Who, My Bos?

Who, My Bos?
Pertemuan Mendadak.


__ADS_3

Jam alarm di ponsel Adila berbunyi terus. Dia segera mematikan jam alarm selalu dia hidupkan. Sudah pukul tujuh pagi saja.


"Cepat banget sih, sudah pukul tujuh, perasaan baru merem mata ini," gerutu Adila bangun dengan malas. Masih duduk sambil menutup matanya. Yang belum sadar sepenuhnya.


Beberapa saat kemudian, ponselnya berbunyi lagi. Dia pun dengan malas mematikan jam alarm beberapa menit itu.


Adila sekali lagi menghela sangat berat, dia pun mencoba untuk kembali tidur di atas bantal. Dia benar-benar malas sekali untuk beranjak ke kamar mandi buat bersih diri.


Beberapa detik kemudian matanya pun terpejam. Tanpa ada lagi suara mengganggu mimpinya. Hingga angka jam berjalan terus tanpa peduli membangunkan dirinya di sana.


Suara keras di ponsel Adila mengagetkan dirinya, Adila pun bangun dengan keadaan sangat malas sekali.


"Halo."


Adila menjawab panggilan telepon tanpa melihat siapa yang menelepon. Terdengar suara sangat berisik di sana.


"Halo, Adila?" Suara yang berat itu pun mengumpulkan seluruh arwah Adila masuk kembali. Dia menjauhkan ponsel dari telinga dan dilihat nama tercantum di sana. SANDY ABHI UTOMO.


Adila langsung bangun dan posisi terduduk di sana. Lalu dia kembali menetralkan suaranya agar tidak terdengar bahwa dia dalam suasana tidur.


"Iya, Pak," sambung Adila menyahut panggilan dari Sandy.


Sandy sekarang sedang berada di salah satu rumah makan, sembari menunggu seseorang yang belum juga kunjung untuk datang. Kemudian entah kenapa dia menelepon Adila di jam bukan waktu yang tepat.


"Apa saya sudah mengganggumu?" tanya Sandy pada Adila.


Sandy tau sekarang Adila masih di rumah. Di jam seperti ini wanita itu pasti dalam keadaan malas untuk beraktivitas awal pagi hari tersebut. Entah kenapa Sandy sangat suka dengan kinerja Adila. Bahkan Sandy tau jika Kevin juga diam-diam menyukai Adila.

__ADS_1


"Hah? Gak kok, pak. Memang ada apa, ya, pak?" jawab Adila di seberang, sambil merapikan tempat tidurnya. Lalu bersiap untuk pergi mandi.


"Oh, saya mengira sudah mengganggu tidurmu," ucap Sandy sembari menyeruput kopi hitamnya.


Adila baru akan masuk ke kamar mandi, mematung seketika. "Bagaimana dia bisa tau, kalau aku masih tidur?" batinnya dalam hati.


"Kenapa? Kamu kaget bagaimana saya bisa tau?" lanjut Sandy berbicara.


Adila mencari kata-kata buat mengelak, tapi belum juga ada kata yang tepat. "Apa kamu bisa datang ke rumah makan Koto Gadang?" pinta Sandy pada Adila.


"Buat apa, pak?" tanya Adila kembali masuk ke kamar mandi dan menggantungkan handuk dan bajunya untuk dipakai nanti.


"Sudah datang saja, nanti juga kamu tau," jawab Sandy, lalu dia mematikan panggilan telepon tanpa beri kesempatan untuk Adila berbicara.


Adila pun bengong atas sikap CEO satu ini. "Sebenernya dia kenapa, sih? Lama-lama dia mirip kayak si CEO satu lagi," gerutu Adila mengomel tak jelas. Dia pun masuk dan segera mandi.


...***...


"Tumben cepat banget kamu di sini? Gerangan apa, sih, jangan-jangan ucapan dari oma kemarin?" sewot Kevin menarik kursi dan berhadapan dengan Sandy tengah bersandar sambil menikmati kopi hitam tersebut.


Sandy sangat menyukai aneka minuman berkafe. Tak ada satu ketinggalan pun minuman itu selalu menantinya. Seorang pelayan muda mengantar minuman teh hangat untuk Kevin.


Kevin beda lagi, dia tidak terlalu suka dengan minuman berkafe, dirinya perokok, jadi wajar kafe tidak baik buat dirinya.


"Tidak ada hubungannya dengan perkataan oma, kemarin kamu ke mana? Pakai acara hilang segala?" Sandy bertanya pada Kevin. Kemarin malam Kevin tiba-tiba menghilang bahkan wanita bersama Kevin juga tak kunjung kembali.


"Kenapa? Curiga? Penasaran? Ada, lah, aku mau ke mana? Bukan urusan kamu juga. Bukannya kamu itu kesayangan Oma?" jawab Kevin dengan sikap santainya.

__ADS_1


Kevin dan Sandy memang pria mempunyai ambisi sendiri. Kevin memang sering mengalah apa yang dimiliki oleh Sandy. Bahkan oma nya sendiri jauh lebih menyayangi Sandy daripada dirinya. Sementara dirinya sendiri, Kevin suka kebebasan. Walaupun sering ditegur, diceramahi panjang lebar oleh oma serta orang-orang terdekat mereka dengan sindiran tidak penting itu.


"Aku hanya bertanya, setidaknya kamu hargai pertemuan keluarga jarang sekali berkum ...."


"Maaf, Pak! Saya terlambat."


Adila datang tidak tepat waktu, Sandy berhenti berbicara, setelah suara seseorang mengagetkan mereka berdua. Adila berdiri di antara dua pria sekaligus. Kevin melirik Adila dari atas hingga bawah.


Penampilan Adila memang tergolong biasa saja, tapi enak dilihat. Meskipun hari ini adalah hari Sabtu. Pekerjaan santai dan baju pun santai. Adila hanya mengenang pakaian kaos polos longgar, kemudian celana panjang sedikit sobek di bagian lutut, lalu sepatu kain tanpa tali. Rambut yang panjang tentu dia ikat satu ke belakang. Jadi natural dipandang oleh dua pria tersebut.


Adila tidak sadar kalau orang yang akan dia temui dua CEO sekaligus. Kevin bergeming melihat Adila beda, jauh lebih beda dari biasanya. Seakan waktu tiba-tiba berhenti untuk mereka bertiga.


"Gak terlambat, kok. Santai saja, silakan duduk, kamu sudah sarapan?" Sandy menarik kursi untuk Adila.


Adila begitu segan, mau tak mau dia duduk di sebelah Sandy dan juga Kevin. Posisi ini lagi yang akan buat Adila semakin frustrasi. Menghadapi dua pria sekaligus, bukan hal wajar untuk Adila sekarang.


"Aku pikir pertemuan dengan Pak Sandy itu hanya berdua, kenapa biang rusuh juga di sini?" batin Adila mengumpat.


Kevin masih belum lepas dari pengamatnya, dia merasa aneh saja pada penampilan staf kasir satu ini. Sekian banyak wanita dia temui. Baru sekarang Kevin lihat Adila beda, sangat beda. Walau dulu dia suka cuek padanya.


Adila merasa risih diperhatikan oleh Kevin terus-terusan, dengan berani Adila bersuara. "Ada apa, Pak? Dari tadi lihat saya mulu? Memang ada yang salah dengan diri saya?" tanya Adila pada Kevin.


Kemudian Kevin membuang pandangan tempat lain. "Jangan sok kegeeran? Memang siapa lihatin kamu?" elak Kevin, bikin Adila jadi salah tingkah beneran.


"Kalau bukan saya yang Bapak lihatin, kenapa mata Bapak center-center terus dari atas sampai ke bawah? Bilang saja, deh, Pak. Gak usah dipendam nanti kualat!" sengit Adila, kali ini dia tidak mau lagi di sudut-sudut kesalahan. Karena Adila tau, Kevin tidak akan berani memarahinya. Karena ada Sandy di samping Adila.


"Baiklah, tumben kamu pakai baju seperti ini? Biasanya kamu pakai baju yang elegan, formal, terus sok rapi? Kok sekarang ...." Kevin menjeda kata-katanya.

__ADS_1


"Memang kenapa? Hari ini, kan, Sabtu, wajar dong. Sabtu bebas pakai baju apa saja. Senin sampai Jumat, ya, pakai baju kantor yang sopan. Sabtu pekerjaan santai, itu juga batas setengah hari, Bapak sendiri kenapa pakai baju santai? Bukannya Bapak juga suka pakai baju sopan, berjas, dan angkuh?" balas Adila, Kevin pengin banget sumbat mulut karyawannya ini.


Sandy dari tadi diam-diam senyum lihat dua orang ini berdebat tidak penting begini. Entah apa yang buat Sandy suka dengan sikap ceplas-ceplos Adila.


__ADS_2