Who, My Bos?

Who, My Bos?
Kenapa dia lagi?


__ADS_3

Terlambat sudah untuk Deliana pagi-pagi berisik di rumah mondar-mandir ; ke sana-ke sini. Membuat Sarah dan Indra terbangun suara derapan kaki lantai dua.


Sarah menguap untuk sekian kalinya, ia melirik jam dinding pukul 7.30 pagi. Apalagi Indra masih memeluk guling dengan merebah kepala sambil bersanding di dinding.


Deliana turun tergesa-gesa menenteng tas dan karet di gigit serta rambut masih belum di apa-apa'kan olehnya. Ia pun melirik saudara iparnya itu.


"Ya ampun, Kak?! Kenapa masih berdiri di sana? Apa kalian gak kerja?" cibir Deliana meletakkan tasnya di kursi dan mengikat rambut yang setengah basah itu.


Arwah Sarah belum terkumpul apalagi Indra mengekori istrinya dengan guling ia peluk.


"Ini baru jam berapa sayang?" ucap Sarah menguap kembali dan duduk di meja makan.


Kegiatan Deliana membuat sarapan untuk satu keluarga di rumah ini. Lalu kemana orangtua Deliana? Mungkin banyak di pertanyakan, bukan?


Orangtua Deliana sudah tiada saat duduk di bangku sekolah menengah atas. Kecelakaan itu tak sengaja dilakukan oleh seseorang sehingga Deliana tak dapat merelakan keberanian sang kedua orangtuanya. Walau pun begitu, Deliana masih memiliki seorang keluarga kecil yaitu Sarah.


Sarah adalah sosok kakak yang menggantikan kedua orangtua. Meskipun begitu, Deliana tak pernah menyusahkan siapa pun, walaupun Sarah sudah menikah. Deliana tinggal bersama Sarah dan juga abang ipar yang sangat menyayangi sang kakak tercintanya.


"Kakak, bangun pagi itu sehat dan rezeki pun lancar, bukannya kakak pernah bilang anak perempuan tak boleh malas-malas," cibir lagi Deliana mengomeli Sarah.


Sarah menarik nasi goreng buatan Deliana sebaliknya Indra juga. Setiap pagi adalah sarapan awal omelan dari Deliana kenyang untuk Sarah dan Indra.


"Kamu itu memang sudah pantas menjadi istri orang. Setiap pagi mengomel terus gak lelah sama tenaga dalam mu?" ucap Sarah dengan lahap menyantap nasi goreng adiknya.


Bahkan Sarah belum bisa memasak seenak Deliana. Untung Indra - suaminya tak pernah komplain soal dapur. Ya, Indra mengerti, Sarah benci dengan dapur. Indra selalu memakhluminya.


"Jangan mulai deh, kak?!" mencak Deliana


"Kenapa sih, kamu itu ilfil banget sama Agus? Memang kekurangan Agus itu dimananya? Katanya kamu mau kawin sama dia, makanya semalam dia datang ke rumah berkunjung." Sarah penasaran saja sih, ya, mungkin Deliana mau menjelaskan.


Deliana menghela napas dan menjawab, "Itu hanya permainan iseng dari Adila dan anak-anak. kalau bukan permainan sialan itu, aku gak mungkin jumpa sama Pak Agus!"


"Meskipun permainan, dari raut wajah Agus ... dia gak main-main loh, Del. Iya'kan sayang!" Sarah menyikut Indra dari tadi diam tak bersuara.


Indra mengangguk, rasa kantuknya belum hilang. Deliana menghela kasar kemudian bangkit dari tempatnya, mengangkat piring kotor dan juga piring Sarah.


"Kakak heran sama kamu, memang seberapa ilfilnya sama Agus? Bukannya Agus itu mantan dosen kamu? Apalagi dia gak mengajar di Universitas sejak kamu lulus?" cerca Sarah memberi segala pertanyaan pada Deliana.


Deliana tak menjawab, sibuk mencuci piring setelah selesai ia akan bersiap untuk berangkat kerja. Sesekali ia melirik jam dinding di dekat tangga. Telah pukul delapan lebih kurang.


"Del." Sarah memanggil adiknya, tak ada tanggapan. Deliana anggap pembahasan tadi angin lalu.


"Aku berangkat dulu." Deliana menyalami tangan Indra dan Sarah.

__ADS_1


Sarah hanya bisa menatap punggungnya telah menjauh dan menghilang dari ke luar rumah.


"Ini, abang?! Molor mulu! Mandi, sudah terlambat!" Sarah memukul paha Indra sehingga Indra tersentak kaget karena kantuknya tak kunjung hilang.


"Masih ngantuk, sayang, dua menit lagi ya!" respons Indra kembali merebah kepala pada guling ia peluk.


Sarah menarik guling secara paksa sehingga rebahan kepala Indra tercium meja makan tersebut. Sehingga rasa kantuk Indra pun menghilang seketika, ia mengelus-elus rasa sakit kening tercium ada meja tadi.


Sarah meninggalkan tempatnya dan bersiap-siap untuk kantor. Indra pun menyusul dengan merengut.


Selama perjalanan dari rumah ke kantor Deliana pun sampai juga. Untung tak ada kemacetan, cuaca hari ini sangat cerah semangat untuk Deliana beraktivitas.


"Selamat pagi, Del!" sapa Anggi menepuk Deliana akan memasuki gedung perkantoran sarung tangan karet ekspor.


"Pagi juga!" balasnya.


Satu per satu pun saling menyapa dan kemudian bisik-bisik nyamuk menggema di telinga Deliana dan juga Anggi saat mereka memasuki gedung perkantoran tersebut.


"Heboh apaan sih pagi-pagi begini?" kepo Anggi bersuara.


"Katanya akan ada atasan baru di kantor kita," jawab Finna dari divisi lain.


"Hah? Benar? Siapa? Ganteng?" Anggi paling semangat soal beginian.


"Aduh!" desis Deliana ponsel miliknya hampir saja terjatuh ke lantai.


Anggi dan anak-anak lainnya terdiam tak sempat mencegah Deliana main terobos masuk.


"Kamu gak apa-apa?" Suara yang tak asing lagi di telinga Deliana.


Deliana dengan berani mendongak, kebetulan apa sudah di takdirkan. Agus senyum tampan untuk Deliana.


"Hai sayang."


...***...


"Kenapa ketemu dia lagi?! Ish, ampes gak habisnya muncul mukanya!" merepet Deliana sambil membawa berkas-berkas dari lemari besi.


Anggi dan anak-anak lainnya penasaran kejadian di depan lift. Soalnya Deliana tabrak tadi itu menyebutkan dirinya "sayang"


"Del, kamu kenal sama laki-laki tampan tadi?" Anggi bertanya kepo ojolali.


"Gak!" jawabnya cepat. Anggi kembali ke mejanya tetapi ia kembali mencondongkan lehernya menyamping.

__ADS_1


"Yakin? Kamu gak ada hubungan sama laki-laki tadi?" Anggi bertanya lagi, Deliana mendecak sebal atas sikap Anggi yang kepo banget.


"Sudah dibilang, gak, ya, gak!" decaknya merapikan berkas dari map besar ia ambil di lemari besi.


Anggi mengangguk dan kembali ke meja. Anggi tak begitu yakin dengan jawaban Deliana, tapi, bisa saja Anggi salah perkiraan.


Detik-detik waktu divisi finance, suara langkah kaki menggema di seluruh telinga para pekerja di PT. Indo Nusaraya Industri - Sarung tangan karet Ekspor. Semua yang berada di tempat meja masing-masing berdiri menyambut kehadiran seorang atasan baru di kantor Deliana.


Para pekerja menunduk sebagai kehormatan untuk atasannya sedang booming gosip dari lantai dasar hingga lantai ke-8, tempat Deliana kerja.


Seorang mendampingi pemilik baru kantor ini mempersilakan padanya untuk memasuki kantor tersebut. Tetapi, Laki-laki itu berhenti tepat di depan Deliana. Namun Deliana posisi menunduk memberi hormat padahal ia sedang sibuk memainkan kertas di depan matanya.


Laki-laki yang berdiri di depannya melihat sekitar ruangan kantor tersebut. Dan laki-laki itu pun melirik seorang wanita sedang memainkan kertas di map besar. Berkerut dan mencoba untuk mengintip siapa wanita di depannya.


Namun hal tindakan itu terganggu oleh seseorang membisikkan padanya. Mau tak mau ia pun segera masuk ke kantor barunya. Semua yang berdiri mengikuti laki-laki itu masuk ke kantor tersebut. Beberapa detik kemudian, tak mendengar lagi suara langkah kaki pendatang baru.


Deliana menoleh hanya dapat melihat punggung lebar dan tinggi namun di tutupi oleh beberapa anggota lainnya akan memasuki kantor itu. Deliana menepuk belakang lehernya karena terlalu lama menunduk, ia pun kembali duduk dan segera memulai pekerjaannya.


Suasana kantor PT. Indo Nusaraya Industri sangat sepi. Hanya suara printer, ketikan keyboard komputer, suara fax invoice masuk, dan deringan telepon menggema.


Lalu bagaimana di ruangan kantor sang pemilik baru kantor ini?


"Ini data-data staf karyawan yang bekerja di PT. Indo Nusaraya Industri, Pak." Dani memberikan map kepada laki-laki duduk di meja barunya dengan nama papan terlihat sangat jelas. Agus Antoniusetya Darmawan. SE. Psi.


Agus meraih map dari Dani lalu ia membuka map tersebut. Nama dan foto serta biodata staf karyawan terdaftar lengkap di kertas dan rapi. Apalagi posisi mereka juga tertera di kertas itu. Dengan saksama Agus melihat-lihat ddata-datnya dan menghapal nama-nama tersebut. Dibeberapa lembar terakhir nama begitu jelas di mata Agus. Seulas senyuman ketarik sangat panjang membuat Dani berkerut melihatnya.


Deliana Citrasenia Valenteen, SE. 24 tahun, posisi Piutang penjualan. Dani ikut senyum dan mengerti maksud dari senyuman Agus tadi.


"Bapak suka dengan mbak Deliana?" Dani bertanya pada Agus. Agus kemudian menatap tajam padanya.


Dani tak bermaksud lancang untuk mempertanyakan soal tadi ke Agus. Siapa juga tak suka dengan Deliana. Di kantor PT. Indo Nusaraya Industri staf laki-laki pada suka sama Deliana.


"Memang kamu tau siapa dia?" tanya Agus menginterogasi Dani. Ada rasa cemburu di wajah Agus saat Dani mempertanyakan soal Deliana.


"Tau banget, Pak! Deliana ... seorang wanita yang paling di sukai semua para staf laki-laki di sini," jawabnya senyum.


"Benarkah? Saya minta staf ini pindah menjadi sekretaris saya? Santi pindah di posisinya, bagaimana?" perintah Agus pada Dani. Dani membulat.


"Tapi, Pak?"


"Ini perintah, saya minta ganti sekretaris. Dari foto saya lihat dia lebih cocok menjadi calon pendamping masa depan saya!" sambung Agus sambil menajamkan sangat seram.


Dani membulat dan tak mengerti maksud dari atasan barunya. Dari tatapan membunuh Dani menurut saja. Mungkin akan ia cari info siapa sebenarnya Agus Antoniusetya Darmawan, SE. Psi.

__ADS_1


__ADS_2