Who, My Bos?

Who, My Bos?
Pernikahan.


__ADS_3

Deliana duduk bersebelahan dengan Agus. Setelah kejutan itu kembali buat dia tidak bisa berkata-kata lagi. Dia merasa ketakdiran itu benar-benar buat dia terpana oleh sosok pria yang sudah diklaim menjadi calon suami.


Dari tadi Deliana memegang kalung pemberian Agus. Dia belum pernah merasa momen sebelumnya. Meskipun dia gak pernah pacaran dari duduk di bangku sekolah hingga lulus kuliah. Deliana memang type wanita pekerja keras, lebih utama karir ketimbang untuk pacaran yang zaman sekarang anak sekolahan sudah pacaran terang-terangan.


"Bagaimana? Suka sama kalungnya?" Dari tadi Agus perhatikan calon istrinya pegang kalung itu gak lepas-lepas.


Deliana hanya bisa senyum, tandanya dia suka. Malahan lebih dari kata suka. Syukurlah Agus senang kalau Deliana suka sama hadiahnya.


"Kapan kamu sampai di sini? Bukankah tadi siang kamu masih di negara seberang?" Deliana mengalihkan bahasan lain.


Penasaran saja untuk Deliana sekarang, karena tadi siang di kafe sempat telepon-teleponan. Setelah itu pulang dari kafe Mirna, diberi kejutan sama kakaknya sendiri. Lalu habis mandi buat ganti baju lebih oke, dikejutkan lagi kedatangan dua temannya. Lalu tanpa bilang sudah dibawa ke sini lagi jumpa sama calon suami.


"Tadi pagi," jawabnya santai.


Deliana melongo, "Hah? Tadi pagi? Jadi?"


Agus mencubit pipi Deliana, gemas saja. Malah Deliana menampik tangan Agus. "Aku serius, loh, Pak! Jadi tadi pagi Bapak sudah ada di sini?"


Agus mengangguk. "Iya," jawabnya pendek.


Deliana gak percaya kalau Agus memang sudah ada di sini. Dia pun langsung sadar akan suatu hal.


"Tunggu, tunggu, kalau Bapak sudah ada di sini. Berarti Mirna sama Adila juga sudah tau, dong? Kak Sarah sama bang Indra juga?" Agus mengangguk apa yang dikatakan oleh Deliana sekarang.


Deliana menarik napas tidak mempercayainya. Kenapa dia gak sadar sejak awal. "Semua berkat mereka, mereka sengaja gak kasih kamu tau soal skenario ini. Waktu kamu di sini, ada Mirna sedang sibuk sama laptopnya, sedangkan Adila asyik ajak kamu ngobrol, tapi kamu gak perhatiin sama lokasi kafe sedang didekorasi sama pekerja, bukan?" jelas Agus memberitahu kepada Deliana.


"Yaaa sih, aku kira dekorasi itu ada yang mau nikah atau ada yang sewa kafe buat ulang tahun dari pelanggan tetapnya Mirna, jadi mana aku tau kalau yang dekorasi hiasan itu semua dari kamu buat aku," gerutu Deliana.


Agus pun mencubit hidungnya. "Makanya lain kali perhatikan sekitar, jangan asyik melamun saja. Aku tau kamu kangen sama aku, aku juga. Maka dari itu habis selesai tugas kerjaan aku langsung pulang. Ngapain lagi lama-lama di sana," kata Agus geram.


Deliana sesak dicubit mulu sama Agus. "Iih! Sakit, jangan cubit, luntur nanti bedak aku," cetus Deliana.


Sarah dan Indra menghampiri mereka berdua. Sarah sangat iri, pengin banget dia kayak gitu lagi.


"Ehem! Yang bentar lagi jadi pengantin baru, bahagia banget. Iri, deh, diriku," tegur Sarah duduk berhadapan dengan mereka berdua.


Deliana teringat sama masakan kakaknya sampai lupa di cicipi. "Kak, masakan Kakak bagaimana? Mubazir, dong?" Jadi serba salah.


Sarah gak merasa gimana-gimana soal masakan belum di sentuh. "Sudah aku masukan ke kulkas, besok-besok bisa dipanasi, kok," katanya.


"Gara-gara Pak Agus, sih! Lebih enak, kan, makan di rumah. Hemat duit. Ngapain keluarin duit pakai acara bikin hiasan meriah begini?" Kumat lagi Deliana mengomel Agus.


Agus ketawa, Indra juga. "Sudah cepat nikahi sana, Gus! Ibu negara sudah ngomel. Dia memang susah dihematin, Del. Habis resmi suami-istri kontrol keuangan dia. Biar kamu tau apa saja dia beli itu," ucap Indra memberitahu keburukan Agus.


"Masa? Wah, pantas saja, keuangan di perusahaan sering menurun terus upah gaji sama lembur pun suka lama dicairkan, jadi ini kebiasaan Bapak?"


Indra senang lihat Agus diomelin sama adik iparnya. Agus bisa apa? Diam biarkan Deliana mengomel sepuasnya. Itu yang dia inginkan.


"Gak apa-apa, itu uang aku?" balas Agus santai.


"Iya, uang Bapak? Tapi gak kasihan sama yang kerja? Borongan juga? Kerja mati-matian demi biayai anak-anak mereka juga dari uang Bapak! Kalau begini sama saja aku kerja lembur tiap malam cuma lihat kertas, suara printer, marah-marah sama pelanggan buat segera tagih itu pembayaran. Itu juga pakai tenaga, loh, Pak!"


Semua ada di kafe menoleh, menonton, dan mendengar suara omelan dari Deliana. Yang berisik tadi jadi hening karena suara tegasnya. Agus sadar diri, kok. Sarah pun sampai gak bisa tenangin adiknya sendiri. Dia malah cubit lengan suaminya.


"Ini semua gara-gara kamu, ngapain kamu ungkit-ungkit hal itu," tegur Sarah ke Indra.


"Ya sori." Indra jadi merasa bersalah jadinya.


Agus gak membalas, kemudian Deliana keluar dari kafe dengan sikap kesal. Semua yang ada di sana terheran-heran. Agus yang sadar sikap Deliana. Langsung kejar.


"Sori, Gus. Aku gak maksud ...."

__ADS_1


Agus gak tanggapi, dia lebih baik kejar dulu Deliana. Masa ulang tahun calon istri jadi begini. Adila baru saja keluar dari toilet karena habis buang berlian. Adila jadi kebingungan sama Agus lari-lari gitu.


"Eh, ada apa ini? Kenapa Pak Agus sampai lari-lari gitu?" Adila bertanya pada Mirna.


"Biasa, teman kita lagi ngambek," jawab Mirna.


Adila melongo, "Hah?"


"Hah, heh, hah, mulu!" Mirna cape lihat Adila makin lama makin bloon. Kebanyakan buat acara aneh-aneh, sih.


Deliana kesal saja, dia berhenti jadi bingung mau ke mana. Sampai ngomel apa saja di mulutnya.


"Dia pikir aku ini wanita apaan, kasih kejutan begitu mewah? Dia pikir aku gak bisa buat gitu? Memang dasar DOSEN LAKNAT!" teriak Deliana gak peduli yang lewat di jalan raya menoleh.


"Del."


Agus berhasil kejar juga, Deliana merasa dipanggil langsung membelakangi. Dia malas lihat muka Agus. Sebenernya gak bagus juga dia lakuin gitu. Sudahlah terlanjur.


"Del, jangan marah begini, dong. Masa di hari ulang tahun sendiri, merajuk gini. Jelek tuh, luntur tuh. Tar luntur aku beli alat kosmetik, dibilang aku boros lagi? Pakai uang perusahaan lagi?" cibir Agus, kalau lihat Deliana sudah marah gini.


Agus kayak kehilangan kata gombalnya. Ya salah dia juga, sih. Memang gak harus mewah. Biar orang tau, kalau dia pengusaha. Bukan seorang mantan dosen.


"Del." Agus memutarkan Deliana buat menghadap sama dia.


Deliana mau tak mau lihat muka dia, terpikat sama wajahnya. Mau marah benaran jadi gak bisa. Disayangkan sama make up-nya. Mulai sejak kapan dia peduli sama penampilan.


"Tapi janji, gak ulangi lagi. Aku gak mau karena masalah keuangan kamu menurun, Anak-anak jadi korban. Mereka kerja untuk kamu, kamu kerja untuk mereka juga. Biar masa depan mereka juga lebih baik," ucap Deliana meminta Agus menepati janji.


"Iya, aku janji, jadi gak marah sama merajuk lagi, kan?"


"Siapa yang marah? Orang aku kesal saja, kok," elaknya.


"Kejutan apa lagi?"


"Pokoknya ini beda. Ini hasil uang aku sendiri. Bukan dari perusahaan," katanya menarik Deliana kembali masuk ke kafe.


...***...


Malam tiba, sesuai keinginan dan pencapaian dibuat oleh Agus Antoniusetya Darmawan. Sebuah taman terbuka terlihat oleh pemandangan terang seluruh kota Medan tersebut. Mirna memang sengaja membuka satu tanaman jarang digunakan oleh orang-orang lain. Sebuah gedung tinggi. Dekorasinya mewah jauh lebih mewah dari biasanya.


Sekarang Deliana sudah berganti baju jauh lebih bagus. Bukan baju, tapi gaun pengantin. Agus memang sudah persiapkan semua dari awal. Minta seorang design busana terkenal untuk buat satu gaun pernikahan, untuk calon istrinya. Terus di sana juga sudah hadir seorang pendeta buat memberkati mereka dan mengikat janji suci mereka berdua nantinya.


Deliana terpana sama gaun dia pakai itu, dia gak bisa berkata-kata lagi. Tepat dihari ulang tahun, tepat pula dihari pernikahan langsung. Semegah inikah dia menikah dengan seorang dosen sekaligus pengusaha.


Deliana dibantu sama Adila dan Mirna. Sarah masih perjalanan ke tempat ini. Tadi sempat pusing karena terlambat makan. Jadi Indra temani dulu.


Agus juga gak kalah ganteng dengan kasual jas dia pakai. Pokoknya couple mereka berdua. Agus sudah berdiri di depan bersama pendeta. Iringan lagu band itu membuat suasana di outdoor pun hangat. Deliana gugup bukan main. Apalagi kedua tangannya dingin. Merasa sangat dingin banget.


"Rileks, Del," bisik Adila.


"Iya, ini juga sudah rileks, kok! Sepatunya terlalu gimana, sih?" balas Deliana, malah salahkan sepatu dia pakai.


"Bilang saja kamu gugup, lihat, tuh, calon suamimu, jauh lebih ganteng idola yang kamu banggakan," sindir Adila lagi.


"Iya, iya, pastilah. Habis ini giliran kamu nyusul, ya? Aku gak mau tau," balasnya lagi.


"Masih lama, kasih Mirna dulu," ucap Adila mengoper arah Mirna.


Ketiga wanita berjalan menelusuri tikar merah ke pasangan tersebut. Mirna serahkan Deliana pada Agus. Agus dengan senang hati menyambut tangannya. Agus agak kaget saat pegang tangan Deliana begitu dingin.


Adila juga, meninggalkan tempat itu dan berdiri membelakangi mereka berdua. Deliana dan Agus telah berhadapan dengan pendeta.

__ADS_1


Deliana sangat tegang, dia belum merasakan ini sebelumnya. Agus menggenggam tangan Deliana untuk tetap tenang. Pendeta pun membaca janji suci untuk dua pasangan itu.


Semua hening serta mendengar apa diucapkan oleh pendeta tersebut.


Setelah menit-menit kemudian ucapan ikatan janji di depan Tuhan dan saksi mata pada teman-teman hingga kerabat terdekat. Akhirnya pemberkatan pun selesai, Agus dan Deliana pun memasangkan cincin pernikahan di jari masing-masing. Gak hanya itu, Agus mengangkat kain menutup wajah cantiknya si istri. Agus pun mencium kening, hidung, dan bibir. Deliana diam sambil senyum geli.


Suara tepuk tangan pun meriah di malam hari. Deliana dan Agus pun resmi menjadi sepasang suami istri yang bahagia. Setelah itu beberapa jam kemudian, Deliana berdiri di panggung membelakangi semuanya. Deliana bersiap melempar bunga. Siapa yang akan mendapatkan bunga itu. Seorang MC memberi aba-aba dalam hitungan mundur.


LIMA ...


EMPAT ...


TIGA ...


DUA ...


SAT -


SATUUU...


Bunga itu dilempar oleh Deliana dan bunga itu terbang, semua ada di sana memperebutkan bunga, tapi yang dapat adalah ADILA VEGARIATI teriak MC-nya.


Deliana pun memutar dan merebut Mic dari MC nya. "Dil, aku tunggu lepas singel-mu!"


Agus yang dengar pun senyum-senyum. Kemudian membantu Deliana turun dari panggung. Adila serahkan kembali bunga pada Deliana.


"Ingat takdir pada bunga sebagai saksi, setelah aku, giliran kamu melepas masa singel, mana tau jauh lebih baik dari suamiku," balas Deliana.


"Iya, suka kamu saja. Di aminkan kalau gitu," katanya merasa gimana jodoh dia nantinya.


...***...


Suasana malam hari gak rasa lagi buat Deliana duduk sendirian. Sekarang sudah ada Agus di sampingnya.


"Kamu masih ingat pertama Kakak kamu menikah?" tanya Agus kembali mengungkit masa-masa dia lajang.


"Ingat, kamu yang dosen nyebelin, terang-terangan nyatain cinta sama aku," jawabnya sampai sekarang masih dia ingat.


"Aku jujur sama kamu, bukan ngada-ngada," balasnya.


"Iya, tau. Terus bagaimana kabar mbak Sandra?" tanya Deliana


"Dia? Gak tau, gak ada kabar dia setelah pisah dan hilang kontak," jawabnya sambil main jari jemari Deliana.


"Yakin? Mana ponselnya, aku gak yakin gak ada komunikasi lagi, dia 'kan mantan kamu. Kalau aku, gak punya mantan. Mantan juga itu kamu," katanya. Sambil mengulurkan tangan pada Agus.


Agus pun keluarkan ponsel dari kantong celana. Berikan kepada Deliana. Gak ada yang perlu dia tutupin lagi. Deliana buka ponselnya ternyata gak dikunci sama Agus. Agus memang gak pernah kunci ponsel.


Lalu Deliana membuka semua aplikasi komunikasi dimulai dari whatsapp, wechat, instagram sampai Facebook, semua nihil. Cuma postingan teman-temannya yang beri ucapan selamat kepadanya atas pernikahan dengan dirinya dan dia. Lalu terakhir aplikasi line. Nihil.


Terus galeri Agus, semua foto berupa tentang wisata, gedung, dan foto dia di sana semua. Agus ikut melihat istrinya memeriksa ponsel miliknya itu.


"Ternyata Bapak ngefans banget, ya, sama aku? Segitu banyak foto aku Bapak ambil. Pasti ambil dari instagram aku, ya?" cicit Deliana menatap suaminya.


"Gak." Bohong Agus. Deliana gak percaya. Dia pun mengembalikan ponselnya pada Agus.


"Pegang saja, buat kamu. Sewaktu-waktu aku gak ada di tempat, kamu bisa kuasai itu ponsel. Terus mobile banking sama tabungan kata sandinya tanggal lahir kamu," ucapnya menyatukan kepala Deliana dengannya. Terus satu kecupan dari Agus.


"Terima kasih untuk semuanya," ucap Agus bahagia.


"Terima kasih juga, untuk kado indahnya, suami mengesalkan," balas Deliana tidak lupa balas ciuman pertama kali untuk seorang dosen pernah buat dia hampir mati akan kegilaan itu. Agus juga gak mau lewatkan momen bahagia.

__ADS_1


__ADS_2