
Zea keluar dari mobil Azlan dengan tidak santai. Ia membanting pintu mobil Azlan dengan cukup keras. Rasa kesalnya pada Azlan sudah cukup memuncak. Pria itu semakin seenaknya saja pada dirinya. Memaksa sesukanya saja, meskipun masih dalam hal wajar. Namun tindakannya Selalu saja memancing emosi Zea yang sering naik turun karena ulahnya.
"Ze, kok buru-buru sih?" teriak Azlan.
Tidak ingin tertinggal jauh, Azlan langsung keluar dari dalam mobil mengikuti Zea yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah sakit. Zea memang meminta Azlan untuk mengantarnya ke rumah sakit dahulu sebelum ke sekolah. Dan Azlan hanya mengikuti peri yah Zea saja. Toh tugasnya memang hanya mengantar Zea kemanapun ia pergi hari ini, sebelum ia disibukkan dengan urusan kuliah lagi.
Zea sampai di depan pintu ruangan rawat Ayahnya, begitupun Azlan yang berdiri tidak jauh darinya. Tanpa menunggu lama, Zea langsung masuk ke dalam ruangan itu. Ia melihat Zeo yang tengah duduk setia di samping ranjang ayah mereka.
"Mana sarapan gue?" tagih Zeo langsung.
Zea menepuk jidatnya. Ia lupa. Penyakit lupanya kambuh lagi. Tapi kali ini tidak sepenuhnya salahnya. Karena Azlan yang membuatnya kesal dan akhirnya ia lupa. Jadi ini juga salah Azlan.
"Gue lupa Ze, sorry." Ucap Zea dengan cengiran tanpa dosanya.
"Dasar pikun, semuanya Lo lupain kak," ucap Zeo kemudian ia bangkit dari duduknya.
Zea ingin membalas ucapan Zeo, namun pintu ruangan terbuka membuat aksinya tertunda. Azlan dengan gaya sok gantengnya menurut Zea masuk ke dalam ruangan serba putih itu.
"Wah ganteng bener Lo bang," puji Zeo. Ia cukup terkesima dengan ketampanan Azlan. Memang faktanya Azlan itu tampan. Hanya Zea lah yang selalu menentang hal itu.
"Mata Lo rabun? Masih pagi juga, muka kek celengan ayam gitu dibilang ganteng," ucap Zea yang menyahut. Azlan terkekeh kecil. Hal yang biasa jika Zea menentang orang yang tengah memujinya ganteng.
"Lah gue kan cuma ngomong seadanya," jawab Zeo tanpa merasa bersalah. Namun hal yang membuatnya bingung mengapa kakaknya sudah sangat emosi di pagi hari seperti ini.
"Muka celengan ayam gini nih pacar Lo juga Zea," Azlan beranggapan. Zea tidak memperdulikan ucapan Azlan, Ia malah berjalan mendekati ayahnya.
"Yaudah deh, kalian urusi masalah rumah tangga kalian dulu yah. Gue mau beli sarapan, cacing di perut gue udah pada demo. Entar gue balik habis beli sarapan," ucap Zeo.
"Makannya pelihara itu kambing, kan bisa berkembang, jadi nguntungin. Bukan pelihara cacing yang nggak menguntungkan sama sekali," Zeo menghela napas. Berbicara dengan Zea terkadang membuat dirinya bingung. Namun untuk kebaikan dan keamanan semua orang dia lebih memilih diam.
"Serah Lo kak serah. Cewe mah bebas," kemudian Zeo berjalan menuju pintu keluar.
Zea terkekeh kecil melihat wajah kesal Zeo yang begitu lucu. Zea memang sengaja menggodanya.
"Lo nggak sekolah Ze?" itu suara Azlan.
"Gue udah izin bang. Lebih baik gue yang nggak masuk sekolah dari pada Kak Zea, soalnya dia kan udah kelas 12 pasti akan banyak ujian yang harus dia lalui," jawab Zeo dibalas anggukan kepala dari Azlan.
"Umm Ze," panggil Azlan lagi.
"Gue bisa minta tolong Lo nggak?" Zeo menautkan alisnya.
"Apaan bang?" tanya Zeo langsung.
"Entar gue hubungi Lo lagi, intinya Lo mau kan?" tanya Azlan lagi untuk memastikan.
"Kalau gue bisa, kenapa nggak?" jawab Zeo cepat.
"Oke, entar gue kabarin lagi." Zeo mengangguk kemudian berjalan keluar dari ruangan itu. Perutnya sudah sangat lapar minta di isi. Dia tidak makan dari kemarin malam. Karena tidak ingin meninggalkan ayahnya sendirian di ruang rawat.
Zeo melangkah dengan sedikit cepat, ia sudah lapar. Perutnya membuat langkah kakinya berjalan menuju kantin rumah sakit dua kali lebih cepat. Bahkan karena lapar, tegur dan sapa dari para suster tidak ia hiraukan lagi.
Sampai akhirnya sebuah tubuh mungil menabrak dirinya.
Karena tubuhnya yang lebih kecil dari Zeo, membuat gadis itu terhuyung ke lantai.
"Au Ssshhh," ringisnya. Mungkin ia mereka sedikit sakit di area bokongnya, karena Zeo dapat melihat jelas gadis itu jatuh dengan bokong lebih dulu.
"Lili," gadis itu menoleh. Zeo tidak salah, dugaannya tepat sekali. Gadis yang menabraknya adalah Lili.
"Lo ngapain di situ?" tanya Zeo.
"Tolongin dulu ngapa baru nanya," ucap Lili kesal.
Zeo langsung mengulurkan tangannya hendak menolong gadis itu dan dibalas cepat oleh Lili.
"Sorry, gue nggak ngelihat Lo tadi." Ucap Zeo meminta maaf. Sebenarnya dia tidak salah, meskipun terburu-buru, Zeo tetap memperhatikan langkahnya. Lili lah yang menabraknya tadi, namun karena prinsip perempuan selalu benar Zeo memilih untuk meminta maaf terlebih dahulu.
"Iya nggak papa," tiba-tiba saja Lili menarik Zeo ke balik dinding, dengan posisi Zeo di hadapannya. Ia menjadikan tubuh Zeo sebagai pelindung entah dari apa. Mata gadis itu terus melirik ke belakang Zeo seakan mencari seseorang.
"Lo ngapain sih," desis Zeo. Sebenernya Zeo merasa sedikit tidak nyaman karena jarak mereka yang begitu dekat.
Lili menoleh sekilas ke arah Zeo, namun setelah itu ia kembali waspada.
"Gue lagi di kejar sama orang, dan dia mau bunuh Gue." Jawab Lili dengan wajah serius.
Mendengar kalimat itu dahi Zeo berkerut.
"Siapa yang mau bunuh Lo?" tanya Zeo.
"Dia," ucap Lili sembari mengarahkan matanya ke sisi sebelah kanan Zeo. Dan secara refleks Zeo mengikuti arah yang Lili tunjuk. Mata Zeo membulat karena terkejut, bukan hanya terkejut bahkan ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Zeo menatap Lili kembali.
"Lo serius? Dia mau bunuh Lo? Dia kembaran Lo, Li. Dia Lala." Ucap Zeo setengah tidak percaya.
"Terus menurut Lo muka ketakutan gue ini becandaan?" sinis Lili, karena memang ia tidak berbohong dengan apa yang ia katakan.
"Tapi--"
"Dia psikopat," mata Zeo kembali membulat.
Apa yang Lili katakan barusan sungguh membuat Zeo terkejut. Bagaimana mungkin Lala seorang psikopat? Dan parahnya ia sendiri pernah berpacaran dengan seorang psikopat. Zeo jadi ngeri sendiri mengingat semua hal tentang Lala dan dirinya.
"Dan gue mohon tolongin gue Ze," ucap Lili dengan wajah memohon.
"Oke gue bakal tolongin Lo, sekarang mendingan lo masuk ke dalam toilet itu dulu." Lili menoleh ke arah yang di tunjuk Zeo. Yah itu memang toilet tetapi itu toilet cowo, bagaimana mungkin Lili harus masuk ke dalam toilet cowo.
"Gue tahu apa yang Lo pikirin, tapi sekarang bukan waktunya untuk memilih. Lo masuk sekarang atau Lala bakal nemuin Lo, Lala udah makin deket dari sini."
Lili menghela napas pelan. Tanpa menunggu lama ia langsung masuk ke dalam toilet cowo. Disaat bersamaan Zeo membalik tubuhnya. Matanya langsung bertemu dengan iris mata coklat milik Lala.
Lala yang menyadari kehadiran Zeo hanya memberikan tatapan datarnya. Bahkan terlihat tidak peduli, namun pandangannya tidak terlepas dari mata indah Zeo.
"Biasa aja ngelihatin gue. Kenapa? Baru sadar kalau gue ganteng," ucap Zeo dengan nada penuh percaya dirinya.
Lala berdecak pelan. Menatap tidak suka ke arah Zeo.
Zeo hanya memberikan tatapan datarnya. Ia berusaha bersikap biasa saja di hadapan Lala. Padahal jantungnya sudah berdetak di atas normal. Takut sudah pasti, apalagi dengan kenyataan yang dikatakan Lili tadi, membuat Zeo berpikir yang tidak-tidak. Namun meski begitu, Zeo tetap berusaha untuk bersikap tenang.
"Lo ngelihat Lili?" pertanyaan itu keluar dari mulut Lala. Sebuah pernyataan yang pertama kali keluar dari mulut gadis itu untuk Zeo. Selama mereka berpacaran dulu jangankan Lala bertanya kepada Zeo, bicara saja dapat dihitung berapa kata yang ia keluarkan.
Zeo pura-pura celingak-celinguk ke sekitar. Seakan mencari sesuatu.
"Gue nanya Lo, malah celingak-celinguk kayak kambing conge." Sinis Lala.
"Dih tumben Lo ngomong, kirain selama ini bisu." Ucap Zeo pedas.
"Gue lagi nggak becanda,"
"Lo kira gue peduli."
"Kok Lo ngeselin, sih?" ucap Lala geram. Emosinya belum terpuaskan dengan Lili sekarang sudah dipancing laki oleh Zeo yang sungguh mengesalkan.
"Emang gue harus gemesin gitu ke lo. Ogah bener," ketus Zeo. "Lagian Lo yang punya kembaran, kenapa tanya ke gue." Sewot Zeo lagi.
"Nyesel gue nanya Lo," ucapnya kesal. Kemudian melangkah pergi menjauhi Zeo.
Sepeninggalnya Lala yang tidak terlihat lagi Zeo langsung memanggil Lili. Merasa namanya dipanggil dengan cepat Lili keluar dari persembunyiannya yang cukup membuatnya hampir pingsan.
"Udah aman?" tanya Lili.
"Selama ada Zeo semuanya aman terkendali," ucap Zeo dengan senyuman manisnya.
Deg
Astaga Zeo, senyuman Lo membunuh gue.
Zeo berjalan mendekati Lili, meraih lengan gadis itu. Mengajaknya berjalan menjauhi tempat mereka berdiri tadi.
"Karena gue udah nolongin Lo, sekarang Lo harus teraktir gue," entah kerasukan jin apa, Lili langsung mengiyakan permintaan Zeo. Membuat pria itu semakin tersenyum lebar karena senang.
Namun masih beberapa langkah mereka berjalan Zeo menghentikan langkahnya. Zeo membuka jaketnya lalu memakaikannya ke Lili, membuat gadis itu mematung di tempat karena aksi Zeo. Jarak mereka yang cukup dekat membuat Lili kesulitan bernapas karena gugup.
"Lo kenapa diem gitu?" tanya Zeo heran.
"Eh ng... nggak papa," jawab Lili sedikit gagap.
Zeo kembali tersenyum. Ia membuka ikatan rambut Lili. Menata sedikit rambut hitam gadis itu. Lili terlihat cantik dan berbeda dengan rambut tergerai seperti itu.
"Lo ngapain buka ikatan rambut gue?" tanya Lili sedikit ragu.
"Biar Lo nggak dikenali sama Lala, dan---" Zeo sengaja menggantung kalimatnya.
"Dan?"
"Supaya Lo kelihatan lebih cantik," tambah Zeo dengan senyuman manisnya. Senyuman yang mampu menyetrum semua kaum hawa dalam sekejap. Dan hal itu juga terjadi pada Lili. Jika ditanya ingin terbang pasti dia sudah ingin terbang saat ini juga. Melayang karena ucapan Zeo barusan.
Zeo kembali memegang lengan Lili, menariknya lembut menuju kantin rumah sakit. Rasa laparnya tidak akan kenyang jika hanya melihat wajah cantik Lili. Namun hal kecil yang Zeo lakukan itu berdampak besar untuk Lili. Hatinya bergetar, jiwanya meronta ingin terbang karena perlakuan manis Zeo.
Mah jantung Lili mau copot. Tuhan tolong Lili.
* * *
Azlan berjalan ke arah sofa yang berada tidak jauh dari tempat Zea duduk menemani ayahnya yang masih terbaring lemah. Ia memilih duduk di sofa itu, karena tidak ingin mengganggu kebersamaan antara ayah dan anak. Meskipun sang ayah masih terus memejamkan matanya tanpa tahu anaknya yang terus saja meneteskan air mata.
Azlan terus menatap Zea dari jauh. Bahkan hanya dengan menatap wajah gadis itu saja membuat Azlan begitu tenang. Wajah Zea mampu membuat dirinya melupakan segalanya. Wajah datarnya itu mempunyai candu yang membuat Azlan tidak dapat lepas darinya. Mata coklatnya memiliki magnet yang selalu mampu menarik perhatian Azlan hanya kepadanya.
Kali ini Zea tidak menangis lagi. Gadis itu hanya menatap Ayahnya dengan tatapan sendu. Tangannya menggenggam erat tangan ayahnya yang lemah itu, dengan sesekali mengecupnya lembut.
Azlan menatap Zea tanpa lepas barang sedetikpun. Tidak ingin melepas pemandangan yang begitu jarang ia temui. Bahkan indahnya pelangi mengalahkan indahnya wajah Zea bagi Azlan. Azlan mengambil ponselnya, memotret Zea dengan diam-diam tanpa sepengetahuan gadis itu.
Namun siapa sangka setelah Azlan meletakan ponselnya, Zea menatap Azlan dengan tatapan tajam.
Bakal ada yang ngamuk kayaknya.
"Stop ngelihatin gue," ucapnya tegas.
Azlan terkekeh pelan. Wajah Zea cukup lucu jika sedang marah seperti itu. Azlan tahu, gadisnya itu sedari tadi menahan emosinya karena Azlan Sedari tadi tidak lepas memandanginya. Azlan sengaja melakukannya, karena menggoda Zea memiliki kesenangan tersendiri untuk Azlan.
"Emang ngelihatin pacar sendiri salah? Kan nggak, kalau gue ngelihatin pacar orang itu baru jadi masalah."
Zea berdecak sebal. Berbicara dengan Azlan selalu saja memancing emosinya.
"Gue bilang stop ngelihatin gue. Kalau Lo nggak mau gue colok,"
"Sadis bener sih Ze, ngelihat doang masa nggak boleh."
"Nggak boleh pokonya,"
"Sekali doang masa nggak boleh,"
"Sekali nggak ya nggak, kok rese sih. Udah buruan sekarang Lo tutup mata," ucap Zea menyuruh.
"Buruan ih, dibilangin juga."
"Kok Lo jadi maksa sih?"
"Oh jadi Lo nggak mau nurutin gue," sahut Zea langsung, membuat Azlan menghela napas berat.
"Iya-iya gue tutup mata."
Tanpa menunggu lama Azlan langsung menutup mata, dengan posisi duduk di sofa.
Zea tersenyum senang, karena ia menang kali ini.
"Terus gue sampe kapan begini Ze?" tanya Azlan.
"Sampe gue suruh buka," jawab Zea cepat.
"Terus kapan Lo bakal suruh gue buka mata?"
"Suka-suka gue dong, kapan gue maunya,"
"Oh jadi Lo udah suka sama gue?" ucap Azlan dengan nada menggoda. Bahkan dengan mata tertutup ia masih sempat menggoda Zea.
"Dih pede,"
"Tadi kan Lo yang ngomong sendiri,"
"Kapan?" tanya Zea.
"Tadi, kan lo bilang begitu."
"Pendengaran Lo salah tuh,"
"Penyakit lupa Lo kambuh yang ada, orang jelas-jelas Lo bilang suka sama gue,"
"Dih kapan coba gue bilang, gue suka sama Lo?" ucap Zea semakin ketus.
"Aku juga suka kamu sayang," balas Azlan dengan senyum kemenangannya.
Zea membulatkan matanya. Mulutnya yang terbuka karena hendak membalas Azlan kembali tertutup. Cih gue tertipu.
"Kita satu sama," ucap Azlan santai dengan wajah tersenyum manis dan tangannya yang ia letakan di atas dada, menambah kadar ketampanannya sedikit. Tentunya dengan mata yang masih terpejam.
* * *
Zea berlari secepat mungkin memasuki sekolah. Dia hampir telat hari ini. Ini semua karena Zeo yang lama sekali kembali dari membeli sarapan. Alhasil Azlan lah yang mendapat semprotan omelan Zea. Bahkan ketika Azlan berbicara saja Zea langsung emosi. Entah apa yang ada di pikiran Zea. Semua yang Azlan lakukan jadi serba salah.
"Ze hati-hati, jangan lari entar jatuh." Teriak Azlan. Namun gadisnya itu tidak menghiraukannya. Ia terus berlari, karena jika telat ia harus berurusan dengan pak Samin yang galaknya melebihi kak Ros di film Upin dan Ipin.
Zea menghela napas lega ketika berhasil masuk ke dalam sekolah tanpa harus berurusan dengan Pak Samin. Ia masih selamat karena tidak terlambat.
"Ze, Lo kenapa?" sebuah suara yang begitu familiar membuat Zea menoleh.
Gadis cantik berkacamata yang begitu Zea kenali tengah menatapnya bingung. Zea masih berusaha mengatur napasnya yang tidak teratur supaya kembali normal.
"Habis di kejar-kejar setan?" tanya Putri.
"Nggak, itu pak Samin." Jawab Zea.
"Lo di kejar-kejar pak Samin?" Zea menghela napas pelan. Bukan itu maksud dari ucapannya.
"Nih anak asal nyimpulkan aja. Bukan itu. Gue ngos-ngosan karena buru-buru masuk ke sekolah karena takut berhadapan sama pak Samin kalau sampe terlambat." Jelas Zea.
"Halah sama pak Samin aja takut Ze, jinak kok dia." Ucap Putri dengan entengnya.
Nih bocah emang udah rada-rada. Masa iya guru di bilang sudah jinak. Dikira peliharaan apa?. Dasar murid tidak ada akhlak.
"Lo kira pak Samin kucing? Jadi udah jinak!!."
"Lah Lo nggak tau apa, Pak Samin kan singanya SMA Darma Putra." Ucap Putri dengan kekehan kecilnya.
"Hus nggak baik ngeledekin guru, dosa tahu."
"Oiya, astagfirullah maafkan hamba ya Allah. Dan untuk pak Samin maafkan muridmu yang paling cantik ini, saya doakan bapak panjang umur, sehat selalu, murah rezeki, dan tidak gala lagi," ucap Putri dengan menengadahkan tangannya seakan berdoa.
"Aamiin," suara berat masuk ke pendengaran Zea membuat bulu kuduk Zea langsung meremang. Bukan karena merinding tetapi karena takut setengah mati.
Zea dan Putri menoleh ke sumber suara secara bersamaan.
******, pak Samin.
"Eh bapak, ada apa ya pak?" tanya Putri basa-basi dengan wajah sok imutnya.
"Putri murid bapak yang paling cantik di sekolah ini, kenapa kamu masih di sini? Bukannya bel sudah berbunyi dari tadi, cepat masuk ke kelas, dan kamu juga Zea." Ucap Pak Samin dengan tegas.
"Dih bapak itu suara tegas kok kedengarannya datar gitu sih pak. Jangan begitulah pak, kalau galak-galak entar susah dapet jodoh loh," sahut Putri lagi tanpa merasa takut.
"Put," bisik Zea ingin mengingatkan. Melihat wajah pak Samin yang memerah seperti itu, Zea tahu pak Samin sedang menahan emosinya, karena tidak mungkin ia berani menghukum Putri. Namun jiwa memberi hukumnya sudah meronta-ronta melihat tingkah putri yang dengan santainya menyahut ucapannya tanpa merasa takut.
Pak Samin guru muda di sekolah Darma Putra namun ia sudah terkenal dengan ketegasannya akan memberi hukuman kepada para siswa, hal itulah yang membuat pak Samin di idolakan oleh para murid berhenis kelamin perempuan namun juga takuti oleh semua siswa, tentunya Putri menjadi pengecualian. Kenapa begitu, semuanya ada alasannya.
Awalnya pak Samin, atau yang bernama lengkap Samudra Mindra (Nama Samin sendiri itu adalah singkatan yang diberikan sekolah untuknya), adalah guru yang berani menghukum murid tidak pandang bulu. Bahkan Putri yang merupakan cucu dari pemilik yayasan pun tidak mendapat perhatian khusus baginya. Jika guru lain membedakan Putri maka tidak dengan dirinya. Sampai akhirnya ia menghukum gadis itu lari lapangan karena terlambat ke sekolah bahkan seenaknya saja memanjat pagar untuk masuk, namun siapa sangka karena hukuman itu Putri pingsan di lapangan. Putri memang memiliki riwayat penyakit anemia. Membuat dirinya tidak kuat jika berlari, jangankan berlari di lapangan yang seluas itu, berdiri saat upacara bendera saja dia sudah pucat pasi seperti mayat hidup. Dan hal itu juga yang menjadi alasan putri tidak pernah mendapat hukuman berat dari para guru meskipun tingkahnya sering membuat para guru naik darah.
Karena hal itu, Pak Samin diberi peringatan keras dari kepala yayasan langsung yang tidak lain adalah Kakek putri. Dari situlah pak Samin tidak berani berurusan dengan gadis ini lagi.
"Bapak itu nggak usah galak-galak, apalagi marah-marah nggak jelas begitu, nggak takut tua sebelum waktunya apa? Entar nggak ada yang mau loh sama bapak," tambah Putri lagi.
Sedangkan Zea hanya mampu mengelus dada melihat tingkah sahabatnya itu.
"Kalau nggak ada yang mau sama saya, kamu yang saya nikahin." Putri tersentak kaget, begitupun Zea. Keduanya saling tatap.
"Dih bapak becandanya nggak lucu ah," sahut putri dengan kekehan kecilnya.
"Saya sedang tidak bercanda putri!!" tegas Pak Samin.
Zea menyenggol lengan putri, membuat gadis itu menoleh.
"Udah ah put, yuk kita ke kelas aja," namun ucapan Zea hanya di anggap angin lalu oleh Putri.
"Jangan kelihatan banget jomblo nya pak, saya aja yang jomblo nggak gitu-gitu banget, masa iya ngajak nikah murid sendiri."
Jika dapat menghilang Zea pasti akan melakukannya sekarang juga. Di mana akal sahabatnya itu, apa dia tidak berpikir bahwa ia sedang berbicara dengan guru. Terkadang Zea mengasihani dirinya sendiri, mengapa harus memiliki teman segila Putri.
"Saya serius dengan ucapan saya, Putri."
"Dih mau di seriusin pak. Bapak ngebet bener yah kayaknya,"
"Kamu nggak ke kelas juga, saya panggil penghulu sekarang,"
Zea langsung menarik Putri menuju kelas. Jika dibiarkan Putri pasti akan semakin nyerocos tidak jelas.
"Maafkan kami pak, permisi." Ucap Zea. Kemudian menarik paksa sahabatnya itu untuk pergi.
"Zea, Lo ngapain sih narik-narik gue. Sakit tahu nggak Ze," protes Putri karena merasa sakit karena tarikan Zea yang cukup kuat tadi.
"Sumpah Lo gila put,"
"Lebih gila mana sama Lo yang tarik-tarik gue tadi, sakit nih tangan gue sampe merah." Ucap putri sembari mengelus-elus lengannya yang sedikit memerah karena tarikan Zea.
"Ya sorry, lagian Lo sih pake acara ngelawani pak Samin. Kalau beneran Lo dinikahin sama dia gimana? Udah siap Lo jadi ibu rumah tangga?" Putri memukul pelan jidat Zea. Membuat gadis itu meringis pelan.
"Otak Lo geser dikit kayanya Ze, keseringan bareng Kak Azlan sih."
"Dih kok jadi otak gue, yang ada otak Lo yang perlu di obati," balas Zea tidak terima.
"Lagian nggak mungkin juga kan gue nikah sama pak Samin. Ya kali, lagian ogah bener masa iya gue nikah sama guru sendiri, malah gurunya ngeselin lagi. Ini kisah nyata Ze, bukan cerita FTV yang sekenarionya di atur sama sutradara."
Zea bertepuk tangan salut.
"Dapet quetes dari mana?" ejek Zea.
"Ngambil di kantong Doraemon tadi," jawab Putri ngasal. Sedangkan Zea hanya geleng-geleng kepala saja melihat sahabatnya itu.
"Eh tapi hati-hati loh Put, kemakan cakap. Bisa aja kan tuk pak Samudra di jodohin sama Lo, dan akhirnya nikah."
Putri memutar bola matanya malas.
"Lo kebanyakan nonton sinetron kayaknya. Atau kebanyakan baca *******? Hidup itu nggak sesimpel itu kali Ze." Ucap Putri.
"Udah ah ayo masuk kelas, gue belum selesai tugas Matematika." Kemudian Putri berjalan mendahului Zea.
"Ya semoga aja sih put," gumam Zea.
Namun ketika Zea hendak mengejar putri pandangannya teralihkan pada seorang wanita yang melewatinya. Tanpa menunggu lama Zea langsung memanggil wanita itu.
"Sisi," panggil Zea. Gadis itu menoleh, ia sempat menatap bingung ke arah Zea yang memanggilnya. Namun sedetik kemudian ia memberikan senyuman manisnya.
"Iya ada apa Zea?" tanyanya langsung.
Zea berjalan mendekati Sisi. Menatap datar gadis itu. Dan sisi tidak mempermasalahkan tatapan Zea, karena itu hal yang biasa.
"Lo nggak bareng Faira?" tanya Zea langsung pada intinya. Karena tujuan Zea memanggil Sisi hanya ingin menanyakan saudara tirinya itu, karena yang Zea tahu Sisi adalah teman dekat Faira.
Sisi mengangkat bahunya.
"Gue kurang tahu Ze. Tuh anak selama jadian sama Rio jarang masuk kelas, kalaupun dia sekolah sering bolos, gue nggak tahu alasannya karena setiap gue tanya dia nggak jawab. Dan udah hampir seminggu juga tuh anak nggak masuk, gue udah coba hubungi tapi nomornya nggak aktif, gue coba hubungi dari akun sosial medianya tapi nggak ada respon. Gue tahu dia sengaja, tapi untuk alasannya gue nggak tahu,"
__ADS_1
Zea mengangguk paham. Penjelasan Sisi tadi sudah dapat memberikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di otaknya. Ternyata selama ini Faira memang jarang masuk sekolah.
Tetapi ada satu pertanyaan lagi yang muncul.
Apakah semua ini ada hubungannya dengan Rio?
"Oh gitu ya Si, yaudah deh makasih ya atas informasinya. Kalau gitu gue duluan," ucap Zea, dibalas senyuman hangat dari Sisi. Lalu Zea berlalu melewati sisi dan Gadis itu juga kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda karena panggilan Zea tadi.
* * *
Azlan membuka pintu sebuah ruangan dengan kasar. Sontak semua orang yang ada di dalam ruangan itu menatapnya serentak. Dengan berbagai pertanyaan yang berbeda di pikiran masing-masing, namun Azlan tidak peduli itu. Dia langsung masuk ke dalam ruangan itu dan berjalan mendekat ke arah Doni yang kebetulan memegang laptop.
"Lo sehat Lan? Sawan Lo kumat? Dateng bukannya ngucap salam, eh malah nyelonong masuk aja. Malah ngagetin lagi," ucap Doni dengan wajah bingungnya.
Namun yang di ajak bicara hanya diam. Azlan malah langsung merampas laptop di tangan Doni tanpa meminta persetujuan sang pemiliknya.
"Minjem ngomong baik-baik bisa kali, nih maen rampas aja," cibir Doni lagi.
"Diem ngapa, bacot terus kek cewek," sinis Azlan.
"Lan Lo apa-apaan sih, Dateng tiba-tiba dan nggak ada izin sama sekali. Malah sekarang Lo seenaknya aja masuk di tengah rapat begini," itu suara Sasa.
Azlan menatap Sasa tajam. Namun hanya sekejap saja, setelah itu ia kembali menatap Laptopnya. Ralat, lebih tepatnya laptop Doni yang baru saja ia ambil secara paksa.
"Emang gue peduli," sahut Azlan dengan tatapan tetap fokus pada layar monitor pada laptop itu. Mengotak-atik benda itu.
"Lan ada apa sebenernya sih? Lo kenapa Dateng tiba-tiba terus ngambil laptop Doni?" heran Dinda.
Azlan mengembalikan laptopnya pada pemiliknya yaitu Doni. Kemudian ia menunjukkan sebuah Vidio pada Doni. Dan Vidio itu mampu membuat Doni melotot.
"Ini serius Lan?" tanya Doni setengah tidak percaya.
"Terus maksud Lo gue kesini tiba-tiba tanpa maksud dan tujuan gitu?"
Karena penasaran Sasa langsung merampas laptop Doni dan melihat apa yang membuat Doni terkejut tadi. Sama halnya dengan Doni, Sasa juga tidak kalah terkejutnya. Ia dapat melihat dengan jelas di Vidio itu, Lala tengah masuk ke kelas musik dan dengan sengaja memasukan sebuah flashdisk ke dalam sebuah tas yang mereka semua ketahui adalah tas Zea.
Semua orang dapat mengetahui bahwa itu Lala tanpa harus memastikan lagi. Karena wajah gadis itu terlihat jelas di cctv.
"Bukannya gue udah bilang, kalau gue akan buktiin kalau Zea nggak salah dan dia bukanlah seorang pencuri. Di Vidio itu terlihat jelas siapa penjahat sebenarnya," ucap Azlan dingin.
Dinda menundukkan wajahnya. Kebenaran membuatnya merasa bersalah.
"Maafin gue Lan, nggak seharusnya gue keluarin Zea waktu itu."
Azlan tersenyum sinis.
"Lo berbuat nggak adil ke Zea bukan gue, jadi Lo harus minta maaf ke dia bukan gue." Ucap Azlan, kemudian ia berjalan ke pintu keluar.
"Gue pamit, tugas gue udah kelar." Belum sempat Azlan keluar ia berpapasan dengan Lala yang hendak masuk ke dalam ruangan.
Lala sempat terkejut melihat Azlan ada di ruangan itu namun sedetik kemudian ia memberikan senyumannya.
"Kak Azlan balik lagi ke sekolah musik? Bener kan kata gue, kalau kak Azlan itu emang tempatnya di sini." Ucap Lala tanpa beban. Azlan terkekeh pelan.
"Gue nggak balik ke tempat ini. Gue cuma nganter berita yang semua orang harus tahu," Lala memicingkan matanya.
"Maksud kak Azlan?" tanya Lala bingung.
"Lo tanya aja sama mereka," ucap Azlan, kemudian ia keluar dari ruangan itu. Ia sudah sangat merasakan sesak sejak tadi, berada dalam satu ruangan dengan penjahat.
Lala menatap semua orang yang ada di dalam ruangan itu. Yang tidak lain adalah rekan kerjanya di sekolah musik. Termasuk kakaknya juga, yaitu Sasa.
Sasa menatap datar adik perempuannya itu. Ia berjalan membawa laptop Doni, memberikan secara kasar kepada Lala.
"Gue kecewa sama Lo, La." Ucap Sasa, kemudian ia keluar dari ruangan itu.
Ucapan Sasa sukses membuat Lala semakin bingung.
"Kak Don ada apa ini?" tanya Lala pada Doni. Namun bukannya menjawab, Doni malah langsung berlalu melewati Lala. Dan hal yang sama juga dilakukan semua mentor lainnya. Sampai akhirnya hanya meninggalkan Dinda dan Lala di dalam ruangan itu.
"Kak Di ada apa sebenarnya?" tanya Lala masih bingung.
"Kamu buka aja isi Vidio di laptop itu, maka kamu akan paham kenapa sikap kami begini," jawab Dinda.
"Laptop?" gumam Lala.
"Dan satu hal yang mau kakak bilang sama kak La, janganlah kamu melakukan hal yang merugikan orang lain demi kepuasan diri kamu sendiri. Jangan bersikap egois, karena semua orang berhak mendapatkan keadilan." Setelah mengatakan kalimat itu, Dinda pergi meninggalkan Lala sendiri di dalam ruangan itu.
Tidak terlalu mendengarkan apa yang Dinda ucapakan, Lala langsung membuka laptop yang ia pegang. Ia mengepalkan tangannya ketika melihatnya, wajahnya memerah dan matanya juga berubah seram. Emosinya memuncak, bahkan kali ini lebih dari biasanya. Lala membanting laptop Doni, hingga benda itu terbelah menjadi dua bagian.
Doni yang melihat kejadian itu di balik pintu hanya mampu menghela napas.
Sudah gue duga akhirnya bakal begitu. Ucapnya dalam hati.
Tidak ingin melihat nasib laptopnya yang semakin memburuk, Doni lebih memilih untuk meninggalkan Lala sendiri. Niatnya kembali hanya untuk mengambil laptopnya yang memang ia tinggal namun malah berakhir menyedihkan, kini benda kesayangannya itu terbelah menjadi dua dan tergeletak tidak berdaya di atas lantai.
Vidio yang baru saja Lala lihat membuat emosinya naik. Bagaimana mungkin rekaman Vidio Cctv itu ada pada mereka.
"Bedebah!! Berengsek!!!" umpat Lala. Emosinya semakin tidak terkendali. Ia meraih pisau di saku bajunya. Menatap tajam pisau itu. Kemudian dengan gerakan santai ia meletakkan pisau itu di tangannya dan.
Sret
Dengan sekejab darah Lala langsung menetes ke lantai, berasal dari sayatan pisau di tangannya barusan. Namun bukannya merintih sakit, gadis itu malah tertawa bahagia.
"Permainan sudah dimulai," ucapnya dengan senyuman yang begitu mengerikan.
"Kalian semua harus habis di tangan gue hahahaha,"
* * *
Azlan menghentikan mobilnya tepat di hadapan Zea, membuat gadis itu sedikit terkejut.
Azlan turun dari mobil lalu menghampiri Zea yang menatapnya tajam.
"Kenapa?" tanya Azlan tanpa dosa.
"Lo mau bunuh gue?" ucap Zea sewot.
"Ya nggaklah, gue itu mau nikahin Lo bukan bunuh Lo. Mana mungkin gue bisa hidup tanpa Lo Ze, mending gue bunuh diri dulu baru gue bunuh Lo,"
Zea menghela napas berat. Dalam kondisi cuaca yang cukup panas begini, perut yang sudah lapar dan tubuh begitu lelah sekali Azlan sudah memancing emosi Zea, membuat Zea ingin sekali menelan Azlan hidup-hidup.
"Rada-rada Oon atau gimana sih, kalau Lo udah bunuh diri gimana mau bunuh gue? Arwah Lo yang bakal nerusin gitu, nggak mungkin banget,"
"Ngegas mulu Ze, nggak cape apa?"
"Cepelah, Lo sih mancing emosi aja nggak tau gue laper apa? Gue makan juga Lo lama-lama." Azlan terkekeh cukup kuat Membuat deretan gigi putihnya terlihat jelas.
"Lucunya pacarku kalau lagi kesel," ucap Azlan sembari mengacak-acak rambut Zea.
"Ih ngeselin, rambut gue berantakan jadinya."
Tanpa mereka sadari banyak pasang mata yang melihat kebersamaan mereka. Dengan berbagai tanggapan dan ucapan. Bisik-bisik tetangga sudah pasti dapat di dengar. Bahkan bisikan itu lebih tepat jika di katakan dengan pengumuman. Bahkan kuatnya melebih toa masjid.
"Eh itu kan Kak Azlan Malik bukan sih?"
"Alumni Darma Putra bukan? "
"Dia kan most wanted terkenal bahkan sampai di perkuliahan,"
"*Sumpah ternyata lebih ganteng aslinya daripada fotonya"
"Itu bukannya Zea kan? Cewe muka tanpa ekspresi kelas 12 MIPA 1? Cewek Rahasia yang selalu menangin olimpiade mewakili sekolah juga kan?"
"Iya ya, kok dia sweet banget sih sama kak Azlan, apa mereka pacaran?"
"Kayaknya sih iya,"
"Pantes aja si Zea itu cueknya nauzubillah ke semua cowok, ternyata dia itu milik Azlan Malik,"
"Aduh Abang kalau punya pacar kayak kamu gantengnya sih aku rela nolak semua cowok di Darma Putra,"
"Woi halu Lo mulai lagi,"
"Dih biarin kok Lo yang sewot,"
"Tapi bener sih, Kak Azlan gantengnya pake banget, gue mendadak pengen dihalalin."
"Hus udah ada yang punya loh,"
"Mandang doang dari jauh kan nggak masalah sih*,"
Begitulah kira-kira ucapan para siswi yang melihat Azlan. Menatap iri kearah mereka berdua. Padahal tidak ada yang tahu kalau sebenarnya mereka sedang berdebat.
"Lo nggak denger Ze, semua orang muji gue ganteng loh," ucap Azlan dengan bangganya.
Zea terkekeh kecil, kekehan meremehkan.
"Mata mereka itu mines jadi wajar,"
"Sirik aja bilang, karena nggak ada yang muji Lo cantik selain gue,"
"Dih nggak penting keles,"
"Halah sok nolak, padahal di dalem hati sih Yess,"
"Apaan sih, gaje!!"
"WOI DUA MANUSIA!!" sebuah teriakan membuat perdebatan Zea dan Azlan terhenti. Dan tentu kalian tahu suara siapakah itu.
"Ngapain Lo di sini?" tanah Azlan pada gadis berkacamata itu, yang tidak lain adalah Putri.
"Lah, kan gue sekolah di sini, jelas dong gue ada di tempat ini. Yang aneh itu Lo, kenapa ada di sini?" jawab Putri sebagai balasan.
"Pake ribut-ribut lagi, masalah rumah tangga itu di urus di rumah jangan di depan gerbang sekolah, ngerusak pemandangan aja."
"Sok iya Lo kadang-kadang. Mata mines aja sok-sokan ngelihat pemandangan," balas Azlan lagi.
Sedangkan Zea hanya mampu menghela napas saja. Kalau Azlan dan putri sudah mulai berdebat seperti ini, jika dibiarkan sampai subuh juga tidak akan selesai.
"Gue ngak mines ya, ini kacamata cuma fation tahu nggak Lo,"
"Biarin,"
"Kenapa gue ngerasa kalian yang punya masalah rumah tangga ya, dari tadi nggak selesai debatnya. Gue laper loh mau pulang,"
"Loh sih put yang mulai, kan kasihan pacar gue kelaperan." ucap Azlan kemudian merangkul Zea. Kali ini gadis itu tidak memberontak.
"Malah mesra-mesraan, dasar nggak tahu tempat. Udah ah gue mau pulang, bye Ze gue duluan." Ucap Putri kemudian ia berjalan menuju mobilnya yang baru saja datang. Hari ini ia di jemput oleh supir pribadinya. Karena ada beberapa hal yang membuat putri dilarang membawa mobil beberapa hari ini. Bahkan Zea tidak menyadari hal itu.
Sepeninggalnya Putri, Zea langsung menginjak kaki Azlan dengan cukup keras. Membuat pria itu meringis kesakitan.
"Lo apa-apaan sih Ze, sakit tauk," keluh Azlan.
Zea menatap Azlan tidak santai. Membuat pria itu menatapnya bingung.
"Dasar modus," cibir Zea.
Kemudian Zea melangkah masuk ke dalam mobil Azlan tanpa izin pria itu. Dan ketika berada di dalam mobil ia tersenyum puas. Membuat Azlan meringis seperti itu tadi membuat Zea begitu senang entah karena apa. Sebenarnya Zea tidak bermaksud untuk menyakiti Azlan, namun tingkah pria itu selalu saja membuatnya kesal setengah mati dengan tingkahnya.
Zea memang menerima Azlan sebagai pacarnya. Namun untuk bersikap ke Azlan layaknya seorang pacar itu belum siap untuk Zea lakukan. Bahkan Zea masih menganggap Azlan itu sebatas teman. Meskipun rasa gugup sering ia rasakan ketika bersama Azlan namun perasaan itu selalu ia tepis. Katakanlah Zea itu jahat, karena secara tidak langsung memberikan harapan pada Azlan yang tahu kapan ia akan berikan balasan akan perasaan Azlan yang cukup dalam. Namun perasaan takut akan kehilangan dan kehancuran lagi membuat Zea selalu bingung dengan dirinya sendiri. Meskipun Azlan selalu berusaha menyakinkan Zea akan keseriusannya.
Azlan mengikuti Zea masuk ke dalam mobilnya. Meskipun kesal karena sikap Zea tadi namun Azlan tetap berusaha sebiasa mungkin. Aksi Zea yang langsung masuk ke dalam mobilnya tanpa paksaan membuat Azlan sedikit senang. Terkadang gadisnya itu sulit untuk ia tebak pola pikir dan tingkah lakunya.
Karena memang perempuan selalu saja begitu, sulit dimengerti. Ucapan dan sikapnya terlalu ambigu dan membingungkan.
"Tumben langsung masuk, biasanya harus di seret dulu." Sindir Azlan ketika masuk ke dalam mobilnya.
"Gue males entar jadi drama lagi, cape gue dilihatin orang." Jawab Zea apa adanya.
Azlan hanya mengangguk mengiyakan saja ucapan Zea.
"Laper?" tanya Azlan.
"Iya, gue pengen makan ayam bakar," ucap Zea.
"Ayamnya mau udah mati atau masih hidup?" tanya Azlan sembari melajukan mobilnya dengan kecepatan santai.
"Ya matilah lah, kalau masih hidup lari dong tuh ayam, gimana sih!!." Azlan terkekeh pelan. Membenarkan ucapan Zea.
"Mau ayam cowo atau cewe?" tanya Azlan lagi.
"Waria!!"
"Dih emang ada?"
"Ya mana gue tahu, mungkin aja ada."
"Emang mau makan ayam banci?"
"Nggak, Lo aja,"
"Nggak ah gue mau yang perawan aja, lebih enak." Zeo menoleh ke arah Azlan.
"Dasar mesum!!"
"Lo selalu aja bilang gue mesum. Emang gue ngelakuin hal mesum apa sih Ze ke Lo. Jangankan berani macem-macem, gue mau peluk Lo aja udah teriak-teriak kek Tarzan." Zea hanya diam, tidak menjawab ucapan Azlan.
Memang benar selama ini Azlan tidaklah pernah macam-macam padanya. Namun entah mengapa mulutnya selalu saja menyebut Azlan dengan sebutan pria mesum. Zea merasa bingung sendiri dengan dirinya sekarang.
"Cocok aja kalimat itu sama Lo," jawab Zea mengesampingkan kebingungannya.
"Lo mah seenaknya aja kasih nama. Entar gue lakuin hal sesuai nama yang Lo buat, kaget."
Zea membulatkan matanya. Melihat itu Azlan kembali terkekeh.
"Tenang aja, gue nggak bakal macem-macem kali, Lagian gue cinta sama Lo itu tulus, bukan untuk menyalurkan nafsu gue. Gue ingin menjaga Lo Zea bukan merusak Lo, paham. Jadi jangan terus bilang gue cowok mesum," Azlan menghentikan mobilnya.
Azlan meminta ponselnya Zea. Gadis itu sempat menolaknya, namun Azlan langsung merampasnya.
Azlan terkekeh geli ketika melihat nama kontaknya di ponsel Zea.
The ghost MESUM π»
"Sampai nama kontak gue juga Lo buat mesum ya Ze, kebangetan Lo emang."
Zea menatap malas Azlan.
"Suka-suka gue lah."
"Iya gue suka lo,"
"Apaan sih, nggak jelas banget."
"Jadi Lo mau kejelasan atas perasaan gue. Mau penjelasan seperti apa hem,"
Azlan tersenyum aneh menurut Zea. Senyuman yang sulit untuk Zea artikan.
"Ini," Azlan mengembalikan ponsel Zea, dengan gerakan refleks gadis itu langsung meraihnya. Ia mulai mengecek ponselnya.
AZLANβ€οΈ
Zea tersenyum singkat, bahkan sangat singkat. Sehingga Azlan sama sekali tidak menyadarinya. Pria itu kembali fokus pada kemudinya. Ia melajukan mobil dengan kecepatan normal.
"Gue harap nama itu nggak Lo ganti lagi," ucap Azlan.
Zea menoleh ke Azlan sebentar, laku mengangguk tanda mengiyakan.
Zea melihat sebuah bungkusan di kursi penumpang. Seperti nasi bungkus. Ia menatap Azlan kembali.
"Kenapa, gue ganteng?" tanya Azlan langsung ketika menyadari Zea yang tengah menatapnya.
"Iya," jawab Zea datar.
Namun jawaban itu mampu mengejutkan Azlan. Ia sungguh tidak menyangka jawaban gadisnya itu akan berbeda dari biasanya. Meskipun hanya satu kata yang keluar dari bibir mungilnya itu.
"Serius?"
"Iya, tapi kalau ngelihatnya dari Monas pake lubang sedotan," ucap Zea menambahi.
Baru saja melayang karena senang, Zea langsung menjatuhkan lagi.
"Baru juga seneng," Azlan memanyunkan bibirnya karena kesal.
Zea terkekeh cukup keras, melihat wajah Azlan yang begitu menggemaskan. Dan hal itu mampu membuat Azlan menganga.
Momen pertama kali yang ia lihat. Zea tertawa, dan itu karena dirinya. Azlan berhasil. Yah, dia berhasil membuat gadis itu mengeluarkan tawanya. Hal yang begitu jarang Zea lakukan.
"Gue suka lihat Lo begini,"
Zea langsung menghentikan tawanya.
"Emang gue ngapain?"
"Ketawa,"
"Lo mah semuanya apa yang gue lakuin suka, padahal gue udah ketus banget sama Lo."
"Karena gue suka Lo apa adanya, bukan karena ada apanya." Jawab Azlan mantap.
"Apaan sih, nggak jelas banget."
Azlan kembali tersenyum, hari ini ia cukup bahagia melihat gadis yang begitu ia cintai itu tertawa lepas untuk pertama kalinya, dan itu karena dirinya.
Zea mencoba meraih bungkusan yang ia lihat tadi. Menyadari aksi Zea membuat Azlan menatap gadis itu.
"Lo mau ngapain?" tanya Azlan.
"Ini apa?" tanya Zea ketika berhasil meraih bungkusan itu. Kemudian langsung membukanya.
Mata Zea berbinar ketika melihat sebungkus gado-gado dengan kerupuk di atasnya. Terlihat begitu enak, seakan gado-gado itu melambai ke arah Zea ingin segera di santap.
Zea mengambil sendok plastik yang ada di plastik itu, kemudian mulai menyendok gado-gado itu ke arah mulutnya. Namun belum sempat makanan itu masuk, Azlan lebih dulu menahan tangan Zea.
"Lo mau ngapain?" tanya Azlan panik.
"Gue mau makan Lan bukan bunuh diri. Kenapa panik gitu sih? Lagian nih gado-gado masih seger belum basi juga." Ucap Zea.
"Tuh gado-gado emang belum basi, tapi Lo nggak bisa makan itu." Ucap Azlan lagi.
"Emang kenapa, gue laper Lan. Lo ribet amat sih,"
"Ze Lo kan alergi kacang,"
Mendengar ucapan Azlan barusan membuat Zea langsung meletakan sendok plastik yang ia pegang. Bahkan Zea lupa dengan dirinya sendiri. Untung saja Azlan mengingatkannya kalau tidak sudah pasti Zea akan berakhir di rumah sakit.
Zea memang alergi kacang sejak kecil. Dia akan langsung gatal-gatal ketika makan kacang. Jenis kacang apapun itu. Zea pernah sampai masuk rumah sakit karena memaksa memakan kue kacang karena tidak enak dengan temannya yang sedang berulang tahun. Dan akhirnya ia harus dirawat di rumah sakit selama seminggu. Dan hal itu merupakan hal yang tidak pernah ingin Zea ulang.
Zea membereskan bungkusan gado-gado itu. Kemudian meletakkannya kembali di tempat mengambilnya.
Zea menatap Azlan tidak percaya. Lelaki di sampingnya itu begitu paham dengan dirinya, bahkan melebihi dirinya sendiri.
"Lo tahu gue alergi kacang," Azlan mengangguk cepat.
"Untung aja Lo belum makan tadi,"
Zea terdiam sendu. Ia begitu jahat pada Azlan. Namun pria itu begitu perhatian padanya.
Azlan hampir saja kecolongan. Kalau sampai Zea memakan gado-gado tadi sudah dapat dipastikan dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Ia tahu Zea alergi kacang tentu dari Putri. Putri selalu mewanti-wanti Azlan supaya tidak mengajak Zea makan makanan yang mengandung kacang. Tubuh Zea begitu rentan dengan kacang.
Untung aja, kalau sampai Zea makan kacang bukan cuma Zeo yang gantung gue, Putri juga. Gumam Azlan dalam hati.
Keadaan di dalam mobil tiba-tiba menjadi hening. Sampai Azlan kembali membuka suara.
"Zea," panggil Azlan.
"Hem,"
"Lo tahu nggak,"
__ADS_1
"Nggak,"
"Gue belum selesai ngomong,"
Zea terkekeh kecil. Kemudian menatap Azlan yang fokus pada kemudinya.
"Iya apa?" tanya Zea.
"Lo tahu nggak kenapa gue suka sama lo?" tanya Azlan.
"Karena Lo rabun," kali ini gantian Azlan yang terkekeh.
"Mata gue masih sehat kali Ze, apalagi untuk ngeliat bidadari cantik di samping gue,"
Zea menahan senyumnya. Pujian Azlan tadi mampu membuatnya merona.
"Kalau mau senyum tinggal senyum aja kali, nggak usah di tahan gitu."
"Apaan sih, basi tau nggak kata-kata Lo,"
"Walau basi tetap bikin Lo senyum-senyum dalam hati kan?" goda Azlan lagi.
Zea hanya diam. Dia tidak ingin bersuara, karena nantinya Azlan akan terus menggodanya.
"Zea,"
"Hem,"
"Gue kadang berpikir kenapa gue bisa jadi orang gila yang ngejar-ngejar Lo terus,"
Zea menoleh ke arah Azlan sebentar, kemduain gadis itu kembali fokus pada ponselnya.
"Karena Lo bodoh," jawab Zea dengan tatapan masih pada benda persegi panjang itu.
"Iya juga ya, mungkin gue terlalu bodoh."
"Jadi Lo nyesal ceritanya?" tuding Zea langsung.
Azlan menggeleng cepat. Ia menghentikan mobilnya.
"Nggak ada penyesalan di hidup gue karena jatuh cinta sama Lo. Karena gue sadar cinta itu butuh perjuangan. Karena untuk mendapatkan mutiara yang indah di dasar laut itu perlu pengorbanan, begitupula lo. Lo itu lebih dari mutiara di hidup gue."
"Gue nggak peduli orang lain bilang gue bucin atau apapun itu, tapi yang jelas untuk dapetin hati Lo gue bakal lakukan cara apapun. Dan sekarang gue masih dalam tahap awal, gue nggak akan nyerah."
Zea terdiam. Perkataan pria di hadapannya begitu mengena di hatinya. Azlan yang ia kira hanyalah orang yang hanya sekedar singgah dan tidak ingin menetap ternyata memiliki rasa yang begitu tulus padanya.
"Maaf Lan," ucap Zea dengan nada menyesal.
Azlan langsung menggeleng cepat.
"Lo nggak perlu minta maaf, karena perempuan selalu benar." Tanpa sadar karena ucapan Azlan tadi Zea menyunggingkan senyumannya.
"Lo tahu kenapa gue ketus dan dingin ke semua orang yang baru gue temui?" kali ini Zea yang bertanya.
Azlan menautkan alisnya, sepertinya ia sedang memikirkan jawaban untuk pertanyaan Zea.
"Karena Lo terlalu takut,"
Zea menggeleng cepat.
"Lalu?"
Zea kembali tersenyum. Dan senyuman itu mampu membuat jantung Azlan berdesir dan berdegup kencang.
"Perasaan takut dan trauma gue udah lama gue pendam dan gue hancurkan. Gue sengaja melakukan ini semua semata-mata hanya untuk kebaikan diri gue sendiri."
"Gue langsung menunjukkan sikap buruk gue ke orang yang nggak gue kenal, termasuk Lo di awal pertemuan. Karena apa? Karena gue pengen tahu, adakah orang yang benar-benar tulus sama gue meskipun gue memiliki banyak kekurangan."
"Lebih baik dicintai orang karena tahu keburukan kita, namun ia tetap menerimanya dan berusaha untuk merubah sikap buruk itu, daripada mencintai orang karena kelebihannya namun pergi ketika tahu keburukannya,"
Azlan terdiam mendengar ucapan Zea. Azlan tahu mengapa Zea mengatakan hal ini.
"Karena prinsip gue sekarang itu, kalau cinta ya terima semuanya bukan hanya kekurangannya tapi juga kelebihannya, karena mencintai bukan hanya mencari yang sempurna tetapi menyempurnakan yang belum sempurna."
Azlan tersenyum lebar sembari menatap Zea dalam. Mata mereka terkunci satu sama lain. Zea dapat merasakan degub jantungnya mulai berdetak di atas normal, begitupun Azlan.
Azlan membentuk sebuah senyuman di wajah Zea dengan telunjuk dan jempolnya.
"Gue selalu terima Lo apapun diri Lo dan bagaimanapun sikap Lo Zea, untuk keburukan gue nggak ambil pusing karena semuanya dapat dirubah. Dan kebaikan Lo anggap aja itu bonus buat gue yang selalu sabar ngadepin Lo. gue harap gue akan segera dapat bonus itu," ucap Azlan mantap.
"Karena gue tahu mencintai Lo itu bukanlah kesalahan tapi sebuah anugrah yang diberikan Tuhan untuk gue,"
Zea merasakan tubuhnya mulai panas dingin. Ucapan Azlan begitu manis dan mampu membuatnya tersipu. Kali ini Zea tidak dapat menutupinya lagi. Ia mulai merasakan perasaan itu lagi. Zea sudah salah menutupi perasaan yang seharusnya Azlan ketahui. Perasaan yang sengaja ia tutupi.
Pria itu sudah cukup sabar mengahadapi Zea yang terlalu kasar selama ini.
"Sekarang gue mau tanya sama Lo Ze," ucap Azlan serius.
"Tanya aja,"
"Apa sekarang gue juga belum ada di hati Lo? Apa rasa cinta Lo itu masih belum ada meski sedikitpun?"
Zea terdiam, mulutnya keluh untuk berbicara bersamaan dengan degub jantungnya yang semakin berdetak kencang. Hatinya ingin berkata namun terasa begitu sulit.
"Ze kenapa diam?" pandangan Azlan tidak lepas dari Zea sedikitpun. Membuat gadis itu semakin gugup.
Azlan terkekeh melihat ekspresi gugup Zea. Terlihat begitu menggemaskan.
"Kayaknya gue tahu cara untuk dapatin jawaban dari pertanyaan gue,"
Azlan langsung membuka sabuk pengamannya lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah Zea. Dengan kedua telapak tangan memegang lembut wajah Zea.
Tubuh Zea menegang, jantungnya mendadak seperti lari maraton. Asam lambungnya naik secara mendadak, entah mengapa tatapan mata Azlan membuat Zea seperti orang demam. Panas dingin rasanya.
Jika dikabulkan, Zea akan berdoa untuk menghilang dari tempat ini seketika. Agar tidak berlama-lama dalam posisi berdekatan dengan Azlan seperti ini.
Azlan bersorak senang dalam hatinya. Membuat Zea terdiam seperti ini memiliki daya tarik yang membuatnya merasa menang. Zea yang cerewet dan bermulut pedas berubah menjadi wanita diam tak berkutik saat ini.
Azlan sengaja semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Zea. Hingga hidung mereka saling menyentuh.
"I love you Zea," desis Azlan.
Zea merasa tubuhnya melemas. Ucapan Azlan terus berputar di otaknya, membuat degub jantungnya berdetak semakin cepat. Bahkan deru napas Zea dapat Azlan rasakan. Ungkapan Azlan tadi bukanlah yang pertama kalinya Zea dengar, namun mengapa kali ini serasa berbeda sekali.
Zea ingin menjawab ucapan Azlan tadi. Azlan dapat melihat bibir Zea yang mulai bergerak. Azlan terus menunggu kalimat yang akan Zea keluarkan. Hatinya berharap besar Zea akan mengatakan kalimat itu. Mungkin jika Zea memegang dada Azlan sudah pasti ia dapat merasakan jantung Azlan yang tidak kalah kencang detakannya dengan Zea. Tib saja ponsel Zea bergetar menghancurkan momen tersebut..
"Gue jawab telpon dulu," ucap Zea pelan.
Azlan mengangguk, ia melepaskan tangannya dari wajah Zea. Zea langsung mengambil ponselnya dari sakunya dan mengangkat panggilan telepon itu. Zea dapat melihat Azlan menghela napas dalam. Zea tahu Azlan menunggu jawaban darinya.
"Halo, apa Ze?"
"......"
"Oke, gue ke rumah sakit sekarang." Zea langsung mematikan sambungan teleponnya.
Dengan nada datar Zea mengatakan pada Azlan untuk segera ke rumah sakit. Azlan tidak tahu apa yang terjadi. Dia hanya menuruti ucapan gadisnya itu. Tidak ingin bertanya karena Azlan tahu Zea tidak akan suka. Azlan sangat hapal Zea bagaimana, kekasihnya itu akan bercerita dengan sendirinya tanpa harus ditanya jika dia ingin.
* * *
Sesampainya di rumah sakit, Zea langsung masuk ke ruangan rawat ayahnya, ia langsung menghampiri Zeo yang duduk tepat di samping ranjang rawat.
Azlan juga ikut masuk ke dalam ruang rawat, namun ia hanya melihat dari jarak yang cukup jauh.
"Gimana keadaan ayah Ze?" tanya Zea langsung.
"Lo bilang tadi Ayah udah sadar tapi kenapa ayah masih aja tidur pas gue dateng, apa ayah nggak mau ketemu gue?" Zeo merangkul Zea. Kakaknya itu sudah menangis saat ini.
Hati Azlan terasa teriris kembali melihat Zea menangis seperti itu. Untuk kesekian kalinya ia melihat Zea menangis namun tidak dapat berbuat apa-apa.
"Lo tenang ya kak. Gue bakal jelasin," ucap Zeo lembut. Kaki ini dua saudara itu terlihat akur dan saling menguatkan.
"Ayah tadi sempat sadar dan panggil nama bunda. Gue awalnya kaget, tapi belum sempat ayah ngomong apa-apa sama gue ayah drop lagi."
Tubuh Zea kembali bergetar, kakinya melemas. Tangisnya kembali pecah.
"Terus kita harus gimana?"
"Lo harus kasih tahu hal ini ke Zia kak," ucap Zeo.
Zea menggeleng lemah. Mana mungkin ia sanggup mengatakan hal ini kepada adiknya itu. Zia pasti akan sangat terpuruk.
"Lo akan semakin menyesal kalau Lo nggak kasih tahu Zia, kak. Kita nggak tahu keadaan ayah setelah ini, gue selalu berharap ayah bakal sembuh. Tapi kita nggak tahu umur seseorang,"
Zea hanya diam. Ia tidak bergeming sedikitpun.
"Itu makannya Lo harus bolehin gue kasih tahu hal ini ke Zia, kak."
"Zeo bener Ze," itu suara Azlan. Pria itu mulai mendekat ke arah Zea dan Zeo.
"Zia juga anak dari ayah Lo kan, jadi dia berhak tahu keadaan ayahnya, meskipun itu nantinya menyakiti hatinya." Ucap Azlan.
Zea menatap kosong ke arah ayahnya yang hanya tertidur lemah. Wajah pucatnya seakan menunjukkan dirinya akan segera pergi. Hal yang begitu Zea takutkan.
"Tapi Zia masih terlalu kecil," suara Zea terdengar parau.
"Tapi Lo nggak bisa bersikap nggak adil meskipun dia masih kecil,"
"Gue nggak sanggup kasih tau semuanya sama Zia, Lan."
"Biar gue yang kasih tahu Zia, kak. Gue akan kasih pengertian ke dia, Lo tenang aja. Gue bakal jemput dia sekarang juga." Ucap Zeo.
"Lo yakin Ze?" Zeo mengangguk cepat.
"Lo jagain ayah ya, gue bakal jemput dia sekarang."
Zea menghela napas berat. Ia tidak dapat menyembunyikan kabar ini terus-menerus, karena bagaimanapun Zia harus tahu yang sebenarnya.
"Lo bawa mobil gue aja Ze," ucap Azlan sembari menyodorkan kunci mobilnya.
Zeo menerima uluran itu, lalu tersenyum singkat.
"Gue pinjem dulu, Gue titip kak Zea dan Ayah, jagain yah." Ucap Zeo.
"Aman," Zeo langsung melenggang pergi meninggalkan Zea yang masih terlarut dalam kesedihannya.
"Udah jangan sedih terus, ayah Lo akan baik-baik aja kok. Gue yakin," Azlan berusaha menenangkan kekasihnya itu.
"Tapi gue nggak yakin Lan," sahut Zea sendu.
"Lo harus yakin Ze, karena hal baik akan datang ketika kita berpikir baik begitupun sebaliknya."
Zea mengangguk lemah. Kemudian menggenggam tangan Ayahnya itu. Tangah yang dulunya begitu kokoh dan kuat, kini mulai keriput bahkan begitu lemah.
Maafin Zea yah.
* * *
Zeo memarkirkan mobilnya di depan sebuah gedung bercat biru muda. Ia langsung turun dan masuk ke dalam gedung itu tanpa permisi. Karena mau permisi ataupun meminta izin juga tidak ada orang di tempat itu.
Zeo berjalan masuk ke dalam gedung, tepatnya ke sebuah kelas belajar. Ia mengetuk pintu kelas itu lalu tersenyum sopan ke arah seorang wanita muda dengan hijab panjang yang ia kenakan.
"Permisi, maaf sebelumnya karena mengganggu." Ucap Zeo dengan sopan.
Wanita itu tersenyum canggung. Entah karena kaget adanya Zeo tiba-tiba di depan pintu atau karena gugup melihat ketampanan Zeo. Entahlah, hanya dia yang tahu.
"Ada yang bisa saya bantu," ucapnya memberanikan diri untuk bersuara.
"Bang Zeo," pekik sebuah suara. Sontak Zeo langsung menoleh, bersamaan dengan wanita itu juga yang merupakan guru les Zia.
"Kamu kenal Abang itu Zia?" tanya Jasmin.
"Iya Bu, dia Abang Zia." Jawab Zia dengan ceria.
"Maaf Bu mengganggu, saya mau menjemput Zia. Ada urusan keluarga yang mengharuskan Zia pulang sekarang." Ucap Zeo menjawab pertanyaan yang pastinya ada di pikiran Jasmin.
"Oh yasudah kalau begitu Zia kamu bereskan buku kamu, dan boleh pulang lebih dulu." Ucap Jasmin.
Zia mengangguk, lalu membereskan bukunya setelah itu menggendong tas ranselnya yang terlihat cukup berat itu. Entah apa isinya.
Zia berjalan ke arah Jasmin lalu menyalaminya.
"Hati-hati Zia," ucap Jasmin lembut.
"Iya Bu, assalamualaikum. Zia pulang dulu ya temen-temen bye-bye." Pamit Zia kepada teman-temannya.
Zeo yang melihat Zia keberatan dengan tasnya langsung mengambil alih tas itu. Dia tidak ingin adiknya mendadak pendek karena keberatan membawa tas.
"Terima kasih Bu, kami pamit pulang," ucap Zeo dibalas senyuman hangat dari Jasmin.
Zeo langsung menggendong Zia dan membawa adiknya itu keluar dari kelasnya.
"Emang ada urusan apa sih, Bang?" tanya Zia penasaran.
"Ada deh, kamu juga nanti bakal tahu." Jawab Azlan tenang.
"Zia udah kepo loh, harus tanggung jawab."
Zeo terkekeh kecil mendengar penuturan adiknya itu. Ia mencubit pelan hidung mancung Zia.
"Kita mau ketemu ayah," jawab Azlan.
"Hah, serius???"
"Iya sayang,"
"Yeyyy ayah pulang," sorak Zia senang.
Zeo hanya membalas sorakan Zia dengan senyum paksaan saja. Tentu Zia akan berubah sedih ketika mengetahui hal yang sebenarnya.
"Terus ayah pulang bawa oleh-oleh nggak untuk Zia?" tanya Zia lagi.
"Bawa dong, ayah kan nggak pernah lupa sama kamu." Jawab Zeo langsung.
Maafin Abang dek, Abang nggak bermaksud bohongin kamu.
"Beneran? Ayah bawain Zia apa, bang?" tanya Zia lagi antusias.
"Boneka Rusa kesukaan kamu,"
Mata gadis kecil itu berbinar. Senyumnya mengembang.
"Berapa?" tanya Zia dengan hebohnya.
"Kamu maunya berapa?" tanya Zeo balik.
"Lima," jawab Zia cepat.
"Yaudah berarti ayah akan bawa lima boneka rusa untuk kamu,"
"Yeyyy, makin sayang sama ayah deh."
"Sama Abang sayang nggak?" sindir Zeo sengaja.
"Sayang dong," ucap Zia lalu memeluk Zeo. Zeo membalasnya dengan mencium pipi cubby Zia.
Setelah sampai di depan mobil Zeo langsung menurunkan Zia dari gendongannya. Membuka pintu mobil, lalu mempersilahkan adik kecilnya itu untuk masuk.
Tanpa menunggu lama, Zia langsung masuk ke dalam mobil. Setelah itu Zeo juga langsung masuk ke dalam mobil duduk di sebelah Zia.
Zeo memasangkan sealt bath milik Zia lalu setelah itu miliknya.
"Ini mobil siapa? Bang Zeo kan nggak punya mobil. Bukan mobil curian kan?" tanya Zia penuh selidik.
Zeo terkekeh pelan. Ia mengacak pelan rambut adik kecilnya itu. Lalu mencubit kecil pipi chubby Zia.
"Bukanlah Zi, ini mobil Bang Azlan pacar kak Zia." Jawab Zeo jujur. Kemudian Zeo menyalakan mobil itu lalu melajukannya dengan kecepatan sedang.
Zia hanya manggut-manggut saja mendengar jawaban dari Zeo.
"Berarti pacarnya kak Zea orang kaya dong bang, bisa punya mobil sebagus ini?" ternyata adik kecilnya itu masih terus bertanya.
"Iya," jawab Zeo seadanya.
"Sekaya apa?" tanya Zia lagi.
Zeo menghela napas sebentar, kemudian menoleh ke arah adiknya itu.
"Kamu banyak tanya ya sekarang,"
"Ih bang Ze, jawab dulu sekaya apa?" desak Zia.
"Sekaya kak Putri," jawab Zeo.
"Wah serius? Kaya banget dong," tanya Zia antusias. Zeo mengangguk mantap.
"Emang kamu tahu kak putri kayanya gimana?" Zeo bertanya balik kepada Zia.
"Zia nggak tahu pastinya sih bang, karena Zia nggak pernah tanya ke kak putri. Cuma Zia pernah kerumahnya kak putri, gede banget bang udah kaya istana." Ucap Zia menjelaskan dengan semangatnya. Zeo menanggapinya hanya dengan senyuman saja.
Zeo menghentikan mobilnya karena lampu merah. Kali ini Zia tidak lagi berbicara, gadis kecil itu fokus pada pemandangan di luar mobil yang sebenarnya sama sekali tidak menarik, hanya ada orang yang berlalu lalang dengan berbagai kendaraan serta deru klakson yang bersahutan.
Azlan meraih ponselnya yang berada di saku kanan bajunya lalu mengetikan sesuatu disana.
Bang Azlan
Tolong beliin Bonek rusa lima, untuk Zia.
ββ
Zeo masih memegang ponselnya, ia menunggu balasan pesan dari Azlan. Tidak lama setelah itu dua centang hitam itu berubah menjadi biru, menandakan pesan sudah dibaca.
Ting
Satu pesan dari Azlan masuk.
Aman
Yakin cuma lima? Nggak mau nambah?
Zeo tersenyum singkat membaca pesan Azlan. Tidak perlu waktu lama Zeo kembali mengetikan balasan pesan Azlan.
Sultan mah bebas!!
ββ
Tapi nggak perlu bang, cukup lima aja
ββ
Tapi gue sama Zia sampe rumah sakit harus udah ada ya, stengah jam lagi kita sampe.
ββ
Tampak Azlan tengah mengetik. Zeo masih menunggu balasan Azlan sembari menunggu lampu merah berubah menjadi hijau.
Aman Ze.
Jangankan lima, satu toko gue beliin buat Zia.
Zeo memilih memasukan ponselnya saja ke dalam sakunya saja, karena lampu merah sudah beralih ke hijau. Mau tidak mau Zeo harus segera bergerak maju. Tidak perlu membalas pesan Azlan lagi Zeo sudah yakin pria itu pasti melakukan apa yang ia minta dengan baik. Azlan memang dapat diandalkan dan siap dimintai tolong kapanpun diperlukan.
Zeo beralih menatap Zia, ternyata gadis itu mulai terlelap. Mungkin dia lelah. Bahkan Zeo lupa menanyainya sudah makam atau belum. Namun sedetik kemudian Zeo langsung menghilangkan rasa khawatirnya itu, mengingat Zia adalah orang yang tidak tahan lapar. Ia akan meminta makan di manapun ketika sedang merasa lapar. Tidak peduli sedang dimana atau dalam keadaan apa, dia akan terus merengek makan sampai permintaanya dituruti. Tadi Zia tidak ada mengeluh lapar, hal tersebut menandakan bahwa gadis itu sudah makan.
**Jangan lupa like+comen ya
sampai jumpa di part selanjutnya ππ
Author usahain part selanjutnya bakal cepat update nya**.
__ADS_1