
Sampai di rumah, Deliana keluar dari mobil Agus. Agus juga ikut keluar. Terus Deliana terheran sama mantan dosennya.
"Bapak mau ngapain? Bapak pulang sana! Sudah malam juga," usir Deliana.
Agus gak mengindahkannya, dia malah masuk ke rumah itu. Deliana semakin dongkol.
"Sudah saya katakan, saya harus antar kamu sampai tujuan dengan selamat. Tadi pagi saya antar kamu sekarang sama," kata Agus sopan.
Deliana mendengkus, lama-lama dia sudah terbiasa atas kebiasaan Agus padanya. "Aku pul ...."
Sarah langsung buka pintu lebar-lebar dan peluk adiknya seakan Deliana baru pulang dari mana. Dipeluk begitu menggelikan.
"Adik sayang sudah pulang! Ayo masuk, Kakak sudah masak enak. nih, buat kamu dan juga sahabat Kakak, ayo Gus masuk! Gak usah malu-malu, anggap rumah sendiri." Sarah mendorong Deliana masuk dan menarik Agus juga.
Deliana makin heran sama Kakaknya. "Sejak kapan Kakak bisa masak? Apa Kakak beli di restoran, bilang itu makanan masakan Kakak?" tebak Deliana, gak percaya saja. Jelas-jelas dia tau kalau Sarah memang gak bisa masak.
Indra di ruang keluarga langsung ketawa disindir sama Adik iparnya. Sarah langsung memasang mata iblis menusuk. "Diam kamu! Malam gak aku kasih jatah!" ancam Sarah pada suaminya.
Indra langsung terdiam, Agus yang lihat tingkah suami istri ini. Dia membayangkan kalau sama Deliana bagaimana nantinya. Jauh bahagia sekali mungkin.
"Benarkan, Kak? Kakak beli di restoran, 'kan?" Deliana mengulang lagi kata-katanya.
"Enak saja, ini masakan Kakak, ya! Restoran dari mana, mentang-mentang kamu pintar masak, Kakak gak bisa gitu? Bulan depan Kakak gak kerja lagi," protes Sarah, lalu memelankan suaranya.
Deliana yang mencicipi ayam goreng asam manis itu, terenyak. "Kenapa?"
"Tahun depan kamu sudah punya keponakan, Del!" jawab Indra sambil memeluk istrinya dari belakang.
Deliana terpaku tidak yakin yang di jawab oleh Abang iparnya. Dia sebentar lagi punya keponakan.
"Kakak hamil?" tebaknya, Sarah mengangguk senyum bahagia.
Sebaliknya Agus juga ikut bahagia, dia merangkul Deliana tanpa sadar. "Kalau Deliana punya keponakan, berarti tahun depan kalian punya keponakan juga," tambah Agus mencium pipi Deliana masih terbengong-bengong.
"Benarkah? Wah, Mas, rumah kita bakal ramai, dong!" seru Sarah, Indra mengangguk sambil tawa.
"Sebentar, maksudnya apaan lagi? Tahun depan aku punya keponakan, terus tahun depan bersamaan Kak Sarah juga punya keponakan, berarti punya keponakan itu, dari anakku?" batin Deliana sambil mempertanyakan diri sendiri dan menjawab sendiri.
"Maksud Pak Agus, apa?" sanggah Deliana buat Agus, Indra, dan Sarah bungkam.
"Eh, maaf. Maksud saya, keponakan untuk Kak Sarah? Berarti dari anakku?" Deliana mengecilkan suaranya. Dia gak bermaksud untuk membuat keributan.
__ADS_1
Agus memegang kedua tangan Deliana, Sarah dan Indra menyaksikan momen indah itu di depan mereka.
"Deliana."
Deliana bergeming, dia gak tau gimana mengelak. Setiap mantan dosennya berbicara di depannya. Ada saja debaran jantung itu semakin cepat. Belum lagi aroma parfum terus melekat pada dirinya.
"Deliana Citrasenia Valenteen, saya di sini bukan untuk diriku sendiri. Saya di sini karena ketakutanku pada Tuhan. Seraya menjalankan titah Tuhan. Izinkan saya dengan segala perasaan yang dititipkan Tuhan ini membuat pengakuan. Sudah sejak lama diri ini menyimpan rasa suka. Bukan saya tidak ingin memilikimu. Saya hanya ingin menjagamu hingga halal bagiku menyentuhmu. Dan malam ini, saya ingin mengatakan dengan segenap kerinduanku. Dengan nama Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Jadilah pendamping hidupku."
Ucapan Agus buat debaran Deliana semakin panas dan gak bisa normalkan lagi. "Oh My Tuhan! Ini mimpi apa bagaimana, sih? Dia benar-benar lamar aku di depan Kak Sarah dan Bang Indra!" kegirangan Deliana gak bisa dipungkiri lagi.
"Terima, Del!" seru Sarah membisikan pada Deliana.
"Tapi, Kak?"
"Gak ada tapi-tapian. Kakak sudah restu, kok, kalian berdua bahagia. Kakak gak mau lagi lihat kamu murung kayak bulan-bulan kemarin hanya Agus pergi sebentar sudah mewek bombay," ucap Sarah tulus.
"Bagaimana Deliana? Apakah kamu mau jadi pendamping hidupku?" Agus bertanya sekali lagi.
Deliana bingung buat jawab, dia takut kalau setuju, nanti Agus berulah onar di kantor. Bisa berabe nanti.
"Saya pertimbangkan dulu, ya," jawab Deliana. Agak kecewa, sih, buat Agus. Tapi Agus tetap sabar menunggu.
"Deliana Citrasenia Valenteen, saya di sini bukan untuk diriku sendiri. Saya di sini karena ketakutanku pada Tuhan. Seraya menjalankan titah Tuhan. Izinkan saya dengan segala perasaan yang dititipkan Tuhan ini membuat pengakuan. Sudah sejak lama diri ini menyimpan rasa suka. Bukan saya tidak ingin memilikimu. Saya hanya ingin menjagamu hingga halal bagiku menyentuhmu. Dan malam ini, saya ingin mengatakan dengan segenap kerinduanku. Dengan nama Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Jadilah pendamping hidupku.”
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana ini? Dia benar-benar tulus. Aku? Arrgh! Deliana! Susah banget, sih, terima lamaran dia. Dia mantan dosen. Aku? Mantan muridnya. Masa mantan sama mantan nikah, sih. Kayak sinetron saja deh?" gerutu Deliana sambil main lempar-lempar bantal sendiri.
"Tapi ...." Deliana berbalik menyamping sambil memandang luar jendela.
Ada bintang-bintang ditutupi oleh langit gelap. Deliana mengingat masa kuliah waktu prospek dulu.
...***...
Masa kuliah prospek tahun 2007
Deliana dan teman-teman satu tingkatan dengannya, yaitu Adila, Mirna, Selly. Selly beda jurusan, dia ambil jurusan bahasa Inggris, sedangkan Mirna dan Adila sama-sama ambil jurusan kayak Deliana. Managemen pemasaran.
Prospek hari ke-dua, adalah diminta sama panitia itu minta tanda tangan sama dosen ada di kampus, sama senior-senior kakak ketua panitia.
Katanya untuk perkenalan diri pada para dosen-dosen tersebut biar pas masuk ajaran kelas baru di mata kuliah gak ada yang kaget lagi.
Maka dari itu, Deliana kalang kabut minta tanda tangan sama dosen. Walau masih malu-malu kucing.
__ADS_1
"Del!" teriak Adila panggil Deliana. Deliana kebingungan cari di mana lagi dosen itu. Setelah diteriaki sama Adila, dia pun berlari menghampiri Adila. Tapi Deliana sempat melirik arah seseorang berdiri di lapangan aula. Cakep, walau masih pakai kacamata.
Sempat terpesona, sih, sama itu pria, cuma Deliana lewat gitu saja, soalnya pria itu juga meliriknya.
"Kamu sudah dapat semua tanda tangan dosennya?" tanya Adila pada Deliana. Deliana menggeleng lemas.
"Belum tinggal dua - tiga orang, kamu?" jawab Deliana cape. Belum lagi panas begini.
"Aku tinggal satu orang, kata teman dosen-nya gak absen, lagi ada urusan," ucap Adila.
"Ya, enak banget? Aku ini susah banget cari namanya. Nama Agus Antoniusetya Darmawan yang mana lagi? Ditanya sama teman-teman gak ada yang kenal. Katanya, sih, dosen baru," ngomel Deliana sambil kipas-kipas pakai buku tulis isinya tanda tangan dosen.
"Sabar, lah, kita cari di sana saja dulu, mana tau dia ada disekitar gerombolan itu?" tunjuk Adila.
Deliana pun mengangguk, dia dan temannya pun ke tempat kumpulan anak-anak berebutan tanda tangan sama dosen. Sebelum itu, Deliana sempat menoleh arah lain. Dilihat seorang pria berdiri menatapnya.
...***...
Jelang masuk kelas hari pertama dari semester satu sampai empat, enjoy. Gak ada tugas yang berat semua dapat nilai ujian bagus. Memasuki jelang semester lima hingga akhir. Kelas Deliana dapat satu dosen menjengkelkan. Sering gak absen, kadang absen itu pun di kasih tugas gak tanggung-tanggung.
Disinilah kekesalan Deliana terhadap dosen itu bernama Agus Antoniusetya Darmawan. Bahkan Deliana gak tau kesalahan apa pada dosen itu sampai berikan tugas gak ada habis-habisnya. Hingga Deliana masuk ke kantor dosen cuma protes soal kumpul hasil tugas kelompok sama anak-anak lain.
Deliana memang tipe cewek tanggung, kalau dia memang ada salah dia akui, kalau gak ada apa yang mau diakui. Terjadi gosip gak mengenakan untuk Deliana saat itu.
Gosip kalau dia pacaran sama seorang dosen bernama Agus antoniusetya Darmawan, dosen managemen. Terus selain itu juga, digosipkan Deliana tukang tikung pacar orang. Sampai-sampai dia beradu mulut salah satu dosen wanita bernama Cassandra, dosen Inggris.
Deliana memang gak tau menahu soal apa yang terjadi soal antara Dosen Agus sama Dosen Cassandra itu. Memang cantikan Cassandra, tapi harga dan reputasi Deliana itu tercoreng sangat buruk di kampus. Sampai anak-anak di kampus tau gosip beredar. Walau begitu Deliana meng-kualifikasi bahwa itu gak benar. Dia cuma diminta sama dosen Agus untuk temani tugas anak lain yang belum selesai diberikan dari dosen.
Terus Deliana jadi sukarelawan membantu teman-teman hingga kembali kasus mengenai soal pelecehan seksual, Deliana yang awal gak sadar apa terjadi muncul sebuah foto kalau dirinya sedang tidur berdua sama dosen itu. Sontak Deliana merasa terhina, sempat dia di DO sama kampus. Hanya saja, dia tidak jadi di DO malah yang keluar di DO itu Dosen Agus Antoniusetya Darmawan.
Deliana shock dan gak bisa percaya saja, sih. Segitu dosen itu lakuin demi dia. Dan memperbaiki nama baiknya di kampus. Setelah lulus kuliah, Deliana pun langsung cari pekerjaan. Dapat, lah, pekerjaan sesuai dengan diinginkan.
Sempat tertekan batin di sana. Tapi dapat teman-teman yang baik banget sampai dia bertahan hingga sekarang. Di bulan itu pula, Deliana merasa bete seharian kerja di kantor. Ketemuan sama Adila dan Mirna di kafe. Sama-sama punya rasa bete di kantor. Jadinya Adila buat permainan konyol banget. Anggap nostalgia gitu. Tepat kesialan Deliana memilih DARE. Di situ pula Deliana menyatakan kepada seorang pria duduk sedang membaca koran.
Lima tahun gak bertemu, di situlah, Deliana dipertemukan lagi sama Agus Antoniusetya Darmawan. Yang sering disebut oleh Deliana adalah mantan dosennya.
Agus yang mengundurkan diri dari kampus dia ngajar. Demi seorang wanita, seorang muridnya yang dia cintai dan sayangi. Demi kesalahannya sampai nama baik Deliana tercoreng dia pun memutuskan untuk keluar dari pekerjaan sampingan itu dan memperbaiki nama baik Deliana di kampus.
Setelah lama pisah dan gak ada kabar tentang mantan muridnya. Ternyata takdir itu kembali dipertemukan, Agus kembali bertemu lagi dengannya di kafe dan seorang wanita datang menghampiri dirinya. Menyatakan apakah mau kawin dengannya. Agus pun mengenal langsung suara itu. Dengan cepat dia menjawab iya.
Ponsel Deliana berbunyi terus, tapi Deliana sudah tidur di sana tanpa alas selimut. Dengan senyuman manis sembari mengenang masa indah berjumpa dengan mantan dosen di masa akhir kuliahnya.
__ADS_1