Who, My Bos?

Who, My Bos?
Menunggu.


__ADS_3

Deliana keluar dari mobil taksi, kemudian dia berikan beberapa lembar kepada supir taksi itu. Setelah itu dia berlari kecil masuk ke bandara.


"Semoga masih sempat," pikirnya.


Deliana tidak tahu kenapa dia harus menelepon kakaknya, perasaannya hampa setiap mendengar suara-suara Agus yang tidak ada disebelahnya. Bahkan dia menolak Agus, menolak cinta dan perasaannya. Deliana memang gengsi, apakah dia sudah merasa bahwa dia akan kehilangan Agus, mantan dosennya yang sering buat dirinya kesal serta menjengkelkan setiap mata kuliahnya.


Akan tetapi berkat mantan dosennya itu, Deliana sadar. Dia diterima oleh perusahaan besar. Apalagi dia sudah dipercaya oleh teman-teman lain atas kemampuan dia miliki selama menyelesaikan pendidikan dengan gelar Sarjana Ekonomi.


Semua mata kuliah diajarkan oleh Agus, sangat bermanfaat untuknya. Walaupun dia kembali pertemukan lagi mantan dosennya. Deliana tidak berharap atau memang dia berharap bisa bertemu lagi dengan dosennya ith lagi. Jika bukan permainan Adila saat duduk di kafe. Mungkin Deliana tidak akan tahu betapa pengorbanan mantan dosennya menanti dan menunggu agar Deliana mau menerima cintanya.


Deliana menyesal, dia menyesal harus menyia-nyiakan perasaan Agus. Meskipun Deliana sangat membencinya. Deliana sudah melupakan masalah dengan mantan kekasih Agus. Deliana hanya kesal, dia tidak ingin mengungkit semua permasalahan atas cinta Agus untuknya.


Sarah dan Indra berbalik di sana dia melihat Deliana berlari tersenggal-senggal. "Di mana pak Agus?" Deliana masih bisa menanyakan keberadaan Agus.


Agus sudah masuk ke pesawat tujuannya. Sarah dan Indra hanya senyum iba. "Dia sudah pergi, pesawatnya baru saja lepas landas," ucap Sarah.


Deliana kecewa dia terduduk lemas, dia merasa sia-sia datang ke sini. Hanya ingin mengatakan sesuatu. Tapi sudah tidak ada lagi, orang yang peduli, pengertian, perhatian, sudah pergi. Kapan lagi dia kembali, Deliana pun tidak tahu. Kalau saja dia mendengar apa dibicarakan Anggi waktu kerja. Pastinya dia tidak akan se-acuh ini.


"Dia beri ini untuk kamu." Sarah menyodorkan secarik kertas kepada Deliana.


Sarah tahu, Deliana pasti akan kehilangan orang yang tulus mencintai dan mengejar demi bisa membalas perasaannya. Deliana membuka kertas itu, hanya tiga kalimat tertulis sangat rapi.


Pada akhirnya Deliana hanya menuangkan semua air mata. Selama ini dia tidak pernah menangis seolah dia benar-benar kehilangan orang yang tulus padanya. Sekarang dia bisa apa? Membalas kalimat dikertas itu? Percuma orangnya sudah pergi. Bahkan untuk mengucapkan selamat berpisah saja tidak sempat.


Sarah memeluk adiknya. Sarah sangat mengerti perasaan Deliana. Sarah juga sedih kehilangan sahabat sebaik Agus. Jika keputusan itu dia ambil. Sarah tidak bisa memaksa lagi. Mungkin perjuangan cinta Agus berakhir sampai di sini.


Deliana tidak mengatakan apa pun, dia meluapkan semua tangisan di dalam bandara. Dia tidak peduli dengan orang sekitar melihat tangisannya. Perjalanan pulang, tidak ada satu kata keluar dari bibir Deliana. Sarah melirik lewat kaca depan. Melihat adiknya begitu iba. Bahkan Indra yang sebagai pengemudi juga ikut melirik melihat bagaimana murungnya Deliana.


Malamnya Deliana dari tadi tidak keluar dari kamarnya. Sampai rumah, Deliana langsung ke kamar. Sarah mengetuk pintu kamar adiknya. Tidak ada sahutan apa pun. Sarah pun menekan gagang pintu itu tidak dikunci. Lalu dia masuk melihat adiknya sedang duduk merenung dengan laptop menyala.


"Malam-malam nggak baik melamun nanti jodoh kabur, loh," tegur Sarah menepuk tangan adiknya.


Deliana menoleh, tapi tidak ada senyuman atau balasan protes darinya. "Makan yuk! Bang Indra baru saja selesai masak," ajak Sarah.


Ia pun mengiakan, meletakkan laptop atas tempat tidurnya, keluar dari kamar, dan makan bersama. Pada makan malam, Sarah perhatikan adiknya tidak menyentuh nasinya.

__ADS_1


Sarah menghela. "Kenapa nggak di makan? Apa kurang enak masakan Indra?" tanya Sarah pada Deliana.


Deliana mendongak dan senyum. "Gak kok," jawabnya pelan.


Sarah mendesah. "Mana Adik rewel yang dulu, suka mengomel, kalau nasi nggak boleh di aduk-aduk kayak gitu nanti rezeki kabur?" Sarah menyalin kalimat Deliana suka mencibir dirinya.


Deliana meletakkan sendok dan garpu, kali ini tidak sentuh lagi. Sarah memang susah menghibur adiknya.


"Apa dia nggak akan kembali ke sini lagi?" Deliana bertanya pada Sarah. Sarah mendelik apa yang dia dengar tadi. Apa Sarah tidak salah dengar, sejak kapan adiknya peduli Agus kembali apa tidak.


"Kenapa? Kamu merasa kehilangan?" Giliran Sarah bertanya.


"Gak!" jawabnya dusta.


Indra baru mau buka suara tapi sudah dipotong sama istrinya. "Yakin?"


Deliana mengalihkan dan mengiakan. "Terus kenapa kamu tanya ke Kakak. Dia kembali atau nggak? Tinggal jawab, iya atau oke, saja susah banget. Kamu tahu jarang ada pria seperti Agus mengejar cinta selama 8,5 tahun hanya untuk bisa mengenal lebih dekat, tapi kamu malah ..., sekarang baru tanya, dia nggak akan kembali ke sini lagi?"


Sekarang Sarah yang menceramahi adiknya. Deliana tahu itu salah. Dia bahkan belum siap menerima karena permainan dari Adelia itu.


Sudah satu bulan Deliana duduk di kafe dengan tatapan kosong. Dia menghela untuk berapa kali. Dia merasa aneh pada dirinya sekarang. Apa yang buat dia seperti ini. Sejak kepergian mantan dosennya. Bahkan email yang pernah Deliana kirim beberapa tahun lamanya, sejak tidak pernah komunikasi. Apalagi email yang pernah aktif saat dia masih di perkuliahan dengan akhir semester dan diberi tugas tambahan dari mantan dosennya itu.


Apalagi nomor telepon yang terakhir Agus telepon menjemputnya, membuat hatinya shock atas perbuatan dia lakukan untuk mencoba mati bersamanya itu juga sudah tidak aktif lagi.


Padahal Deliana berharap sangat ada keajaiban pesan dari email atau pesan chat whatsapp, nomor asing masuk ke ponselnya. Tetap saja nihil.


Di sinilah Deliana kembali mengenang di mana dia dan Adila melakukan satu permainan. Permainan paling konyol pernah dia terima. Apalagi kesialan itu berturut-turut hingga membuat dia sulit melupakan sosok pria yang selalu membuat dirinya jengkel dan dongkol.


Kini dia bisa berharap apa lagi? Meja yang Deliana pandang di tempati oleh sepasang kekasih. Punggung dan model rambut juga hampir sama. Deliana berharap sosok pria itu. Tapi saat pria itu berputar, bukan. Agus jauh lebih tampan.


Deliana hanya cengir sendirian seperti orang gila. Lama-lama dia tak akan waras lagi kalau seperti ini. Sepertinya dia butuh psikiater. Suara ponsel Deliana berbunyi, Deliana memeriksa dan membaca, hanya satu embusan panjang. Sejak atasan kembali memegang perusahaan. Pekerjaan Deliana semakin banyak. Sampai-sampai lembur tanpa uang tambahan. Bisa-bisa Deliana cuma akan bisa bertahan tiga bulan kerja di PT. Indo Nusaraya Industri.


"Eh? Sudah mau kembali?" Adila baru saja bawa makanan dia pesan.


"Hmm, atasan tua bangka itu sudah mengirim pesan singkat, oh ya, nanti aku nebeng kamu pulang lagi ya!" ujarnya berlalu pergi sambil comot kentang goreng Adila.

__ADS_1


"Lembur lagi!" teriak Adila, Deliana cuma mengangkat jempol mengodekan betul.


Deliana melambaikan taksi di depannya. Kemudian dia segera kembali ke kantor. Sebenarnya dia malas kembali, kalau saja bukan atasan sialan itu.


Tepat di tengah jalan lampu merah sangat lama berubah menjadi hijau. Deliana sempat menatap luar jendela, sebuah perhotelan berbintang tiga. Dulu Deliana berencana ingin kerja di perhotelan seperti Adila dan Mina. Apalagi lihat Adila santai banget.


Ponsel Deliana bergetar di tasnya, Deliana langsung merogoh, dan lagu Mahen menggema di dalam mobil taksi tersebut.


"Ya, Halo?"


"Del, kamu di mana sekarang?" suara Anggi sepertinya ada masalah, tidak biasa kalau Anggi sambil membisik.


"Masih di jalan, macet, kenapa?" jawab Deliana.


"Gawat, Del! Pak William ...."


Anggi belum selesai bicara, terdengar suara William menggema sangat besar. Hingga semua karyawan di lantai delapan terdiam. Dia jelas mendengar kalau sekarang akan dapat musibah jauh lebih besar.


"Ya sudah, Del. Cepat balik, gak asyik marah terus tuh orang tua."


Anggi menyudahi teleponnya. Dia sampai sembunyi di toilet. Rasanya itu tidak enak banget. Kalau William uda marah soal barang produksinya tertunda sangat banyak akibat kotak dipesan belum jadi-jadi. Padahal hari ini sudah mau ekspor.


Beberapa menit Deliana turun dan berikan uang pada supir taksi. Deliana bergegas masuk, dan menekan tombol lift. Lift masih angka ke sembilan, dia terpaksa naik tangga darurat.


Untuk bisa capai lantai delapan butuh waktu. Belum lagi sepatu tiga inci Deliana pakai tidak akan membantu dirinya sampai tujuan. Dia lelah berhenti sebentar di lantai lima. Lalu dia melanjutkan lagi menaiki lantai ke enam hingga ke delapan.


Dua puluh menit akhirnya Deliana sampai di lantai dia tuju. Dia merapikan pakaian, rambut, dan keringat. Kemudian dia dorong pintu kaca besar itu. Aurora yang bagian stok menoleh.


Deliana senyum padanya, suasana di lantai ini hening, masing-masing kembali ke posisi dan kerja. Deliana pun pelan-pelan melangkah ke mejanya, di sana Anggi menoleh.


Anggi mencolek bahu Deliana, Deliana menoleh. Anggi cuma berikan kertas padanya. Dapat Deliana lihat dua mata Anggi memerah. Pasti habis menangis, benar-benar kejam atasan tua bangka itu.


Deliana membaca kertas itu, di sana Deliana hanya mendesah. Dia pun berjalan ke ruangan atasan itu. Di sana Santi menatap Deliana. Santi hanya beri senyum hambar.


Deliana mengetuk tiga kali, lalu terdengar suara meminta masuk. Deliana menekan gagang pintu, dan mendorong. Dia pun sudah siap dimaki oleh atasan sendiri. Deliana sudah pasrah, dia sudah lelah hadapi pekerjaan yang kacung ini.

__ADS_1


__ADS_2