
Apakah dunia ini terlalu sempit sampai aku harus bertemu lagi dengan dia
-Zea Ulya Praisa-
Zeo memarkirkan motornya pelan. Membuka helmnya cepat, kemudian menarik tangan Zea. Entah mengapa Zeo terlihat terburu-buru.
"Ze, tunggu bentar ngapa." ucap Zea. "Helm gue belum gue lepas," kemudian Zea melepaskan helmnya.
"Buruan, gue udah nggak tahan."
Dahi Zea berkerut.
"Lo kenapa? Kaya orang sesak boker aja." Tanya Zea.
"Emang," jawab Zeo cepat.
"Udah ah buruan."
"Terus kalau Lo sesak boker kenapa malah ngajak ke tukang martabak telor. Lo kira di sini ada pelayanan untuk orang yang mau buang hajat." cibir Zea.
"Gue mau boker dulu ah. Lo banyak tanya, kesel gue. Lo aja yang pesen martabaknya, entar gue yang bayar." Kemudian Zeo langsung berlari meninggalkan Zea.
"Pantes aja di motor diem aja, gue kira karena sedih eh ternyata karena sesak boker." gumam Zea.
"Untung adik gue."
Zea menatap tukang martabak telor tidak jauh dari dia berdiri. Zea berjalan mendekati tukang martabak telur itu.
"Hmm Bang martabak telornya tiga ya, di bungkus." Ucap Zea.
Tukang martabak telor itu melirik Zea.
"Beli Lima aja neng, biar dapet bonus satu porsi martabak spesial." Tawar tukang martabak.
Zea hanya melirik sekilas tukang martabak itu.
"Nggak bang, tiga aja." Ucap Zea tidak tertarik dengan tawaran sang penjual martabak.
"Oke mbak," ucap tukang martabak.
Zea hanya menghela napas pelan. Menatap tukang martabak sekilas. Dasar tukang martabak aneh, sesukanya aja manggil orang. Tadi neng sekarang mbak, ya kali gue nikah sama Abang dia.
Zea memilih duduk di salah satu kursi yang ada di situ. Memainkan ponselnya, mencoba mengecek notifikasi yang ada.
Sebuah notifikasi muncul, dari nomor yang tidak dikenal.
0822xxxxxx
Maaf untuk tadi
Zea menatap bingung layar ponselnya. Siapa pengirim pesan ini. Mengapa pesannya berisi permintaan maaf. Zea tidak paham maksudnya.
Zea memilih menutup room chatnya dengan nomor tidak dikenal itu. Kemudian membuka sebuah grub chat salad miliknya.
**Zeasldbuahππ
Anti Fahziah**
Ze pesenan gue hari ini lima ya
Anna Fahmira
**Punya gue tujuh ya ze
Gue ambil jam lima nanti
Ze
woi
mana nih bocah yah**
Anti Fahziah**
@**Zeaulyapraisa Anda dimanakah?
mengapa tidak muncul**??π
Zea langsung mengetikkan sesuatu di layar ponselnya.
Sorry guys gue lupa kabarin
hari ini kita close order ya. Gue lagi nggak bisa open salad hari ini
ββ
**Sorry banget
ββ
gue lupa ngabarin tadi
ββ
Anti Fahziah**
yah gimana dong Ze
Sorry banget guys, hari ini gue mau ngeluangin waktu buat adik-adik gue.
ββ
Anti Fahziah**
yaudah dehπ΄
Gue close aja pesenannya**
Iya
ββ
Sorry Na, gue lupa kabarin
ββ
Anna Fahmira**
Nggak papa sayang
Santuy aja kaliππ
gue tahu owner juga butuh istirahatπ€£
Heheh iya-iyaππ
ββ**
Anna Fahmira**
**Besok kita open order lagi kan?
Iya Na
ββ**
Kemudian Zea langsung menutup ponselnya karena sebuah suara menarik perhatiannya. Karena sebelumnya Zea mendengar suara itu begitu familiar. Namun Zea berusaha untuk tetap tidak peduli.
"Bang jual martabak ya?" tanya sebuah suara.
Zea hanya mendengarkannya saja, tidak menoleh siapa yang berbicara.
"Iya, mau beli ya mas?" tanya tukang martabak.
"Hemm iya. Pizza-nya dong bang, dua ya yang spesial." Ucap suara itu lagi.
Zea langsung mendongak, mencoba mengenali siapa si empunya suara itu.
"Heheh mas bisa aja. Saya tuh tukang martabak bukan pizza. Masa iya pesennya pizza spesial yang ada martabak spesial mas." jelas tukang martabak, ia terkekeh mendengar lelucon pemuda itu.
"Tapi kalau saya maunya pizza Abang bisa apa?"
Dasar pria gila, masa iya beli pizza di tukang martabak. Batin Zea.
Zea tidak dapat mengenali siapa pria itu, namun dari pakaiannya Zea seperti pernah melihatnya. Namun dimana?. Pria itu membelakangi Zea, sehingga Zea tidak dapat melihat wajahnya.
"Eh dah, si mass ngajak ribut mah kalau begitu." Ucap Tukang martabak dengan nada bercanda.
"Hehe, iyaiya bang. Martabak telornya ya dua, tapi jangan pakai telor."
"Benar-benar gila tuh orang," gumam Zea. Hanya dia yang mendengar suaranya yang sangat pelan itu.
"Beneran ngajak gulat kayaknya."
"Nggak ah nggak. Martabaknya dua ya bang. Saya tunggu di sana." Kemudian pria itu duduk.
Zea merasakan pria itu mendekatinya. Zea hanya bersikap tidak peduli. Toh Zea juga tidak mengenalnya.
"Hemm, gue boleh duduk di sini?" tanya pria itu. Namun suara bas nya menghentikan aktivitas Zea. Zea langsung menoleh ke arah pria itu.
"Lo,"
"Lo cowok meffffttt." mulut Zea langsung di tutup oleh pria itu. Padahal Zea belum menyelesaikan ucapannya.
"Ssttt, mulut Lo lemes bener ah. Jangan ngomongin gue cowok mesum di depan umum." Bisik pria itu. Yang tidak lain adalah Azlan.
Zea melepaskan kasar tangan Azlan dari mulutnya.
"Yang Lo lakuin tadi sumpah. Sesak!!. Habis makan apaan sih Lo? Bau bener tuh tangan." Gerutu Zea.
"Gue habis nyedot WC tadi. Ya mungkin pas cuci tangan nggak bersih jadi bau-bau gimana gitu masih nempellah," ucap Azlan santai. Dengan cengiran yang membuat Zea ingin muntah saat itu juga.
"Lo kira gue percaya gitu. Becanda Lo nggak lucu dan garing sumpah." Cibir Zea. Kemudian ia memalingkan wajahnya ke arah lain.
Azlan menghela napas pelan. Ternyata menaklukan hati gadis ini cukup sulit. Batin Azlan.
"Yaudah kalau nggak percaya. Gue nggak paksa juga," ucap Azlan
"Yaudah," balas Zea
"Yaudah kok." Tambah Azlan.
Sedangkan tukang martabak telor yang melihat tingkah mereka hanya mampu menggelengkan kepalanya.
"Lo kesini beli martabak?" tanya Azlan menyudahi perdebatan mereka yang tidak ada habisnya.
"Nggak!!"
Azlan memicingkan matanya.
"Jadi Lo ngapain di sini?"
"Nggak urusan lo," teriak Zea kesal.
Sejak tadi pagi memang Zea sudah sangat kesal dengan pria di sampingnya ini. Dan dengan enaknya saja dia lari ketika kekesalan Zea belum terluapkan, lalu sekarang dia datang lagi dan menambah rasa kesal itu. Bahkan sekarang sudah berubah menjadi rasa jengkel.
Azlan tertawa kecil, namun lebih telihat seperti senyuman yang memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Ngapain Lo senyum? Dikira iklan pasta gigi apa?" cibir Zea dengan nada ketusnya.
"Ya elah cantik dari tadi marah-marah Mulu nggak capek apa? Gue kan cuma nanya kenapa Lo ada di sini, gue kira mau beli martabak jadi mau gue bayarin gitu."
"Nggak perlu," ucap Zea cepat.
"Oh oke," jawab Azlan acuh tak acuh.
Kemudian keadaan menjadi hening.
Azlan menatap Zea lekat. Memperhatikan setiap lekukan wajah gadis di sampingnya itu. Satu hal yang dapat Azlan simpulkan. Cantik.
Zea menatap Azlan datar, ketika menyadari pria di sampingnya itu sedari tadi menatapnya.
"Ngapain Lo ngelihatin gue?" ketus Zea.
"Lo cantik," ucap Azlan tulus.
Zea menghela napas pelan. Sungguh ia jengah berada di dekat pria satu ini. Entah sudah berapa kali dia mengatakan dirinya cantik. Ya memang Zea tahu dirinya itu cantik, tapi tolonglah jangan terlalu diperjelas dengan selalu mengatakan kalimat itu. Zea tidak suka.
"Gue tahu gue cantik, emang kenapa? Lo suka sama gue?" entah mngapa pertanyaan itu dengan lancarnya keluar dari mulut Zea.
"Iya, gue suka." Jawaban itu langsung keluar dari mulut Azlan.
Zea tidak terkejut mendengar jawaban Azlan. Raut wajahnya biasa saja, bahkan terlihat cukup tenang.
Sedangkan Azlan sudah merasakan degub jantungnya berdetak di atas normal, karena saat ini mata mereka bertemu.
Sampai sekian detik Zea menyudahi tatapannya, Zea menatap ke arah lain.
"Udah gue duga," ucap Zea.
"Tapi boong." Tambah Azlan.
__ADS_1
Kemudian tawanya pecah. Karena melihat wajah kesal Zea.
Kenapa Zea harus ketemu makhluk begini sih ya Allah. Gumam Zea dalam hati.
"Neng udah siap martabaknya." Ucap tukang martabak.
Zea langsung berdiri dari duduknya.
"Mas punya mas juga udah nih," ucap tukang martabak lagi.
"Berapa?" tanya Zea.
"Empat puluh lima ribu aja mbak," jawab tukang martabak.
"Tadi Lo bilang nggak beli martabak. Ternyata beli, Lo boong tadi kan." Serbu Azlan langsung.
"Gue bilang tadi kan nggak urusan Lo. Mau gue beli martabak kek, mau beli siomay kek mau beli apapun itu, gue nggak harus lapor ke Lo kan?."
"Iya-iya. Nyerocos aja tuh mulut, kaya knalpot motor."
Zea hanya diam tidak memedulikan ucapan Azlan barusan.
"Mau gue bayarin?" tawar Azlan.
"Nggak perlu," jawab Zea cepat.
Azlan hanya m menghela napas pelan. Harus benar-benar sabar menghadapi gadis di sampingnya ini
Zea merogo saku trainingnya. mencoba mencari lembaran kertas bernominal disana. Namun tidak ada.
"Astaga gue lupa. Gue kan kesini bareng Zeo. Tuh anak kemana ya, kok belum muncul juga." Gumam Zea. Tidak sengaja Azlan mendengar ucapan Zea.
"Punya gue berapa bang?" tanya Azlan.
"Martabak spesial kan?" tukang martabak mastikan. Azlan hanya mengangguk.
"Empat puluh ribu," ucap tukang martabak.
"Emm Bang tunggu bentar ya, adik saya belum dateng, uang saya sama dia soalnya."
"Iya mbak," jawab tukang martabak.
Zea kembali duduk di kursinya tadi. Sungguh kekesalannya semakin bertambah. Tadi Azlan sekarang Zeo. Sungguh moodnya hancur hari ini.
"Mana Lo sih Ze? Lama banget bokernya." gumam Zea dengan suara kecil.
Melihat Zea semakin kesal Azlan hanya tersenyum kecil. Cewe kesel lucu ya ternyata.
"Ini bang uangnya," ucap Azlan sembari memberikan selembar uang seratus ribu.
"Sekalian bayar punya cewe itu." Ucap Azlan sembari menunjuk Zea.
"Oh pacarnya ya mas?" tanya tukang martabak. Azlan hanya tersenyum kecil. Dalam hati dia hanya mengaminkan saja. Bukankah ucapan adalah doa?.
"Tapi kok dari tadi berantem aja saya lihatnya?" tanya tukang martabak lagi. Sepertinya tukang martabak ini memiliki rasa penasaran yang tinggi.
"Biasalah bang cewe," jawab Azlan seadanya. Karena memang biasanya perempuan kalau lagi bad mood suka bikin bingung. Dia tahu itu karena kakaknya juga perempuan dan dia juga sering pacaran dengan perempuan. Azlan laki-laki tulen, jadi tidak mungkin dia mau sama laki-laki. Jeruk makan jeruk dong jadinya.
"Kembaliannya ambil Abang aja, jangan bilang kalau saya yang bayarin ya. Bilang aja udah di bayar." Tukang martabak mengangguk. Kemudian Azlan melangkah pergi meninggalkan Zea yang masih cemberut di tempat tukang martabak telur itu.
"Oi cantik," Zea menoleh. Menatap Azlan tajam.
"Wiihhh santai matanya kali."
"Apaan?" tanya Zea ketus.
"Gue duluan ya bye." Azlan langsung pergi menuju mobilnya yang terparkir di sebrang jalan.
"Bodo amat!!"
"Eh tuh bocah naik mobil, kenapa bisa tadi jumpa sama gue pas joging. Apa dia ngikutin gue ya?" tanya Zea heran.
"Woi kak, udah Lo pesenin martabaknya." Suara Zeo memecahkan lamunan Zea.
Zea menatap Zeo dengan tatapan tidak santai.
"Ngapa Lo ngelihatin gue begono? Serem tahu ah kayak diintimidasi gue." Zeo bergidik ngeri.
"Lebay Lo. Udah buruan sana bayar tuh martabak telor keburu selera makan gue hilang." Ketus Zea.
Zeo langsung menuruti ucapan Zea. Tidak mau berurusan dengan singa betina itu. Tamat riwayatnya nanti.
"Boy martabak kakak gue mana?" tanya Zeo. Ternyata tukang martabak itu bernama boy. Zeo mengenalnya karena dia memanglah teman sekolah Zeo, waktu SMP. Dia tidak melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMA karena keuangan keluarga. Dan lebih memilih untuk membantu ibunya berjualan martabak telur seperti ini.
"Oh dia kakak Lo?"
"Iya,"
"Kenapa diam-diam aja punya kakak bening begitu bro? Nggak asik lo,"
"Sengaja. Dia galak soalnya." Ucap Zeo dengan nada becanda. Dan pastinya dengan suara yang sangat pelan supaya Zea tidak mendengarnya. Jika Samapi Zea mendengarnya sudah pasti Zeo akan tamat saat ini, karena Zea sedang berada di fase emosinya yang akan meluap-luap.
"Terus cowok yang sama dia tadi siapa?" tanya Boy.
Zeo mengerutkan dahinya.
"Cowok? Siapa emangnya?" tanya Zeo balik.
"Kebiasaan orang Indonesia mah gitu ditanya malah balik nanya." Cibir Boy.
"Ya karena gue nggak tahu tuh cowo siapa makannya gue tanya lo, soalnya gue kesini cuma berdua aja sama kakak gue." Jelas Zeo.
"Oh gitu ya? Soalnya tuh cowo juga yang bayarin martabak kakak Lo." Sebenarnya Boy tidak ingin memberi tahu. Tetapi karena Zeo adalah teman sekaligus sahabatnya dia takut pria tadi memiliki niat tidak baik dengan kakak sahabatnya itu.
"Jadi ini udah di bayar?" tanya Zeo. Sembari menerima bungkusan martabak telur itu.
"Udah,"
"Yaudah deh makasih ya. Besok kalau tuh orang beli lagi ke tempat Lo sampaikan ucapan terima kasih gue." Ucap Zeo. Kemudian berjalan mendekati Zea.
"Aman," jawab Boy singkat. Kemudian ia kembali melayani pembeli.
Zeo langsung menghampiri Zea yang sedang memainkan ponselnya.
"Ayo," ajak Zeo.
"Cepet banget, udah di bayar?" heran Zea. Karena memang Zea tidak melihat Zeo mengeluarkan uang untuk membayar martabak itu.
"Udah."
"Emm Lo tadi di sini sama siapa, kak?" Zea menoleh ke arah Zeo, menatap datar adiknya itu.
"Tadi kata si Boy, martabak telornya udah di bayar sama temen Lo. Katanya sih cowo, emang siapa yang sama Lo tadi di sini di saat gue nggak ada."
Zea hanya mencoba mengingat siapa teman laki-lakinya yang bersamanya tadi. Seinget Zea tidak ada.
"Perasaan setahu gue, Lo nggak punya teman deket cowo lah."
"Nah itu Lo tahu. Jadi nggak perlu gue jelasin kan, karena emang nggak ada."
"Terus yang bayar ini siapa? emang cowo yang sama Lo tadi di sini siapa? Ya mungkin aja bukan temen Lo atau kalian pernah ketemu sebelumnya, pastinya sedikit banyak kalian ngobrol kan?"
Zea mencoba mencerna ucapan Zeo. Dia ingat sekarang. Zea yakin pasti laki-laki itu yang membayarnya tanpa sepengetahuan Zea. Zea menatap Zeo datar.
"Gue nggak tahu, nggak ada temen gue di sini tadi. Lagian udahlah nggak penting juga, anggap aja rezeki anak sholeh pagi-pagi."
"Udah siang kali," cibir Zeo. Namun Zea pura-pura tidak mendengar ucapan adik laki-lakinya itu.
Zea langsung menarik Zeo menuju tempat parkir motor mereka. Tanpa menunggu aba-aba Zea langsung memakai helmnya.
"Ayo pulang!" ucap Zea.
"Loh kok pulang?"
"Jadi mau kemana lagi?" tanya Zea.
"Kita ke ruko Lo aja ya. Entar agak sorean gue mau ngajak Lo ke suatu tempat dan gue yakin Lo suka." Jawab dan ajak Zeo.
"Serius?" tanya Zea semangat.
Zeo hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Emang dimana tempatnya?" tanya Zea antusias.
"Lo juga nanti tahu. Udah yuk buruan naik." Zea memanyunkan mulutnya, karena tidak mendapatkan jawaban dari Zea.
* * *
"Sejak kapan Lo temenan sama tukang martabak?" pertanyaan itu muncul di sela-sela makan Zea.
Mulutnya kini penuh dengan martabak telor yang saat ini hanya tersisa beberapa potong lagi.
Zeo menoleh ke arah Zea, sedetik kemudian senyumnya mengembang.
"Bukannya jawab malah senyam-senyum." Cibir Zea.
Zeo mengambil tisu yang tergeletak tidak jauh dari duduknya.
"Nih belepotan semua." Ucap Zeo sembari membersihkan sisa minyak yang ada di bibir Zea.
Sedetik kemudian pandangan mereka bertemu.
"Ze," gumam Zea.
"Ha,"
"Kok gue geli ya lihat muka Lo dari Deket gini." Ucap Zea. Namun Zeo hanya memberikan tatapan datar dan terus membersihkan bibir Zea.
"Muka Lo mirip topeng monyet," tambah Zea.
Zeo menatap tajam kakak perempuannya itu.
"Kalau gue topeng monyet, Lo apaan?" sindir Zeo.
"Gue pawangnya dong," ucap Zea bangga.
"Lo kata gue ular pake pawang segala!!" sergah Zeo.
"Yaudah gue ganti deh nggak usah monyet ataupun ular."
Zeo memicingkan matanya. Menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut Zea.
"Buaya aja buaya."
"Lo kita gue buaya darat?"
"Bukan. Lo bukan buaya darat Ze." Ucap Zea.
"Terus?" tanya Zeo.
"Buayangan masa lalu yang nggak pernah hilang." Kemudian Zea langsung pergi menuju toilet.
"Dia barusan ngebucin atau apaan yah? Lah kakak gue bukannya anti dengan kebucinan? Kok tiba-tiba begitu?." Heran Zeo.
"Jangan-jangan,"
"Jangan-jangan apaan?" potong Zea cepat ketika keluar dari kamar mandi.
Zeo menatap tajam Zea. Sedangkan yang ditatap hanya memutarkan bola matanya malas.
"Biasa aja kali tuh mata, lagian gue ngomong begitu bukan berarti itu yang terjadi sama gue Ze. Jangan terlalu cepat menyimpulkan." Jelas Zea. Sembari menuangkan air ke dalam gelas.
"Terkadang apa yang kita dengar bukanlah yang sebenarnya terjadi. Karena sekarang, lebih banyak pemain sinetron di dunia nyata yang selalu memainkan dramanya." Tambah Zea lagi. Kemudian ia meneguk minumannya.
Zeo menatap bingung Zea.
"Ucapan Lo terlalu dalam mbak. Adek Zeo kagak ngarti." Cibir Zeo.
"Lagian yang namanya hidup itu nyata, bukan masalah drama atau tidaknya. Tetapi emang kenyataan hidup itu yang lebih pedih dan sakit dibandingkan dengan drama yang ada di film."
"Ya mungkin kaya kita ini." Zea menoleh ke arah adik Zeo. Yang saat ini sudah menidurkan badannya di lantai yang hanya berlapis karpet kecil yang ada di ruko Zea dengan kepala yang disanggah dengan tangannya.
"Nggak boleh ngeluh Ze," peringati Zea.
Zeo menoleh sekilas ke arah Zea. Lalu sedetik kemudian tersenyum. Tapi kali ini senyumannya, sama sekali tidak dapat Zea jelaskan maksudnya. Entah itu senyuman senang ataupun mengejek.
"Gue nggak ngeluh kak." Ucap Zeo sembari menatap kosong langit-langit ruko.
"Terkadang gue suka kesel aja sama orang yang nggak bersyukur gitu loh. Selalu aja ngeluh sama keadaannya padahal tanpa dia tahu banyak orang lain yang lebih sulit."
"Tetapi di sisi lain gue juga bangga sama orang yang nggak pernah ngeluh dengan apa yang terjadi sama dia. Bahkan untuk menceritakan kepedihannya aja dia nggak mau, entah dia berusaha menutupi atau mungkin berusaha untuk nggak ngeluh dengan manusia. Dia lebih percaya menceritakan masalahnya dengan Tuhan dibandingkan dengan sesama makhluk."
Zea menatap singkat Zeo. Zea paham siapa orang yang dimaksud dari ucapan Zeo barusan. Orang itu tidak lain adalah Zea sendiri.
Zea mendekati Zeo, kemudian berbaring di samping adiknya itu. Menatap wajah adiknya sekian detik lalu beralih menatap langit-langit ruko. Sama seperti Zeo.
Tiba-tiba suasana menjadi hening sekian detik.
"Terkadang manusia lebih memilih menutupi masalahnya dan mengubur dalam-dalam karena merasa masalah itu terlaku tidak penting untuk diceritakan." Zeo hanya diam mendengarkan ucapan Zea. Bahkan saat ini dia menunggu kalimat selanjutnya dari mulut Zea.
"Adakalanya masalah itu harus di simpan atau mungkin dilupakan meskipun itu sulit."
__ADS_1
"Emang Lo udah lupa sama luka Lo itu?"
Zeo bangkit dari tidurnya. Dia duduk dengan kaki dilipat.
"Insha Allah udah." Ucap Zea mantap. Kaki ini Zea berusaha memejamkan matanya.
"Kak, gue boleh minta sesuatu nggak sama Lo." Ucap Zeo. Dengan pandangan sendu.
"Apaan? Gue nggak punya duit. Nggak bisa beliin Lo apa-apa." Cerocos Zea langsung. Entah mengapa pemikiran Zea langsung ke uang.
"Lo mah, gilak nggak punya uang aja. Lo juga yang bilang nggak boleh ngeluh, lah ini apaan?"
"Gue kagak ngeluh bambank. Gue hanya memperjelas. Lagian Lo tumben-tumbenan minta-minta sama gue," Kali ini kepala Zea sudah beralih ke paha Zeo.
"Pinjam paha Lo bentar."
"Lo kira paha gue koprasi yang melayani jasa pinjam meminjam." Cibir Zeo. Namun Zea tidak peduli dengan ucapan adiknya itu.
Zeo menghela napas pelan. Memainkan sedikit rambut Zea, ingin rasanya menjambak rambut ini. Namun Zeo urungkan niatnya, karena dia masih punya iman dan hari yang bersih sebersih baju yang baru dicuci.
"Gue cuma minta Lo jangan berhubungan lagi sama Rio." Ucap Zeo datar.
Meskipun nada yang keluar dari kalimat itu pelan. Tetapi mampu menggentarkan hati Zea.
"Tahu apa Lo tentang dia Ze. Bukannya dulu Lo yang dukung gue sama dia?" cibir Zea.
Zeo menghela napas pelan. Ucapan Zea memang tidak salah. Zeo lah yang selalu mendekatkan kakaknya itu dengan Rio dulu. Selain Rio adalah satu tim futsalnya dulu tetapi dia juga senior yang paling dekat dengan Zeo. Dan alasan itu menjadi dasar pendekatan Rio dan Zea pada masa itu.
"Dulu dan sekarang itu beda kak. Gue dulu dukung Lo karena gue lihat ada kebahagian yang terlihat ketika Lo sama dia. Kalaupun gue di kasih kesempatan untuk kembali ke masa itu, gue pasti akan melakukan hal yang sama, karena apa? Dia bisa buat Lo bahagia dan ketawa lepas, dan hal itu nggak bisa gue lakuin."
Zea membuka matanya. Menatap dalam adiknya itu. Terlihat wajah Zeo yang mulai sendu.
"Dia orang lain di keluarga kita, tapi Lo bisa Deket banget sama dia. Lo juga selalu ketawa lepas kalau bareng dia. Gue juga tahu Lo selalu curhat sama dia. Bahkan hal yang nggak pernah Lo ceritain ke gue, Lo cerita sama dia. Gue tahu kak, karena dia juga selalu cerita ke gue." Zea hanya diam mendengar ucapan adiknya itu. Entah mengapa ungkapan Zeo seakan membuka luka lamanya lagi. Matanya memanas, bahkan mungkin cairan bening itu sudah mulai mengambang di retinanya.
"Gue pengen kak, Lo itu cerita ke gue. Masalah Lo. Keluh kesah Lo. Kesakitan Lo. Seenggaknya jadikan gue sandaran Lo." Zea bangun dari tidurnya lalu duduk menghadap Zeo.
"Kak, gue tahu beban Lo itu berat. Lo nanggung semua kebutuhan gue dan Zia. Semua masalah keuangan Lo yang pikirin, Lo kerja keras buat cari uang hanya untuk kami, supaya kami tetap sekolah. Dan semuanya nggak pernah mau Lo bagi ke gue. Gue bukan lagi anak kecil yang harus dibohongin masalah kayak gini. Gue tahu semuanya kak. Selama ini ayah nggak pernah kasih kiriman uang ke kita kan? Entah itu di korupsi sama tuh nenek lampir gue nggak tahulah. Tapi intinya uang itu nggak pernah sampe ke kakak kan?"
Deg. bagaimana Zeo bisa tahu?.
"Lo heran kenapa gue bisa tahu?" seakan Zeo dapat membaca pikiran Zea.
"Gue tahu semuanya kak. Lo sering tahajud kan? Gue sering denger Lo nangis tiap malam cuma karna ngeluh masalah ini. Gue tahu cara Lo itu udah baik, tapi seenggaknya beban Lo itu Lo bagi ke gue supaya kita bisa nyelesain masalahnya sama-sama."
Zea langsung memeluk Zeo erat. Zea tidak menyangka Zeo akan sedewasa ini. Memang selama ini Zea selalu menutupi masalahnya karena merasa Zeo belum cukup untuk mengerti.
"Maafin gue Ze." Ucap Zea lirih. Zeo yakin Zea sudah menangis saat ini.
"Gue tahu kak Lo kuat bahkan cukup kuat. Tapi bangunan yang kuat juga akan roboh kalau tidak ada besi penyokong di dalamnya. Sama kayak Lo. Lo juga akan roboh kalau nggak ada orang yang jadi penyokong atau sandaran buat Lo kak. Jangan takabur, merasa semuanya bisa Lo handel sendiri. Lo bukan robot."
"Dulu tempat Lo cerita dan curhat itu cuma sama bunda dan Rio. Saat ini bunda udah nggak ada, dan Rio?. Gue nggak akan pernah setuju Lo Deket lagi sama dia."
"Meskipun Lo nggak pernah cerita sama gue tentang masalah Lo dan Rio. Tapi gue tahu dia adalah laki-laki yang nggak pantas untuk Lo kak." Ucap Zeo lembut sembari mengelus pelan punggung Zea.
"Jujur gue kecewa sama dia."
"Maafin gue Ze. Selama ini gue simpan masalah gue, karena gue nggak mau Lo itu terbebani dengan masalah yang terjadi sama kita. Cukup gue aja yang mikirkan semuanya, Lo dan Zia fokus sekolah aja hiks," Zea kembali menangis.
"Nggak kak. Sekarang jangan lagi!! Gue dan Lo itu sama. Lo cuma punya gue dan Zia, begitupun gue. Jadi sudah seharusnya kita berbagi kan? Baik itu kesenangan ataupun kesakitan."
"Jadi jangan egois mau sakit sendiri aja." Ucap Zeo sembari menghapus air mata di pipi mulus Zea.
"Iya,"
"Udah ah jangan nangis lagi. Mata Lo udah bengkak, dari pagi nangis mulu. Gue ngajak Lo keluar sesekali mau buat Lo seneng kak, bukan nangis."
Zea tersenyum tulus, kemudian mencium pipi adiknya itu.
"Gue sayang sama Lo Ze. Gue bersyukur karena Tuhan kasih Lo untuk jadi adik gue, meskipun kadang ngeselin sih." Kemudian Zea langsung memeluk Zeo lagi. Zeo membalas pelukan Kakaknya. Entah mengapa Zea yang hangat mulai kembali sedikit. Ya mungkin untuk mengembalikan Zea seutuhnya itu perlu waktu.
"Gue juga sayang lo, kak."
Gue lebih bersyukur punya Lo kak. Batin Zeo.
"Kak, ada buah nggak?" Zeo bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju etalase dimana peralatan salad buah Zea ada di situ semua.
"Buatin gue salad dong," ucap Zeo lagi.
Zea mengangguk. Kemudian berjalan menuju kulkas dan mengeluarkan beberapa buah dari sana.
"Buah tinggal strauberi, melon, mangga, apel dan buah naga. Lo kan nggak suka buah naga sama strauberi, cuma tiga macam aja buahnya dong ini jadinya." Zeo melihat buah yang ada di atas meja. Memastikan ucapan dari kakaknya itu.
"Yaudah nggak masalah. Gue laper."
"Laper? Nggak salah? Baru juga makan martabak, udah laper aja Lo." Heran Zea.
"Hei kutil sapi!! Anda nggak sadar yang makan martabaknya itu anda. Saya cuma makan beberapa potong saja." Cibir Zeo.
Zea menggaruk tengkuknya nya yang tidak gatal. Lalu kembali memotong buah ke sebuah mangkuk yang ada di hadapannya.
"Gue makan dikit kali, Lo nya aja belinya dikit banget." Ucap Zea sembari menuangkan susu kental manis ke dalam mangkuk. Zea mulai membuat Saus saladnya.
"Eh dregen sawah, kan Lo yang beli kenapa jadi nyalahin gue." Geram Zeo kesal.
"Eh kutu cenderawasih, bukan gue nyalahin Lo. Emang Lo tadi ada bilang mau beli berapa? Nggak ada kan?." Ucap Zea ikut kesal.
"Iya-iya gue yang salah. Udah buruan buat saladnya! Gue laper." Perintah Zeo.
"Sabar, gue manusia bukan robot jadi nggak bisa langsung jadi. Dan ini salad bukan mie instan jadi buatnya butuh proses." Zeo hanya menatap kakaknya itu heran. Emang buat mie instan nggak ada prosesnya?. Batin Zeo.
Tidak lama setelah itu, Zea sudah siap membuat salad untuk Zeo. Dengan cepat Zea langsung menaburi keju yang sudah Ia parut di atas buah yang sudah di siram saus salad. Dan sebagai penyelesaian, Zea meletakkan strauberi sebagai toping di atasnya.
"Gue kan nggak suka strauberi." Protes Zeo. Ketika melihat ada sepotong strauberi di atas salad miliknya.
Zea menoleh singkat, sedetik kemudian Zea kembali fokus ke ponselnya.
"Makan aja, kalau nggak mau buang!!"
"Bukannya Lo yang bilang kak, nggak baik buang-buang makanan." Ucap Zeo.
"Kalau gitu makanlah,"
"Tapi gue nggak suka." Tolak Zeo. Bahkan hanya melihat buah strawberry itu saja sudah membuat air liurnya ingin menetes. Rasa asam dari buat strauberi membuat Zeo benci dengan rasa asam. Rasa yang sangat tidak enak baginya.
"Yaudah buang aja," ucap Zea lagi. Karena Zea juga lagi sedang tidak ingin makan buah. Dirinya sudah sangat kenyang memakan martabak telur tadi.
"Tapi sayang kak. Mubazir namanya," tolak Zea lagi.
Zea menatap tajam Zeo, seakan sudah siap untuk menerkam. Melihat tatapan Zea yang sangat tidak bersahabat. Zeo langsung memakan salad di dalam mangkuk yang ada di tangannya dengan cepat. Dan kali ini Zeo memakannya dengan diam. Keadaan menjadi hening bersamaan dengan Zea yang kembali fokus dengan ponselnya.
* * *
Zea berjalan pelan menuju sebuah gedung. Entah gedung apa ini. Gedung ini tidak terlalu besar tetapi juga tidak kecil. Jika dilihat dari keadaannya sepertinya gedung ini masih baru di renovasi. Terlihat dari beberapa kaleng cat yang masih tertumpuk di sisi gerbang gedung itu.
"Gedung apaan ini Ze?" tanya Zea heran. Dengan pandangan menyusuri sekitar.
"Lo tunggi di sini dulu, gue mau ke dalam bentar."
"Mau ngapain Lo?"
"Ada urusan. Lo di sini aja, kak."
"Gue ikut, ogah gue di sini sendiri." Cegah Zea.
"Sebentar aja. Gue janji nggak akan lama."
Zea menghela napas pelan.
"Oke, lima menit."
"Nggak usah becanda kali kak. Gue masuk kedalam aja udah lima menit."
"Sepuluh menit, gue janji bakal balik. Lo di sini aja."
Tanpa menunggu jawaban dari Zea, Zeo langsung lari masuk ke dalam gedung.
"Iss, ditinggal lagi gue." Gerutu Zea.
Zea memilih duduk di sebuah potongan kayu yang ada di dekat dirinya berdiri. Kemudian membuka ponselnya.
Tiba-tiba sebuah suara mengalihkan fokusnya.
"Sendirian aja cantik?" Zea menoleh. Matanya sedikit melebar melihat siapa si empunya suara.
"Lo." Pekik Zea.
"Kok sendirian? Mau di temenin nggak cantik?"
"Nama gue Zea bukan cantik!!" Ucap Zea kesal.
"Tapi gue suka manggil Lo cantik." Ucap pria itu. Yang tidak lain adalah Azlan.
"Tapi gue nggak suka."
"Gue bakal buat Lo suka."
Zea menatap Azlan tajam.
"Nggak akan!!"
Kemudian Zea bangkit dari duduknya. Namun karena Zea kurang berhati-hati ia terpeleset dan hampir terjungkal ke depan. Untungnya Azlan dengan sigap menahan Zea agar tubuhnya tidak menyentuk tanah.
Karena hal itu, pandangan mereka bertamu sepersekian detik.
"Lepasin gue!!" teriak Zea ketika menyadari posisinya dengan Azlan seakan tanpa jarak.
"Auuusshhhh," ringis Zea.
"Lo," geram Zea.
"Lo yang suruh gue lepasin kan cantik. Ya gue langsung lepasin aja." Ucap Azlan apa adanya.
Azlan mengulurkan tangannya, untuk menolong Zea. Namun segera ditepis kadar oleh Zea.
"Nggak perlu."
"Lo ya, satu hari ini sumpah buat gue kesel setengah mati." Geram Zea semakin kesal.
Sedangkan Azlan hanya senyum yang tidak dapat diartikan oleh Zea.
"Malah senyum-senyum nggak jelas lagi. Lo sakit?"
"Eh ciee perhatian ya," goda Azlan.
"Idih pede gila,"
"Gue hanya menyimpulkan apa yang gue lihat."
"Dan dari penglihatan gue, Lo itu mulai perhatian sama gue."
Zea menatap tajam ke arah Azlan. Namun yang ditatap hanya m mbakas dengan senyuman. Azlan sama sekali tidak gentar melihat tatapan mematikan dari Zea.
"Dasar pria mesum dan gila!!" P
Teriak Zea. Namun Azlan tetap tersenyum melihat Zea yang semakin kesal dengan dirinya.
Entah mengapa melihat senyuman Azlan, tatapan tajam dan rasa kesal Zea mulai mereda.
Zea memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia Tidka ingin Azlan tahu perubahan raut wajahnya karena melihat senyuman hangat dari pria itu.
"Gue mau minta maaf. Mungkin hari ini gue udah buat Lo kesel banget." Ucap Azlan tulus.
Zea hanya diam. Membiarkan Azlan berbicara.
"Gue mau tanya boleh?" Zea menoleh.
"Gue nggak buka sesi pertanyaan."
"Dan gue bukan narasumber yang mau ditanya-tanya." Ucap Zea dingin.
"Lo besok ada acara nggak?" tanya Azlan tanpa mengindahkan ucapan dingin Zea.
"Bukan urusan lo."
"Lo besok kemana?" tanya Azlan lagi.
"Nggak kemana-mana." Jawab Zea datar.
Azlan tersenyum sumringah. Bahkan tawanya sedikit terdengar di telinga Zea.
Zea menatap Azlan datar. Sungguh dirinya sangat muak dengan pria di sampingnya itu. Entah kenapa sejak tadi pagi bertemu dengannya mood Zea berubah menjadi tidak baik.
"Ternyata bener ya kalau jodoh nggak akan kemana-mana."
"Misalnya kaya Lo ini, yang emang jodoh gue."
**Terima kasih sudah membaca sampai part ini:-)
Maaf kalau masih banyak typo bertebaran
Selalu tunggu part berikutnya yaπ Terima kasih**.
__ADS_1