Zeazlan

Zeazlan
Penampakan


__ADS_3

Zea berjalan dengan langkah lunglai, menguatkan hatinya supaya sanggup menatap seseorang yang akan ia lihat ketika membuka pintu di hadapannya. Ia memberanikan diri untuk membuka kenop pintu ruangan ICU lalu melangkah masuk. Benar saja, tubuhnya langsung lemas bersamaan dengan rasa nyeri yang mulai menjalar di hatinya. Tanpa Zea sadari air matanya menetes di pipi mulusnya itu.


Zea mendekat ke arah orang yang tengah terbaring lemah di kasur ruangan itu, dengan alat bantu pernafasan menempel di hidungnya. Dengan sedikit ragu Zea memberanikan diri untuk menggenggam tangan orang itu. Yang tidak lain adalah ayahnya.


"Apa kabar, Yah?" Zea menahan isaknya.


"Ayah udah lama nggak pulang, tapi kenapa pas pulang malah milih tidur di sini? Kenapa nggak pulang ke rumah aja?"


"Rumah kita emang udah di sita sih Yah, tapi kan kita bisa cari kontrakan, kita bisa tinggal di kontrakan bareng-bareng. Zea nggak masalah kok harus tinggal di rumah kecil sekalipun, asal kita semua bisa kumpul. Ayo yah buka mata ayah, tolong Yah jangan tidur terus kaya gini, Zea kangen kumpul bareng-bareng sama ayah." Tidak dapat tertahan lagi, tangis Zea akhirnya pecah.


"Zea lebih suka kalau ayah itu marah-marah sama Zea tapi ayah bangun dari pada diem dalam tidur kaya gini, bangun yah Zea mohon hiks,"


Zeo yang berada di belakang Zea tidak sanggup melihat kakaknya seperti itu. Sudah cukup sekali saja kakaknya merasakan kehilangan yang begitu mendalam. Jangan lagi untuk sekarang. Zea sudah mulai pulih saat ini, namun kenapa harus lagi dirinya kembali terguncang.


"Kak," panggil Zeo lembut.


"Ze, ayah Ze. Kenapa ayah tidur aja sih? Apa ayah nggak tahu kita udah di sini? Kenapa ayah nggak bangun Ze? Ayah pasti bangun kan Ze? Pasti kan," pertanyaan Zea yang bertubi-tubi itu membuat dirinya mulai lunglai. Untung saja Zeo dengan cepat memegangnya.


"Kak, Lo tenang ya. Ayah akan baik-baik aja," ucap Zeo berusaha menenangkan.


"Lo nggak bohong kan Ze?" Zeo mengangguk cepat.


"Gue nggak pernah bohong sama Lo, kak."


"Terus kapan ayah akan bangun?" tanya Zea lagi. Dengan tatapan kosong ke arah ayahnya yang terbaring lemah di ranjang.


"Kita tunggu aja ya, kita harus sabar."


"Lo harus yakin kak, kalau ayah akan baik-baik aja."


Zea mengangguk lemah.


"Apa Zia tahu keadaan ayah?"


"Nggak. Gue belum kasih tau dia."


"Kita rahasiakan aja dulu dari dia. Karena Zia pasti akan sedih banget kalau tahu hal ini." Ucap Zea.


"Iya kak,"


* * *


Zea keluar ruangan ICU dengan wajah sembabnya akibat menangis. Rambutnya tidak teratur lagi, bahkan orang gila penampilannya akan terlihat lebih baik dibandingkan penampilan Zea saat ini. Namun keadaan hatinya yang membuat Zea tidak lagi mempedulikan wajah serta penampilannya.


"Ze, gimana?" Azlan langsung mendekati Zea.


Zea menoleh ke arah Azlan. Air matanya kembali menetes, dan kali ini lebih deras dari sebelumnya. Tubuh Zea bergetar hebat bahkan terlihat begitu lemas. Dengan sigap Azlan langsung memeluk Zea. Berusaha menguatkan gadisnya itu melalui pelukannya.


"Jangan nangis, gue selalu ada buat Lo." Bisik Azlan lembut. Azlan menepuk pelan pundak gadisnya itu, berusaha menenangkan keadaan hatinya.


"Ayah gue koma Lan. Gue takut Lan, gue takut kehilangan lagi." Lirih Zea.


"Lo nggak perlu takut Ya, gue yakin ayah Lo pasti bisa ngelewatin masa koma nya. Mendingan sekarang Lo berdoa untuk kesembuhan beliau,"


Zea mengendurkan pelukannya. Azlan menangkupkan kedua tangannya di pipi Zea. Menghapus sisa air mata di pipi gadis itu.


"Mending sekarang Lo sholat dulu, minta kesembuhan sama Allah untuk ayah Lo ya," ucap Azlan lembut dengan senyuman yang begitu manis.


Zea berusaha menarik senyumnya, meskipun itu sangat sulit. Namun dia berusaha melakukannya untuk Azlan.


"Makasih ya Lan, Lo selalu ada buat gue." Ucap Zea tulus.


"Iya sayang,"


Zea tersenyum kemudian mengajak Azlan ke musholah yang ada di rumah sakit untuk melaksanakan sholat. Dia perlu menenangkan hati dan pikirannya.


* * *


Setelah selesai sholat, Zea kembali ke ruangan di mana ayahnya berada. Ia kembali menatap lekat wajah tampan ayahnya yang kini terlihat mulai menua. Wajah yang begitu ia kagumi dahulu. Wajah yang begitu ia banggakan dalam setiap hal. Orang yang selalu dapat ia andalkan dalam hal apapun itu. Dialah laki-laki pertama yang begitu Zea cintai. Namun semuanya berubah ketika kepergian bundanya. Zea tidak tahu kenapa. Namun hal itu benar-benar terjadi dan ia rasakan.


Cklek


Pintu ruangan itu terbuka. Zeo yang masih berada di balik pintu menatap iba ke arah Zea. Kakaknya itu masih tetap menatap ayahnya tanpa lengah sedetik pun. Bahkan Zeo tidak tahu kakaknya itu sudah makan atau belum. Zeo masuk ke dalam ruangan itu diikuti Azlan dibelakangnya.


"Kak, mendingan Lo pulang sekarang ya. Takutnya Tante Fida sama Om Antoni khawatir. Soalnya gue sengaja nggak kasih tau kabar tentang ayah ke mereka." Ucap Zea pelan.


Zea tidak merespon ucapan Zeo. Bahkan ia hanya menatap ayahnya dengan tatapan kosong.


"Gue mau temenin ayah di sini," ucap Zea datar.


"Kak, please kali ini aja dengerin gue." Zea menoleh ke arah Zeo. Ia memberikan tatapan tidak sukanya kepada adik laki-lakinya itu.


Azlan yang menyadari tatapan tidak baik dari Zea langsung mendekati gadisnya itu.


"Bener kata Zeo sayang, Lo pulang dulu ya. Besok gue anterin kesini lagi. Lagian Lo juga belum ganti baju, kasihan Zia pasti udah nungguin Lo,"


Zea menghela napas pelan. Lagi-lagi Zia dijadikan alasan oleh kedua laki-laki di hadapannya itu.


"Kenapa Lo nggak kasih tahu Tante Fida aja Ze keadaan sebenarnya, pasti dia ngertiin kenapa gue nggak balik ke rumah sekarang," ucap Zea enteng.


"Lo gila, kak."


"Lo tahu sendiri Tante Fida itu punya riwayat penyakit depresi berat, kalau sampe Tante Fida tahu hal ini, dia pasti kepikiran sama Lo. Apalagi kejadian yang udah pernah nimpa Lo kak, itu buat dia kepikiran Lo terus. Bisa jadi Lo yang sedih dan terpukul dia yang gila nantinya. Dan gue rasa nyembunyiin hal ini itu lebih baik,"


Zea masih kembali ingin bersuara. Namun Zeo langsung memotongnya.


"Gue nggak terima penolakan kak. Lo harus pulang sekarang sama bang Azlan. Atau Lo mau gue naikin ambulans buat nganterin Lo pulang? Atau nggak keranda sekalian?".


Zea membulatkan matanya.


"Dasar adik nggak ada akhlak, Lo doain gue mayi?" serang Zea.


"Gue bukan doain, gue cuma kasih pilihan. Lagian Lo tinggal pilih pilihan yang enak aja susah banget." Cibir Zeo lagi.


Sedangkan Azlan hanya mampu menahan senyumnya melihat dua saudara itu yang sedari tadi berdebat. Zea dengan sikap keras kepalanya dan Zeo yang suka ngasal dalam berbicara. Suatu perpaduan yang tidak sejalan namun tetap saja kemistri yang mereka berikan mengalahkan sepasang kekasih.


"Tau ah, ngeselin Lo ah. Yah lihat tuh Zeo ngeselin, " adu Zea kepada ayahnya yang masih terbaring nyaman di atas ranjangnya.


"Dih... kaya anak TK aja mainnya ngadu."


"Lah biarin, mana boleh sirik mble," balas Zea dengan sedikit menjulurkan lidahnya.


Satu hal yang dapat Azlan simpulkan dari diri Zea adalah. Gadis itu tidaklah pendiam dan dingin. Dia hanya butuh tempat dan lawan bicara yang tepat untuk menunjukan kehangatan dan keceriaannya, seperti sekarang inilah contohnya. Dan Zeolah objek yang membuat kepribadian lain Zea terlihat.


Zea bukanlah orang yang memiliki kepribadian ganda. Dia hanyalah seorang gadis yang tertutup karena kurangnya orang yang dapat ia jadikan sebagai sandaran dan penopang. Dia terlalu pandai menutupi kesedihan dan kesaktiannya namun tidak dapat berlaku adil pada dirinya sendiri. Karena hal itu membuat Zea menjadi orang yang tidak suka bermasyarakat bahkan berteman saja ia tidak suka. Hanya Putri lah yang berhasil menerobos benteng Zea. Dan tentunya saat ini Azlan juga mulai berhasil menghancurkan benteng itu sedikit demi sedikit.


"Bang buruan Lo bawa nih pacar Lo pulang. Suruh mandi, ganti baju biar nggak lecek kayak plastik kresek bekas terasi begini."


"Ngehinanya nggak tanggung-tanggung bah. Nggak sekalian aja Lo bilang gue sampah masyarakat yang nggak tahu tempat."


"Lo yang bilang ya kak, bukan gue lho."


"Gue kardusin juga Lo!!" sinis Zea.


"Dih sadiss!!"


"Bodi amat!!


"Lah amat aja nggak bodo,"


"Emang gue peduli,"


"Yah jahat dong, masa nggak dipeduliin? Sungguh teganya kamu duhai kasihku."


"Dasar alay!!" ucap Zea kesal.


"Udah jangan ribut, ini rumah sakit." Azlan bersuara.


"Berisik!!" ucap Zea dan Zeo bersamaan.


"Dih tadi ribut sekarang kompak bener," cibir Azlan.


"Yaudah Ze gue bawa Zea pulang dulu, lama-lama disini entar nih rumah sakit jadi ajang adu jotos Lo berdua pula,"


"Apaan sih lebay," cibir Zea.


Azlan menoleh sekilas.


"Ze sumpah kalau nggak sayang udah gue karungin kakak Lo, dari tadi ngomong mulu. Biasanya juga diem aja kaya kambing conge," bisik Azlan kepada Zeo.


Zeo terkekeh pelan.


"Hati-hati bang ngehadepin singa betina. Lebih parah dari psikopat kalau lagi ngamuk," Azlan mengangguk paham.


"Bisik-bisik apa kalian? Ngomongin gue ya?" selidik Sea curiga.


"Dih pede tingkat putri. Putri aja ogah satu tingkatan sama Lo, kak."


"Otak adek gue nggak beres,"


"lah otak gue sama otak Lo kan satu pabrik. Jadi sama nggak beresnya dong?"


"Astagfirullah ya Allah sabarkan hamba," gumam Zea.


"Aamiin," sahut Azlan langsung. Karena gumaman Zea tadi terdengar begitu jelas.


"Lo lagi, mau gue sunat. Ikut-ikutan lagi."


Azlan bergidik ngeri. Ternyata marahnya Zea melebihi psikopat itu ada benarnya. Begitu menyeramkan.


Zea berjalan mendekati ayahnya yang masih terbaring lemah.


"Padahal Zea udah ribut lho Yah, kenapa ayah nggak bangun juga? Kan Ayah biasanya langsung marah kalau ada keributan, tapi kenapa sekarang malah tidur aja,"


Zeo melihat Sea seperti itu kembali merasa sedih. Rasa kesalnya pada Zea tadi berubah menjadi rasa bersalah. Lagi-lagi ia tidak dapat membahagiakan Zea.


Azlan menghampiri Zea. Merangkul bahu gadis itu pelan. Seakan menguatkan gadis itu.


Padahal dalam hati Zea dia sudah ingin menyumpah serapahi Azlan. Pria itu tengah modus terang-terangan kepadanya.


"Kamu yang sabar ya, kita pulang sekarang." Ucap Azlan lembut.


Sabar sih sabar bang, tapi nggak usah rangkul-rangkul juga. Dasar cowo, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Menyelam sambil minum air ini mah namanya.


Zea menginjak kuat Kaki Azlan, membuat laki-laki itu meringis karena kesakitan. Melihat hal itu Zeo langsung tertawa. Namun tetap ia tahan karena sedang berada di rumah rumah sakit.


"Dasar cowo, tahunya modus doang."


"Lah salah gue apaan?" tanya Azlan bingung. Ia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.


"Tanya aja sama google atau nggak sama rumput yang bergoyang."


Kemudian Zea langsung meraih tangan ayahnya laku mencium punggung tangan ayahnya yang begitu lemas itu.


"Zea pulang dulu ya Yah, besok Zea ke sini lagi. Cepat bangun ya, jangan tidur terus kaya gini. Zea sayang ayah." Zea mencium pucuk kepala ayahnya lalu berjalan melalui Azlan tanpa melirik sedikitpun.


"Ze gue titip ayah. Lo jagain yang bener," ucap Zea. Kemudian berlalu melewati Zeo yang mengangguk paham.


"Sabar bang, ngadepin singa yang mood nya amburadul gitu, emang rada-rada susah. Tapi kalau udah berhasil jadi pawangnya insha Allah jinak kok," ucap Zeo dengan nada bercanda kepada Azlan.


Azlan memukul pelan kening Zeo.


"Yang Lo bilang singa tadi tuh pacar gue loh, jangan macem-macem sama pacarnya Azlan Malik kalau masih mau hidup."


"Dih ngancem? Aduh adek Atut bang sama anceman Abang," Azlan tertawa kecil diikuti Zeo juga.


"Gue cuma kasih tahu hal yang harus Lo tahu aja Ze," Zeo tersenyum hangat.


"Gue tahu bang, Lo akan selalu jagain kakak gue. Makannya gue percayain kak Zea sama Lo bang,"


"Gue akan jaga kepercayaan Lo,"


"Gue pegang ucapan lo, bang." Balas Zeo. Kemudian mereka memberikan tos ala laki-laki, lalu Azlan keluar dari ruangan itu. Ayah Zeo memang tidak lagi berada di ruangan ICU, dia sudah berada di ruang rawat setelah melewati masa kritisnya. Namun saat ini ia malah koma. Dan entah sampai kapan hal itu akan terjadi. Ayah mereka akan tidur sampai entah sampai kapan dia akan bangun. Zeo berharap hal itu secepatnya.


"Cepat sadar Yah, kami butuh ayah." Bisik Zeo tepat di samping telinga kanan ayahnya


* * *


"Ze,"


"Hem,"


"Zea." Panggil Azlan lagi.


"Hem," jawab Zea dengan jawaban yang sama.


"Zea Praisa Ulya," kaki ini Azlan memanggil Zea dengan nama lengkapnya.


Zea menoleh sekilas kepada Azlan. Kemudian kembali menatap kosong ke jalanan melalu kaca mobil.


Azlan menghela napas pelan. Sedari tadi Azlan sudah berusaha memulai pembicaraan, namun Zea hanya membalasnya dengan deheman saja. Untung sayang kalau tidak sudah pasti Azlan turunkan dari mobil sejak tadi.


"Sayang," panggil Azlan lagi. Dia masih belum menyerah.


Sebenarnya hati Zea menghangat dengan panggilan sayang dari Azlan barusan. Hanya saja keadaan hatinya membuat dirinya enggan untuk berusaha.


"Ze kita udah sampe di depan rumah Tante Lo dari setengah jam yang lalu, Lo mau terus di dalem mobil gue?"


Azlan mengatakan kalimat itu dengan hati-hati. Azlan tahu saat ini keadaan hati Zea sedang tidak baik. Bahkan sedari tadi air mata gadis itu menetes tanpa ia sadari. Azlan tahu itu karena ia memang memperhatikannya. Azlan tahu itu meskipun Zea berusaha menutupinya.


Ingin rasanya memeluk gadis itu. Menguatkan dirinya. Berusaha mengalirkan semangat melalui hangatnya pelukan dirinya. Namun hal itu Azlan urungkan, yang ada dirinya akan mendapatkan serangan Zea seperti tadi lagi karena di anggap modus. Padahal dirinya benar-benar tulus. Terkadang Azlan harus menyiapkan cara yang benar-benar menguras otak untuk mendapatkan respon baik dari Zea.


"Ze," panggil Azlan lagi. Karena gadis itu masih saja diam tanpa suara.


"Hem," hanyalah deheman saja.


Azlan menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Sungguh tingkah Zea menguji kesabarannya.


"Lo nggak mau turun?" tanya Azlan.


Kali ini Zea menoleh.


"Emang kenapa? Lo nggak suka gue di sini?"


Mati gue, salah lagi.


"Bukan gitu sayang,"


"Sayang-sayang pala lu peang lah." Ketus Zea.


Azlan menatap Zea tajam. Namun tatapan itu tidak menggentarkan Zea sedikitpun. Malah ia membalas tatapan Azlan sama tajamnya.


"Lo mau turun sendiri atau gue turunin?" suara Azlan terdengar datar namun Zea tahu dia tidak main-main dengan ucapannya itu.


"Gue nggak mau turun, baik itu turun sendiri ataupun Lo turunin." Jawab Zea tetap kekeuh ingin berada di dalam mobil.


"Lo mau ikut gue pulang?"


"Nggak."


"Yaudah turun!!"


"Males gue, mager." Jawab Zea tanpa dosa.


"Turun Ze,"


"Oh Lo ngusir gue,"


"Nggak, tapi Lo harus turun Lo belum ganti baju seragam dari pagi lho." Azlan tetap berusaha sabar.


"Bukan urusan lo,"


"Tapi Lo pacar gue,"


"Gue nggak peduli."


"Zea,"


"Apaan sih, manggil-manggil terus. Ngefans?"


Azlan menghela napasnya kasar. Kemudian ia keluar dari mobilnya lalu berjalan memutar mobil. Ia membuka pintu mobil sehingga dapat melihat Zea dengan jelas. Tanpa menunggu lama Azlan langsung menggendong Zea tanpa izin sang empunya badan. Zea sempat meronta namun hal itu hanya percuma, tenaga Azlan lebih kuat darinya.


"AZLAN TURUNIN GUE!!" teriakan Zea tidak Azlan pedulikan. Ia terus berjalan menuju rumah mewah yang ada di hadapannya itu.

__ADS_1


"Azlan anak setan turunin gue, Lo denger nggak sih. Tau Lo mau gue sunat, hah? Dasar cowok modus pake gendong-gendong segala, Lo sengaja kan? Woi Lan, turunin gue setan!!!!!"


Cup


Azlan mengecup singkat bibir Zea, membuat gadis itu langsung bungkam. Mulutnya langsung berhenti mengomel karena sentuhan sekilas dari bibir Azlan yang sebenarnya cukup manis.


Sedangkan Zea hanya terpaku sembari memegang bibirnya yang telah ternodai oleh Azlan.


"Gini kan lebih baik, nggak berisik!!" ucap Azlan dengan bangganya.


Zea ingin bersuara kembali namun langsung dipotong oleh Azlan.


"Lo bersuara lagi, gue cium lagi bahkan lebih dari yang tadi." Zea langsung bungkam. Ia menutupi bibirnya dengan cepat. Bahkan hampir seluruh wajahnya ia tutupi dengan kedua telapak tangannya. Dalam hatinya Zea sudah menyumpah serapah Azlan dengan berbagai nama anggota kebun binatang.


Dasar Azlan mesum terlaknat!!.


Setelah sampai di depan pintu Azlan langsung menurunkan Zea dengan hati-hati.


"Udah turunin tangan Lo, ngapain coba begitu." Ucap Azlan sambil terkekeh geli melihat Zea yang masih menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.


Zea menurunkan tangannya sedikit, sehingga memperlihatkan mata indahnya.


"Bibir gue baru aja Lo dizolimi, gue harus tutup dia rapat-rapat, bahkan kalau perlu kue pakein cadar kayak ninja Hatori."


Azlan kembali terkekeh. Ia mengacak pucuk kepala Zea.


"Eh-eh Lo pegang rambut gue lagi. Perlu keramas pake bunga tujuh rupa gue jadinya entar,"


"Dih lebay, dikira gue setan."


"Lah nggak nyadar, kan Lo emang setan."


"Mana ada setan seganteng gue,"


"Pede banget, dasar sok ganteng."


"Gue emang ganteng, jadi wajarlah sok."


"Terus gue peduli, ya nggaklah. Dasar setan mesum!!"


"Nambah lagi sebutan gue ceritanya, terharu gue Ze. Lo itu selalu kreatif bikin nama gue, jadi makin sayang." Azlan hendak memeluk Zea, namun gadis itu langsung menghindar.


"Mau gue tebas leher Lo berani peluk gue,"


"Serem bener pacar gue," ucap Azlan bergidik ngeri.


"Makannya jangan modus,"


"Emang peluk pacar sendiri modus yah, baru tahu gue,"


"Ya iyalah, kalau mau peluk-peluk halalin dulu, biar bebas." Ucap Zea.


"Ciee kode nih ceritanya," goda Azlan. Membuat Zea mengerutkan dahinya.


"Lo mau dihalalin sama gue yah Ze, mau kapan? Hari ini juga gue siap," ucap Azlan mantap.


"Otak Lo geser, dasar gila!!"


Zea langsung masuk ke dalam rumah, lalu segera menutup pintu rumah itu. Tanpa menawari Azlan masuk.


"Dih langsung masuk aja, tawarin mampir kek, minum atau apa kek,"


"Terima kasih juga kagak, atau nggak Salim sama gue atau nggak cium tangan."


Zea kembali membuka pintu rumah. Membuat Azlan tersentak kaget.


"Jangan Ngarep!!" Zea kembali menutup pintu dengan kuat.


Azlan hanya mampu mengelus dada melihat tingkah Zea.


"Untung gue sayang," gumam Azlan, kemudian ia berjalan pergi dari rumah itu. Masuk ke dalam mobilnya lalu melajukannya dengan kecepatan sedang.


Sedangkan Zea masih tetap setia berada di balik pintu rumah. Ia mengintip sedikit dari jendela, memastikan Azlan sudah benar-benar tidak ada di halaman rumah yang sempat menjadi rumahnya itu.


Zea menghela napas pelan. Dia sudah terlepas dari kandang singa, dan dia harap tidak masuk ke kandang buaya.


Zea mengambil ponselnya, membuka salah satu app di sana. Ia mengetikan sesuatu di benda persegi itu. Namun ada hal yang membuat Zea memicingkan matanya.


Pacarku Azlan Ganteng😍


Zea memutar bola matanya malas. Dia tahu benar siapa yang mengganti nama kontak Azlan dengan nama sealay itu.


Zea langsung menggantinya.


The ghost MESUM👻


"Ini lebih pantes," ucap Zea dengan senyuman. Senyuman yang sangat jarang ia tunjukkan kepada orang lain. Jika Azlan. melihat senyuman itu, sudah dapat dipastikan ia akan mengabadikannya di musium atau dapat dijadikan salah satu dari tujuh keajaiban dunia.


Zea mengetikan beberapa kata di ponselnya, lalu ia kirim ke Azlan, kemudian ia kembali memasukkan ponselnya ke saku bajunya.


Di sisi lain Azlan yang mengetahui ponselnya bergetar langsung mengeceknya, dia sengaja menepikan mobilnya karena tahu pesan itu dari Zea. Karena Azlan memprivasikan nada pesan Zea.


Azlan membuka ponselnya. Dengan cepat Azlan langsung membuka room chatnya dengan Zea, padahal ia tahunya hanya satu pesan yang Zea kirim namun itu lebih penting dibandingkan beribu pesan dari banyak cewek yang sudah lebih dulu ia arsipkan.


Jodohku❤️


Azlan sengaja mengganti nama kontak Zea seperti itu semenjak mereka jadian. Karena sejak itulah Azlan menganggap Zea sudah menjadi jodohnya.


Thanks anak setan udah nganterin, bae-bae Lo bawa mobil, Gue rasa Lo perlu di ruqyah supaya nggak modusan lagi. Untuk bibir gue yang udah Lo cium, tunggu aja pembalasannya👊


Azlan tersenyum lebar membaca pesan dari Zea. Meskipun penuh dengan hujatan tapi Azlan tahu Zea tulus mengucapkan terima kasih itu. Hal yang begitu jarang Zea lakukan. Dengan cepat Azlan mengetikkan balasan untuk membalaskan pesan Zea tadi. Setelah selesai Azlan kembali melajukan mobilnya. Tentu dengan senyuman yang begitu lebar.


Masih beberapa langkah Zea berjalan. Ponselnya kembali bergetar. Zea langsung mengambilnya dan mengecek. Ternyata ada pesan balasan dari Azlan.


The Ghost Mesum👻


Gue akan sabar menunggu itu sayang😘😘😍


Zea merona malu. Meski hanyalah sebuah pesan. Namun mampu membuatnya tersipu.


Zea tidak membalas pesan Azlan. Karena jika ia membalasnya Azlan pasti akan dengan cepat membalasnya kembali. Zea tahu Azlan masih menyetir, tidak baik berbalas pesan ketika sedang menyetir. Jadi Zea memilih membalasnya nanti saja ketika pria itu sudah berada di rumah. Akan lebih aman. Toh jika Zea hanya meread pesannya saja, Azlan pasti akan mespam chat dirinya kembali.


* * *


Zea melangkah masuk ke dalam kamarnya. Ia sempat bertemu dengan Fida sebelum masuk ke ruangan serba hijau ini. Zea tidak banyak bicara ketika berhadapan dengan Fida. Dan Fida juga sudah paham akan sikap keponakannya itu jadi ia langsung menyuruh Zea membersihkan diri dan berganti pakaian dahulu setelah itu makan bersama di meja makan.


Zea membuka tasnya, lalu meletakkannya di atas meja belajar berwarna biru yang sudah sejak dulu ada di dalam kamar ini. Kamar inisama sekali tidak berubah baik dari letak dan isinya. Hanya desain kaca jendela yang tampak berbeda. Zea tahu kaca itu telah diganti, karena terakhir kali Zea melihat kaca jendela itu pecah karena lemparan batu.


Zea berjalan menuju kasur tidurnya. Kasur yang begitu lama tidak ia tiduri. Semenjak mereka pergi dan menjual rumah ini. Dan ternyata paman Zea yang membelinya. Entah apa maksudnya, tetapi kenangan di rumah ini masih begitu melekat di ingatan Zea.


Ketika bundanya yang selalu setia mengajarinya bermain gitar di kamar ini. Mengajarinya bernyanyi, bahkan menceritakan pengalamannya di masa remaja. Tidak jarang bundanya menghabiskan waktu dengan Zea di kamar ini.


Hanya satu hal yang berubah. Foto di kamar ini sedikit bertambah. Ada foto Fida dan Rara terpampang jelas di dinding atas tempat tidur.


"Kak Zea," itu suara Zia.


Zea menoleh ke sumber suara. Adiknya itu tampak lesu.


"Iya dek,"


"Kakak buruan mandinya, ditunggu Tante Fida sama Om untuk makan malam bersama,"


Zea mengangguk. Kemudian mendekat ke arah adiknya.


"Kamu kenapa lesu?"


"Jangan di pikirin ya masalah rumah. Kak Zea janji kita akan segera pindah ke rumah yang baru, kamu jangan sedih." Ucap Zea lembut kepada Zia.


Zia menggeleng lemah. Ia berusaha tersenyum.


"Zia nggak sedih kok. Kalau Zia sedih pasti kak Ze sedih juga, jadi Zia nggak boleh sedih."


Zea tersenyum hangat. Ia mencium singkat pipi chubby adiknya itu.


"Anak pintar,"


"Zia ayo," Zea dapat mendengar jelas teriakan Rara, yang melebihi petasan itu.


Sepeninggalnya Zia tadi, Zea langsung masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan diri. Setelah itu ia beralih ke kopernya yang sudah berada di kamar ini entah sejak kapan. Mungkin Zeo yang membereskannya dan mengirimnya kesini. Bahkan untuk memikirkan pakaiannya saja Zea tidak ingat, karena begitu paniknya ketika mendengar kabar tentang ayahnya.


Setelah selesai mengganti pakaian dengan pakaian santai, Zea beralih pada sisir di meja rias lalu menyisir rambutnya pelan setelah itu mencepolnya asal. Meski begitupun Zea tetap kelihatan cantik.


Zea mengambil ponselnya yang sedari tadi bergetar. Tanpa melihat siapa si penelepon Zea sudah sangat hapal siapa yang menghubunginya itu. Dengan gerakan malas Zea mengangkatnya.


"Halo, apa?"


"Yaelah Ze, baru mau ngomong Lo udah ketus aja. Nggak boleh begitu sama pacar sendiri,"


"Ck, baru nelpon aja Lo udah ngeselin,"


"Hehehe janganlah sensi bosku, seksi aja boleh."


Zea membulatkan matanya. Ia menarik ponselnya dan mengarahkannya tepat di dipan mulutnya.


"AZLAN ANAK SETAN!!! DADAR MESUM!! GUE BENCI LO!!'


"Wih singa udah ngamuk, bahaya nih." Terdengar kekehan kecil dari seberang sana.


"Jangan marah-marah sayang, entar cantiknya hilang. Aku baru sampe rumah ini, masih di depan pintu malah."


"Sumpah nggak nanya,"


"Oh gitu ya, kamu jangan rindu bentar lagi aku telpon lagi ya, aku mau masuk dulu assalamualaikum sayang, I love you."


Bahkan tidak menunggu jawaban Zea yang pastinya kalimat yang tidak enak di dengar. Baik itu hinaan ataupun sumpah serapahnya, Azlan sudah menutup sambungan teleponnya terlebih dahulu, demi keamanan telinganya mungkin.


"Dasar anak setan sedeng,"


Dengan sedikit ngedumel Zea berjalan keluar dari kamar menuju ruang makan. Karena Fida dan Antoni sudah pasti menunggunya.


Tepat dugaan Zea, Fida dan Antoni tengah duduk di meja makan, mereka berdua secara serempak menoleh ke arahnya ketika mendengar derap langkah Zea menuruni anak tangga.


Fida tersenyum hangat ke arah Zea, namun Zea membalasny hanya dengan tatapan datar.


"Ayo Zea duduk, Om tahu kamu pasti lapar, kan?" berbeda dengan Fida tadi. Kali ini Zea membalas Antoni dengan sedikit lengkungan di bibirnya.


Zea melihat ke sekeliling, mencari beberapa sosok yang tidak ia lihat batang hidungnya.


"Rara sama Zia sudah makan lebih dulu, sekarang mereka udah di kamar, sepertinya belajar." Ucap Antoni seakan mengerti tatapan penuh tanya Zea.


"Kenapa nggak makan bareng?" tanya Zea.


"Ada yang Om sama Tante mau bicarakan, dan kayaknya hal itu nggak perlu didengar oleh Zia dan Rara." Jelas Fida, dibalas anggukan kecil dari Zea.


"Om sama Tante sempat kaget pas tahu rumah kalian di sita bank. Awalnya om udah sempat curiga karena sering ngelihat mama tiri kamu itu belanja barang mewah yang berlebihan. Om tahu itu dari sekretaris om yang emang sengaja om suruh untuk awasi mereka. Dan benar ternyata uang itu hasil dari penggadaian itu semua."


"Om sedang berusaha mencari keberadaan mereka. Bahkan om udah coba cari saudara tiri kamu itu di sekolah kamu, tadi pagi. Om sengaja temuin kepala sekolahnya langsung, dan ternyata dia sering nggak masuk sekolah. Bahkan sudah hampir seminggu gadis itu bolos."


Zea sedikit tersedak. Ia cukup terkejut mendengar hal itu. Pasalnya Faira selalu berangkat ke sekolah setiap pagi. Namun mengapa ia tidak hadir sudah hampir seminggu. Kemana Faira pergi ketika itu?.


Zea menghentikan pertanyaan yang ada di pikirannya. Untuk apa dia penasaran, bahkan gadis itu juga tidaklah pernah peduli dengan dirinya dan adik-adiknya. Bahkan mereka rela membuat Zea menderita demi kesenangan dan ketamakan mereka.


"Tapi kamu tenang aja Zea, om nggak akan biarin mereka terus bebas. Om akan terus cari mereka."


"Kami juga nggak usah khawatir tentang rumah. Rumah Tante selalu terbuka lebar untuk kalian," Fida menambahi.


Zea mengangguk tanda mengiyakan lalu kembali melanjutkan makannya. Dan makan malam itu berlanjut dengan keadaan yang cukup hening tanpa suara. Hanya dentingan sendok yang menemani ketiganya.


* * *


Azlan membuka pintu rumah dengan cepat. Langkah kakinya terdengar santai memasuki rumah mewah milik keluarga Malik itu. Langkahnya terhenti ketika melihat sebuah sosok yang tengah duduk santai dengan majalah di tangannya.


"Nagapain Lo di sini, kak?" suara Azlan membuat orang yang tengah asik membaca itu menoleh singkat.


"Suka-suka guelah, ini rumah gue juga kali." Balas Azlina sewot.


"Dih ngegas," cibir Azlan.


Azlina meletakan majalahnya, beralih pada benda persegi yang tadinya tergeletak manis di atas meja.


"Cielah yang pulang ngapel udah mancing emosi gue," sindir Azlina.


Azlan terkekeh pelan. Ia menghampiri kakaknya itu lalu bersandar di bahu kirinya tanpa meminta izin sang empunya badan terlebih dahulu.


"Mandi dulu sana Lo, bau asem." Protes Azlina. Sembari mendorong kasar tubuh Azlan.


Azlan mendengus pelan. Kemudian membenarkan duduknya.


"Mana ada cowok ganteng bau, yang ada itu selalu wangi kaya gue ini. Bahkan keinget gue aja idaman para wanita." Ucap Azlan dengan bangganya.


"Jijik gue denger kesombongan Lo sumpah, Lan."


"Gue ganteng jadi wajar sombong. Kalau gue burik pasti gue nggak akan sombong. Karna mau nyombongkan diri aja udah di lempar sama orang-orang ke kubangan,"


"Adik gue makin nggak waras."


"Ma, Azlan makin gila ma." Teriak Azlina ke arah dapur. Karena memang mama mereka sedang berada di dapur.


"Emang sejak kapan Azlan waras, Lin?" sahut Marisa ketika berjalan dari arah dapur menuju ruang tamu dengan dua gelas jus melon di tangannya.


"Yah mama di pihak kak Lina ceritanya ini,"


Marisa terkekeh pelan. Ia memberikan dua gelas jus itu kepada dua anaknya.


"Minum dulu, biar nggak emosi." Ujar Marisa.


Disambut dengan baik oleh dua anaknya itu.


"Mama tahu aja Azlan lagi haus."


"Kamu dari mana aja, Lan? Jam segini baru pulang? Kan nggak ada jadwal kuliah dan futsal hari ini."


Azlan meletakan gelasnya. Jus melon tadi sudah habis tak tersisa. Ia meminumnya dengan satu tarikan napas. Sungguh hal yang tidak baik untuk di tiru.


"Biasalah mah, ngapel." Bukan Azlan yang menjawab, tetapi Azlina.


Sedangkan Marisa hanya manggut-manggut tanda mengerti. Toh itu hal yang biasa.


"Ngangguk aja ya, kek udah biasa aja gitu." Sindir Azlan.


"Lah kan emang udah biasa Lo begitu. Lagian biasanya juga pulang pagi, nih tumben pulang malem. Untung aja nggak sampe seminggu baru pulang." Azlan menatap kakaknya tidak santai.


"Sensi bener kayaknya yah kak Lo sama gue, ngomongnya itu loh, nyesek sampe ubun-ubun."


"Emang ini pacar yang ke berapa Lan?" Marisa bersuara. Berusaha melerai pertengkaran anak-anaknya secara tidak langsung.


"Lupa mah, soalnya banyak banget mantan Azlan,"


"Laris bener, kek obralan di pasar Senen." Azlina bersuara kembali. Marisa terkekeh kecil. Sedangkan Azlan mulai kesal dengan kakaknya yang terus saja nyerocos, sudah seperti radio rusak.


"Mulut lancip bener. Ngomong terus, nggak cape apa?"


"Lah suka-suka gue. Lagian gue itu kesel banget sama Lo ya Kan," Azlan menautkan alisnya.


"Lah kok gue?" sahut Azlan tidak heran.


"Asal Lo tahu, gue di sini ini gara-gara Lo. Gara-gara Lo yang kasih alamat apartemen gue ke para mantan Lo jadi gue yang tersiksa tahu nggak. Tugas gue yang ketinggalan di apartemen jadi nggak bisa gue ambil karena mereka udah nunggu gue di depan pintu apartemen. Untung aja gue ngelihat mereka sebelum mereka ngelihat gue, jadi gue berhasil lolos. Sumpah ya Lan kalau bukan adik gue udah gue cincang Lo,"


Mendengar ucapan Azlina yang begitu panjang membuat tawa Azlan pecah. Dan hal itu benar-benar membuat Azlina semakin kesal pada adiknya itu.


"Mah lihat tuh Azlan, malah ketawa." Rajuk Azlina pada Mamanya.


"Dih masa ngadu, nggak asih ih."


"Lo sih ngeselin,"


"Lah salah gue apa?"


"Lo nggak nyadar juga, Lo itu udah salah besar karena kasih alamat gue ke mantan-mantan Lo."


"Lah itu sih urusan mereka kalau mau Dateng, lagian gue udah mutusin mereka semua dan nggak mau ada hubungan lagi dengan mereka." Jawab Azlan santai.


"Dasar gila,"

__ADS_1


"Gue juga lama-lama setres ngadepin mereka semua Lan. Lo tahu nggak dua hari lalu itu ada yang Dateng ngaku-ngaku hamil lagi. Apa nggak makin pusing gue,"


Azlan menatap Azlina serius.


"Lan kamu hamilin anak orang?" Azlina menatap Marisa sekilas.


"Lan kan udah mama bilang kalau pacaran itu jangan sampe kebablasan, kalau kamu udah nggak tahan nikah aja langsung. Jangan pake jalan pintas, buat malu mama aja kamu Lan. Pokoknya mulai sekarang kamu nggak boleh pacaran lagi,"


"Mah dengerin kak Lina ngomong dulu, lagian Azlan nggak mungkin lakuin hal bodoh begitu. Azlan emang suka ganti-ganti pacar, tapi bukan berarti untuk Azlan pake lalu buang, Azlan nggak seberengsek itulah. Azlan juga bukanlah seorang pedofil."


"Kamu serius?" tanya Marisa memastikan. Azlan mengangguk. Dan Marisa masih tetap menatap anak bungsunya itu mencoba mencari kebohongan di sana. Namun ternyata tidak dapat ia temukan.


"Iya mah, ternyata perempuan itu hanya pura-pura. Dia pura-pura pingsan dan muntah-muntah. Mama lupa anak mama ini dokter kandungan. Hanya dengan melihat wajah dan kantung matanya saja, Lina tahu kalau dia tidaklah hamil. Dan untuk memastikan lagi, Lina memaksa dia untuk mengecek menggunakan testpack, dan hasilnya negatif. Tapi tetap aja kejadian itu membuat Lina kesal setengah mati karena perempuan itu mengganggu pekerjaan Lina."


Marisa beralih menatap Azlan setelah mendengarkan penjelasan dari putrinya.


Sedangkan Azlan hanya memberikan cengiran tanpa dosa miliknya.


"Jadi sekarang siapa pacar kamu? Awas aja kalau ada lagi yang Dateng ngaku-ngaku hamil."


Azlan kembali nyengir lebar.


"Tenang aja mah, pacar Azlan kali ini akan menjadi pacar terakhir Azlan dan akan menjadi ibu untuk anak-anak Azlan."


"Dih bahasa Lo, alay!!" cibir Azlina jijik.


"Mah suara hati jomblo bersuara tuh," balas Azlan.


"Huss nggak boleh gitu Azlan. Kakak kamu itu bukan jomblo,"


"Terus apa mah?" tanya Azlina langsung.


"Belum laku,"


"Yah mama parah ah parah sama anak sendiri." Ucap Azlina drama.


Sedangkan Marisa sudah bangkit dari duduknya kembali menuju dapur.


"Lusa hari ulang tahun mama. Mama nggak mau buat party karena papa lagi ada kerjaan di luar kota yang nggak memungkinkan pulang Minggu ini. Jadi mama cuma mau kado dari kalian berdua bawa pasangan kalian ke rumah, ke hadapan mama."


"WHAT????" Azlina menatap mamanya dengan tatapan protes.


Sedangkan Azlan hanya memberikan senyuman santainya. Karena hal itu bukanlah jadi masalah buat dirinya karena dia ada Zea yang akan ia bawa.


Lain halnya dengan Azlina. Dia akan bawa siapa?. Dia yakin ini bukanlah hanya sebuah permintaan di hati ulang tahun mamanya. Azlina yakin mamanya sengaja melakukan ini karena Azlina belum juga memperkenalkan pasangannya ke orangtuanya hingga saat ini. Umurnya yang sudah hampir 25 tahun ini membuat dirinya terus mendapat desakan dari kedua orangtuanya untuk menikah. Mau nikah sama siapa? Pacar aja tidak ada?.


"Mah, bisa ganti bawaan boleh kan. Mobil kek, rumah kek, atau nggak kapal pesiar juga nggak masalah."


"Lo mau ngelelang kak?" sahut Azlan.


"Diem Lo," Azlina memberikan tatapan tajamnya ke arah Azlan.


"Mama nggak perlu itu, mama cuma mau ketemu sama calon menantu mama. Dan mama mau di hari ulang tahun mama, mereka datang. Dan untuk kamu Azlan, siapapun yang kamu bawa besok di hari ulang tahun mama dia harus gadis yang akan kamu nikahi. Mama capek terus-menerus denger keluhan Azlina tentang mantan kamu yang Dateng ngaku-ngaku hamil segala. Stres mama lama-lama. Kalau perlu mama nikahin juga kamu sekarang."


"Mama ngebet pengen punya cucu ya?" bukannya takut karena mamanya mengomel. Azlan malah menggoda wanita yang telah melahirkannya itu.


"Mama serius Azlan,"


"Jangan serius-serius mah, entar di tinggalin nyesek loh."


"Kamu kebanyakan makan apaan sih, kok makin gila mama rasa," ucap Marisa mulai kesal.


"Makan harapan yang tidak pernah pasti tujuannya mah, terus di gantungin kayak jemuran."


"Lina kamu suntik apaan gih adikmu biar sehat otaknya, ngeselin lama-lama."


"Suntik mati aja mah, kan beres." Jawab Azlina cepat.


"Dih sadis!!" balas Azlan sambil terkekeh.


"Udah ah mama mau masak. Intinya apa yang mana bilang tidak ada penolakan. Paham."


"Paham ini ratu," jawab Azlan cepat.


"Lina," tegur Marisa.


"Iya mah iya, paham." Jawab Azlina dengan ogah-ogahan.


Marisa tersenyum menang. Kemudian ia melanjutkan langkahnya kembali menuju dapur.


"Di mana gue dapet cowo dalam dua hari coba?" gumam Azlina, namun masih dapat terdengar oleh Azlan.


"Di pasar Senen kak, banyak tuh. Obral malah, sepuluh ribu tiga."


Dan saat itu juga aksi kejar-kejaran antara Aina dan Azlan dimulai. Ruang tamu yang tadinya rapi, kini berubah menjadi berantakan. Karena ulah dua saudara beda kelamin itu.


Sampai akhirnya Azlina tidak sengaja menyentuh guci kecil milih Marisa.


"******, mati gue!!" gumam Azlina.


"Mati Lo kak, guci kesayangan mama."


"Diem Lo," bentak Azlina langsung. Ia berjongkok untuk membersihkan puing-puing guci itu.


"Astagfirullah," ucap Marisa ketika sudah berada di hadapan Azlan dan Azlina.


Azlina memberikan cengiran tanpa dosanya. Sedangkan Azlan bersikap pura-pura tidak tahu. Itu akan jauh lebih aman. Karena singa rumah mulai bangun dan sebentar lagi akan mengamuk. Mungkin hanya hitungan detik saja.


"Kalian apakan guci mama?" teriak Matisa.


Dan mulailah ceramah seribu ayat terdengar. Bahkan telinga Azlan sudah sangat panas mendengarnya, begitupun Azlina. Namun mau bagaimana lagi, itu salah mereka karena bersikap kekanak-kanakan yang membuat benda kesayangan Marisa itu pecah.


"Sedih bat dah nasib gue. Pacar nggak ada, orangtua lebih sayang sama guci. Posisi gue dikalahkan oleh sebuah guci. Miris sekali anak muda." Gumam Azlina di dalam hati.


* * *


Zea melangkahkan kakinya menuruni anak tangga. Ia berusaha berhati-hati dalam melangkah, karena keadaan rumah saat ini sangatlah gelap. Zea berusaha mencari saklar lampu namun belum juga ia temukan. Tangannya terus meraba sampai akhirnya.


Cklek


Lampu menyala. Keadaan ruangan yang tadinya gelap kina sudah terang. Zea lanjut berjalan menuju dapur, mengambil botol untuk ia isi air minum. Ia memang turun ke dapur untuk mengambil air, karena ia lupa mengisi air minum ketika hendak tidur tadi, dan alhasil ia harus ke dapur lagi seperti ini di tengah rasa kantuk yang menyerang. Meskipun ngantuk namun rasa hausnya jauh lebih berat.


Zea menoleh ke arah kolam berenang. Dapur dan kolam berenang memanglah hanya dibatasi oleh dinding kaca saja, membuat kolam berenang terlihat jelas dari tempat Zea berdiri sekarang.


Zea memandang lurus ke arah kolam. Dia ingat benar, bunda nya begitu menyukai pemandangan itu. Pandangan bulan dan bintang yang terpantul oleh air kolam berenang. Meskipun gelap, tetap saja cahaya rembulan dan bintang terlihat begitu terang.


Zea tidak takut, meskipun berada di tempat itu sendiri. Padahal keadaan saat itu cukup seram. Karena hanya satu lampu dekat kolam yang menyala. Sedangkan lampu dapur tetap mati, karena tadi Zea hanya menyalakan lampu ruang tengah saja.


Namun ada sebuah pemandangan yang membuat bulu kuduknya sedikit berdiri. Ia melihat dengan jelas seorang wanita tengah berdiri di pinggir kolam menatap ke arah air kolam yang tenang. Zea tahu dirinya sedang tidak bermimpi. Ia sedikit takut, namun rasa penasarannya jauh lebih besar. Ia melangkah mendekat ke sosok perempuan itu. Zea mengatakan sosok itu perempuan bukan tanpa alasan, karna rambut hitam wanita itu tergerai indah itulah alasannya. Zea terus mendekat. Sampai akhirnya jaraknya dengan wanita itu hanyalah lima meter saja. Namun Zea masih berada di balik dinding kaca pembatas dapur dan kolam berenang. Zea tidak dapat melihat wajah perempuan itu karena perempuan itu membelakanginya.


Zea berusaha menoleh dan melihat ke arah bawah, memastikan kaki perempuan itu.


"Dia napak, fix bukan setan." Gumam Zea beranggapan.


Zea dapat melihat dengan jelas bahwa perempuan itu bukanlah hantu, karena dia memakai dress berwarna putih yang sedikit menggantung. Dress itu hanya sepanjang mata kakinya saja sehingga Zea dapat melihat dengan jelas kaki wanita itu yang menempel di lantai. Jika dress wanita itu menyeret hingga ke lantai, mungkin Zea akan meragukan pendapatnya tadi, tentang perempuan itu manusia atau setan.


Tetapi yang masih jadi pertanyaan di kepala Zea, siapakah perempuan di hadapannya itu? Mengapa ia berdiri di depan kolam sendirian seperti itu? Dan anehnya mengapa ia memakai dress berwarna putih dengan rambut tergerai bebas. Hal itu akan membuat orang yang melihatnya beranggapan dirinya adalah hantu.


Zea memberanikan diri untuk melangkah keluar dari pembatas kaca itu. Ia dapat melihat tubuh perempuan itu bergetar, bahkan Zea dapat mendengar ia terisak.


Dia nangis? Tapi kenapa?.


Zea terus melangkah. Sampai akhirnya perempuan itu hendak menoleh dan hal itulah yang Zea tunggu sejak tadi, namun disaat bersamaan sebuah suara memanggil nama Zea.


"Zea, kamu ngapain di luar?" Zea menoleh. Zea dapat melihat Om Antoni yang tengah menatapnya heran.


"Eh Om. Om ngapain di sini?" Zea menoleh ke tempat dimana wanita tadi berdiri. Namun wanita itu sudah tidak ada.


Cepet banget ngilangnya.


Antoni terkekeh pelan. Ia berjalan mendekati keponakannya itu.


"Kebiasaan kamu ya, ditanya malah balik nanya. Jawab dulu pertanyaan Om baru om jawab pertanyaan kamu," Zea hanya memberikan cengiran tanpa dosanya. Sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


"Zea tadi mau ambil air minum om. Soalnya sebelum tidur tadi lupa bawanya," Zea menjelaskan alasan ia berada di tempat ini sekarang.


"Mau ambil minum kenapa kamu ke kolam berenang? Mau minum air kolam," canda Antoni.


Zea terkekeh kecil.


"Ya nggaklah Om, tadi Zea kaya lihat perempuan berdiri di sini gitu om, jadi Zea samperin belum sempat nampak wajahnya om udah panggil. Om sih Dateng di saat yang tidak tepat, kan gagal." Ucap Zea menyalahkan Antoni.


"Lah mana Om tahu. Lagian kamu ngomong gitu buat om merinding aja," ucap Antoni bergidik ngeri.


"Ah om apaan sih,"


"Lah iya dong Ze, kamu lihat perempuan malam-malam gini. Emang kamu tahu ini jam berapa? Ini udah jam setengah dua belas tahu nggak. Terus kamu nampak perempuannya pake baju apa? Jangan bilang putih?"


"Putih Om," jawab Zea sedikit ragu.


"Ih Ze kamu jadi bikin takut om aja. Udah ah Om mau ke kamar aja, kamu juga langsung ke kamar. Nanti perempuan itu muncul lagi gimana? Kan serem," Antoni langsung pergi meninggalkan Zea yang masih berada di kolam berenang.


Zea kembali melihat ke sekeliling kolam. Berusaha mencari sosok yang ia lihat tadi. Zea yakin yang ia lihat bukanlah setan atau hantu. Zea yakin wanita tadi itu manusia. Sama seperti dirinya.


"Si Om Cemen banget sih, masa gitu aja kabur. Lagian gue yakin yang gue lihat bukanlah hantu,"


* * *


Seorang wanita duduk diam di atas kasur dengan memeluk lututnya. Dia yakin pasti setelah ini dia akan di marahi lagi. Dan hal itu terjadi terus-menerus ketika ia melakukan kesalahan yang sama. Apa boleh buat? Ia melakukan hal itu karena rasa bosan yang memanglah manusiawi terjadi pada diri manusia. Ia begitu takut sebenarnya, namun dalam hatinya terus berusaha untuk tetap berani.


Tiba-tiba saja ada tangan kekar yang memeluknya dari belakang. Sontak hal itu membuatnya sedikit terkejut. Wanita itu tidak bergerak sedikitpun, tidak perlu melihat siapa yang memeluknya dia sudah sangatlah hapal dari parfum yang menyeruak ke Indra penciumannya yang masih berfungsi dengan baik.


"Kenapa diam aja?" suara itu terdengar begitu lembut. Hal yang membuat wanita itu heran juga takut. Ini tidak seperti biasanya.


"Kamu tidak perlu takut," ucapnya seakan mengetahui isi pikiran wanita itu.


Pria itu mengendurkan pelukannya. Ia menyelipkan anak rambut wanita itu ke telinganya karena sedikit berantakan. Ia menarik wanita itu supaya menghadap dirinya. Wanita itu hanya dapat tunduk tanpa berani berkata sepatah katapun.


"Jangan nunduk aja, cantiknya nggak kelihatan." Ucapnya begitu lembut, ia menarik dagu wanita itu dengan telunjuknya.


"Kamu nggak marah?" tanya wanita itu sedikit ragu.


"Sedikit sih, tapi sayang aku lebih banyak. Jadi nggak bis marah ke kamu," ucapnya dengan nada menggoda.


Wanita itu sedikit tersenyum. Ia senang karena hal buruk tidak terjadi.


"Tapi kalau kamu ulangi kesalahan itu lagi, aku nggak jamin loh, nggak bakal hukum kamu." Tegasnya tiba-tiba. Dan wanita itu mengangguk dengan cepat.


"Yasudah, ini sudah malam. Kamu tidurlah, aku akan kesini lagi besok pagi. Dan aku janji kita akan segera keluar dari tempat ini, supaya kamu bebas untuk melihat dunia." Ucapnya kemudian mengecup singkat kening wanitanya itu.


Wanita itu memberikan senyuman termanisnya. Senyuman yang mampu menenangkan siapapun yang melihatnya.


"Kamu senyum gitu terus aku jadi nggak mau pergi deh," ucap pria itu menggoda.


"Ih kamu bisa aja,"


Pria itu mengacak asal pucuk rambut wanita itu. Kemudian ia beranjak dari duduknya.


"Kamu langsung tidur ya, sampai ketemu besok I love you,"


"I love you too," kemudian pria itu pergi dari ruangan itu.


Meninggalkan wanita itu sendirian. Namun bukannya tidur wanita itu masih berkutat pada pikirannya. Jujur sebenarnya kepalanya sedikit sakit, namun ia tidak mengatakannya pada pria tadi karena tidak ingin pria itu khawatir yang berlebihan akan keadaannya. Wanita itu yakin sakit kepalanya akan segera pulih sebentar lagi.


Namun entah mengapa sakit itu semakin lama semakin menjadi, bahkan membuat dirinya hampir pingsan. Namun entah mengapa di tengah sakit kepala yang begitu dahsyat itu, ia seakan mengingat satu nama. Namun terasa sulit untuk ia ucapkan meski terlintas jelas di dalam ingatan. Wanita itu terus berusaha mengingatnya tanpa ingin membuat dirinya sampai pingsan. Ia berusaha mengontrol dirinya semampu yang ia bisa. Sampai akhirnya sebuah bayangan terlintas di ingatannya, serta nama yang bersamaan dia ingat juga.


Dan ketika itu juga sakit kepalanya mulai mereda. Ia mengambil air minum yang ada di atas meja di sebelah tempat tidurnya. Ia berusaha menstabilkan dirinya. Ia menarik napas dalam lalu membuangnya perlahan. Napasnya sedikit terengah-engah karena sakit kepala yang cukup membuat otaknya seakan ingin pecah.


Ia berusaha mengucapkan nama itu. Meskipun bibirnya bergetar hebat.


"Zea,"


* * *


Zea melangkahkan kakinya keluar dari pekarangan rumah yang sempat menjadi rumahnya itu. Ia berjalan cukup jauh dari rumah. Entah apa yang ada di pikirannya. Dia berusaha bangun sepagi mungkin untuk mengindari sarapan bersama Tante dan om nya. Alasan tugas yang menumpuk karena akan segera memasuki bulan penuh dengan ujian serta bertugas piket di kelas membuat dirinya berhasil lolos tanpa kendala. Ia sempat ragu untuk berangkat duluan karena memikirkan Zia, namun Zea tahu Zia pasti akan berangkat bersama dengan Rara karena sekolah mereka itu berdekatan.


Zea merogo ponselnya, lalu menyambungkan panggilan ke salah satu kontak di ponselnya.


"Halo, Ze."


"Halo, ada apa kak?"


"Gimana keadaan ayah?"


"Masih sama seperti yang Lo lihat kemaren, kak."


Zea menghela napas pelan. Ia tahu kemungkinan untuk ayahnya sadar itu begitu tipis namun, Zea tetap yakin ayahnya pasti akan selamat.


"Oke, gue kesana sekarang."


"Lo nggak sekolah?"


"Sekolah, lagian masih jam segini juga. Gue masih ada waktu tiga puluh menit lagi sebelum bel masuk. Lagipula rumah sakit dan sekolah itu searah jadi nggak repot,"


"Yaudah terserah Lo aja, oh iya kak sekalian ya beliin gue bubur ayam. Gue belum sarapan, laper banget nih."


"Bisa laper juga Lo ternyata, kirain nggak." Ucap Zea sedikit terkekeh.


"Lo kira gue Famvir yang nggak perlu makan tapi tetap kuat. Gue manusia normal oi,"


"Dih ngegas, dasar jomblo bawaanya emosi aja." Cibir Zea setengah bercanda.


"Yah sementang udah punya pacar ngehina jomblo seenaknya yah, gue doain putuss!!"


"Nggak takut di cincang senior Lo doain dia begitu,"


Zeo berdecak kesal.


"Oke gue tarik doa gue, bye. Puas Lo!!" tanpa menunggu jawaban dari Zea, Zeo langsung menutup sambungan teleponnya.


Zea kembali terkekeh karena berhasil membuat Zeo kesal. Dan hal itu membuat dirinya tidak sadar bahwa ada orang yang sedari tadi memperhatikannya.


Zea memasukkan ponselnya kedalam tas. Namun setelah ia mendongak melihat pria yang tengah mantapnya dengan senyuman ceria yang begitu memabukkan kaum betina membuat Zea jijik. Jika betina lain terpesona namun lain halnya dengan Zea, rasanya ingin sekali melempar sepatu sekolah ke wajah sang pemilik senyum.


"Lo ngapain di situ?" sinis Zea.


"Jemput pacar gue dong," jawab Azlan santai seperti di pantai.


Kali ini pria itu membawa Fortuner miliknya.


"Gue nggak mau bareng Lo, gue mau naik angkutan umum aja." Tolak Zea mentah-mentah.


"Gue nggak terima penolakan," ucapnya yakin.


"Gue nggak mau," tegas Zea lagi."


"Atau Lo mau gue pake cara lain buat ajak Lo , yang pastinya Lo bakal suka." Sahut Azlan.


Ia berjalan mendekati Zea membuat gadis itu melangkah mundur dan menjauh. Azlan menarik lengan Zea lalu membawanya menuju mobil. Zea berusaha melepas cekalan Azlan namun hal itu begitu sulit. Karena perlawanan Zea yang membuatnya sedikit kesal, Azlan langsung mengendong Zea. Namun kali ini tidak seperti bridal style.


Azlan menggendong Zea dengan posisi kepala Zea di pundaknya. Serta bokongnya yang ia tahan dengan tangannya. Zea memukul pundak Azlan, berteriak supaya pria itu melepaskan nya. Namun hal itu hanyalah percuma, Azlan sama sekali tidak terpengaruh. Azlan memasukkan Zea ke dalam mobil lalu menutup pintu mobil dengan cepat. Setelah itu ia masuk ke dalam mobil tepat di kursi kemudi.


"AZLAN KURANG AJAR!! gue benci Lo!!" pekik Zea langsung sembari memukul-mukul pundak Azlan.


"Biarin, habisnya Lo sih ngeyel banget jadi cewe. Nurut aja apa susahnya sih sama gue,"


"Iya gue nurut sama Lo. Turunin gue sekarang!!" Zea hendak keluar dari mobil. Namun Azlan lebih dulu menguncinya. Ia melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


" Lo ngeselin memang yah, dasar pemaksa!!"


"Biarin Yang penting gue sayang," ucapnya bangga.


Sedangkan Zea hanya diam sembari menyumpah serapahi pria itu di dalam hatinya yang sejak tadi bergemuruh ingin keluar.


"Dasar anak setan mesum pemaksa,"


"Tambah lagi nama gue."


"Kamu memang kretaif sayang. Jadi makin cinta deh,"


Mendengar ucapan Azlan Zea seakan ingin muntah. Begitu alay dan lebay. Hal yang begitu tidak Zea sukai.


Gue slending sampe ke Pluto juga lama-lama nih cowok.

__ADS_1


__ADS_2