
"Pak! Bisa gak jangan kayak anak kecil? Kembalikan!" Deliana berusaha merebut gadgetnya dari Agus.
Tetapi Agus penasaran dan kepo saja sama gadgetnya si Deliana. Deliana berjinjit dapat meraih ponsel dari Agus, sehingga posisi mereka berdua tak dapat terelakkan. Deliana dan Agus jatuh di tempat tidur, namun Deliana belum usai untuk menyudahi perebutan gadgetnya.
Agus dengan jarinya sibuk mengetik sesuatu, kemudian seseorang muncul dari kamar Deliana.
"Delia, Kakak boleh pinjam catokan rambut kamu ti-dak? Oh my god, Bang Indra ke sini sebentar?!" Sarah berteriak memanggil suaminya yaitu Indra. Indra datang dan menghampiri istrinya.
"Ada apa Sayang?" sapa Indra, Sarah menempelkan jari telunjuk ke bibir Indra.
Suara berisik di kamar Deliana dengan Agus masih dijaga ketat oleh Sarah dan Indra.
Sarah membuka perlahan pintu kamar Deliana, Indra sebaliknya juga mengintip. Membulat kedua mata Indra, sang adik iparnya sedang duduk di perut Agus.
"Kayaknya sudah waktunya deh adik tersayangku menikah," ucap Sarah mengangkat suara lebih dulu.
Deliana yang kesal atas sikap Agus padanya. Saat itu pula Deliana menghentikan aksinya untuk merebut kembali gadgetnya karena sumber suara arah pintu keluar kamarnya.
"Maksud Kakak?" Deliana bertanya atas ucapan dari Sarah.
Sarah melebarkan pintu dan masuk bersamaan dengan Indra yang senyum-senyum menyelidiki Agus dan Deliana.
__ADS_1
Agus bangun terduduk dan Deliana di pangkuannya.
"Sudah sejauh mana hubungan kamu dengan Agus?" Kembali Indra bertanya pada Deliana.
Deliana semakin melotot dengan pertanyaan dari abang iparnya itu?
"Hubungan apa? Aku dan Pak Agus gak ada hubungan apa pun?! Abang jangan ngaco deh?!" cela Deliana semakin bingung sikap mereka ada di rumah ini.
"Yakin?" Indra malah tak yakin kalau Deliana tak memiliki hubungan apa pun dengan Agus.
"Iya loh, Bang! Aku sama Pak Agus gak ada hubungan apa pun?! Kenapa sih kalian bertiga aneh banget?! Apalagi Bapak, kenapa datang ke rumah tanpa di undang." Deliana semakin kesal dan turun dari pangkuan Agus.
"Bapak sudah kasih tau, saya datang ke sini mau melamar kamu," sambung Agus angkat bicara.
"Kamu bisa saja menolak saya, bagaimana dengan saudara ipar mu? Mereka tidak keberatan jika saya melamarmu menjadi istri masa depanku," ungkap Agus tenang dan masih bermain ponsel milik Deliana.
Deliana memutar bola matanya kesal, kemudian ia menatap Sarah dan Indra sedari tadi diam di tempat menyaksikan perdebatan antara mantan murid dan mantan dosen.
"Aku gak bakal mau nikah sama dia?! Ingat itu, Bang Indra dan Kak Sarah!" Tunjuk Deliana pada Agus tetap matanya tertuju pada Indra dan Sarah.
Sarah dan Indra saling berganti pandangan, seperti berbicara hati ke hati. Senyuman terpancar oleh mereka berdua. Deliana berharap kalau saudara iparnya itu mendukungnya.
__ADS_1
"Menurut kakak tak salahnya menerima Agus di keluarga ini? Apalagi Agus--orangnya bagus, walau mantan dosen mu. Tetap saja dia dosen terbaik sehingga kamu bisa diterima perusahaan sangat besar, harusnya kamu berterimakasih sama Agus," ucap Sarah membela Agus dan tak mendukung adiknya sendiri.
"Apa? Baik? Baik dari mana coba? Bang, abang gak mungkin mau kan punya calon saudara ipar yang kayak ...."
"Menurut aku ... tak ada salahnya, benar kata Sarah. Agus orangnya baik, mapan, meskipun bukan dosen lagi. Di mata ku dia orang beda dari pria mana pun," lanjut Indra berbicara.
Deliana terperangah tak percaya dengan saudara iparnya, apalagi sang kakak tercintanya juga. Deliana melirik tajam ke Agus, Agus malah mengedip sebelah matanya.
"Pasti bapak sudah menghasut Kak Sarah dan Bang Indra?! Pokoknya saya tak sudi punya suami kayak bapak! Jangan HARAP?!" Deliana beranjak keluar dengan ekspresi kesal campur nano-nano.
Agus semakin gemas melihat sikap Deliana saat marah dan kesal padanya. Ia semakin cinta banget, dan pengin segera menikahi wanitanya.
Sarah dan Indra selalu mendukung Agus untuk bisa mengambil hati Deliana.
"Tetap semangat, Deliana hanya kesal. Mungkin saja dia kaget saat kamu datang berkunjung ke rumah ini," ucap Sarah beri hiburan pada Agus.
"Tidak apa-apa, saya akan sabar. Sampai Deliana tulus menerimanya kehadiranku nanti," kata Agus menyakinkan dirinya sendiri.
"So sweet! Andai saja aku bisa dapatkan dirimu mungkin bukan Indra yang menikah denganku," cicit Sarah bisa-bisanya buat cemburu Indra di depan Agus.
Bagi Indra sudah tak pengaruh soal cemburu, karena Sarah tak mungkin punya hati pada Agus. Pada dasar pernikahan Indra dan Sarah juga berujung sebuah permainan masa kuliah dulu.
__ADS_1
...****...