
Jam pulang kerja, para staf masing-masing sudah pada bubar. Tinggal Deliana dan beberapa divisi masih di lantai delapan. Deliana sedang masukan barang-barangnya ke laci meja.
"Del, aku duluan, ya," ujar Anggi berpamitan padanya.
"Ah ya! Hati-hati," sahut Deliana sambil melambaikan tangan pada teman-teman lebih dulu turun ke lobi.
Tinggal dirinya seorang di lantai delapan. Merasa semua gak ada ketinggalan lagi di tasnya. Dia pun beranjak meninggalkan lantai delapan itu.
Deliana berdiri di depan lift, menunggu giliran lift selesai pada tugasnya mengantar penumpang turun ke angka tujuan. Suara lift berbunyi, pintu lift tersebut terbuka lebar. Bertepatan pula Deliana mau masuk ketemu sama mantan dosennya.
Tapi mantan dosennya gak sendirian sama beberapa orang. Deliana gak kenal, kalau Deliana lihat orang ikut sama Agus, mereka sebaya. Orang itu menyambut dan beri senyuman pada Deliana. Tentu Deliana menyambut kembali. Lalu terdengar suara teriakan.
"Deliana!" panggil Agus, Deliana pun menoleh padahal niatan dia maju satu langkah ke dalam lift.
"Iya, Pak?" sahut Deliana kemudian.
"Bisakah kamu buatkan minuman untuk teman-teman saya?" pinta Agus.
Jarak sekitar tiga meter, dua mata Deliana menatap lurus di mana Agus sekarang. Agus hanya senyum, terpaksa dia lakukan itu. Hanya Deliana saja ada di kantor ini.
"Tapi, Pak? Saya mau ...." Deliana mencoba menolak. Bukan jam kerjanya, dia pengin sampai di rumah terus tidur.
"Nanti saya antar kamu pulang, tolong, ya?" Agus memohon. Deliana melirik arah teman-teman Agus. Mereka sedang bercengkerama.
Agus mendekat arah Deliana, dia tahu sekarang wanita itu pasti kesal dan dongkol lagi sama dia. Ini juga kebetulan bukan disengaja.
"Bapak, kan, bisa buat sendiri? Saya mau cepat sampai di rumah. Cape, loh, Pak!" protes Deliana walau suaranya kecil. Tapi Agus dengar, sangat baik malahan.
"Iya, saya tahu. Ini juga mendadak. Mereka baru sampai, gak mungkin saya suruh mereka pulang? Mau taruh dikemanakan muka saya nanti. Please sekali ini saja. Habis ini saya antar kamu pulang. Jangan merajuk gitu kenapa, sih? Senyum dong?" Agus berusaha menghibur dan minta maaf. Siapa pula yang mau kayak gini.
"Sekali kata Bapak? Bukan sekali, sudah sekian kalinya!" cibir Deliana.
Sementara di ruangan Agus, empat orang itu memperhatikan dua orang ada di luar sedang berdebat.
"Btw, itu yang elo cerita soal sobat suka sama mantan muridnya dulu?" tanya Henz.
Lalu tiga temannya juga ikut nimbrung mau lihat muka Deliana. "Iya, mungkin kali. Tapi apa, iya?" jawab Doni, dia juga lupa.
"Cantik juga, pintar banget Agus cari calon bini kayak gitu," sambung Simson.
"Kayaknya kita datang terlalu mendadak banget kayaknya. Itu cewek lagi protes sama Agus. Berdebat terus, agak jengkel dari wajahnya," sambung Kelly.
Kelly Rianto Ho, lebih tahu ekspresi dengan cara bicara dan gerak-gerik seseorang. Doni, Simson, dan Henz juga merasa seperti itu.
__ADS_1
"Mungkin, tapi Agus sabar banget hadapi cewek kayak gitu, ya? Terus sama Sandra, kok, gak bertahan, sih?" timpal Doni rasa kekepoannya itu perlu dijahit.
"Elo macam gak tau gimana sifat Sandra? Cemburuan, suka iri sama seseorang! Apalagi mulutnya perlu dijahit pakai benang beras!" hardik Henz terus mendaratkan pulpen ke jidatnya.
Beberapa menit perdebatan antara Agus dan Deliana. Pada ujungnya Deliana memilih mengalah.
"Ya sudah kali ini, besok-besok ulangi lagi. Saya minta uang lembur ditambah!" ketus Deliana, sekalian beri ancaman sama Agus. Agus pun cuma senyum saja sambil acak rambut Deliana.
"Iih! Jangan acak rambut saya! Mau teh apa? Teh pahit, hangat, manis, asem, mau tambah micin?" timpal Deliana memberitahu kepada Agus.
"Teh cinta ada?" gombal Agus. Deliana bukan tersipu malu, malah kasih melototin.
Agus terkekeh, bisa-bisa bawa pulang langsung hadap ke Sarah dan Indra minta perestuan. "Teh apa sajalah, yang penting cinta jangan dilupakan," ucapnya kemudian.
Deliana pun kembali ke mejanya, letakan tas. Lalu pergi ke dapur memang sudah tersedia di lantai delapan. Dia pun mulai bikin teh untuk teman-teman Agus.
Agus kembali ke ruangannya, kemudian bergabung dengan teman-teman kuliahnya dulu.
"Ciye, ciyeee, yang lagi diam-diam kasmaran, nih?" ejek Doni, buat Agus senyum-senyum saja.
Kelly mengintip di kaca hitam, takut wanita itu muncul tiba-tiba. Dinding kaca hitam hanya bisa dilihat di dalam saja, di luar gak bisa lihat. Jadi Deliana gak akan tahu apa yang di bahas oleh mereka di ruangan Agus.
"Btw, itu yang elo cerita ke kami. Wanita yang elo suka? Siapa namanya? Della, Deli, Dei ..."
"Ah itu, susah sekali namanya, cantik juga, ya? Pantasan jodohin elo sama Sandra gak mau? Ternyata ada yang lebih cakep, emang bangsat juga lo, Gus!" cemooh Kelly.
Agus tidak membalas, cuma bisa senyum-senyum saja. "Ssshht! Dia sudah datang, tuh!" Henz langsung minta temannya diam.
Deliana membawa minuman untuk mereka berlima sudah termasuk Agus. Deliana meletakkan minuman di meja tersebut. Keempat pria itu perhatikan Deliana dari tadi.
Deliana sendiri, rasa bagaimana ditonton sama kelima pria cakep. "Ya ampun? Kenapa sih mereka lihatin aku kayak gitu. Memang aku badut?" batin Deliana.
"Silakan diminum, perm ...."
"Del, kamu di sini saja." Agus buka suara meminta dia bergabung dengan mereka.
"Eh?"
"Kamu tenang saja, mereka gak macam-macam, kok, sudah beristri semuanya. Kalau macam-macam satu per satu SP di depan istrinya," ucap Agus lagi.
Eh?
Deliana masih belum paham maksud ucapan dari Agus. Istri dan SP. "Maaf, Pak? Maksudnya, istri sama SP, hubungannya apa?"
__ADS_1
"Agus mau lamar kamu, Del!" sambung Doni.
Ketiga temannya memasang muka sanggar pada Doni. Doni masa bodoh sama muka sanggar mereka.
"Kalian juga sama, Agus panggil kami ke sini untuk kasih tahu ke kamu soal lamaran, Agus mau lamar kamu melalui kami, sebagai saksi bahwa Agus memang tulus. Percuma dong sebulan dia ke Surabaya cuma minta tolong sama kami kasih solusi, soalnya kamu asyik tolak-tolak dia. Sampai dia putus asa, mau akhiri hidupnya, kalau bukan kami tahan!" tawa Doni buat yang lain cuma geleng-geleng.
Deliana semakin gak paham atas ucapan temannya Agus yang gak tau namanya. Dia lirik ke Agus, Agus cuma diam-diam sampai senyum sendiri.
"Benar itu, Pak? Hanya karena saya tolak Bapak? Bapak sampai mau bunuh diri?" ulang Deliana mempertanyakan kepada Agus.
Agus gak jawab, Deliana seperti orang bodoh dipermainkan perasaan. Dia gak tau lagi sampai kapan permainan gila ini berakhir.
"Kalau Bapak putus asa, karena saya terus tolak perasaan Bapak. Kenapa harus nama saya di bawa-bawa, sih, Pak? Ilmu saya sudah tak kembalikan ke Bapak, saya gak ada hutang apa pun sama Bapak! Soal permainan di kafe itu hanya permainan dari Adila. Bukan sungguh-sungguh mau kawin sama Bapak! Saya juga gak tau orang yang saya tembak itu Bapak," emosi Deliana membludak.
Teman-teman Agus melongo lihat sikap ceplas-ceplos Deliana di depan Agus. Agus diam dari tadi.
"Eh? Kamu yang minta kawin sama dia?" ulang Simson bertanya sama Deliana. Hanya itu dia tangkap dari kalimat dilontarkan oleh Deliana tadi.
"Iya," jawab spontan Deliana. Agus pun mengilah langsung jawaban itu. Spontan Deliana mengelak. "Eh, bukan! Maksud saya, Bapak jangan salah paham, maksud saya itu."
"Benar, kamu mau kawin sama saya? Malam saya minta perestuan sama Sarah dan Indra." Agus pun bersemangat. Teman-temannya juga mendukung.
"Bukan begitu, Pak! Maksud saya itu ...."
Deliana seperti ada di mimpi, mimpi yang sangat buruk. Agus dari tadi ketawa lihat mantan muridnya diserbu sama teman-temannya.
"Tawa terus! Tawa sampai puas!" jengkel Deliana.
"Kamu sudah tahu bagaimana sikap teman-teman saya. Mereka bar-bar semua. Makanya kenapa saya bisa punya teman kayak mereka. Karena mereka gak kayak teman cuma butuh doang," cerita Agus pada Deliana.
Deliana pun diam, dia rasa sudah bisa menerima Agus di kehidupannya. Hanya saja dia belum bisa ungkapin rasa kepadanya. Masih ada janggal dibenak soal kekasih lamanya.
"Bapak gak serius, kan, soal lamaran tadi?" Deliana kembali bertanya. Dia takut kalau itu gak sungguh-sungguh.
"Memang kenapa? Kamu gak yakin?" jawab Agus sesekali meliriknya.
"Bukan gak yakin, cuma ...."
"Soal Sandra? Dia gak ganggu kita lagi, kok. Dia sudah nikah sama orang Asia. Sebulan kemarin saya undur diri dari pekerjaan itu, hanya sandiwara saja. Biar saya tau bagaimana perasaan kamu saat kehilangan tanpa adanya saya. Saya cuma mengantar Sandra ke bandara sekalian memang ada beberapa pekerjaan di luar kota, jadi sekalian bareng dia, setelah itu saya kembali lagi ke sini. Sambil memantau dirimu tiap hari pulang kerja larut malam. Pasti tertekan, ya, sama pak William?" ceritanya, sekaligus jujur pada Deliana skenario dia susun itu.
"Jadi, kak Sarah sama bang Indra tahu, kalau Bapak ada di sini?" Agus mengangguk.
Deliana memasang muka jengkel dan kesal. "Marah? Jangan marah, dong?"
__ADS_1