Who, My Bos?

Who, My Bos?
Lamaran Kedua.


__ADS_3

Ponsel Deliana kembali berdering, dia kayak orang setrika bolak-balik ke sana ke mari. Pagi-pagi dia sudah diributkan beberapa panggilan telepon dari Anggi, Finna, sama Mega.


Entah apa yang buat dia harus sesibuk ini. Apalagi semalam dia ketiduran karena memikirkan masa kuliah di mana dia mengenal Agus. Terus lagi pertualangan dunia mimpi, malah panggilan ponsel itu membangunkannya. Sekarang dia berada di pajak atau pasar. Antri panjang banget itu jualan nasi ayam.


"Ya, Meg, ada apa?"


"Del, boleh titip beli nasi Padang?"


"Jam segini cari di mana nasi Padang? Kamu ada-ada saja, deh, titip sarapan," protes Deliana, sambil lirik sana-sini mungkin dia jumpa jualan nasi Padang.


"Ada tuh, di simpang Madong Lubis, paling ujung samping gang Gajah," kata Mega.


"Oh itu, ya sudah nanti aku beli setelah antre dari nasi ayam pesanan Finna," ucapnya kemudian.


Dia pun memasukan ponsel ke kantong, beberapa detik dering lagi ponselnya. Sepertinya baterai ponsel Deliana tahan lama. Sudah berapa panggilan ponsel itu berdering tanpa henti.


"Apalagi, Nggi! Nasi ayammu antre rame, sabar, ya! Eh, sebenarnya ada acara apaan, sih? Sampai minta aku beli sarapan segitu banyak gini?" cecar Deliana, seenggaknya dia tau soal mendadak suruh ke pajak cuma beli sarapan.


"Gak tau, pak Dani, tuh, yang suruh. Aku saja tadi bangun terlambat, terus dia suruh aku ke Alfa mini beli beberapa minuman. Lah, Alfa mini saja buka jam berapa, ya, terpaksa cari di kelontongan," jawab Anggi curhat.


Deliana gak tanya lagi. "Kak, saya pesan nasi ayam sepuluh bungkus, terus nasi ayam Hainam masih ada?" Giliran dia pesan sarapan.


"Habis," jawab penjualnya.


"Yang ada, apa?"


"Tinggal nasi tim, bihun bebek, mi pangsit, sama lontong," jawabnya.


Deliana melenguh penjualnya bungkus nasi ayam di pesan sama Deliana tadi. "Kalau gak, nasi ayam hainam-nya ganti ..., nasi tim lima bungkus, sama bihun bebek lima bungkus," ucap Deliana.


Penjualnya mengerti, dia pun membuat pesanan tersebut. Terus Deliana lihat jam tangan melingkar di pergelangan, pukul 08.34 pagi.


"Nanti saya balik ke sini, saya ke tempat lain dulu," kata Deliana pada penjualnya. Penjualnya cuma ucap tanpa suara dengan kode 'oke'.


Dia pun pergi ke tempat di mana Mega beritahu tempat yang jualan nasi Padang. Ramai banget pasarnya. Apalagi padat banget, demi cepat bisa beli semua sarapan. Kembali ponselnya bergetar. Deliana gak angkat karena di sini sangat ramai. Sampai di rumah makan di tuju oleh Mega. Barulah dia berani angkat panggilan itu.


"Halo."


"Lagi di mana?" Suara dari Agus.


"Lagi di pasar," jawabnya.

__ADS_1


"Jangan pakai sambal, sambalnya dipisah saja," ucap Deliana pada penjual itu.


Agus yang dengar suara Deliana sibuk bicara sama penjual. Dia pun memarkirkan mobil tersebut.


"Masih lama?" tanya Agus.


"Lumayan, kamu di mana sekarang? Boleh minta tolong?"


Agus sudah tau kalau bawaan Deliana banyak. Dengan senang hati dia bantu. Apa, sih, gak buat dia.


"Tolong apa?"


"Tolong bantu bawa belanjaan. Banyak ini, pagi-pagi sudah repotin orang saja. Lama-lama aku kerja macam rodi, nih!" ngomel Deliana, sambil bayar pesannya sama penjual.


"Ya sudah, kamu di mana sekarang. Kamu tunggu di sana. Saya nyusul," ucapnya kemudian.


Padahal Agus sudah lihat di mana Deliana sekarang. Percuma punya GPS, mana pun bisa di lacak sama dia. Jadi kalau kesasar juga gak akan hilang jejak.


Deliana tunggu di depan dan beritahu sama Agus keberadaannya. "Aku ada di depan apo ...."


Tiba-tiba seseorang memegang bawaannya buat dia kaget setengah mampus. Dikira copet, Deliana memang jarang ke pasar. Soalnya banyak copet, jadi dia sering perlambat waktu saja.


"Ah! Bapak ini, kalau sampai bersuara, kek! Saya kira pencopet dari mana!" seru Deliana takut setengah mati.


"Hampir!" Deliana berlalu meninggalkan tempat itu, kemudian kembali ke tempat nasi ayam tadi.


Pukul 09.12 pagi, Deliana memijit bahunya begitu pegal. Akhirnya selesai semua apa dipesan oleh teman-teman satu divisi di kantor.


Waktunya ke kantor, seperti biasa di antar sama Agus pastinya. Sekarang Agus akan setiap hari antar jemput Deliana ke kantor. Pulang juga di antar, tapi sampai rumah malam.


...***...


Sampai di kantor, Agus meminta satpam bawakan bungkusan plastik ke lantai delapan. Deliana tentu ikut bawa dong. Satpamnya diam-diam bae, gak ada tanya-tanya kenapa datang bisa bareng sama bos.


Sampai di lantai delapan, Deliana masuk, gak ada satu pun orang di tempat. Sepi banget. Deliana pun bingung jadinya. Dia letakan sarapan itu di atas mejanya. Setelah itu dia keluarkan ponsel untuk telepon Anggi.


Saat suara nada itu tersambung tiba-tiba terdengar suara musik soundtrack yang memang di atas gedung tersedia musik selow buat pekerja gak suntuk makin semangat kerja gitu. Biasa musik itu diputar di ruang IT.


Deliana mengabaikan musik itu diputar soundtrack dengan lagu Bruno Mars - Marry you.


Satu per satu lampu di ruangan lantai delapan mati total. Deliana terdiam terpaku, dong, di tempat. Dia merasa kayak bagaimana, lah. Beberapa menit kemudian, ada cahaya lampu kecil semacam senter ponsel.

__ADS_1


"Nggi, Anggi? Itu kamu bukan?"


Deliana panggil Anggi, dong. Ya, siapa juga gak takut tiba-tiba lampu mendadak mati begitu. Tapi musik soundtrack-nya masih berputar.


"Kalian jangan aneh, deh, Fin, Meg." Satu per satu Deliana panggil.


Kemudian seseorang pegang tangan Deliana dong. Sontak Deliana kaget mati total. Mau teriak takut, bisa-bisa setan di pagi hari.


"Hei! Kalian! Please jangan gini, dong!"


Deliana berusaha ngomel, dia gak peduli orang dengar gimana. Padahal di ruangan ini semua tahan tawa. Sampai terdengar suara decitan kursi tergeser. Deliana kaget, dong. Dia mundur tapi seperti di halangi sesuatu gitu.


Kemudian satu per satu lampu itu hidup, tapi buat Deliana diam pada posisinya. Suara langkah kaki pun terdengar bersamaan dengan lampu yang hidup itu. Barulah Deliana melebarkan kedua mata sosok seorang pria berdiri membawa sebuket bunga berikan padanya. Terus di belakang pria itu ada tulisan sangat besar.


Deliana Citrasenia Valenteen.


Kamu adalah mutiara yang tersimpan di cangkang terawat begitu baik.


Seperti dirimu tanpa berubah, bahkan buat siapa pun terpesona akan keluguan dan keunikan pada dirimu.


Saya, Agus Antoniusetya Darmawan. Kembali untuk melamar dirimu menjadi pendamping hidupku serta calon anak-anak serta cucu cicit kita nantinya.


Maukah kamu menikah denganku?


Will you marry me?


Deliana Citrasenia Valenteen, I love you forever.


Deliana yang baca pun melongo, bukan melongo tapi tersentuh. Kata-kata yang begitu manis. Satu per satu teman-teman lainnya keluar dari salah satu pintu tertutup gak ada yang tau kalau itu pintu rahasia. Mereka menyanyikan lagu Bruno Mars lagi.


Kali ini Deliana gak bisa berkutik sama sekali, semua teman di sana menyaksikan momen, dan bunga dipegang oleh Deliana. Agus di depannya sudah bersiku lutut mengeluarkan sebuah kotak cincin, siapa gak akan bisa miliki.


Agus sampai nekat lakukan ini agar Deliana mau menerimanya. Deliana masih sibuk lihat teman-teman lainnya. Bukan lantai delapan saja, ada yang dia kenal. Ada Sarah dan Indra, ada juga Pak William, teman-teman Agus. Eh, ada sahabatnya juga. Deliana kaget dong, bagaimana bisa mereka lakukan begitu sempurna.


"Deliana, sekaligus mantan murid saya yang paling cerewet, tukang protes, suka semaunya. Saya tulus dengan hatiku, saya tahu ini akan buat kamu sedikit terkejut, bahkan malu sekali. Ada orang terdekat hadir di sini. Saya yakin seyakinnya dan benar-benar tulus, ikhlas untuk melamar dirimu untuk kedua kalinya. Dengan cincin ini sebagai saksi mata kita berdua. Saya, Agus Antoniusetya Darmawan kembali menghadap untuk melamar seorang wanita yang bertahun-tahun saya pendam dan saya rindu. Sekarang saya gak akan sungkan-sungkan untuk berkata jujur. Saya cinta padamu pertama menjadi murid tersayang ku, bersediakah kamu menjadi calon istriku dan calon anak-anak ku serta pendamping hidupku selama-lamanya?" ungkap Agus panjang lebar.


Dia sudah menunggu momen tepat agar Deliana mau menerima. Walau seberapa banyak dia keluarkan untuk bisa mendapatkan hati seorang wanita dia idam-idamkan. Deliana sendiri masih bingung, tapi dia percaya melalui mata Agus. Pria di hadapannya benar-benar tulus dan cinta dengannya. Mungkin sudah saatnya dia menerima, diusianya yang ke-27 tahun sudah tepat untuk menikah.


Suara sorak dari teman-teman menggema di gedung PT. Indo Nusaraya Industri ini. "Terima! Terima!"


Deliana mengangkat tangannya ke arah kotak cincin itu. Deliana mengangguk dan berkata, "Ya, saya terima kamu menjadi suami dan calon anakku," jawabnya.

__ADS_1


Akhirnya suara teriakan sorak menggema membuat Agus berdiri dan memasangkan cincin ke jari manis Deliana. Lalu Agus mengecup keningnya, masih sempat mengucapkan pada Deliana.


"Terima kasih, Cinta."


__ADS_2