Who, My Bos?

Who, My Bos?
Menyerah.


__ADS_3

Akhirnya Deliana selesai juga dengan pekerjaan diminta oleh William. Hening lantai delapan. Teman-teman lainnya sudah pada pulang. Tinggal dia seorang di lantai itu. Dia memasukan semua perlengkapan ATK dan bon-bon penjualan ke laci meja. Tidak lupa dia kunci. Terus mematikan komputer dan printer.


Dilihat jam ponselnya, angka muncul 22.20 wib. Dia benar-benar tidak sadar begitu malam dia mengerjakan pekerjaan kacung ini. Ponsel Deliana berdering, Adila menelepon. Mungkin Adila sudah di depan lobi. Dia pun menekan tombol lift.


"Ya, Dila, ini aku sudah mau turun," ucap Deliana.


"Sori, Del. Mobil aku mogok nih!" jawab Adila, sambil bicara sama seseorang.


Deliana terdiam sebentar, "Jadi?"


Deliana agak kecewa, padahal dia berharap Adila bisa menjemputnya. Tapi salah dia juga sudah merepotkan Adila tiap dia lembur, minta nebeng mobilnya.


"Ya sudah, gak apa-apa. Aku pakai taksi online saja," ucapnya, padahal dia tidak yakin masih ada taksi online yang lewat apa tidak.


"Benar? Sori, ya? Padahal sudah mau sampai ke kantor kamu. Eh, pakai acara mogok lagi. Ini aja minta orang lewat beli bensin, kamu hati-hati, ya. Atau minta sama pak Agus jemput kamu?" Adila lupa kalau Agus sudah tidak ada. Apa dia sengaja biar Deliana mengingat Agus lagi?


Deliana terdiam dengan kalimat terakhir diucap oleh Adila. Adila di sana sadar, dia memukul bibirnya sendiri. "Sori, Del. Aku bukan maksud ungkit soal pak Agus. Maksud aku ...."


Deliana senyum getir. "Gak apa-apa, ya udah, aku coba telepon bang Indra dulu."


Deliana menarik napas dan membuang kasar ke asal tempat. Dia mencoba untuk mengingat di mana pertama dia lembur bersama Agus. Lagi-lagi suasana kembali ke masa mantan dosennya mengombali dan membuat dia salah tingkah. Lama-lama pertahanan hati Deliana kunci pasti retak. Mantan dosennya sudah berhasil meretakkan tembok hatinya.


"Halo, bang!"


"Ya, Del? Ada apa?"


"Abang ada di mana? Bisa jemput aku di kantor? Adila gak bisa jemput, mobilnya mogok."


"Aduh, Del. Maaf, Abang gak bisa jemput, ini masih ada acara seminar di hotel Aston, kok malam kali baru pulang?"


"Iya, diminta sama pak William lembur, suruh cari selisih penjualan stok yang gak sesuai. Soalnya akhir bulan audit dan anggota ISO mau datang."


"Oh, coba Abang minta teman yang bisa jemput kamu pulang gak?"


"Iya, bang! Gak apa-apa, nanti aku ...."


Panggilan telepon terputus, ternyata pulsa Deliana habis. Apalagi baterainya juga tinggal lima persen. Lupa bawa powerbank lagi.


Sekian terakhir Deliana mendesah, dia pun meninggalkan gedung kantor dengan cara jalan kaki. Dia berharap ada mobil taksi lewat atau apa saja, lah.


Suara klakson tiga kali mengarah ke Deliana. Deliana tidak merespon, dia merasa orang asing tak ada kerjaan ganggu dirinya. Deliana mempercepat langkah kakinya. Tapi sebuah lampu berkedip tiga kali ke arahnya sambil menyalakan klakson lagi.


Deliana sudah hilang kesabaran, dia sudah takut setengah mampus. Mau tak mau dia berhenti dan lampu itu menerangi dirinya. Buat mata Deliana silau akan cahaya itu. Seseorang turun, Deliana tidak terlalu jelas sama sosok bayangan hitam itu melangkah arahnya.


Sebuah jaket memakaikan ke Deliana. Deliana dalam diam mendongak dan menatap sosok siapa orang yang berani berikan jaket untuknya?


"Kenapa bengong? Ayo masuk? Gak baik untuk wanita seperti kamu berkeliaran di sini malam-malam. Kalau ada preman coba menggoda kamu bagaimana? Hilang dong malam pertama kita nanti," ucap pria itu.

__ADS_1


Deliana malah menetes air mata, dia sungguh merindukan suara itu, dan kalimat-kalimat suka mengombalnya. Dia terus berharap ada seseorang muncul lagi di depan dan mengatakan hal paling dia benci.


"Dasar!"


Deliana memukul Agus dan menarik kaosnya. Menenggelamkan wajah di dadanya. Tembok hati Deliana retak, dia menyerah, dan dia tidak akan bisa pertahankan untuk menolak lagi cinta dan perasaan Agus padanya. Pada ujungnya Deliana juga mencintai Agus. Walau kegengsian itu hanya sesaat tempat pajangan depan umum.


Agus membiarkan Deliana membasahi bajunya. Dia tahu sampai kapan pun mantan muridnya dengan mulut laknat menolak. Deliana tidak bisa melupakan dirinya. Agus tahu Deliana hanya menutup perasaan agar teman-teman tidak menghujat dirinya yang mudah jatuh cinta. Agus bangga padanya, tidak sia-sia segala perjuangan dia lakukan agar mendapat hati itu terbalas.


...***...


"Bagaimana kabarmu? Sepertinya kamu makin kurus? Terlalu banyak memikirkan saya, ya?" Agus berbicara dan memecahkan keheningan.


Agus memperhatikan mantan muridnya yang masih sembab habis menangis tadi. Sampai bajunya dia pakai pun ikut basah. Untung masih sayang, kalau gak. Mungkin Agus gak akan relain.


Deliana gak menjawab, dia menenangkan dirinya. Bagaimana bisa nangis di depan mantan dosennya. Dia benar-benar sudah gila.


"Saya tahu, kamu itu juga cinta sama saya, jangan murung begitu. Sori kalau buat kamu jadi galau begini," celoteh Agus sambil mencuri perhatian.


Deliana masih gak jawab, dia seolah tuli. Berhenti di lampu merah. Tiba-tiba ponsel Agus berdering.


"Sudah kok, ini ada di sebelahku, kamu mau ngomong sama dia?" ucap Agus, Deliana memasang telinga. Walau dia tidak tahu siapa yang telepon.


"Ini Indra mau bicara sama kamu." Agus berikan ponsel padanya.


Deliana menerima dan menempelkan ponsel Agus ke telinganya. Terdengar di seberang ada suara gak asing lagi.


Deliana gak jawab, biarkan Sarah mengomel. Masih menunggu lampu merah jadi hijau. Agus mengetuk-ngetuk jari di setir mobilnya.


"Siapa juga yang galau, biasa saja. Hanya kebetulan. Nanti dia juga hilang lagi kayak bulan-bulan sebelumnya," jawab Deliana mood-nya sudah kembali.


Agus dengar, dia cuma senyum-senyum saja. Lampu merah sudah berubah lampu hijau. Agus kembali menjalankan mobilnya. Sudah malam sih, tapi di sekitar pinggir jalan masih banyak yang jualan.


Deliana masih dengar ocehan kakaknya, biar dia merasakan bagaimana cerewet si Sarah. Agus menghentikan mobil salah satu tempat makan, semacam food court. Bukanya sampai jam dua belas malam.


Agus buka pintu untuk Deliana, Deliana mendongak lalu dia keluar dari mobilnya yang pasti dibantu sama Agus. Takut jatuh.


"Ya sudah Kak, nanti sampai rumah baru lanjut ceramahnya. Aku mau makan dulu, dari tadi belum sempat makan. Gara-gara atasan sialan itu selalu bikin repot," ucapnya mendahului telepon tersebut.


Dia merasa telinganya merah, apalagi ponsel Agus juga sudah panas. Tanpa sadar, Deliana melihat wallpaper depan foto dia. Kapan Agus ambil foto dia waktu makan roti polo itu.


"Ini Bapak kapan ambil foto saya?" Deliana mengejar jejak kaki Agus.


Agus menoleh, dia ambil ponsel sudah selesai bincang-bincang dengan Sarah. "Yang sering ditolak terus," jawabnya.


Deliana ikut jejak Agus ke food court, banyak makanan enak-enak. Agus cari tempat duduk yang nyaman dan sejuk dulu. Sedangkan Deliana malah keluyuran ke mana-mana.


Agus mencari-cari Deliana, dirinya ditonton dan diperhatikan oleh pengunjung lain. Agus malah santai berjalan. Karena luas food court ini, jadi agak susah menemukan Deliana.

__ADS_1


Deliana sedang berdiri mengantri giliran dirinya beli camilan aneh itu. Telur gulung. Yang lagi viral banget, padahal mudah kali buatnya, hanya saja Deliana malas bikinnya soalnya gak akan ada yang makan.


"Telur gulung sepuluh ribu, ya," ucap Deliana setelah gilirannya.


"Mau pedas atau biasa, Mbak?" tanya penjualnya.


"Sedang-sedang saja," jawabnya kemudian.


"Oke, Mbak. Ditunggu sebentar ya, atau nanti kami antar saja. Mbak duduk di mana?" ditanya lagi oleh penjualnya.


"Saya duduk di ...." Deliana berbalik, dia lupa waktu masuk ke sini, dia gak ikut Agus ke mana, jadi gak tau Agus ada di mana. Merasa dirinya kehilangan seseorang lagi.


"Kalau gak, nanti saya kembali ke sini lagi, saya mau ke tempat lain soalnya," jawab Deliana berlalu. Penjualnya pun mengangguk.


Deliana pun segera mencari keberadaan Agus. Dia mengambil ponselnya, dia lupa ponselnya lowbet. Agus juga sambil cari keberadaan mantan muridnya itu.


Teringat jadinya masa-masa dirinya menjadi dosen. Acara prospek waktu pertama kali dirinya menjadi pembimbing dan pembina di kampus itu. Dia tidak sengaja bertemu seorang mahasiswi sangat galak tapi cantik. Agus awal biasa saja, dia mencoba dekati, tapi cewek itu tiba-tiba hilang begitu saja. Padahal Agus cuma mau say hello doang.


"Del!"


Agus menoleh seorang mahasiswi melambaikan tangan arahnya, tapi seorang cewek melewatinya. Deliana berlari dengan seragam putih dan celana hitam. Rambut diikat seperti pelangi.


"Sudah dapat semua tanda tangan dosen?" tanya temannya.


Deliana merenggut, "Belum semua. Kalau kamu?"


"Sudah, tinggal satu, cuma hari ini dosennya gak absen," jawabnya sama-sama kecewa.


Agus perhatikan dari jauh cewek itu. Dia merasa kecewa banget sama tugas diberikan oleh panitia. Agus mau menghampiri tapi cewek itu sudah keburu pergi.


"Bapak ternyata di sini! Dari tadi cariin?!" omel Deliana bawa banyak sekali makanan di tangannya.


Agus yang berkerut lihat sikap mantan muridnya itu. "Saya kira kamu kesasar, banyak sekali kamu beli? Lapar?"


Deliana menoleh dan mengangguk, "Iya, lapar. Kalau bukan atasan tua bangka itu. Stres tau gak, Pak? Kalau saja Bapak balik lagi di situ, aku gak bakal stres gini!" celotehnya.


"Oh ya? Jadi kamu rindu aku kerja di sana lagi?"


Deliana mengangguk, lalu mereka cari tempat duduk. Agus memanggil pelayan lain.


"Pesan teh manis dingin jumbo satu," ucap Agus. Pelayan itu pun pergi.


"Loh, kok cuma satu?"


"Kongsi berdua, biar merasakan ludah kamu," ujarnya kemudian.


Deliana pun mendelik seakan geli lihat sikap Agus. "Kita sudah pernah saling rasa, gak usah pakai pasang mata seperti itu. Tetap sama," gombalnya.

__ADS_1


Deliana senyum malu, dia tidak akan lagi protes soal gombal Agus. Lama-lama Deliana suka sama kata gombalnya. Agus comot telur gulung di tangannya. Makan berdua, minum berdua terasa food court adalah milih merdeka berdua.


__ADS_2