
**Assalamualaikum semuanya. Author kembali update cerita ZEAZLAN nih. Maaf ya kalau terlalu lama menunggu.
Oh iya, di part kali ini. Author bakal kasih visual untuk Zea dan Azlan**.
Ini dia si cantik Zea.
**Dan ini Abang Azlan yang ganteng.
Terima kasih sudah membaca ZEAZLAN sejauh ini. Untuk visual tokoh lainnya. Tunggu di episode selanjutnya๐๐.
Selamat membaca. Happy reading readers ๐**.
* * *
Zea berjalan dengan tangan tetap menggenggam tangan Aisyah dan Antoni tanpa melepasnya sedikitpun. Dia hanya berharap cepat keluar dari rumah ini.
Mereka bertiga sampai pada halaman belakang dimana Azlan sudah berdiri di sana. Pemuda itu menunggunya, sesuai rencana yang mereka lakukan.
Melihat Zea yang berjalan ke arahnya Azlan langsung menghampiri gadisnya itu.
"Ze, kamu nggak papa, kan?" Azlan memegang punggung Zea lembut.
"Gue nggak papa Lan."
"Yaudah sekarang kita pergi dari sini," ucap Azlan. Di balas anggukan oleh ketiga orang yang ada di sana.
"Tapi tunggu Ze," Azlan menghentikan langkah ketika orang itu.
"Zeo dimana. Terus Zia dan Rara?" tanya Azlan sedikit panik.
"Gue udah suruh Zeo bawa Zia pergi dari rumah tadi." Jawab Zea langsung.
"Rara juga?" tanya Azlan serius.
Zea terdiam. Dia tidak ingat hal itu. Zea lupa memberitahu Zeo untuk membawa Rara juga.
"Gue nggak tahu Lan, gue cuma suruh Zeo bawa Zia aja."
Tampak raut wajah Azlan berubah khawatir.
"Ada apa Lan?" Zea sadar akan perubahan raut wajah kekasihnya itu.
"Lagian Tante Fida nggak mungkin celakain Rara, karena Rara itu anaknya."
"Zea benar Lan, Fida tidak mungkin menyakiti anak kami. Yang dalam bahaya di sini itu kalian, lebih baik kalian cepat pergi dari sini. Masalah Rara biar Om yang urus," Antoni ikut menyahut.
"Tapi masalahnya nggak se simple itu Ze, Om."
"Maksudnya?" sahut Zea dan Antoni bersamaan.
"Gue udah selidiki tentang kembaran Zia, Ze. Dan ya, gue udah nemuin beberapa bukti yang mengarah bahwa Raralah kembaran Zia."
"Apa???" kali ini Aisyah yang terkejut.
Sebenarnya Zea juga terkejut, namun yang membuatnya terkejut bukan masalah Zia punya kembaran, melainkan kembarannya itu yang di duga adalah Rara. Sepupunya sendiri.
"Zia punya kembaran?" Aisyah menatap semua orang. Meminta penjelasan lebih tentang apa yang ia dengar.
"Iya Bun, ayah bilang itu ke Zea. Sebelum dia meninggal," Zea menjawab pertanyaan Aisyah.
Aisyah langsung lemas. Untungnya Antoni dan Zea dengan sigap memegangnya.
"Bunda nggak papa?" Zea mulai khawatir. Apalagi saat ini wajah Aisyah terlihat sedikit pucat.
"Kalau memang Rara kembaran Zia, selamatkan dia. Selamatkan adik kamu Zea," Aisyah mulai terisak. Zea langsung memeluknya.
"Bunda tenang ya, Rara nggak akan kenapa-napa." Zea melepaskan pelukannya dengan lembut. Setelah itu dia beralih menatap Antoni.
"Om, tolong bawa bunda ke tempat aman. Rara biar Zea yang cari." Antoni menggeleng cepat.
"Nggak Ze, Fida itu berbahaya. Om nggak akan biarin kamu ketemu dia lagi," tolak Antoni.
"Zea nggak sendiri Om, ada Azlan." Zea masih bersikukuh.
"Om tenang aja, Azlan akan jagain Zea."
Antoni menghela napas sebentar. Jika sudah seperti ini tidak ada alasan untuk dia mencegah Zea. Walaupun sebenarnya ia begitu khawatir.
"Jagain anak gadis bunda ya," Aisyah menatap Azlan lembut.
Azlan mengangguk mantap, lalu tersenyum.
Prok... prok... prok...
"Drama yang begitu indah." Tiba-tiba saja Fida datang dari arah belakang mereka.
Fida menatap remeh keempat orang di hadapannya, dengan senyuman yang begitu mengerikan.
"Fida," lirih Aisyah.
"Eh hai, kakakku sayang. Lama tidak bertemu," Fida menatap Aisyah.
Tiba-tiba saja di belakang Fida sudah ada banyak bodyguard yang entah sejak kapan Fida memilikinya. Mereka terlihat sangat dan menyeramkan.
Dan satu di antara para bodyguard itu membawa Rara.
"Rara," ucap Zia.
Fida tersenyum licik.
"Rara ke sini sayang," Fida memanggil Rara lembut. Tentunya Rara langsung menghampiri Fida, karena takut dengan para bodyguard yang tidak ia kenal itu.
"Mah, Rara takut. Semua Om ini serem." Rara mengadu pada Fida. Fida tersenyum kepada putrinya itu.
"Nggak perlu takut, ada mama." Namun tidak Rara sangka, bahkan semua orang juga tidak menyangka. Fida memutar tubuh Rara, lalu menodong pisau di leher gadis kecil itu.
"Fida apa yang kamu lakukan??" pekik Antoni langsung.
"Tante, Rara bisa terluka."
"Fida, itu putri kamu. Apa yang kamu lakukan??" Aisyah mulai histeris.
"Apa yang aku lakukan?. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan." Fida semakin mendekatkan pisaunya pada leher Rara. Sehingga benda tajam itu menempel pada kulit leher gadis itu.
Fida menatap Azlan sinis. Azlan mengerti akan tatapan Fida.
"Apa yang sebenarnya Tante mau?" suara Azlan mendadak jadi dingin. Dan untuk pertama kalinya Zea mendengar suara Azlan seperti itu.
Fida tersenyum licik. Menatap tajam Azlan.
"Kamu tahu apa yang saya inginkan, Azlan." Azlan mengeram pelan. Ia berusaha mengontrol emosinya.
Azlan mengeluarkan sebuah flashdisk.
"Semua bukti kebusukan Tante ada di flashdisk ini. Lepaskan Rara, maka flashdisk ini akan Tante dapat." Azlan berjalan mendekati Fida. Pemuda itu tidak terlihat takut sama sekali.
"Lan," Zea berusaha menghentikan aksi pemuda itu. Namun tidak dihiraukan sama sekali.
Tampak para bodyguard langsung menghadang Azlan.
"Tetap di tempatmu anak muda. Jangan terburu-buru." Ucapan Fida mampu membuat Azlan menghentikan langkahnya. Pemuda itu menatap tajam Fida.
Fida memberikan isyarat kepada seorang bodyguard nya. Dan tiba-tiba saja, sebuah suntikan menancap pada Antoni dan Aisyah. Kejadian itu terjadi begitu cepat.
"Bunda!!" pekik Zea.
Dengan gerakan cepat Zea langsung menyerang bodyguard itu. Dan dengan cepat juga sang bodyguard itu menepis serangan Zea. Terjadi perkelahian antara Zea dan bodyguard itu.
Azlan yang melihat itu, ingin membantu Zea. Namun sayangnya, para bodyguard lainnya langsung menyerangnya. Azlan tidak tinggal diam. Tentu Azlan membela diri, bahkan melakukan serangan balasan.
Sedangkan Antoni dan Aisyah yang ingin membantu Azlan dan Zea terasa begitu sulit. Setelah terkena suntikan itu, tubuh mereka terasa begitu lemas. Entah apa isi cairan dari suntikan tadi. Tenaga mereka seakan terkuras habis bahkan dalam hitungan detik.
"Mah lepasin Rara, Rara takut mah." Rara mulai merengek pada Fida.
"Diam kamu!!! Dan denger, aku bukanlah mama mu."
Mendengar apa yang Fida ucapkan barusan terasa begitu menyakitkan untuk Rara. Gadis kecil itu langsung terisak.
"Jangan nangis!!!" bentak Fida.
"Pah, tolongin Rara." Rara berteriak memanggil Antoni.
Antoni yang mendengar putrinya memanggilnya langsung menoleh. Antoni dapat melihat Rara menangis dalam cekalan Fida.
"Rara," lirih Antoni. Pria itu berusaha bangkit dari duduknya.
Antoni berusaha untuk berjalan, meskipun begitu sulit. Dia harus menyelamatkan Rara bagaimanapun caranya.
Zea melakukan gerakan telak tepat pada dada kanan bodyguard itu. Dan hal itu mampu membuat bodyguard itu langsung tidak sadarkan diri.
Zea melihat Azlan yang di keroyok oleh bodyguard lainnya.
Zea menarik napas dalam. Kemudian meregangkan badannya sedikit.
"Kayaknya Zeo bener, gue harus sering-sering latihan." Tidak menunggu lama. Zea langsung berlari menuju Azlan. Dia menepis satu pukulan yang tadinya akan mengenai kepala Azlan. Melihat itu, Azlan tersenyum ke arah Zea.
Tiba-tiba saja Azlan menarik Zea kepelukannya, setelah itu ia melakukan tendangan pada perut lawannya yang ternyata ada di belakang Zea. Dan tendangan itu mampu membuat lawannya langsung tumbang.
"Makasih," ucap Zea tulus.
"Sama-sama sayang," Azlan mengelus lembut pucuk kepala Zea. Dan hal itu mampu membuat Zea langsung tersipu.
"Azlan awas!!!" Zea langsung menarik Azlan ke arahnya. Dan menukar posisinya dengan posisi Azlan tadi. Karena penukaran barusan, Zea akhirnya terkena suntikan dari salah satu bodyguard.
"Auu ssh," Zea meringis.
"Zea, Lo nggak papa?" tanya Azlan khawatir. Zea langsung menggeleng pelan. Tiba-tiba ada seorang bodyguard lagi yang akan menyerang Azlan dari belakang. Dan dengan usaha yang cepat, Zea langsung menepisnya lalu memberikan serangan pada wajah bodyguard itu.
"Hati-hati," ucap Zea pada Azlan. Azlan hanya mengangguk, dia kembali pada posisinya, melawan para bodyguard itu yang jumlahnya cukup banyak.
Zea sudah semakin lemas. Tubuhnya terasa begitu remuk, namun Zea tidak mungkin diam saja. Dia harus menyelamatkan Rara.
Zea dapat melihat Antoni yang tengah berhadapan dengan Fida. Zea mulai berjalan ke arah mereka.
"Lepasin Rara!!" ucap Antoni. Pria itu berusaha sekuat mungkin untuk tetap berdiri.
Fida tertawa remeh. Setelah itu ia memanggil bodyguard lainnya.
"Boleh. Tapi kamu harus lewatin mereka dulu." Setelah itu, tidak lama para bodyguard langsung menyerang Antoni.
Antoni tidak tinggal diam. Meski tenaganya hanyalah sedikit. Ia berusaha sekuat mungkin untuk bertahan dari serangan para bodyguard itu.
Antoni lengah. Dia terhuyung ke belakang, karena bodyguard itu memukul perutnya. Untungnya Zea langsung menangkapnya.
Tidak ingin kelepasan. Dua bodyguard itu langsung mengambil suntikan lalu menyuntikkannya ke arah Antoni. Melihat itu, Zea langsung mendorong Antoni.
Dan dua suntikan menusuk lengan Zea.
"Jangan!!!" pekik Fida. Namun dia terlambat, dua suntikan langsung masuk ke tubuh Zea.
Mendengar teriakan Fida. Azlan langsung menoleh ke arah kekasihnya. Azlan dapat melihat, tubuh Zea mulai melemas dan luruh ke tanah.
Fida melepaskan cekalannya pada Rara. Ia beralih pada dua bodyguard yang telah menyuntikan suntikan miliknya itu pada Zea.
"Bodoh kalian!! Kenapa kalian suntikan pada Zea dua suntikan sekaligus? Dia sudah terkena satu suntikan sebelumnya." Tampak raut wajah Fida manjadi marah.
"Maaf Bos, suntikan ini tidak untuk gadis itu seharusnya. Tetapi gadis itu malah mendorong tuan Antoni tadi dan akhirnya suntikan itu mengenai dia." Jelas Bodyguard itu.
"Benar bos," sahut yang lainnya.
"Persetan dengan alasan kalian!!" Fie langsung menghajar dua bodyguard itu dengan gerakan cepat.
Setelah memberikan sedikit teguran pada anak buahnya. Fida langsung beralih pada Zea. Gadis itu semakin melemah.
"Zea," lirih Fida. Fida hendak meraih Zea. Namun sebuah cekalan menghentikan tangannya.
Tangan Fida terhempas kasar. Dan wanita itu sedikit terhuyung ke belakang.
"Jangan sentuh kakak gue dengan tangan kotor Lo," itu suara Zeo.
Zeo menatap tajam Fida. Emosinya mulai naik kali ini.
__ADS_1
Zea dapat melihat Zeo yang berdiri di hadapannya. Meskipun samar, tetapi adiknya itu masih dapat ia kenali.
"Ze... Zeo." Napas Zea terengah-engah. Dadanya terasa sesak. Sulit sekali untuk bernapas.
Mendengar suara Zea, Zeo langsung mendekati Zea yang sudah tergeletak tidak berdaya.
"Kak, Lo nggak papa?" wajah Zeo begitu khawatir.
"Zea," Azlan mendekat ke arah Zea dan Zeo.
"Hhhhh gue nggak papa." Zea berusaha untuk tersenyum.
"Dasar gila, kondisi Lo lemah banget kaya gini, masih juga bilang nggak papa?" omel Zeo. Zea terkekeh pelan, Zea berusaha mengangkat tangannya lalu menyentil kening Zeo pelan. Bahkan sangking pelannya, hanya terasa seperti sentuhan saja.
"Dari pada Lo begonya nggak ketulungan. Udah tahu gue mau mati gini, masih juga nanya gue nggak papa." Zeo tersenyum kecut. Dia hendak mengangkat Zea.
"Biarin gue sama Azlan aja Ze, Lo tolongin bunda dulu. Dia ada di sana." Zea menunjuk ke arah dimana Aisyah tergeletak.
Mendengar itu, Zeo langsung mengangguk tanpa banyak bertanya. Dia bangkit dari duduknya.
"Gue titip Kak Zea," ucapnya pada Azlan. Azlan mengangguk.
Zeo mulai berjalan ke arah Aisyah namun tiba-tiba saja teriakan Zea membuat dirinya langsung bersiap.
"Ze awas!!" teriakan itu berasal dari Zea.
Fida melakukan serangan pada Zeo. Dan hal itu awalnya membuat Zeo tidak terkendali. Namun dengan cepat Zeo dapat mengimbangi Fida.
Zeo sedikit takjub awalnya. Fida yang selalu terlihat tenang dan kalem memiliki kemampuan bela diri yang cukup tinggi. Bahkan Zeo sedikit kewalahan menghadapinya.
Zeo melakukan gerakan memutar setelah itu ia melakukan tendangan pada Fida. Ternyata Fida dapat menahannya. Tapi bukan Zeo namanya jika tidak cerdik. Gerakan itu hanyalah cara Zeo untuk mengecoh lawannya. Ketika Fida menhan kaki Zeo agar tidak mengenai perutnya, ternyata Zeo dengan cepat melakukan serangan susulan dengan tangannya tepat pada lengan wanita itu.
Tentunya Fida langsung terdorong ke belakang. Setelah itu, Zeo melakukan serangan lagi pada perut dan kaki wanita itu.
Fida terduduk lemah kali ini. Dia menatap tajam Zeo.
"Kenapa Tante? Kaget kalau Zeo bisa ngalahin Tante?" ejek Zeo dengan sedikit kelelahannya.
"Sialan kamu!!" Fida hendak melakukan serangan balasan. Namun hal itu terhenti karena suara Azlan.
"Ze, Zea bangun Ze. Ze buka mata kamu!" Azlan mulai panik. Azlan langsung mengangkat Zea.
"Zea," gumam Fida. Wanita itu hendak mendekati Zea. Namun Zeo menghalanginya.
"Jangan pernah dekatin kak Zea!" sinis Zeo.
"Zea dalam bahaya, dia harus cepat dapat pertolongan medis." Ucap Fida dengan nada panik.
"Terus gue harus percaya sama Tante gitu. Meskipun Tante seorang dokter, tapi apa Tante nggak ingat kak Zea kaya gitu itu karena Tante. Tante kan, yang ciptain suntikan penyedot energi itu? Gue tahu semuanya, dan kalaupun kak Zea kenapa-napa. Tente Fida lah yang harus bertanggung jawab atas semuanya."
Fida langsung terdiam. Ucapan Zeo barusan begitu menghantamnya.
Sedangkan Zeo sudah berlalu meninggalkan Fida, Zeo mendekati Aisyah yang tergeletak lemah sejak tadi.
"Bang, Lo bawa kak Zea ke rumah sakit. Biar bunda gue yang tanganin." Azlan langsung mengangguk. Tidak ingin berlama-lama, Azlan langsung membopong Zea ke mobilnya. Tujuannya hanya satu kali ini. Rumah sakit.
"Bun, bunda. Bangun Bun," Zeo menyenggol lengan Aisyah pelan. Mencoba menyadarkan ibunya itu.
Tidak lama setelah itu, kelopak mata Ayah terbuka. Wanita itu berusaha untuk tersenyum ke arah putranya. Aisyah berusaha mengelus pipi Zeo.
"Bunda yakin, jagoan bunda pasti datang." Zeo tersenyum getir. Melihat Zea begitu lemah seperti tadi saja sudah membuat dia tersakiti. Dan kali ini, untuk kedua kalinya Zeo harus melihat bundanya terbaring lemah seperti ini.
Tanpa sadar air mata Zeo menetes.
"Jangan cengeng. Bunda nggak papa, cuma kehabisan tenaga aja." Aisyah berusaha bangun dari tidurnya, dengan cepat Zeo membantunya.
"Zea dimana?" tanya Aisyah. Karena dirinya tidak melihat Zea di tempat itu.
"Ada. Dia sama bang Azlan." Jawab Zeo.
Setidaknya Zeo tidak berbohong dalam hal itu.
Aisyah tersenyum sebentar. Setelah itu ia berusaha untuk berdiri. Dan tentunya Zeo membantunya lagi.
"Kita susulin Zea dan Azlan ya." Zeo mengangguk.
Aisyah menoleh ke samping. Ia dapat melihat Antoni pingsan. Dan Rare menangis di sampingnya.
"Pah bangaun pah. Rara takut pah, bangun!!."
"Kamu urus om Antoni ya. Bunda mau bicara sama Tante Fida."
Zeo tidak menjawab ucapan Aisyah. Dia masih memegang lengan Aisyah.
"Tenang sayang, bunda nggak akan kenapa-napa. Bagaimanapun Fida adalah adik bunda satu-satunya." Aisyah berusaha untuk meyakinkan Zeo.
Dengan berat hati, Zeo melepaskan cekalannya. Dan membiarkan Aisyah untuk berjalan mendekati Fida.
Fida masih saja mematung di tempatnya. Fida luruh ke tanah. Tatapannya kosong.
Sedangkan Zeo langsung menghampiri Antoni yang sudah lemas di tanah.
"Rara jangan nangis ya. Papa nggak papa kok," Zeo berusaha menenangkan Rara.
"Iya bang Ze, tapi Rara takut." Gadis kecil itu langsung memeluk Zeo. Zeo menerimanya dengan lembut.
"Jangan takut ya, kan ada bang Zeo sekarang."
Zeo dapat merasakan Rara mengangguk pelan.
Zeo melepaskan pelukan Rara dengan pelan. Memegang pipi gadis kecil itu.
"Jangan nangis lagi ya. Jadi jelek nih," Zeo mencubit pelan hidung mancung Rara.
"Sekarang kita tolong papa dulu ya." Rara mengangguk. Gadis itu menghapus sisa air matanya.
Terdengar gumaman Antoni memanggil nama Rara.
"Rara,"
"Iya pah, Rara di sini." Antoni membuka matanya dengan pelan.
"Kamu nggak papa kan sayang?" tanya Antoni lembut pada putrinya. Antoni berusaha untuk bangkit dari tidurnya.
Antoni beralih menatap Zeo.
"Dimana semuanya Ze?" tanyanya dengan suara yang pelan. Namun, Zeo masih dapat mendengarnya.
"Kak Zea dibawa bang Azlan ke rumah sakit. Kondisinya begitu lemah. Kalau bunda, dia nemuin Tante Fida." Jelas Zeo.
"Nemuin Fida?" Zeo mengangguk.
Doorr
Sebuah tembakan terdengar jelas. Zeo dan Antoni langsung menoleh ke arah dimana Fida dan Aisyah berada.
Mata Zeo membulat.
"BUNDA!!!"
* * *
Azlan membawa mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia harus cepat membawa Zea ke rumah sakit. Kondisi gadis itu semakin lemah kali ini. Wajah pucatnya terlihat begitu jelas.
Sesekali Azlan melirik Zea. Menggenggam tangan gadisnya itu. Azlan begitu takut kali ini. Namun ia terus berharap, semoga Zea baik-baik saja.
"Gue mohon bertahan Ze," Azlan mempererat genggaman tangannya pada tangan Zea.
* * *
Dua hari kemudian
Azlan berjalan di koridor rumah sakit dengan membawa setangkai mawar di tangannya. Senyuman mengembang ketika menatap bunga yang begitu cantik itu.
Azlan tidak mempedulikan banyak pasang mata yang menatap kagum padanya. Bahkan tidak jarang ada yang menyapanya. Atau bahkan sengaja berbisik tentang dirinya.
Namun Azlan tidak pernah merespon mereka. Karena tujuannya datang ke rumah sakit ini hanyalah untuk menemui seseorang.
"*Wih gila ganteng banget tuh cowok!!"
"Berasa liat oppa versi Indonesia."
"Aduh, meleleh adek bang."
"Mendadak pengen di halalin gue."
"Jiwa jomblo ku meronta-ronta ges."
"Astagfirullah godaan iman ini namanya."
"Ya Allah bang, ibu lu makan apa sih pas hamil. Kok bisa bening begitu*?."
Begitulah kira-kira bisikan dari orang-orang yang Azlan lalui.
Namun itu dari kaum hawa. Banyak juga dari kaum Adam yang mengumpati Azlan.
"*Dih sok ganteng banget sih."
"Ke rumah sakit bawa bunga. Emang di sini kuburan?"
"Bantengan juga gue,"
"Kulit bisa putih begitu, anak mami pasti tuh. Nggak pernah keluar rumah."
"Pasti perawatan tuh dia. Kaya cewe aja*."
Gunjingan demi gunjingan sering Azlan dengar. Tetapi Azlan tidak menggubrisnya.
Karena Azlan tahu benar, apa itu fungsi mulut. Untuk makan dan berbicara. Ya meskipun banyak sekali manusia yang menggunakannya untuk membicarakan orang lain. Atau bahkan menjelekkan orang lain.
Tentang itu. Semuanya kembali kepada manusianya masing-masing.
Azlan membuka pintu ruang rawat Cempaka Putih 1. Ruangan VIP di rumah sakit ini. Setelah pintu terbuka, pemuda itu langsung masuk ke dalam ruangan. Tidak lupa, ia menutup kembali pintu ruangan itu.
"Azlan," itu suara Aisyah.
Wanita itu tersenyum jangan kepada Azlan.
"Bagaimana keadan Zea Bun?" tanya Azlan. Pandangannya tidak lepas pada wajah gadis yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit itu.
"Kondisinya semakin stabil, hanya saja Zea masih belum sadarkan diri." Azlan berjalan mendekat ke ranjang di mana Zea tergeletak.
"Bunda yang sabar ya," Azlan tersenyum hangat kepada Aisyah.
Cklek
Pintu ruangan kembali terbuka. Ternyata Antonilah yang datang.
"Ais, kamu belum sarapan. Sarapan dulu ya." Antoni berjalan mendekati Aisyah.
Aisyah tidak menjawab, ia malah beralih menatap putrinya. Matanya kembali sendu.
"Bunda sarapan dulu aja, Zea biar Azlan yang jagain." ucap Azlan.
Aisyah mengangguk lah. Ia mencium kening Zea, setelah itu beralih menatap Azlan.
"Jagain Zea ya Lan." Azlan mengangguk, diikuti senyum tulusnya.
"Ayo," ucap Antoni lagi.
Aisyah mengangguk kemudian ia dan Antoni berjalan keluar dari ruangan Zea.
Sampainya di luar ruangan mereka langsung berhadapan dengan Zeo. Pemuda itu terlihat sedikit panik.
"Ada apa Ze?" tanya Aisyah menyadari raut wajah putranya itu sedang tidak tenang.
"Tante Fida, Bun." Zea menggantung ucapannya.
Aisyah dan Antoni saling tatap.
"Fida kenapa?" tanya Aisyah langsung.
"Iya Zeo, Tante kamu kenapa?" itu Antoni.
"Tante Fida meninggal."
__ADS_1
Deg
Aisyah langsung melemas ketika mendengar berita itu. Napasnya terasa sesak.
Putrinya belum juga sadarkan diri saat ini. Dan sekarang, dia mendapatkan berita bahwa Fida meninggal.
Andai saja Aisyah dapat mencegah tembakan itu. Dia tidak akan kehilangan Fida.
"Bunda nggak papa kan?" Zeo terlihat begitu khawatir melihat keadaan ibunya itu.
"Ze, kamu jagain bunda kamu ya. Masalah Fida biar om yang urus." Antoni berucap. Zeo mengangguk mengerti.
"Iya Om. Bunda duduk dulu di sini ya." Zeo mengajak Aisyah untuk duduk di kursi rumah sakit.
Namun Aisyah menggeleng cepat.
"Bunda mau ngelihat tente Fida."
"Oke, kita ke sana sekarang."
* * *
Aisyah berjalan lunglai memasuki ruangan dimana Fida berada. Terlihat jelas mayat yang telah tertutupi kain putih di atasnya. Air mata Aisyah sudah tidak dapat terbendung lagi sekarang.
Meskipun Fida telah berbuat jahat kepadanya. Melakukan berbagai cara untuk memisahkan dirinya dengan orang-orang yang dia sayang. Namun kasih sayang Aisyah kepada adiknya itu tidak akan pernah hilang.
Bagaimanapun Fida, dia tetaplah adik Aisyah. Itulah kalimat yang selalu Aisyah ucapkan. Dari ia kecil, hingga mereka dewasa.
Karena hal itulah. Fida sering sekali semena-mena pada Aisyah. Meminta apapun yang dia mau. Tanpa mempedulikan perasaan Aisyah. Bahkan lelaki yang begitu Aisyah cintai dulu, juga Fida ingin miliki.
Entah terbuat dari apa hari Aisyah. Wanita itu tetap saja menuruti kemauan Fida. Wanita itu tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Dia hanya mau orang-orang yang ada di sekelilingnya itu bahagia. Meskipun Ida harus merasakan sakit yang luar biasa.
Aisyah membuka kain penutup wajah Fida. Terlihat jelas, wajah cantik Fida kini begitu pucat. Bahkan, ketika Aisyah menyentuh pipinya terasa begitu dingin.
"Dek, maafin kakak ya. Kakak nggak bisa jagain kamu. Kalau aja tembakan itu." Ucapan Aisyah terpotong karena Antoni menyentuh pundaknya.
"Jangan terus menyalahkan diri sendiri. Ini bukanlah kesalahan kamu Ais." Ucap Antoni lembut.
Aisyah menggeleng pelan. Meskipun bukan kesalahannya. Tetap saja, Aisyah merasa gagal untuk menjaga Fida.
Flashback on
Aisyah berjalan pelan, langkahnya terasa begitu berat karena tenaganya yang begitu terkuras. Entah cairan apa yang di suntikan oleh para bodyguard tadi. Yang jelas daya tahan tubuhnya langsung melemah dalam hitungan detik.
Aisyah melihat Fida yang terduduk dengan tatapan kosong ke depan. Aisyah tahu, adiknya itu pasti begitu sedih.
"Dek," panggil Aisyah lembut. Aisyah memegang pindah Fida.
"Zea." Lirih Fida. Air matanya mulai mengalir.
"Zea nggak papa. Dia pasti akan baik-baik saja." Ucap Aisyah lagi. Dan hal itu membuat Fida melirik ke arahnya. Tatapan mata wanita itu tidaklah santai. Bahkan berkesan membunuh.
"Tenanglah," Aisyah tetap tersenyum hangat kepada adiknya itu.
"Satu suntikan itu memang membuat daya tahan tubuh manusia langsung melemah. Namun jika tiga suntikan yang diberikan dalam waktu bersamaan, itu akan berakibat fatal." Aisyah sedikit terkejut dengan ucapan Fida. Namun dia tetap berusaha untuk tenang.
"Kamu nggak perlu khawatir. Zea udah di bawa ke rumah sakit." Fida kembali menatap Aisyah sinis.
Aisyah hendak meraih tangan Fida. Namun wanita itu langsung menarik tangannya.
Fida meraih sebuah pistol yang ada di belakang celananya. Fida mengarahkan pistol itu ke Aisyah.
"Fida, apa ini?"
"Pistol." Jawab Fida tanpa beban.
"Kakak tahu itu pistol. Tapi maksud kamu apa nodong kakak pake pistol?" mata Aisyah tidak lepas dari pistol yang Fida pegang. Dia harus waspada.
"Membunuh yang seharusnya sudah mati." Mata Aisyah langsung membulat. Apa Fida akan menembaknya kali ini.
"Ma... maksud kamu?" Aisyah mulai panik.
"Kenapa? Takut, bakal mati. Bukannya kakak sebelumnya pernah hampir mati?" dengan entengnya Fida mengatakan kalimat seperti itu.
"Mungkin keberuntungan mihak Lo kak. Makannya Lo nggak mati waktu itu." Mata Aisyah kembali membulat.
Fida semakin mendekatkan pistolnya ke arah Aisyah. Bahkan Aisyah dapat merasakan ujung pistol itu mengenai keningnya. Aisyah hanya mampu memejamkan matanya.
Mungkinkah memang dirinya tidak diberikan kesempatan lagi untuk bersama dengan keluarganya.
Aisyah hanya berharap, jikalau nanti dia mati. Anak-anaknya akan tetap bahagia. Dan semoga Fida dapat menjadi lebih baik.
Doorr
Suara tembakan terdengar begitu memekakkan telinga. Namun aneh. Aisyah tidak merasakan apapun. Dia merasa keningnya. Tidak ada luka. Aisyah membuka matanya. Aisyah terkejut setengah mati.
"Bunda," Aisyah dapat mendengar jelas teriakan dari Zeo.
Namun bukan itu masalahnya. Aisyah melihat Fida sudah terjatuh ke tanah. Tembakan tadi ternyata bukanlah untuknya. Tembakan itu Fida lakukan pada dirinya sendiri.
"Fida," Aisyah langsung merengkuh tubuh Fida.
"Dek kamu harus bertahan." Zeo yang datang langsung menatap Aisyah khawatir.
"Bunda nggak papa?" Aisyah menggeleng.
"Bunda nggak papa. Cepat bawa tente kamu ke rumah sakit." Zeo mengangguk. Dia langsung membopong Fida.
Bergerak cepat menuju mobil. Untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. Tujuannya satu, yaitu rumah sakit.
Flashback off
"Keluarga pasien Fida?" ucap seorang suster.
"Iya sus," jawab Antoni. "Saya suaminya."
"Baik pak. Kalau begitu bapak bisa urus administrasi rumah sakit dan urus untuk pemulangan zenazahnya." Ucap suster itu.
Antoni mengangguk.
"Baik sus,"
"Kalau begitu saya permisi." Suster itu pamit pergi.
* * *
Azlan duduk di kursi yang ada di samping ranjang Zea. Gadisnya itu masih tetap memejamkan matanya. Azlan meraih tangan Zea, menggenggamnya lembut lalu mencium punggung tangan gadisnya itu dengan begitu dalam.
Azlan menundukkan pandangannya. Dia begitu tidak tahan melihat Zea seperti ini. Wajah gadis itu terlihat begitu pucat dan lemah. Ada banyak pikiran buruh yang begitu Azlan takutnya.
Dan, yang utama adalah kehilangan garis ini. Entah apa yang akan terjadi di hidupnya jika hal itu benar-benar terjadi. Namun Azlan tetap berusaha untuk menghapus semua pikiran buruk itu.
Azlan mengangkat kepalanya. Matanya menatap wajah Zea yang tetap terlihat cantik. Satu tangannya yang lain terukur memegang bunga mawar yang memang sejak tadi ia bawa.
"Hei Ze."
"Apa kabar?. Lo betah banget kayaknya tidur terus. Lo nggak kangen apa sama gue?."
Azlan menatap sendu Zea. Keadaan Zea saat ini begitu menyayat hati Azlan.
"Gue kangen tahu Ze sama Lo. Kangen Lo ngomel sama gue, kangen Lo marah-marah sama gue. Kangen Lo tersipu kalau gue manggil Lo sayang. Gue kangen semuanya Ze. Kapan Lo buka mata?"
Zeo yang melihat itu hanya dapat tersenyum kecut. Sama halnya dengan Azlan. Pemuda itu juga merasa begitu sakit ketika melihat Zea seperti itu.
"Kalau aja gue nggak telat datang waktu itu, Lo pasti nggak akan begini kak." Zeo begitu merasa bersalah.
"Kenapa sih, Lo nggak cerita ke gue waktu itu. Lo terlalu sering menyimpan masalah sendiri."
Zeo menutup pelan pintu ruangan Zea. Setelah itu, dia berjalan menjauhi ruangan itu. Dia perlu menenangkan diri.
Sedangkan Azlan, masih tetap setia memandangi wajah pucat Zea.
"Ze, gue bawa mawar nih. Bunga kesukaan Lo. Tapi gue cuma bawa setangkai. Gue janji, kalau Lo bangun entar gue beliin sekebon."
"Bangun dong Ze."
Azlan bangkit dari duduknya. Ia mengecup lembut kening gadis yang begitu ia cintai itu. Tanpa sadar air mata Azlan menetes.
Azlan beralih pada telinga Zea.
"Gue sayang Lo Zea. Buka mata Lo, gue kangen."
Azlan berharap Zea akan mendengar apa yang ia ucapkan. Meski hanyalah harapan, namun Azlan percaya dengan keajaiban.
Karena kekuatan Tuhan itu maha dahsyat, tidak ada yang tidak mungkin.
Satu harapan Azlan saat ini, yaitu Zea segera membuka matanya.
Cklek
Azlan menoleh ke arah pintu, dan uty adalah gerakan refleks karena mendengar suara pintu dibuka. Azlan dapat melihat seorang gadis cantik berkacamata tengah berdiri di ambang pintu.
Tidak lama gadis itu langsung mendekat ke Zea. Azlan dapat melihat tatapan matanya menyiratkan kesedihan.
"Ze Lo ngapain sih di sini? Bukannya Lo paling nggak suka ya sama rumah sakit." Gadis itu tidak lain adalah Putri.
"Terus Lo malah tiduran di sini. Woi Zea, bangun kenapa. Lo nggak mau ketemu gue apa?" Putri mulai terisak.
Azlan yang menyadari itu, langsung bangkit dari duduknya. Azlan mendekati Putri, merengkuh tubuh gadis itu yang saat ini mulai bergetar.
Putri langsung memeluk Azlan. Tangisnya pecah kali ini. Azlan juga tidak dapat membohongi dirinya. Azlan begitu merasa takut yang luar biasa.
Ingin rasanya ia selalu ada di sisi Zea ketika gadis itu tidak sadarkan diri seperti ini. Memastikan Zea tetap baik-baik saja. Menunggu gadis itu membuka matanya.
"Kenapa Zea tidur aja sih Kak? Kemarin gue k sini dia juga tidur sekarang dia masih aja tidur. Gue kangen Zea kak. Gue harus duduk sendiri di kelas karna dia nggak masuk sekolah."
Azlan mengelus lembut kepala adik sepupunya itu. Azlan tahu benar seperti apa Zea untuk Putri. Zea sudah seperti kakak untuk Putri. Putri begitu menyayangi kekasihnya itu.
"Lo tenang ya. Zea pasti bakal segera sadar. Lo harus doain dia ya." Putri mengangguk lemah. Dia melepaskan pelukannya. Lalu berjalan ke kursi untuk duduk di samping Zea.
Azlan hanya memperhatikan Putri saja.
"Gue bakal nungguin Lo bangun Ze. Gue ke sekolah dulu ya. Entar pulang sekolah gue ke sini lagi."
Azlan batu menyadari, sepupunya itu ternyata memakai seragam sekolah. Azlan yakini, dia pasti akan terlambat. Melihat jam sudah menunjukan pukul tujuh lebih sepuluh menit. Sedangkan Azlan tahu benar SMA Darma Putra masuk pukul tujuh lebih Lima belas menit.
"Udah buruan berangkat sekolah sana, entar Lo telat." Putri menoleh ke arah Azlan.
"Gue telat siapa yang berani ngehukum?" sinis gadis itu.
"Gue," sahut Azlan langsung.
"Lo siapa?"
"Gue Azlan, lebih tepatnya Azlan Malik." Jelas Azlan.
"Terus hubungannya nama Lo sama hukuman gue apa coba?" sewot Putri.
"Ya nggak ada sih. Udah sana gih pergi sekolah. Entar Lo telat beneran." Ucap Alan lembut.
Putri menghela napas berat. Dia mengangguk pelan.
"Gue pamit Ze. Lo cepet buka mata ya." Putri mengelus pucuk kepala Zea lembut. Setelah itu ia bangkit dari duduknya. Lalu beralih pada Azlan.
"Gue titip sahabat gue, kak." Azlan mengangguk. Dia menepuk pelan bahu Putri.
"Tenang aja, nggak Lo minta gue pasti akan lakuin itu." Putri tersenyum sebentar.
"Gue pergi, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu,"
Setelah itu, putri langsung berjalan keluar dari ruangan Zea. Meski semangat untuk ke sekolah itu tidak ada. Namun aputri harus tetap berangkat. Ujian kelulusan sekolah sebentar lagi. Maka dari itu, dia tidak boleh banyak mengisi absen sekolah.
Meskipun sekolahnya adalah milik kakeknya. Tetap saja, putri harus mengikuti aturan. Karena absensi murid itu lebih berharga dibandingkan kepintaran.
BONUS NIH๐๐
**Maaf jika masih ada typo dimana-mana ya.
Part ini agak pendek. Soalnya Author cuma sempat nulis segini.
Salam sayang dari Author untuk kalian**.
__ADS_1