
Bima memacu kendaraan roda duanya dengan kecepatan tinggi. Rasa lelah yang mendera tubuh pria itu setelah seharian bekerja membuatnya ingin segera sampai di rumah lalu beristirahat melepas penat.
Baru saja laki-laki itu hendak mengetuk pintu dan mengucap salam. Telinganya menangkap teriakan Billa, sang istri sedang memarahi Vito anak sulung mereka yang berusia 6 tahun.
"Makanya jangan main terus. Belajar yang bener!" hardik Billa dengan mata melotot sempurna ke arah Vito membuat anak lelaki itu menunduk dengan raut muka ketakutan.
Sementara bagian tangan dan paha bocah tersebut dipenuhi tanda kemerahan akibat cubitan sang ibu yang membekas. Sesekali Billa membanting buku tulis dan pulpen milik Vito menunjukkan kekesalannya karena sang buah hati tak kunjung bisa menirukan tulisan yang ia contohkan.
Ucapan salam Bima tak ada yang menjawab karena Billa sedang memarahi Vito dengan suara tinggi. Bima memasuki rumah tanpa suara setelah meletakkan tas gendongnya di meja ruang tengah. Lelaki itu segera menuju kamar mandi untuk mencuci tangan dan kaki lalu melangkah ke arah kamar dan membaringkan tubuhnya di kasur.
Keinginan untuk bisa istirahat dengan tenang setelah sampai di rumah ternyata tak sesuai dengan yang Bima harapkan. Omelan Billa terhadap Vito semakin menjadi.
Bima berdiri kembali dari tempat tidur. Melangkah ke arah pintu lalu membuka dengan kasar sambil berkata dengan suara tinggi kepada sang istri menumpahkan kekesalan karena menurutnya Billa tidak becus mendidik anak.
"Ibu macam apa kamu? Gak ada lemah lembutnya sama sekali. Kalau sudah gak mau ngajarin anak, ya, sudah gak usah dipaksain daripada jerit-jerit dan marah-marah seperti itu!" bentak Bima kemudian.
Mendengar suara Bima yang menggelegar memenuhi ruangan rumah seketika Billa membisu. Suaranya tak terdengar lagi. Suasana menjadi hening seketika. Billa bangkit dari duduknya meninggalkan Vito seorang diri yang masih dilanda ketakutan.
Billa berlari ke arah kamar lalu menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Badanya luruh di balik dinding kamar. Tangis yang ia tahan sejak tadi tumpah seketika.
'Aku begini karena kamu, Mas! Aku capek hidup dalam situasi seperti ini. Kamu seakan menganggap kehadiranku tak pernah ada di rumah ini. Waktumu hanya dihabiskan untuk bekerja seharian. Tanpa memikirkan sedikitpun perasaanku yang merasa diabaikan dan kesepian!' Billa menjerit dalam hatinya.
Sedangkan Bima yang melihat istrinya mengurung diri di dalam kamar memilih mengajak Vito ke luar rumah meninggalkan wanita yang sudah dinikahinya 7 tahun yang lalu itu semakin tergugu seorang diri.
Untuk kesekian kalinya Billa harus menelan kekecewaan yang ia pendam. Hati kecilnya berharap jika ia sedang menangis sang suami lalu datang mendekapnya kemudian meminta maaf dan menanyakan penyebab kesedihannya.
Namun, selama perempuan itu hidup bersama dengan sang suami tak pernah sekalipun mendapatkan perlakuan seperti impiannya itu. Kehangatan dalam rumah tangganya hanya sebatas angan yang belum pernah ia rasakan.
Ditambah belakangan ini sikap Bima begitu kaku dan dingin terhadap sang istri. Datang ke rumah seolah untuk makan, mandi, dan melepas lelah saja. Tanpa mau tahu dengan perasaan istrinya yang mati-matian meredam kekecewaan oleh sikap sang suami.
Salah satu wujud pemberontakan yang Billa tunjukkan yaitu melampiaskan kemarahan kepada sang buah hati yang tidak pernah tahu apa-apa tentang permasalahan orang tuanya. Walaupun hati kecil Billa sangat mengakui jika sikapnya itu suatu kesalahan fatal. Tapi, wanita itu seakan menutup mata demi bisa menumpahkan rasa kecewa yang sudah mengkarat di dalam dada.
__ADS_1
***
"Sekarang kamu lebih baik pulang dan temui istrimu di rumah! Billa bersikap demikian hanya karena merasa capek setelah seharian mengurus anak dan pekerjaan rumah. Bukan semata-mata karena perangai aslinya," saran sang ibu dengan bijak setelah mendengar aduan dari anak laki-lakinya barusan.
"Yang harus kamu tahu istri itu tergantung suaminya. Jika suami sudah benar memperlakukan istri maka semua urusan pasti beres. Karena hidup matinya keadaan rumah tangga itu tergantung kondisi hati istri. Sedangkan yang memiliki kendali yaitu kamu, sebagai suami." Nasihat Bu Halimah kepada Bima.
Bu Halimah pun mengingatkan Bima dengan salah satu hadits Rasul berharap hati putranya terbuka dan luluh.
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap istriku” (HR. At-Tirmidzi)
***
Hampir menjelang Maghrib Bima baru mengajak Vito kembali ke rumah. Keadaan setiap ruangan mulai terlihat gelap pertanda tidak ada orang yang menyalakan lampu.
Bima menghampiri sang istri yang pintu kamarnya sudah tidak terkunci. Tampak Billa masih meringkuk di tempat tidur membelakanginya. Rupanya wanita itu tertidur setelah lelah menangis hingga berjam-jam.
"Ayah, aku lapar mau makan," pinta Vito dari ruang tengah yang sedang menonton televisi.
"Vito tunggu sebentar di sini ya, Ayah mau beli makanan dulu di luar," ucap Bima sambil mencium pucuk kepala sang buah hati lalu menyambar jaket yang tersampir di sofa dan kunci motor yang tergeletak di meja.
Dua puluh menit kemudian Bima kembali dengan kantung keresek di tangannya. Ia membeli 3 bungkus nasi goreng untuk makan malam. Setelah menuangkan ke piring lalu memberikannya kepada Vito yang sepertinya sudah tak sabar ingin segera makan.
Bima mencoba menghampiri Billa yang masih berada pada posisi semula.
"Mah, bangun dulu. Makan dulu, yuk! Tadi Ayah sudah beli nasi goreng," ajaknya sambil menguncang pelan bahu sang istri.
Billa mulai menggeliat mencoba membuka mata yang terasa berat. Tapi, rasa sakit di bagian kepala mengurungkan niatnya yang hendak duduk.
"Kepalaku sakit sekali, Mas," lirihnya kemudian.
"Ya sudah, jangan terlalu banyak gerak dulu. Nanti Mas bawain makannya ke sini." Bima kemudian berbalik untuk mengambil piring milik Billa yang sudah berisi nasi goreng yang dibelinya tadi.
__ADS_1
Melihat sikap suami yang terlihat mulai bisa menunjukkan perhatiannya Billa mencoba memberanikan diri untuk mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini mengganjal di hatinya.
"Perlu Mas ketahui, jika keadaan hatiku sedang normal dan bahagia. Insyaallah aku pun bisa baik-baik saja walaupun harus dihadapkan dengan segunung tugas pekerjaan rumah yang tak ada habisnya ini. Emosiku akan mudah terkontrol untuk tidak sampai memarahi anak sepanjang hari. Oleh karena itu aku minta Mas Bima untuk membantuku agar keadaan mentalku ini tetap stabil," ungkap Billa panjang lebar.
"Caranya?" tanya lelaki berperawakan tinggi itu.
"Mas harus belajar bagaimana caranya agar aku merasa dihargai dan dianggap sebagai pasangan. Aku ingin diperlakukan selayaknya seorang istri," jawab Billa penuh harap.
"Maksudnya?" Rupanya Bima belum bisa menangkap ke arah mana pembicaraan istrinya.
"Apa Mas menyadari jika selama ini Mas seakan tidak menganggap keberadaanku? Setiap hari aktivitas Mas Bima berangkat kerja, pulang ke rumah mandi, makan, salat, kemudian tidur. Padahal, di sini ada aku yang butuh diperhatikan dengan cara ditanya kabar dan keadaanku, didengarkan semua ceritaku walaupun hanya cerita aktivitas keseharian yang sering Mas anggap sepele itu," tutur Billa dengan suara mulai bergetar menahan isak.
"Mas selama ini juga gak pernah memberikan sentuhan fisik kepadaku, seakan aku ini bukan istrimu. Padahal jika boleh jujur diperlakukan seperti ini membuatku merasa kesepian dan mati-matian menahan diri agar aku tetap menjadi istri setia dengan tidak mencari perhatian terhadap lelaki lain di luaran sana." Kini Billa mulai sesenggukan setelah berhasil mengeluarkan tumpukkan beban di dadanya.
"Kalau Mas Bima memang masih peduli dan masih mencintai aku serta masih menganggapku sebagai istri. Aku minta peluk aku sekarang juga dan berjanji Mas akan berubah dan memenuhi semua keinginan yang tadi sudah kuungkapkan," pungkas Billa penuh harap.
Sesaat Bima tertegun. Tak terasa ibu jarinya menyeka tetes bening yang keluar begitu saja dari sudut matanya. Sangat jarang pria itu menangis. Tapi, setelah mendengar semua keluhan sang istri barusan hatinya mendadak merasa bersalah dan menyesal sudah membuat wanita yang sudah dihalalkannya itu merasa tersiksa dengan sikapnya selama ini.
Perlahan kedua belah tangan kekarnya itu mulai direntangkan lalu merengkuh tubuh istrinya. Mendekap erat sambil membisikkan kata ma'af yang baru pertama kali diucapkan di telinga sang istri.
Mendengar dan mendapat perlakuan tak terduga dari sang suami membuat hati Billa gerimis. Menyerukan syukur kepada Sang Maha Pembolak-balik Hati setiap hambanya.
"Mulai sekarang Mas berjanji akan belajar menjadi suami yang lebih baik lagi. Belajar menjadi suami yang bisa menyelami perasaan istri agar selalu bahagia," ungkap Bima bersungguh-sungguh.
Bima kembali teringat semua nasihat sang ibu melalui salah satu ayat Al-quran yang artinya:
"Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya. Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suami-nya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz[1] , hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar.” (QS. An-Nisaa’ : 34)
***
Setelah melihat perubahan drastis sang suami baik dari sikap dan tutur katanya, kini Billa mulai bisa menikmati perannya sebagai seorang istri sekaligus seorang ibu untuk Vito. Emosi wanita itu jadi bisa lebih terkontrol kepada anak semata wayangnya.
__ADS_1
Bima pun mulai menyadari, jika langkah hidupnya sudah sesuai dengan yang diajarkan oleh syariat Islam. Baik dalam pernikahan ataupun yang lainnya, maka kebahagiaan dan ketenangan akan menyertai.