
Kembali dari makan siang, Adila mengambil kunci. Tempat kerjanya, dia sengaja kunci. Biar tidak ada yang sembarangan masuk. Saat dia hendak buka tiba-tiba seseorang memanggil namanya.
"Adila."
Adila terkejut dan menoleh tidak ada siapa-siapa. Ya, gimana tidak sepi, orang masih jam berapa. Padahal sudah pukul dua siang. Masih belum ada tanda apa pun di kantornya.
Adila pura-pura tidak dengar, ketika pintu kantornya sudah terbuka oleh kunci. Sebuah tangan menepuk pundaknya.
"Ya Tuhan, kalau memang dia jahat, musnahkan dia dari hidupku!" gumam Adila berseteru.
Tidak penting walau masih siang, ada makhluk tak kasta mata mulai nongol buat mengganggu.
"Memang saya begitu jahatnya sampai harus diusir?" ucap seseorang yang tidak asing lagi oleh Adila sekarang.
Dengan cepat dia buka mata yang sempat merem. Lalu dia berbalik. Di sana ada sosok pria yang tampan banget.
"Kamu? Kok bisa ada di sini?" Untung Adila cepat sadar. Masih bingung pada orang di depannya bisa senyum-senyum seperti itu.
"Ada kerjaan," jawabnya santai.
Adila lihat dari penampilan segi mana pun tetap saja oke di mata para wanita. Entah kenapa Adila tidak terlalu tertarik padanya. Yang pasti ada, lah, satu atau dua tiga orang tertarik pada sahabat baik yang sudah membantunya kemarin soal surat izin sakit.
"Kerjaan?"
Beberapa suara berbeo semakin mendekat dan di sana Adila bertemu dua sepasang mata menatapnya. "Iya, kok kamu makin hari bawel sih, pokoknya aku sudah dewasa, gak perlu kamu ingatin lagi," celoteh seorang wanita cantik dan imut.
Adila belum pernah bertemu wanita itu. Manis dan kulitnya jauh lebih bersih bahkan putih. Adila seperti sosok wanita baru pulang dari orang utan. Belum itu saja, Adila juga sempat melirik Kevin. Penampilannya makin beda saja. Baju yang di pakai oleh Kevin sama, kembaran dengan wanita di sebelahnya.
"Loh, Nan. Belum balik? Katanya banyak pasien. Kok masih di sini?" tanya wanita itu sembari pecahkan suasana hening.
"Ini juga mau balik. Kebetulan ketemu sama teman, jadi ngobrol sebentar? Kalian mau keluar? Prawedding, nih?" jawab Nanda sekaligus menggombal kedua orang di depannya.
Wanita itu tersenyum sipu malu, tanpa malu dia memeluk lengan Kevin sangat manja. Kevin sendiri cuek saja. Malahan dia bisa-bisanya mengelus rambut kepala wanita itu. Diperkirakan oleh Adila usia wanita itu masih belia.
__ADS_1
"Prawedding? Apa mereka pacaran? Apa mereka akan menikah?" batin Adila masih mempertanyakan.
"Begitulah, aku sama Kevin mau photo prawedding. Agak susah ajak dia photo berdua. Apalagi, ya. Alasan dia itu banyak, setelah nanti selesai prawedding. Kamu jangan lupa datang, ya! Bawa pasangan mu juga," jawab wanita itu.
Adila pusing memikirkan ada apa dengan dirinya. Setahu dia, bagaimana Nanda bisa kenal dengan Kevin. Padahal waktu kemarin dia izin tidak masuk. Kevin tiba-tiba datang ke kafe di mana dia dan Nanda nongkrong.
"Sip, tenang saja," balas Nanda mengangkat satu jempol padanya.
"Ya sudah, aku duluan ya. Yuk! Pokoknya kamu harus belikan itu, aku gak mau tau. Kamu tau bentaran lagi kita menikah," rengek wanita itu pada Kevin. Setelah pamit pada Nanda dan Adila di sana.
Adila masih memperhatikan sosok dua pasangan itu hingga menghilang. Ada yang mengganjal di benaknya. Entah kenapa Adila merasa aneh, kalau si Bos satu itu di dekati oleh wanita lain. Nanda dari tadi perhatikan temannya tanpa kedip sedikitpun.
"Sepertinya kamu cemburu sama mereka?" tebak Nanda.
Adila langsung mengelak, "Hah? Enak saja, siapa juga cemburu. Dia bukan siapa-siapa aku juga."
"Masa?"
"Apaan? Sudah, katanya mau balik. Hus, Hus, Hus! Aku mau kembali kerja lagi." Adila mengusir Nanda dari kantornya.
"Dil!"
Nanda memanggilnya, Adila menoleh, "Apa?" sahutnya.
"Habis jam kantor, malam kamu ada acara, gak?" tanya Nanda pada Adila. Kali ini serius pertanyaannya.
"Gak, kenapa?" balas Adila.
"Mau ajak kamu makan, kalau kamu gak keberatan," ucapnya serius.
Adila membisu sebentar, "Jam berapa?" tanyanya kembali.
"Kamu bisanya jam berapa? Atau habis pulang dari kantor?"
__ADS_1
"Boleh, terserah kamu saja, kamu yang ajak, kan?" senyum Adila.
Nanda juga membalas senyuman Adila, lalu tanpa ada yang tau, Adila terdiam dan melebarkan dua bola matanya. Nanda mengecup kening Adila tiga detik. Kemudian suara dari depan pintu kaca masuk arah lobi. Teman-teman satu kantornya sudah kembali dari makan siang.
"Nanti sore aku jemput, see you!" Nanda pun keluar ketika orang bagian pembelian membuka pintu tersebut.
Mereka sempat berpaling arah di mana Nanda keluar. Lalu mereka menatap Adila juga akan masuk ke kantornya.
"Dil, siapa pria tadi?" tanya Lita.
"Pacar mu?" sambung Fenni.
"Sembarang! Bukan, teman ... kebetulan dia ada urusan tadi sama bos Kevin," sanggah Adila.
"Benaran nih, teman saja? Tadi aku sempat lihat loh. Dia sempat cium kening kamu, sekilas sih. Apa mungkin mataku yang salah atau pada gimana gitu?" cemooh Devita.
Adila terdiam, dia mana bisa mengelak lagi. "Benaran cuma teman, kalau pacar ngapain dia ke sini, pastinya aku sudah beritahu kepada kalian, juga, kan?"
"Ya bisa jadi, kamu sengaja gak mau kasih tau. Jadi bisa juga dia datang mau lihat sayangnya baik-baik saja, atau cuma gak peduli," tutur Devita.
Lita dan Fenni manggut-manggut, seakan setuju atas ucapan Devita. "Betul itu, sudah ngaku saja. Pria tadi Benar-benar pacar kamu, kan, Dil?"
"Sudah aku jawab, dia bukan pacarku, tapi teman!" ngotot dan bersikeras mengakui kepada ketiga temannya.
Sementara di mobil, Yunna melirik pria yang dari tadi diam. Bahkan tak ada satu kata pun yang terucap dari mulutnya.
"Apa begini lebih baik? Kenapa kamu gak ungkapin saja terus terang sama dia? Kenapa harus pakai cara sandiwara seperti ini? Kalau bang Sandy tau aku pura-pura sebagai kekasih mu, terus tunangan kamu, aku bisa-bisa ...."
"Dia sudah tahu, jadi dia gak akan pernah marahi kamu. Apalagi kamu, kan, adik satu-satunya yang paling dimengerti," potong Kevin sekaligus mengangkat satu tangan dan mengelus rambut adik bungsunya beda dari ayah.
Selama ini mereka memang diam-diam untuk tidak mengungkapkan siapa Yunna di keluarga Wijaya. Apalagi Kevin sangat sayang pada adik tirinya. Meskipun Kevin dan Sandy sangat menyayangi Yunna seperti adik sendiri.
"Ya, Yunna tau. Tapi apa gak sebaiknya bicara baik-baik. Apalagi pura-pura mengatakan Yunna mau photo prawedding sama kamu. Kalau saja bukan saudara tiri beda ayah. Sudah Yunna rebut. Siapa sih namanya?" cemooh Yunna sambil mengingat Adila.
__ADS_1
"Adila, namanya Adila Vegawati, di panggil Dila," jawab Kevin memberitahu kepada Yunna.
"Iya, Dila. Namanya bagus, sesuai dengan orangnya. Nanti nama di gabung sama Bang Kevin jadi KEDIL!" Kevin langsung memelototi Yunna.