Who, My Bos?

Who, My Bos?
Mulai mengerti.


__ADS_3

Sudah malam, Agus pun mengantar Deliana pulang. Deliana kenyang sekarang, dia sampai membawa pulang camilan untuk besok.


"Sepertinya kamu suka dengan camilan seperti itu? Kenyang?" Untuk Agus tidak akan pernah kenyang.


"Boleh dibilang kenyang, untuk camilan seperti ini gak akan kenyang, kalau gak dibawa ke sana terus," ucap Deliana sewot.


"Besok-besok saya bawa kamu ke sana lagi," ujar Agus.


Deliana mendelik, "Memang Bapak gak kerja?"


"Kerja, kok. Kerja untuk masa depanmu," jawabnya cepat.


Deliana gak bertanya lagi, dia tiba-tiba sadar sesuatu. "Btw, kenapa Bapak keluar dari perusahaan PT. Indo Nusaraya Industri?" Akhirnya Deliana bisa menanyakan hal ini.


Agus diam sejenak, gak menjawab langsung. Deliana menunggu, bukan dia kepo. Tanya sama Dani, Dani malah jawab langsung tanya yang bersangkutan.


"Apa Bapak hanya disuruh jadi atasan sementara saja?" tebak Deliana, dia gak terlalu pintar menebak sesuatu hal yang gak dia ketahui.


Agus masih belum menjawab, pasti semua akan pertanyakan itu. Deliana masih sabar menunggu.


"Apa karena saya terus menolak Bapak? Makanya Bapak memilih mengundurkan diri?"


"Bukan," sambung Agus berbicara.


"Jadi?"


"Sudah sampai, jangan lupa mandi, cuci muka, dan cepat tidur. Jangan terlalu bergadang lagi. Besok pagi saya jemput kamu," ucap Agus mengalihkan pembicaraan.


Deliana mendengkus, dia paling benci kalau pembicaraan selalu di alihkan ke tempat lain. "Bapak belum jawab semua pertanyaan ...."


Deliana melebarkan dua matanya, Agus dengan berani mencium Deliana. Agus sengaja lakukan itu, agar Deliana gak mengoceh terus dari tadi.


"Bap-Bapak?"


"Intinya saya sudah di sini, gak perlu di bahas soal itu. Sudah masuk sana. Gak baik wanita di mobil pria, belum muhrim." Senyum Agus sambil mengacak rambut depannya.


Deliana gak berkata-kata lagi, dia turuti. Dia pun turun dari mobil Agus. Kemudian dia masuk, mendengar mobil Agus sudah meninggalkan dari rumahnya. Deliana menoleh, memandang mobil Agus sudah menghilang.


Deliana memutar pintu rumahnya, kemudian Sarah muncul mendadak buat dirinya terkejut.


"Ciyeee ... yang habis kencan sampai lupa waktu pulang. Bagaimana lancar perjalanan kencannya?" cemooh Sarah kekepoannya pun muncul dan menginterogasi adiknya.


"Apaan, sih, Kak? Kencan apanya? Cuma makan biasa saja!" elak Deliana, sebenarnya dia malu buat jujur.


Deliana juga gak tahu kenapa mantan dosennya bisa datang tepat pula jemput dia. Itu terus dia pertanyakan.


"Apa Bang Indra yang minta dia ...."


"Gak? Aku juga gak tau kapan dia kembali ke kota." Indra langsung menjawab.


Deliana pun mengalihkan ke arah Sarah. Sarah langsung menggeleng. "Bukan Kakak, Kakak baru saja tahu kalau bukan dari seminar asuransi."


"Masa?" Deliana gak percaya banget.


Tapi bisa saja, iya, sih. Gak mungkin Bang Indra dan Kak Sarah berbohong. Dia masih penasaran dan curiga.

__ADS_1


"Btw, sebelum dia kembali ke sini, dia gak tanya dia mau ke mana?" tanya Deliana pada dua suami istri ini.


Sarah dan Indra saling bertatapan, kemudian kembali menatap Deliana. "Dia cuma bilang titip surat yang Kakak kasih ke kamu waktu kamu datang ke bandara," jawab Sarah jujur.


"Kalau Bang Indra?"


"Aku? Dia gak bilang apa-apa juga. Cuma dia bilang mau pulang kampung saja, ya, gak tau mau ngapain. Mungkin mau kawin, auw!" Sarah langsung mencubit perut Indra mulai membuncit.


"Jangan sembarang ngomong, kawin dari mana? Cinta Agus itu cuma Deliana!" protes Sarah, paling kebiasaan kalau suaminya suka asal bicara.


"Ya, mana tau 'kan, dia sudah menyerah, jadi milih buat kawin sama orang lain, gitu? Macam kamu gak tau kayak gimana Agus kalau sudah serius, tapi di tolak mulu. Ya, kalau ada wanita lain suka sama dia. Ya sudah, tunggu apa lagi? Begini-begini Agus pria mapan punya segalanya, apalagi punya perusahaan sarung tangan karet juga?" balas Indra jauh lebih panjang lagi omelannya.


Deliana yang berdiri di depan dua orang ini saling berdebat. Kadang rasa cape habis pulang kerja, terus kenyang. Rasa kantuk pun hilang. Tetapi satu hal terakhir Indra menyebutkan Agus punya perusahaan sarung tangan karet. Deliana pun shock.


"Stop!"


Indra dan Sarah terdiam, setelah Deliana bersuara. "Pak Agus punya perusahaan sarung tangan karet? Maksud Bang Indra?" Deliana mengulang kalimat akhir dari Indra tadi.


"Iya, dia punya perusahaan sarung tangan karet, posisinya juga Abang gak tau. Suka-suka dia, mau jadi bos atau manager suka-suka. Perusahaan milik dia. Cuma dia gak bilang PT apa, memang kenapa?" Indra menjawab dan menjelaskan kepada Deliana.


Deliana sudah mengerti, dia pun masuk ke kamar gak menunggu Indra berbicara lagi. Indra melongo lihat sikap adik iparnya itu. Deliana melempar tasnya ke sembarang tempat. Lalu dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya, setelah itu menelepon seseorang.


"Halo, Pak! Masih melek?"


...***...


"Baru mau tidur, Del. Ada apa?" jawab Dani lagi menepuk-nepuk tempat tidur dan bantal serta guling.


"Saya mau tanya sesuatu sama Bapak. Penting!" kata Deliana.


"Soal apa, Del? Gak bisa besok?" timpal Dani.


Bukan dia menolak tidak mau menerima telepon. Waktu jam tidur sudah menjemput. Kalau memang ada hal penting mau dibahas. Bisa di kantor.


"Gak bisa Pak! Ini penting, besok apa kita bisa jumpa seperti hari-hari biasa? Bapak gak ingat gimana muka bos tua yang tinggal jemput ajalnya? Belum lagi laporan yang saya taruh di mejanya mau di tanda tangani apa, gak?" omel Deliana.


Dani paham, dia paham betul. Sejak pak Agus keluar, semua berubah sangat menjengkelkan. Awal Dani lebih nyaman kalau ada pak Agus, jadi pemegang kantor mereka. Tapi hanya sebulan doang, terus kembali atasan lama.


"Baiklah, saya dengar. Apa yang mau kamu bahas di malam ini?" tanya Dani sambil berbaring dan mendengar suara Deliana yang merdu. Kapan lagi bisa dengar karyawan satu ini.


Deliana memindahkan posisi duduk melipat kedua kakinya sambil buka laptop dan mencari informasi mengenai pemilik perusahaan tersebut.


"Bapak sudah lama kerja di perusahaan sarung tangan karet ekspor-impor, bukan?" Deliana bertanya tentang pekerjaan Dani yang posisi dia pegang adalah kepala HRD.


"Iya, terus?"


"Bapak pasti tahu dong, siapa pemilik sebenarnya perusahaan sarung tangan karet tersebut?"


Dani yang tidur tidak menjawab, Deliana menunggu ada suara deguran di teleponnya. Deliana menjauhkan ponsel itu masih tersambung. Dani sudah ketiduran tanpa sadar lagi. Deliana pun jadi kesal sama teman kantor satu ini. Dia pun mematikan panggilan teleponnya.


"Ya elah, malah ketiduran pula! Kalau gini aku cari di mana lagi informasi?" gerutu Deliana sambil menggigit ujung jarinya.


Matanya belum mengantuk, tiba-tiba ada pesan masuk di aplikasi whatsapp-nya. Deliana pun membaca.


Dosen sialan : Kenapa belum tidur?

__ADS_1


Gak bisa tidur?


Mau saya temani?


Deliana yang baca langsung terbuka matanya. Sedikit kaget dari mana mantan dosen tahu kalau dia belum tidur. Dia cari semua tas dan sekitarnya. Tidak ada benda mencurigakan.


Deliana : Belum, mungkin nanti.


Kenapa?


Dosen sialan : Hmm ...


Kurang kiss-nya lagi?


Deliana yang baca langsung melebarkan matanya. Ada dibalik senyuman, entah kenapa Deliana jadi suka sama gombalan mantan dosennya itu.


Deliana : Gak!


Kiss apaan, gak resmi!


Dosen sialan : Jadi, mau kiss resmi?


Besok saya datang ke rumah kamu.


Kali ini gak ada penolakan lagi.


Deliana cuma baca sekilas saja tapi gak membalas chat pesan itu. Dia sibuk dengan laptop dan mencari informasi mengenai mantan dosennya. Deliana sungguh penasaran siapa, sih, Agus Antoniusetya Darmawan itu?


Agus merebahkan diri di tempat tidur sambil menunggu balasan pujaan hatinya. Gak kunjung tanda masuk. Cuma di baca. Agus coba telepon Deliana. Tapi, Deliana gak mengangkat, Deliana lagi ke kamar mandi.


Agus jadi galau, beberapa menit kemudian sebuah panggilan berdering, Agus dengan semangat mengangkat panggilan itu.


"Kenapa gak balas chat saya?" Agus langsung mengomel.


"Chat apaan?"


Agus terdiam, ternyata bukan Deliana tapi pamannya. Agus mengusap wajahnya. Padahal dia sudah diambang kasmaran malah ambyar begini.


"Gak, Om. Ada apa telepon saya di malam begini?" suara Agus menjadi lembut dan pelan.


"Kapan kamu kembali ke kota ini? Kenapa tidak kamu beritahu ke Om dulu? Om hampir stres lihat perusahaan kamu yang tidak becus begini!"


Agus menggaruk-garuk kepalanya tidak gatal alias memang gatal. Semua juga pertanyakan kapan dia kembali ke kota ini.


"Tadi malam, Om," jawabnya pendek.


Dapat didengar oleh Agus, suara ******* berat di seberang telepon. "Kamu kapan bisa berubah Gus? Kamu tahu Om tidak akan bisa pegang perusahaan kamu. Seharusnya yang mempertanggungjawabkan perusahaan itu adalah kamu. Om hanya membantu, bukan menjadi bawahanmu selamanya. Om juga punya masa pensiun dan berkumpul dengan keluarga cintaku. Ayahmu memberikan warisan ini agar kamu tidak dipandang oleh sebelah mata sama teman-teman sebaya mu?" Kali ini pamannya mengomel panjang lebar.


Agus paham, dia juga tidak bisa ber-lama-lama bersembunyi seperti ini. Tapi dia belum siap untuk mengatakan pada Deliana. Kalau dia itu bukan seorang dosen saja, tapi juga seorang pengusaha di mana dia kerja di kantornya sekarang ini.


"Satu hal lagi, segera kembali dan pertanggungjawabkan atas yang sudah terbengkalai pada perusahaanmu. Om sudah membuang banyak tenaga memarahi satu staf kantor mu. Oh ya, Om dapat kabar dari sekertaris kamu. Salah satu staf bagian penjualan / piutang menyerahkan surat pengunduran diri. Namanya Deliana Citrasenia Valenteen."


Agus langsung shock dengarnya. "Yang benar, Om?"


"Ya, kenapa? Tidak rela? Makanya kembali ke perusahaanmu, kalau tidak mau kehilangan dia! Jangan salahkan Om kalau dia benar-benar keluar dari kantor kamu."

__ADS_1


Panggilan telepon pun terputus, Agus sekali lagi mengusap wajahnya begitu kasar. Pamannya terlalu keras pada anak-anak kantornya. Apalagi Agus tidak rela kalau Deliana, pujaan hatinya mengundurkan diri dari sana. Perjuangan dia lakukan ini biar bisa dekat lagi dengannya. Kenapa semua terlalu rumit baginya.


__ADS_2