Zeazlan

Zeazlan
Sebuah lagu


__ADS_3

Setidaknya untuk memantapkan hatiku yang ragu ini aku perlu memulainya


-Azlan Malik-


Azlan menutup ponselnya, entah mengapa mendengar suara gadis yang baru saja ia telpon tadi membuat hatinya sedikit senang. Suaranya mampu mengembalikan moodnya yang tadinya buruk menjadi lebih baik.


"Gue udah keracunan kayanya," gumam Azlan.


"Hah, kamu keracunan? Keracunan apa Lan?" tanya Azlina yang tiba-tiba sudah ada di dalam kamar Azlan.


"Lo kaya jelangkung kak Dateng nggak di undang pulang ngga diantar." Geram Azlan. Sungguh ia terkejut mendengar suara kakaknya yang melengking itu.


"Enak aja lo ngatain gue jelangkung, nggak ada setan' secantik gue." Balas Azlina tidak terima.


"Ada, buktinya Lo."


"Terserah Lo lah, gue mau minta laptop gue. Mana?"


"Ada tuh di dalam tas gue."


Azlina langsung memeriksa tas adiknya itu, mencari benda segi empat yang ia cari. Setelah menemukannya, ia langsung berjalan keluar dari kamar Azlan. Namun langkahnya terhenti karena sebuah panggilan.


"Kak,"


Azlina menatap Azlan datar. Seakan memberikan tatapan ada apa kepada adiknya.


"Ajari gue gimana caranya dapetin cewek."


Pertanyaan Azlan sontak membuat tawa Azlina pecah. Bahkan perutnya sangat sakit, karena tertawa terlalu banyak.


"Apa Lan? Gue nggak salah denger? Seorang playboy nanya gimana caranya deketin cewe? Nggak malu Lo," cibir Azlina.


"Iss Lo bukannya bantuin malah ngeledekin gue."


"Ini bukan masalah playboy atau nggaknya gue, tapi Zea itu beda dari cewek lainnya. Kalau cewek lain gue sapa aja udah klepek-klepek Zea mah beda Gue sapa dia mah nge gas. Kalau cewek lain gue gombalin langsung bulshing, dia mah pasti langsung nampar gue."


Azlina kembali menahan tawanya. Ia tidak ingin membuat adik laki-lakinya itu semakin kesal. Azlina tahu kali ini Azlan serius dengan satu wanita. Dapat dilihat dari nada bicaranya yang sama sekali tidak ada canda disana.


"Oke gua Bakal bantuin. Tapi nggak sekarang, gue lagi sibuk nyiapin berkas untuk miting besok."


"Lo serius kak, mau bantuin?" tanya Azlan berbinar.


"Hmm,"


Azlan langsung berlari memeluk kakaknya seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan.


"Udah ah, nggak usah lebay pake peluk-peluk. Lo kira Teletubbies apa? Lagian gue takut kena virus Lo kalau peluk-peluk gini," ucap Azlina sembari melepas pelukan Azlan.


"Idih, sok amat mbak. Cewek mah biasanya seneng kalau gue peluk. Lo aja sok jual mahal padahal mah seneng. Cibir Azlan.


"Lah kenapa jadi Lo yang sewot. Udah ah gue mau ke kamar, besok pulang ngampus Lo temuin gue di apartemen kalau mau gue bantuin." Jelas Azlina.


"Siap," ucap Azlan sembari memberikan hormat, dengan meletakkan tangannya di atas alis kanannya.


* * *


"Gimana, udah siap?" tanya Zeo sembari membenarkan kameranya, untuk memulai Vidio.


"Udah," jawab Zea mantap.


"Oke, gue hitung ya satu dua tiga mulai," instruksi Zeo.


Zea manarik napasnya pelan, menetralkan kegugupannya. Setelah instruksi dari Zeo tadi, Zea langsung memulai permainannya. Zea memainkan alunan lagu menggunakan piano dengan lihainya. Alunan nada itu terdengar begitu indah.


Zeo mengernyitkan dahinya. Zeo tahu benar lagu apa yang akan dinyanyikan oleh kakaknya, berdasarkan intro yang baru saja dia mainkan. Tetapi mengapa kakaknya harus menyanyikan lagu ini. Lagu dari ***Petrus Mahendra*, pura-pura lupa**.


Pernah aku jatuh hati


Padamu sepenuh hati


Hidup pun akan kuberi


Apapun kan ku lalui


Zea memulai lagunya. Suaranya yang mengalun bersama iringan piano terdengar begitu nikmat. Bahkan siapapun yang melihatnya pasti akan mengakui kenikmatan itu. Suara membuat Zea mampu membuat semua orang terperangah seketika. Zeo tersenyum lebar menyaksikan kakaknya yang terlihat begitu bahagia ketika bernyanyi.


Tapi tak pernah ku bermimpi


Kau tinggalkan aku pergi


Tanpa tahu rasa ini


Ingin rasa ku membenci


Tiba tiba kamu datang


Saat kau telah dengan dia


Semakin hancur hatiku


Jangan datang lagi cinta


Bagaimana aku bisa lupa


Padahal kau tahu keadaannya


Kau bukanlah untukku


Jangan lagi rindu cinta


Ku tak mau ada yang terluka


Bahagiakan dia aku tak apa


Biar aku yang pura pura lupa


Ohhh ohhhhh ohhhh


Tiba tiba kamu datang


Saat kau telah dengan dia


Semakin hancur hatiku


Jangan datang lagi cinta


Bagaimana aku bisa lupa


Padahal kau tahu keadaannya


Kau bukanlah untukku


Jangan lagi rindu cinta


Ku tak mau ada yang terluka


Bahagiakan dia aku tak apa


Biar aku yang pura pura lupa


Jangan datang lagi cinta


Bagaimana aku bisa lupa


Padahal kau tahu keadaannya


Kau bukanlah untukku


Jangan lagi rindu cinta


Ku tak mau ada yang terluka


Bahagiakan dia aku tak apa


Biar aku yang pura pura lupa


Ohhh


Bahagiakan dia aku tak apa


Biar aku yang pura pura lupa


Lagu Zea berakhir bersamaan dengan tepuk tangan Zeo di akhirnya.


Zea melotot ke arah adiknya. Sedangkan yang di tatap geram hanya menatap bingung.


"Lo lupa kita lagi buat vidio," sindir Zea.


Zeo memukul dahinya. Dia benar-benar tidak ingat.


"Oh iya, gue lupa." Kemudian dengan cepat Zeo mematikan rekaman vidionya.


"Tenang aja, nanti gue edit dulu sebelum gue serahin ke sekolah musik Lo," seakan mengerti apa yang Zea pikirkan.


"Zea bangkit dari duduknya, berjalan keluar dari ruangan musik.


"Mau kemana kak?" tanya Zeo langsung.


"Keluar lah, apa lagi? Kan rekamananya udah selesai." Jawab Zea seadanya.


"Tumben Lo bentaran doang megang piano, biasanya sampe setengah harian tahan."


"Gue masih banyak kerjaan, nggak sempat main musik lama-lama." Jawab Zea. Kemudian melanjutkan langkahnya.


"Kak Ze," panggil Zeo lagi.


"Ada apa lagi adikku," geram Zea, pasalnya Zeo selalu saja begitu. Menghentikan langkahnya hanya untuk mengatakan sesuatu. Jelasnya sesuatu yang tidaklah begitu penting.


"Di sini aja kak dulu, gue tahu Lo rindu nyanyi kan.


"Gue bisa lihat dari wajah Lo, Lo kelihatan bahagia banget ketika bisa lagi maen piano."


"Gue udah susah payah Lo ngambil kunci ruangan ini, supaya Lo bisa masuk lagi ke sini." Ucapan Zeo membuat Zea terdiam.


Zeo benar, Zea memang sangat merindukan ruangan ini. Ruangan dimana dirinya selalu menumpahkan masalahnya melalui lagu dan musik. Zea bahagia karena dapat masuk ke dalam tempat ini lagi, menyentuh dan memainkan piano kesayangannya. Tetapi ia tidak ingin ibu tirinya akan mengetahui hal ini.


Wirda memang memegang kunci ruangan musik Zea, dia melarang keras Zea bermain musik. Musik apapun itu. Maka dari ini Zea tidak lagi pernah memegang alat musik kesayangannya itu. Zea sempat stress karena hal itu. Namun hatinya yang dingin seakan sudah terbiasa dengan tekanan dan larangan.


Dia terbiasa tanpa musik semenjak kejadian itu. Dan hal itulah yang membuat dirinya menjadi pemurung.


Bagaimana tidak? Hari-harinya yang biasa ia habiskan dengan bermain musik ataupun sekedar bernyanyi di tempat itu. Tidak lagi boleh untuk ia lakukan.


Semua harapannya tentang masa depan di dunia musik itu sirna dan hancur. Bersamaan dengan jati dirinya yang berubah menjadi manusia dingin, sedingin es di dalam kulkas.


"Gue males, kalau nantinya mereka tahu kita masuk kesini. Gue ke kamar aja deh." Tolak Zea.


Zeo menghampiri kakaknya itu. Memegang pundak Zea lembut. Pundak kecil yang entah berapa besar beban yang dipikulnya.


"Lo tenang aja, kak. Ada gue,"


"Gue akan urus semuanya. Tempat ini akan selalu terbuka untuk Lo. Karena gue tahu musik salah satu sumber kebahagian lo."


"Dan gue mau lo bahagia."


"Gue tahu rasanya gimana jika kita dilarang untuk melakukan hal yang kita suka. Sama kaya gue, mungkin kalau gue dilarang untuk main futsal ataupun bola kaki mungkin gue bisa gila. Karena apa? Karena hanya dengan hal inilah gue merasa rileks dan senang. Dan gue tahu yang Lo rasain ketika dilarang untuk bermain musik. Gue tahu selama ini Lo jualan, delivery ke sana-sini itu bukan semata-mata hanya untuk mencari uang buat gue dan Zia, semua itu juga Lo manfaatin supaya mengisi waktu Lo yang biasanya Lo pake untuk main musik. Gue tahu kak, meskipun Lo nggak pernah cerita kesakitan itu."


Zea menatap lekat Zeo. Ternyata Zeo begitu mengerti dirinya. Mengapa selama ini dia tidak sadar akan kepedulian adiknya itu, bahkan tanpa menceritakan Zeo mengerti semua yang ia rasakan.


Zea langsung memeluk erat Zeo. Karena tidak siap, Zeo hampir terhuyung ke belakang.


Zeo membalas pelukan Zea dengan lembut, mengelus lembut punggung wanita yang begitu berarti baginya itu. Senyumnya mengembang. Bahkan Zeo merasakan kakaknya itu saat ini kurusan. Entah apa yang dipikirkannya saat ini yang membuat bobot badannya terus saja menurun.


"Lo kurusan kak."


Zea hanya diam.


"Jangan terlalu berat memikirkan sesuatu, yang hanya buat Lo makin kurus gini." Zea hanya diam dipelukan Zeo, bahkan kini tangisnya sudah pecah.


"Kasihan suami Lo nanti, masa pas meluk Lo kaya meluk triplek."


Mendengar ucapan Zeo, Zea spontan langsung mencubit perut adik laki-lakinya itu.


"Aissssshh, sakit kak!!" ringis Zeo.


"Lo sih, bikin kesel." Ucap Zea dengan posisi tetap dipelukan Zeo.


"Ya maaf,"


Zea melepaskan pelukannya.


"Berhubung Lo hari ini baik sama gue, jadi dimaafkan."


"Gue selalu baik kali sama Lo." Ucap Zeo. "Lonya aja yang nggak sadar," tambahnya.


"Baru juga minta maaf, udah bikin kesal aja." Ucap Zea dengan bibir yang mengerucut.


"Bibir monyong-monyong gitu, ngapain coba."


"Bodo amat! Bukan urusan lo."


Cup


Zeo mengecup singkat pipi Zea.


"Gue sayang Lo kak, jangan marah ataupun sedih lagi ya," ucap Zeo manis dengan mengusap lembut pucuk kepala Zea.


Zea memegang pipinya, memperlihatkan ekspresi wajah seakan-akan, terkejut.


"Kenapa?" heran Zeo.


"Pipi gue udah nggak suci lagi karena kena bibir Lo." ucapnya datar.


"NAJIS!!" geram Zeo. Disambut tawa Zea yang pecah. Wajah kesal Zeo ternyata begitu lucu menurut Zea.


* * *


"Bagus suaranya," ucap seorang wanita, yang mungkin umurnya berkisar dua puluh tahunan.


"Permainan pianonya juga cukup bagus, sepertinya dia mengerti teknik dalam bernyanyi." Tambah seorang gadis, dia berumur enam belas tahun.


"Jadi, kita pilih dia?" tanya perempuan tadi.


"Yah, aku suka suaranya kak." Jawabnya dengan senyuman yang begitu manis.


* * *


Zea melangkah cepat menuju kelasnya, ia tahu benar dirinya hampir telat hari ini, untungnya pintu gerbang belum di tutup oleh satpam sekolah. Dan yang menjadi masalah itu adalah jam pelajaran pertama di kelasnya adalah Matematika. Yang akan diajarkan oleh Bu Ana, guru paling disiplin di sekolahnya. Bahkan Bu Ana selalu menunggu di depan kelasnya, begitu bel berbunyi dia langsung masuk. Kurang disiplin apalagi coba dia? Guru yang sangat teladan bukan?. Untung saja dia tidak merangkap menjadi penjaga sekolah, yang akan membukakan pintu kelas setiap paginya.


Zea melihat keadaan kelasnya yang cukup hening. Bahkan sangat hening. Kemungkinan besar Bu Ana sudah masuk. Padahal bel berbunyi baru lima menit lalu.


"Mati gue, kalau Bu ana udah masuk." Gumam Zea. "Gimana dong ini?" tanya Zea pada dirinya sendir.


"Zea," panggil sebuah suara. Dan Zea kenal benar suara itu.


"Lo telat juga?" tanya Zea.


"Masih jam segini kali Ze, kita masih dikatakan tepat waktu." Jawab gadis berkacamata itu. Siapa lagi kalau bukan sahabatnya Putri.


"Tapi ini Bu ana yang masuk," keluh Zea cemas.


"Halah sama dia aja takut, udah ah ayo masuk aja. Aman kalau sama gue." Ucap putri kemudian menarik lengan Zea.


Tok... tok...


Tampak Bu Ana yang sedang memegang kertas absen di meja guru. Ia menoleh karena mendengar ketukan.

__ADS_1


"Boleh kami masuk Bu," tanya Putri sopan. Dia sama sekali tidak Gugup berbicara dengan Bu Ana, bahkan terlihat santai.


"Masuklah, dan langsung buka buku matematika kalian. Tanyakan tugasnya kepada teman kalian." Ucapnya satu tarikan napas.


Zea menatap kagum kepada Putri. Bahkan mereka dapat masuk tanpa harus di interogasi terlebih dahulu. Beruntungnya Zea karena bersamaan dengan sahabatnya ini untuk masuk ke kandang singa.


"Gue bilang juga apa, aman kan," bisik Putri ketika mereka sudah duduk di bangku mereka masing-masing.


Zea tersenyum singkat. Setidaknya dia lega karena tidak harus terkena hukuman dari Bu Ana.


Dan kali ini putri juga tidak harus ditarik untuk ke ruangan BK. Anggap saja Bu ana tidak ingin berurusan dengan Putri, yang nantinya juga akan membuat dia telak ketika berhadapan dengan kepala sekolah. Dan kebetulan saja kesalahan mereka hanya terlambat beberapa menit, mungkin saja masih ia maklumi.


"Gila, soalnya sulit banget." Keluh putri pelan.


"Coba lihat," ucap Zea.


Putri menyodorkan buku paket miliknya. Zea tersenyum singkat.


"Nggak akan sulit, coba cari aja dulu." Jawab Zea.


"Loh mah turunan Albert Einstein, begini mah kacang. Lah gue apaan?" ucap putri melas. Bahkan hanya dengan melihat soal-soal yang berisi angka itu sudah membuat kepalanya seakan ingin pecah.


Zea hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu.


* * *


"Ze Lo pulang bareng siapa?" tanya Putri.


"Sendiri kayanya. Soalnya Zeo ada latihan futsal, tadi dia chat gue. Kenapa?" ucap dan tanya Zea.


"Ngemall dulu yukk. Gue pengen," ajak Putri.


"Tapi Lo kan tahu sendiri gue harus jualan hari ini." Zea beralasan.


Putri memanyunkan bibirnya.


"Bentaran aja gue pengen jalan bareng Lo."


"Idih dasar jomblo, mau jalan ngajakin gue." Cibir Zea.


"Gue jomblo, Lo apaan? Mbahnya jomblo?" sindir Putri balik.


"Serah Lo lah."


"Ayolah Ze, gue gabut nih."


"Emang Lo udah ada orderan?" tanya Putri.


"Belum sih," jawab Zea seadanya.


"Yaudah kita ke mall dulu, nanti kalau misalnya Lo ada orderan kita langsung pulang." Tawar Putri.


Zea masih memikirkan sesuatu.


"Tenang gue traktir deh," ucap Putri.


Zea menghela napas. Udah gue duga.


"Males ah, Lo kebiasaan begitu. Gue tahu gue itu miskin, tapi gue nggak mau terus-menerus Lo traktirin entar orang ngiranya gue porotin Lo." Tolak Zea mentah-mentah.


"Iss, ck."


"Ayolah Ze. Aggab aja gue traktir Lo sebagai ucapan terima kasih." Sepertinya putri masih belum menyerah.


"Terima kasih?"


"Iya. Lo tadikan udah bantuin gue nyelesain tugas matematika, dan Lo juga ngajarin gue cara-caranya supaya lebih mudah dipahami. Dan gue anggap itu nggak gratis, jadi gue akan bayar jasa Lo."


"Tapi---"


"Nggak ada tapi-tapian, udah ah ayok." Potong Putri cepat.


Kemudian Putri menarik paksa Zea keluar kelas. Namun sebuah getaran dari ponselnya menghentikan langkah mereka.


Putri langsung mengangkat panggilan telepon itu.


"Halo, apa?"


"...."


"Iya-iya ini gue lagi jalan, sabar kenapa sih?"


"...."


"Iya Lo, bawel amat kek cewe."


Kemudian Putri langsung mematikan panggilan telepon itu, tanpa mendengarkan balasan dari orang di seberang sana.


"Siapa?" tanya Zea.


"Sepupu gue. Dia yang jemput gue, karena hari ini mobil gue mogok, dan kebetulan supir papa ikut sama dia ke luar kota. Jadi dia diminta mama untuk antar jemput gue." Jelas Putri. Zea hanya menanggapinya dengan manggut-manggut saja.


"Ayo," ajak putri.


"Iya,"


Sebenarnya alasan Zea tidak ingin di teraktir oleh putri bukan karena tidak mau di anggap miskin. Hanya saja pengalaman yang pernah ia rasakan membuat dirinya untuk lebih hati-hati dalam menerima kebaikan sahabatnya ini.


flashback on


Zea dan putri sedang asik berbelanja di mall. Bahkan tidak sungkan Putri membelikan pakaian serta sepatu untuk sahabatnya itu. Mereka menjelajahi hampir semua toko yang ada di mall itu.


"Put, udah banyak banget loh. Udah ah ayo pulang." Ajak Zea.


"Iya-iya,"


"Kita makan dulu ya." Ajak putri. Dibalas anggukan kecil oleh Zea.


Mereka makan di salah satu restoran seafood yang ada disana. Memesan beberapa makanan untuk mereka makan. Setelah selesai makan Putri langsung mengantar Zea pulang. Tanpa mereka ketahui ada beberapa pasangan mata yang melihat mereka. Dan pastinya dengan tatapan tidak suka.


Keesokan harinya di sekolah.


Putri dan Zea bercanda ria di kantin. Memesan beberapa mangkuk siomay untuk mereka nikmati. Namun Zea merasa ada panggilan alam yang tidak dapat di negosiasikan.


"Put, gue ke toilet bentar ya." Tanpa menunggu jawaban putri Zea langsung lari menuju toilet siswa.


Zea mengeluarkan sesuatu yang sedari tadi menyesakkannya. Tiba-tiba samar-samar ia mendengar bisikan seseorang.


"Eh Lo tahu nggak si Zea itu?"


"Zea anak IPA satu."


"Iya,"


"Emang dia kenapa?"


"Dia terkenal loh beberapa hari ini. Dan jadi topik paling hot di sekolah kita."


"Eh serius?"


"Ada apa gaes," tanya seorang wanita lagi, sepertinya dia wanita yang baru keluar dari toilet di sebelah Zea. Karena Zea mendengar suara pintu toiletnya yang tertutup tadi.


"Si Zea loh Ngel."


"Oh, dia yang sering morotin Putri cucu pemilih sekolah kita kan." Ucap Orang yang di panggil Ngel itu dengan santainya.


What!! Morotin? Zea merasa hatinya teriris mendengar tuduhan itu. Sama sekali tidak pernah ada di benaknya ingin morotin sahabatnya itu. Dia memang miskin tapi dia tidak matre. Mengapa mereka semua berpikiran seperti itu?.


"Eh serius? Nggak tau diri banget kalau begitu dia. Seharusnya bersyukur si Putri mau temenan sama dia, eh ini malam di porotin."


"Tahu tuh,"


"Butuh duit kali dia."


"Bodoh banget sih Putri ya, mau temenan sama cewek matre begitu.


Zea tidak tahan lagi. Ia membuka pintu toilet dengan kasar lalu berlari keluar dari tempat itu. Sudah cukup ia menahan sesak mendengarkan tuduhan dan fitnah dari wanita-wanita itu. Toilet yang harusnya digunakan untuk buang hajat tetapi mereka manfaatkan untuk bergosip.


"Eh itu bukannya Ze?"


"iya-iya, ****** kita. Masa gosipin orang di depannya sih."


"Lo sih yang mulai."


"Lah kok jadi gue,"


"Udah, kok jadi kalian yang ribut sih. Buatin aja, biar di itu sadar." Dibalas anggukan oleh kedua temannya.


Zea berlari tanpa memikirkan banyak pasang mata yang melihatnya. Zea terus berusaha menahan agar tangisnya tidak tumpah.


Jangan nangis Ze. Lo kuat.


Zea lari menuju belakang sekolah. Dimana ada sebuah pohon besar disana. Pohon yang terkenal angker, namun Zea tidak peduli akan berita itu. Pedih di hatinya lebih dari rasa takutnya.


Zea duduk di bawah pohon yang cukup besar itu. Pohon yang sama sekali Zea tidak tahu namanya. Zea menumpahkan tangisnya disini. Tangisan yang sejak tadi ia tahan.


"Kenapa nangis?" sebuah suara yang begitu familiar di telinga Zea.


"Zeo," ucap Zea dengan suara seraknya.


"Kok Lo tahu gue disini."


"Bukannya jawab malah balik nanya," sindir Zeo. " Gue ngelihat Lo lari buru-buru tadi, gue khawatir makannya gue susulin. Dan yang buat gue bingung kenapa Lo lari kesini dan nangis kayak gini."


Zeo mendekati Zea, memegang bahu kecil kakaknya itu.


"Ada apa?" tanya Zeo lembut.


Zea kembali menangis. Ia memeluk erat adiknya itu.


"Malah nangis lagi. Ngomong kak, ada apa biar gue tahu harus ngapain. Jangan nangis aja, gue nggak ngerti kalau Lo cuma nangis gini." Ucap Zeo tetap dengan kelembutan.


Zea mengelap air matanya beserta air hidungnya dengan dasi Zeo.


"Is kok pake dasi gue sih." Ucap Zeo tidak terima.


"Oh jadi Lo nggak suka?"


"yaudah deh pake aja sesuka Lo." Ucap Zeo pasrah. Ia tidak ingin menambah buruk mood kakaknya itu.


"Gue di fitnah Ze." Zea memulai ceritanya.


"Fitnah?"


"Fitnah gimana?" tanya Zeo ingin penjelasan lebih.


Zea langsung menceritakan apa yang ia dengan tadi di toilet. Zea kembali meneteskan air matanya.


Zea mengepal kuat tangannya. Ia tidak terima dengan apa yang ia dengar, ingin rasanya menampar mulut orang yang seenaknya menjelekkan kakaknya ini.


Namun Zeo urungkan niatnya. Hal itu nanti saja ia lakukan. Zeo harus memastikan keadaan Zea terlebih dahulu.


"Kak," ucap Zeo lembur sembari merapikan rambut Zea yang mulai tidak beraturan di wajahnya.


"Lo nggak perlu dengerin mereka."


"Lo tahu kan apa fakta dalam hidup."


"Sebaik apapun yang kita lakukan dalam hidup kita pasti kita akan tetap buruk di cerita orang lain,"


"Nggak perlu menjelaskan apapun tentang diri Lo kak, karena yang sayang sama Lo nggak butuh itu dan dan yang benci sama Lo nggak akan percaya itu."


"Intinya Lo nggak perlu dengerin kata-kata mereka, yang jelas kak putri tahu Lo itu sahabatan sama dia tulus dan kalian juga sahabatan bukan baru beberapa hari, kan?. Tapi udah dari SMP, anggap aja mereka itu iri dengan persahabatan kalian. Dan Lo nggak perlu sedih lagi kaya gini. Nangis-nangis nggak jelas di bawah pohon gini, kalau penunggu pohon ini gasuka gimana?"


"Is jangan nakutin gitu Ze," Zea mulai takut.


"Kan Lo tahu sendiri dengan cerita di sini, kalau---"


"Gue nggak mau denger," potong Zea cepat. Sembari menutup kedua telinganya.


"Nah kaya gini yang harus Lo lakuin kak." Ucap Zeo tiba-tiba.


"Maksud Lo?" Ze tidak paham.


"Lo cuman punya dua tangan kak, nggak akan bisa untuk nutup semua mulut mereka. Tapi Lo bisa gunain dua tangan ini untuk nutup telinga Lo, dan bersikap tidak peduli."


Zea tersenyum hangat ke arah adiknya itu. Entah mengapa Zeo terlihat lebih dewasa dalam hal ini.


"Zea," suara lirih terdengar di telinga Zea.


"Putri," pekik Zea kaget.


"Gue tahu semuanya, dan gue akan urus semuanya." Kemudian Putri mendekati Zea laku memeluk Zea erat. Zea membalas pelukan sahabatnya itu.


Zeo tersenyum singkat. Bahkan kak putri tahu kak kalau lo itu tulus sama dia.


Ketiak upacara bendera.


"Semua barisan dapat dibubarkan oleh pemimpin barisan masing-masing," suara protokol menginstruksi.


"Ehhmm,"


"Jangan ada yang buat satu orang pun," suara itu berasal dari seorang siswa dengan kacamatanya yang bertengger cantik di hidungnya dengan rambut diikat kuncir kuda.


Meskipun begitu tidak membuat dirinya terlihat nert, malahan menambah kharisma wajahnya yang cantik.


"Sebelumnya saya ingin meminta izin kepada kepala sekolah dan bapak ibu guru untuk menginzinkan saya berbicara sebentar di sini. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan."


Putri melirik ke arah kepala sekolah seolah meminta izin dibalas anggukan kecil oleh kepala sekolah. Meskipun tanpa diberi izinpun dia akan tetap melanjutkan aksinya.


"Terima kasih atas izinnya."


"Saya disini ingin menyampaikan beberapa hal untuk semua siswa dan siswi disini. Terkhusus dengan berita yang tersebar mengenai diri saya,"


"Saya bukanlah artis yang harus jadi bahan bicara dan bahan kritikan. Saya tidak pernah mempermasalahkan sebelumnya untuk kalian semua mau menilai saya seperti apa. Tetapi saya tidak akan suka jika kalian menjudge orang lain dengan sesuka kalian. Ingat, saya memang cucu dari pemilik sekolah ini, tetapi saya tidak pernah memakai status itu untuk melakukan bullying ataupun berusaha bersikap bossing."


"Saya mendengar beberapa tuduhan tentang sahabat saya."


"Dia Zea Ulya Praisa,"


"Asal kalian tahu, dia bukan hanya sahabat saya. Dia sudar seperti saudara bagi saya. Yang selalu ada untuk saya. Apa saya salah bersikap baik kepadanya?"


Semua siswa hanya diam tidak ada suara sedikitpun. Berita yang sudah hampir diketahui oleh seluruh siswa itu membuat mereka seakan mendapat hantaman keras sebuah batu besar.


"Apa kalian tahu apa yang udah sahabat saya lakukan untuk sekolah kita? Kalian nggak tahu kan?"


"Oke saya akan beritahu."


"The secret girl itu adalah Zea."


"Gadis rahasia, yang tidak pernah ingin diketahui namanya ketika meraih penghargaan untuk nama baik sekolah karena prestasinya di bidang akademik maupun seni itu adalah sahabat saya, ZEA PRAISA ULYA."


Semua siswa terlonjak kaget. Bagaiman mungkin siswa yang bergelar the secret girl itu adalah Zea, gadis yang mereka tuduh tanpa bukti selama ini.


"Sebenarnya sekolah sangat pantas memberi penghargaan untuk dirinya, namun dia selalu menolaknya."


"Jika kalian ada yang berani lagi menyebarkan berita yang belum pasti kebenarannya apalagi mengenai Zea, akan saya pastikan kalian tidak akan lama lagi berada di sekolah ini." Kemudian Putri turun dari podium berlari menyusul Zea yang sudah berada di kelas. Putri tahu sahabatnya itu tadi pergi meninggalkan lapangan upacara begitu ia membeberkan rahasia yang hampir dua tahun ini mereka tutupi.


"Ze, maaf." Lirih Putri.


Zea langsung memeluk erat Putri.


"Makasih put, gue sayang sama Lo." bisik Zea. Putri tersenyum kemudian membalas pelukan Zea.


Flashback off

__ADS_1


"Ze, kok bengong sih? Ayo." Panggil putri.


"Eh, iyaiya."


Kemudian mereka berjalan menuju gerbang sekolah, Zea dapat melihat Avanza berwarna hitam ada di hadapan mereka.


Putri mengetik kaca jendela mobil itu. Tidak lama kaca terbuka. Membuat Zea sedikit terkejut ketika melihat siapa yang ada di dalam mobil mewah itu. Lelaki yang ada di dalam tidak kalah terkejutnya dengan Zea, namun dia dengan cepat menetralkannya.


"Ayok Ze, masuk." Mereka masuk ke kursi penumpang.


"Eh kok kalian duduk di belakang?" tanya pria itu.


"Jadi mau diamana? Di atas? Ya kali." Jawab Putri.


"Ya nggak gitu jika kaki Put. Buruan pindah ke depan satu. Lo kira gue supir taksi online."


"Mirip kok, udah nikmatin aja." Zea hanya tersenyum singkat bahkan cukup singkat melihat perdebatan antara Zea dan pria itu.


Dia hanya tersenyum pasrah. Mungkin dia malas berdebat dengan Putri, karena sudah tahu hasil akhirnya. Dia memilih menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Hmm, Lo nggak mau ngenalin temen Lo?" suara pria itu memecah keheningan yang sempat terjadi.


"Gue tahu kalian udah saling kenal, jadi nggak usah sok basa-basi gitu deh kak. Muak gue," pria itu tersenyum singkat.


"Tahu dari mana lo," pria itu mencoba memastikan.


"Lo lupa?"


"Nyokap gue psikolog kaki. Kalau cuma baca wajah kalian yang kaget kaya tadi gue bisa kali. Bukan hal yang sulit." Jelas Putri.


"Oh iya, gue lupa."


"Lo mah kebanyakan makan micin. Jadi tuda sebelum waktunya." Cibir Putri.


"Kalau bukan anak Ok Dedi udah gue slending nih bocah. Kalau ngomong ngak di saring dulu." Gumam pria itu.


"Lo ngomong apa kak?" tanya Putri langsung.


"Nggak,"


"Oh," balas putri acuh tak acuh.


* * *


"Whaaaaaa," teriak putri sembari memeluk erat lengan Azlan.


"Suara Lo put, malu kali di lihatin orang." Geram Azlan.


"Bodo amatlah, namanya juga gue takut. Lagian yang teriak bukan cuma gue. Jadi Lo nggak usah protes kak, cukup duduk manis di samping gue." Balas Putri. Kemudian ia kembali fokus kepada layar yang cukup besar yang ada di hadapan mereka.


Azlan melirik ke arah gadis di sebelah kanannya. Berbeda dengan putri yang terus berteriak ketika film bergenre horror itu tiba-tiba menunjukkan pemandangan yang seram. Gadis di sisi kanannya itu hanya diam menatap datar ke arah layar.


"Gue tahu gue cantik, nggak usah serius banget ngelihatnya." Azlan gelagapan. Seakan baru tertangkap basah ketika hendak mencuri sesuatu.


"Lo kok biasa aja sih? Lo nggak takut nonton film ini?" sebenernya Azlan sedikit ngeri menonton film ini, hanya saja ia bersikap tidak takut untuk menjaga image di hadapan Zea. Dan berharap gadis itu akan bersikap histeris dan sedikit banyak pasti dia diuntungkan dalam hal ini. Namun yang terjadi malah sebaliknya.


"Hidup gue lebih horor dari film ini, jadi gue udah biasa."


"Hah," pekik Azlan kaget.


"Apaan sih KK, norak banget sih. Pake teriak-teriak, dilihatin orang kali." Cibir Putri ketika mendengar teriakan Azlan.


"Iyaiya sorry." Zea hanya melirik sekilas setelah itu kembali fokus menonton film mereka.


Perasaan Lo juga tadi teriak-teriak gue biasa aja, kenapa giliran gue sekali teriak Lo jadi sewot. Apa Lo bilang tadi? Norak? Apa kabar Lo yang udah kaya orang hutan teriaknya. Untung Lo adik gue, kalau nggak udah gue tenggelamkan di lautan lepas. Umpat Azlan dalam hati.


Azlan kembali melirik Zea. Lebih tepatnya menoleh ke arah Zea. Menatap wajah cantik gadis itu dengan seksama.


"Lo cantik," puji Azlan dengan bisikan, hanya Zea yang dapat mendengarnya.


Zea menoleh ke arah Azlan. Kemudian memberikan senyum terpaksa.


"Terima kasih,"


Kemudian Zea kembali fokus pada filmnya.


Azlan merasakan detak jantungnya berdetak di atas normal seketika. Senyuman Zea mampu membuat dirinya seakan membatu. Bahkan itu hanya senyuman sekilas dan Azlan tahu benar tadi itu senyuman terpaksa yang Zea berikan. Namun mengapa berdampak begitu besar untuk jantungnya.


Kayaknya pulang dari sini gue harus periksa jantung deh.


* * *


"Ze, gimana kalau ini?" tanya Putri ketika keluar dari ruang ganti. Saat ini Ia tengah memakai sebuah dress berwarna coklat muda. Warna kesukaan Zea.


"Warnanya sih gue suka Put. Tapi apa nggak terlalu pendek itu." Komentar Zea.


"Mending yang ini aja," pilih Zea.


Menunjuk sebuah dress panjang berlengan pendek dengan warna yang sama. Namun terlihat lebih elegan dan pastinya sopan.


"Tapi gue suka ini," rengek Putri.


"Terus Lo ngapain nanya gue, kaalu akhirnya kemauan Lo juga yang Lo ambil." Zea memutar bola matanya malas.


Putri hanya memberikan cengiran tanpa dosa miliknya.


"Put, udah?" tanya Azlan.


"Sabar ngapa, masih milih juga." Ucap putri kesal.


"Terus udah dapet belom?" tanya Azlan lagi.


"Udah, kayanya gue pilih ini aja deh." Ucap Putri memilih dress ia kenakan tadi.


"Cuma itu?" tanya Azlan kembali.


"Iya," jawabnya.


"Gue udah nunggu satu jam Lo cuma beli satu baju, Lo milih baju atau liburan lama bener." Cibir Azlan.


"Namanya juga cewek, kek nggak tahu aja. Ya kan mbak." Ucap Putri kepada pelayan toko baju itu, dibalas hanya dengan senyuman oleh pelayan cantik itu.


"Yaudah, kalau begitu gue ganti dulu bakunya terus mau bayar sekalian. Lo tunggu aja di luar KK, ajak Zea sekalian." Ucap putri setelah itu kembali ke ruang ganti.


"Lo nggak beli?" tanya Azlan kepada Zea.


"Nggak," jawab Zea singkat. Kemudian memberikan dress panjang yang ia pegang tadi kepada pelayan toko. Kemudian dia pergi keluar dari toko.


Zea melihat seorang anak kecil yang menangis, dia seperti kehilangan ibunya.


"Adek kenapa nangis?" Zea menghampirinya.


"Lala takut, Lala mau sama Mama." ucapnya di sela-sela tangisnya.


"Emangnya mama kamu kemana?"tanya Zea lembut.


"Nggak tahu, katanya tadi mama mau pergi sebentar tapi nggak balik-balik dari tadi," Ucap gadis kecil itu dengan wajah cemberut.


"Udah jangan nangis lagi, ayo kakak belikan es krim." Tawar Zea.


"Nggak mau, kata mama kalau ada orang yang dikenal ngajak beli es krim jangan mau. Mereka mau culik Lala." Tolak gadis kecil itu, dengan sesekali sesenggukan.


Zea tersenyum tipis, kemudian mengulurkan tangannya. Lala menerima uluran tangan Zea.


"Nama kakak Zea, kamu bisa panggil kak Ze aja. Sekarang kita udah saling kenal kan, jadi nggak papa dong kakak beliin kamu es krim." Ucap Zea dengan senyuman. Lala membalas senyuman Zea, lalu mengangguk.


Zea membawa Lala ke salah satu gerai es krim yang ada di mall itu.


"Kamu mau rasa apa?" tanya Zea.


"Vanila kak," jawabnya antusias.


"Mas es krim rasa vanila dua ya."


Tidak menunggu lama dua es krim vanila sudah siap dan dengan cepat Zea menerimanya lalu membayarnya.


"Kakak suka vanila?" tanya Lala, melihat Zea juga memesan rasa yang sama.


"Tidak, mau coba aja." Jawab Zea dengan senyuman.


"Lala," teriak seorang wanita. Dia berjalan mendekati ke arah Zea. Lala langsung berlari memeluk wanita itu.


"Kamu disini rupanya. Kan mama bilang tadi jangan kemana-mana."


"Maaf ma," sesal Lala.


"Yaudah nggak papa,"


"Kamu kok bisa makan es krim?" tanya mama Lala.


"Kak Ze yang beliin tadi." Ucapnya senang dengan sesekali menjilati es krimnya.


"Kak Ze?"


"Iya itu dia ada di sana," tunjuk Lala. Namun sayangnya Zea sudah tidak ada di tempatnya.


"Mana sayang, nggak ada siapa-siapa, kan mamak bilang jangan mau kalau di ajak orang yang tidak di kenal." Ucap Mama Lala.


"Tapi tadi serius mah, Kak Ze yang beliin. Kak Ze kakak dimana?" teriak Lala berusaha mencari keberadaan Zea yang tidak ia temukan.


"Yasudah besok kita cari kak Ze lagi ya, kamu harus kontrol ke rumah sakit sekarang."


Kemudian Wanita itu menuntun Lala keluar dari mall itu.


Di sisi lain, Zea hanya mampu melihat dari jauh gadis kecil yang ia temui tadi dengan senyuman bahagia.


"Mau sampe kapan sembunyinya?" sebuah suara memecahkan perhatiannya.


"Lo!!"


"Iya, gue. Kenapa? Kaget." Kawat Azlan santai.


"Sejak kapan Lo di sini?" sinis Zea.


"Sejak Lo ngintipin tuh anak kecil yang lagi sama ibunya sambil senyum-senyum. Emang tuh anak siapa?"


"Bukan urusan lo," jawab Zea tetap dengan nada dinginnya.


"Kak, Zea. Ayo, kita makan dulu ya. Gue laper." panggil Putri ketika keluar dari toko pakaian tadi.


Zea hanya menurut dan mengikuti langkah Putri yang sudah berjalan duluan. Azlan mau tidak mau hanya mengikut saja kemanapun dia gadis itu pergi. Terkadang ia merasa lelah, namun ada wajah yang membuat lelahnya hilang seketika.


Gue harap wajah Lo Ze yang akan gue lihat di setiap gue mau tidur dan bangun tidur. Bahkan dalam setiap hal yang gue lakukan nantinya. Doa Azlan dalam hati.


* * *


Azlan terus menerus mencuri pandang ke arah Zea. Sungguh wajah Zea lebih mengenyangkan dibandingkan makanan yang ada di hadapannya ini. Pandangannya seakan tidak ingin lebih lepas dari wajah cantik gadis itu. Azlan hanya memerhatikan tiap pergerakan Zea. ia tahu gadis itu berusaha tidak terusik dengan pandangannya, dan hal itu membuat Azlan semakin menyukainya.


Tiba-tiba ponsel Zea berdering.


"Halo,"


"Ze, Zia ada di rumah Tante ini. Tapi pulang sekolah nggak sengaja ketemu Rara, jadi di ajak ke rumah sama dia. Kamu nggak masalah kan."


Namun tiba-tiba Zea meringis, seperti menahan sakit.


"Kenapa Ze? Lo sakit?" tanya Putri dengan nada khawatir.


"Eng.... nggak," jawab Zea sebisa mungkin menahan sakit di perutnya.


"Tapi muka Lo pucet," Putri semakin khawatir.


"Gue nggak papa Put, cuman lagi mens pertama aja makannya perut gue sakit." Zea berusaha menenangkan kekhawatiran sahabatnya itu.


"Lo lagi dapet, kenapa nggak bilang?"


"Emang Lo nanya?"


" Ya nggak sih. Kurang kerjaan banget gue tanya-tanya begituan."


"Yaudah,"


Azlan hanya diam menjadi pendengar yang baik untuk dua wanita di hadapannya itu.


"Kayanya gue balik aja deh Put, gue takut nggak tahan."


"Yaudah kalau itu mau Lo. Tapi Lo di anter kak Azlan pulang ya." Ucap Putri.


"Nggak usah Put." Tolak Zea langsung. Bagaimana mungkin dia harus satu mobil dengan pria yang selalu membuat dirinya kesal setiap bersamanya.


"Lo harus mau, gue nggak Nerima penolakan. Lo lagi sakit, dan gue nggak akan biarin Lo pulang sendirian." Tegas putri.


"Gue bisa naik angkot Putri." Zea masih terus beralasan.


"Di angkot itu banyak orang Ze, yang ada perut Lo tambah sakit kalau desak-desakan nantinya." Zea menghela napas pelan. Percuma saja berdebat dengan sahabatnya ini, ia tidak akan pernah menang.


"Yaudah deh, Tapi Lo?"


Azlan tersenyum singkat mendengar penerimaan Zea.


"Gue bisa naik taksi. Lagian rumah gue lebih dekat dari mall ini dibandingkan rumah Lo. Gue bisa telpon supir papa juga, gue yakin mereka udah pulang." Jelas Putri.


"Kak, gue titip Zea. Antar sampe rumah, jangan sampe lecet sedikitpun. Dia begitu berharga buat gue."


"Kata-kata Lo udah mirip kaya bapak yang lagi nitipin anaknya. Lagian gue udah gede kali, nggak perlu Lo ajarin lagi." Balas Azlan.


"Gue cuma ngingetin, yaudah kalau Lo udah ngerti. Buruan gih antar Zea pulang!"


"Kenapa jadi Lo yang sewot sih," cibir Azlan.


"Udah ah, males berdebat. Kasihan Zea udah kesakitan. Buruan sana anterin."


"Yaudah Out, aku duluan ya." Zea bangkit dari duduknya, lalu berjalan meninggalkan Azlan yang masih duduk di tempatnya.


Azlan yang menyadari kepergian Zea kemudian langsung berjalan mengikutinya yang mulai jauh. Namun sedetik kemudian ponselnya bergetar, Satu nama yang tertera disana.


Sepupu Alay


Lo harus berterima kasih ke gue kak. Karena gue udah ciptain momen dimana Lo bisa manfaatkan supaya bisa Deket sama Zea. Dan itu semua nggak gratis, Lo harus bayar mahal semua ini.


Azlan menoleh ke arah Putri. Disambut dengan kedipan mata olehnya tanda kemenangan baginya.


Azlan mengetikkan sesuatu disana, untuk membalas pesan Putri.


Aman


✓✓


Thanks curut kecil 😂😂


✓✓


BANGKE LO!!!!


Azlan menutup ponselnya, setidaknya dia memang benar-benar harus berterima kasih dengan Putri. Gadis itu benar-benar mengerti dirinya. Kemudian menyusul Zea yang sudah berjalan cukup jauh darinya.


**Terima kasih sudah membaca part ini.


Jangan lupa beri love nya ya.


maaf kalau masih ada typo bertebaran.


Tunggu part selanjutnya.


Salam sayang Author**.

__ADS_1


__ADS_2