Who, My Bos?

Who, My Bos?
Butuh Ketenangan.


__ADS_3

"Aargh! Kevin sialan!" umpat Adila mengentakkan kedua kakinya yang begitu kesal sekali.


"Sabar, Dila, namanya juga Bos. Apa pun itu pasal tiga tetap selalu balik ke pasal satu," hibur Deliana sambil mengelus pundak sahabatnya.


Adila mendengkus kasar, dia mendaratkan wajahnya ke meja sebagai alas tidurnya. Dia benar-benar sangat kesal dengan Kevin. Padahal niatan dia ke rumah makan koto gadang itu atas ajakan dari Sandy. Tapi entah kenapa dia dipertemukan oleh pria menjengkelkan.


"Tukar tempat, yuk!" Adila menoleh ke Deliana. Deliana terkejut dan tidak mengerti maksud ucapan sahabat satu ini.


"Maksud kamu?" Deliana bertanya.


"Tukar tempat, aku jadi kamu, kamu jadi aku, begitu. Aku sudah stres banget, aku butuh refreshing, merasakan bagaimana menjadi istri yang baik untuk suami kamu," jawabnya seolah ide itu mutu banget untuknya.


"No!" tolak Deliana, dia mana mungkin menukar tempat semacam itu. Dia sendiri juga sudah stres sama pekerjaannya.


"Why? Kamu, kan, gak ada kerjaan? Satu hari saja, gitu?" timpal Adila.


"Santai apaan, kamu pikir jadi istri pemilik perusahaan sarung tangan karet itu, enak? Posisi aku bukan seperti nyonya-nyonya perkumpulan arisan di mal-mal, pekerjaan aku juga perlu tanggung jawab besar, mana bisa aku tinggalin pekerjaan begitu saja, kenapa tidak Mirna?" balas Deliana malah mengomeli Adila, ujung-ujungnya mengalihkan ke Mirna baru saja sampai dan ikut bergabung dengan mereka berdua.


Adila pun berpaling, dia hampir melupakan Mirna juga. "Ada apa? Kenapa lihatin aku begitu? Ada salah dengan kedatanganku?" Mirna malah bertanya pada Adila dan Deliana.


"Mirna, kamu mau gak tukar tempat denganku?" Adila langsung ke intinya. Mirna lagi makin gak paham atas pertanyaan Adila.


"Tukar tempat apaan?" Mirna balik bertanya.


"Tukar tempat, aku jadi kamu sementara waktu, kamu jadi aku sebagai kasir di kantor aku," jawabnya seolah jawaban itu sangat mudah sekali.


"Memang kenapa dengan pekerjaan kamu?" Mirna malah bertanya lagi, Mirna membuka laptopnya, kemudian memasukan benda kecil di laptop tersebut.

__ADS_1


"Stres aku, Miiirrr!" ngeluhnya


"Lah? Memang stres, apaan? Bukannya pekerjaan kamu itu santai banget? Letak stresnya di mana?"


Adila meluruskan badannya, lalu menatap Mirna saksama. Adila begitu sabar hadapi Mirna. Walau sudah kenal dekat pun otak Mirna sangat lemot banget, bukan lemot, kalau memang lemot, gak mungkin wanita berambut bob itu bisa buka usaha kafe lumayan besar.


"Ya stres, lah! Mir, sekali saja, besok senin kamu mau, kan, tukar tempat? Aku yakin, Senin dia tidak datang ke kantor, soalnya senin pekerjaan paling sibuk banget, dia gak mungkin, lah, perhatikan setiap ruangan?" Adila memohon pada Mirna.


Mirna diam sebentar sambil berpikir, sedangkan Deliana sedang balas chating dengan suaminya, ya siapa lagi Agus. Saat ini Deliana dengan LDR-an sama Agus. Sejak pernikahan beberapa bulan yang lalu, Agus disibukan beberapa proyek dan juga pertemuan dengan teman bisnis di luar negeri. Untuk acara bulan madu terpaksa ditunda sampai waktu senggang dari Agus longgar.


"Memang boleh ganti tempat? Kalau masuk kantor harus absensi, kan?" tanya Mirna pada Adila.


"Kenapa gak izin cuti saja?" lanjut Mirna beri solusi pada Adila.


Adila mengetuk kening di meja, dia baru ingat, kenapa dia bisa lupa. Mana bisa Mirna ganti posisinya sedangkan absensi melalui sidik jari.


"Yaaa, aku harus bagaimana? Gak mungkin kamu suruh aku menyelinap kayak maling, terus menyamar dirimu? Bukan kamu saja yang akan dapat masalah, aku juga, bisa-bisa wajah kita berdua jadi bahan badut oleh teman-teman seperjuangan mu," ujar Mirna menceramahi Adila.


Adila meluruskan kedua tangan ke depan dan dagunya menaungi meja sambil mencari solusi agar bisa diterima oleh bos itu. Semua cara dia beri alasan pada Kevin sudah digunakan.


"Kenapa gak alasan, kamu sakit?" ucap Mirna beli solusi yang terbaik untuk Adila.


Seketika dia menegakkan badannya, usulan ide yang bagus banget dari Mirna. "Benar, kenapa gak pakai alasan kalau kamu sakit, jadi bos kamu gak ada alasan minta kamu ke sana, ke sini?" sambung Deliana.


"Benar juga, ya. Kalian ini, benar-benar sohib yang pandai banget," ucapnya kemudian. Sekaligus memuji kepandaian mereka.


"Tapi ...."

__ADS_1


Adila baru teringat sesuatu, membuat Deliana dan Mirna menunggu kelanjutan kalimat dari Adila.


"Kalau aku alasan sakit, pasti dia minta surat izin sakit dari dokter? Terus gimana, dong? Padahal alasan aku cuma minta libur satu hari itu 'kan, hanya buang jenuh doang?" lanjut Adila bertanya pada kedua sohibnya.


Deliana merangkul Adila sangat tenang banget. Adila mana bisa berbohong dengan atasan. Walau sikap keras kepalanya suka memberontak.


"Yaelah, gitu saja kok dipikirkan, percuma ada Nanda yang bisa kita atasi. Tinggal minta surat keterangan izin tidak masuk, alasan tekanan darah kamu benar-benar menurun," ucap Deliana memberitahu padanya.


Adila menatap Deliana, Adila tidak kepikiran sampai di sana. Kalau mereka masih punya sohib yang baik. Iya, Nanda Lim. Dia 'kan, seorang dokter, dokter umum.


"Kamu benar, kenapa, sih, aku lupa dia?" Adila segera mencari nomor kontaknya. Masih tersimpan, mungkin pria itu bisa membantunya.


Suara ponsel milik Deliana berbunyi. Ada pesan masuk. Ternyata dari Manto, supir pribadi Agus selalu membawa Deliana kemanapun jika dia tidak di tempat. Jadi Manto yang akan menggantikan dirinya sebagai pelindung istrinya tersebut.


Manto : Bu, saya sudah sampai.


Deliana pun membalas pesannya, dengan segera bersiap untuk beranjak dari kafe Mirna. "Dil, Mir, aku pamit balik dulu, ya! Sudah di jemput soalnya. Lain kali kita kumpul lagi, oke?" pamit Deliana sambil melambaikan tangan pada mereka berdua.


"Daah, hati-hati, ya!" balas Mirna setelah Deliana tidak terlihat batang hidungnya.


Adila cuma bisa menatap sendu lihat sahabatnya sudah dimiliki orang. Otak Adila sudah merana ke mana-mana. "Enak, ya, Deliana. Jodohnya ternyata pak Agus. Mantan dosen kita dulu. Satu per satu sohib kita bakal bubar kalau sudah menikah, kamu kapan, Mir?" cuap-cuap Adila dan mengalihkan topik pembahasan pada Mirna.


"Aku masih lama, kamu kapan? Sudah jangan banyak milih. Soal Nanda, sudah lama juga gak dengar isu soal dia, Nanda kayaknya masih punya hati sama kamu, tuh?" Adila menoleh, kenapa jadi bahas Nanda, pikir Adila.


"Hah? Dia? Mana mungkin dia masih punya hati sama aku. Aku dengar isu gosip, dia 'kan sebentar lagi sudah mau tunangan," balas Adila.


Sekarang pembahasan mereka berbeda, dimulai dari keluhan Adila terhadap bosnya si Kevin, sekarang beralih ke Nanda, teman satu angkatan masa kuliah dulu. Nanda Lim, sekarang sudah jadi profesi seorang dokter. Dokter umum dan praktek di salah satu klinik tidak jauh dari tempat Adila kerja.

__ADS_1


Membahas soal Nanda Lim, sebenarnya cakep, apalagi dia juga pintar. Selain itu banyak yang suka dengannya. Tetapi malah dia punya hati pada teman sendiri, ya, Adila. Hanya saja Adila tidak tau kalau Nanda diam-diam suka sama dia. Karena Adila tidak pernah ambil serius jadi dia anggap itu isu gosip anak-anak saja.


__ADS_2