
Jam alarm Deliana berbunyi sangat keras, Dia masih dibawah selimut sambil mengeluarkan tangannya mencari ponsel yang dari tadi bunyi gak cape-cape. Dimatikan dan kembali tidur lagi. Beberapa detik kemudian jam alarm miliknya kembali berbunyi.
Dia pun mendecak kesal segera dia matikan dan melihat jam ponsel dengan angka sangat cantik sekali. Pukul delapan pagi, lewat delapan detik. Dengan mata terbelalak langsung dia keluar dari selimut tebalnya itu.
"Ya ampun, aku terlambat, matilah!"
Deliana menyibak selimut sembarang, terus dia segera turun dari tempat tidur. Buka lemari, diambil baju kerja, handuk, melesat ke kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian dia keluar. Terus menyisir rambutnya. Gak sempat lagi dia make up wajahnya. Terus dia masukan laptop, alat wajah jika dia butuh, dompet, botol minuman.
Dia keluar tidak lupa mengunci pintu kamarnya. Terus melangkah terburu-buru dilihat lagi jam dinding di bawah tangga. Pukul 08.16 pagi. Tinggal dua puluh empat menit lagi.
"Kak, aku belum sempat bikin sarapan? Aku sudah terlambat, nih!" ngomel Deliana mengisi botol minuman.
Tidak ada suara dari sambutannya. Deliana melirik sekitar Sarah dan Indra tidak ada di rumah. Kosong. Dia pun mengabaikan segera dia keluar.
"Jadi sudah pasti kamu di sini terus? Terus rencana selanjutnya?" Sarah dan Indra bercengkerama dengan seseorang di depan teras.
Deliana mengintip, ketiga orang itu pun menoleh. Deliana terpana sama sosok berdiri di antara dua pasangan itu.
"Good morning, Cinta? Terlambat bangun, ya?" sapa Agus tidak pernah melupakan senyuman untuk Deliana.
"Pagi, Sayang! Ya sudah, kami berangkat dulu, ya, lain kali kita ngobrol lagi, Gus. Bye!" Sarah dan Indra duluan berangkat kerja.
Sepeninggal Sarah dan Indra, tinggal Deliana dan Agus di depan teras. Deliana jadi gimana, dia sepertinya berantakan banget sama penampilan. Apalagi rambut di sisir seadanya. Apalagi yang ke rumah mantan dosen pula.
"Eh ... Bapak sudah lama menunggunya ya?" Deliana jadi salah tingkah, mau bahas gimana rasanya aneh banget.
Biasa dia suka ceplas-ceplos, asal labrak dan ngegas gitu. Agus menoleh dan dia hanya senyum doang.
"Gak, kok, wajar kalau wanita suka lama, salah saya juga, semalam terlalu malam antar kamu pulang," ucapnya, dia bunyikan remote mobilnya.
"Aku pikir dia bakal bete atau marah, gitu. Kok malah dia santai banget?" batin Deliana merasa aneh saja sama sikap mantan dosennya. Apalagi susah banget bikin pria itu marah atau jengkel.
"Ayo! Kenapa? Ada yang ketinggalan?" Agus bertanya sudah di depan mobil.
"Eh ..., gak sih. Aku naik gojek saja, deh, Pak. Biar cepat. Soalnya sudah terlambat, belum lagi urus si atasan ...."
Agus menghampiri Deliana, meraih tangannya untuk masuk ke mobilnya. Deliana melongo, dia melirik tangannya.
"Eh?"
"Sudah gak perlu dikhawatirkan, gak ada yang bisa marahin kamu, wajar kalau terlambat bangun itu sudah biasa," ucap Agus menutup pintu, kemudian dia masuk ke mobil dihidupkan mesinnya.
"Ya, tapi, kan?"
"Sebelum ke kantor, cari sarapan dulu, ya. Kamu pasti belum sempat sarapan, bukan?" Agus mengabaikan omongan Deliana. Dia malah alihkan ke topik lain.
Deliana tetap bersikeras menolak. "Gak perlu, Pak. Langsung saja, soalnya gak enak sama ...."
"Sarapan dulu, kalau kamu pingsan siapa yang repotin? Teman satu kantor? Percaya saja mereka gak akan macam-macam, kok," sambung Agus membelok ke kiri.
Padahal Deliana sudah waswas sama atasannya. Sesekali dia mengirim pesan pada Santi.
Deliana : San, Pak William sudah datang?
Beberapa menit kemudian, pesan masuk.
Santi : Belum, kenapa?
Kamu terlambat masuk lagi?
Semalam lembur sampai jam berapa?
Deliana : Iya.
Sampai jam 10 malam
Terlambat bangun. Tau, tidur jam 1 pagi.
Cape nih.
Btw, surat aku uda sampai di tangan Pak William?
Santi : Sudah, kamu yakin.
Keluar dari kantor ini?
Deliana : Mungkin, uda gak betah, San.
__ADS_1
Sebenarnya sayang, sih, kalau dia keluar. Karena pak William suka tekan dia. Jadi dia milik undur diri. Mungkin cari pekerjaan baru.
"Yuk turun, sudah sampai." Agus buka sletbetnya, kemudian keluar. Deliana juga, tapi pintu di buka sama Agus.
Lama-lama Deliana kayak nyonya besar saja. Selalu digituin sama mantan dosennya. Rumah makan seafood. Pagi begini sudah ada yang buka.
"Kamu mau makan apa?" Agus bertanya pada Deliana.
Deliana sempat lihat-lihat menu makanan di sana. Banyak lauk. Tapi di depan papan tertulis Rumah makan Seafood.
"Kok, gak ada makanan seafood?" cicit Deliana buat penjualnya merespon.
"Nanti siang, baru ada seafood. Menu pagi ini, ada kwitiau goreng, nasi sayur, lontong sayur, nasi lemak, nasi ayam, mi ayam, mi pangsit, sama camilan goreng-gorengan," jawabnya.
Deliana manggut-manggut, multi marketing banget, nih. Semua hafal. Agus masih berdiri di samping Deliana.
"Saya seperti biasa saja, Ko!" kata Agus, penjualnya orang chienes-tionghua.
Dia pun mengangguk. "Oke, Bos!"
Deliana bingung, beginilah dia kalau soal sarapan pagi cuma nasi goreng kalau di rumah.
"Aku ..., sama kayak punya dia. Bapak pesan apa memangnya?" Deliana bertanya pada Agus.
"Nasi sayur," jawabnya cepat.
"Ya itu saja, tapi jangan pakai sambal, ya," ucap Deliana pada penjual.
"Mau tambah perkedel atau ayam, ikan?"
Deliana balik mikir lagi. "Boleh tiga-tiganya," ujarnya kemudian. Terus mereka pun cari tempat duduk sambil menunggu pesanan mereka di antar.
"Mau minum apa?" Seorang wanita bertanya pada Agus dan Deliana.
"Teh manis hangat saja, jangan terlalu manis, ya," jawab Deliana.
"Saya teh pahit hangat," jawab Agus.
Wanita itu pun pergi untuk buat minuman mereka. Deliana sibuk sama ponsel, terus Agus juga sibuk sama ponselnya. Setelah itu pesanan mereka datang. Deliana masih belum selesai sama ponselnya. Agus pun merebut ponsel Deliana hingga Deliana terenyak kesal.
"Sarapan dulu, baru main ponsel," pinta Agus.
"Jangan dibaca, Pak!" Deliana malu kalau mantan dosennya baca isi chat dengan Santi.
"Ih di bilang jangan baca, masih juga dibaca. Kebiasaan banget, sih, Bapak ini!" Akhirnya Deliana berhasil merebut ponsel dari tangan Agus.
Mereka baru selesai sarapan, Deliana memeriksa ponselnya takut Agus sembarang balas chatnya Santi. Bisa berabe tar. Kalau sampai ketahuan, dia lagi sama mantan atasannya.
Agus suka saja bikin Deliana gondok, kalau gak digituin, lihat muka cemberut Deliana gak bisa dihapus dari ingatannya.
"Kamu benar-benar mau mengundurkan diri dari pekerjaanmu? Apa gak sayang? Memang alasan kamu mau mengundurkan diri itu, apa?"
Sekarang Agus bertanya pada Deliana. Dia juga ingin tahu alasan atas pengunduran dirinya di perusahaan miliknya. Walaupun begitu, Agus memang sudah tahu karena disampaikan kepada pamannya sendiri. Tetapi dia juga mau tahu alasan dari mulut pujaan hatinya.
"Alasannya banyak deh," jawab Deliana acuh.
"Ya, alasannya apa? Apa karena suasana pekerjaan tanpa saya di sana. Atau alasan karena gak ada yang gombalin kamu di sana. Kan, banyak alasan jadi kamu gak ada semangat tanpa ada yang ganggu kamu lagi gitu?" Deliana memasang mata tajam gak suka kalau mantan dosennya mulai ngomong suka-suka.
"Bukan itu! Mana ada alasan saya gak ada Bapak, sampai saya mengundurkan diri?" balas Deliana membenarkan kalimat-kalimat pada Agus.
"Lalu apa, dong? Saya dengarin dengan baik, mana tau saya punya solusi agar kamu gak jadi mengunduran diri? Gak sayang sama gaji kamu?" Agus melipat kedua tangannya siap mendengar segala keluhan dari pujaannya.
Agus memang sering dengar keluhan dari Sarah dan Indra tentang Deliana soal pekerjaan sampai mengungkit kuliahnya juga. Tapi tetap saja Agus tidak pernah bosan-bosan setiap dapat pembahasan soal mantan muridnya itu.
"Punya solusi, apa?" Giliran Deliana tanya sama Agus.
"Nikahin kamu," jawab cepat oleh Agus.
Deliana mendelik, "Ogah!" tolaknya kemudian.
"Kenapa? Nanti galau lagi? Saya pergi sebentar saja sudah nangis-nangis bombay sampai peluk Sarah begitu."
Deliana terenyak sama kata-kata Agus. Dia melongo tidak percaya tahu dari mana kalau dia nangis bombay di bandara.
"Kamu pikir saya tidak tahu, malahan terdengar jelas ditelinga saya, loh. Kalau kamu nangis sampai segitunya," ejek Agus sampai buat kedua telinga Deliana memerah bukan karena dia malu, tapi makin kesalin.
"Ejek terus! Kalau bisa keluarin semua dendam Bapak di depan umum!" Suara Deliana mengeras, untung yang di rumah makan cuma sedikit jadi tidak terlalu dipedulikan sama suara marah darinya.
"Loh, mau ke mana?" Agus menatap Deliana beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Mau kerja, lah, Pak!" jawabnya ketus langsung ke luar dari rumah makan.
Agus pun keluarin dompet terus bayar sarapan mereka. Terus mengejar Deliana. Sebelum Deliana naik angkot.
"Maaf, masih pagi sudah merajuk gitu, hilang nanti cantiknya. Saya antar kamu ke kantor," ucap Agus, jarang Agus minta maaf sama Deliana.
Deliana jadi gak enak hati, masa mantan dosen sekaligus mantan atasannya minta maaf sama dia. Seakan tanah dia injak hampir longsor.
"Kok jadi Bapak yang minta maaf, sih? Memang salah Bapak apa, sih? Terus, Bapak kenapa asyik ngotot mau nikah sama saya? Memang mbak Sandra ke mana?" Deliana, kok, merasa dia pernah mengucapkan kata-kata ini.
Dia sekali lagi melirik Agus, dia takut Agus tersinggung atas ucapannya. Dia takut akan terjadi hal seperti bulan-bulan kemarin. Terus Agus main pergi gitu saja tanpa bilang sepatah kata pun.
"Eh, maksud saya, soal mbak Sandra itu ...."
"Dia sudah menikah," jawab Agus pelan.
Tuh, kan. Deliana jadi gak enak banget, kadang mulut laknatnya itu suka gak bisa dirahasiakan. Suasana di mobil kayak kuburan, hening.
"Jadi waktu bulan kemarin Bapak hadiri pernikahan dia?" Deliana bertanya, takut salah beri pertanyaan.
"Gak?"
"Jadi?"
Deliana menatap Agus, baru kali ini Deliana sangat lama menatap wajahnya. Dari samping tampan dan gentleman, tapi kalau dari depan. Agus langsung balik menatap Deliana. Sontak Deliana mengalihkan ke tempat lain.
"Ada apa? Suka sama wajah saya? Saya tahu, kok, saya ini mempesona banget di mata kamu," ucapnya kembali menggombal.
"Gak juga!" balas Deliana, dia mengalihkan tempat lain arah jendela. Aslinya dia benar-benar memuji, memang tampan. Jauh lebih tampan dari Lee Min Ho.
Agus mengacak rambut Deliana, Deliana malah menampik tangan Agus. "Sudah, ah, rambut jadi kusut, Pak!" jengkel Deliana.
Deliana geram sampai meraih tangan Agus dan menggigit hingga Agus berteriak kesakitan.
"Aarrgh!"
Deliana puas menggigitnya terus menyingkirkan tangan Agus darinya. "Mampus! Siapa suruh acak rambut saya!" geram Deliana, Agus mengipas-ngipasi tangannya, dilihat bekas gigitan di kulitnya.
"Kamu ternyata diam-diam ganas juga, sini saya balas gigit kamu!" Agus meraih tangan Deliana.
Di mobil yang belum jalan itu bergoyang, Deliana bersikeras tidak mau jadi korban. Hingga Agus beranjak dari duduknya.
"Auw!" Deliana terbentur kaca jendela. Sakit banget karena coba menghindar.
Agus jadi makin bersalah karena terlalu kasar. "Sori, sori!" Agus langsung mengusap-usap belakang kepalanya.
Deliana terdiam sebentar sambil menarik napas dalam-dalam. Kini posisinya terlalu dekat. Terasa embusan napas Agus mengenai ubun-ubun kepalanya. Agus yang dari tadi sibuk sama kepala Deliana. Dia pun menunduk, dua mata mereka bertemu.
Sekarang momen apalagi untuk Deliana. Agus tidak bisa berkutik dia malah lebih mendekat wajah ke wajah Deliana. Deliana semakin tercekat dan menahan. Debaran jantungnya semakin gila. Embusan napas sangat terasa ke hidungnya
lalu ....
Seseorang mengetuk jendela Agus. Agus langsung menjauh momen itu. Deliana segera meluruskan duduknya. Agus menurunkan kaca jendela.
"Ya, ada apa, Bang?" tanya Agus santai tapi sanggar mukanya.
Deliana malah diam, sibuk sama ponselnya. Abang tukang parkir cuma mencuri arah Deliana. Agus gak suka saja.
"Oh ini, uang parkir, Terima kasih, ya!" Agus berikan ongkos parkir ke abangnya. Kemudian mobil Agus mundur dan pergi dari tempat rumah makan seafood tersebut.
Di mobil kembali hening, Deliana masih menormalkan jantungnya. Deliana tidak bisa menjernihkan pikirannya.
"Sedikit lagi, hampir saja. Sial, kenapa, sih, aku ini. Aduh, rileks, Del, rileks!" batin Deliana, dia jadi tidak berani menoleh arah Agus.
"Nanti sore saya jemput kamu lagi, ya!" ucap Agus membuyarkan lamunan Deliana.
"Ah? Oh, Terima kasih, ya, Pak!" Deliana pun turun dari mobilnya. Agus meninggalkan mobil dari parkiran lobi kantor kerjanya.
Deliana pun menarik napas dalam-dalam dan membuangnya. Dia pun masuk ke dalam kantor itu. Semua orang memperhatikan dirinya. Sudah pukul 11.36 jelang siang.
Sampai di lantai delapan, Deliana masuk sambil ngintip. Semua teman-teman divisi kerja seperti biasa. Masih sama, suara printer, keyboard komputer, mesin fax, mesin photo copy, bunyi telepon.
Dia pun masuk terus Dani juga baru keluar dari divisi keuangan. "Loh, Del? Baru datang?" sapa Dani buat Deliana kaget. Padahal dia diam-diam masuk biar gak ada yang tau. Kadang suara Dani suka bikin orang jantungan.
"Ah iya, terlambat bangun," jawabnya dusta. Gak mungkin dia jawab sedang keluar sama mantan atasannya bisa berabe tar sama anak-anak lain.
"Oh ya, ini uang lembur beberapa bulan kemarin sama semalam, tadi baru saja di setujui sama Jessica, terus ini juga surat pengunduran diri kamu. Bos gak setuju kamu undur diri, ini juga, surat perjanjian untuk kamu. Di baca, ya." Dani pun menyerahkan surat dan kwintasi serta invoice dijanjikan oleh Deliana kemarin-kemarin.
Deliana mematung cuma menatap kertas di tangannya. Lalu, dia ke meja kerjanya, terus membuka surat perjanjian. Surat perjanjian tetap di posisinya, tapi diangkat jadi supervisor, selain itu dia juga mendapat upah gaji sesuai jabatan, lalu untuk lembur hanya ditetapkan kalau memang pekerjaan sedang genting sekali. Terakhir di tanda tangani oleh Agus Antoniusetya Darmawan SE. Psi, selaku direktur utama di PT. Indo Nusaraya Industri bidang sarung tangan karet ekspor-impor.
__ADS_1
Deliana yang baca pun melebarkan matanya dan sekali lagi baca ulang nama dan tanda tangan serta materai. Dibawah nama DIREKTUR UTAMA.