Who, My Bos?

Who, My Bos?
Persiapan.


__ADS_3

"Aku pulang!" Suara Deliana sampai rumah habis hang out sama temannya di kafe Mirna.


Sarah keluar menyambut Deliana. "Sudah pulang! Sini deh, ada sesuatu spesial buat kamu!" Sarah menarik tangan adiknya untuk ikuti dia.


Deliana merasa dejavu lagi, pernah alami sebelumnya, tapi kali ini gak mungkin Agus sudah tiba di sini. Dia 'kan, masih di Malaysia sedang sibuk sama bisnis kerjanya. Dari lamaran Agus itu, seminggu kemudian Deliana harus LDR sama Agus. Karena Agus keluar Negeri urus beberapa pekerjaan di sana.


Deliana sudah memaklumi bagaimana punya pengusaha orang kaya seperti Agus. Pasti banyak kegiatan gak bisa ditunda. Demi perusahaan dan juga masa depan keluarga tercinta nantinya.


"Tara!" Sarah melebarkan tangan, beritahu sesuatu di meja makan. Ada kue ulang tahun Deliana yang ke-28 tahun kemudian masakan ala Sarah sederhana.


Deliana juga lupa ulang tahun sendiri. Pantas di kafe Mirna tadi, Adila gak tunjukin hal-hal aneh sama dia. Apalagi Mirna.


"Selamat ulang tahun Adik sayang! Maaf ya, Kakak cuma bisa buat sederhana ini. Indra sebentar lagi pulang, kamu mandi, ngih. Kakak siapin nasi tar kita rayain bareng-bareng," ucap Sarah kecup pipi Deliana. Deliana terharu malahan.


Dia gak bisa pungkiri betapa bahagia dirinya sekarang. Dua bulan kemarin dilamar oleh Agus begitu megah. Sekarang dibuat mati-matian sama kakaknya sendiri.


Sarah memang resmi gak kerja lagi bareng suaminya. Indra yang akan kerja sendiri tanpa di temani oleh istrinya setiap saat waktu keluar kota untuk urus pekerjaan tersebut. Karena Sarah mulai jadi istri yang baik untuk calon anak yang dia kandung.


Tentu Deliana gak akan beri kakaknya kelelahan, kalau ada senggang Deliana juga bantu siapin sarapan untuk kakaknya. Sebelum dia berangkat kerja atau ke pasar kalau dia terlambat bangun gak sempat buat sarapan buat kakaknya. Tugas seorang wanita itu memang wajib.


"Kakak buat sendiri? Gak beli di restoran termahal lagi, kan?" Deliana lagi-lagi meremehkan kemampuan Sarah.


Sarah yang sudah berharap dipuji malah merenggut. Sedih dikatai begitu sama adiknya sendiri. "Kue ulang tahun saja Kakak beli di toko pakai gojek, kalau masakan enak itu asli tangan Kakak, lihat itu dapur masih belum Kakak beresin," kata Sarah jujur, sambil tunjukkin ke Deliana.


Deliana percaya malahan, dia hanya mengetes apakah kakaknya bohong atau mengulang kebiasaannya. Sebelum dia diberitahu bahwa dia benar-benar hamil. Bang Indra juga cerita kalau kakaknya memang mau belajar jadi istri yang baik di rumah. Buat sarapan untuk suami, bangun cepat, kadang saat masak memang rasanya ada hambar, ada asin, kadang ada manis dan micin kebanyakan.


"Aku percaya, kok, percuma perjuangan demi jadi istri yang baik untuk anak dan suami," ucap Deliana balas mencium pipi kakaknya.


Sarah senyum bahagia, sambil mengacak rambut adiknya itu. "Ya sudah, aku mandi dulu, dapur jangan disentuh apa pun, biar aku yang beresin. Kakak juga mandi ngih, bang Indra bentar lagi sampai," ujar Deliana. Sarah pun mengiakan.


Sedangkan di luar, Adila dan Mirna sudah di depan rumah Deliana. Terus bawa oleh-oleh dipegangnya.


"Kamu yakin ini bakal berhasil?" tanya Adila, dia merasa gak yakin banget,


"Berhasil, kamu macam gak tau gimana reaksi dia pas lihat kado ini," jawab Mirna santai. Sambil benerin rambutnya.


Sebuah mobil Avanza silver berhenti tepat di depan pagar rumah. Keluar seorang pria dengan baju kantor yang habis pulang kerja. Menghampiri dua wanita bersiap buat masuk ke rumah Deliana.

__ADS_1


"Mirna, Adila? Kalian kenapa berdiri di sini?" sapa Indra menyambut dua sahabat Deliana.


Adila dan Mirna terkesima sama penampilan Indra beda banget. Adila dan Mirna waktu itu kagum sama Indra. Sayang sudah dimiliki orang, kakaknya Deliana.


"Eh, Bang Indra. Apa kabar, Bang!" sambut Mirna. Jadi salah tingkah, dia jadi merasa gimana kalau jumpa sama pria cakep kayak Indra begini.


Indra senyum. "Baik, ayo masuk," balas Indra ramah persilakan mereka berdua masuk ke rumahnya.


Mirna mendorong Adila, buat Adila hampir tersandung sama kakinya sendiri. "Santai dong Mir, jangan dorong gitu! Ingat Bang Indra sudah punya kak Sarah. Kena baku hantam sama kak Sarah baru tau rasa!" sindir Adila buat ingatin Mirna lagi. Indra dengar tuh penuturan Adila.


Indra tahu, pernah di cerita sama adik iparnya. Kalau ada temannya naksir sama dia. Tapi hati Indra hanya untuk Sarah. Dia sudah setia sama Sarah. Jadi gak bisa bertolak ke siapa pun. Mirna juga cantik, nanti juga ada yang tertarik sama dia. Apalagi punya usaha kafe sendiri.


"Iya, iya, tau! Sori, sudah, ah, malu aku asyik kamu katai begitu!" Mirna pun jalan duluan, asli dia malu habis. Adila cengengesan lihat tingkah Mirna bagaimana. Untung dia gak kayak sifat Mirna.


...***...


Dua puluh menit kemudian, Deliana keluar dari kamar mandi. Tinggal keringkan rambutnya yang habis keramas, terus cari baju yang pas untuk dihari ulang tahun. Masa dia pakai baju tidur. Gak enak sama kakaknya sudah cape-cape buatin makanan enak masa dia pakai menyolok begini.


Dia pun buka lemari bajunya. Dia menemukan satu baju yang sudah lama banget gak dia pakai. Baju itu mirip gaun pesta di mana waktu pernikahan kakaknya sama bang Indra. Dia pun ambil baju itu. Terus dia perlihatkan ke arah cermin besar setinggi dengannya. Dia teringat banget di mana momen ketemu sama Agus.


Kalau dia pakai baju itu, ada larut yang kurang banget sama dirinya. Ulang tahun dia kurang seseorang. Orang berharga, jarak jauh. Agus sibuk sama tugas kerjanya. Sedih sebenarnya. Tapi dia gak boleh pasang muka murung masih ada kak Sarah, bang Indra menemani dia di hari ulang tahunnya. Dulu-dulu juga gitu selalu bertiga.


Tinggal rambutnya di below dulu, pelengkapan milik Deliana lengkap. Dia pun membuat rambut panjang setengah sedikit bergelombang mirip kerinting. Terus dia ikat setengah ke belakang. Cantik dengan baju dia pakai sekarang. Deliana memang gak pernah uraikan rambutnya. Terlalu sibuk sama pekerjaan kantor. Sampai rambutnya sudah panjang seperti itu.


Dia pun ambil bedak poles sedikit ke wajahnya, terus lipstik tipis sebagai penyinaran bahwa dia terlihat cantik di mata kakaknya dan bang Indra. Deliana akui dia memang cantik. Pantas Agus incar terus dirinya.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara di luar kamar. Apa mungkin Sarah mengundang teman-temannya. Deliana bergegas keluar, tapi dikejutkan oleh Mirna dan Adila di sini.


"Loh, kalian kapan ke sini?" tanya Deliana, sampai melupakan mereka.


Mirna dan Adila gak bisa kenal sahabatnya sendiri. Dari ujung kaki sampai ujung kepala mereka tatap tanpa kedip. "Cantik banget, sih, Del? Buat kejutan untuk calon suami, ya?" goda Mirna, terus disikut sama Adila.


Deliana mau mengiakan, tapi dia gak mungkin kalau Agus ada di sini. Dia kan lagi di Malaysia.


Terus Adila mengangkat sapu tangan ke arah mata Deliana. Deliana kaget dong. "Dil, kamu mau apakan mataku, luntur nanti maskaraku?" ucap Deliana masih bisa protes.


"Sudah, turuti saja. Ini kejutan spesial buat kamu. Meskipun kamu lupain kami, yang pasti ini kejutan tanpa kamu duga, deh," pinta Adila dibantu sama Mirna.

__ADS_1


Deliana pun menuruti saja, yang pasti bukan kejutan yang aneh-aneh. Adila bawa Deliana ke suatu tempat. Deliana merasa ada aneh.


"Kalian mau bawa aku ke mana, sih?" Deliana bertanya meski matanya di tutup sama sapu tangan. Terus tangannya juga di pegang sama Mirna.


Deliana bisa rasakan kalau dia bukan di rumah, tapi duduk di mobil. Terus mobil itu jalan entah ke mana.


"Pokoknya turuti dan diam, nanti juga kamu tau," kata Adila. Deliana bisa apa, patuhi saja, lah.


Beberapa menit kemudian mobil pun berhenti. Terus, Adila keluar dari mobil bersamaan dengan Deliana. Deliana gak bisa lihat jadi dia turun pun hati-hati. Apalagi pakai high heels lagi.


Deliana merasa deg-degan banget sama momen ini. Terus tangan Adila dan Mirna lepas, tentu dong Deliana kalang gabut begini. Apalagi gak diperbolehkan buka penutup matanya.


"Dil, Mir! Kalian mau ke mana? Ih, please Dil, Mir! Jangan gitu kenapa, sih!" Deliana berjalan kemudian tersandung sesuatu. Untung seseorang menyelamatkannya.


Kan, gak lucu. Masa dihari ulang tahun dia dibuat lelucon terjatuh. Tapi tangan itu masih dipegang oleh seseorang.


"Terima kasih," ucap Deliana senyum, padahal dia sudah risi sama penutup matanya.


"Sama-sama," jawab orang itu.


Deliana merasa gak asing sama suara itu. Dia pun melepas tangan itu, dia segera melepas penutup mata dari sapu tangan. Terus samar-samar itu matanya. Sosok berdiri tegap berhadapan dengannya. Dengan setelan baju yang kasual banget. Rambut disisir rapi ke belakang terus mata tajam berikan senyuman tipis untuk Deliana.


Deliana bengong yang dilihat itu, Agus. Ya, Agus ada didepannya. Bahkan dia sendiri gak kenal. Di sekeliling tempat kafe milik Mirna sudah pada hadir serta tepuk tangan dan sebuah lagu ulang tahun dicampur dengan lagu romantis lainnya.


"SURPRISE!" teriak Adila sambil menyalakan confetti popper buat Deliana kaget setengah mati. Agus ketawa lihat reaksi Deliana tadi.


"Ciyeeee, mesra banget!" goda Adila buat yang lain semakin semangat buat kemeriahan ulang tahunnya.


"Apa-apaan, sih! Sudah, ah!" Deliana jadi salah tingkah, terus malu dibuat aneh sama Adila.


Agus memeluk Deliana, dia lega bisa buat kejutan lagi buat calonnya. Sedikit lagi mereka resmi.


"Happy birthday, My Love," ucap Agus sekaligus beri sesuatu hadiah. Hadiah itu sebuah kotak kecil lagi.


Adila, Mirna, dan anak-anak lainnya juga menyaksikan momen itu. Deliana menjauh dari pelukan Agus. Agus buka kotak itu, kali ini bukan cincin, tapi kalung paling mahal gak pernah Deliana punya. Deliana kaget dan shock. Sebegitu spesial Agus buat dia.


Agus mengambil kalung itu dan pakaikan ke leher Deliana. Deliana cuma bisa hirup aroma parfum selalu Agus pakai itu, lembut. Sampai dia memejamkan mata tanpa sadar dia terbuka lebar apa yang dilakukan Agus tadi. Suara sorak dan siulan makin hangat saja. Agus mencium bibir Deliana di depan teman-teman. Deliana pun tersipu malu bukan main, dia sampai menunduk menyembunyikan wajahnya yang merah itu.

__ADS_1


"Ciyeee ada yang malu! Sudah Pak langsung saja ke jenjang pernikahan!" teriak Adila, dia yang mengatur semua persiapan ulang tahun sahabatnya.


__ADS_2