Who, My Bos?

Who, My Bos?
Yang benar saja?


__ADS_3

Dani keluar dari kantor Agus, kemudian ia mendekati meja Deliana yang sedang sibuk dengan kertas-kertas penagihan dari penjualan barang tersebut.


"Del, ada surat cinta buat kamu," ucap Dani serahkan amplop cokelat persegi panjang pada Deliana.


Telinga Anggi sudah meninggi saat mendengar Dani berbicara kepada Deliana. Dorongan kaki mundur kursi beroda tersebut mendekati Deliana.


Deliana mengerut menatap surat amplop cokelat masih di tangan Dani. Sesekali ia melirik Dani, Dani hanya senyum tipis penuh arti tanda tanya.


"Surat cinta dari siapa, Dan?" Anggi bertanya dan penasaran, ia meraih amplop cokelat itu dari tangan Dani.


Dani tak menjawab dengan lancang Anggi merobek amplop itu. Kemudian menarik keluar isi kertas putih dibaca secara hati-hati. Takut sobek karena kertas yang berisi penuh tanda tanya adalah pertama kali didapat untuk Deliana.


Deliana kembali dengan pekerjaannya, detik-detik kemudian Anggi menarik napas dalam-dalam berasa shock. Anggi ingin berteriak namun ia sadar saat ini masih jam kerja. Ia membungkam mulutnya dengan satu tangan.


Deliana menoleh atas sikap aneh Anggi setelah membaca isi kertas itu. Anggi melirik dengan tatap horor yang membungkam itu. Ia bergetar memberikan kertas kepada Deliana.


Deliana malah bingung dengan Anggi, kalau Dani dari tadi kembali ke tempatnya. Deliana menerima kertas dari Anggi. Anggi tak bisa berkata-kata ia memilih kembali ke mejanya melakukan pekerjaan yang tertunda beberapa menit.


Deliana tanpa ragu turut membaca isi kertas di depannya. Tertera sangat rapi dan juga kata demi kata di sana. Setelah membaca saksama, Deliana memicingkan kedua matanya lebih dekat dan isi'annya sangat membuat Anggi terdiam tadi.


"WHAT?!" pekik Deliana tiba-tiba membuat isi ruangan lantai 8 menggema atas pekikan dari Deliana.


Deliana mengangkat kertas itu tinggi-tinggi dengan tangan gementar, ia pun bangkit dari duduk mencari melangkah kaki ke tempat Dani. Dani yang sedang sibuk dengan beberapa berkas untuk data-data pengawai tersebut tercegah.


"Apa maksudnya ini?!" bentak Deliana meletakkan kertas tepat di depan meja Dani.


Dani hanya bisa menghela napas pendek. Ya, Dani Andrean Surya--Kepala HRD serta mengurus gaji pengawai PT. Indo Nusaraya Industri. Ia menatap wajah Deliana begitu kesal ketika ia berikan surat cinta dari atasan baru kepadanya. Risiko terberat Deliana akan marah, dari wajahnya saja sudah Dani yakin.

__ADS_1


"Kamu dipindahkan menjadi sekretaris Pak Darmawan. Posisi kamu akan di ganti oleh Santi," ungkap Dani menjelaskan pada Deliana.


Deliana mengembus napas kasar, ia lihat sekali lagi kertas yang berisi kata-kata aneh. Tetap saja ia tak terima, kenapa harus dirinya? Itu yang selalu ada di pikirannya.


"Kenapa harus saya? Kenapa harus mendadak? Bapak 'kan sudah janji kalau saya ini tidak bisa suka-suka pindah posisi. Apalagi customer saya ...."


"Bapak tau, Del. Tapi, ini perintah dari beliau. Bapak tidak bisa membela, beliau hanya meminta kamu menjadi sekretarisnya dan Santi akan pindah mengalihkan posisi kamu," potong Dani berbicara.


Deliana meremas kertas perintah sialan itu. Ia ingin sekali memaki atasan barunya. Ia pun menarik napas dalam-dalam, kemudian diembus kasar dan panjang.


"Tapi, saya tidak bisa sekarang. Saya harus mengajari Santi hingga dia tak dikecewakan oleh customer-customer saya," ucap Deliana memohon kepada Dani.


"Nanti saya sampaikan," kata Dani.


"Sekarang saja?! Saya tak bisa menunggu apalagi hari ini banyak penagihan yang harus saya urus!" sentak Deliana memerintah.


Dani menghela kemudian menekan angka satu di telegram. Suara sambungan terdengar, Deliana setia menunggu. Pembicaraan Dani dengan atasan baru itu cukup lama. Dan Deliana dapat larut wajah Dani bisa mengangguk dan menjawab "iya, iya"


"Del, maafkan Bapak! Beliau tak ingin menunggu, dia ingin hari ini kamu menjadi sekretarisnya," terang Dani sangat hati-hati jika Deliana tak terima dengan penyampaian dari atasannya.


"Apa?! Tak bisa! Sudahlah bicara sama bapak pun percuma. Lebih baik berhadapan dengannya!" Deliana keluar dari kantor Dani dengan sikap kesalnya. Kemudian ia pun menuju kantor atasan barunya dengan cara mengomel sendiri 


"Seenak jidatnya mengatur posisi saya jadi sekretarisnya. Jangan mentang-mentang atasan baru sudah atur-atur!" omelnya. Pengawai lain hanya melirik bingung atas sikap Deliana tiba-tiba marah-marah.


Sampai di depan pintu kantor atasan baru. Deliana mengetuk tiga kali, dan mendapat perintah masuk. Kemudian Deliana pun membuka pintu itu dan masuk dengan wajah kesalnya.


"Selamat siang, Pak. Saya datang ke sini untuk protes soal pemindahan posisi saya," sapa Deliana sopan dan sedikit kesal.

__ADS_1


Kursi yang membelakangi Deliana pun terdiam. Karena orang mendiami sedang menancapkan telinga ketika suara merdu dari Deliana membuat laki-laki itu begitu semangat.


"Kenapa?" tanyanya,


"Kenapa Anda bertanya? Jika saya pindah sekarang. Bagaimana dengan penagihan atas customer yang sudah saya janjikan?" jawab Deliana tegas.


"Ada Santi yang menggantikanmu," ucapnya.


"Santi? Saya justru harus mengajari Santi agar tidak salah memberikan penagihan ke Customer," jawab Deliana lagi.


"Tapi, saya ingin kamu menjadi sekretarisku sekarang," ucapnya lagi


"Kenapa harus saya? Santi lebih lihai daripada saya, memang Bapak siapa seenak mengatur posisi saya. Selama ini saya bekerja tak ada yang berani mengatur posisi ku, kenapa bapak ngotot sekali?" ungkap Deliana sudah hilang kesabarannya.


"Karena saya ingin lebih dekat dekat denganmu, Deliana!" balas Agus memutarkan kursinya yang dari tadi membelakangi Deliana.


Deliana membulat dan tentu shock. Orang yang berhadapan dengannya adalah Agus--mantan dosen Deliana. Agus senyum lebar dan selalu mengedip sebelah mata untuk Deliana.


Deliana berasa di dunia neraka, atasan barunya adalah Agus. Ia tak bisa berkutik lagi namun itu hanya sesaat.


"Kenapa bapak di sini lagi?!" sentak Deliana semakin kesal.


"Jelas kerja dong!" jawab Agus santai memainkan kursinya.


"Jangan harap saya terima persetujuan pemindahan posisi dari bapak!" tegas Deliana menggebrak meja Agus.


Agus menegakkan tubuhnya dan membalas tatapan Deliana begitu menggemaskan, Agus pengin melahap nya.

__ADS_1


"Semakin kamu menolak permintaan dari saya. Semakin gila saya mengejarmu," ungkap Agus senyum jail.


Deliana semakin kesal dan ia ingin menghilangkan Agus dari dunianya. Tak akan pernah henti nama yang terus muncul itu kembali lagi.


__ADS_2