Who, My Bos?

Who, My Bos?
Cape & Kesal.


__ADS_3

Akhirnya Deliana bisa santai dan istirahat. Dia daratkan pantat ke kursi sudah Anggi sediain dari tadi. Baru kali ini dia begitu cape sama pekerjaan, membawa dua orang asing ke depan hingga keliling dan putar-putar, belum lagi menjelaskan kepada mereka cara kerja produksi dan sortir.


Apalagi ada yang kurang paham dengan bahasa Deliana terangkan. Salah satu gak begitu paham sama bahasa Indonesia. Untung dia bisa bahasa Inggris sedikit, walau pasif.


"Ini di makan dulu, kayaknya cape banget?" Anggi geser makanan sudah dia pesan dari tadi. Nasi pecel lele. Makanan favorit Deliana, tuh.


"Cape, lah, gak kebayang gimana temani mereka berdua. Amsiong!" ucapnya menyuap nasi ke mulut, pakai tangan, bukan, pakai sendok.


"Sudah kewajiban kamu. Biar makin naik upah gaji mu," cibir Anggi.


"Ya, kalau naik, kalau gak? Kerja mati-matian? Sialan itu pak Agus! Mau dia itu apaan coba? Kalian berdua enak, santai duduk di tempat AC. Aku dari tadi ngelap keringat terus! Panas kali di belakang kantor," ngomel Deliana memberitahu kepada Mawar dan Jessica.


Mawar jadi gak enak hati sama Deliana, dia sangat bangga banget punya teman kerja, sukarelawan tanpa protes.


"Maaf, Del. Jadi repotin kamu terus." Mawar bersuara.


Deliana mengipas-ngipasi tangan. "Gak kok, selagi aku bisa, aku bantu. Yang harus minta maaf itu bos kita, bukan kamu," ucapnya kemudian.


Sementara di luar kantor, Agus sedang sibuk berbincang-bincang sama orang penting. Sekarang dia turun tangan mengurus segala pekerjaan yang dia tinggalin beberapa bulan. Sampai minta tolong sama pamannya ngebantuin.


"Baiklah, sampai di sini dulu pembicaraan kita. Untuk mesin terbaru pada cetakan sarung tangan saya, akan saya kabari lagi pada Mr. Lee," ujar Agus menyudahi perbincangan mereka di restoran termahal.


Tinggal Agus seorang diri di restoran ini. Dia pun mengeluarkan ponselnya dan menelepon, siapa lagi Deliana. Di kafe terdekat, Deliana lagi bercengkerama dengan teman satu divisi-nya. Menceritakan semua tentang dua tamu dibawa sama bos mereka.


"Aku heran sama pak Agus, deh? Awal aku gak tau tahu kalau pak Agus itu pemilik kantor itu. Aku kira yang punya, pak William si tua bangka itu?" cicit Jessica.


"Sama, aku juga," sambung Anggi.


"Namanya juga bos. Apa, sih, gak bebas untuk dia. Mau dia pegang sendiri atau suruhan tetap saja bos itu segalanya benar," sambung kedua, Finna.

__ADS_1


Yang lain menoleh. "Eh? Ke mana saja kamu?" semprot Anggi.


"Ada urusan bentar," jawab Finna.


"Btw, Del. Hubungan kamu sama pak Agus itu apa, sih? Kok dia begitu ngotot pengin kamu bawain dua tamu keliling buat lihat pabriknya?" Sekarang Finna bertanya dan ketiga teman lain juga mau tanya hal itu. Cuma takut Deliana tersinggung.


Deliana seakan orang bodoh kalau dikasih pertanyaan seperti itu. "Hah? Aku gak ada hubungan apa pun sama mantan dosen itu," jawabnya santai.


Finna, Anggi, Mawar, dan Jessica serentak kaget. "Mantan dosen?"


Lagi-lagi mereka dikejutkan berita baru lagi. Selain pura-pura jadi manager di perusahaan PT. Indo Nusaraya. Sekarang mantan dosen. Mereka berempat penasaran.


"Bagaimana ceritanya, sih, pak Agus jadi mantan dosen kamu?" tanya Anggi.


"Ceritanya panjang, intinya dulu dia pernah ngajar mata kuliah management di kampusku, cuma di semester lima sampai semester enam saja, sih," cerita Deliana.


Ponsel Deliana berdering, mereka terganggu sama panggilan telepon dengan nama layar ponsel terbaca Dosen Laknat.


Deliana pun berdiri dan beranjak meninggalkan mereka di sini. Keempat teman itu terdiam perhatiin sikap Deliana tidak biasanya. Biasanya kalau ada panggilan di tempat saja. Sekarang malah main bisik-bisikan.


"Ya, pak," jawab Deliana, gak ada pakai kata "Hallo lagi."


"Lagi ada di mana? Sudah makan?"


"Lagi di kafe dekat kantor, sudah, baru tadi," jawabnya lagi. Sambil main tanaman bunga di depan kafe.


"Oh, bagaimana soal tadi? Cape?"


"Cape, lah, kenapa, sih, bapak kejam sama saya? Kadang kesal juga lihat sikap bapak semena-mena. Mentang-mentang punya pabrik sendiri. Main suruh perintah-perintah. Jangan ngira surat pengunduran diri saya dibatalin, terus kasih upah gaji sama jabatan. Terus bapak seenak jidat manfaatin kinerja saya!"

__ADS_1


Di dalam kafe ke-empat wanita terdiam sambil menyimak apa yang dikeluarkan unek-unek ke penelepon.


"Kayaknya yang telepon pak Agus, deh?" tebak Anggi.


"Mungkin," sambung Finna.


Mereka masih perhatikan omelan Deliana ke Agus.


"Sepertinya Deliana begitu kesal banget sama pak Agus, ya?" lanjut Mega.


Mereka berempat kaget tiba-tiba ada suara asing mana lagi ikut nyambung percakapan mereka.


"Saya, kan, jauh lebih percaya kamu, bukan manfaatin. Ya sudah, saya minta maaf kalau memang buat kamu tertekan batin. Besok-besok saya suruh Mawar dan Jessica saja temani mereka buat jelasin mesin-mesin baru tersebut," kata Agus, jadi gimana dia di sana. Kalau dengar suara kekesalan Deliana.


Deliana menarik napas lalu buang. "Bukan begitu, pak. Setidaknya kalau mau pakai saya itu kasih tahu terlebih dahulu. Gak harus mendadak kayak tadi siang. Belum lagi pekerjaan saya banyak. Oh ya, bon penjualan dari CV Berlian Permata Besi Indah, tanggal lima belas, bulan September bapak bawa ke mana?"


Deliana masih sempat bertanya kepada Agus soal bon penjualan yang mau ditagih tadi. Karena bon satu diambil sama Agus. Agus yang di restoran, ditanya soal bon dia jadi lupa taruh di mana.


"Bon yang mana?" giliran Agus bertanya sama Deliana.


Saking banyak pekerjaan, melayani, menjemput rekan bisnis. Hingga bon yang dia ambil sama Anggi pun lupa. Agus dapat merasakan suara desahkan panjang. Pasti kena omelan panjang lagi sama pujaan hatinya. Gak ada bosan-bosannya Agus bikin jiwa kesabaran Deliana membludak.


"Bon penjualan, item barang besi dan kayu mereka beli dari kantor kita, pak! Please, pak Agus Antoniusetya Darmawan, jangan bikin habis kesabaran saya. Kalau bon itu hilang, penagihan itu kapan lagi di tagih sama mereka. Mumpung bos mereka ada di sana, harga norminal itu gak kecil, loh, pak. Puluhan juta, sudah bisa bagi gaji atau uang lembur untuk staf-staf atau anggota produksi dan anggota sortir!"


Deliana tidak tahu kalau Agus saat ini senyum-senyum mendengar suaranya. Agus suka banget sama suara Deliana. Sampai rasa pusing, cape, semua hilang. Dia bahkan gak sabar lagi buat segera nikahin dia.


Deliana mengomel panjang lebar, terus merasa hening di seberang, dia pun melihat ponselnya. Ternyata ponselnya lowbet.


"Ah, keselin! Pakai lowbet mulu, sudah cape-cape keluarin unek-unek!" ngumpat Deliana kembali masuk ke kafe. Dengan muka merenggut.

__ADS_1


__ADS_2