
Hari pernikahan telah ditunggu-tunggu oleh dua pasangan ini ialah, Sarah dan Indra. Dua pasangan ini awal karena sebuah permainan zaman masa anak sekolahan. Lalu tanpa sadar keduanya mempunyai rasa suka pada diri masing-masing. Indra diam-diam punya hati pada Sarah, sebaliknya dengan Sarah juga. Hingga saling mengungkapkan rasa suka itu, akhirnya mereka menjalin sepasang kekasih yang serius hingga ke jenjang pernikahan tersebut.
Sarah sangat bahagia, akad nikah mereka lancar. Kini mereka merayakan pesta sederhana di rumah milik kedua pasangan ini tinggal, dan pastinya Deliana juga ikut tinggal satu rumah dengan mereka berdua. Tanpa perwakilan lagi, hanya ada Deliana yang Sarah miliki walaupun sanak keluarga pada jauh dari mereka.
Namun warisan dari orang tua mereka itu tetap dijaga hingga hayat mereka. Rumah inilah yang akan mereka tinggal satu atap dengan Indra suami Sarah sekarang. Pesta sederhana didatangi beberapa teman-teman sebaya, ada juga teman kuliah Deliana hadir di pesta pernikahan kakak tercintanya itu.
Di luar halaman belakang rumah tanah kosong akan nantinya mereka bangun menjadi taman bersantai. Para teman sang pengantin itu sedang bercengkerama sangat gembira. Sedangkan Deliana tengah duduk di tepi kolam ikan yang sudah lama dibangun oleh sang almarhum orang tuanya.
Lalu tak berapa lama kemudian, teman-temannya pun menghampiri dirinya. Saling membahas mata kuliah mereka tersebut dan menggosip tentang dosen menyebalkan itu.
"Tugas mu sudah selesai?" tanya Mina pada dua temannya, Deliana dan Adila
"Belum! Padahal sedikit lagi, eh dikasih tambahan. Memang otak kita itu robot super?" jawab Adila mendeceh karena kesal.
Deliana hanya jadi pendengar yang baik. "Kalau kamu, Del?" timpal Mina berpaling menanyakan pada Deliana.
"Sudah, kemarin baru aku email ke dia," jawabnya santai.
"Wah! Lega dong!" Keseedihan Mirna, dia belum selesai.
Tak lama kemudian, seseorang menghampiri mereka bertiga. Adila dan Mirna terperangah tidak percaya yang mereka lihat. Agus berdiri di antara mereka bertiga. Sembari membawa minuman di tangannya.
__ADS_1
"Apakah saya boleh ikut bergabung?" sapanya ramah.
Mina dan Adelia tentu dengan cepat bersikap sopan saat mendengar suara cowok menghampiri mereka. "Boleh, kok." Agus senyum pada mereka para murid satu fakultas dia ngajar.
"Lega apanya, belum tentu juga tugas yang aku kumpulin lolos!" tutur Deliana tanpa menoleh masih saja membalas percakapan tadi dari Mitna.
Mina menyenggol siku Deliana untuk berhenti membahas soal permasalahannya. Kemudian Mina mendekatkan telinga membisikkan sesuatu. Barulah Deliana langsung menoleh arah di mana Agus dari tadi memperhatikan dirinya.
"Hai!" sapa Agus ramah mengangkat tangannya agar Deliana mau membalas sapaan itu.
Deliana melirik kedua temannya, Mirna dan Adila hanya mengangkat bahu. Bahkan Deliana heran kenapa dosen ini bisa ada di acara pernikahan kakaknya.
"Kenapa Bapak ada di sini?" Deliana langsung to the point menanyakan padanya.
Deliana terdohok sama jawaban itu, rasanya dia sangat ilfil sama dosen ini. Tetapi Deliana tetap sikap biasa saja.
"Di undang? Memang Bapak kenal sama kakakku?" tanyanya lagi masih penasaran.
"Tentu, kenal sangat baik, mereka saja sampai mau jodohkan saya dengan kamu. Makanya saya datang ke sini mau kenal dekat sama kamu!" jawabnya bangga dan gombal kepadanya.
Mirna dan Adila yang mendengar sangat baik itu terperangah atas pengakuan dari dosen satu ini. Cakep sih menurut mereka berdua.
__ADS_1
Deliana semakin jengkel pada dosen ini, tak beretika. Zaman sekarang pakai acara tembak perasaan di tempat seperti ini. Bagi Deliana tidak akan mempan gombalan dari dosennya. Sudah banyak motif kayak laki-laki seperti Agus.
"Apa? Sekali lagi? Jodoh? Emang Bapak pikir zaman sekarang dongeng Siti Nurbaya pakai acara jodoh-jodoh segala? Kayaknya Bapak di masa lajang suram, makanya asal ungkapin perasaan ke saya. Maaf, ya, Pak! Bukan saya mau menolak! Please, deh, Pak! Posisi kita tidak seimbang, saya ini mahasiswi sedangkan Bapak dosen! Jadi lebih bagus cari usia setara dengan Bapak!" cicit Deliana mendorong bahu Agus untuk menyingkir dari jalannya. Mirna dan Adila semakin terperangah atas sikap Deliana kepada dosen itu.
Agus masih di tempat itu, cuma berdiam sembari menarik seulas senyuman kecil. Ia tahu, mana mungkin selevel ia bisa mendapatkan cewek itu jadi pendamping hidupnya. Tetapi bagi Agus tidak pernah menyerah sebagaimana pun ia akan mendapatkan Deliana.
Mirna dan Adila mengejar Deliana ke dapur. "Gila kamu, Del! Beraninya kamu tolak dosen itu? Dia boleh juga, loh? Kapan sih bisa dekat itu dosen killer, mana nilai kita bisa bagus setelah kamu rayu ..., auw!" Mirna langsung meringis kesakitan sama sendok mendarat di jidatnya.
"Kamu pikir setelah terima itu dosen, bahagia ku itu akan indah? Kenapa nggak kamu saja terima cintanya! Se-killer apa pun itu dosen tetap saja menekan batin, tau!" sangkalnya melanjutkan buat minuman di sana.
Mina merenggut sambil mencibir. "Ya, setidaknya kamu kasih kata-kata lembut gitu ke dia. Masa ngegas langsung. Bisa-bisa dia kasih nilai ke kita nilai D, bagaimana dong? Aku sudah berharap dekat itu dosen bisa dapat nilai B+ juga tidak masalah asal tidak ada pengulangan."
Deliana menarik napas kasar, kemudian berbalik melipat kedua tangan di depan dadanya sembari bersandar di tepi pencuci piring. Menatap kedua temannya itu, Adila dan Mirna.
"Begini, ya, Mirna! Aku tolak dosen itu ada alasannya. Umur kita itu masih muda. Masa depan kita itu masih panjang. Pacaran, baiklah. Aku terima cintanya si dosen itu, tetapi enaknya itu dia bukan aku. Aku pasti akan ditanya macam-macam hal oleh teman satu kelas. Bukan, semua kelas. Memang dia hanya ngajar di kampus itu satu mata kuliah? Tidak, kan?" Deliana menjelaskan kepada Mina.
Mina pun mulai menyimak sambil berpikir, setelah melihat dia manggut-manggut. Apalagi Adila juga sadar. "Ada betulnya itu kata Delia! Enaknya di kita, tidak enaknya di Deliana! Siapa juga yang mau ditanya macam-macam kayak selebritis? Kalau gosip itu tiba-tiba mengancam keburukan fisik? Kasihan Deliana bukan dosen itu. Dosen itu 'kan, ibarat seperti pangeran dikejar-kejar oleh para fansnya butuh kecupan atau pelukan!" ucap Adila mendukung kata-kata Deliana.
"Adil saja paham, masa kamu tidak paham sama sekali?" Mina pun cengiran jadi malu.
"Ya, maaf. Habisnya aku, kan. Pengin tahu saja setelah pacaran dengan dia apakah sikapnya itu terbalik dari sikap killer-nya?" cuap-cuapnya masih belum sadar nih anak.
__ADS_1
Deliana dan Adila memilih untuk kembali ke acara perkumpulan pengantin itu, Mirna pun menyusul. Percuma dikasih tahu, otak lemot seperti Mirna tidak akan bisa diulangi.