
Sejak meet up dengan Agus. Sarah mengomel terus hingga tiba di rumah. Untung Indra begitu sabar menghadapi tunangannya. Jika bukan karena cinta, tentu Indra sudah membungkam mulutnya.
Setelah mengantar Sarah ke rumah, Indra bukan langsung pulang. Ia tentu duduk sebentar sembari menyeduh segelas teh buatan Sarah. Indra masih penasaran dengan sikap Agus tadi. Kebohongan itu baru terjadi setelah dia berpamitan untuk kembali ke kampus.
"Uh! Sebal!" gerutu suara dari seberang, di mana Indra tengah duduk sambil menikmati secangkir tehnya. Ia pun beranjak untuk memeriksa.
Di samping depan rumah menemukan seorang wanita cantik parasnya mirip sekali dengan Sarah. Wanita itu sedang mengerjakan sesuatu di depan mejanya sembari menggerutu karena kesal.
"Dasar dosen sialan! Kasih tugas rumah nggak tanggung-tanggung. Ini juga belum dapat semua, datang lagi email dari dia!" gerutunya sembari mengomel dan mengumpulkan kertas-kertas berserakan di depan laptop-nya.
Ponsel wanita itu berdering, seseorang menelepon menggunakan video call. Dengan cepat wanita itu menerima panggilan tersebut dan menegakan alat komunikasi itu di badan botol minuman. Muncullah wajah seseorang di balik layar komunikasi itu.
"Del? Kamu ada terima email dari dosen manajemen baru kita?" tanya dari seberang yang tercantum nama panggilan itu adalah Adelia.
"Sudah! Kamu juga dapat?" jawabnya sembari menyusun kertas yang dia buat di sana.
"Sudah! Gila benar itu dosen, berikan tugas nggak tanggung-tanggung, mau dia itu apa, sih? Kamu sudah baca email-nya? Tugas itu harus selesai dalam minggu ini juga!"
Deliana tidak membalas ucapan dari temannya di telepon. Ia sibuk dengan kertas menumpuk itu, bersamaan juga dengan temannya di sana ikut menyelesaikan tugas dari dosen tersebut.
"Del!"
Adelia memanggil temannya, masih tak ada tanggapan darinya. Sebab, Adelia menampakan seseorang di belakang temannya, meskipun tidak jelas wajahnya karena tertutup sama tembok.
"Del, siapa, tuh, di belakangmu?"
Adelia bertanya lagi, kemudian Deliana mendongak menatap temannya di layar ponselnya, ia pun menyipit matanya. Dengan cepat ia pun menoleh, walau hanya sepihak baju.
Indra pun mengintip lagi, tetapi ia tertangkap basah karena sepasang mata menatapnya sangat tajam. Bukan Deliana namanya jika seseorang diam-diam menguping pembicaraannya.
Indra mau tak mau beri senyuman pada adiknya Sarah. Ia tidak bermaksud untuk menguping. Suara seberang di telepon Deliana masih terdengar dari Adelia.
"Siapa itu, Del?"
__ADS_1
Deliana pun meraih ponselnya, kemudian mengucapkan sesuatu kepada temannya. "Nanti aku telepon kamu lagi!" Deliana pun mematikan ponselnya. Lalu bangkit dari duduknya mendekati tunangan kakak perempuannya.
"Anu ..., aku tidak maksud untuk ...," Indra mencoba cari alasan agar adiknya Sarah tidak prasangka buruk atas dirinya berdiri menguping.
"Kamu di sini, ternyata! Aku cari ke mana-mana!" sanggah Sarah mengacak pinggang, tetapi di punggung oleh Indra.
Merasa tak ada tanggapan dari Indra, Sarah pun mendekatkan dirinya untuk mengintip juga dengan siapa tunangannya berhadapan. Sarah pun membulat matanya.
"Delia! Kapan pulang? Mbak kira kamu masih di rumah ...,"
"..., sudah dari tadi, Mbak saja ke mana pergi tanpa bilang-bilang!" timpal Deliana masih menatap Indra seolah laki-laki itu berbuat salah banget.
"Maaf, itu pun mendadak, sih, hanya meet up sama teman lama. Masa kamu saja boleh meet up sama teman sebaya kamu," ucap Sarah tak mau kalah.
Deliana mengarah sang kakak perempuannya, ia cuma menghela pendek. "Aku berkumpul dengan teman bukan untuk main-main, Mbak! Kalau bukan tugas kuliah, sama dosen baru sialan itu!" tuturnya berlalu pergi meninggalkan dua orang ter-bengong atas sikapnya. Sarah menatap Indra, Indra sebalik mengangkat bahu.
Sementara di rumah satu setengah lantai, Agus masih memandang layar ponselnya, gadis inilah membuat dia tergila-gila dengan segala yang ada. Tanpa henti ia memandanginya lalu muncul notifikasi dari layar ponsel sebuah email masuk tertera alamat email DelianaCitra.
Seulas senyuman terbit sangat panjang, dengan senang hati ia pun membuka pesan email dari muridnya. Dengan cepat pula laporan tugas ia berikan itu sangat sempurna. Namun, ia belum puas. Entah akal sehat apa yang membuat ia tertarik dengan muridnya itu.
Malam tiba, Deliana masih mengutak-atik laptop-nya. Tugas yang ia kerjakan tadi siang telah selesai dan sudah ia kumpulkan lewat email ke dosen yang sering buat dirinya kesal. Sekarang ia sedang asyik dengan lagu favorit sembari memainkan permainan di laptop-nya itu. Tetiba suara ringtone dari ponselnya berbunyi membuat ia menghentikan kegiatan dari permainannya. Segeralah ia meraih ponselnya, dengan nomor tidak ia kenal sama sekali.
"Halo!"
Deliana pun mengangkat dan menyambut panggilan telepon itu. Tetapi ia tidak mendapat balasan dari panggilan itu. Malahan Deliana sempat menjauhkan ponsel dari telinganya, masih terhubung tetapi tidak ada suara sama sekali.
Kemudian, Deliana mematikan panggilan itu. Kembali ia melanjutkan permainan di laptop. Beberapa menit kemudian, ringtone ponselnya kembali berbunyi, ia pun mendecak nomor yang sama lagi. Ia membiarkan ponsel itu berbunyi, namun semakin dibiarkan, malahan semakin berlebih-lebih.
"Halo!"
Deliana akhirnya mengangkat lagi, tetap saja tidak ada suara apa pun dari seberang, hanya terdengar suara mesin mobil.
"Halo!"
__ADS_1
Sekali lagi, Deliana menyambut panggilan itu. Tetapi tidak ada jawaban apa pun.
"Siapa sih?" kesalnya, ia meletakkan ponselnya setelah mendengar suara obrolan dari luar kamarnya.
Penasaran ia pun mendekati pintu itu, suara itu sangat jelas. Ya, itu adalah suara dari kakaknya dan juga calon suaminya. Benar, Indra belum pulang. Sebentar lagi mereka akan tinggal satu rumah.
"Kamu yakin? Aku rasa jangan dulu, deh? Aku takut dia belum bisa terima hal ini?" ucap Sarah memelankan suaranya.
"Kita hanya memberitahukan saja, bukan menceritakan hal padanya," balas Indra.
Dibalik pintu kamar milik Deliana, semakin lama ia mendengar. Kekepoannya pun muncul, bukan ia harus tahu permasalahan dari dua pasangan itu. Ya, secara tak langsung setiap percakapan itu selalu buat hati gundah gulana terus membuatnya semakin penasaran. Tanpa mereka sadari, ia pun berani buka pintu tiba-tiba.
"Memang apa yang mau diberitahukan? Dari kemarin-kemarin, aku semakin aneh atas sikap Mbak Sarah dan Bang Indra. Memang ada masalah apa, sih? Kayaknya penting banget, sampai dirahasiakan begitu?" ucap Deliana tanpa adanya tanda koma, bahkan Sarah dan Indra langsung tak berkutik setelah pintu itu tetiba terbuka.
Sarah dan Indra saling lirikan mata bergantian. Deliana masih menunggu, bahkan mengamati mereka berdua. "Sebenarnya ada apa, sih, Mbak? Setiap aku bertanya, ekspresi kalian berubah aneh?" Deliana bertanya lagi, ia hanya penasaran saja.
"Tidak ada, kok, Del. Kami hanya bahas soal pertemuan saat pernikahan Mbak dengan Bang Indra, iya, kan?" Sarah langsung menyikutnya. Indra pun sontak tersadar, lalu ia pun menjawab, "Iya, benar, Del."
Deliana mengernyit dua alisnya, ia bukan tak yakin atas jawaban dari dua pasangan itu. Tetapi, hal itu membuat ia semakin penasaran. Walaupun ia ingin tahu, sedikit tak masalah. Namun ia menunda kembali, karena panggilan dari ponsel kembali berdering berulang kali.
"Ck! Siapa, sih?" Dengan kesalnya, Deliana pun kembali menutup pintu kamarnya. Sedangkan Sarah dan Indra bisa bernapas lega.
"Untung saja, kamu sih!" tuduh Sarah ke Indra.
"Bukannya yang mulai itu, kamu? Ya, sampai kapan kita berdiam terus merahasiakan hal ini? Lama-lama adikmu akan tahu tentang dia, sebelum terlambat lebih baik kita ceritakan soal ini, daripada nanti dia ...."
Sarah dengan cepat memukul bahu kiri calon suaminya. Indra langsung meringis. "Enak saja! Aku tetap menutup permasalahan ini. Kalau sampai dia tahu hal ini, siapa yang akan bertanggungjawab perkuliahannya?" cerca Sarah.
"Justru itu, lebih cepat lebih bagus, daripada nanti dia semakin kesal, dan ...."
"Pokoknya jangan sampai bocor! Waktunya kamu pulang, sudah malam!" Sarah mendorong Indra ke depan, tapi Indra menahan sembari menoleh.
"Jadi kamu usir aku? Ini dulu?" Indra memberi kode pada Sarah. Sarah seolah tidak tahu maksud kode diberikan oleh Indra.
__ADS_1
Tanpa rasa malu setelah di depan rumah, Indra langsung mengecupkan bibir manis calon istrinya, Sarah tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa senyum malu. Setelah Indra meninggalkan rumah calon istrinya. Sarah pun kembali masuk ke rumah, dan mengunci pintu tersebut.