
Kimchu Resto, Adila sekarang ada di Kimchu restoran yang letaknya di bawah lobi. Bahkan Adila sudah merasa bosan di tempat ini setiap hari, makan bareng sama teman-teman kerjanya. Andalan makanan restoran ini beraneka ragam seperti makanan chienes food pada umumnya. Jadi Adila sudah hafal semua makanan itu di pesan oleh dua pria di sebelahnya.
Posisi Adila terjepit sekarang, dia ada di posisi paling menjengkelkan. Dengan meja medium. Adila posisi tengah, sebelah kiri Bos Kevin, sedangkan sebelah kanan Bos Sandy. Merasa hidupnya seperti sumpit.
Adila melihat menu makanan penuh dengan mual, semua serba berlemak. Adila memang tergolong menjaga pola makan. Apalagi yang dia lihat sekarang adalah serba daging. Ada ayam asam manis, daging kecap manis, segalanya mengandung karbohidrat yang sangat tinggi. Pantas bos sebelah kirinya suka marah-marah. Pasti kolestrolnya tinggi banget.
Adila menunggu dua bos itu mengambil lauk sendiri. Adila masih bingung, dia ambil sayur esparagus dipakai hebi, itu enak banget buat dia. Terus, sup kuah ikan baso, dia pun mulai menyuap nasi ke mulut.
Kevin yang lihat Adila suka pilih makanan, dia pun berikan daging ayam asam manis untuknya. Adila yang melihat pun, seketika hilang akan seleranya.
"Ini maksudnya apa, Pak? Kenapa ayamnya ada di piring saya?" tanya Adila, nada kesalnya meluap.
Beginilah dia gak suka sama Kevin, suka-suka. Padahal Adila rencana memang sedang diet ketat. Tadi di Kafe Mirna saja dia hanya makan kue kering dari sisa catering pernikahan Deliana dan Agus.
Beda dengan Sandy gak peduli Adila mau makan apa, bahkan Adila jauh lebih suka dengan sikap Sandy padanya. Daripada Kevin, makin kesal, bukan kolesterol bertambah, tapi makan hati.
"Gak perlu pakai acara diet segala, lihat badanmu? Sudah kurus kayak sapu lidi, nanti kamu lembur, sakit, pingsan siapa yang repot?" ucap Kevin gak peduli sama suaranya yang mengejek.
Adila memang pernah pingsan di lobi, gara-gara kerja terus, buat laporan, biar cepat selesai sampai menunda rasa lapar supaya Kevin gak ngomel-ngomel gak jelas. Gak taunya, rasa pusing itu menghantam dan sudah, deh, kejadian, Adila gak ingat lagi. Siapa yang bawa dia ke ruang kesehatan. Ada yang bilang yang bawa dia si Kevin, ada yang bilang teman kantor.
"Ya, itu salah Bapak! Yang paksa saya lembur terus, gak kasih waktu saya istirahat sebentar. Mau makan roti saja belum masuk ke mulut, sudah telepon minta kasih laporan pembayaran tiket," balas Adila jauh lebih tegas dan menekankan pada Kevin.
Kevin mau membantah, dia urungkan. Lebih baik dia makan. "Sudah makan," ujarnya.
Adila tahu, Kevin gak berani membantah ada Sandy. Entahlah Adila boleh jujur pada diri sendiri, dia memang cape. Tapi pekerjaan ini selalu membuat dia enjoy. Ya mungkin karena cuti mendadak itu nekat libur beberapa hari untuk hadir acara spesial buat temannya itu. Deliana dan Agus. Adila iri punya suami kayak Deliana itu perhatian, romantis.
...***...
Pukul lima sore, sudah waktunya pulang. Tapi Adila belum bisa pulang. Masih menunggu kolektor piutang kembali dari penagihan. Sambil menunggu, Adila memutarkan sebuah lagu favoritnya. Sekalian mengisi rasa kekosongan.
"Loh, Dil? Belum pulang?" tanya Vina, yang sudah siap buat pulang. Karena jemputan sudah datang.
"Belum, lagi tunggu Hendra," jawabnya.
"Oh, ya sudah, aku duluan, ya! Bye!" Adila pun melambaikan tangannya.
Suasana di kantor mulai sunyi, tidak ada lagi suara printer atau telepon berdering di ruangan pembelian dan adminitrasi cost controller. Ruangan Adila ada di depan pas masuk office.
Lampu diluar sudah gelap. Merasa merinding lama-lama untuknya. Dia pun mencoba untuk keluar dan lihat di depan Reception dan front cashier.
Dapat Adila lihat di luar lobi langit mulai gelap. Padahal baru pukul lima lewat sepuluh menit. Tak lama terdengar suara gemuruh petir sangat keras. Adila sampai memegang kedua telinganya.
"Kayaknya bakal hujan deras, nih," ucap Ridha bagian front cashier.
Adila mendesah, dia kembali lagi ke ruangannya. Terus menelepon Hendra. Adila pengin segera pulang, dia takut diperjalanan malah macet, terus banjir lagi.
"Hen, kamu sekarang di mana? Sudah balik?" tanya Adila
"Belum, hujan deras, Mbak!" jawab Hendra, dia sampai berteduh di Indomaret.
Adila mendengkus, dia pun mematikan ponselnya. Dia bisa saja pulang tanpa harus menunggu. Tapi pasti dipergoki sama GM. Apa hubungannya dengan GM, dia, kan, karyawan kantor. GM Hubungannya sama perhotelan.
Adila mematikan semua komputer dan printer. Siap buat pulang. Diutamakan sampai rumah. Beberapa menit sebuah telepon di meja kerjanya berdering.
"Halo!"
"Kamu ada di mana?" Adila sudah hafal yang telepon siapa lagi. Kevin.
"Di kantor, kenapa?"
Kali ini Adila sudah gak pakai formal lagi. Bukan waktu jam kerja.
"Bisa ke ruanganku?"
"Hah? Buat apa? Aku sudah mau pulang, pak! Keburu hujan!" tolaknya.
"Sebentar saja."
Adila diam sejenak. Suara Kevin aneh, gak biasanya, pikir Adila.
"Ya sudah."
Adila mematikan telepon, kemudian dia meletakkan tas kerjanya. Dia pun keluar dan menuju ke ruangan Kevin. Di sebelah ruangan milik Sandy. Sandy sudah pulang dari tadi. Tinggal Kevin seorang. Heran buat Adila.
"Kenapa, sih, Kevin betah sama tempat ini. Apa dia tinggal di sini, ya?" batin Adila.
Ketukan tiga kali buat Adila, gak lama, kunci otomatis terbuka. Adila masuk. Ruangannya gelap banget. Adila coba mencari saklar buat hidupin lampu. Saat lampu hidup, Adila dikejutkan sosok menyeramkan.
"Ada apa, Pak? Memang tiap hari begini terus ganggu hidup orang yang butuh istirahat tenang di rumah?" omel Adila.
__ADS_1
Entahlah Adila seperti emak-emak ngomel gak jelas. Mungkin sudah mati bosan sama pekerjaan rodinya itu.
...***...
"Memang kita mau ke mana sih, Pak?" tanya Adila, dari tadi perhatikan jam pergelangan tangannya.
Niat dia sebenarnya menolak, karena perintah dan permohonan dari bos satu ini. Mau tak mau dia pun mengiakan. Mobil dia terpaksa nginap di kantor dulu. Ini Adila sedang di mobil Kevin.
Berhenti di salah satu restoran, restoran termahal, Kevin keluar, Adila juga. Adila masih berpikir pada otaknya itu. "Ngapain ke sini, jangan bilang dia mau ajak aku kencan?" batin Adila.
"Eh? Ngapain ke sini, Pak?" tanya Adila, sebelum dia masuk ke restoran itu. Bukan maksud Adila ilfil sama tempatnya. Hanya saja penampilan dia sekarang gak memungkinkan buat masuk ke restoran berelite ini.
"Sudah masuk saja! Gak ada yang perhatikan penampilanmu!" ucapnya ketus kemudian dia pun masuk, sedangkan Adila merenggut, merasa terhina atas ucapan bos itu.
Adila pun mengangkat kakinya masuk dan menyusul jejak langkah kaki Kevin. Ketika Adila masuk ke restoran ini. Suasana benar-benar beda banget. Seperti bukan restoran, malahan seperti tempat kafe gitu.
Masih sibuk sama sekitar, Kevin berdiri dan berbicara dengan seseorang, Adila malah lirik sana-sini dekorasi designnya.
Adila paling hobby soal hal beginian. Gak heran kalau segala design buat acara pernikahan, pertunangan, Adila ahlinya. Buktinya Deliana dan Agus saja lancar dia buat begitu. Sampai sahabat sendiri gak bisa kata-kata apa yang dilamar oleh mantan dosennya itu.
Kevin dari tadi perhatikan Adila yang sibuk sama sekitar tempat ini. Kevin tau ke hobby-an Adila itu. Kreatif pada dirinya selalu terpikat padanya. Makanya dia sengaja ajak ke sini biar acara pernikahan atau acara apa pun tentang pekerjaan dia yang atur.
"Sudah puas lihat tempat ini, nanti aku ajak kamu ke tempat lain, mungkin jauh lebih bagus lagi, sekarang kita temui orang dulu," ucap Kevin membuyarkan semua isi pikiran Adila. Seakan Kevin tau apa dipikirkannya.
Adila gak menjawab, dia ikuti saja Kevin. Sampai di sebuah ruangan elite dengan fasilitas lengkap. Kevin dan Adila pun masuk, di sana sudah ada penghuni lain. Gak dikenal oleh Adila sendiri.
"Acara apaan ini? Kenapa banyak penghuni? Eh, jangan katakan kalau Bos Kevin mau lamar aku? Oh, no, no," batin Adila terus bertanya-tanya.
Tak lama kemudian, muncul suara gak asing lagi. "Maaf, saya terlambat," ucap Sandy tepat sekali dia masuk di sebelah Adila pula.
Adila spontan melirik penampilan Sandy sangat berbeda sekali, kaus lengan panjang, celana jeans hitam, rambut tersisir rapi ke belakang. Sandy menoleh ke sebelahnya, dia hanya senyum pada Adila. Adila yang canggung juga balas.
"Anak-anak kita sudah hadir, Sandy kemari, lah! Kevin, kamu juga!" pinta seorang wanita paruh baya sekitar umur 50 tahunan.
Kevin dan Sandy pun menghampiri wanita itu, Adila apa dong? Sebagai patung, atau tempat badut saja. Adila seperti sosok wanita yang bloon. Kalau saja tadi dia tolak, mungkin dia sudah di rumah rebahan buat tidur.
"Oh? Siapa wanita itu?" Tiba-tiba suara wanita tua itu bersuara lagi, Adila yang masih mengkhayal suasana tidur di kamar.
"Adila!" panggil Kevin dan Sandy.
Adila cepat menyahut, "Ya?"
"Waduh! Ternyata anak Mama, ada selera yang sama. Adila! Kemari, lah," pinta wanita tua itu.
Adila mengangguk, kemudian menghampiri tiga orang itu. Adila seperti tempat dekorasi pajangan pameran. Yang lain sibuk bercakap-cakap hingga telinga Adila gak sengaja mendengar seseorang menggosipkan dirinya.
"Ini wanita yang disukai sama Kevin?" bisik wanita ikal itu, sesekali melirik Adila dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Pelan-pelan suaramu, nanti dia kedengaran!" ucap wanita satu lagi, berkulit sawo matang.
"Biarin dia dengar, aku rasa Kevin matanya sudah buta kali, ya? Masih banyak, tuh, wanita lain setara dengan levelnya?" kata wanita ikal itu.
Adila yang dengar percakapan dua wanita jaraknya beberapa meter saja, sudah memanas. Adila masih punya sikap lembut, dia gak boleh terbawa emosi atas pancingan dua wanita itu.
"Permisi, Tante, Pak Kevin, Pak Sandy. Saya izin ke toilet dulu," pamit Adila beranjak dari duduknya. Kemudian melewati dua wanita itu. Dua wanita itu juga melirik Adila keluar dari ruangan VIP.
Sampai di toilet, Adila melampiaskan segala kekesalan di sini. Iya, Adila menendang tong sampah di toilet, bahkan dia mengumpat segala macam sebagai lampiasan unek-uneknya.
"Dasar sialan! Ngapain juga aku iyakan perintah dari bos sialan itu! Ujungnya cuma digosipin gak bermoral!"
"Kalau memang ingin balas dendam gak harus cara gini juga, kan? Untung Bos, kalau bukan? Sudahlah, percuma mengumpat, gak akan habisnya," ucapnya terakhir. Lalu rapikan penampilannya, terus rambutnya.
Sekali lagi Adila menatap penampilan di pantulan cermin ukuran segi empat itu. Adila merasa tidak ada yang aneh, ya, cuma dia pakai seragam kantor. Wajahnya juga masih oke saja. Rambut juga. Terus apa yang dinilai oleh dua wanita tadi?
Teringat kalimat dari wanita rambut ikal, kalau Kevin sudah buta. "Buta? Memang apa yang buta?" gumam Adila, kemudian beranjak dari toilet kembali ke ruangan Vip itu.
Tapi sebelum dia masuk, dia melihat Kevin sedang berdiri sambil memainkan ponselnya. Adila pun menghampiri bos satu ini.
"Kenapa Bapak ada di sini? Kok gak di ...."
Kevin bukannya menyambut kalimat Adila, malah menarik tangan Adila keluar dari restoran itu. Sontak dong Adila kebingungan sama sikap Bos satu ini.
"Eh? Pak?"
Kevin berhenti, Adila makin bingung saja sikap Kevin akhir-akhir ini. Terus Kevin berbalik menatap Adila. Adila malah berpaling arah tempat lain. Terus diam, Adila kira dia akan di bawa kemana lagi. Ternyata tempat lain. Dilihat, lah, belakang. Ternyata di belakang restoran ada taman sebagus ini.
"Saya sudah janji akan bawa kamu ke sini. Saya juga tahu kamu tidak suka tempat keramaian di ruangan tadi, makanya ...."
"Siapa bilang saya tidak suka keramaian, hanya saja, saya tidak suka sama dua wanita yang sok tau soal fashion? Penampilan mereka saja kalau boleh dibilang jauh dari orang luar!" potong Adila, dan menyambung kalimat.
__ADS_1
Adila baru sadar apa yang dia ucap tadi, bukan menyinggung seseorang. "Ehm, maksud saya ...."
"Gak apa-apa, saya juga tidak suka mereka," jawab Kevin senyum.
Adila terbelalak, dia gak nyangka kalau bos dingin super menjengkelkan itu bisa tersenyum juga.
...***...
Akhirnya Adila dapat merebahkan diri di kasur empuknya, setelah diantar oleh Kevin. Hari ini dia benar-benar lelah, letih, dan pengin pejamkan matanya. Beberapa menit kemudian, ponsel Adila berdering. Padahal dia malas mengangkat ponselnya. Seluruh otot-otot butuh istirahat.
"Siapa, sih, gak tau aku cape banget! Please, jangan minta aneh-aneh, dong! Kaki aku sudah gak sanggup menyeret ke sana kemari lagi," omel Adila sembari meraih ponsel tanpa melihat siapa menelepon.
"Halo," sambut Adila dengan nada yang gak semangat lagi.
"Dil!"
Panggilan dari seberang buat Adila yang sudah memejamkan mata terbuka lagi. Suara Deliana, tentu rasa lelah Adila hilang seperempat walau gak sepenuhnya.
"Apa kabar," sambut lagi Adila masih sama nada gak semangat.
Deliana yang berada di kamar, iseng telepon sahabatnya, karena uda lama gak kumpul sejak dia menikah sama mantan dosennya. Apalagi sekarang dia sedang sendirian, Agus lagi sibuk sama proyek di Singapore, jadi dia kesepian butuh teman untuk obrolan.
"Kok lesu gitu? Habis ngapain aja, sih?" canda Deliana. Adila yang sedang rebahan, tatapan kosong sambil menatap langit kamarnya.
"Cape, Del! Aku butuh liburan, nih?! Huaaaa ...."
Deliana malah menjauhkan ponselnya dan mengernyit atas suara rengekan dari Adila. Ya, selama ini Deliana gak pernah kepo soal pekerjaan sahabatnya itu. Tapi kayaknya profesi Adila hampir sama dengan pekerjaan Deliana dulu.
Meskipun sekarang pekerjaan Deliana sudah di handel sama Gigi, kalau dirinya? Rebahan di rumah jadi istri yang baik. Kadang kalau suntuk dan bete, dia suka ke kantor suaminya buat melepas rindu pekerjaannya. Walau sering disindir sama teman satu kantor, dipanggil Ibu Negara, Ibu Negara.
"Kenapa lagi? Sini cerita." Deliana siap mendengar keluhan Adila.
Selama ini Deliana dan Adila seperti ikatan persaudaraan. Kalau gak dikasih tau sama Agus. Acara resepsi, acara ulang tahun dan lain-lain, kalau bukan semua dirancang dan disusun Adila sendiri.
"Cape pokoknya, Del! Pengin resign, nih!" keluhnya.
"Hah? Resign, kenapa? Bukannya pekerjaan kamu itu sudah enjoy?" tanya Deliana.
"Enak kepalamu?! Kamu, mah, enak, punya suami yang perhatian, gak mulu-mulu masa bodoh soal masalah-masalah. Kamu, sih, lihat keadaan aku bawaan santai, iya santai banget, biar kamu sama Mirna gak lihat bagaimana tekanan batin aku selama di kantor!" cerita Adila ke Deliana.
Deliana memang gak tau soal pekerjaan apa yang sekarang Adila pegang. Setau Deliana pekerjaan kantor di bidang perhotelan itu gak susah amat ketimbang perusahaan pabrik seperti Deliana waktu dia kerja dulu. Jauh menguras kemampuan dan kesabaran.
"Iya, aku tau, sih, terus kalau mau resign, kamu mau kerja di mana? Zaman sekarang susah cari pekerjaan sesuai keinginan, Dil?"
"Iya tau, kok, pengin cari kerjaan gak makan batin. Kalau bisa, gak sering ketemu bos lah," ucap Adila.
Deliana sambil berpikir, di mana-mana itu perusahaan sering jumpa bos, kalau gak manager. "Setau aku semua sama saja jumpa sama bos, ada sih buka usaha sendiri, kamu jadi bos langsung," canda Deliana lagi.
Adila mendengkus, dia memutar badan jadi tengkurap sambil menggoyang kedua kaki yang tergantung di kasurnya.
"Usaha apa, coba? Bakat aku saja cuma omelin orang. Pusing, lah, Del. Apa aku kawin saja kali, ya? Tapi ... gak ada yang tertarik sama aku, Del! Huaaaa, stres lama-lama."
"Ya udah, sabar-sabar saja dulu. Kalau mendadak resign gak langsung di setujui sama bos kamu. Pasti beri waktu buat kamu ajari pengganti pekerjaanmu," kata Deliana.
Adila sekali lagi mendengkus, dia pun bangun dari posisinya kemudian duduk seperti meditasi.
"Terus, terus, gimana bulan madu kamu? Seru? Malam pertama?" Adila malah membahas topik lain.
Deliana yang di kamar, sambil main boneka kesayangan. Malah diam sebentar, pertanyaan dan bahasan soal dirinya. Itu jauh dari dugaannya.
"Biasa saja, Dil!" jawabnya.
"Lah? Kok biasa, sih? Ya, reaksi kamu sudah nikah sama dia, terus masa malam pertama gak ada jauh lebih mesra, hubungan cinta kamu sama dia di atas tempat tidur itu gimana? Ganas gak si suami kamu? Terus, minta tambah gak atau gimana gitu?"
Deliana yang dengar pertanyaan dari sahabatnya. Kok wajahnya jadi panas gini. Gak mungkin dia ceritain ke sahabat soal malam pertama dengan Agus.
"Del! Apa kamu lagi sama dia?"
"Gak, dia lagi di Singapore,"
"Jadi kamu sendirian, dong! Tepat nih, ceritain dong. Kamu, kan, uda pengalaman hubungan sama suami sendiri. Sedikit, lah, kasih tips. Mana tau nanti aku ketemu jodoh, kan, gak grogi di malam pertama aku."
Deliana malah malu buat cerita apalagi ini hubungan gak ada kaitan dengan pribadi Adila.
"Eh, Dil. Aku tutup dulu, ya, Agus telepon, lain kali aku telepon kamu, bye!" Deliana lebih baik mematikan ponselnya daripada buyar setelah dia cerita hal tidak penting.
Adila sudah semangat empat lima, malah lemas. Padahal dia cuma mau tau hubungan kemesraan mereka berdua. "Iish! Kok gitu sih, Del! Gak setia kawan!" tutur Adila.
Dia pun turun dari kasur kemudian masuk ke kamar mandi. Sepuluh menit Adila keluar dari kamar mandi. Dia sempat menggigil beberapa kali pada rahang giginya. Kemudian dia kembali ke kasur menarik selimut tebal terus segera dia pejamkan kedua matanya.
__ADS_1