Wanita-Wanita Pilihan

Wanita-Wanita Pilihan
Bertahan


__ADS_3

***


Kumandang suara azan mulai terdengar dari masjid terdekat. Mica membuka matanya yang masih terasa berat. Sedangkan Zafran, sang suami sudah tak ada lagi di sampingnya.


Mica berusaha menghalau rasa kantuk yang masih menyerangnya. Kemudian ia memaksakan diri bangun dari tempat tidur lalu membuka pintu kamar melangkahkan kaki jenjangnya ke arah kamar mandi.


Dilihatnya pintu kamar Bu Siti, ibu mertuanya itu masih tertutup rapat. Pertanda orang di dalamnya belum terbangun.


Belum sempat menyelesaikan ritual wudhunya dari arah kamar sudah terdengar rengekkan Icha. Seperti halnya anak kecil yang lain, Icha pun setiap kali bangun dari tidurnya kadang diawali dengan tangisan dan agak rewel.


Mica segera menyelesaikan aktivitasnya di kamar mandi dan tergesa menghampiri sang buah hati agar tangisan Icha tak mengganggu ibu mertuanya yang masih berada di dalam kamar.


Baru saja langkah kaki Mica akan memasuki ruang dapur di sana sudah berdiri sosok Bu Siti yang sedang menggendong Icha.


"Kamu, kan, sekarang sudah punya anak Mica! Harusnya bisa belajar lebih cekatan lagi agar bisa mengurus anakmu ini. Jangan dibiasakan lelet seperti siput," ujar Bu Siti ketus.


"Iya, Bu. Sini Icha digendong sama mama saja, yuk!" ajak Mica mencoba meraih anaknya yang masih berada dalam gendongan sang ibu mertua.


"Gak mau Icha gak mau sama Mama, Icha maunya sama Ayah," tolak bocah polos itu menepiskan tangan mamanya.


"Tuh, lihat! Ini akibat anak yang gak diurus oleh seorang ibu. Jadi dekatnya ke ayah. Sampai bangun tidur pun yang dicari Ayahnya. Padahal, kebanyakan anak kecil itu lengketnya ke ibu, bukan malah ke bapak." Bu Siti langsung berkata banyak memojokkan Mica.


"Ada apa ini, masih Subuh, kok, sudah pada ribut?" Zafran yang baru saja memasuki rumah baru pulang dari masjid bertanya pelan.


"Itu istrimu. Dari dulu pertama nikah sama kamu sampai sudah mau punya anak dua penyakit leletnya gak hilang-hilang. Di kamar mandi saja hampir dua puluh menit. Gak bisa buru-buru," jawab Bu Siti sambil menyerahkan Icha dalam gendongannya kepada Zafran.


Sedangkan Mica segera berlalu menuju kamar untuk segera menunaikan kewajiban melakukan salat Subuh. Di akhir salatnya, masih dengan balutan mukena yang melekat di tubuhnya Mica kemudian bersimpuh di atas sejadah mencurahkan segala beban pikiran dari orang-orang yang tak pernah bisa menghargai perasaannya.


Karena hanya Yang Maha Kuasa yang bisa mengetahui perasaan hatinya ketika tidak dihargai dan selalu dianggap sebelah mata oleh orang di sekelilingnya.

__ADS_1


"Kamu yang sabar, ya, jangan diambil hati dari semua omongan Ibu tadi," hibur Zafran mengusap lembut pucuk kepala sang istri.


 Mica tersenyum menganggukkan kepala ke arah sang suami dengan air mata yang masih membasahi kedua pipinya.


"Jangan banyak pikiran. Kasihan anak kita yang masih berada di sini," ucap Zafran. Telapak tangannya mengusap lembut bagian perut istrinya.


Mica membuka mukena lalu melipat dan menaruhnya kembali. Setelah itu ia bergegas menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga kecilnya.


Mica mulai menggoreng beberapa ikan kembung yang sudah dibumbuinnya kemarin sore yang disimpan di dalam kulkas. Sambil menggoreng ikan ia membuat tumis kangkung dan sambal terasi kesukaan Zafran.


Selesai merampungkan pekerjaannya di dapur kemudian Mica membawa semua masakannya untuk segera dihidangkan di meja makan. Karena merasa badannya sangat lengket dan terasa gerah setelah beberapa jam berdiri di hadapan kompor. Mica pergi ke kamar mandi untuk kembali membersihkan diri. Sedangkan Icha sudah ia mandikan terlebih dulu dan kini sedang bermain bersama ayahnya.


Usai berganti pakaian Mica kemudian melangkah ke ruang makan. Di sana sudah Zafran, Icha dan ibu mertuanya.


Bola mata Mica melebar ketika ia mendapati meja makan semua yang terhidang tadi sudah berganti menu. Di sana ada gudeg jogja, semangkuk rendang daging, perkedel kentang dan berbagai macam pelengkap lainnya seperti ati ampela cabe ijo dan capcay bakso.


Mica menghela napasnya yang terasa sangat berat. Entah berada di mana kini semua masakan yang ia hidangkan dan sudah susah payah hampir memakan waktu selama dua jam ia berkutat di dapur tadi.


Zafran menggelengkan kepala.


"Ini semua dari Mella lho, dia tadi sengaja memesankan makanan ini semua buat kita," jelas Bu Siti tersenyum puas ke arah Mica yang masih terpaku.


"Kalau cari istri itu harusnya yang pandai membantu perekonomian suami bukan yang malah nambah beban suaminya. Biar bisa menjamin gizi keluarga." Suara Bu Siti sengaja sedikit dikeraskan agar Mica merasa tersindir dengan perkataannya tadi.


"Asyik ... Ada perkedelnya. Aku suka perkedel lho, Nek," seru Icha. Jari telunjuknya mengarah ke piring yang berisi beberapa isi perkedel yang siap dimakan.


"Sini, Ma, kita makan besar nih," ajak Zafran kepada Mica yang masih berdiri mengawasi.


Zafran menyebutnya makan besar karena mereka jarang sekali bisa menikmati menu spesial seperti itu.

__ADS_1


"Tapi, ini hanya untuk porsi tiga orang doang, lho. Kalau untuk 4 orang kayaknya gak cukup," sela Bu Siti melirik Mica dengan ekor matanya.


Mendengar ucapan sang ibu mertua, Mica menelan ludah seraya berkata, "Iya, Bu, gak apa-apa saya nanti bisa makan sendiri di dapur," jawab perempuan itu berusaha menguatkan hatinya.


"Gak apa-apa, kan, bisa dibagi-bagi biar kita semua kebagian rata," ujar Zafran. Tangannya menerima piring yang sudah berisi nasi putih yang sudah diambilkan oleh ibunya. Sedangkan Icha disuapi Bu Siti dari piringnya sendiri.


"Gak usah. Biar istrimu membereskan semua pekerjaannya dulu di dapur. Tadi Ibu lihat bekas dia masak masih berantakan dan pada kotor semua," sangkal Bu Siti. Tangannya terampil mengambilkan rendang daging dan gudek ke atas piring anak lelakinya dan piringnya sendiri.


"Sekalian tuh, pakaian kotor Ibu bekas kemarin di kamar dicuciin. Ibu sudah tua, sudah gak kuat kalau harus nyuci pakaian kotor," sambung Bu Siti tanpa ragu.


"Tapi, Bu, Mica sekarang mempunyai riwayat alergi yang gak bisa nyium bau menyengat dari yang berbahan kimia seperti detergen atau cairan pengepel lantai dan sejenisnya." Zafran berusaha mencoba menjelaskan kondisi kesehatan sang istri yang memang mempunyai riwayat alergi dan pernapasan.


"Halah jangan sok manja seperti itu, lah, kayak anak sultan saja," sahut Bu Siti mencebikkan ujung bibirnya.


Mica bergegas menuju dapur agar ia tak lagi mendengarkan semua obrolan antara anak dan ibu itu. Hatinya tercabik pilu setiap mendengar ucapan yang keluar dari bibir ibu mertuanya.


Seakan Mica tak punya harga diri setiap berhadapan dengan Bu Siti yang terus menerus memojokkannya dan selalu mengagung-agungkan sosok Malla yang memang memiliki karir bagus dan perekonomian yang jauh lebih mapan.


***


Di kamarnya, sambil duduk di tepi tempat tidur Zafran berpikir keras bagaimana caranya agar bisa menciptakan perdamaian antara ibu kandungnya sendiri dengan istri yang sangat dicintainya.


Pria itu tak sampai hati jika harus melihat Mica yang sudah bersedia menerima kekurangannya, justru harus menerima perlakuan tidak baik dari ibunya sendiri.


Akhirnya Zafran berinisiatif untuk mengajak wanita yang telah melahirkannya itu ke tempat kajian yang biasa ia datangi seminggu sekali. Beruntung Bu Siti mengiakan dan menerima ajakan anak laki-lakinya itu tanpa paksaan.


Dalam kajian yang disampaikan, sang ustaz menyampaikan sebuah ayat yang kurang lebih artinya sebagai berikut:


 “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata."(QS. Al-Ahzab ayat:58)

__ADS_1


Dalam hati Zafran ada segunung harapan untuk ibunya agar bisa menyadari jika selama ini sikap dan ucapan wanita sepuh itu sudah sering menorehkan luka di hati Mica, sebagai istrinya.


__ADS_2