Wanita-Wanita Pilihan

Wanita-Wanita Pilihan
Menjemput Hidayah di Gerbang Pesantren


__ADS_3

"Jam segini baru pulang dari mana saja kamu, Ca?"


Langkah kaki Caca terhenti ketika ia dikejutkan oleh suara bariton sang ayah yang sudah berdiri tepat di depan pintu.


"Emh, anu ... Yah, Caca tadi dari rumah temen," jawab gadis yang baru lulus sekolah menengah pertama itu tergagap.


"Masuk!"


"Baik, Yah."


Pak Anwarudin terlihat risau melihat sikap dan tingkah laku anak gadisnya akhir-akhir ini. Sering keluar malam dengan memakai pakaian terbuka.


Lelaki paruh baya itu sangat mengkhwatirkan pergaulan anak semata wayangnya bila dibiarkan dan dibebaskan terus menerus seperti itu. Pak Anwarudin memutar otak bagaimana caranya agar ia dengan mudah mampu mengarahkan Caca agar menjadi sosok gadis yang lebih kalem dan alim.


***


"Ca, ayah mau bicara sama kamu," ucap Pak Anwarudin ketika mereka duduk berdua di meja makan.


"Tinggal ngomong doang, Yah," jawab Caca acuh sambil terus mengunyah sarapannya tanpa melirik sedikit pun ke arah sang ayah.


Lagi-lagi Pak Anwarudin merasakan anak perempuannya itu minim adab saat diajak berbicara oleh orang tua.


"Ayah sudah memilihkan dan mendaftarkan kamu untuk melanjutkan sekolah di sebuah pondok pesantren." Tanpa basa-basi Pak Anwarudin langsung menyampaikan niat yang sudah lama dipendamnya itu.


Caca hampir menyemburkan teh manis hangat yang baru saja diseruputnya saat mendengar penuturan dari sang ayah. Sambil menutup mulut dengan sebelah tangan bola mata Caca mendelik tajam ke arah Pak Anwarudin.


"Ayah tidak sedang bercanda, kan?" tanyanya meyakinkan.


"Kan, sudah Caca bilang ke Ayah beberapa kali kalau Caca maunya melanjutkan ke sekolah kejuruan bukan yang lain. Apalagi itu yang ada embel-embel pondok pesantrennya kayak gitu. Caca gak setuju!" bantah anak perempuan berusia lima belas tahun itu dengan suara tinggi.


Semenjak kepergian sang ibu yang memilih kabur dan menikah lagi dengan lelaki lain beberapa bulan yang lalu sikap Caca mendadak berubah drastis. Seolah ingin menunjukkan kekecewaan hatinya melalui sikap yang ia tunjukkan kepada semua orang termasuk di depan sang ayah.


Melihat penolakkan dari anak gadisnya secara mentah-mentah seperti itu tak menyurutkan niat hati Pak Anwarudin sedikit pun. Bagaimana pun juga masa depan Caca adalah tanggungjawabnya yang berkewajiban mengarahkan sang anak ke arah yang lebih baik terutama masalah pendidikan agamanya yang ia sendiri tak mampu dalam bidang hal tersebut. Selain dengan cara menitipkan Caca untuk tinggal di asrama dalam lingkungan yang agamis dan dikelilingi oleh orang-orang alim.

__ADS_1


***


Mobil rentalan yang disewa Pak Anwarudin mulai memasuki kawasan Tangerang. Tepatnya bertujuan ke jalan Cadas-Sepatan. Niatnya untuk menitipkan anak gadisnya di pondok pesantren modern Daarul Muttaqien itu sudah bulat. Demi masa depan sang buah hati.


Sekitar jam 10 pagi kendaraan roda empat itu memasuki gapura gerbang pesantren yang di atasnya bertuliskan Pondok Pesantren Daarul Muttaqien dengan kaligrafi Arab Al-Ma'hadul Arsy Daarul Muttaqien.


Terlihat seorang gadis cantik memakai celana jeans panjang dengan atasan kaus lengan pendek berwarna maroon dibalut switer warna senada. Tanpa hijab. Dari rumah sang ayah sudah membujuk dan merayunya agar mengenakan jilbab, tapi, bukan Caca namanya kalau tidak kukuh dengan pendirian.


Chantika Wulandari namanya. Ia berdiri di antara riuhnya para santri baru dan wali murid berbaur dengan ustaz-ustazah dan para panitia yang sedang mengurus pendaftaran.


Bola matanya tak henti mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru yang berada di sana. Di hadapannya kini berdiri kokoh bangunan mewah berlantai tiga.


Dalam hatinya diam-diam gadis itu merasa minder dan risih karena hanya dirinyalah yang tak mengenakan hijab diantara kerumunan banyak orang di sana. Niat awal gadis itu bersedia diantar ke tempat ini semata hanya menuruti kemauan sang ayah. Setelahnya ia akan mencari alasan untuk bisa keluar dari lingkungan tersebut.


"Sekarang silakan menuju koperasi toko kitab dan buku yang berada di lantai dua, ya!" saran panitia kepada Chaca yang masih asyik berdiri mematung. Menunggu Ayahnya selesai merampungkan urusan administrasi di meja pendaftaran.


Usai mendapatkan perlengkapan kitab dan buku pelajaran Chaca diajak oleh salah satu panitia memasuki kawasan khusus santri putri yang berada di belakang gedung santri putra tepat di belakang kantor ruang guru atau para asatidz.


Chaca mulai memasuki ruangan di lantai dua asrama putri berukuran luas memanjang.


"Ini kamar baru dan lemarinya di sini, ya," papar kakak panitia berparas cantik pada Chaca setelah mereka berada di dalam kamar. Caca mendapatkan lemari dengan nomor urut 03 dari ujung pojok kamar.


"Oya, kenalin dulu. Nama kakak Uswatun Hasanah. Panggil saja Kak Uswah," ucap perempuan yang sudah kelas enam atau kelas tiga Aliyah itu.


Alih-alih menjawab dan menerima uluran tangan sang kakak kelas, Chaca memilih ngeloyor pergi begitu saja keluar kamar asrama. Sedangkan wanita bernama Uswah itu hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum geli.


Setelah semua dianggap selesai. Pak Anwarudin berpamitan sekaligus menitipkan anak perempuannya itu kepada ustaz dan ustazah yang sedang berkumpul di tempat penerimaan tamu.


***


Kegiatan pondok dan sekolah formal sudah Chaca ikuti selama tujuh hari. Jadwal yang padat membuatnya semakin merasa gak nyaman dan tidak betah tinggal di lingkungan pesantren. Gadis yang terbiasa hidup bebas tanpa pengawasan ketat itu merasa hidupnya tertekan karena mau tidak mau harus mematuhi peraturan yang berlaku.


Ketika berada di atas bangunan lantai dua yang dipakai sebagai koperasi kitab dan buku, tiba-tiba saja ide buruk Chaca muncul saat bola matanya melihat ada tangga kayu yang sedang disenderkan di tembok. Gadis itu menoleh ke segala arah berharap tak ada yang melihat aksinya yang akan turun ke bawah agar dirinya bisa kabur dari area pesantren.

__ADS_1


Setelah meyakinkan dan menguatkan hati. Tanpa ragu ia mulai meniti satu demi satu anak tangga yang terbuat dari bilahan bambu hingga kakinya mendarat sempurna di tanah.


Tak ada satu barang pun yang ia bawa selain pakaian yang melekat di badan bongsornya.


***


Pulang dari tempatnya bekerja Pak Anwarudin terperangah ketika mendapati putrinya sudah berada di dalam rumah sedang menonton televisi di ruang tengah. Sedangkan Chaca tampak santai dengan bungkus cemilan di tangan seolah sedang tidak terjadi apa-apa. Tak sedikit pun mempedulikan raut muka sang ayah yang begitu terkejut.


"Chaca? Kenapa kamu bisa ada di rumah? Jangan bilang kalau kamu kabur dari pondok." Pertanyaan beruntun dari Pak Anwarudin tak mengubah posisi duduk Chaca yang menatap lurus ke arah layar televisi.


"Ya Allah, Cha, mau ditaro di mana ini muka Ayah kalau Pak kiai dan ustaz kamu mengetahui kalau kamu pergi dari pondok tanpa pamit," ungkap sang ayah prihatin.


"Chaca capek, Yah, tinggal di sana. Gak bisa tidur lama mana apa-apa serba ngantri. Mau mandi antri, mau ambil nasi antri, naik turun tangga antri, semua serba antri. Aku bosan, Yah." Panjang lebar Chaca mengutarakan alasannya kabur dari pondok.


Setelah menyimpan tas kerjanya kemudian Pak Anwarudin mendekat dan duduk persis di sebelah anak gadisnya.


"Itu semua Ayah lakukan sebagai bentuk kasih sayang Ayah terhadap kamu, Nak. Percayalah sama Ayah," tutur Pak Anwarudin berharap sang putri memahami ucapannya.


"Tugas Ayah diantaranya harus mengarahkan kamu ke dalam pergaulan yang baik agar tidak salah pergaulan dan salah jalan. Sebagaimana yang terdapat dalam ayat Al-Qur'an:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ


Yang artinya:


Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.[at-Tahrîm/66:6]


Setelah melewati negosiasi yang cukup alot dengan anaknya akhirnya Pak Anwarudin mampu membawa Chaca kembali ke pondok.


***


Tahun pertama tinggal di lingkungan pondok, perubahan sikap dan tutur kata Chaca kini mulai terlihat banyak. Berbanding balik dengan saat awal dirinya masuk dan tinggal di asrama.


Kini pakaian yang ia kenakan mulai menutup aurat secara sempurna. Hampir tak ada lagi celana Levis dan kaus pendek yang ia pakai walaupun saat sedang pulang liburan di rumah.

__ADS_1


Salat lima waktu yang dulu ia kerjakan saat diperintah dan diingatkan oleh ayahnya saja, kini tak pernah terlewat dengan kesadaran dari hati nuraninya sendiri. Ditambah amalan salat sunah Duha dan Tahajudnya pula yang sudah dibiasakan di lingkungan pesantren.


Chaca sekarang bukan Chaca yang dulu lagi. Saat dulu dirinya hampir terjerumus ke dalam pergaulan bebas akibat lingkungan dan circle pertemanan yang buruk. Dugem dan nongkrong yang dulu sudah mampu melenakan waktunya, kini berganti dengan menghabiskan waktu di majelis ilmu bersama teman dan ustaz-ustszshnya demi menambah wawasan keagamaan yang kuat.


__ADS_2