Who, My Bos?

Who, My Bos?
Gosip tak berguna.


__ADS_3

"Sudah aku katakan, aku gak pacaran sama dia!" Akhir kata dari mulut Adila menekankan pada teman-teman satu kantornya.


Adila dan teman satu kantor yang divisi finance sedang keluar bersama untuk makan siang di luar kantor. Gosip itu tiba-tiba saja ramai diperbincangan oleh teman -teman satu kantor. Sampai ke bagian Marketing juga.


"Terus kalau kamu memang gak pacaran sama pak Kevin. Terus kenapa dia sangat care sama kamu? Dengan mata kepala aku sendiri loh, Dil. Pak Kevin sangat care sama kamu, apalagi tanpa sengaja ...."


"Iihh, uda aku bilang berapa kali. Aku itu gak pacaran sama dia! Stop, sebutin nama dia di depan aku!" Adila menekankan kembali kepada Hera.


Teman paling gak akhlak, ya, ini, fakta yang tidak benar dibenarkan. Adila sudah kebal dengan gosip seperti ini. Apalagi gosip beberapa tahun lalu juga seperti itu. Memang tidak ada bahan omongan lain.


"Alah, bilang jangan sebut namanya. Nanti kamu rindu sama dia, aku dengar-dengar ini, pak Kevin bakal dipindahkan ke tempat lain loh," tutur Erika ikut nimbrung.


Adila yang tidak mau tau, dia tetap cuek akan adanya nama dunia gosip. Tapi, ada sesuatu yang paling tidak bisa dia hindari. "Baguslah kalau dia memang mau dipindahkan, jadi aku punya kesempatan untuk dekat dengan pak Sandy," ucap Adila penuh kebahagiaan.


Hera dan Erika heran dengan Adila. "Btw, kamu kenapa begitu bencinya sama pak Kevin? Buat aku, ya, pak Kevin itu peduli loh, sama staf seperti kita. Daripada pak Sandy," ucap Hera sambil memuji Kevin.


Adila bodoh amat, malahan dia merasa pak Sandy lebih peduli daripada pak Kevin. "Betul tuh, daripada pak Sandy, kenapa gak dia saja yang di pindahkan, kenapa harus pak Kevin yang begitu malaikat," sambung Susan sambil comot kentang goreng dari piring Adila.


Adila menegak dan menoleh menatap teman satu ini. Gak ada bedanya dengan teman masa kuliahnya itu. Susan menarik kursi salah satu meja yang kosong tersebut. Dia pun ikut bergabung bersama para divisi Finance.


"Ke mana saja dirimu, dari tadi gak bisa dihubungi," celetuk Erika.


Susan mengunyah satu per satu sisa makanan di piring. Sepertinya satu teman ini kelaparan. "Biasalah, disuruh sama bos besar," jawabnya.


"Yang sabar ya. Tapi, kamu paling sabar banget deh," tutur Nana.


"Begitulah, kalau bukan jadi sekertaris CEO apa sih kagak buat dia. Tapi ..., ya gitu. Kadang menjengkelkan daripada adiknya. Uda terlanjur menjadikan posisi bawahan, kalau bisa aku mau pindah divisi. Ya ..., begitulah," hela Susan seakan dia sudah lelah untuk mengulang atau menceritakan kegiatan sehari-hari.

__ADS_1


Nana menepuk pundak Susan sebagai penyemangat. Kadang itu, lah, memiliki dua atasan itu kadang memberatkan. Apalagi berbeda bagian divisi.


"Yang sabar, aku yakin kamu bisa melewati semua ini. Mungkin pilihan posisi itu menerima kebatinan. Kadang aku juga gitu, tapi masing-masing, mana yang lebih nyaman. Adakala juga di atas mereka tak menyenangkan, tergantung mood CEO saja. Kalau lagi baik, baiiik banget, kalau gak? Ya itu ...."


Adila mengembuskan napas panjang seakan mendengar curhatan teman-temannya. Sebentar lagi kembali ke kantor, melakukan pekerjaan. Beberapa saat kemudian Adila dan teman lain, mendengar pekerja lain, dengan pakaian seragam berbeda. Dari corak warna, palingan seragam staf bagian pekerja di rumah makan.


"Katanya sih gitu," ucap wanita mengucir satu ikat di belakang.


"Ya, gak seru dong, kenapa bukan dia sih dipindahin. Kenapa harus dia. Kadang punya ikatan persaudaraan satu perusahaan. Pasti salah satu diharuskan untuk pindah tempat. Padahal, ya, gua itu lebih suka kinerja adiknya. Daripada abangnya," sambung temannya bareng wanita tadi ikut makan di warung ini.


Wanita itu mengangguk, kemudian mereka pesan makanan. Setelah itu mereka kembali melanjutkan percakapan yang tertunda. Sedangkan Adila sedari tadi diam memperhatikan dua wanita itu tak jauh di mana mereka duduk.


"Btw, kenal seragam mereka, gak?" bisik Nana menurunkan badannya. Agar tidak diketahui kalau dia sedang bertanya dua wanita yang menggunakan seragam warna merah tua.


Erika, Susan, Adila, dan Hera memanjangkan leher untuk mengintip dua wanita disebut oleh Nana tadi. "Jangan terlalu lihat begitu, nanti dikira kita apaan coba?" Nana menarik ke empat temannya.


"Itu bukannya seragam rumah makan Koto Gadang? Punya keluarga Wijaya?" sambung Erika.


"Sssttt ... pelankan suara kamu. Nanti kedengaran sama mereka." Erika dengan cepat mengangguk.


Di posisi duduk mereka pun terdiam sembari menguping percakapan dua wanita itu. Sebelum pesanan mereka tiba. Percakapan keseruan itu memperhatikan oleh ke-lima orang di seberang mereka duduk.


"Kalau begini gaji kita pasti gak akan dinaikan lagi sama dia? Lembur saja gak dikasih uang tambahan. Padahal, ya, itu bukan pekerjaan gua, hanya gara-gara Satina gak masuk. Masa jadwal yang seharusnya gua off, diminta masuk. Kan, gak lucu, itu!" cicit Leni, itu namanya. Ada nama tertempel di seragam tersebut.


"Benar banget. Lama-lama kalau dia yang pegang. Aku yakin satu per satu pada keluar. Ya, mana tahan. Kita yang kerja sudah lima tahun. Gaji masih dua juta, uang makan kagak ada. Uang lembur itu pun lihat kinerja masing-masing. Yang baru kerja gaji uda di atas UMR. Ah, gila benar!" sewot Kenny sembari mengupas kulit kacang di depannya, lalu di masukan secara kasar.


Hening beberapa saat, Adila menegakkan badannya yang terasa kaku. Dia pun melihat jam arloji di tangannya sudah pukul satu lewat dua puluh lima menit.

__ADS_1


"Balik, yuk!" ujar Adila pada teman-temannya.


Mereka seperti tuli tidak mendengar apa yang di ujarkan oleh Adila. "Oh ya, sebelum balik ke kantor, mampir dulu, yuk, ke toko tas," ucap Hera ikut juga melihat jam arloji di tangannya.


"Ngapain?" tanya Nana.


"Cuci mata loh," jawabnya.


Mereka berempat menoleh ke Adila. Adila seperti bingung pada mereka. "Ada apa?" Adila bertanya.


"Kamu mau ikut? Sudah lebih baik ikut saja. Jam segini, si bos kita belum pada balik juga," ucap Erika mewakili suara ke tiga temannya.


"Iya, betul itu. Apalagi sekarang laporan buat pembayaran tagihan dari piutang, sore baru kasih ke kamu. Toh, si bos satu itu juga gak bakal perhatiin, lah," sambung Susan.


"Tau dari mana, dia gak perhatiin pekerjaan kita?" Adila balik bertanya pada Susan.


Kadang Adila agak sensi dengan Susan. Meskipun sekretaris pak Sandy. Tetap saja Adila paling ilfil, diam-diam mengamati keadaan sekitarnya. Meskipun Susan dulu pernah di bagian Marketing. Karena anggota pak Sandy kurang satu orang. Jadi bagian Marketing dipindahkan satu orang ke bagian menjadi asisten sekretaris.


Susan mengipas-ngipasi seakan dia keceplosan. "Ya tau lah, apalagi orang yang seperti dia itu memang gak terlalu perhatiin. Malahan laporan siapa saja pasti di lempar ke adiknya," terang Susan pada Adila.


Adila terdiam sejenak dan mencerna semua kata-kata Susan. Tak berapa lama kemudian mereka keluar dari rumah makan tersebut. Sementara dua wanita di sana, sedari tadi diam sembari menguping percakapan mereka.


Kenny mengamati Adila sedang berdiri untuk giliran masuk ke mobil temannya yang mereka bawa. Leni mengamati temannya dan ikut ke arah tujuan.


"Ada apa?" tanya Leni pada Kenny.


"Ah? Gak, gak ada apa-apa," jawab Kenny lanjut makan sate kerang di tangannya.

__ADS_1


__ADS_2