Wanita-Wanita Pilihan

Wanita-Wanita Pilihan
Wanita Penggenggam Sabar


__ADS_3

"Ya ampun ... Yunda! Ini rumah apa gudang kosong, sih, kok, kamu biarkan acak kadut seperti kapal pecah begini. Debu sampe tebal begini. Gak pernah disapu, ya? Terus kamu selama ini hanya diam di rumah ngapain saja, hah?!" Suara Uwa Rukmini membahana hampir memenuhi ruangan berukuran besar itu.


"Sudah dikasih tumpangan tempat tinggal gratis seperti ini malah gak tahu diri!" Uwa Rukmini yang sedang dikuasai emosi meluap itu terus mencaci dan mengintimidasi seorang ibu muda bernama Yunda yang sedang menggendong anak balitanya.


Mendengar bentakkan dan cacian yang secara langsung dan terang-terangan ditijukkan kepada dirinya membuat wanita berusia 25 tahun itu hanya mampu terdiam membisu sambil berdiri mematung.


Dalam hatinya ingin sekali ia menjawab dan menjelaskan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, yang ada bibir Yunda mendadak menjadi kelu seolah tak mampu untuk mengeluarkan sepatah kata pun.


Ibu muda itu berusaha meredam gejolak hati yang merasa perih bercampur malu karena di sana bukan hanya ada dirinya dengan Uwa Rukmini saja, melainkan ada dua tetangga juga yang sedang berada di dalam ruangan itu.


Beberapa hari sebelumnya. Hujan turun dengan begitu lebatnya hampir sehari semalam tanpa jeda. Sehingga rumah yang ditempati Yunda terrendam banjir karena sungai yang berada di belakang rumah meluap. Air itu masuk hampir ke seluruh ruangan dari depan hingga dapur di belakang.


Farhan, sang suami lalu mengajak Yunda beserta anaknya sementara untuk mengungsi ke rumah orang tua Farhan yang terletak di desa sebelah.


Di rumah sang mertua, Yunda tengah menidurkan Ifa, sang buah hati yang suhu tubuhnya mendadak tinggi. Otomatis tidak bisa ditinggal walau hanya ke kamar mandi sebentar pun. Ifa akan menangis dan merengek memanggil sang ibu.


Ponsel Yunda yang diletakkan begitu saja di meja kamar berdering dengan nyaring. Perempuan itu secepat kilat meraih dan memijit tombol jawab berharap suara bising dari telepon tadi tidak menggsnggu Ifa yang terlihat sudah mulai memejamkan kedua matanya.


"Yunda, kamu sedang di rumah, kah? Besok saya mau pulang. Kamu siapkan kamar untuk saya beristirahat nanti!" Suara perempuan sekitar berusia 60 tahun itu langsung menodong Yunda tanpa mengucap salam terlebih dulu.


"I, iya, Wa. Nanti Insya Allah saya bersihkan dulu," ucap Yunda terbata karena merasa terkejut mendapat telepon yang ternyata dari Wa Rukmini, Uwanya Farhan.


Belum sempat melanjutkan kalimatnya sambungan telepon ditutup sepihak dari arah seberang membuat Yunda jadi tertegun merasa tak enak hati dengan sikap wanita berusia lebih dari setengah abad itu.

__ADS_1


Sejenak Yunda memandang putrinya yang sudah terlelap. Perempuan itu kemudian mengangkat tubuhnya perlahan dari tempat tidur agar tidak menimbulkan suara berderit dari dipan kayu itu lalu kemudian berjinjit hati-hati berharap Ifa tidak terganggu dengan aksinya.


Yunda melangkahkan kaki ke arah depan mencari keberadaan sang suami untuk menyampaikan kabar barusan jika Uwanya mau pulang ke rumah yang kini sedang ditempati oleh Yunda dan Farhan.


Dilihatnya lelaki berusia sekitar 28 tahun itu sedang duduk di kursi teras sembari ditemani segelas kopi hitam yang diletakkan di meja kecil. Yunda lalu menghampiri dengan ponsel masih dalam genggamannya. Tanpa basa-basi langsung menyampaikan ucapan Uwa Rukmini yang akan pulang esok hari.


"Hayu, Yah, kita pulang dulu sekarang! Biar bisa nyapu, ngepel dan membereskan rumah sebelum Uwa Rukmini besok datang," ajak Yunda kemudian. Jantungnya merasa berdetak kencang membayangkan jika uwa Rukmini tiba keadaan rumah belum sempat dibersihkan apalagi kemarin sempat direndam banjir. Tidak terbayangkan kotornya seperti apa.


"Nanti sajalah jangan sekarang. Lagian Ifa juga lagi sakit gak mungkin bisa ditinggal buat beres-beres rumah," jawab Farhan dengan santainya tanpa bisa merasakan ketakutan dan kekhawatiran sang istri karena rumah ditinggal dalam keadaan kotor bekas sisa air hujan yang masuk ke dalam rumah.


"Tapi, Mas ... Aku takut. Aku gak mau kena omelan uwakmu itu jika kita melakukan kesalahan yang disengaja seperti ini. Kesalahan yang tak disengaja pun selalu dicarinya apa lagi seperti ini." Yunda berusaha meluapkan isi hati berharap suaminya itu mengerti.


"Tenang, aja, sih, gak usah gugup seperti itu. Nanti Mas yang akan menjelaskan ke Uwa Rukmini," sangkal Farhan tanpa mempedulikan perasaan sang istri yang semakin was-was dengan apa yang akan diterimanya dari Uwa Rukmini yang memang sejak pertama kali bertemu dengan Yunda sudah dengan memperlihatkan sikap tidak sukanya kepadanya.


Benar saja, belum ada sepuluh menit ia tinggalkan. Suara Ifa dari dalam kamar sudah mulai terdengar menangis histeris sambil memanggil Yunda, "Mama, Mama .... !"


Yunda berlari dengan tergopoh ke arah kamar. Lalu kemudian kembali mencoba memberikan ASI berharap Ifa bisa kembali reda dari tangisnya.


***


Yunda sedang berjibaku dengan tumpukkan cucian piring di dapur Bu Susi, mertuanya. Samar ia mendengar namanya disebut-sebut dengan nada tak enak didengar.


"Iya, tuh, si Yunda memang keterlaluan. Udah mah pengangguran hanya di rumah doang pemalas lagi. Kerjaannya aku lihat kebanyakan rebahan doang. Anak tidur bukannya beres-beres rumah malah ikutan merem." Kalimat beruntun yang diucapkan Bu Susi barusan sukses membuat dada Yunda bak ditindih bongkahan batu berukuran besar. Sesak.

__ADS_1


Tangannya masih berusaha memegang erat piring beling yang masih berlumuran busa agar tidak jatuh.


Namun, sekuat apapun wanita itu berusaha menegarkan hati agar tetap tenang dan bisa menyelesaikan pekerjaan dengan sebaik mungkin, tapi tidak bisa dibohongi jika jiwanya akhir-akhir ini sering merasa terguncang karena kerap mendapat tekanan dari berbagai arah seolah dirinya hanya seonggok tulang berbalut daging tipis yang tidak patut untuk dihargai dan dijaga perasaannya. Begitulah yang Yunda rasakan.


Keadaan ekonomi dalam rumah tangganya yang baru seumur jagung itu seolah menjadi bumerang bagi orang-orang di sekitar terutama di mata keluarga sang suami.


"Yang cari rezeki hanya sebelah doang, mana mampu untuk mencukupi hidup apalagi punya anak gaya-gayaan pake dipakein diapers mbarang." Begitu yang pernah diucapkan Mbak Silvi kakak tertua Farhan kepada Yunda melihat istri dari adiknya itu tidak bekerja dan tidak bisa menghasilkan uang seperti ibu-ibu muda kebanyakan yang berada di desa itu.


Sepertinya takdir baik masih enggan berpihak kepada Yunda. Wajan yang ia coba gantungkan di paku yang berada persis di atas tempat wastafel tiba-tiba meleset dan jatuh sehingga menimpa gelas yang diletakkan di pinggir keramik tempat cucian piring lalu menimbulkan suara berisik akibat tempat berbahan beling itu terbanting dan pecah di lantai dapur.


"Yunda ... ! Habis barang-barang saya lama kelamaan sama kamu. Kamu mau ganti pake apa, hah?" Bu Susi sudah berdiri di ambang pintu dapur dengan raut muka yang membuat Yunda gemetar.


***


"Mas, minta maaf ya, Yun, gara-gara Mas belum mampu memberikan kehidupan yang layak, akhirnya kamu harus menerima sikap yang tidak menyenangkan dari keluarga Mas sendiri," ungkap Farhan sembari menggenggam jemari Yunda ketika keduanya berada di dalam kamar.


Yunda hanya terdiam tanpa kata. Wanita itu tak bisa menyalahkan suami atau siapapun mengenai keadaannya saat ini. Yang ia mampu hanya berusaha meningkatkan kesabaran agar bisa menjalani dan melewati episode kehidupan yang harus dilewatinya. Dengan harapan suatu saat nanti diri dan keluarga kecilnya menemukan kebahagiaan.


Tak ada dendam yang bercokol dalam hati Yunda, karena perempuan berhati lembut itu selalu mengingat dengan penggalan sebuah ayat Al-Qur'an yang pernah ia dengar dari seorang ustaz yang bunyinya:


Artinya: "Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang yang sabar."(QS.An-Nahl ayat:126)


Yunda hanya mampu mengadukan segala gundah dan nestapa hatinya di sepertiga malam. Karena hanya dengan cara itulah jiwanya bisa tetap merasa tenang dan damai walaupun terpaan badai dari berbagai penjuru arah menerpanya.

__ADS_1


__ADS_2