Who, My Bos?

Who, My Bos?
Kamu Ketahuan.


__ADS_3

"Thank you ya, Nan! Kamu mah teman paling terbaik," ucap Adila sambil menyenggol bahu Nanda.


Saat ini Adila ajak Nanda ke salah satu tempat yang biasa mereka nongkrong. Tempat favorit mereka sendiri. Bahkan ngobrol sampai lupa waktu.


Hari ini Nanda punya waktu kosong sampai sore. Awal Nanda mengira ada gerangan apa wanita di sebelahnya menelepon. Ternyata sesuatu pertolongan. Nanda apa, sih, bisa buat wanita seperti Adila. Bahkan Adila masih belum sadar bahwa Nanda masih punya hati padanya. Makanya sampai sekarang apa yang Adila minta Nanda selalu turuti.


"Apa sih yang gak buat kamu, kalau hati aku untuk kamu juga bisa," balas Nanda seketika Adila tersedak sama kue keju dia makan.


Dengan cepat Nanda berikan minuman pada Adila. Adila pun segera meneguhkan minuman jusnya hingga seperempat.


"Apa tadi kamu bilang, Nan? Aku gak salah dengar, kan?" tanya Adila pada Nanda.


"Bilang apa?"


Seolah Nanda tidak ingat apa yang dia katakan. Memang Nanda paling pemalu untuk ungkap perasaan pada seorang dia sukai. Apalagi orang yang dia sukai ada di sebelahnya.


Siapa, sih, tidak tertarik sama Adila Vegawati. Bahkan semua falkutas kedokteran suka sama dia. Apalagi sempat juga Nanda ikut permainan konyol seperti Deliana menembak perasaan pada seorang. Tapi niatan Nanda menolak. Dia belum siap untuk ungkapin. Belum tentu perasaan Adila berpaling padanya.


Sekarang saja Nanda sering dengar keluhan dari teman-teman lain. Kalau Adila sekarang kerja salah satu perhotelan berbintang tiga. Bahkan ada salah satu atasan diam-diam suka sama dia. Pastinya Nanda akan jauh lebih kalah dengan atasannya itu.


"Itu, loh, masa kamu cepat lupa sih, Nan! Hati kamu bisa kapan saja buat aku? Kamu serius, Nan?" ulang Adila, Adila tentu tidak tuli apa yang diucap oleh seorang pria seperti Nanda.


Bahkan telinga Adila jelas-jelas tidak salah banget yang diucap oleh Nanda tadi mengungkapkan isi hatinya. Meskipun Adila memang cuek akan soal perasaan seseorang, tetap saja Adila selalu hargai, kok. Walau dia juga sedang gamblang sekarang.


"Oh itu, gak, lah, aku cuma becanda saja. Mana mungkin kamu mau pacaran sama orang yang profesi sekarang seorang dokter. Apalagi pekerjaan seorang dokter itu gak bisa membagi waktu. Malahan kamu makin bosan sama aku. Yang ada pembahasan soal pasien keluhan banyak, terus kesehatan, dan ...."


"..., belum dicoba," sambung Adila memotong kata-kata Nanda.

__ADS_1


Nanda terdiam, dia suka lihat wajah Adila. Manis, apalagi di setiap penampilan Nanda lihat tidak ada satu yang salah dengan pakaiannya. Semua sesuai fashion dia pakai. Apalagi kagak pernah bosan.


"Aku uda pernah coba, Dil," jawab Nanda pelan, dia sedikit malu dan sedih kalau dia ceritain soal asmaranya.


Adila mengernyit, kemudian dia berpindah posisi duduknya sekarang berhadapan dengannya. Sesekali Adila memandang wajah Nanda. Dari sisi mana pun muka dan keseluruhan oke semua. Tidak ada yang kurang di mata Adila.


Meskipun sampai sekarang masih teringat kata-kata Mirna kemarin. Kalau Nanda masih punya hati padanya. Hingga sekarang Adila anggap Nanda itu sahabat, seperti Deliana dan Mirna. Tapi untuk perasaan, Adila tidak tau. Mungkin dia tidak tertarik pada pria. Atau bisa disebut dia sosok wanita suka sesama jenis? Entahlah.


"Benarkah? Jadi kamu benar-benar punya kekasih? Kapan? Cerita dong, penasaran banget aku nih," ucap Adila serius.


Berharap Nanda mau menceritakan pengalaman kisah cintanya. Nanda melirik Adila. Dua mata berwarna cokelat kehitaman itu sangat dalam memandangnya.


"Ayo, ceritakan! Mungkin aku punya solusi biar kamu gak grogi buat ungkapin perasaan yang benar-benar kamu suka," ucap Adila lagi.


"Lupakan, kalau kamu sendiri? Sudah berapa kali pacaran? Pasti banyak?" Giliran Nanda bertanya pada Adila.


Walau Nanda sudah tau, sampai sekarang Adila belum punya kekasih, bahkan sampai berapa pria dia tolak. Namun bagi Nanda dia tidak akan terburu-buru untuk mengejar. Mungkin akan ada waktu dia bisa Mengungkapkan isi hatinya.


"Benarkah? Bukannya aku dengar ada pria sedang mendekati dirimu, atau dirimu yang sedang mendekati pria itu?"


"Siapa? Mana ada? Jangan ngaco, deh, dari mana aku dekati pria. Yang ada pria yang dekati aku!" elak Adila.


Berjam-jam Adila dan Nanda berbincang-bincang di kafe tersebut. Tanpa sengaja pula, Kevin sedang bete seharian di luar pekerjaan. Mengurus dan menemani saudara sepupu hanya untuk jalan-jalan. Hari senin seperti ini benar-benar bikin dirinya sangat bete. Apalagi dia datang ke kantor juga untuk sekadar melihat pujaan hatinya.


Tapi malahan tidak menampakan hidung. Lalu diberi tahu oleh Vinna, kalau Adila saat ini izin tidak masuk karena sakit. Kemudian sepasang mata milik Kevin tertuju pada dua orang sedang tertawa sambil becanda.


"Apanya yang bagus? Dia paling menyebalkan, kalau bisa jangan harap punya suami kayak dia?" cela Adila, menjelekan Kevin.

__ADS_1


Bahkan untuk jadi pacar dia, Adila boro-boro, mending dia jadi pacar Sandy. "Jangan salah, pria seperti dia jauh dipertahankan. Dia begitu, karena dia benar-benar suka sama kamu, dan dia terlihat cemburu. Buktinya dia suka minta kamu lakukan sesuatu," kata Nanda malah membela Kevin.


Padahal Nanda belum pernah bertemu dengan Kevin. Sudah asal menembak Kevin setia pada pasangan hidup.


"Katanya sakit? Kenapa malah saya lihat sehat-sehat saja?" Adila langsung menoleh sumber suara seakan aura itu tidak mengindahkan dunianya bersenang ria.


Kevin memberi seulas senyum panjang pada Adila. Nanda sendiri ikut mendongak menatap seorang pria berpenampilan biasa saja, berdiri tepat di samping Adila. Lalu Nanda juga melirik arah Adila, seakan Nanda bisa menebak ekspresi Adila.


"Kenapa Bapak ada di sini?" Adila malah memberi pertanyaan kepada Kevin.


Kevin malah mengangkat satu alis, lalu menoleh sekitar kafe. "Memang saya gak boleh datang ke sini? Sepertinya gak ada tulisan apa pun," timpal Kevin balik bertanya pada Adila.


Adila menarik napasnya dalam-dalam. "Bukan itu, sah-sah saja, Bapak boleh datang ke sini. Lalu kenapa Bapak bisa ada di sini? Bapak mengikuti saya?"


Kevin langsung menatap sangat tajam pada Adila. "Iya, saya mengikuti kamu. Saya tidak yakin kalau karyawan saya benar-benar sakit. Makanya saya mencoba untuk datang ke rumah. Ternyata saya datangi, kata tetangga rumah kamu, bahwa kamu sedang gak ada di rumah. Jadi ...."


Adila tidak yakin kalau Bos satu ini memang ke rumahnya. Kalau pun ada, sudah pasti ada yang menelepon. "Benarkah?"


Kevin mengangguk, Nanda yang dari tadi melihat dua orang di depannya. Sedikit aneh, tanpa ada gangguan. Nanda pun memberi kode. "Ehem! Maaf, kalau aku potong dulu argumentasi kalian."


"Dil, mungkin lain kali kita berbincang-bincang lagi, sepertinya aku harus ...."


Adila langsung mencegah Nanda, bahkan Kevin melihat dengan mata kepala sendiri. Tangan Adila memegang Nanda. Nanda sendiri pun terkejut atas sikap Adila.


"Kamu mau ke mana, Beb! Masa kamu tinggalin aku sendiri? Katanya kamu mau temani aku? Kamu gak khawatir aku ini lagi bete, pusing. Apalagi gak nafsu!" ucap Adila dengan bahasa dibuat-buat. Bahkan mengedip beberapa kali pada Nanda untuk mau mengikuti aktingnya.


Kevin yang melihat sikap dua orang di depannya. Nanda pun kembali ke tempat duduk. Lalu dia pun membalas manjanya Adila.

__ADS_1


"Iya, aku tau, kok. Aku cuma ke kamar mandi, nanti kita ke tempat lain." Tanpa ragu Nanda mencium kening Adila. Adila sontak kaget atas sikap Nanda. Kevin pun terpaku diam dan gemas.


Nanda berlalu pergi tidak lupa memberi seulas senyum pada Kevin. Adila seperti di ambang ombak menghujam dirinya sekarang. Selain dia ketahuan pura-pura sakit. Lalu ketemu dengan Bosnya. Sekarang Nanda malah mencium tanpa izin darinya lagi. Pasti Kevin termakan cemburu banget.


__ADS_2