Who, My Bos?

Who, My Bos?
Keluhan Adila.


__ADS_3

"Bete lagi?" tebak Mirna masih sibuk sama laptop yang gak pernah lepas-lepas. Seolah itu laptop pacar setianya.


Adila mengangguk lemas, dia memang bete, sangat bete malahan. Habis ambil cuti beberapa hari di kantor. Dia dapat tambahan sama Bosnya sendiri. Tambahan buat selesaikan laporan pekerjaan dari cost controller.


Pekerjaannya gak pernah habis-habis, asli dia pengin resign. Dia pernah minta dinaiki gaji sama bosnya. Tapi si bosnya itu pelit minta ampun. Buat naikin gaji upahnya dua ratus ribu saja, susah gak ketolongan.


Menyesal dia kerja tulis gaji sesuai upah dia inginkan. Pada kenyataan upah dia dapat tidak sepadan dengan pekerjaan dia kerjain. Mirna enak, punya kafe sendiri, mau ngapain gak ada yang openin. Punya pengusaha sendiri lebih bebas daripada kerja sama pengusaha makan hati.


"Bete, lah, Mir. Kamu enak, duduk, tinggal buka kafe. Terus buka laptop, tinggal santai sambil pantau anggota kerja, duit masuk terus. Sedangkan aku? Tiap hari makan hati mulu sama kertas, gak ada habis-habisnya, gaji gak pernah tambah. Lama-lama itu bos, tak sumpahin dapat bini super pelit!" ngomel Adila meremas kertas ada di depannya. Gak lihat kertas apa dia remas sampai remuk gitu.


"Lah, Dil! Kertas aku? Kamu ini, aku lagi masukin data penjualan. Ish! Kamu kebiasaan kalau lagi bete sama kesal selalu saja kertas aku, kamu korbanin," gerutu Mirna merebut kertas yang sudah gak cantik lagi.


Adila cengengesan, dia gak sengaja, hanya itu tempat pelampiasan buat hilang rasa bete. "Sori ..., sepi ya? Biasa ada Deliana di sini. Sekarang dia sudah lepas singel, dia sudah enak punya suami yang super perhatian dan super mapan. Kapan kita bisa kayak gini, Mir?" cecar Adila menidurkan dirinya di atas meja.


"Nanti juga ada, sabar saja," jawab Mirna pendek.


"Ah, kamu, mah, enteng ngomong gitu. Kamu kapan saja bisa dapati cowok kayak gimana-gimana. Eh, aku gak nyangka kalau takdir itu memang ada, hehehe. Aku gak nyangka lagi permainan waktu kita main sama Deliana, benar-benar manjur banget!" Adila bangun dari tidurnya, dia sambil mengingat kejadian permainan Dare or Truth itu.


Mirna cuma menyimak dan mendengar. Semua juga akal-akalan Adila. Mana ada kayak gitu, tapi berkat Adila juga Deliana bisa lepas singel, dan bisa balas cinta dari mantan dosen mereka. Ya, Mirna juga gak percaya saja, sih. Kalau dianya? Suka sama seseorang dan naksir juga mustahil. Orang dia naksir sudah ada punya.


Ponsel Adila bergetar, dia sengaja gak bunyikan suara. Malas katanya setiap jam, waktu, detik. Ponselnya selalu mengganggu konsentrasi. Dilihat nama terpampang jelas di ponsel Adila. PAK KEVIN ARDIAN WIJAYA.


Adila mendesah, dia malas angkat itu telepon biarkan bergetar terus, dia lebih baik ke bartender milik Mirna, buat minuman. Mirna cuma geleng-geleng lihat sikapnya. Untung sahabat baik, kalau gak. Mana sudi Mirna biarkan Adila ambil suka-suka.


Ponsel Adila gak getar lagi, tapi ada pesan masuk dari whatsapp-nya. Mirna lihat sekilas dari notifikasi terkunci. Adila kembali membawa minuman segar untuk Mirna juga. Lalu dia kembali duduk di tempat sambil menyeruput minuman segar itu.


"Kenapa gak kamu angkat itu telepon, ada pesan masuk lagi dari dia." Mirna memberitahu pada Adila.


"Biarin, dia kira aku robot, biarin dia cariin. Dia kira kerjain, pekerjaan dia itu enak, mudah? Dia kira aku gak berani resign. Aku bakal resign biar dia tau gimana rasanya punya pekerjaan rodi kayak gitu?!" ucapnya, Adila sangat bete sekali.


Adila kerja di salah satu perusahaan perhotelan berbintang tiga, ya, hanya berbintang tiga, bukan lima atau empat. Selain itu Adila juga punya prestasi melakukan segala pekerjaan seperti Deliana. Hanya saja Deliana tetap kerja sesuai kemampuan dia punya. Sedangkan Adila beda. Dia apa saja dipegang, dimulai marketing, staf banquet, staf admin karaoke, admin pembelian, admin kasir, admin audit, admin cost controller, semua dia harus kuasai. Tidak ada yang boleh ketinggalan.


Satu saja ketinggalan, sudah, dapat ilmu iblis dari bosnya. Bosnya Adila itu Kevin Ardian Wijaya. Di tempat Adila itu bukan satu bos saja. Tapi ada dua bos di sana. Soalnya Adila dapat bos super pelit kayak Kevin. Belum lagi banyak maunya.


"Setidaknya diangkat atau dibalas gitu. Kalau kamu kayak gitu, sama saja menambah pekerjaan kamu. Katanya profesional, masa buat balas dan angkat telepon saja malas, sih?" Adila dinasehati sama Mirna.

__ADS_1


"Los! Siapa suruh bikin singa betina bangun dari tidurnya!" cuek Adila tetap sibuk sama minumannya.


Sedangkan di kantor, Kevin mendecik kesal, chat gak dibalas, telepon gak di angkat. Dia beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruangan sembari ambil kunci mobil. Dengan muka kesal dan bete pun keluar tanpa bilang apa-apa pada sekertarisnya.


Vina yang lihat muka Kevin sudah tau, pasti Adila kembali berulah lagi. Kalau begini jam berapa kembali dia juga gak tau. Pasti nanti Adila di suruh lembur lagi sama Bos Kevin.


...***...


“Aku balik dulu, ya,” ucap Adila bersiap balik ke kantor setelah dua jam dia di kafe Mirna.


Mirna yang masih sibuk sama kerjaan di laptop cuma mendeham saja. “Hati-hati,” jawabnya.


Adila mengangkat satu tangan beri kode tanda 'Oke'. Adila pun masuk ke mobil dan meninggalkan kafe Mirna. Beberapa saat kemudian ponsel Adila berdering. Tanpa dilihat siapa menelepon dia secara otomatis menekan tanda hijau di ponsel tertempel samping AC.


“Ya, halo.”


“Akhirnya kamu angkat juga! Dari mana saja kamu? Dari tadi saya telepon gak kamu angkat-angkat, mana laporan yang saya minta?"


Adila melirik ponsel nama tertera sangat jelas Kevin terkutuk. Adila memutar matanya dengan malas. Lagi-lagi dia mendengar suara paling dia keselin.


“Argh! Kenapa, sih, gak mati saja Bos sialan!” umpat Adila dalam hati.


Kevin sebenarnya sudah melihat, cuma pura-pura gak lihat. Malahan dia sengaja biar Adila mencari sendiri.


“Memang ada?”


Adila mengelus dadanya sabar hadapi bosnya itu. Dia sedang dalam perjalanan menuju ke kantor. Kalau saja dia tidak di mobil, mungkin ponsel panggilan dari Kevin bakal diabaikan sampai baterainya lowbet.


“Saya sebentar lagi sampai, pak!” kata Adila mengakhiri panggilan telepon dari Kevin.


Kevin berada di ruangannya sendiri, senyum-senyum. Map yang mencolok itu ada di mejanya, tapi gak dia lihat malah diletakkan begitu saja. Vina sekretaris saja bisa menggeleng lihat sikap bosnya itu.


Pantas Adila kesal terus sama bosnya, ternyata kelakuan Kevin buat dia terus bertahan di kantor karena Adila. Kalau Vina ada di posisi Adila. Mungkin dia sudah minta resign kali, ya.


Adila sampai di kantor, dia parkir mobilnya, kemudian dia keluar dengan wajah merenggut. Di sana dia berjumpa beberapa teman kerja yang baru saja akan keluar mencari makan. Dia lihat jam pergelangan tangan pukul setengah dua siang. Ternyata hanya dia seorang tanpa peduli keluar kantor belum waktu jam istirahat.

__ADS_1


Adila segera naik anak tangga ada di basemen langsung tembus ke lobi. Adem banget, sebelum masuk ke kantornya. Dia mampir ke toilet dulu. Untuk cuci tangan, rapiin penampilan, terus poles sedikit lipstik tanpa warna seperti pelembab. Merasa sudah cakep. Dia keluar, sekaligus menyapa orang lewat di lobi tersebut.


“Dila!” teriak Ridha memanggil namanya.


Adila pun mengurung untuk masuk ke office, dia menghampiri ke front cashier. Ridha menyerahkan laporan keuangan kepada Adila.


“Ini ada laporan dari cost controller diminta sama GM buat data file yang rapi dan lengkap,” kata Ridha.


Adila menerima kertas itu dan di sana tertulis beberapa bahasa Inggris. Mata Adila putar-putar. Sepertinya dia bakal lembur lagi untuk kerjakan segala pekerjaan rodi ini.


“Kapan dunia kebahagiaan aku bisa berubah, Hari-hari kayak gini?” keluh Adila, dia pun meninggalkan front cashier itu.


Adila mendorong pintu, kemudian tidak sengaja menabrak ada di belakang pintu itu. Sandy Abhi Utomo, Adila sontak mundur.


“Eh, Pak Sandy. Maaf, Pak, gak sengaja!” ucap Adila senyum. Lalu kembali dengan kertas di tangan. Di sana pintu yang akan dia masuk itu menggunakan kode mereka sendiri.


Dia menggunakan kartu pengenalnya, tanpa ada kartu pengenal tidak akan bisa masuk. Apalagi buat bayar tagihan nantinya.


“Dila!” panggil Sandy.


“Ah, iya, Pak?” Adila menyahut cepat.


Siapa gak kenal Sandy Abhi Utomo, Direktur utama sekaligus pemilik perhotelan ini. Di hotel ini ada dua Direktur. Yang satu direktur utama atau disebut CEO. Sedangkan yang kedua ada Direktur bagian keuangan. Mengurus segala pengeluaran dan pemasukan yang check in, check out. Sebenarnya ada GM. Tapi karena takut ada kesalahan, maka diperlukan adalah Direktur pengelolaan keuangan tersebut. Yang memegang itu adalah Kevin.


“Kamu ada waktu?” tanya Sandy.


“Gak, kenapa, Pak?”


Adila jauh lebih suka sama Pak Sandy daripada Pak Kevin. Kevin orangnya suka-suka. Apalagi gak punya hati. Beda sama Sandy, hatinya lembut, terus gak memaksa kehendak para staf kerja di sini.


“Temani saya makan siang, bisa?” ajaknya.


Adila langsung terpaku, lalu tanpa sengaja Adila pun merespon tapi malah dihalangi sama Kevin.


“Boleh, Pak!”

__ADS_1


“Saya juga ikut, Abang mau makan di mana?” sambung Kevin.


Sandy mendengkus, Lagi-lagi gagal dekat sama Adila. Sandy juga suka sama Adila, tapi Kevin selalu menghalangi untuk dekat. Kadang inilah buat Adila berdebat dua pria sekaligus kekesalan atas sikap Kevin.


__ADS_2