Who, My Bos?

Who, My Bos?
Perjuangan seorang Dosen.


__ADS_3

Dua bulan sudah berlalu, sejak lamaran kedua dari Agus. Deliana di ubek-ubek habis sama Adila dan Mirna di kafe pernah mereka buat permainan Dare or Truth. Jika diingat kembali itu bukan suatu hal kebetulan.


"Aku gak kebayang sama sekali kalau jodoh aku adalah mantan dosen itu," ucap Deliana.


Dia masih gak kepikiran sama sekali. Perjalanan kisahnya itu benar-benar gak terduga. Padahal semua berawal dari permainan Adila.


"Sudah takdir, Del. Kalau sudah takdir ke mana-mana tetap akan di depan mata. Sampai kapan pun kamu tolak cinta dia, tetap perjuangan itu selalu ada, kamu saja bloon, pria mana lagi punya perjuangan dan ngorbanin dirinya demi kamu," kata Adila bijak.


"Tumben kamu bijak banget soal ini?" cibir Deliana sambil menyeruput minuman kesukaannya.


"Adila gitu, loh!" Bangga dianya,


Kembali hening gak ada lagi bahasan antara mereka bertiga. Lalu ponsel Deliana berdering.


"Halo."


"Lagi ngapain?" Suara dari Agus.


"Lagi kumpul sama Adila dan Mirna, kenapa?" jawabnya santai.


"Oh, sudah makan?"


"Sudah, kok, kalau kamu?"


Adila dan Mirna menyimak percakapan mereka di telepon. Adila senyum-senyum lihat sikap Deliana gak ada romantis-romantisnya.

__ADS_1


"Belum, habis urus klien, makan apa tadi?"


"Kenapa belum makan? Makan dulu, tugas klien nanti saja baru dikerjakan. Pentingin dulu itu perut, gak kasihan sama cacingnya?" Tiba-tiba suara Deliana membesar.


Di seberang Agus ketawa. "Sudah kenyang kalau kamu marah gitu. Tiap dengar suara kamu sudah cukup buat saya. Gak perlu makan lagi," katanya menggombal.


"Kenyang? Isap angin mungkin, makanya kenyang!"


"Oh ya, Del. Habis ini. Kamu mau oleh-oleh apa? Saya sudah rindu berat, nih, sama kamu. Gak lihat muka merenggut kamu rasanya ada yang kurang," ucap Agus masih saja gombal mulu.


"Oleh-oleh? Adila mau oleh-oleh tas Hermes, terus Mirna mau jam tangan Vinci, kalau saya? Dirimu selamat tujuan sudah cukup," kata Deliana. Agus yang dengar pun terdiam.


"Kamu kebiasaan memanjakan teman-teman kamu, ya? Gak mau manja sama saya?"


Deliana diam gak menjawab pertanyaan dari Agus. Dia malah alihkan ke topik lain. Bukan gak mau jawab, malu kalau dia jawab di depan dua temannya.


Agus yang belum selesai ngobrol-ngobrol sudah pakai acara tutup panggilan. Buat Agus gak masalahkan, dia tau calon istrinya malu ungkapin kalau dia juga mau dimanjain sama dia.


"Ehem! Mau dong Del, dimanjain sama ayang!" goda Adila menempel bahunya Deliana.


"Iih! Apaan, sih, kamu!" Adila gak peduli, dia tetap tempel di bahu Deliana.


Mirna yang lihat tingkah Adila lama-lama mirip Agus. Hanya saja Mirna gak menyangka kalau sahabat satu ini berakhir dan menyerah untuk mengakui cinta ke dosennya itu.


"Ngomong-ngomong, Del. Gimana ceritanya kamu bisa punya perasaan sama pak Dosen itu?" Sekarang Mirna bertanya, dia dari awal penasaran.

__ADS_1


"Setahu aku, kamu 'kan, paling ilfil sama dia? Dimulai masalah tugas kampus, terus kedekatan dia, terus sampai gosip-gosip mengenai kamu sama dia, hampir nama kamu di kampus tercoreng karena dia juga, kan?" imbuh Mirna mengungkit masa-masa kuliah mereka.


Adila manggut-manggut, dia juga sama satu pikiran dengan Mirna. Padahal dia paling dekat sama Deliana. Deliana sendiri juga gak tau kenapa punya perasaan sama pak Agus.


"Mungkin karena gombalan dia kali, ya? Makanya aku punya perasaan," jawabnya asal.


"Gak deh, masa karena gombalan kamu sudah suka dan punya perasaan. Atau kamu cuma simpati sama dia?" kata Mirna.


Deliana juga bingung, dia gak mungkin simpati sama Agus. Semua yang dikatakan Mirna itu bukan karena dia merasa kasihan. Dari awal perjumpaan hingga lamaran buat jadi calon istrinya itu juga bukan karena dia kasihan.


"Entahlah Mir, aku juga bingung. Pokoknya perjuangan dan pengorbanannya itu berat. Mungkin dia tulus dan memang setia banget menunggu momen itu buat balas cinta dari aku. Satu hal yang buat aku gak nyangka dia lakuin ke aku itu," Deliana menjeda kata-katanya.


"Apa itu?"


"Kalian masih ingat, waktu kasus beredarnya foto-foto soal aku dan dia tidur berdua di kampus. Terus dapat isu kalau aku dan dia sempat lakukan hal gak masuk akal itu, siapa yang menyebarkan gosip hoax seperti itu. Terus aku sampai mau dikeluarin sama pihak kampus 'kan? Padahal sedikit lagi aku sudah mau selesai perkuliahan, rasanya itu aku stres banget," cerita Deliana dari awal beritahu kepada Mirna dan Adila.


Mirna dan Adila tentu ingat sekali, itu juga dikasih tau sama Selly. Kalau bukan karena Selly, gak sampai segitunya tindakan kasus itu menyebar luas begitu.


"Terus, aku dapat kabar dari teman lain, kalau aku gak jadi dikeluarkan sama pihak kampus. Cuma diskors beberapa hari untuk perbaiki kesalahan-kesalahan aku. Terus selesai skors, aku gak lagi dengar gosip-gosip soal aku dan dosen itu. Cuma dengar dari Eka, anak fakultas Ekonomi. Kalau dosen yang ngajar management itu sudah keluar dari kampus. Sampai dia minta pihak kampus untuk membersihkan nama baik aku. Meskipun aku masih teringat bagaimana hancur aku kenal dia. Dari itu, aku ilfil dia sampai sekarang, walau aku gak peduli kalau dia berkorban lakuin aku hingga selesai kuliah," lanjut Deliana menceritakan semua kejadian hingga dia baru sadar sendiri betapa mulia pengorbanan Agus untuk Deliana.


Entah bagaimana nanti kalau Deliana di posisi Agus. Mungkin dia bukan lakukan hal itu, tinggal nama.


"Sudah tau gimana perjuangan seorang dosen demi muridnya. Kamu juga, sih, terlalu gengsi sama perasaan. Setelah apa dia lakukan untuk kamu, jangan kamu sia-siakan. Buktinya takdir untuk nyatuin kamu sudah ada, kan, di depan mata?" Adila kembali ceramah dan beri nasihat.


"Iya, Dila! Terima kasih atas segala yang kamu berikan untuk aku dan menyadarkan aku betapa berharga sebuah pengorbanan demi seseorang. Terus, aku mau tanya, dua bulan kemarin kalian, kok, ada di kantor aku? Gimana sih ceritanya?" Deliana bangga dan sangat bersyukur punya dua teman seperti Mirna dan Adila.

__ADS_1


Walau Mirna gak gitu banyak ngomong hanya menyimak, soalnya dia lebih sibuk sama laptopnya. Yang punya kafe Mirna, jadi maklum pengusaha sibuk itu penting demi masa depan.


"Diajak sama Pak Dosen-mu, lah, panjang pokoknya. Yang penting setelah nikah sama dia. Bulan madu nanti ke mana? Aku rekomendasi tempat yang romantis deh, biar tar habis liburan bulan madu, dapat berita baik kalau kamu hamil, kan!" Adila menggombal lagi, Deliana malah senyum-senyum dan mengelak.


__ADS_2