Zeazlan

Zeazlan
Azlan


__ADS_3

Azlan menatap tajam ke arah dua wanita yang sedari tadi asik dengan dunia mereka masing-masing. Bahkan mereka seakan tidak menganggap Azlan ada bersama mereka. Mereka hanya tetap fokus pada benda pipih berbentuk persegi milik masing-masing.


"Put," panggil Azlan.


"Hem," hanya sebuah deheman yang Azlan dapat.


Azlan mengacak rambutnya frustasi.


"Lo ngapain gitu?" heran Azlina.


"Tahu, kaya orang gila aja." Putri ikut bersuara.


"Kalian yang buat gue gila. Dari tadi gue panggil cuma di bales ham hem ham hem. Di kira mau nyanyi lagu nisa sabyan apa?" sungut Azlan.


"Biasa aja kali Lan, kok ngegas gitu." Cibir Azlina.


"Tahu tuh," Putri ikut-ikutan.


Azlan menghela napas. Sungguh menghadapi kaum wanita memanglah menguras tenaga. Tidak hanya perlu kesabaran tetapi juga niat yang kuat. Kalau bukan karena Zea, tidak akan Azlan mau berurusan dengan Putri yang menurutnya sungguh menjengkelkan.


"Gue serius put. Kalian berdua sebenernya niat bantu gue nggak nya?" helaan napas Azlan kembali terdengar.


Putri menyimpan ponselnya. Menatap lekat ke arah Azlan. Sedangkan yang di tatap hanya mengacak-acak rambutnya seperti orang tidak waras.


"Ini serius Lo kak?" tanya Putri serius.


"Maksud Lo?" ketus Azlan.


"Heran aja gue, masa playboy kaya Lo galau gini, kak." Cibir Putri, diikuti tawa ringannya.


"Sekarang gue mau nanya serius sama Lo." Raut wajah putri berubah serius bersama dengan ucapannya tadi.


Azlan menoleh ke arah Putri, menyadari raut wajah sepupunya itu ia juga mengikutinya.


"Tanya aja," ucap Azlan.


"Lo serius suka sama sahabat gue?" tanya Putri menjeda. "Maksud gue, aneh aja gitu. Lo yang biasanya Gonta ganti cewek sekarang minta bantuan gue buat deketin cewe."


"Lo ragu sama gue Put?" Azlan beranggapan.


"Banyak alasan yang buat gue ragu sama Lo kak. Dan Lo pasti tahu itu apa." Putri menghela napas pelan.


"Asal Lo tahu kak, Zea itu bukan hanya sahabat bagi gue. Dia adalah orang yang selalu ada buat gue di saat kapanpun gue butuh dia. Dia udah gua anggap kayak kakak gue sendiri. Kita sahabatan bukan baru sehari dua hari, udah dari SMP. Gue ngerti Zea melebihi dirinya sendiri begitupun sebaliknya." Jelas Putri serius. Bahkan tatapannya tidak lepas dari Azlan.


"Gue nggak akan lanjutin bantuan gue ke Lo kak, kalau gue nggak yakin kalau Lo beneran serius ke Zea." Lanjut Putri.


Azlan menatap serius ke arah Putri.


"Put, gue bener-bener serius sama sahabat Lo. Emang iya, awalnya gue cuma nganggap perasaan gue ke dia cuma ketertarikan biasa. Tapi lama-lama perasaan ini beda. Perasaan yang cuma gue rasain ke Zea aja. Bahkan selama gue pacaran gue nggak pernah seserius ini. Gue beneran sayang sama sahabat Lo. Meskipun gue tahu dianya belom ada rasa ke gue. Maka dari itu gue mau lo dan kak Lina bantu gue Put." Ucap Azlan mantap. Putri menatap Azlan lekat, mencoba mencari kebohongan dari ucapan Azlan. Namun Putri sama sekali tidak menemukannya.


"Kalau Lo nggak percaya Lo bisa tanya kak Lina." Tambah Azlan lagi berusaha meyakinkan Putri.


Putri beralih menatap ke arah Azlina. Seakan meminta penjelasan dari ucapan Azlan tadi.


"Kakak baru kali ini ngelihat Azlan kayak orang gila sumpah put." Ucap Azlina sebagai jawaban.


"Kenapa nggak bawa ke rumah sakit jiwa aja." Ucap Putri. Dan berhasil mendapat plototan dari Azlan.


"Percuma. Nggak bakal sembuh juga. Kan obatnya ada di sahabat Lo." Tambah Azlina lagi.


Putri tersenyum penuh arti.


"Oke. Gue bakal bantu Lo kak dan Gue---" ucapan Putri terpotong karena sebuah panggilan telepon.


Putri langsung mengecek panggilan itu.


"Zea telpon," bisik Putri.


"Serius? Buruan angkat, di laudspeaker kan ya." Ucap Azlan antusias.


"Semangat banget!! Lagian kepo banget sih, kalau kangen telpon aja sendiri." Balas Putri sewot.


"Gue baru aja di blok sama dia. Please put speaker kan ya, gue pengen denger suara Zea." Mohon Azlan.


Akhirnya Putri mengalah dan menuruti permintaan Azlan. Begitu sambungan telepon ia angkat. Suara Zea mendominasi disana.


"Halo put, Lo dimana sih? Lo tahu nggak."


"Nggak," jawab Putri langsung.


"Eh kambeng, belom juga selesai ngomong gue Bambang!!"


Azlan hanya menahan senyumnya mendengar omelan Zea barusan.


"Iya-iya, apaan sih?" sahut putri lagi.


"Papa Lo barusan nelpon gue, dia nanyain Lo. Lo kemana aja? Kenapa nggak pulang sih. Keluyuran mulu, nggak kapok-kapok apa di marahin aja." Omel Zea dari seberang sana.


Azlan hanya mengangkat sudut bibirnya lagi. Untuk pertama kalinya ia mendengarkan Zea yang mengomel terus menerus seperti ini. Karena biasanya hanya sikap dingin yang ia terima. Bahkan kata yang ia ucapakan begitu irit. Terkadang Azlan bingung dengan dirinya sendiri mengapa bisa jatuh cinta pada gadis yang pelit dalam berkata seperti Zea.


Tetapi itulah cinta. Buta. Tidak terlihat. Namun hanya dapat dirasakan.


"Heheh sorry Ze, gue lupa bilang ke Lo kalau gue bakal nginep di rumah sepupu gue. Gue sengaja nggak kabarin papa, males aja."


Terdengar jelas Zea yang menghela napas pelan di seberang sana.


"Lo ya put, nama doang Putri kelakuan jauh banget. Sekarang mendingan lo telpon papa Lo, dia khawatir sama Lo. Lo itu anak cewek Putri, jadi wajar papa Lo khawatir. Gue nggak mau aja nanti papa Lo ngira gue lagi yang bawa anak semata wayangnya kemana-mana. Kan Lo tadi izinnya pergi bareng gue."


"Lo tenang aja kali Ze, papa juga tahu lah kalau yang berandalan itu gue bukan lo. Jadi kalau ada masalah apapun di gue itu pasti karena gue sendiri bukan karena Lo. Lo kan anak baik jadi nggak mungkin ngajak gue yang nggak-nggak. Makannya papa percaya sama Lo."


"Udah ah gue nggak mau denger celotehan lo. Sekarang juga Lo kabarin papa Lo oke. Gue mau tidur,"


"Iya-iya, sekali lagi sorry ya,"


"Iya, yaudah assalamualaikum."


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu,"


Putri langsung menutup telponnya.


"Kenapa senyum-senyum?" sinis Putri kepada Azlan.


"Nah itu tu put yang kakak maksud. Mendadak kaya orang gila tu anak kalau menyangkut apapun tentang Zea. Gue kadang jadi bingung sendiri." Ucap Azlina. Memperhatikan Azlan yang sedari tadi tersenyum terus semenjak putri menelpon Zea tadi.


"Udah ah, yang Gilak gue kenapa kalian yang sewot. Sekarang kita lanjut aja percakapan kita yang tertunda tadi."


Putri bersikap acuh, kemudian membenarkan duduknya. Putri kembali serius.


"Oke kak, gue akan jelasin semuanya tentang Zea sama Lo. Dan Lo dengerin baik-baik semuanya yang bakal gue bilang. Paham!!" ucap Putri sebelum memulai penjelasannya.


Azlan mengangguk mantap.


"Dasar bucin!!" cibir Azlina.


Azlan tidak memedulikan cibiran kakaknya tadi. Karena yang paling penting baginya saat ini adalah Zea.


Terserah orang mau mengatakannya apa. Mau bilang kalau dirinya bucin. Ia tidak peduli. Karena bagi Azlan jatuh cinta jika tidak bucin maka bukanlah cinta yang sebenarnya.


Yang namanya cinta pasti akan diperbudak. Meski terpedaya, dia tidak akan peduli. Karena cinta itu buta. Tidak perlu melihat dan mendengarkan tetapi cukup dirasakan getarannya di dalam dada.


Jika tidak bucin berarti dia belum ada objek untuk menjadi sumber kebucinannya. Jadi untuk para jomblo, bersabarlah. Mungkin objek bucin mu masih berkeliaran di hati orang lain. Sabar. Karena waktu yang baik itu pasti akan datang. Dan orang baik itu juga akan segera hadir kalau tidak di tikung orang duluan. Intinya sabar ajalah.


"Jadi gini. Gue akan mulai dari hal yang disukai Zea dan tidak disukai dia."


Azlan mulai menyimak ucapan Putri.


"Sebenernya banyak hal yang udah berubah dari Zea sekarang. Tapi meski berubah gue juga tetap tahu betul Zea itu seperti apa." Dahi Azlan berkerut. Tidak paham dengan ucapan Putri. Berubah? Apanya yang berubah? Masa iya berubah jadi Superman atau bahkan wonder woman?.


"Jangan tanya apa yang berubah. Gue bakal jelasin." Ucap Putri seakan tahu apa yang Azlan pikirkan.


"Udah jelasin aja put. Tuh bocah udah kagak sabar kayaknya." Sahut Azlina.


Putri hanya mengangguk mendengar ucapan Azlina. Sedangkan Azlan hanya bersikap acuh kepada kakaknya itu. Bahkan menatapnya dengan tatapan datar.


"Zea itu dingin. Bahkan nggak perlu gue jelasin sedingin apa, Lo pasti udah tahu kak. Zea sangat membatasi pergaulannya, bahkan teman akrab dia yang benar-benar dia anggap sebagai teman itu cuman gue. Gue bakal jelasin alasannya kenapa tapi nanti nggak sekarang. Zea itu nggak terlalu suka sama orang yang sok akrab ke dia padahal nyatanya nggak kenal, bisa dikatakan sksd lah, sok kenal sok dekat."


"Zea nggak suka di bilang cantik. Padahal sebenarnya dia itu cantik pake banget, gue akuin itu. Dia nggak suka sama cowok, bukan berarti dia nggak normal. Hanya saja ada alasan mengapa dia benci sama kaum Adam. Zea juga nggak suka atau bahkan dapat dikatakan anti sama yang namanya gombal."


"Jadi kalau Lo mau deketin Zea, gue saranin jangan kasih dia gombalan receh. Bukannya seneng, yang ada Lo di gampar sama dia."


Azlina tertawa mendengar penjelasan putri.


"Nggak usah ketawa kak! Lanjut put!" Tegur dan perintah Azlan.


"Iya-iya sorry." Ucap Azlina.


"Terus kalau nantinya gue muji dia, dia ngira gue ngegombal gimana? Apalagi kalau gue mau romantis-romantisan gitu gimana put." Tanya Azlan bingung.


"Hadeh!! Nih anak halunya ketinggian." Ucap Putri cemberut.


"Belum juga deketin udah mau sok-sokan romantisan. Zea mau ngobrol sama Lo aja itu keajaiban kak. Boro-boro romantisan." Putri menghela napas pelan.


"Ada perbedaan antara gombal dan romantis, Lan." Itu suara Azlina.


"Bedanya?" tanya Azlan.


"Kalau Lo gombalin Zea, itu hanya ucapan demi ucapan yang Lo kasih. Beda kalau Lo romantis-romantisan sama dia, itu adalah tindakan sweet yang Lo tunjukin ke Zea, Lan. Dan dari penjelas yang putri bilang tadi, kayaknya Zea itu agak mirip sama gue. Dia nggak suka kata-kata manis, tapi dia mau bukti langsung. Dia nggak perlu ungkapan kata puitis. Tapi dia mau tindakan, misalnya perhatian . Alasan dia kaya gitu mungkin aja dia trauma sama kalimat manis dari para buaya darat." Azlina menjelaskan.


Putri tersenyum simpul. Ternyata kakak sepupunya itu cukup cerdas dalam berpikir dan menyimpulkan sesuatu.


"Tepat sekali." Puji Putri.


"Jadi gue harus gimana?" Azlan semakin bingung.


Dua wanita di hadapannya hanya menghela napas kasar. Kesal kepada Azlan. Entah mengapa kepintarannya malah tidak berguna dalam hal ini.


"Lo pinter tapi oon dalam hal cinta kak. Percuma juga gelar playboy ada di Lo, gini aja Lo nggak bisa mau bertindak gimana."


"Gimana gue mau bertindak Put, dari tadi yang Lo bilang cuman yang nggak di sukai Zea. Yang dia suka Lo belum ada bilang." Tangkas Azlan tidak terima dengan cibiran Putri.


"Sabar kali, gue jelasinnya satu-satu lah. Ini mulut pak, bukan radio yang asal ada baterainya nyerocos terus tuh penyiar sampe pagi kagak masalah."


"Yaudah kali nggak usah ngegas,"


Putri memutarkan bola matanya malas.


"Gue jelasin semuanya, tapi jangan Lo potong. Nanti gue bakal kasih Lo sesi untuk bertanya, ngerti."


"Oke,"


"Jadi gini, sebenernya yang gue jelasin tadi itu adalah hal yang nggak di suka Zea selama dua tahun terakhir ini. Semuanya berubah semenjak ibunya meninggal. Pribadi Zea yang awalnya ceria dan cerewet berubah menjadi dingin dan cuek. Sifat asli dia hanya akan keluar ketika bersama dengan orang terdekatnya. Zea yang sebenarnya sebelas dua belas sama gue itu berubah seratus delapan puluh derajat saat ini. Nggak ada Zea yang ceria lagi, nggak ada Zea yang cerewet lagi dan nggak ada Zea yang murah senyum lagi. Bahkan senyumannya bisa gue hitung berapa kali dalam sebulan."


Azlan dapat melihat ada gurat kesedihan di wajah putri. Azlan tahu gadis itu pasti sangat merindukan sosok Zea yang dulu. Meskipun Azlan baru mengenal Zea, entah mengapa Azlan berharap Zea dapat kembali seperti dirinya yang dulu.


"Zea suka sama warna hijau, itu favorit dia. Dia pecinta buah, makanya dia jualan salad buah. Dia suka musik dan suaranya cukup bagus menurut gue, tapi sayang bakat itu udah lama nggak pernah gue lihat lagi dia lakuin."


"Zea pekerja keras, dia rela banting tulang hanya untuk membiayai kebutuhan adik-adiknya. Gue bahkan sangat mengagumi dirinya, gue nggak bayangin kalau gue ada di posisi dia."


"Sekarang gue bolehin Lo nanya kak, Gue tahu mulut Lo udah mau ngomong dari tadi." Ucap Putri.


Azlan tersenyum singkat.


"Ibu Zea udah meninggal?" pertanyaan pertama Azlan.


"Iya," jawab Putri cepat.


"Dua tahun lalu. Kalau Lo mau tahu apa penyebabnya nanti Zea akan cerita sendiri kalau Lo berhasil dapetin hati dia kak. Karena masalah ini sedikit sensitif untuk Zea."


"Oke gue bisa terima jawaban lo. Pertanyaan kedua gue, Lo pasti tahu kenapa Zea bisa jadi sedingin itu. Bukannya Lo bilang kalau Zea itu sebelas dua belas sama Lo. Itu tandanya dia pecicilan kaya Lo yang nggak pernah bisa diem."


"Lo bener kak. Zea dulu kayak gitu, bahkan waktu SMP duku kita di juluki dua ketumbar. Entah karena suara kami yang udah kayak toa masjid dan tingkah yang nggak pernah bisa diem gue nggak tau tapi itu faktanya."


"Tapi yang harus gue terima kenyataannya, semua itu hanya dulu. Itu hanya Zea yang dulu."

__ADS_1


"Gue tahu apa yang Lo rasain put. Gue janji sama Lo, gue bakal usahain balikin Zea yang dulu lagi." Putri tersenyum haru.


"Gue berharap kak, ya walaupun gue nggak begitu yakin sama Lo. Tapi seenggaknya gue kasih kesempatan Lo untuk berjuang."


"Jadi menurut Lo ini adalah tantangan untuk gue."


"Ya, tentu. Dan kalau Lo berhasil nyelesain tantangan ini, Lamborghini gue sama Lo." Ucap Putri enteng.


"Sementang anak sultan, enak bener asal ngasih mobil ke orang." Cibir Azlan.


"Mau nggak?" desak Putri.


"Nggak Lo kasih hadiah juga gue bakal perjuangin Zea. Lagian gue nggak mau ah nantinya Zea ngira gue jadiin dia bahan taruhan. Gue nggak serendah itu kali."


"Gue nggak maksud begitu kali kak. Anggap aja mobil gue sebagai hadiah buat Lo." Ucap Putri lagi.


"Lo yakin put?" Azlina bersuara.


"Iya," ucap putri dengan anggukan cepat


"Iya, nanti dua hari tuh mobil di rumah gue, udah di cariin sama bokap Lo. Entar di kira gue kali yang kurang kerjaan make mobil Lo padahal gue punya mobil."


"Gue bakal bilang ke papa entar, dia pasti setuju. Atau bahkan dia bakal ngasih lebih dari Lamborghini ke Lo kak kalau Lo berhasil luluhin hati Zea."Jelas Putri mantap.


"Lo serius?"


"Iya. Zea itu udah di anggap kayak anak sendiri sama papa. Almarhumah mama Zea itu sahabat deket mama, bahkan sangking dekatnya mereka sepakat untuk menjodohkan anak mereka nantinya supaya bisa besanan. Tapi sayangnya gue cewek dan Zea juga cewek. Kalau gue cowok, harapan Lo untuk sama Zea pasti nggak akan ada kak."


"Ya karena emang nyatanya yakdir Zea berjodoh sama gue." Ucap Azlan percaya diri.


"Terlalu percaya diri anda mas." Cibir Putri.


"Tapi put, percaya diri harus banget. Kakak yakin Lo pasti bisa dapetin Zea Lan." Azlina bersuara. Kemudian mendekat ke arah Azlan.


"Tapi Lo perlu teknik untuk deketin Zea. Sama halnya kayak nyanyi. Kalau Lo nggak pakai teknik dalam mengolah vokal Lo, maka jatuhnya Lo nggak akan dapat menguasai lagu Lo. Sama halnya kayak Zea, kalau Lo nggak punya teknik dan taktik untuk menguasai cinta Zea, maka hasil yang Lo dapet akan sia-sia. Bukannya hati Zea yang Lo dapet, malah Lo akan terlihat seperti orang bodoh."


"Cari kesempatan dalam waktu yang selalu menguntungkan buat Lo. Anggap aja deketin Zea itu sebagai pertandingan. Setiap Lo dapet tanggapan ataupun respon Zea, maka poin Lo bertambah. Lo paham nggak."


"Nggak," ucap Azlan cepat diikuti gelengan kepalanya.


Putri hanya terkekeh pelan.


"Habisnya bahasa Lo terlalu tinggi. Otak gue lagi dawn untuk memahami semuanya. Tolong jelasin yang lebih sederhananya aja ngapa,"


Azlina menghela napas pelan. Sudah cukup panjang lebar ia berbicara. Bahkan mulutnya sudah berbusa. Azlan seenaknya meminta ia untuk mengulang penjelasan itu. Sungguh adik yang begitu menyebabkan.


Untung adik gue Lo Lan, kalau nggak udah gue slending ke puncak Semeru. Batin Azlina.


"Tapi kak sebelum Lo jelasin gue mau nanya satu pertanyaan lagi sama Putri." Putri menautkan kedua alisnya.


"Nanya apa lagi?"


"Zea punya adik?" tanya Azlan.


"Ya. Dia punya dua adik, satu cowok satu cewek. Yang cowok namanya Zeo dan yang cewek namanya Zia." Jelas Putri.


"Hah, jadi Zeo adiknya Zea?" kaget Azlan.


"Biasa aja kali kak," cibir Putri.


"Gue serius put," ucap Azlan serius.


"Gue juga serius kali kak. Kenapa? Lo pasti mikirnya mereka itu sepasang kekasih kan, kak? Kalau itu mah udah biasa."


Azlan hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Berarti selama ini ia cemburu pada orang yang salah. Zeo yang ia curigai ternyata adik dari Zea. Calon adik iparnya. Ya meskipun dirinya masih belum mendapatkan hati Zea, tetap saja percaya diri itu penting.


"Semua orang yang baru kenal sama Zea dan Zeo pasti mikirnya begitu. Wajar aja, salah satu alasannya karena wajah mereka nggak menunjukkan kakak dan adik karena emang nggak mirip. Wajah Zea itu sama kaya ibunya dan Zeo itu kaya ayahnya. Ditambah lagi tingkah mereka yang sungguh luar biasa menurut gue. Kadang bisa bertingkah melebihi sweetnya orang pacaran tetapi juga bisa bertingkah kaya musuh bebuyutan."


"Kalau Lo udah jumpa sama adiknya Zia yang bontot, baru Lo bisa simpulkan bahwa mereka itu kakak adik. Kenapa gue bilang gitu, karena wajah Zia itu mirip keduanya."


Azlan hanya diam, tampak ia sedang memikirkan sesuatu.


"Terus Rio itu siapa?" tanya Azlan lagi.


"Katanya satu pertanyaan lagi," sindir Putri. Azlan hanya memberikan cengiran tanpa dosa miliknya.


"Ini yang terakhir, hehehe."


Putri tersenyum kecut.


"Kalau Lo suruh gue jelasin tentang dia, gue males kak. Tapi intinya dia itu mantan Zea. Dan gue harap kalau Lo bisa jadian sama Zea Lo harus lebih baik dari Rio dalam membahagiakan Zea." Ucap Putri.


"Gue janji sama Lo. Gue bakal usahain itu semua."


"Gue pegang janji Lo." Ucap putri kemudian kembali fokus pada ponselnya.


* * *


Zea duduk di sebuah kursi yang ada di bawah pohon mangga depan rukonya. Memegang beberapa cup salad buah yang memang akan ia antar sore ini. Zea duduk sudah hampir lima belas menit disana. Namun yang ia tunggu masih belum juga menampakkan batang hidungnya. Yang tadinya fokus dengan ponselnya kita mulai bosan. Sesekali ia celingak-celinguk ke arah sekitar. Namun tetap saja yang di tunggu masih belum muncul.


Zea menghela napas pelan. Menyenderkan bahunya di kursi kayu buatan Zeo itu.


"Ze, belum datang Zeonya?" Zea menoleh ke sumber suara.


"Belum. Tahu nih anak nggak biasanya ngaret gini." Ucap Zea sedikit kesal.


"Hem, mau bareng gue aja? Kan sekalian gue mau delivery juga ini." Tawar Anna.


Zea tidak langsung menjawab. Memikirkan kalimat yang pas untuk menolak ajakan Anna. Bukan tidak ingin berangkat bersama temannya itu. Mengingat bahwa Anna adalah Sepupu Rio, Zea begitu enggan untuk terlalu dekat dengan gadis itu.


"Makasih deh An, kayaknya gue tunggu Zeo aja. Soalnya dia lagi dalam masa hukuman harus nganterin gue delivery selama seminggu." Sepertinya alasan itu yang pas untuk menolak Anna kali ini.


"Oh oke, kalau gitu gue duluan ya." Ucap Anna kemudian melajukan mobilnya.


Terkadang Zea heran kepada Anna. Gadis itu bukanlah dari keluarga miskin, sudah pasti dia tidaklah kekurangan uang seperti halnya Zea. Akan tetapi mengapa gadis itu mau bekerja menjadi reseller Zea. Entah bagaimana cara berpikir gadis itu. Padahal Zea tahu jika ia mau meminta orangtuanya untuk memberikan modal untuk membuat usaha pasti mereka akan dengan senang hati untuk memberikannya, bahkan mungkin usahanya akan jauh lebih besar dari usaha Zea ini. Akan tetapi gadis itu malah lebih memilih jalan seperti ini. Entah dia bodoh atau memang ingin belajar mandiri. Tetapi yang lucu dalam hal ini. Anna selalu menaiki mobilnya ketika delivery. Bukan karena dia tidak mempunyai motor hanya saja dia tidak pandai menaikinya dan lebih memilih mobil untuk menjadi kendaraan yang menemani pekerjaannya itu.


Tin....


Pria itu membuka helmnya. Kemudian ia tersenyum singkat, terlihat cukup manis bagi kaum hawa. Tetapi sepertinya tidak untuk Zea.


"Lo," pekik Zea.


"Hai cantik." Ucap Azlan dengan senyum yang terus mengembang yang sebenarnya membuat Zea muak.


"Kok Lo yang bawa motor gue? Zeo mana?" tanya Zea tidak suka.


"Kan ada gue cantik, kenapa harus nyari Zeo sih?"


"Udah ayo gue yang anterin Lo nganter itu pesenan semuanya. Mau nganter kemanapun bakal gue temenin deh."


"Nggak perlu!!" tolak Zea mentah-mentah.


Azlan menghela napas. Ia memang harus benar-benar sabar menghadapi gadis cantik di hadapannya ini.


"Dan stop panggil gue cantik,"


"Jadi Lo mau di panggil apa dong?" tanya Azlan.


"Terserah!!" jawaban ambigu yang selalu keluar dari mulut perempuan.


Azlan tersenyum penuh arti.


"Oke gue panggil sayang aja gimana?" tanya Azlan sembari menaik-turunkan alisnya. Zea menatap tajam Azlan, tatapan seakan ingin menguliti. Namun yang di tatap hanya tersenyum terus seperti orang gila.


"Dasar cowok gila, mimpinya ketinggian!!"


"Lo lupa sama peraturan gue?" Zea memicingkan matanya. Namun sedetik kemudian tatapannya berubah khawatir. Ada perasaan was-was ketika melihat tatapan Azlan. Ditambah suasana di sekeliling mereka cukup sepi.


"Lo berani macem-macem gue teriak!" ancam Zea.


Azlan sontak tertawa mendengar ancaman yang sama sekali tidak membuatnya takut.


"Lo mau teriak sampe suara Lo habis juga gue nggak peduli. Kalau gue mau gue bisa aja cium Lo di depan umum. Kalau perlu gue nikahin aja Lo sekalian."


Zea membelalakkan matanya. Entah apa yang ada di pikiran pria di hadapannya itu, sampai mengatakan kalimat itu. Sungguh gila. Ingin rasanya ngehujat tapi takut dosa. Puding sekali rasanya, kenapa harus ada makhluk seperti ini di bumi.


"Dasar cowok mesum!!"


Kemudian Zea bangkit dari duduknya, berjalan pelan menuju jalan raya. Dengan dua tangannya menenteng banyak cup salad buah yang sudah di satukan di dalam kantongan plastik.


Azlan tersenyum menang. Sungguh ia suka melihat wajah kesal Zea seperti itu. Entah mengapa menggoda Zea menjadi kebiasaannya sekarang.


Azlan memakai helmnya, kemudian menyalakan motornya lalu melakukannya pelan mengejar Zea yang sudah berjalan lebih dulu. Namun karena Zea jalan kaki, tidaklah sulit untuk menyamakannya. Dan sekarang Azlan sudah berada di samping Zea, dengan posisi menaiki motor dan Zea jalan kaki.


"Ze ayo, gue anter! Capek tahu jalan gini. Kasihan gue sama Lo."


Yang jalan gue dia pula yang sewot. Batin Zea.


"Lagian gue cuma mau bantu Zeo aja Ze. Lusa dia ada turnamen, jadi ini hari harus latihan. Jadi, berhubung gue adalah teman sekaligus pelatih yang baik. Gue nawarin diri untuk gantiin dia nganterin Lo." Zea hanya memutar bola matanya malas. Mempercepat langkahnya agar tidak terlalu dekat dengan pria gila di sampingnya itu. Namun usahanya hanya sia-sia. Karena dia jalan kaki, dan Azlan naik motor. Pastinya dengan mudah Azlan dapat menyamakannya lagi.


"Ayo Ze gue anterin. Oke iya gue ngaku salah, gue minta maaf. Lo mau kan maafin gue. Jadi ayolah gue anter sekarang."


"Lo mau gue anter kemana? Ke sungai? Ke hutan? Ke gunung? Bahkan ke pelaminan, gue siap nganterin Lo." Azlan semakin mengoceh tidak jelas. Sudah seperti burung yang bersahutan. Padahal dia hanya sendiri. Tetapi sudah mampu membuat kepala Zea ingin pecah karena ocehan tidak jelasnya.


Zea menghentikan langkahnya tiba-tiba. Membuat Azlan ikut berhenti secara refleks.


Azlan menatap Zea tetap dengan senyuman khasnya. Tetapi entah mengapa senyuman itu terlihat seperti senyuman mesum bagi Zea. Tidak ingin mendengarkan ocehan Azlan lagi, Zea langsung naik ke atas motor. Azlan kembali tersenyum melihat aksi Zea. Bahkan kali ini lebih lebar.


"Awas aja kalau Lo modus!!" ucap Zea.


"Tenang aja Ze, gue bukan tipe cowok begituan. Gue itu cowok yang,"


"Udah ah buruan jalan, nggak usah ngomong aja. Pelanggan gue udah nunggu nih." Potong Zea cepat.


Azlan hanya mengangguk mengikuti instruksi Zea. Tidak ingin macan betina di belakangnya semakin mengamuk. Untung cinta, kalau nggak udah gue giles pake gilingan cabe. Astagfirullah, nggak boleh gitu sama com istri Lan. Batin Azlan.


"Yaudah ayo buruan, malah ngelamun." Bentak Zea.


Azlan hanya mampu mengelus dada karena terkejut dengan ucapan Zea. Tidak ingin Zea semakin kesal Azlan langsung menyalakan motornya dan melakukannya dengan kecepatan sedang.


"Kita mau nganter kemana Ze?" tanya Azlan pelan. Memecahkan keheningan di antara mereka.


"Hem Lo terus aja entar di pertigaan belok kiri," jawab Zea. Dibalas anggukan kecil oleh Azlan.


Kemudian keheningan kembali terjadi di sepanjang perjalanan. Dan lagi-lagi Azlan lah yang memulai percakapan. Meskipun hanya di balas ucapan dingin atau bahkan sama sekali tidak di jawab oleh Zea, meski begitupun Azlan tidak menyerah untuk mendapatkan hati Zea.


"Satu poin udah gue dapat dalam permainan ini. Tinggal beberapa poin lagi untuk gue sampe ke level dimana Lo memberikan rasa itu ke gue." Batin Azlan berkata.


* * *


Azlan memarkirkan mobilnya di salah satu lapangan futsal favoritnya. Dimana tempat ini yang biasanya menjadi tempat penghilang masalah untuknya kini menjadi tempat yang secara rutin dia kunjungi. Setidaknya seminggu empat kali ia akan datang ke tempat ini atau bahkan lebih. Tidak hanya menyalurkan hobi. Tetapi juga berbagi ilmu dengan beberapa orang yang memang cukup ia kenal lama.


Zeo yang memanglah juniornya dalam olahraga bela diri pencak silat dulu meminta tolong padanya untuk berbagi ilmu namun tidak dalam hal bela diri tetapi dalam hal sepak bola ataupun futsal. Tentu dengan senang hati Azlan menerimanya, selagi dia libur kuliah. Jadwalnya kosong dan dapat ia manfaatkan untuk hal bermanfaat ini. Tidak hanya untuk berolahraga tetapi juga dapat memberikan apa yang ia punya kepada orang lain. Bukankah berbagi itu indah?.


Namun kali ini kedatangannya ke lapangan futsal memiliki tujuan lain. Meski tujuan awalnya tetap ada tetapi ada tujuan lain yang ikut bersamanya.


Azlan turun dari mobilnya kemudian berjalan menuju lapangan futsal. Mencari dimana Zeo berada. Namun sayangnya Zeo tidak ada di lapangan. Azlan melihat ke parkiran. Mencari motor metic yang biasa Zeo pakai. Ternyata motor itu ada. Tetapi mengapa sang empunya tidak ada.


"Woi bang, nyari siapa sih?"


Pucuk di cinta Yang di cari pun tiba. Ternyata Zeo baru saja keluar dari kamar mandi. Dapat dilihat dari wajahnya yang basah dan memang saat ini Azlan tengah berdiri di depan toilet umum yang ada di lapangan futsal ini.


"Nyariin Lo," jawab Azlan.


"Gue? Mau ngapain nyari gue?"


"Ikut gue bentar!" Azlan berjalan menuju parkiran, diikuti oleh Zeo di belakangnya.


Azlan memilih untuk duduk di salah satu motor yang entah punya siapa itu. Tanpa menunggu lama Zeo langsung menanyakan maksud dari ajakan Azlan ini.


"Ada apa bang? Ada masalah?" selidik Zeo langsung. Terlihat dari wajahnya yang bingung.


"Gue mau ngomongin sesuatu sama Lo Ze. Dan ini cukup privasi sih." Ucap Azlan memulai.

__ADS_1


"Tentang kakak gue?" tuding Zeo langsung.


Azlan tersenyum singkat. Teryata Zeo dapat membaca gerak-geriknya tanpa harus ia ceritakan terlebih dahulu. Tapi bagaimana dia secepat itu tahu?.


"Bingung kenapa gue tahu?" seolah dapat membaca pikiran Azlan. Entah terbuat dari apa Zeo ini. Atau mungkin dia keturunan cenayang yang dapat membaca pikiran orang lain.


"Apa yang Lo tahu Ze. Kan gue belum mulai ngomong." Azlan kembali bersuara. Namun kali ini lebih ke pertanyaan.


"Bang," panggil Zeo tenang. Menepuk sekali pundak Azlan.


"Lo juga punya kakak kan? Lo pasti nggak akan biarin hal buruk terjadi sama kakak Lo. Sama kayak gue, segala sesuatu yang akan berakibat buruk ke Zea gue berusaha mengantisipasinya."


"Gue tahu Lo suka sama kakak gue, bang. Lo pikir gue nggak perhatiin semuanya. Dari tatapan Lo ke dia, sewaktu Lo jumpa pertama kali sama dia di lapangan futsal kemaren, gue tahu Lo ada rasa ke kak Zea. Kenapa gue bilang begitu, karena gue nggak kenal Lo sehati dua hari bang, gue kenal Lo udah lama. Gue baru pertama kalinya ngelihat Lo begitu natap cewek dan tatapan itu ke kakak gue. Awalnya gue belum yakin sih bang sama apa yang gue pikirin, tapi ngelihat Lo nganterin dia kemaren buat gue makin yakin kalau Lo beneran ada rasa. Karena gue hapal banget, Kak Zea bukan cewek yang enak untuk mau dianter pulang. Gue yakin Lo pasti ngelakuin cara yang luar biasa sampe dia mau Lo anter."


Azlan hanya diam mencerna kalimat yang Zeo ucapkan itu. Ternyata benar kata putri. Zeo dan Zea seperti orang pacaran jika kita tidak tahu status sebenarnya. Perhatian dan cara Zeo dalam bersikap ke Zea itu sungguh berbeda. Ternyata Zeo adalah tipe cowok yang memperhatikan setiap sikap dengan rinci dan detail. Bahkan dia menghafalnya. Azlan tersenyum menatap pria yang lebih muda darinya itu. Namun sikapnya yang begitu dewasa mampu membuat Azlan kagum pada sosoknya.


"Tapi gue nggak akan dengan mudahnya biarin Lo deket sama kak Zea, bang." Ucapan Zeo langsung membuat senyum Azlan memudar.


Melihat perubahan sikap Azlan membuat Zeo tertawa.


"Lo kok malah ketawa," heran Azlan.


"Becanda kali bang." Ucap Zeo di sela-sela tawanya.


Azlan hanya mampu tersenyum kikuk kali ini.


"Jadi?" tanya Azlan.


Zeo menghentikan tawanya. Kemudian mengeluarkan kunci motornya. Memberikannya kepada Azlan.


"Apaan ini." Tanya Azlan bingun.


"Kunci motor gue," jawab Zeo apa adanya.


"Buat apa Lo ngasih gue kunci motor Lo Ze?" tanya Azlan semakin tidak mengerti dengan maksud Zeo.


"Gue mau kasih kesempatan buat Lo deketin kakak gue bang. Gue kasih dukungan penuh buat Lo, dan inilah salah satu caranya." Azlan masih tidak paham. Entah mengapa ucapan Zeo seperti bertele-tele saja.


"Gue ada janji sama kak Zea buat nganterin dia delivery saladnya. Gue mau lo yang gantiin." Kali ini Azlan baru paham. Senyumannya terukir kembali.


"Oke, tapi gue kan bawa mobil Ze. Kenapa harus naik motor Lo?"


"Terus menurut Lo kakak gue bakal mau gitu naik mobil Lo bang?" tanya Zeo.


"Nggak akan mau. Gue hapal banget sifat dia. Makannya itu Lo pake motor gue aja, mobil Lo tinggal aja di sini. Gue sama anak-anak kemungkinan sampe malam di sini."


"Tapi Lo latihan nggak ada gue nggak papa song?" tanya Azlan merasa tidak enak. Padahal hatinya udah girang karena akan bertemu dengan Zea.


"Udah nggak papa. Hari ini kita latihan sendiri aja, lagian kalau udah selesai nganter kak Zea Lo bisa langsung ke sini kan." Dibalas anggukan oleh Azlan.


"Yaudah buruan sana, kakak gue udah nunggu." Tanpa menunggu lama Azlan langsung berjalan menuju motor Zeo. Memakai helm milik Zeo kemudian mulai menghidupkan motor metic itu. Tidak perlu lama Azlan langsung melajukannya.


"Gue titip kakak gue!!" teriak Zeo. Dibalas acungan jempol oleh Azlan.


Akhirnya gue terbebas dari hukuman itu, ya meskipun hanya sementara. Gumam Zeo dalam hati.


Memang sudah Zeo rencanakan sejak tadi. Sembari mendekatkan Azlan dan Zea dia juga memanfaatkan hal ini untuk terbebas dari hukuman Zea hari ini. Zeo sudah dapat membaca gelagat Azlan yang memang menaruh hati pada kakaknya perempuannya itu. Tadinya Zeo yang ingin meminta tolong pada Azlan untuk menggantikannya mengantarkan Zea untuk delivery hari ini karena memang dirinya harus latihan futsal untuk turnamen yang tinggal beberapa hari lagi. Dan keberuntungan ada di pihaknya. Bersamaan dengan itu, Azlan sendiri mengungkapkan perasaannya terhadap Zea kepada Zeo. Sungguh nasib anak sholeh. Tidak perlu meminta tolong, pertolongan itu datang dengan sendirinya. Azlan sudah mengakui perasaannya dan Zeo tinggal memberi izin saja. Lagipula Azlan cukup gentleman dalam hal ini menurut Zeo.


* * *


"Stop di sini, itu rumahnya." Suara Zea menginstruksi. Dengan cepat Azlan langsung menghentikan laju motornya, mengikuti perintah Zea.


"Lo di sini aja, gue bentaran doang kok." Ucapnya kemudian melangkah menuju sebuah rumah yang terbilang cukup besar dan elit.


"Hem Ze," panggil Azlan.


Zea menghentikan langkahnya, sekian detik menoleh ke arah Azlan.


"Hati-hati, sayang." Tentunya kata sayang itu hanya Azlan ucapakan di dalam hati saja.


Zea mengangkat bahunya sekali kemudian tersenyum singkat. Senyuman yang mampu menyetrum tubuh Azlan seketika.


"Aduh senyuman Lo itu Ze, sungguh buat gue kecanduan." Ucap Azlan lirih.


Zea berjalan menuju gerbang yang cukup besar itu. Tidak ada bel di gerbang itu, Zea terpaksa berteriak untuk memanggil penghuninya.


"Assalamualaikum," teriak Zea.


"Waalaikumsalam," ucap seorang satpam. Kemudian satpam itu langsung membuka pintu gerbang.


"Ada perlu apa ya dek?" tanya satpam itu.


"Ini Om, mau nganter pesenan salad buah. Apa benar ini rumah Bu Riana?" tanya Zea memastikan. Jangan sampai ia salah rumah. Berdasarkan alamat yang diberikan oleh Bu Riana rumah ini sudah tepat. Tetapi bertanya lebih dahulu itu lebih baik.


"Iya bener dek ini rumah Bu Riana, kalau adek mau ngantar pesanannya nyonya lebih baik langsung masuk ke dalam saja. Nanti di dalam adek bisa kasih ke ART di rumah ini, itu tuh dia yang badannya kayak galon air mineral." Ucap sang satpam.


"Saya kebelet dek, jadi saya permisi ke belakang dulu ya." Ucapnya kemudian langsung berlari dengan cepat. Mungkin ingin buang hajat yang tidak dapat dipending lagi.


"Eh tapi om," namun satpam itu sudah berlalu saja.


Zea langsung masuk ke dalam rumah yang cukup mewah itu. Berjalan mengitari taman bunga mawar putih yang begitu indah.


"Mawar putih," gumam Zea.


Entah mengapa Zea merasa tidak asing dengan mawar putih ini. Mencoba mengingat siapakah yang berhubungan dengan bunga berduri ini. Langkah Zea terhenti ketika menyadari siapakah orang yang tidak asing dengan mawar putih.


"Nggak mungkin," gumam Zea lagi.


"Gue harap nggak ketemu dia di sini," ucap Zea penuh harap.


"Adek yang ngantar salad buah pesenan nyonya ya?" tanya seorang wanita paruh baya dengan celemek di tangannya.


"Eh iya Bu," jawab Zea seadanya.


"Kasih saya aja, tadi nyonya yang suruh ambilin ke kamunya." Jelas perempuan itu. Badannya cukup besar dan lebar. Pantas saja satpam tadi mengatakan bahwa badan ART yang harus Zea temui seperti galon air mineral. Tetapi senyuman wanita paruh baya ini cukup menenangkan dan hangat. Zea jadi teringat dengan ibunya.


"Ini uangnya," ucap wanita itu lagi sembari memberikan selembar uang seratus ribu.


Zea hendak mengatakan sesuatu.


"Kata nyonya kembaliannya ambil saja," seakan tahu apa yang akan Zea katakan.


"Oh gitu ya, kalau begitu sampaikan terima kasih saya ke Bu Riana ya Bu," ucap Zea ramah.


"Iya nanti saya sampaikan." Balas wanita itu.


"Kalau begitu saya pamit Bu, assalamualaikum." Tanpa menunggu lama Zea langsung beranjak dari tempat itu. Berjalan cepat menuju gerbang rumah. Hanya satu yang Zea harapkan yaitu tidak bertemu dengan orang yang sangat Zea hindari.


"Zea," suara itu. Suara yang begitu Zea kenali.


Langkah Zea terhenti. Bahkan untuk melanjutkan larinya seakan tidak bisa.


"Lo kok di sini?" ucapnya senang karena kehadiran Zea.


"Nggak penting, bukan urusan lo juga." Balas Zea datar. Kemudian berjalan pelan menuju gerbang rumah itu. Namun langkahnya terhenti karena cekalan dari pria yang mengajaknya bicara tadi.


Pria itu menarik lengan Zea kemudian mengunci tubuhnya di sebuah pohon mangga yang tumbuh di halaman rumah itu.


"Lo apa-apaan sih Yo?" pekik Zea. Jujur Zea sedikit kaget karena tarikan tangan Rio tadi.


Bahkan sampai sekarang tangan Zea masih di cekal kuat oleh Rio.


"Ze," lirih Rio.


"Please!! Gue mohon, kita balik kaya dulu lagi." Ucap Rio semakin lirih. Namun tubuhnya semakin condong ke arah Zea.


"Apa ucapan gue kemarin belum jelas Yo. Gue nggak bisa, dan gue nggak mau." Tegas Zea tetap dengan penolakannya.


"Kenapa Ze, gue cuma minta satu kesempatan aja. Kenapa Lo nggak bisa kasih itu ke gue? Apa secepat itu rasa sayang Lo hilang ke gue Ze," nada Rio mulai meninggi. Emosinya mulai naik. Terlihat wajah putihnya yang memerah.


"Apa Lo bilang? Kesempatan? Kesempatan apa hah?" Zea juga mulai emosi. Sungguh ia muak berhadapan dengan pria seperti Rio ini.


"Percuma gue kasih kesempatan itu ke Lo Yo. Karena ngasih kesempatan kedua itu cuma buang-buang waktu tau nggak. Dimana akhir dari ini semua juga bakal sama. Udah terlalu sakit yang Lo kasih ke gue Yo." Rasanya Zea sudah tidak tahan lagi ingin meluapkan semua beban yang selama ini ia pendam. Bahkan sedikitpun tidak pernah terucap di bibirnya.


"Kemana aja Lo Yo di saat gue lagi terpuruk? Dimana Lo saat ini? Dimana Lo di saat gue hancur dan nggak ada penopang hidup? Dimana Lo saat ini? Kenapa baru sekarang Lo Dateng dan minta balik ke gue? Kenapa Yo KENAPA?" Zea mulai terisak.


"Maafin gue Ze," lirih Rio. Cekalannya mulai mengendur. Rio mencoba menatap mata Zea namun Zea malah membuang tatapannya ke arah lain.


"Gue nggak buruh maaf dari Lo. Gue cuma minta jangan pernah ganggu gue lagi! Jangan pernah usik gue lagi, gue udah nyaman dengan kehidupan gue sekarang. Gue udah nata balik hati gue yang udah Lo ancurin." Bohong. Zea berbohong. Padahal sebenarnya hatinya semakin hancur dengan sikap Rio yang seperti ini.


Sebenarnya mudah saja untuk Zea memaafkan Rio. Lalu memulai kembali kisah mereka yang sempat tertunda. Namun Zea tidak ingin melakukan itu. Baginya kesalahan Rio dan sikapnya yang terlalu cuek itu tidak dapat di maklumi.


Saat Zea hancur dan kehilangan. Bahkan semua orang menjauhinya karena sakitnya yang memang tidak wajar dalam hal medis.


Zea memang sempat sakit yang berbau hal mistis. Dia sering kerasukan, Tubuhnya sering bergetar tiba-tiba. Karena hal itu semua orang menjauhinya. Hanya Putri, sahabatnya lah yang tidak pernah meninggalkannya. Semua teman Zea menjauhinya karena takut bahkan risih karena tingkah Zea yang kadang suka tertawa sendiri. Bahkan Rio yang saat itu berstatus sebagai kekasih Zea pun menjauhinya. Dengan alasan pergi ke luar negri padahal Zea tahu dia hanya ke luar kota beberapa hari saja. Tetapi di saat itu Rio tidak ada kabar hingga satu bulan lamanya. Namun Zea tetap berusaha tegar dan menyimpan semua sakitnya itu sendiri.


Sampai akhirnya ketika ia mulai sembuh dengan melalui pengobatan ruqyah. Beberapa kali terapi ruqyah ia lakukan. Tentunya dengan usaha dari diri sendiri juga untuk melawan penyakit itu. Zea memperbanyak ibadahnya dan berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan yang maha esa.


Sampai akhirnya yang namanya usaha tidak akan mengkhianati hasil. Zea mulai sembuh dan kembali normal. Yang biasanya sering tertawa sendiri atau bahkan tubuhnya bergetar sedikit demi sedikit mulai tidak ada lagi. Sampai akhirnya ia sembuh total sebelum ujian kenaikan kelas sebelas. Dan di saat kesehatannya semakin membaik Zea keambali terguncang, ibunya meninggal karena kecelakaan mobil. Dan di saat itu juga Rio tidak pernah muncul di kehidupan Zea hingga beberapa bulan masuk sekolah di kelas sebelas. Dan sekarang ketika Zea sudah mulai berhasil melupakannya dengan seenaknya dia ingin memulainya kembali. Bahkan akhir dari sebelumnya saja Zea tidak pernah tahu.


"Tapi Ze, gue nggak bisa." Rio kembali mencekal lengan Zea.


"Lepasin tangan gue Yo!!" bentak Zea. Ia berusaha keras melepaskan cekalan tangannya dari Rio. Namun tenaga pria ini jauh lebih kuat darinya.


"Nggak akan Ze. Kalau Lo nggak bisa gue dapetin dengan cara halus, maaf kalau gue harus pake jalan kasar." Ucapnya yang malu membuat bulu kuduk Zea meremang ketika mendengarnya.


"Ma--- maksud Lo?" ucap Zea mulai takut.


Rio menunjukkan smirknya, kemudian menarik paksa Zea ke dalam bagasi mobil dengan mulut Zea ia tutup dengan satu tangannya. Zea meronta-ronta agar cekalan itu terlepas. Namun percuma tenaganya tidak cukup kuat untuk hal itu. Zea hanya berharap Azlan di depan sana masuk ke dalam dan menyelamatkannya dari pria gila ini.


"Lepasin Zea," suara berat yang familiar di pendengaran Zea.


Rio menoleh ke sumber suara, kemudian menatap ke arah Azlan dengan tatapan meremehkan.


"Siapa Lo, merintah-merintah gue? Lagi pula ini rumah gue, Lo masuk tanpa izin dari gue."


"Gue nggak perlu izin dari siaoaoun untuk nyelamatin cewek gue dari pria brengsek kaya Lo."


B****ugh


Azlan langsung melayangkan pukulannya tepat di pipi Rio.


"Argghhh," erangan keluar dari mulut Rio. Zea tahu benar pukulan bekas Zeo kemarin masih berbekas di sana. Dan sekarang ditambah oleh Azlan lagi. Tetapi pria seperti Rio lantas mendapatkannya.


Azlan kembali memukul Rio membabi buta. Sungguh Ia ingin menghabisi pria itu karena sudah berani menyentuh Zea.


Dengan cepat Zea menarik Azlan. Tidak ingin hal buruk terjadi pada keduanya.


"Udah kan, gue nggak papa. Udah berhenti jangan pukulin Rio lagi,"


"Tapi dia berani nyentuh Lo Ze," ucap Azlan.


"Iya gue tahu, tapi gue nggak papa. Udah sekarang kita balik aja ya." Ucap Zea lembut dengan senyuman di wajahnya. Tetapi kali ini senyumannya sulit untuk Azlan artikan. Namun mampu membuat emosinya lirih seketika.


Azlan mendekati Rio. Mencengkram kerah baju pria itu.


"Sekali lagi Lo berani nyentuh Zea, gue jamin Lo nggak akan natap dunia besoknya." Ucap Azlan dingin.


Tidak hanya Rio yang merasa gemetar mendengar ucapan Azlan yang terdengar Tidka main-main, bahkan tatapannya seakan ingin membunuh langsung lawannya. Zea juga merasakan hal itu. Dengan cepat Zea langsung meraih lengan Azlan, untuk menjaga agar pria itu tidak sampai lepas kontrol.


Rio menatap Dea, seakan meminta jawaban atas ucapan Azlan tadi.


"Azlan pacar gue, dan Lo jangan ganggu gue lagi!!" ucap Zea dingin. Kemudian menarik Azlan keluar dari rumah Rio.


Rio hanya menatap nanar kepergian Zea dan Azlan. Rahangnya sekaan ingin lepas karena pukulan Azlan tadi. Bahkan rasa sakitnya melebihi pukulan Zeo kemarin.


"Shitt!!" umpat Rio kemudian berjalan masuk ke dalam rumahnya.


**Terima kasih sudah baca hingga episode ini


jangan lupa beri komentar dan like ya


Salam sayang Author**

__ADS_1


__ADS_2