Zeazlan

Zeazlan
Pendahuluan


__ADS_3

Aku tidak ingin jatuh cinta bukan karena menolak takdir hanya saja aku menilai cinta dari apa yang terjadi di hidupku


-Zea Ulya praisa-


Aku Zea. Zea Ulya Praisa. Gadis sederhana yang masih duduk di bangku SMA. Aku gadis biasa dan hanya memiliki kepintaran yang biasa bahkan wajah yang biasa saja. Aku memiliki dua orang adik. Satu laki-laki dan satu perempuan. Mereka adalah harta berhargaku yang ku punya saat ini.


Apakah kami punya orang tua? Tentu saja, kami punya. Hanya saja, ibu kami sudah meninggal dunia dan ayah kami menikah lagi dengan seorang janda yang memiliki satu anak perempuan. Dia Faira Natasya. Dia seumuran denganku bahkan satu sekolah dengan aku dan Zeo, adik laki-lakiku. Awalnya setelah mereka menikah, ibu dan saudari tiriku itu tinggal di rumah ku dan ayah. Dia selalu bersikap baik kepadaku dan adik-adikku setiap di depan ayah. Tetapi di belakang ayah dia mulai menunjukkan wajah setannya.


Jika hanya aku yang di perintah atau di sakiti itu tidak jadi masalah, tetapi adik terkecilku Zia sering jadi sasaran mereka. Aku bukanlah seperti bawang putih di cerita dongeng yang bisa saja dia perintah dan dia injak-injak. Prinsip ku dia sopan kepadaku maka aku akan lebih sopan tetapi jika dia berani menginjak, aku juga tidak segan melakukan hal yang sama. Sama halnya dengan Zeo. Ibu dan saudari tiriku itu tidak akan berani kepada Zeo. Bahkan mereka sering mencari muka di hadapan adikku itu. Ingin rasanya aku mencakar wajah mereka ketika berbicara dengan Zeo.


Sampai suatu ketika Zeo mendapati lengan Zia terdapat memar.


"Tangan kamu kenapa ini?" tanya Zeo. Dengan memegang pelan memar bekas sayatan.


"Nggak papa. Zia tadi jatoh terus kesayat duri," jawab Zia. Dengan wajah lesu, bahkan keringat sudah membasahi pelipisnya.


"Kamu jangan bohong! Atau mau Abang aduin sama kak Zea iya!" ancam Zeo. Zeo sangat hapal dengan wajah Zia yang saat ini terlihat sedang menutupi sesuatu.


"Jangan bang! Jangan aduin ke kak Ze!" Zia tampak panik.


Aku yang mendengar namaku disebut langsung mengangkat suara.


"Ada apa ini? Kok ribut-ribut sih?" tanyaku kemudian mendekat ke arah Zia.


Mataku melotot ketika melihat lengan Xia yang penuh lebab lebam. Aku menarik tubuh Zia mendekat, mensejajarkan tubuhku dengan tubuh kecilnya.


"Lengan kamu kenapa? Kok bisa luka gini? Kena duri nggak gini bekasnya Zia!" ucapku dingin.


Zia hanya menundukkan pandangannya. Bahkan untuk mengeluarkan suara saja dia tidak berani. Kalau sudah begini, aku tahu siapa penyebab luka di lengan Zia.


"Mereka lagi?" tanya Zeo tidak percaya.


Aku menatap adik laki-lakiku itu sekilas.


Berdecak singkat.


"Lalu, siapa lagi?"


"Sudah, ayo kakak obati luka kamu!" kemudian aku membawa Zia ke ruang tamu untuk mengobati lukanya.


Sebenarnya hal seperti ini bukanlah hal yang wajar. Bahkan, kejadian seperti ini tidak terjadi sekali atau dua kali tetapi sudah cukup sering. Namun aku dan Zeo hanya diam, kami sadar kami tidak bisa melawan wanita gila itu.


Kami sudah sempat mengadu kepada ayah. Namun, ibu tiriku malah memutar balikkan fakta. Alhasil Kamilah yang akhirnya di hukum.


"Kita nggak bisa diam aja kak,"


"Mereka sudah kelewatan!"


Aku tau Zeo sudah sangat emosi saat ini. Abang mana yang tidak akan marah jika melihat adiknya tersakiti. Namun aku tidak akan membiarkan Zeo gegabah dan bertindak semaunya yang akhirnya akan menjadi boomerang untuk dirinya.


"Tenang Ze! Kita nggak bisa langsung marah ke mereka. Dan nuduh bahwa mereka yang melakukan ini ke Zia. Mereka itu licik."


"Lagipula nanti malam ayah pulang. Jadi gue nggak mau cuma gara-gara kita gegabah langsung serang itu nenek lampir jadi kita yang kena hukuman." Aku berusaha menenangkan Zeo. Dan mencoba menjelaskan kepadanya.


"Jadi maksud lo kita diem aja gitu ngelihat Zia begini?" Zeo masih sama. Emosinya masih belum redam. Terlihat dari tatapannya yang tajam serta tangannya yang terus tergenggam.


"Gue punya rencana," ucapku.


Dan hal itu membuat Zeo tertarik. Dia menatapku dengan tatapan penuh tanya.


"Rencana?"


"Rencana apaan?" tanyanya bingung.


"Zia ke kamar dulu aja ya. Nanti kakak susuk ke sana, kakak mau ambil kotak p3k dulu di dapur."


Zia mengangguk patuh. Kemudian berjalan menuju kamarnya. Setelah memastikan Zia benar-benar sudah di kamar barulah aku mendekati Zeo.


"Rencana apaan?" tanya Zeo lagi.


Kali ini terlihat wajah Zeo yang sangat penasaran.


"Sini gue bisikin," ucapku.


Tanpa menunggu lama, Zeo langsung mendekatkan telinganya. Dengan cepat aku mengatakan rencanaku.


"Gimana menurut lo?" tanyaku.


Aku menatapnya lekat, menunggu jawaban dari bibir manusia es batu satu ini.

__ADS_1


"Hmm, oke gue setuju." Zeo mengangguk, kemudian tersenyum singkat. " Kapan kita lakukan rencana ini?" tanyanya antusias.


"Malam ini? Sebelum ayah pulang kita harus sudah menjalankan rencana kita," ucapku mantap. Dibalas anggukan oleh Zeo.


"Ternyata lo pinter juga, kak"


Entah itu pujian atau tidak. Yang jelas itu adalah kata-kata yang keluar dari mulut Zeo. Untuk pertama kalinya dia mengatakan bahwa aku pintar.


"Lo sehat?"


"Sehatlah!" jawab Zeo mantap.


"Kena virus apaan lo muji gue pinter. Corona? Biasa juga ngehina mulu," cibir ku.


"Dasar mbak Ropeah!! Di puji bukannya bilang makasih malah mendoakan adiknya kena corona," balas Zeo dengan ketusnya.


"Gue bukan doain. Gue cuman nanya. Aneh aja gitu, lo muji gue. Dan hal ini patut diberi apresiasi." Sahutku dengan semangatnya.


"Alay lo. Kek cabe-cabean," setelah mengatakan kalimat itu. Zeo langsung berlari menuju kamarnya.


"Kalok gue cabe lo apaan bambank? Adiknya cabe? Kita kan sedarah ****," ungkapku tidak terima dengan panggilan Zeo yang mengatakan bahwa aku cabe-cabean.


"Bodo amatlah. Yang penting lanjutkan misi kita," ucapnya dengan kedipan mata sebelah.


"Astagfirullah,"


"Kena angin apa adik gue?" tanyaku sendiri.


"Apa beneran kena corona, ya? Biasanya juga nggak pernah alay begitu. Apalagi genit pake kedip-kedip mata segala," gerutuku.


"Semoga aja nggak makin parah," akupun hanya dapat berharap.


Kemudian aku pergi ke kamar Zia dengan membawa kotak p3k untuk mengobati luka lebam di lengannya yang cukupĀ  banyak.


* * *


*Satu hal yang menjadi energi terkuat untuk menggerakkan manusia itu adalah cinta*


-Azlan Malik*-


Aku Azlan, tepatnya Azlan Malik. Nama yang cukup singkat lain seperti kebanyakan orang di luar sana. Hanya dua kata. Namun aku yakin nama inilah yang akan membawaku menuju kesuksesan.


Nama Malik yang ia turunkan kepadaku mungkin memiliki maksud tersendiri. Terinspirasi dari nama salah satu malaikat penjaga neraka. Namun meski begitu bukan berarti aku ingin masuk neraka. Tentu tidak!! Tidak akan ada yang mau masuk ke dalam tempat itu jika ditanya. Hanya terinspirasi buka. berarti ingin bertemu kan?.


Terkadang aku bertanya-tanya mengapa namaku hanyalah dua kata. Berbeda dengan anak milyader di luar sana yang panjangnya melebih sungai Amazon bahkan ribetnya melebih mood cewek yang lagi pms. Ya memang itu faktanya.


Aku punya teman, namanya Grisham Delvino Graciou Pansel. Bahkan untuk memilih panggilan yang enak dan cepat itu membuatku bingung. Mau di panggil Grish ataupun Gra itu terlalu ribet untuk aku yang memang asli Indonesia. Bukan karena aku tidak pandai berbahasa Inggris. Tetapi menurutku nama itu bukanlah kalimat tetapi sebuah panggilan untuk seseorang. Akhirnya aku lebih memilih memanggilnya Vino, lebih tepatnya memilih nama tengahnya. Mengapa aku tidak memanggilnya dengan nama Pansel karena aku tidak ingin nantinya aku beralih ke ponsel. Bisa jadi aku di santap habis oleh bapak Vino yang sesuka hati mengganti nama anaknya itu.


Cukup membahas nama Vino, aku akan jelaskan mengapa papa ku memberikan namaku yang cukup simple ini. Jika di pikir-pikir namaku hanyalah Azlan, dan kata Malik itu hanyalah nama Papa yang di turunkan dari kakek yaitu Firman Malik. Tetapi dua kata. Ya setidaknya itu kebiasaan yang terjadi secara turun temurun di keluargaku hingga ke diriku ini.


Inilah jawaban papa ketika aku bertanya mengenai nama ku ini.


"Pah,"


"Iya, ada apa ganteng?" tanyanya lembut sembari menyeruput kopi hitam kesukaannya.


"Kenapa nama Azlan hanya dua kata. Bukannya nama panjang itu lebih keren?" ucapku.


Papa menoleh ke arahku, tersenyum singkat. Namun senyuman itu penuh makna menurutku.


"Kamu nggak suka papa kasih nama kamu begitu?" tanyanya.


"Nggak pa. Azlan suka nama ini, cuma penasaran aja." Jawabku seadanya.


"Jawabannya simpel aja kayak nama kamu Lan. Alasan pertama biar nggak ribet kalok mau manggil dan alasan kedua supaya kamu ujian nggak ribet." Jawabnya kemudian kembali meminum kopi hitamnya itu.


Aku terdiam mencerna ucapan papa.


"Iya juga ya,"


"Baru sadar?" sindir papa. Aku hanya memberikan cengiran tanpa dosa.


"Berterima kasihlah pada papamu ini karena tidak ingin mempersulit mu."


"Makasih papaku sayang."


Tiba-tiba wanita paruh baya danmtang menghampiri kami. Wajahnya terlihat marah. Ada apa ini? Aku merasa akan ada ceramah seribu ayat yang akan menghampiri.


"Lan," panggil mama pelan. Namun aku tahu ia menahan suaranya untuk tetap bersikap lembut.

__ADS_1


"Iya mah, ada apa?" ucapku berusaha tetap tenang.


"Lihat ini!!" ucapnya kemudian memberikan sebuah test pack yang bergaris dua.


"Mama hamil!!" pekikku. Jujur aku kaget serta senang melihat hal itu.


Papa yang mendengar suaraku langsung menatap mama dengan tatapan penuh tanya.


"Bener ma?" papa memastikan.


"Ya nggaklah lah pa. Ini bukan test pack mama."


"Terus punya siapa dong?" tanyaku heran. Lantaran mama yang membawa benda kecil berwarna biru itu. Ya tentunya dengan duagaris berwarna merah, menandakan positif.


"Ini punya Rani, dia Dateng nangis-nangis kesini terus ngasih ini ke mama. Dia bilang ini anak kamu Lan. Kamu mau buat malu keluarga ngehamilin anak orang." Omel mama ku.


Aku hanya melongo mendengar ucapan mamaku. Alasannya karena aku sama sekali tidak mengenal dengan nama yang ia sebutkan. Ya memang terlalu banyak wanita yang aku pacari namun tidak ada satupun yang pernah aku tiduri. Aku berpacaran dengan mereka hanya untuk alasan tertentu saja. Tidak karena aku mencintai mereka.


Jahat!!. Iya aku jahat. Karena mempermainkan wanita. Playboy? Jelas. Itu aku. Tetapi meski begitu aku tidak pernah merusak ataupun merenggut masa depan dari para gadis yang aku pacari. Aku sadar aku tidak dapat bersama mereka. Maka dari itu aku nggak berhak untuk merampasnya.


"Rani yang mana ma?" tanyaku masih bingung.


"Astagfirullah Azlan, ada berapa Rani yang kamu tiduri sampe-sampe kamu lupa," ucap Mama ku histeris.


"Ya Allah ma, sumpah!! Azlan nggak pernah ngehamilin anak orang. Megang aja nggak."


"Terus kenapa tuh anak gadis nangis-nangis kesini minta tanggung jawab kamu," sergap mama lagi.


"Ya mana Azlan tahu. Lagian pacar Azlan itu nggak ada yang namanya Rani mah." Jelas ku lagi.


"Namanya kalau mama nggak salah Ang-- Anggaraini cuma biar cepat aja mama bilang Rani,"


Tuh kan kebiasaan di rumah ini memanggil orang sesuka hatinya. Yang penting cepat dan enak untuk disebutkan.


"Itu Aini mah, lagian Azlan baru pacaran sama dia dua hati. Apa mungkin dia bisa hamil dalam waktu dua hari."


"What!! serius??" tanya mama langsung.


"Iya mah, itupun karena dia ngancem mau bunuh diri kalau Azlan nggak mau Nerima dia," tambahku lagi.


Karena memang itulah faktanya. Aini menangis di hadapanku Hanay ingin memintaku untuk menjadi kekasihnya. Jika aku tidak mau dia akan bunuh diri dari lantai empat kampus. Wanita gila memang. Tapi mau bagaiman lagi, aku tidak tega dan tidak mungkin membiarkan gadis itu melakukan hal gila seperti itu. Dan akhirnya aku menerimanya.


"Tapi kok dia bilang dia udah hamil lima bulan, mama lihat juga perut dia agak buncitan gitu. Ya mama langsung percaya ajalah."


"Mungkin dia hamil sama cowok lain kali."


"Lagian ya ma, Azlan Nerima dia cuman karena kasihan. Bukan karena cinta. Mungkin aja dia mau memanfaatkan hal itu supaya Azlan mau nikahi dia. Dih ogah bener, nanti Azlan bakal putusin dia."


"Terus kalau dia mau bunuh diri lagi gimana?" tanya mama dengan anda khawatir kepadaku.


"mmAzlan bilang aja mau tanggung jawab cewek lain yang Azlan hamili, simple kan."


Papa tersenyum singkat.


"Ide yang cukup baik. Tetapi tidak baik untuk nama baik keluarga kita Kan." Ucapnya.


"Terus apaan lagi coba pah?"


"Putusin aja lah, jadi cowo harus tegas. Lagian dia udah coba bohongin mama. Dan perempuan pembohong nggak pantes jadi menantu keluarga Malik." Ucap papa tegas.


Senyumku mengembang.


"Ide brilian!!" ucapku semangat. Kemudian berlari ke kamarku untuk melancarkan aksiku untuk memutuskan Aini secepatnya.


Aku memang tidak mencintainya. Hak yang sangat terpaksa selalu aku lakukan ketika berpacaran. Tidak pernah ada cinta di hubunganku. Semua wanita yang mendekatiku hanya ingin harta ku ataupun hanya numpang tenar karena berhasil dekat dengan anak pemilik kampus.


Sebenernya aku malas menanggapi mereka. Namun aku tidak ingin bersikap sombong. Tetapi karena hal itu aku belum menemukan wanita uang tulus mencintaiku bukan karena uang ataupun ketampanan ku.


Begitupun aku yang tidak pernah memberikan cintaku kepada para wanita itu. Aku hanya memacari mereka karena beberapa hal yang menurutku menguntungkan.


Aku bukanlah pedofil yang akan memainkan tubuh wanita. Aku sangat menghargai mereka. Aku tidak akan pernah meminta harta berharga mereka dan merebutnya meskipun mereka mengizinkan dengan suka rela tanpa paksaan.


Aku tidak akan melakukan hal itu kepada wanita yang tidak aku cintai. Bahkan aku berpikir akankah aku menemukan wanita yang benar-benar merebut hatiku nantinya. Satu mungkin tidak akan pernah. Melihat semua wanita yang ku temui hanya menginginkanku dengan alasan di belakangnya.


Sampai akhirnya aku bertemu dengan wanita yang menatapku dengan tatapan berbeda. Bukanlah tatapan ingin memiliki tetapi tatapan dingin dan datar. Wanita cantik yang tidak pernah ingin disebut cantik. Wajah datar yang mampu membuat degub jantungku berdetak di atas normal ketika melihatnya. Mata coklat yang membuatku candu untuk terus menatapnya.


Gadis biasa, namun mampu membuat hatiku bergetar ketika melihat dirinya. Mulut pedas dan tatapan tidak sukanya padaku menambah ketertarikan ku padanya.


Gadis itu adalah Zea Praisa Ulya.

__ADS_1


Gadis yang mampu membuatku jatuh cinta dalam pandangan pertama.


__ADS_2