Who, My Bos?

Who, My Bos?
Surprise.


__ADS_3

Deliana masih tidak menyangka, kalau dirinya sekarang sudah diangkat jadi supervisor, bahkan dia tidak menyangka lagi upah gaji, dan penetapan lembur juga ditulis sangat rapi. Terus yang tanda tangan orang yang dia tak sangka-sangka. Bahkan bikin dia galau berbulan-bulan juga orang yang selalu bikin dia jengkel, kesal, dongkol, gondok, dan geram.


Agus Antoniusetya Darmawan. Kenapa Deliana tidak kepikiran hingga sekarang. Dia juga bukan tipe orang suka kepo dan bergosip soal siapa pemilik perusahaan di tempat dia kerja. Bahkan waktu interview juga bukan langsung dari pemilik. Malah dari HRD dan juga William yang bikin tekanan batin terus.


"Del."


Deliana sampai gak konsentrasi sama pekerjaannya. Dia sampai garuk-garuk kepala rambutnya. Dipelototin terus nama tertera di sana. Direktur utama, Agus antoniusetya Darmawan, SE, Psi. Sampai Anggi panggil dia juga gak didengar.


"Del, Deliana, hei!" Anggi gak berani panggil Deliana kuat-kuat soalnya masih jadwal jam kerja.


Anggi ambil pulpen menusuk-nusuk punggung Deliana. Barulah Deliana merespon, dia menoleh, terus Anggi berikan sebuah kertas padanya.


Deliana pun mengambil dan melihat laporan penagihan dari supplier yang dari bulan ke bulan tertunda belum bayar. Minta persetujuan dari Deliana untuk tanda tangan. Setelah itu baru bisa ditagih sama kolektor tersebut.


Sebelum dia tanda tangan, dia periksa dulu, soalnya dia belum terbiasa sama pekerjaan tugas menjadi seorang supervisor. Rasanya dia gimana terhadap teman satu kantornya. Rasanya jadi asing gitu.


"Yang tanggal lima belas mereka tidak pesan barang?" Deliana bertanya pada Anggi.


"Tanggal lima belas, bon penjualannya di minta sama pak Agus," jawabnya sambil mengerjakan pekerjaannya.


Sekarang tugas Anggi mengganti posisi Deliana sambil rangkap admintrasi pembelian. Buat Anggi, dia tidak permasalahkan soal pekerjaan bertambah banyak. Asal uang lembur tetap ada.


"Alasan?" Deliana perlu alasan, apa cuma dia saja tidak tau kalau Agus seorang direktur?


"Gak diberitahu, cuma pak Agus cuma minta bon penjualan tanggal lima belas saja. Setelah itu, pak Agus pergi begitu saja, hanya diminta tagih sisa itu yang aku kasih ke kamu," kata Anggi menjelaskan padanya.

__ADS_1


Deliana tidak menanda tangani penagihan itu. Menurut dia tidak akan balance nanti laporan penjualan ke accounting.


"Ya sudah, tunggu saja bon tanggal lima belas itu dikembalikan, penagihannya di tunda dulu," kata Deliana mengembalikan pada Anggi.


"Tapi."


"Percuma, kalau saya tanda tangani penagihan itu tidak lengkap. Bagian accounting tidak akan balance datanya. Apalagi bagian audit, terus perpajakan juga. Jadi tunggu saja, sampai bon penjualan lengkap baru kamu kasih ke saya lagi. Saya biasa menunggu semua data lengkap baru kirim ke atasan untuk tanda tangani," jelas Deliana.


Sekarang semua orang ada dilantai delapan menoleh, karena suara Deliana paling keras, setelah diceramahin olehnya. Anggi pun diam. Dia juga merasa begitu sependapat dengan Deliana. Entah mau pak Agus itu apaan.


Anggi gak merasa tersinggung atas penyampaian oleh Deliana, dia menuruti saja. Lantai delapan terdiam setelah Deliana selesai pidato ke Anggi. Dia pun kembali ke pekerjaannya. Yang lain pun juga kembali.


Suasana lantai delapan kembali hening hanya suara-suara mesin di sana beradu berisik. Tiba-tiba sebuah pintu dari arah barat, terdengar suara berat sedang menerima telepon dan di ikuti oleh beberapa orang tidak dikenal sama sekali oleh anggota di lantai delapan.


Apa mungkin Deliana pura-pura gak lihat atau dengar, kalau Agus dari tadi perhatikan terus. Beberapa saat kemudian telepon genggam di meja Deliana berdering.


"Halo, selamat siang dengan Deliana ada yang bisa saya bantu?" ucap Deliana sambil memeriksa data list penjualan.


"Del, di panggil sama bos untuk menghadap," pesan Santi.


"Oke."


Deliana pun bangkit dari kursinya. Dalam hati Deliana sudah was-was kalau disuruh menghadap ke ruangan bos. Rasanya dunia dia sudah kiamat. Ketukan tiga kali dan Santi minta dia gak perlu ketuk pintu lagi. Langsung suruh masuk saja. Deliana pun menekan gagang pintu dan dorong, dia pun masuk di sana.


Terus di sana ada dua orang asing tidak dikenal banget sama Deliana. Sedang duduk sedang menunggu seseorang sedang menelepon. Deliana hanya berdiri, dia merasa kembali di mana interview dan disuruh tunggu. Terus juga jumpa dua orang asing.

__ADS_1


"Sorry, sudah lama menunggu, pembahasan kita sampai di mana?"


Agus langsung menghampiri dua orang asing itu. Deliana yang terdiri di dekat pintu masuk keluar itu, terdiam tak berkutik sama sekali. Apa yang dia lihat tadi. Penampilan Agus berbeda dari pertama di antar oleh dia ke kantor.


Agus pun mengalih arah sosok wanita berdiri di belakang pintu masuk keluar. Sebaliknya dengan dua orang asing juga ikut memandang arah Deliana. Deliana malah tegang, bahkan dia gak tau cara menyambut salam pada dua orang asing sedang bertamu itu.


"Kok, jadi bahan tontonan? Memang aku badut?" batin Deliana menggerutu.


Agus mendekati Deliana. Setelah itu senyum ramah padanya. Deliana bukan balas, malah bengong. Pasti dong Deliana kaget saja, dia juga tidak tau kalau Agus kembali ke sini.


"Maaf, saya mau perkenalkan pada kalian, ini staf saya, dia yang akan membawa Bapak dan Ibu untuk berkeliling sekitar pabrik yang kami produksi percetakan sarung tangan karet kami. Dia adalah Deliana Citrasenia Valenteen, panggil Deliana." Agus pun memperkenalkan langsung kepada dua orang asing itu pada Deliana.


Deliana malah bengong, dia makin gak mengerti maksud yang diucap oleh Agus. Pekerjaan dia bukan sebagai Marketing, kenapa dia jadi bagian Marketing.


"Tunggu, maksudnya apaan ini?" Deliana bertanya-tanya.


Sambil mempelototin Agus. Tapi Agus pura-pura gak lihat. Padahal dia sudah lihat bagaimana reaksi Deliana saat dia sebut mengantar dua tamu itu untuk keliling lihat-lihat pabrik produksi sarung tangan karet.


"Deliana, perkenalan ini Bapak Samuel, dia seorang duta asing akan membawa produk baru untuk dibawa ke luar negeri, sedangkan ini Ibu Melinda, beliau seorang Ibu Direktur sekaligus perangkap manager juga, pengusaha bahan kimia, beliau akan melihat bagaimana laboratorium kita di sana. Saat produksi cetak sarung tangan kita, jadi saya minta kamu, antar mereka dan jelasin seluruh perusahaan di kantor ini," terang Agus pada Deliana.


"Tapi, Pak? ada Mawar sama Jenni, kenapa tidak mereka ...."


"Saya jauh lebih percaya kemampuan kamu, Deliana." Senyum Agus sekaligus menegaskan padanya.


Deliana terlihat kesal pada Agus. Bukan meringankan pekerjaan malah menambah bebannya. Mau tak mau dia iyakan saja, setelah itu. Dia akan balas perbuatannya.

__ADS_1


__ADS_2