Zeazlan

Zeazlan
Menyebalkan tapi manis


__ADS_3

Sikap manis mu mampu membuat tubuhku meleleh seperti coklat dalam panci panas


-Zea Praisa Ulya-


-Happy reading-


Zea mengunyah makanannya dengan perlahan. Menelan sedikit demi sedikit makanan hingga benar-benar halus sebelum menelannya. Dengan sesekali ia melirik ke arah Zia yang juga sedang makan. Mereka makan dalam diam.


"Udah siap kak," Zia meneguk susunya hingga tandas.


"Zia berangkat dulu ya," pamitnya, lalu menyalami punggung tangan Zea dan berlalu dari meja makan.


"Hati-hati dek," teriak Zea.


Kemudian Zea melanjutkan makannya yang belum selesai. Tidak lama setelah kepergian Zia, Faira datang lalu duduk di meja makan. Ia mengambil kursi tepat di hadapan Zea. Mungkin ia juga ingin sarapan. Tapi hal tersebut cukup aneh menurut Zea. Pasalnya gadis itu tidaklah pernah sarapan di rumah. Mentoknya hanya meminum susu saja.


Ternyata benar. Faira tidak ingin sarapan. Buktinya dia tidak mengambil piring untuk makan. Dia hanya duduk sambil melipat tangannya di atas meja. Menatap Zea yang masih fokus pada nasinya.


"Lo mau apa?" tanya Zea langsung. Ia paham benar dengan tatapan Faira yang tentunya memiliki maksud tersendiri.


"Hem gue mau nanya sama Lo Ze?" ucapan itu yang keluar dari mulut gadis itu. Sebuah pertanyaan.


"Tanya aja," jawab Zea datar.


"Lo masih ada rasa nggak sama Rio?" pertanyaan Faira tadi langsung membuat selera makan Zea hilang.


Zea menatap tidak suka ke arah Faira. Hampir tersedak mendengar pertanyaan Faira, namun Zea masih sempat menanggulanginya.


"Nggak," jawab Zea tanpa ragu.


"Bagus deh kalau nggak. Gue cuma ragu aja, soalnya kemaren pas gue telponan sama Rio, dia nggak sengaja nyebut nama Lo. Secara kan lo mantan dia. Jadi untuk antisipasi aja mastiin kalian nggak bakal balikan lagi, jadi gue mau tahu tentang perasaan Lo aja." Zea tersenyum sinis.


Bahkan Zea tidak habis pikir pada Rio. Sudah punya pacar masih saja menyebut nama Zea. Apa dia tidak punya perasaan? Cukup Zea saja satu-satunya wanita yang ia sakiti. Jangan sampai ada wanita lainnya. Meskipun Zea tidak suka pada Faira, bukan berarti Zea senang jika Rio menyakiti wanita itu. Zea tahu benar rasanya patah hati. Perasaan sakit tidak berdarah namun begitu mematikan. Tidak terlihat namun begitu berefek pada tubuh. Apalagi Zea tahu benar bahwa Faira itu hanyalah bahan pelarian Rio saja.


"Lo tenang aja, gue nggak bakal balik sama Rio. Lagian gue juga udah punya pacar." Ucap Zea.


Faira manggut-manggut tanda mengiyakan. Tidak lama setelah itu terdengar sebuah klakson mobil dari luar rumah mereka.


"Hem kayaknya Rio udah jemput gue. Gue duluan. Gue harap gue bisa pegang ucapan Lo. Lo tahu kan gue orangnya nekat kalau menyangkut hal yang gue suka."


Ucapan Faira tidak dipedulikan oleh Zea. Bahkan hanya ia anggap angin lalu. Zea tidak pernah takut pada Faira. Baik dengan dirinya ataupun ancaman darinya.


Zea meneguk susunya hingga habis. Nasi di piringnya sudah tidak tersisa lagi sekarang. Zea langsung bangkit dari duduknya, membereskan piring kotor yang ada di meja makan. Lalu mencucinya hingga bersih. Setelah selesai merapikan semuanya. Zea meraih tas sekolahnya lalu berjalan keluar rumah.


Namun Zea mendapati Faira yang tengah duduk manis di sofa dengan memainkan ponselnya.


"Lo belum berangkat? Bukannya tadi udah di jemput?" heran Zea. Pasalnya tadi Faira sudah berpamitan padanya. Dan meninggalkan ancaman yang sama sekali tidak Zea takuti.


"Bukan Rio ternyata." Jawab Faira dengan nada kesal.


"Oh," jawab Zea kemudian ia berlalu meninggalkan Faira keluar dari rumah.


Setelah menutup pintu rumah. Pandangan Zea terhenti pada seorang pria yang tengah bersandar di pintu mobil dengan senyum manisnya. Dia berjalan menghampiri Zea dengan senyuman tetap terukir jelas. Dia terlihat begitu percaya diri.


"Pagi pacar," sapanya tetap dengan senyuman.


"Lo ngapain pagi-pagi udah di sini?" heran Zea.


"Kamu lupa ya sayang, kan aku udah bilang tadi malam kalau aku bakal jemput dan nganter kamu ke sekolah hari ini dan seterusnya."


Zea merutuki dirinya sendiri. Dia bahkan melupakan hal itu.


"Harus banget ya, Lan?" tanya Zea dengan wajah malas.


"Harus dong. Dan aku nggak nerima penolakan loh ya." Jawab Azlan.


Kemudian Azlan berjalan menghampiri Zea, menunjukkan deretan gigi putihnya.


"Ngapain Lo nyengar-nyengir begitu udah kek iklan pasta gigi aja." Azlan terkekeh ringan mendengar ucapan Zea.


"Emang salah ngelihatin pacar sendiri?" tanya Azlan.


"Entah!! Tanya aja sama Mbah Google," ketus Zea kemudian berjalan meninggalkan Azlan.


"Masih pagi juga Ze, udah marah-marah. Cepet tua nanti loh," teriak Azlan.


"Emang kenapa kalau gue tua?" tanya Zea tidak terima. "Masalah buat Lo?" sergahnya.


"Jangan dong! Tuanya nanti aja, bareng-bareng sama gue. Kita menua bersama hingga maut memisahkan."


Blush. Zea yakin pipinya sekarang pasti sudah merona karena ucapan Azlan tadi. Namun Zea tidak ingin sampai Azlan mengetahuinya. Bisa besar kepala dia nanti.


"Ogah banget tua bareng cowok mesum kayak Lo. Udah ah buruan anterin gue. Gue udah mau telat ini," kemudian Zea memegang pintu mobil Azlan.


Azlan yang hanya mampu mengelus dada menghadapi sikap jutek Zea. Memilih menuruti perkataan gadis itu saja. Demi ketentraman bersama pikirnya. Azlan langsung berjalan menuju mobilnya.


"Eh tunggu Lan!" suara Zea menghentikan langkah Azlan.


"Kenapa?" tanya Azlan bingung.


"Gue kaya kenal sama ini mobil. Bukannya ini mobil Putri, kenapa Lo yang bawa? Mobil Lo kemana?" tanya Zea. Pasalnya mobil yang dibawa Azlan saat ini adalah Lamborghini kesayangan sahabatnya itu. Mobil yang hanya di pakai oleh Putri di saat-saat tertentu aja. Bahkan ia belum pernah membawanya ke sekolah sekalipun. Zea tahu mobil ini milik putri karena Zea selalu melihat mobil ini terparkir manis di garasi mobil milik keluarga Putri. Dan putri pernah memakainya ketika pergi berlibur ke puncak bersama Zea, di hari anniversary orangtuanya.


Azlan tersenyum penuh arti mendengar pertanyaan dari gadisnya itu. Kemudian menghampiri Zea. Membukakan pintu mobil dan mempersilahkan gadis itu untuk masuk.


"Masuk aja dulu, entar aku ceritain di jalan. Nanti kamu telat,"


"Tapi nanti Zeo," tiba-tiba Zea teringat Zeo yang masih mengantarkan Zia ke sekolah.


"Tenang aja, aku udah kabarin Zeo kalau mulai hari ini aku yang bakal ngantar kamu." Ucap Azlan dengan senyuman termanis di dunia.


Sumpah Lan, Lo ngapain sih senyum begitu ke gue. Bisa pingsan di tempat gue kalau lama-lama begini. Gerutu Zea dalam hati.


"Kalau mau muji aku muji aja kali," Zea terkesiap. Tanpa sadar, ia terpaku dengan senyuman Azlan tadi. Bodoh!! Manusia dengan pede tingkat tinggi ini pasti akan besar kepala.


"Pede Lo ketinggian. Hati-hati jatoh sakit," ucap Zea ketus. Lalu masuk ke dalam mobil.


"Terima kasih atas perhatiannya," Azlan mengedipkan satu matanya.


"Pake kedip-kedip mata segala. Gue culek mau?" ketus Zea.


"Santai kali Ze, kejam amat. Masa iya mata pacar sendiri mau di culek. Sadis bat dah." Ucap Azlan, masih dengan posisi di samping Zea dengan pintu mobil terbuka.


"Bodo amat!! Udah ah ayo buruan gue udah mau telat nih."


"Baik-baik napa mintanya. Anterin aku dong sayang, atau ayo sayang aku udah mau telat nih." Zea menghela napas berat. Emosinya mulai di pancing oleh manusia bernama Azlan ini. Pengen ngehujat tapi takut dosa.


"Bangun Lan, jangan tidur aja. Mimpi kok pagi-pagi."


"Kan emang mimpi gue ada di hadapan gue sekarang," mata Zea memicing.


"Iya sumpah Zea, gue nggak mau modus. Emang mimpi gue itu selalu ingin melihat dan menatap Lo kayak gini." Azlan mendekatkan dirinya ke arah Zea. Membuat gadis itu tersentak karena perlakuan Azlan.


"Mau ngapain Lo?" pekik Zea langsung.


"Makein sealt bath," jawab Azlan santai. Kemudian memakaikan sabuk pengaman itu pada Zea.


"Masuk dulu apa nggak bisa sih. Masa iya masangin dari luar begitu." Ucap Zea semakin kesal.


"Oke, gue masuk," Tetapi bukannya memutar dari depan mobil, Azlan malah masuk melalui pintu penumpang. Dan hal itu menyebabkan tubuhnya dan Zea saling berhimpit cukup lama. Sampai akhirnya ia mendarat mulus di kursi kemudi tentunya dengan segala rintangan dan hambatan. Salah satunya pekikan yang memekakkan telinga dari mulut pedas Zea. Dengan senyuman tanpa dosa miliknya itu Ia memakai sealt bath miliknya.


"Lo gila!!" protes Zea semakin kesal. Emosinya mulai naik ke ubun-ubun.


"Iya, gue gila karna lo." Jawab Azlan.


"DASAR COWOK MESUM GILA. Pake modus masuk dari sini lagi supaya bisa deket-deket sama gue. Apa yang Lo lakuin tadi itu sumpah bikin sakit badan Lan. Kesel banget gue sama Lo. Udah ah gue mau naik angkot aja." Belum sempat Zea memegang pintu mobil hendak keluar. Azlan sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.


"Lan, Lo mau ngajak gue mati!!" teriak Zea.


"Sumpah ya Lan, Lo selalu aja bikin gue kesel."


"Jangan marah-marah sayang, entar cantiknya hilang loh." Jawab Azlan santai.


"BODO AMAT GUE JADI JELEK. TAPI SEKARANG GUE BELUM MAU MATI!!!"


Azlan menutup telinganya dengan satu tangan. Kemudian mengurangi kecepatan mobilnya.


Zea menghela napas setelah kecepatan mobil mulai berkurang. Kemudian menatap tajam Azlan. Sedangkan yang di tatap hanya memberikan senyuman tanpa dosa, membuat Zea semakin muak saja. Sungguh manusia yang tidak tahu malu.


"Jangan begitu banget ngelihatin akunya. Entar jatuh cinta loh," goda Azlan, diikuti dengan kekehan kecil darinya.


"NGGAK AKAN!!"


Azlan tertawa geli melihat wajah kesal Zea yang begitu menggemaskan. Azlan hendak mengelus pucuk kepala Zea. Namun Zea langsung menghindar dan menatap tajam Azlan. Tatapan membunuh.


"Berani sentuh gue, gue cincang habiso, terus gue kasih lempar ke ikan piranha."


"Idih sadis bener cewek gue," ucap Azlan. Bukannya takut ia malah kembali tertawa mendengarkan ancaman Zea tadi.


"Emang,"


"Tapi gue tetep cinta kok,"


"Dasar gila!!" ketus Zea.


"Gila karna lo!!"


"Bodi amat! Bodo amat!! Gue nggak denger," ucap Zea menutupi telinganya.


Azlan kembali tertawa melihat wajah tidak suka Zea. Mulutnya menjadi lebih maju karena kesal. Jadi pengen cium.


"Gemesin banget sih, jadi pengen cium." Goda Azlan lagi.


Meskipun telinga ia tutup Zea masih dapat mendengar ucapan Alzan. Ia menoleh ke pria yang baru seminggu menyandang gelar sebagai pacarnya ini. Meskipun ia menerimanya karena paksaan darinya. Tentunya juga demi keuntungan dirinya sendiri.


"Berani Lo lakuin itu gue sunat habis Lo."


Kali ini ancaman Zea membungkam habis Azlan. Ia bergidik ngeri membayangkan jika sampai benar hal itu dilakukan oleh Zea. Meskipun sebenarnya itu tidak mungkin. Azlan tahu benar Zea hanyalah mengancam dirinya saja.


"Kadang gue heran kenapa bisa gue jatuh cinta sama cewek dingin plus sadis kayak Lo Ze." Zea tidak bergeming hanya Diam tidak menjawab.


Baru sadar? Itu tandanya Lo ****, karena suka sama gue. Jawaban itu hanya terucap di dalam hati saja.


"Mungkin Lo nganggap gue **** Ze. Tapi itulah cinta, nggak mandang siapapun orang yang dia cintai dan dari hal apapun yang menjadi alasannya," Zea menoleh sekilas ke arah Azlan. Lidahnya keluh untuk berkata.


Kok dia bisa baca pikiran gue? Keturunan cenayang kali ya?. Lagi-lagi batin Zea berucap.


"Lo tahu Ze? Cinta itu nggak bisa di kendalikan karena yang berpusat itu hati, bahkan logika bakal kalah dalam hal ini."


"Karena jatuh cinta tidak bisa memilih. Tuhanlah yang memilihkan. Kita hanyalah korban. Kecewa adalah konsekuensi dan Bahagia adalah bonus. Gue harap gue akan dapet bonus dalam pengorbanan cinta gue ke Lo Ze. Gue mau bahagia bareng sama Lo." Ucapan yang begitu tulus diucapkan oleh Azlan. Tentunya dengan senyuman yang terus mengembang di wajahnya.


Hati Zea tersentuh. Entah mengapa ada kehangatan dari kata yang keluar dari mulut Azlan tadi. Begitu manis. Bahkan cukup membuat hati Zea terasa berbunga-bunga. Namun egonya terlalu tinggi untuk mengakui bahwa dia senang mendengar ucapan Azlan.


Zea hanya diam. Tidak menjawab ucapan Azlan tadi. Senang itu jelas. Ada perasaan aneh yang mulai Zea rasakan. Namun Zea selalu menepisnya ketika berada di dekat Azlan. Zea masih terlalu takut untuk percaya lagi kepada seseorang untuk menjadi pemilik hatinya.


Meskipun sudah berusaha berdamai dengan masa lalunya. Dan mencoba melupakan kepahitan yang pernah ia rasakan. Tetapi untuk memulai lagi itu sulit.


Akan tetapi di sisi lain seakan ada suara yang memberontak rasa takut Zea. Senyuman Azlan mampu membuat dirinya sedikit merasa ada pemberontakan di hati dan pikirannya. Jika pikirannya berkata tidak namun hatinya berkata lain. Dia bingung dan takut, tetapi rasa nyaman ketika bersama Azlan tidak dapat dipungkiri.


Apa Zea mulai mencintai lelaki di sebelahnya itu. Jawabannya iya. Tetapi Zea masih belum terlalu yakin pada hatinya. Perlu waktu untuk meyakinkannya. Azlan harus bersabar untuk hal itu. Zea harap pria itu akan mengerti.


Meskipun Zea tidak bersuara Azlan tahu gadis itu mulai merasakan perasaan yang sama dengannya. Azlan tidak ingin memaksakan kehendak. Meskipun ajakannya untuk berpacaran dengan Zea itu suatu pemaksaan, akan tetapi untuk perasaan Zea dan sikapnya kepada dirinya, Azlan mau Zea melakukannya karena keinginan hatinya. Azlan mau nantinya Zea mencintai dirinya karena diri Azlan apa adanya. Bukan karena paksaan. Karena sesuatu yang di paksakan tidak akan memberikan hasil yang baik.


Awalnya niat Azlan mengajak Zea berpacaran karena ambisinya yang ingin memiliki Zea. Namun setelah beberapa hari bersama gadis itu Azlan menjadi lebih ingin mengetahui Zea lebih dalam lagi. Ingin membagi segalanya dengan gadis itu dan tentunya ingin selalu menjadi pelindungnya dari segala konsekuensi yang akan menyakiti gadis itu.


Ketika pertama kali Zea mengakui dirinya sebagai pacarnya dan menggandeng erat lengan Azlan, ya meskipun hal itu hanyalah terpaksa karena suatu keadaan. Namun Azlan merasa pada saat itu ia sudah melindungi Zea. Melindungi dari situasi yang membuat gadis itu sedih. Dan dari situlah Aalan ingin terus menerus melakukan hal yang sama. Menjadi pelindung Zea, hingga matanya tidak terbuka lagi nantinya.


"Intinya gue cinta sama Lo itu tulus Ze. Meskipun Lo belum, gue bakal tunggu."


Gue harap Lo bakal sabar Lan untuk nunggu. Karena gue nggak tau kapan gue yakin sama perasaan gue ini, maaf. Jawab Zea dalam hati.


"Jangan diem aja entar kesambet Lo. Kasihan setannya kalau sampe masuk ke Lo nantinya, pasti dia kesiksa banget. Nggak bayangin gue,."


Dasar curut, baru aja tadi baper-baperin gue, sekarang udah mulai lagi mancing emosi gue. Dasar cowo!!. Zea menatap tajam Azlan.


"Setan takut sama gue. Bahkan kalau ketemu dia cium tangan. Jadi nggak akan berani masuk ke badan gue," tawa Azlan pecah.


"Serius? Nggak nyangka gue, ternyata setan aja segen sama Lo apalagi manusia." Ucap Azlan tidak percaya.


"Emang Lo siapanya setan? Ratunya?"


"Pembantunya!! Puas??"


"Idih masa sama pembantu setan cium tangan?"


"Udah ah Lan, bisa gila gue jawab pertanyaan Lo."


"Eh cie mulai gila karena gue ya?"


Sumpah ini cowo terbuat dari apa sih. Masa ada cowo tingkahnya kayak anak seribu satu begini. Pengen rasanya dikarungin lalu di tenggelamkan ke segitiga Bermuda.


"Maksih loh ya muji gue dalam hati." Ucap Azlan lagi dengan pede tingkat tingginya.


Gue ngehujat Lo Kadal. Bukan muji. Gue tendang juga lama-lama nih bocah.


"Arrggghhh," teriak Zea semakin kesal. Sedangkan Azlan hanya tersenyum kemenangan.


"Sudah sampai di sekolah sayang. Udah gih sana turun, nanti telat loh." Ucap Azlan lembut.


"Nggak perlu Lo suruh juga gue bakal turun. Bisa mati muda gue lama-lama duduk satu mobil bareng Lo." Balas Zea ketus.


"Iya-iya aku tahu. Jangan kangen dulu ya, sekolah sana, belajar yang pinter! Nanti pulang sekolah aku jemput. Jangan ganjen sama cowok lain, oke."


Sumpah Fix, nih bocah ngajak ribut. Pengen gue botakin sekarang juga kayaknya.


"Bukan urusan lo!!" teriak Zea geram ke wajah Azlan. Ingin rasanya mencakar wajah tampan pria itu. Zea sama sekali tidak ada mengatakan kangen padanya, tetapi dengan pede dan percaya dirinya itu dia mengatakan kalimat yang membuat Zea naik darah seketika.


"Kalau mau cubit ya cubit aja sayang, mau cubit pipi kiri atau kanan tinggal pilih aja. Kalau mau cium juga boleh," Ucap Azlan lalu mengedipkan satu matanya.


Zea menghela napasnya pelan berusaha menetralkannya yang sekarang mulai tidak stabil. Emosinya mulai tidak terkendaki. Ia membuka pintu mobil lalu keluar dari sana. Terlalu lama bersama Azlan di dalam mobil membuat darahnya semakin naik saja. Tanpa memedulikan panggilan Azlan dari dalam mobil. Zea langsung masuk ke gerbang sekolah menuju kelasnya.


Di perjalanan menuju kelas Zea terus merutuki Azlan dengan berbagai nama yang ada di kebun binatang. Namun hanya terucap dalam hati saja, sehingga tidak ada yang mendengarnya. Karena ia tidak ingin terlihat seperti orang gila yang mengomel tidak jelas di jalan.


Zea masuk ke dalam kelasnya dengan wajah yang cukup kusut layaknya pakaian tidak disetrika satu tahun.


"Eh dah nih bocah ngapa? Muka kusut bener neng?" tanya Putri menyadari Zea yang sepertinya sedang kesal.


Zea melirik Putri sekilas. Lalu duduk di bangku kesayangannya itu.


"Nggak papa." Ketus Zea. Kemudian mengeluarkan buku Kimia miliknya. Karena jam pertama di hari ini adalah pelajaran kimia.


"Nggak usah sok bohong, nggak bakat tau. Ada apa? Cerita Ze," ucap dan tanya Putri lagi. Seakan gadis itu begitu mengetahui keadaan Zea saat ini.


Zea menatap Putri sebentar lalu menghela napas pelan. Berusaha menstabilkan emosinya tadi yang sempat meluap. Emosi yang tadinya senang diubah menjadi kesal dan marah.


"Habis ketemu anak setan yang ngeselinnya nauzubillah," keluh Zea dengan wajah kesal yang masih sangat jelas terlihat di bajahnya.


"Zeo lagi?" Zea menoleh lalu menggeleng.


"Bukan,"


"Terus siapa dong,"


"Siapa lagi kalau nggak sepupu gila Lo itu. Sumpah ya Put, masih pagi aja dia udah buat emosi gue hampir meledak, untug nggak gue goniin tuh anak,"


Putri langsung tertawa mendengar ucapan Zea. Entah apa uang lucu menurutnya. Tetapi hal itu malah membuat Zea semakin kesal.


"Malah ketawa,"


"Sorry Ze sorry," ucap putri sembari berusaha menghentikan tawanya. " Lo tahu nggak Ze, ini pertama kalinya gue ngelihat Lo kesel dan marah sampai segininya karena Lo itu manusia tanpa ekspresi . Biasanya selain ekspresi dingin dan datar nggak ada ekspresi lainnya. Sungguh hal ini adalah perubahan yang cukup drastis." Tambah Putri salut.


"Lebay!!" cibir Zea.


"Gue serius Zea,"


"Bener kan Ze? Cuma kak Azlan yang bisa bikin Lo sekesel ini. Lo itu cewek tanpa ekspresi Zea, datar kayak aspal. Orang ngusik Lo aja Lo nggak pernah sekesel ini. Bahkan di saat Lo ngehadapi fans Zea yang hebohnya kayak orang kebakaran jenggot aja Lo nggak pernah sekesel ini. Lo cuman natap mereka dengan tatapan dingin sambil bilang gini, Jangan berisik! kalau nggak mau gue goniin. Atau nggak gini, kalian berani ganggu Zeo, gue botakin pala kalian." Ucap Putri sembari memperagakan ekspresi dingin Zea yang biasa ia tunjukkan kepada para perempuan yang mengejar-ngejar Zeo.

__ADS_1


"Sebegitu detailnya Lo perhatiin muka gue Put," kali ini Zea yang terbuat heran.


Putri berdecak sebal.


"Helo nona gue itu temenan sama Lo bukan baru sehari. Semua yang ada di Lo gue hapal luar kepala Zea." Zea memutar matanya malas. Sepertinya jiwa lebay sahabatnya itu mulai keluar.


"Lagian gue salut sama kak Azlan sih. Seenggaknya dia ada kemajuan, dan kayaknya nggak nyesel gue kasih Lamborghini gue ke dia," tambah Putri.


Zea jadi teringat dengan mobil yang di bawa Azlan untuk mengantarnya tadi. Ia bahkan lupa menanyakan hal itu pada Azlan, mengapa Putri memberikan mobilnya pada dirinya. Karena terlalu kesal dengan Azlan, membuat Zea lupa akan hal itu.


"Oh iya put, kenapa Lo kasih mobil kesayangan Lo sama Azlan? Emang nggak sayang," tanya Zea heran.


Putri menoleh ke arah Zea. Lalu tersenyum singkat kepada sahabatnya itu.


"Lo tahu Ze, gue lebih sayang Lo daripada tuh mobil. Kalau kak Azlan bisa bikin Lo bahagia lebih dari tuh mobil bakal gue kasih Ze. Lo itu udah kayak saudara gue sendiri."


Zea terdiam kemudian menatap Putri dalam.


"Lo habis kerasukan setan apa put, kenapa jadi sweet gini?"


Plak.


Putri memukul pelan kening Zea dengan buku tulis miliknya.


"Sakit oi,"


"Biarin, habisnya Lo nggak bisa di ajak serius juga."


"Iya-iya," Zea langsung memeluk Putri.


"Maksih ya udah jadi sahabat gue," ucap Zea tulus.


"Aturannya gue yang terima kasih sama Lo Ze. Karena Lo selalu ada buat gue, dan gue juga bakal ngelakuin hal yang sama." Pelukan mereka terlepas.


"Tapi emang anak sultan bebas kali ya, mau ngasih mobilnya kesiapa pun dan dalam merek apapun nggak jadi masalah."


"Nggak juga sih Ze, gue cuma percaya aja sama kak Azlan makannya gue kasih dia."


Zea hanya manggut-manggut tanda mengerti. Kemudian tidak lama dari percakapan mereka selesai bel masuk berbunyi.


Para murid langsung berhamburan masuk ke dalam kelas. Dan tidak lama setelah itu, Bu Ria masuk ke dalam kelas. Untuk mengajar mata pelajaran kimia di kelas Zea.


"Selamat pagi anak-anak,"


"Pagi Bu," jawab semua murid serempak.


Kemudian bu ria duduk di kursinya lalu mengambil daftar nama siswa untuk mengabsen para murid yang ada di kelas itu .


"Ze gue heran sama Bu ria deh," bisik Putri tiba-tiba.


"Heran? Kenapa? Kayaknya nggak ada yang salah sama tuh guru."


"Iya heran aja gitu Ze, Bu ria itu cantik, bodinya aduhai, tingginya semampai, tampilannya modis, bahkan gue nggak nemuin cela sedikitpun sama dia, pokoknya kalimat sempurna itu aja nggak cukup untuk mendeskripsikan dia." Ucap Putri.


Tidak lama ia berbicara Putri di panggil oleh Bu Ria.


"Hadir dong Bu, putri kan anak rajin." Bu Ria hanya tersenyum sembari geleng kepala mendengar jawaban Putri tadi.


"Tuh lihat Ze seyumnya aja menyengat, gue aja yang cewek klepek-klepek apalagi cowok."


Zea memutar bola matanya malas. Entah apa maksud sahabatnya itu berceloteh tidak jelas seperti ini.


"Terus dimana hal yang buat Lo heran coba?"


"Yang buat gue heran itu, kenapa Bu Ria malah milih jadi guru. Padahal dia kan bisa aja jadi model, bintang iklan, aktor ataupun apalah yang lebih dari guru."


"Lagian gaji guru palingan seberapa lah Ze


Dia kan bisa cari yang lebih."


Zea menoleh ke arah Putri. Berdecak singkat.


"Mungkin iya Put, Bu ria memang bisa aja milih jadi model ataupun bintang produk kecantikan atau apalah. Tapi dia malah lebih milih jadi guru, Lo mau tahu alasannya apa, Put?"


"Apa?"


"Dia mau belajar jadi ibu rumah tangga," jawab Zea cepat.


"Hah?" pekik Putri kaget.


"Ada apa putri?" tegur Bu ria.


"Eh nggak Bu, nggak papa." Jawab Putri kikuk.


"Jangan ribut! Ibu masih mengabsen," peringati Bu ria.


"Zea Praisa Ulya," itu suara Bu Putri.


Seperti biasa nama Zea selalu terakhir di setiap absen. Bukanlah hal asing, tetapi hal tersebut telah terjadi sejak dia duduk di bangku sekolah dasar. Untungnya Zea itu pintar jika tidak, dia pasti akan selalu menunggu lama ketika pembagian rapot menurut absen.


"Saya Bu,"


"Baiklah, kita lanjutkan materi Minggu lalu. Semuanya buka paket kalian halaman 156," instruksi Bu Ria.


Zea langsung membuka bukunya dan membuka halaman yang di maksud lalu berusaha fokus pada penuturan Bu ria di depan.


"Ze," panggil Putri.


"Hmm,"


"Maksud dari ucapan Lo tadi itu apaan?"


"Yang mana?"


"Yang tadi itu. Yang Lo bilang Bu ria jadi guru alasannya karena mau belajar jadi ibu rumah tangga," Putri mengingatkan apa yang Zea ucapakan tadi.


"Oh,"


"Simpel aja Put, alasan Bu Ria milih jadi guru. Jadi guru itu kan ngehadapi murid-murid, dan Lo tahu sendiri murid di sekolah kita ini beraneka ragam sifat dan tingkah lakunya. Jadi itu bisa dijadikan alasan untuk Bu Ria belajar untuk jadi ibu yang baik untuk anak-anaknya nanti, bagaimana caranya menghadapi anak-anak yang berbeda sifat dan karakter. Mana kita tahu bisa aja bu ria mau punya anak dua belas. Bu ria kan mau merid bulan depan."


"Gua bener dua belas, ngalahin gen petir dong."


"Ya kan kita nggak ada yang tahu," Putri hanya manggut-manggut menjawab ucapan Zea.


Jika di pikir-pikir benar juga apa yang Zea katakan tadi.


"Iya juga ya Ze, ternyata Lo pinter juga." Zea memutar bola matanya malas.


"Eh tapikan Lo emang pinter ya kan," ralat Putri.


Zea hanya diam tidak mendengarkan ucapan Putri. Memilih fokus pada materi yang dijelaskan oleh Bu ria di papan tulis.


Tok.... Tok....


Sebuah ketukan di pintu kelas membuat semua siswa yang tadinya fokus pada penjelasan Bu ria beralih ke arah suara.


"Azlan!!" ucap Bu Ria heran. Pasalnya yang ia tahu Azlan tidaklah sekolah lagi di SMA tempatnya mengajar sekarang ini. Dia memanglah alumni sekolah ini dua tahun lalu, dan merupakan murid pintar yang cukup dikenal oleh semua guru. Namun apa yang membuat pemuda itu sampai harus menginjakkan kakinya di sekolah ini.


Azlan hanya menunjukan senyuman manisnya. Yang mampu membuat kaum hawa di dalam kelas itu berteriak histeris, meski hanya dalam hati. Namun Azlan dapat mengetahui hal itu, dapat dilihat dari tatapan kagum dari mereka kepadanya, seakan ingin menelanjangi. Tentunya kecuali dua gadis yang menjadi pusat pandangannya yang ada di pojok sana, mereka menatap Azan dengan tatapan heran dan kesal.


"Kakak Lo ngapain sih masuk ke kelas kita?" gumam Zea. Namun masih dapat terdengar oleh Putri.


"Ya mana gue tahu Ze, kan Lo pacarnya." Jawab Putri malah menyalahkan Zea. Bahkan Zea lupa kalau yang berada di depan pintu itu adalah kekasihnya.


"Tuh cowo rada gila gue rasa," ucap Zea sedikit frustasi.


"Emang," jawab Putri menyetujui.


"Maaf Bu sebelumnya, karena saya ganggu jam belajar ibu," ucap Azlan. Kemudian Ia melangkah masuk ke dalam kelas Zea.


"Tuh malah masuk lagi,"


"Udah biarin aja Ze, kita lihat dia mau ngapain."


"Ada yang bisa ibu bantu Azlan? Kamu ada keperluan apa masuk ke kelas ibu?" itu suara Bu Ria.


"Saya cuma mau ngembaliin ini Bu," Azlan mengeluarkan sebuah ponsel dari sakunya.


Mata Zea membulat, dia hapal benar benda persegi panjang yang ada di tangan Azlan itu.


****** gue!!.


"Ini handphone pacar saya Bu, tadi ketinggalan di mobil jadi saya mau nganterin ke dia. Soalnya nanti kalau pulang sekolah dia bakal sulit ngabarin saya untuk minta jemput,"


Zea mengumpat dalam hati. Ingin rasanya ia menerjang Azlan saat ini juga. Kalau tidak sedang di dalam kelas sudah dipastikan Azlan tidak akan selamat dari serangan Zea.


"Handphone pacar kamu?" Bu Ris mengulang ucapan Azlan tadi. Mungkin ia ingin memperjelas.


"Iya Bu, dan dia ada di kelas ini." Jawabnya lagi.


Zea menarik bukunya. Menutupi wajahnya. Ingin rasanya ia menghilang dari kelas sekarang juga.


"Dasar pria gila!!" gumam Zea kesal.


Rio yang melihat itu sudah mengepal kuat. Cemburu sudah pasti. Dia tahu benar bahwa pacar yang dimaksud Azlan itu adalan Zea. Orang yang ia cintai.


"Siapa pacar kamu memamgnya Azlan?"


"Zea Bu, Zea Praisa Ulya." Jawab Akan tanpa ragu. Bahkan terdengar begitu percaya diri.


Bu Ria langsung menatap ke arah Zea. Bahkan tidak hanya dia, semua murid mengarahkan pandangannya ke arah gadis itu. Kaget dan heran sudah pasti. Gadis yang di kenal dengan sikap dingin dan datarnya itu kepada orang yang dia temui khususnya pada kaum Adam, kini memiliki kekasih. Bahkan seromantis ini menurut mereka. Padahal bagi Zea ini adalah hal yang memalukan.


Karena ucapan Azlan tadi, suasana di kelas menjadi tidak kondusif. mereka menyoraki Zea dan Azlan.


"Eh ciee," ucap mereka semua.


Ada yang memuji dan pastinya ada juga yang menghujat Zea karena merasa Zea tidak cocok dengan Azlan yang tampannya di atas rata-rata.


"Ze, serius Lo pacaran sama kak Azlan." Itu suara Sisi. Sekretaris kelas, yang memang posisi duduknya di samping Zea.


Zea tidak menjawab.


"Sumpah keren Lo Ze. Sampe bisa Deket bahkan pacaran sama most wanted yang kharismanya masih terpancar meskipun udah tamat dari sekolah kita ini."


"Ze kamu beruntung banget," Itu suara Kia. Yang duduk di belakang Zea.


"Kalian ngomong lagi, gue sumpel pake penghapus papan tulis mau?" itu suara Putri. Sebenarnya dia senang karena Azlan mengakui Zea di depan umum seperti ini. Tetapi tempat dan waktunya yang tidak tepat. Putri yakin Zea tidak akan suka, maka dari itu dia tidak akan membiarkan Zea berlama-lama dalam posisi seperti ini.


"Yaelah Put, jiwa preman Lo mulai keluar," cibir Rani.


"Diem Lo semua, ngebacot lagi gue lakban pake karet."


"Lakban sama karet beda kali Put," itu suara Retno.


Putri ingin kembali membalas ucapan Retno namun Zea menarik lengannya dan mengedipkan matanya sekali tanda bahwa Putri tidak perlu melanjutkan aktifitasnya.


Zea mengalihkan pandangannya ke arah Bu ria. Zea menghela napas ketika Bu ria memandangnya dengan pandangan seakan berkata 'urus pacar kamu Zea'.


Zea menurunkan bukunya yang menutupi wajahnya kemudian langsung bangkit dari duduknya berjalan santai ke arah Bu ria dan Azlan. Zea dapat melihat tatapan tidak suka dari Rio kepada Azlan. Namun Zea tidak peduli itu.


"Zea ibu kasih waktu lima menit, selesaikan masalah kamu dengan pacar kamu." Ucap Bu ria dingin. Dia tidak marah. Bu ria memanglah guru yang terkenal dengan kesabarannya. Namun Zea tetap saja merasa tidak enak jika keluar di saat jam pelajarannya. Ini semua karena Azlan. Manusia satu itu ingin sekali Zea tenggelamkan sekarang juga. Zea mengangguk kepada Bu Ria.


"Terima kasih Bu," Bu Ria mengangguk.


Zea langsung menarik lengan Azlan dan membawanya keluar dari kelas.


"Lo gila ya!!" pekik Zea. Ia menghempas kasar tangan Azlan.


"Jangan marah gitu Ze, cantiknya hilang loh."


Bugh


Satu pukulan Zea mendarat ke perut Azlan. Membuat pria itu sedikit meringis.


"Sekali lagi Lo buat gue makin kesel gue gantung Lo di Monas!!"


"Sadis bener cewek gue,"


"Lagian Lo itu udah buat malu tahu nggak Lan, ngapain coba masuk ke kelas gue tadi." Omel Zea.


"Gue kan udah bilang, gue mau balikin ini." Ucap Azlan sembari menyodorkan ponsel milik Zea yang memang sedari tadi ada padanya.


Zea berdecak geram. Kemudian menarik paksa ponsel miliknya dari tangan Azlan.


"Sama-sama," sindir Azlan.


Zea menghela napas berat. Menatap tajam ke arah pria yang sejak tadi hanya senyum-senyum kepadanya.


"Lan sumpah ya. Gue nggak habis pikir sama Lo, kenapa Lo tadi harus masuk coba. Kan Lo bisa titipin ke satpam aja handphone nya, nggak perlu Lo harus masuk ke dalam juga. Lagian gue heran kenapa Lo dapet izin masuk coba."


"Lo lupa gue siapa?" ucap Azlan dengan senyum liciknya.


Zea lupa, dia adalah sepupu Putri dan otomatis dia juga adalah cucu dari pemilik sekolah. Menyebalkan!! Zea harus berurusan dengan cucu pemilik sekolah lagi.


"Yaudah sekarang urusan Lo udah selesai kan? Handphone gue udah sampe ke tangan gue, jadi Lo mendingan sekarang pulang."


"Iya-iya gue bakal pulang."


"Lo jangan ganjen di sekolah ya Ze. Jaga hati!! Inget ada gue!! Awas aja kalau Lo berani macem-macem Lo bakal---"


"Bakal apa? Lo cincang?" potong Zea langsung.


Azlan menggeleng cepat.


"Gue cium," jawab Azlan dengan senyuman yang terlihat begitu menjijikkan bagi Zea.


"Lo yang gue cincang duluan kalau Lo berani cium gue."


"Sadis bat dah pacar gue," Azlan memonyongkan bibirnya.


"Udah ah nggak usah drama, sana pulang!!!"


"Iya-iya gue pulang," Zea mengelus pucuk kepala Zea lembut. Namun kali ini Zea tidak marah.


"Belajar yang rajin. Biar pinter ya." Azlan memberikan senyuman tulus kepada Zea. Zea hanya diam terpaku untuk kesekian kalinya.


Azlan langsung melangkah pergi meninggalkan Zea yang masih mematung di tempat.


"Gue butuh napas buatan kayaknya. Sumpah sesak!!" ucap Zea. Sedikit mengibaskan tangannya di depan wajah. Mungkin saat ini wajahnya sudah seperti kepiting rebus karena malu.


Tanpa Zea sadari ada sepasang mata yang melihatnya dengan tatapan tidak suka. Tangannya terkepal kuat.


* * *


Jam pelajaran sekolah sudah selesai. Bel pulang sudah berbunyi hampir tiga puluh menit yang lalu, tapi Zea masih tetap setiap berada di kursi cantik kesayangannya itu.


"Lo mau sampe kapan di kelas?" tanya Putri. Sebenarnya dia sudah ingin beranjak dari kelas sejak bel pulang tadi. Karena Putri bukanlah tipikal orang yang suka berlama-lama di kelas setelah bel pulang sekolah. Namun karena Zea, dia harus tetap berada di sini.


"Lo kalau mau pulang yaudah duluan aja," ucap Zea kemudian mengecek ponselnya yang sejak tadi berbunyi.


Pacar gantengku


Zea menautkan alisnya. Pasalnya dia merasa aneh dengan nama yang tertera di layar ponselnya. Sebuah panggilan telepon masuk.


Zea memilih untuk tidak mengangkatnya, dan mengabaikannya saja.


"Kok nggak di angkat?" tanya Putri heran. Masalahnya ponsel Zea sejak tadi terus berdering sejak bel pulang sekolah.


"Nggak penting," jawab Zea.


"Lo kenapa sih Ze? Aneh tahu nggak," ucap Putri bingung.


"Emang," jawab Zea acuh.


Putri menghela napas pelan.

__ADS_1


"Serah Lo deh, tapi kita mau sampe jam berapa di sini."


"Sampe subuh,"


"Lo gila?"


"Nggak,"


"Lagian ngapain coba kita di sini?" tanya Putri sedikit kesal.


"Gue kan nggak maksa Lo untuk tetap di sini put, kalau Lo mau pulang ya pulang aja. Gue nunggu Zeo kelar latihan." Jawab Zea santai.


"Zeo latihan? Lo lupa?"


Zea memicingkan matanya. Apakah ada yang ia lupakan lagi.


"Zeo kan udah ke sekolah PUTRA JAYA dari istirahat kedua tadi. Dia juga udah kabarin Lo kan, masa iya lupa."


Zea merutuki dirinya untuk kesekian kalinya. Sepertinya penyakit lupanya ini perlu diberi obat.


"Lagian gue yakin alasan Lo tetap di kelas bukan karena Zeo." Zea menatap Putri sekilas.


"Itu Lo tahu," jawab Zea tanpa beban.


"Mau sampe kapan Lo di sini? Lo kira kak Azlan bakal nyerah terus pulang karena Lo nggak keluar-keluar kelas? Nggaklah ****!! syukur-syukur Lo nggak di bopong ke mobil sama dia."


"Maksud Lo?" heran Zea.


Putri memberi isyarat pada Zea untuk melihat ke pintu keluar menggunakan dagunya. Zea menoleh ke arah yang di maksud.


Matanya membulat ketika melihat siapa yang tengah bersandar di dinding dekat pintu masuk kelasnya itu.


"Masih lama?" itu suara Azlan. Tapi yang membuat Zea terpaku suara Azlan kali ini terdengar aneh. Tidak seperti biasanya. Bahkan wajahnya sulit untuk di deskripsikan.


"Nggak kok kak, kita mau pulang sekarang. Lo bareng Zea kan? Gue duluan ya," ucap Putri kemudian bangkit dari kursinya lalu berjalan menuju pintu keluar.


"Gue titip Zea, anter ke rumah dengan selamat sentosa. Tanpa kurang sedikit apapun," bisik Putri.


Azlan hanya mengangguk.


"Lo ngapa begitu kak, muka udah kaya ayam kebelet kawin aja." Azlan menatap tajam Putri.


"Oke ampun kapten. Gue duluan. Ze gue duluan, hati-hati Lo ada singa mau ngamuk kayaknya." Putri langsung melarikan diri setelah mengatakan itu. Tidak ingin di serang oleh ganasnya singa yang akan mengamuk.


Sepeninggalnya Putri tadi Azlan langsung menghampiri Zea yang tengah asik pada ponselnya. Tangannya diletakan di tas meja dengan earphone menempel di satu telinganya. Azlan menarik kursi di sebelah Zea lalu duduk di depan gadis itu. Dan kali ini mereka sudah saling berhadapan. Zea tidak mempedulikan Azlan yang ada di hadapannya sekarang, bahkan ia bersikap seakan tidak merasa bersalah sedikitpun karena sudah membuat Azlan menunggu cukup lama di luar. Azlan terus menatap Zea dalam. Menunggu gadis itu mengeluarkan suaranya.


Hingga beberapa menit berlalu Zea juga belum mengeluarkan suaranya. Azlan mendengus kesal. Logikanya ingin sekali pergi dari tempat itu namun hatinya terus mengatakan jangan.


Azlan menghela napas pelan. Zea yang mengetahui itu melirik sekilas. Kemudian kembali fokus pada ponselnya.


Azlan menarik ponsel Zea lalu mencabut earphone yang terpasang di telinga gadis itu.


Zea tidak berontak. Dia hanya menatap tidak suka kepadaAzlan.


"Semenarik itukah handphone ini dibandingkan gue, Zea?"


"Gue udah nunggu Lo di depan dari Lo belum pulang sekolah. Dan ternyata pas udah pulang Lo sengaja nggak keluar, maksud Lo apaan sih?"


Zea memutar bola matanya malas. Dia sudah tahu bahwa Azlan akan mengomel karena hal ini.


"Emang gue minta Lo jemput? Nggak, kan? Lonya aja yang kerajinan." Balas Zea kemudian berusaha mengambil ponselnya di tangan Azlan. Namun tidak dibiarkan oleh Azlan.


"Siniin handphone gue!" bentak Zea.


"Nggak," jawab Azlan tegas. Dia memasukan ponsel Zea ke saku celananya. Kemudian berdiri dan meraih lengan Zea pelan.


"Ayo pulang!!" ajak Azlan lembut.


"Gue nggak mau pulang, Lan."


"Ayo pulang sayang," bujuk Azlan tidak putus asa.


"Nggak mau," tolak Zea lagi.


"Ze please, jangan pancing emosi gue." Ucap Azlan.


"Siapa juga yang mancing emosi Lo. Gue bilang nggak mau pulang ya nggak maaaaaaaa," Azlan tidak mendengarkan ucapan Zea, dia langsung membopong Zea ala bridal style tanpa meminta izin sang empunya badan.


"Lan turunin gue!" pekik Zea karena terkejut Azlan yang tiba-tiba saja menggendong dirinya.


Tidak mempedulikan ucapan Zea Azlan terus berjalan keluar dari kelas itu menuju parkiran sekolah. Untungnya suasana di sekolah sudah sepi, karena jam pulang sekolah sudah hampir stengah jam yang lalu. Jadi tidak ada yang melihat kejadian itu.


"Lan turunin gue!! Lo denger nggak sih? Tuli ya Lo? Woi anak setan turunin gue," ucap Zea sembari memberontak. Namun pemberontakan Zea bukanlah hal besar bagi Azlan. Dia masih dapat mengatasinya.


"LAN TURUNIN GUE!!!" kali ini Zea teriak sekuat tenaganya. Membuat gendang telinga Azlan ingin pecah rasanya.


Azlan menghentikan langkahnya. Kemudian menatap tajam Zea. Sedangkan yang ditatap juga memberikan tatapan yang sama.


"Turunin gue,"


"Sekali lagi Lo teriak, gue cium Lo. Gue nggak main-main sama ucapan gue." Azlan kembali melangkahkan kakinya.


Zea langsung ciut Dengan ancaman Azlan. Entah mengapa tatapan dan ucapan Azlan kali ini berbeda dari biasanya. Bahkan jiwa preman Zea langsung melunak.


Gila nih cowok selain pemaksa dia penghipnotis juga kayaknya. Bahkan untuk ngomong gue nggak bisa.


Azlan menurunkan Zea ketika sudah berada di samping mobilnya. Membukakan pintu mobil itu untuk Zea. Lalu menyuruh Zea masuk ke dalam mobil. Dan tentunya senyumannya kembali ia berikan. Senyuman yang cukup manis bagi Zea. Dia terpaku.


"Masuk Ze," ucapan Azlan membuat Zea terkesiap.


"Eh, iya."


Azlan kembali tersenyum. Zea hanya membalasnya dengan senyuman kikuk.


Di dalam hati ingin sekali memberikan sumpah serapah pada Azlan karena seenak jidatnya saja menggendong Zea secara tiba-tiba tadi. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Zea mengikuti ucapan Azlan. Bahkan bersikap lebih kalem dari biasanya. Zea sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya.


Senyuman Azlan mampu membuat emosinya meluap seketika. Senyuman manis Azlan begitu manis membuat Zea lupa akan marahnya.


Bisa meleleh gue kalau sering-sering disenyumin gitu sama tuh bocah.


Setelah Zea masuk Azlan langsung menutup pintu penumpang lalu berjalan memutar untuk masuk ke kursi kemudi. Kali ini dia masuk dari pintu yang seharusnya.


Setelah masuk Azlan langsung memakai sealt bath nya. Namun ia tidak langsung melajukan mobilnya.


Awalnya Zea sempat bingung kenapa laki-laki di sampingnya itu melakukan hal yang membuat hatinya meronta ingin menghujat. Jujur ia sudah lapar sekali saat ini. Karena jam istirahatnya tadi tidak ia gunakan untuk makan sebab tugas yang terlalu banyak.


Zea tahu Azlan kesal karena dirinya yang sengaja membuatnya menunggu. Zea melakukan itu karena ingin menghindari Azlan. Karena itulah salah satu cara yang terbaik untuk kesehatan hati dan jantungnya saat ini. Namun siapa sangka pria itu tetap menunggunya hampir setengah jam di depan gerbang. Dan memilih masuk karena tidak melihat dirinya keluar dari sekolah.


Zea sedikit merasa bersalah. Namun egonya terlaalu besar untuk meminta maaf.


"Lan gue laper. Gue belum mau mati karena kelaparan," ucapan Zea membuat sudut bibir Azlan terangkat sedikit. Meskipun tidak kata maaf yang keluar dari bibir harinya itu setidaknya Azlan puas karena Zea yang memulai pembicaraan mereka kali ini.


Azlan menoleh ke arah Zea. Kemudian memberikan senyuman manisnya lagi.


Makin meleleh gue mah kalau gini. Sumpah nyesel gue ngomong tadi. Tapi nggak bisa dibohongi nih bocah emang ganteng sih.


"Selama ada gue di samping lo, Lo nggak perlu takut kelaparan?." Ucap Azlan dengan lembut dan senyuman manisnya lagi dan lagi. "Mau makan apa?" tanyanya.


Zea terdiam. Bahkan rasa laparnya telah hilang ketika menatap Azlan.


"Lan Lo sehat kan," tanya Zea heran. Ia memegang kening Azlan sebentar.


"Sumpah Lo aneh banget tau nggak. Tadi sikap Lo dingin terus sok tegas dan sekarang malah berubah jadi baik."


Kali ini Azlan yang dibuat terpaku oleh Zea. Sentuhan lembut Zea tadi mampu membuat darah Azlan berdesir. Degub jantungnya kembali berdetak di atas normal. Namun ia berusaha tersenyum untuk menetralisir kegugupannya.


"Tuh kan malah senyum-senyum lagi," keluh Zea.


"Tapi Lo suka kan? Gue tahu Lo tersengat oleh senyuman manis gue dari tadi." Ucap Azlan percaya diri.


Zea merutuki dirinya. Dari sekian sikapnya yang berubah-ubah satu yang Zea yakini sifat super pede Azlan itu tidak akan pernah hilang.


"Gila," ucap Zea sembari geleng-geleng kepala.


Cup


Azlan mengecup singkat pipi Zea dan gerakan itu terlalu cepat. Membuat mata gadis itu membulat karena kaget.


"Lo," ucap Zea dengan tatapan seakan baru di lecehkan. Sedangkan Azlan hanya memberikan senyuman penuh kemenangan kepada Zea.


"Lo kecolongan," ucap Azlan kemudian ia melajukan mobilnya dan mengedipkan sekali matanya ke Zea. Sedikit menggoda gadis itu.


"DASAR LO COWOK MESUM!!!"


"Lo baru aja nodai pipi gue Lan. Pipi gue udah nggak perawan lagi, sumpah Lo harus tanggung jawab," Omel Zea.


Azlan terkekeh pelan. Lalu menatap sekolah Zea.


"Masih juga pipi lo, Ze. Udah mau minta tanggung jawab aja, belum juga bibir atau yang lainnya." Cibiran Azlan berhasil memancing emosi Zea.


"AZLAN!!!"


"DASAR SETAN MESUM!!"


"GUE BENCI LO!! NGGAK TAU DIRI, KURANG AJAR!! GILA!!, TURUNIN GUE SEKARANG!!"


Azlan kembali tertawa. Cukup puas membuat Zea sekesal ini.


"Katanya mau makan? Gue nggak mau pacar gue mati karena kelaparan."


"Gue udah nggak laper," tolak Zea langsung.


"Masa?" goda Azlan lagi.


"Iya,"


Namun siapa sangka setelah Zea mengatakan itu suara cacing di perutnya sudah berdemo.


"Mulut Lo bilang nggak mau makan, tapi perut Lo minta makan." Azlan terkekeh lagi. Sungguh Zea sangat lucu menurutnya.


"Tau ah kesel gue,"


"Oke kita meluncur ke tempat makan sayang. Bilang sabar ya sama cacing-cacing kamu kalau pacar tuannya sedang melajukan mobilnya ke tempat dimana makanan berada,"


Zea memalingkan pandangannya ke luar jendela. Ia memegangi pipinya yang baru saja di nodai oleh Azlan.


Azlan sialan!!.


"Udah jangan di pegangin aja pipinya. Nanti gue tambahin di sebelah kiri lah, supaya nggak iri-irian."


Zea langsung menatap Azlan tajam. Azlan yang melihat tatapan Zea langsung tertawa puas.


"Nggak-nggak. Jangan gitu ah natapnya serem sayang," ucap Azlan sembari mengelus pelan pucuk kepala Zea.


Zea yang tadinya ingin menghujat karena kesal dengan Azlan kini malah diam dan membisu.


Sial!! Dia tahu kelemahan gue.


"Udah sampe," Azlan memarkirkan mobilnya di sebuah rumah makan padang pinggir jalan. Azlan tahu Zea suka makanan Padang dari Putri.


Azlan langsung turun dari mobilnya kemudian berjalan berputar lalu membukakan pintu mobil untuk Zea. Tanpa menunggu lama Zea langsung keluar dari mobil Azlan.


"Ayo!!" ajak Azlan.


Kemudian meraih lengan Zea lembut dan menggandeng Zea dengan bangganya masuk ke dalam rumah makan itu.


Sumpah Lo itu ngeselin tapi manis, Lan.


Namun semua pujian untuk Azlan hanya mampu Zea ucapkan dalam hati saja. Mulutnya terlalu berat untuk berkata dan logikanya terlalu gengsi untuk mengakui bahwa dia mulai menyukai Azlan.


Bukan belum mampu untuk berdamai dengan masa lalu. Hanya saja yang namanya perempuan memanglah begitu.


Bersikap cuek padahal peduli. Sok jual mahal padahal suka. Dasar cewe.


* * *


Lala membuka lemarinya mengambil berapa berkas yang ada disana. Senyuman licik terbit di bibirnya. Pikiran tidak baik mulai terbayang di otaknya.


"Gue akan lakuin apapun buat dapetin Lo, kan."


"Dan gue bakal pastiin cewe yang Deket sama Lo itu, bakal sengsara."


Putri kembali menutup lemari itu. Kemudian berjalan keluar dari ruangan tertutup itu. Wajah bahagianya terlihat jelas. Bahkan yang melihatnya langsung mengetahui bahwa gadis itu sedang bahagia.


Namun tidak ada yang tahu apa yang membuatnya sebagai itu.


* * *


"Hai," ucap seorang lelaki.


Wanita yang mendengar suara yang tidak asing untuknya langsung menoleh. Senyumnya melebar ketika melihat siapa yang datang.


"Kamu di sini?" ucapnya bahagia. Senyuman nya terlihat begitu manis.


Pria itu mendekat lalu memeluk singkat wanita itu.


"Aku merindukanmu," ucap wanita itu.


"Aku juga,"


"Kapan kita akan pergi dari sini? Aku sudah bosan berada di ruangan tertutup ini," keluh wanita itu.


Pria itu tersenyum lembut. Menyelipkan anak rambut wanita itu yang sedikit lari dari tempatnya.


"Sabar ya, aku masih mempersiapkan semuanya. Kamu cukup tunggu saja, dan jangan keluar dari sini di saat ada orang lain selain kamu di luar, paham kan." Wanita itu mengangguk namun tiba-tiba saja senyumannya menghilang.


"Ada apa?" tanya pria itu ketika menyadari perubahan raut wajah wanitanya.


"Seminggu lalu ada yang hampir melihat ku," pria itu terkejut. Lalu memegang erat lengan wanita itu.


"Sudah aku katakan jangan sampai ada yang melihatmu. Apakah kamu tidak paham? Tetap di dalam kamar ini saja kamu tidak bisa," pria itu sedikit emosi. Tanpa ia sadari cekalan tangannya sedikit lebih kuat. Membuat Wanita itu meringis kesakitan.


"Au Ssshhh, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk keluar, aku hanya bosan. Itu sebabnya aku keluar. Dan pemuda itu tiba-tiba saja ada di belakangku." Jelas Wanita itu dengan ringisan karena menahan sakit.


Menyadari wanitanya kesakitan, pria itu melonggarkan cekalannya. Lalu memeluk kembali wanitanya itu.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya tidak ingin kamu kenapa-napa." Ucap pria itu di dalam pelukan wanitanya.


Wanita itu mengelus lembut punggung pria itu.


"Tidak papa, aku paham." Kemudian pria itu melepaskan pelukannya. Ia mengambil sebuah paper bag lalu memberikan kepada pemuda itu.


"Apa ini?" tanya wanita itu dengan raut wajah senang.


"Bukalah, kamu pasti suka." Wanita itu langsung mengeluarkan isi paper bag itu. Dan betapa terkejutnya ia mendapati sebuah dress berwarna hijau daun kesukaannya.


"Untuk aku?" pria itu mengangguk.


"Tapi jangan kamu kenakan sekarang, nanti setelah kita pergi kamu boleh mengenakan semua pakaian yang sudah aku beri. Untuk saat ini kamu harus tetap memakai pakaian berwarna putih, kamu paham kan?" Wanita itu sempat kecewa. Namun sedetik kemudian ia langsung tersenyum dan mengangguk.


"Terima kasih sayang," ucap wanita itu tulus.


Terima kasih sudah baca sampai part ini


Semoga feel-nya dapet ya.


Dan terus kasih kritik dan sarannya ya-:) Terima kasih


Ada yang penasaran siapakah pemuda dan wanita yang belum diketahui namanya itu?


kalau penasaran kalian bisa spam komen di episode ini? Supaya Author lebih semangat Update lagi. Tidak memaksa loh ya-:)


Selamat menjalankan ibadah puasa semuanya-:)


Salam sayang Author

__ADS_1


__ADS_2