
Sepeninggal Nanda untuk ke kamar kecil, Kevin menarik kursi kosong yang ada di dekat Adila. Dengan sontak Adila menoleh.
"Siapa pria yang tadi mencium mu?" Sebuah pertanyaan pertama dari Kevin untuk Adila.
"Kenapa?" Adila malah balik bertanya pada Kevin.
"Jawab saja pertanyaan saya. Tidak perlu kamu bertanya balik kepadaku?" balas Kevin kemudian, seakan dia tidak sabar mendengar langsung pertanyaan dari Adila.
"Ya, saya, kan, juga harus tau. Untuk apa Bapak tanya, memang Bapak ada hak penting apa ingin tau siapa pria yang tadi mencium saya? Emang Bapak itu orang tua saya? Bukan juga, kan? Jadi gak perlu tau siapa dia?" tuding Adila merasa sangat gondok pada Kevin.
Setelah Kevin mendengar jawaban tidak menyenangkan, dia merasa pertanyaan itu memang tidak penting banget untuk wanita di sampingnya.
"Kalau kamu tidak menjawab, berarti hubungan kamu dengan pria tadi cuma akting doang? Supaya saya cemburu, kan?" tebak Kevin. Seakan yang dibuat oleh Adila tadi memang tepat sasaran.
Adila terpaku, tebakan Kevin sangat tepat banget. Bahkan dia juga tidak bisa berbohong. Hanya saja, dia juga malas untuk jawab dari pertanyaan bos satu ini.
"Benar, kan? Kamu sama pria tadi, hanya pura-pura supaya saya cemburu? Kalau saya buat dia lebih cemburu lagi, bagaimana?" Tantang Kevin pada Adila.
"Maksud Bapak?" Adila makin tidak paham pemikiran Kevin sekarang ini.
Iya sih, Adila memang sengaja buat bos ini cemburu, bukan cemburu, tapi buat Kevin untuk menjauh- bahwa dirinya memang tidak suka padanya. Tetapi dibalik rencana Adila itu malah menimpa kebalikan.
Nanda sudah kembali dari kamar kecil, ketika dia akan menyapa Adila dan Kevin. Entah sengaja atau tidak sengaja, Kevin mencium Adila tanpa melihat tempat. Nanda sendiri melihat jelas di depan matanya.
Adila yang belum siap buat menghindar, dirinya terpaku mematung. Bahkan dia membulat kedua matanya lebar-lebar. Apalagi ciuman yang belum dia berikan kepada siapa pun, direbut oleh Kevin.
Adila merasa ada seseorang memperhatikan dirinya juga Kevin. Bukan itu saja, ada beberapa sepasang pun melihat mereka berdua. Dengan cepat Adila mendorong Kevin secara kasar dan sebuah tamparan pun mendarat di pipinya.
Adila langsung bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja tanpa peduli Nanda melihat dirinya tadi. Adila begitu merasa bagaimana, dirinya kehilangan akal sehat. Dia mencoba untuk menghindar dari pria itu. Tetapi Kevin malah membuat sesuka tanpa izin darinya. Kevin mendapat tamparan itu hanya senyum tipis. Sedangkan Nanda tidak berkutik sama sekali setelah apa dia lihat tadi.
...***...
__ADS_1
Esok harinya, Adila masuk dengan muka kusut. Bahkan jauh lebih kusut tak terurus lagi. Bagaimana lagi, ciuman pertamanya. Tiba-tiba direbut oleh pria tidak tau diri itu. Apalagi Adila benci sekali. Padahal dia akan berikan ciuman itu kepada pria yang dia sukai.
Suara ketukan kaca transparan, di sana Lilis memberi isyarat pada Adila untuk menghadap ke ruangan bos. Adila sebenarnya malas ke ruangan Kevin.
Di bawahlah berkas penjualan dan daftar keuangan untuk tanda tangani olehnya. Dia pun masuk dengan wajah bete sekali. Di sana ada Kevin juga Sandy sedang duduk. Mungkin sedang berdiskusi serius.
Adila melirik Sandy, suasana hati Adila yang tidak baik. Sekarang sudah membaik setelah mendapat senyuman indah dari pria dia sukainya.
Kevin perhatikan wanita itu sekali lagi, dia tidak suka, jika Adila senyum pada Sandy. Tujuan dia minta Adila ke sini untuk minta maaf, tapi malah hatinya semakin menyusut.
"Selamat pagi, Adila," sapa Sandy ramah kepadanya.
"Pagi juga, Pak Sandy," sambut Adila tak kalah ramah.
Sandy selalu beri suasana sejuk, Sandy bangun dari duduknya, kemudian menghampiri Adila yang berdiri tak jauh dari pintu keluar.
"Adila, setelah selesai di sini, ke kantor saya dulu, ya. Ada yang ingin saya bicarakan sesuatu padamu," ucap Sandy tanpa muluk-muluk menyembunyikan suara pada Adila.
Kevin yang dengar pun siap menginterogasi Adila dan Sandy. "Ehm!" Kevin malah menyuarakan tidak suka.
Sepeninggal Sandy di ruangan Kevin. Kini tinggal mereka berdua. Kembali ke suasana buram. Adila malas melihat wajah Kevin. Apalagi bibir yang sudah merebut ciuman pertamanya.
"Ada perlu apa Bapak memanggil saya?" Adila memulai membuka percakapan. Tapi percakapan kali ini jauh lebih ketus dan dingin.
"Kenapa ekspresi wajah mu seperti itu? Apa saya kurang tepat memanggil kamu di sini?" Kevin balik bertanya, bukan menjawab dulu pertanyaan Adila.
"Ekspresi mana? Ini memang ekspresi saya, kok. Bapak saja kurang teliti," jawab Adila masih sama nadanya jauh tak kalah ketus.
"Masa?"
"Terserah! Langsung ke topik. Bapak memanggil saya, ada perlu apa?" Kembali Adila mengulang pertanyaan tadi belum di jawab oleh Kevin.
__ADS_1
"Cuma mau lihat muka kamu yang lagi ngambek," jawabnya santai.
Adila tidak mudah terpengaruh jawaban gombal seperti Kevin. Mau berapa kali pun tidak akan mempan buat dirinya sekarang. Rasa mood dirinya sudah hampir habis dari kesabaran.
"Gak perlu sok gombal. Langsung ke topik penting saja, kalau gak ada hal penting, saya kembali ...."
"Soal semalam ..., saya cemburu," ucap Kevin kemudian. Namun suaranya sangat kecil, yang pasti jelas terdengar oleh Adila.
Adila yang hendak keluar dari ruangan Kevin. Terpaku dalam diam. 'Yang benar saja? Dia cemburu?' batin Adila.
"Saya gak tau siapa pria yang sudah berani cium kamu. Walau kamu berapa kali buat menghindar dari saya," katanya lagi, lalu berjalan mengarah di mana Adila masih memunggungi dirinya.
'Sebentar, kalau dia cemburu, berarti dia ada rasa ke aku?' batin Adila lagi.
Sibuk sama isi pikirannya tanpa sadar Kevin sudah berdiri di belakang, sembari untuk meminta maaf atas perbuatannya.
'Gak mungkin dia benar-benar suka sama aku? Ini hanya tak-tik dia doang, biar dia bangga. Apalagi aku tau sikap otak liciknya. Dia sengaja lakuin kayak gini, karena memang dia gak suka saja, aku berdekatan sama pak Sandy, iya pasti itu. Walau ciuman pertama ku sudah direbut olehnya. Dia mengira cara seperti itu dia sudah menyesal. Gak akan?!' batin Adila lagi.
"Maaf saja deh, Pak. Dengan cara apa pun Bapak gak akan mudah bisa ...." Adila tiba-tiba tercegah dalam diam.
Jarak Kevin sangat dekat dengannya. Saat Adila berputar badan, posisi Kevin membelakangi sudah jarak beberapa senti. Adila bisa mencium aroma maskulin parfum di baju Kevin. Kevin menatap lekat padanya. Adila membuang muka, kemudian kembali berbalik. Tapi, pintu itu tiba-tiba mendadak terbuka dan di dorong oleh seseorang. Adila pun tercium daun pintu, hingga membuat dirinya terpekik kesakitan. Kevin dengan cepat menghalau pintu tersebut.
"Auw!"
Orang yang buka pintu itu, memunculkan kepalanya, dia juga kaget. Dia tidak tau jika masih ada orang di belakang pintu tersebut.
"Waduh, maaf, aku gak se-nga-ja," ucapnya sembari terpatah-patah meminta maaf atas kesalahannya.
Kembali orang itu menutup pintu rapat-rapat membuat Vina yang duduk ter-bengong lihat sikap teman se-kantornya.
"Ada apa? Kok kamu terlihat syok seperti itu?" Vina bertanya pada temannya.
__ADS_1
Temannya menarik kursi, kemudian mencondongkan badannya ke depan, mulai membisikkan sesuatu pada Vina.
"Pak Kevin sama Adila pacaran, ya?"