bagian lehernya efek dari terendam air ketuban semakin berkurang dan mengempes dengan sendirinya di usia yang ke tujuh hari. Menjadikan Maria jauh lebih tenang dan merasa bersyukur.
Hanya saja bayi Tyo tidak bisa minum ASI langsung dari sang ibu. Tiap kali Maria berusaha memberikan ASI-nya, Tyo selalu kesusahan saat harus menghisapnya. Sehingga Maria mau tidak mau harus membeli susu formula demi sang buah hati agar tetap bisa menyusu.
Di usianya yang belum genap satu bulan bayi Tyo terlihat jauh lebih segar dan tumbuh dengan sehat. Berat badannya pun terus bertambah.
***
Malam merangkak kian larut. Tapi, tak biasanya bayi Tyo terus menangis dan nyaris tak bisa memejamkan matanya sehingga Maria harus begadang hampir semalam suntuk untuk menjaga sang buah hati. Sementara sang suami sudah tertidur pulas karena kelelahan setelah satu hari penuh mencari nafkah di luar rumah.
Kekhawatiran Maria semakin memuncak ketika dilihatnya bayi mungil itu seperti kesusahan untuk bernapas. Maria terus memeluk sang buah hati dalam dekapan berusaha memberi tempat ternyaman berharap bayi Tyo tenang dan bisa segera terlelap.
Namun, hingga kumandang azan Subuh si kecil Tyo masih terus terjaga dan menangis tak dapat ditenangkan. Jarum jam di dinding menunjukkan ke angka 7. Mungkin karena kelelahan setelah nangis semalaman bayi mungil itu pun akhirnya terlelap dengan sendirinya.
__ADS_1
Walaupun matanya terasa berat ingin istirahat, tapi Maria memilih untuk beranjak menuju dapur untuk menyiapkan sarapan sang suami yang akan berangkat berjualan keliling.
Hampir 2 jam Maria berkutat di dapur. Sang suami pun sudah pamit untuk berjualan. Karena tidak mendengar tanda-tanda ada gerakan dan suara apa pun dari sang buah hati Maria berniat ingin memastikan keadaan bayinya itu. Degup jantung Maria semakin bertalu-talu ketika mendapati kondisi bayi Tyo tak ada respon. Jemari kanan Maria meraba bagian dada dengan gemetar tak ditemukannya denyutan di sana. Digoyangkan nya tubuh mungil itu perlahan, sang bayi tetap bergeming. Jangankan menangis gerakan terkecil pun tak dilihatnya oleh Maria.
Ibu muda itu pun semakin panik.
"Dek, kamu kenapa? Bangun, Sayang. Ini Mama. Bangun, Nak, jangan bikin Mama takut."
Mendapati keadaan bayi yang baru dilahirkannya satu bulan yang lalu seperti itu Maria setengah berlari menuju rumah tetangga sebelah untuk meminta pertolongan. Bu Hindun, sang tetangga sigap bergegas ke arah rumah Maria.
"Innalilahi wa Innailaihi Raji'un," gumam Bu Hindun setelah beberapa saat memeriksa keadaan bayi mungil itu.
"Bayimu sudah tidak ada, Mar, kamu yang sabar ya," sambung perempuan setengah baya itu menatap iba ke arah Maria
"Enggak, Bu, anak saya sedang tidur, kenapa Ibu bilang seperti itu," sela Maria tak percaya.
"Nak, ayo bangun, Sayang." Suara gemetar Maria menahan tangis agar tidak pecah. Karena hati kecilnya tidak bisa dipungkiri jika ia pun sebenarnya tidak menampik dengan yang diucapkan oleh Bu Hindun barusan.
Maria tidak menguasai perasaannya lagi sehingga tangis wanita itu meraung membuat tetangga yang lain berdatangan satu persatu. Tubuh Maria lemas setelah menyadari sang bayi benar-benar telah tiada. Sendinya seakan tak mampu menopang berat badannya sendiri. Maria ambruk di lantai. Pandangannya perlahan mengabur dan menjadi gelap.
***
Kehilangan darah daging sendiri dalam waktu yang singkat membuat kejiwaan Maria terpuruk. Semangat hidup perempuan itu sirna seketika. Yang lebih menyakitkan sang buah hati pergi karena ketidakmampuannya memberikan yang terbaik.
Andai saat itu ia mengiakan dan menuruti saran dari petugas kesehatan di kecamatan. Mungkin, hingga kini bayinya masih bisa ia dekap.
Namun, apa gunanya menyesali sesuatu hal yang sudah terjadi. Toh, tidak dapat mengembalikan apa yang sudah pergi.
__ADS_1
"Kamu masih muda, Mar, masih banyak kesempatan untuk bisa hamil dan melahirkan lagi." Bu Hindun berusaha menghibur dan menyemangati Maria agar tidak terlarut dalam keterpurukkan.
"Ikhlaskan anakmu untuk kembali kepada Sang Pemilik-Nya. Insyaallah itu semua bisa menjadi tabungan kamu kelak di akhirat yang bisa menuntut orang tuanya menuju surga-Nya jika kamu ridha dengan takdir dan ketentuan dari Sang Maha Kuasa. Insya Allah anak-anak kecil kaum mukmin akan masuk surga. Sebagaimana firman Allah SWT,
وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِاِيْمَانٍ اَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ
Artinya: "Orang-orang yang beriman dan anak cucunya mengikuti mereka dalam keimanan, Kami akan mengumpulkan anak cucunya itu dengan mereka (di dalam surga)." (QS Ath Thur: 21)
Ada rasa ketenangan yang menjalar di bagian dada Maria saat mendengar nasihat dari Bu Hindun. Hati kecil Maria ikut membenarkan dengan semua yang disampaikan oleh tetangganya barusan. Ia yakin putri kecilnya akan jadi kembang surga di alam sana.
***
Maria tersentak ketika Bu Sari, sang ibu mertua menyodorkan secarik kertas ke hadapannya. Dalam sehelai kertas itu Bu Sari menuliskan jumlah nominal uang yang harus diganti Maria yang katanya itu semua bekas biaya Maria lahiran di puskesmas serta biaya selamatan 7 hari waktu meninggalnya sang buah hati.
Ada rasa nyeri yang menghantam ulu hati perempuan itu. Baru saja ia mencoba bangkit dari kesedihan yang mendera. Kini, tanpa diduganya datang permasalahan baru yang harus ia terima.
"Tapi, Bu, saya belum ada uang yang cukup untuk menggantinya saat-saat ini," lirih Maria berharap Bu Sari bisa mengerti dengan kondisi keluarga kecilnya.
"Ya, kalau kamu tidak pernah ada niat untuk usaha dan Berkreativitas seperti istri-istri yang lain sampai kapan pun tidak akan bisa memiliki uang banyak dan bisa membantu meringankan beban pekerjaan suamimu," ucap Bu Sari ketus penuh penekanan. Membuat mental Maria kembali rapuh.
Maria tak mampu menjawab dan menyangkal semua perkataan yang keluar dari mulut pedas sang ibu mertuanya itu. Ia hanya mampu menunduk dalam menahan genangan di pelupuk matanya agar tidak lolos saat itu juga.
***
Waktu terus berlalu. Maria kini sudah memiliki rumah permanen hasil keringatnya sendiri dari hasil dirinya setelah pulang dari negara Timur Tengah sebagai TKW selama 4 tahun berturut-turut.
Putra-putrinya telah lulus kuliah dengan hasil nilai yang cukup memuaskan. Kini Maria tinggal memetik buah dari kesabaran, ketegaran, dan kerja kerasnya demi membuktikan kepada orang-orang yang dulu pernah memandangnya dengan sebelah mata dan merendahkan dirinya secara terang-terangan.
__ADS_1