
"Tapi gue nggak akan berhenti untuk mencintai Lo, Zea."
-Azlan Malik-
* * *
"APA??"
"Bang Azlan kecelakaan kak," Zeo mengulang ucapannya.
Zea langsung membuka mukenanya, lalu bangkit dari duduknya.
"Sekarang keadaan dia gimana? Dia di bawa ke rumah sakit mana? Jawab Ze, Azlan baik-baik aja kan." Zea langsung menyerbu Zeo dengan begitu banyak pertanyaan.
"Tenang kak, tenang. Lo jangan panik dulu." Zeo berusaha menenangkan Zea.
"Dia ada di cafe ZA sekarang," ucap Zeo.
"Hah!!"
"Kok di kafe sih? Bukannya dia kecelakaan? Sumpah Ze, ini nggak lucu!"
Zeo menghela napas sebentar.
"Gue nggak lagi ngelawak, kak." Jawab Zeo langsung.
"Terus ini apaan coba? Mana ada orang kecelakaan itu di bawa ke cafe, yang ada di itu di bawa ke rumah sakit. Becanda Lo nggak lucu ah." Karena kesal, Zea langsung berjalan menuju kasurnya. Lalu bergerak merapikan mukenah dan sajadahnya yang masih berserakan di lantai.
"Gue serius kak. Lo lupa kak Azlina itu dokter. Dan dia yang nangani Bang Azlan di cafe karena kebetulan dia ada di situ. Ternyata cafe ZA itu milik keluarga Malik." Ucapan Zeo barusan berhasil membuat Zea menghentikan kegiatannya.
Zea menoleh ke arah Zeo, menatapnya serius.
"Kalau Lo nggak mau nyesel gue saranin temuin bang Azlan kak, kita nggak tau umur seseorang."
"Zeo," tegur Zea langsung.
"Kak, gue serius kali ini."
"Kak Putri yang ngabarin ini ke gue, dia bilang dia coba telpon Lo tapi nggak diangkat."
Zea menatap Zeo cukup lama. Ia larut dalam pikirannya yang siapapun tidak tahu apa isinya. Sedetik kemudian, Zea langsung menarik tangan Zeo keluar dari kamar.
"Anterin gue ke Azlan!!" ucap Zea dingin.
Sedangkan Zeo hanya menurut saja dengan perintah Zea.
* * *
Ketika sampai di cafe ZA, Zea langsung masuk ke dalam meninggalkan Zeo yang masih di motornya.
Langkah kakinya yang cepat serasa begitu lambat untuk sampai ke tempat ini. Bahkan Zeo sejak di motor tadi habis kena omelan Zea yang panjangnya melebihi sungai Nil.
Zea masuk ke dalam cafe dengan wajah yang sulit di artikan. Matanya menyisir ke sekitar berusaha mencari sosok yang dapat ia tanyai.
Ketika berhasil menemukannya. Zea langsung menghampirinya.
"Putri," Zea meneriaki putri yang saat ini memunggunginya.
Merasa namanya di panggil, Putri langsung menoleh.
"Zea," Putri berjalan menghampiri Zea.
"Ze, kak Azlan Ze."
"Gimana keadaan Azlan, Put?" serbu Zea langsung. Wajah paniknya tidak dapat di tutupi pagi.
"Mending Lo lihat aja langsung," ucap Putri. Putri menarik Zea masuk ke dalam cafe lebih jauh lagi. Bahkan Zea tidak menyangka Cafe ZA ini memiliki ruangan yang cukup luas di dalamnya.
Sebenarnya Zea bingung, kemanakah putri akan membawanya. Namun ia lebih memilih diam. Karena Zea tahu Putri tidak mungkin melakukan hal buruk kepadanya.
Putri hanya diam dalam perjalanan, ia menuntun Zea dengan baik. Hingga akhirnya mereka berhenti tepat di depan sebuah pintu. Sepertinya ada sebuah ruangan di dalamnya. Namun Zea tidak tahu ruangan apa itu.
Putri melepaskan cekalannya, lalu beralih menatap Zea.
"Lo masuk aja, kak Azlan ada di dalam." Setelah itu putri tersenyum.
Tanpa menunggu lama, Zea langsung membuka pintu ruangan itu, yang ternyata tidaklah di kunci. Zea menatap Putri sebentar, sahabatnya itu tersenyum singkat lalu mengangguk.
Zea memberanikan diri untuk melangkah masuk ke dalam ruangan itu.
Mata Zea terpaku ketika masuk ke dalam ruangan itu.
Untuk kesekian kalinya hatinya terasa nyeri dalam pemandangan yang sama. Menatap seseorang yang terbaring lemah di atas sebuah tempat tidur dengan alat rumah sakit menempel di tubuhnya.
Dan kali ini. Yang Zea lihat adalah Azlan.
Zea melangkah lemah menuju Azlan. Pria itu terlihat lemah di atas ranjang.
Tidak ada orang di ruangan ini. Hanya Zea dan Azlan saja.
"Hei Lan," Zea berucap dengan nada bergetar.
"Lo ngapain sih di sini?"
"Kurang kerjaan banget tahu nggak!!!" nada bicara Zea terdengar ketus. Namun air mata terus mengiringinya.
"Hei, Lo lebih cocok jadi cowok ngeselin tahu nggak, dibanding cowok lemah kek gini." Zea memberanikan diri untuk menggenggam tangan Azlan.
"Bangun Lan, masa gue Dateng Lo tiduran aja. Padahal baru kemaren Lo buat gue nangis. Lo nggak ada niatan buat minta maaf gitu."
"Lo jahat tahu nggak kemaren. Lo matahin hati gue, Lan. Dan sekarang Lo malah enak-enakan tidur tanpa minta maaf sama gue."
"Buka mata Lo, Lan, hiks."
Air mata Zea semakin deras. Gadis itu mulai duduk di sebuah kursi yang memang ada di samping ranjang Azlan.
Tangannya masih menggenggam erat tangan Azlan. Namun Zea mulai menundukkan kepalanya. Dia tidak sanggup dengan apa yang ia rasakan. Hatinya begitu nyeri. Lagi dan lagi dia harus merasakan sakit seperti ini.
"Please Lan, jangan buat gue takut."
"Gue baru kehilangan ayah, sosok yang begitu ngertiin gue. Cinta pertama gue. Dan Lo? Lo masa mau ninggalin gue juga. Gue akuin sih emang gue selalu nggak adil ke Lo, Lan. Gue selalu seenaknya, gue nggak pernah ngertiin perasaan Lo. Maafin gue, Lan. Tapi gue mohon jangan pergi."
"Gue nggak siap harus kehilangan lagi,"
"Gue nggak mau hancur lebih dalam lagi, Lan. Please bangun!!!"
"Anak setan bangunnn!!!" teriak Zea semakin terisak.
"Gue sayang sama Lo, jangan pergi!!!"
Zea semakin menenggelamkan kepalanya. Air matanya tumpah semakin tidak terkendali. Bahkan kali ini Zea mulai sesenggukan akibat menangis.
"Gue lebih sayang Lo, Zea."
Deg
Zea langsung mengangkat kepalanya. Zea dapat melihat dengan jelas mata Azlan yang tadinya tertutup kini sudah terbuka.
Azlan yang melihat wajah Zea yang sudah seperti orang gila hanya dapat menahan tawanya.
Sebenarnya Azlan tidak apa-apa. Tidak ada kecelakaan sama sekali. Ini semua adalah rencananya untuk mengundang Zea datang ke tempatnya.
"Lo, bangun?" tanya Zea. Entah karena Zea polos atau karena Zea heran.
"Ada Lo nggak mungkin gue tidur. Kecuali kalau Lo mau tidur bareng,"
Plak
Secara spontan Zea langsung memukul Azlan.
"Gila ya Ze, gue baru sadar juga, udah di tabok aja." Keluh Azlan dengan sedikit meringis. Azlan berusaha untuk duduk.
"Habisnya Lo sih, kebiasaan mesum Mulu. Kesel gue," Ucap Zea kesal. Sembari mengelap sisa air mata maupun air hidung yang masih tersisa di wajah cantik ya itu.
"Heheh, becanda sayang."
blushing
"Cie merona," goda Azlan.
"Apaan sih, nggak ya."
"Halah sok nggak ngaku. Padahal baru aja bilang sayang."
"Siapa?"
"Kamu?
"Aku?
"Iya, Zeanya Azlan."
"Dih, kepedean,"
"Gue pingsan lagi aja deh, pacar gue nggak sayang."
Sontak Zea langsung memegang lengan Azlan lalu menggeleng lemah.
Azlan tersenyum hangat melihat tingkah gadisnya itu. Lalu mengacak-acak rambut Zea pelan.
"Ze,"
"Hem,"
"Gue boleh minta sesuatu nggak." Tanya Azlan hati-hati.
"Apa?"
"Peluk,"
Dan sungguh tidak Azlan sangka , Zea langsung memeluknya. Membuat Azlan sedikit tersentak ke belakang. Namun dengan cepat Azlan langsung membalas pelukan Zea dengan lembut dan hangat. Azlan begitu merindukan gadisnya itu.
Sedangkan Zea. Dia tidak tahu apa yang sedang ia lakukan. Entah dorongan dari mana, Zea berani melakukan hal itu. Akan tetapi Zea merasa nyaman dan tenang ketika berada di pelukan Azlan seperti sekarang.
"Maafin gue Lan."
"Untuk?"
"Gue yang egois ini."
Zea melepaskan pelukannya.
"Lo nangis?"
"Gara-gara Lo!!" Zea mencebikkan bibirnya.
"Lah kok gue?"
"Lo sih ngapain juga kecelakaan. Kan gue jadi takut,"
Azlan menautkan alisnya.
"Takut?" ulang Azlan. " Takut kenapa?" tanya Azlan mancing Zea.
Azlan sengaja melakukan itu. Karena ingin Zea mengakui perasaannya lagi. Azlan ingin mendengarnya lagi.
"Pokonya takut lah."
Azlan terkekeh sebentar melihat wajah cemberut Zea.
"Lo tahu nggak Ze,"
"Nggak."
Azlan terkekeh kembali.
"Gue belum kelar ngomong,"
"Oh gitu, lanjut paduka." Azlan mencubit pelan hidung Zea. Gemas dengan tingkahnya.
"Gue nggak kecelakaan,"
Zea menatap Azlan datar.
"Gue nggak papa, gue sehat kok." Azlan melepas infus yang ada di tangannya. Ternyata infus itu hanyalah menempel saja, tidak benar-benar terpasang.
"Lo bohongin gue?" nada suara Zea berubah dingin. Dan Azlan menyadari itu.
Azlan turun dari ranjangnya lalu berdiri tepat di hadapan Zea. Mata mereka bertemu cukup lama.
Dan ternyata air mata Zea kembali menetes. Azlan berusaha menghapusnya, namun Zea menepis tangan Azlan.
"Ze, maksud gue nggak gitu." Ucap Azlan lembut.
Zea menatap Azlan tajam.
"BECANDA LO NGGAK LUCU!!!"
Zea mendorong tubuh Azlan cukup keras. Membuat Azlan sedikit terhuyung ke belakang. Setelah itu Zea berlari keluar ruangan itu.
Hatinya sakit. Azlan membohonginya. Dia di tipu, untuk hal serius semacam ini. Bagaimana bisa Azlan melakukan itu
Apakah dia tidak tahu Zea begitu sensitif dengan masalah seperti ini.
Zea hampir hancur karena sangking takutnya tadi. Zea tidak membayangkan jika Azlan benar-benar kecelakaan, atau bahkan sampai pergi meninggalkannya. Namun semua ini? Semuanya hanyalah lelucon semata.
Ketakutan Zea hanya dipermainkan. Keadaan seseorang jadi bahan lelucon untuk Azlan menurutnya. Hidup tidak sebercanda itu.
Katakan Zea terlalu berlebihan. Namun rasa takut kehilangannya, yang membuat Zea sepeti itu.
"Zea, tunggu!"
Azlan berhasil mengejar Zea. Saat ini mereka berada tepat di depan cafe ZA milik Azlan.
"Lepasin gue, Lan!."
"Kenapa?" Zea menatap Azlan tajam.
"Kenapa gue harus melepas apa yang udah gue pegang?"
"Bukannya Lo memang mau melepas apa yang membuat Lo lelah selama ini, kan?" sengit Zea langsung. Emosinya mulai naik kali ini.
Zea mengingat dengan jelas kalimat yang kemarin Azlan katakan padanya. Tepat di tempat mereka berdiri sekarang.
Waktu yang membuat Zea hancur. Namun saat itu juga Zea menyadari bahwa dirinya mencintai pemuda yang memegang tangannya ini. Namun tetap saja, mulutnya menolak dan menyangkal semua itu.
Azlan terkekeh cukup kencang. Kemudian melepas tangan Zea.
"Emang iya sih, yaudah deh kalau Lo mau pergi." Zea membulatkan matanya. Awalnya Zea mengira Azlan akan membujuknya.
Zea berdecak kesal. Dia membalikkan badannya, lalu mulai pergi menjauhi Azlan.
"Tapi gue nggak akan berhenti untuk mencintai Lo, Zea."
Ucapan Azlan mampu menghentikan langkah Zea. Gadis itu mematung.
Azlan berjalan mendekati Zea yang sedikit berjarak dengannya. Pemuda itu mendekat, hingga berhadapan dengan gadis yang begitu ia cintai itu.
Azlan memberikan senyum tulusnya, kemudian tangannya bergerak meraih tangan Zea.
"Lo percaya, kalau gue akan melepas Lo?"
Zea hanya diam. Karena dia tidak tahu jawabannya.
"Gue nggak akan pernah melepas mawar gue Zea. Meskipun untuk memilikinya gue harus merasakan sakit akan tusukan durinya. Karena gue yakin setelah sakit itu, gue bisa nikmati keindahannya."
"Sama kaya Lo Zea, Lo itu ibarat mawar di hidup gue. Meskipun untuk dapetin Lo, gue harus merasakan sakit yang luar biasa. Gue nggak peduli!!. Karena yang gue tahu, tujuan gue itu cuma Lo, Zea."
Zea kembali menangis. Azlan langsung menghapus air matanya.
"Kok Lo mendadak jadi cengeng gini sih? Jangan nangis ah, gue lebih suka Zea gue lagi ngomel nggak nangis gini." Azlan
menggoda Zea. Bukannya berhenti menangis, tangis Zea malah semakin menjadi.
Menyadari itu, Azlan langsung memeluknya. Berusaha menenangkan Zea.
"Udah jangan nangis lagi. Kalau mau peluk bilang aja Ze, nggak usah pake nangis juga. Cup-cup sayang Azlan jangan nangis dong," Mendengar itu, Zea langsung memukul dada bidang Azlan pelan, karena ucapannya yang membuat Zea sedikit kesal.
"Auuu Atit tau," ucap Azlan menggoda Zea seakan kesakitan. Padahal pukulan Zea tadi sama sekali tidak berefek untuk dirinya.
"Lebay," cibir Zea.
Tidak membalas ucapan Zea, Azlan malah semakin mempererat pelukannya. Azlan mencium aroma tubuh Zea yang begitu Azlan rindukan.
Biasanya Azlan pasti akan mencium aroma ini ketika berada di mobil bersama. Namun selama seminggu ini tidak ia lakukan. Jika biasanya Azlan dapat melihat dan menatap Zea secara langsung. Menggodanya, bahkan menjahilinya adalah hal kesukaannya. Ada saja hal yang Azlan lakukan hanya untuk membuat Zea kesal. Namun selama seminggu ini, Azlan hanya mampu menatap Zea melalui fotonya saja.
Semua itu Azlan lakukan selama seminggu ini, hanya untuk rencana yang ia lakukan.
"Gue kangen sama Lo, Ze." Ucap Azlan lembut. Ucapannya terdengar begitu tulus.
Zea tersenyum cukup lama. Ternyata Azlan merasakan apa yang ia rasakan.
Sekarang Zea sadar. Rasa resah dan gelisahnya selama ini. Merasa ada yang kurang di setiap harinya itu karena Azlan. Karena Azlan yang terbiasa ada di setiap hari Zea. Membuat Zea merasakan kehilangan.
Dan Zea tahu benar bahwa sebenarnya dirinya merindukan Azlan. Namun gengsi dan sok jual mahalnya lah yang membuat dirinya semakin tersakiti.
Azlan memang belum terlalu lama masuk ke dalam hidup Zea. Namun pria itu, mampu dengan cepat masuk ke dalam hati Zea. Menembus benteng hati Zea yang dulunya Zea anggap sudah kokoh. Tetapi semua itu berhasil di hancurkan oleh orang seperti Azlan.
Pria yang sering Zea katakan gila dan mesum itu, bahkan tidak lupa sebutan anak setan menjadi julukannya. Dialah yang mampu mendapatkan hati Zea.
"Gue, juga."
Azlan sedikit kaget awalnya. Kalimat yang mampu membuat hati Azlan menghangat seketika mendengarnya itu baru saja keluar dari mulut Zea. Mulut yang biasanya mengeluarkan kata-kata pedas untuk dirinya.
"Gue, cinta sama Lo Zea."
"Cinta apaan? Kemarin aja Lo buat gue nangis," Zea langsung melepaskan pelukannya. Wajahnya berubah menjadi kecut.
Lah gue kira bakal jawab, gue cinta juga sama Lo Azlan yang paling ganteng. Ternyata Zea tetaplah Zea. Batin Azlan.
"Sengaja,"
Zea membulatkan matanya.
"Kok jahat sih?" ucap Zea kesal
"Emang gue jahat. Kan Lo sendiri yang bilang gue anak setan, bukannya setan jahat, ya?"
"Ih apaan sih, nggak jelas,"
Namun bukannya menjawab Azlan malah berlari meninggalkan Zea.
"Eh , Lan. Mau kenapa?" teriak Zea heran. Namun tiba-tiba Zea merasakan ada yang membekap mulut dan hidungnya.
Napasnya mulai sesak. Aroma yang tercium dari kain bekapan itu memabukkannya. Kepalanya mulai terasa pusing, bahkan pandangan Zea mulai kabur. Zea dapat merasakan dirinya mulai lemas, hingga akhirnya ia tidak dapat melihat apapun dan mendengarkan apapun. Zea pingsan.
* * *
"Zea,"
"Putriku,"
"Auu sssshhhh,"
Aisyah merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya. Bahkan rasanya seperti di hantam keras oleh batu yang besar.
Aisyah melihat begitu banyak puing-puing ingatan dari memorinya yang memang hilang. Namun semuanya masih begitu samar dan tidak jelas. Sementara kepalanya begitu merasakan sakit. Aisyah tidak tahu akankah ia dapat menahannya.
Namun senyuman Zea, gadis yang Aisyah yakini adalah putrinya mendorong dirinya untuk terus bertahan.
Aisyah tahu banyak hal yang tidak ia ketahui. Ada hal aneh dari hidupnya sekarang. Aisyah yakin ada alasan besar mengapa dirinya harus terkurung di ruangan terkunci seperti ini.
Meskipun dia tidak sepenuhnya terkurung, karena masih dapat keluar sesekali. Namun, larangan untuk tidak berinteraksi kepada siapapun, bahkan dengan pemilik rumah yang ia tempati ini membuat dirinya bertanya-tanya terus-menerus.
Banyak hal yang harus ia cari tahu sebenarnya.
"Auuuuuu, sakittt!!!!" pekik Aisyah.
Sakit kepalanya semakin menjadi. Ingatannya semakin terlihat jelas.
Terlintas jelas dirinya sedang makan bersama dengan beberapa orang. Yang Aisyah sendiri tidak ketahui siapa mereka. Aisyah hanya mengingat satu orang. Salah satu orang yang ada di ingatannya itu adalah gadis yang sempat melihatnya kemarin.
"Zea, putriku."
Setelah mengucap kalimat itu, Aisyah langsung tidak sadarkan diri.
* * *
Zea dapat merasakan kepalanya begitu berat, bahkan pandangannya masih gelap. Karena ada kain yang menutupinya. Zea mengangkat kepalanya yang terasa begitu pusing apalagi dengan mata tertutup seperti ini.
Zea menggerakkan tangannya. Namun ternyata, tangannya juga terikat. Dia tidak dapat bergerak.
"Tolong," ucap Zea pelan. Suaranya begitu lemah.
"Tolong," kali ini Zea mulai meninggikan suaranya.
"Zea,"
"Azlan," Zea tidak salah dengar. Pendengarannya masih begitu jelas. Suara barusan itu adalah suara Azlan.
Zea dapat merasakan seseorang yang melepas ikatan tangannya.
"Lan, ini Lo kan?" tanya Zea memastikan.
Sebenarnya tidak perlu ditanya lagi, Zea dapat mengenali Azlan dari parfum yang Azlan pakai, entah mengapa Zea begitu hapal dengan harum parfum Azlan.
"Iya Ze, ini gue." Zea melengkungkan senyumannya.
Setelah tali di tangannya terlepas Zea langsung membuka ikatan matanya. Tanpa aba-aba, Zea langsung memeluk Azlan.
"Lo kemana sih Lan tadi? Gue kira Lo ninggalin gue, gue takut Lan."
Azlan membiarkan Zea terus memeluknya erat. Tidak menjawab ucapan Zea yabg tidak ada habisnya.
Ketika menyadari, Azlan tidak menjawab ucapannya. Zea menoleh ke wajah Azlan. Azlan memberikan senyuman tulusnya.
"Happy birthday sayang,"
Setelah Azlan mengucapkan itu, tidak lama terdengar suara nyanyian lagu ulang tahun. Sontak Zea langsung melepaskan pelukannya.
"Happy birthday Zea, happy birthday Zea, happy birthday, happy birthday, happy birthday Zea."
"Kalian?" ucap Zea heran.
Zea dapat melihat banyak orang sudah ada di hadapannya. Saat ini ia tengah berada di halaman rumah Azlan. Dengan berbagai hiasan yang membuat senyumannya langsung mengembang sempurna.
Azlan membawa sebuah bolu berbentuk bunga mawar ke hadapan Zea. Zea tersenyum senang. dan terharu. Namun kali ini Zea tidak meneteskan air mata. Zea menahannya. Sudah cukup banyak ia menangis hari ini.
"Mawar?" Azlan mengangguk.
"Lo suka mawar, kan?" kali ini gantian Zea yang mengangguk.
"Tapi lebih suka yang asli." Tambah Zea.
"Tenang, udah gue siapin satu kebon malahan." Jawab Azlan sultan.
"Serius?" tanya Zea semangat.
"Buat Lo apa coba yang nggak,"
"Kalau gue minta buatin candi kaya Roro Jonggrang gimana? Lo mau nurutin juga?"
Azlan terdiam sebentar. Kemudian beralih menatap Ayahnya.
"Pah," panggil Azlan.
"Ada apa, Lan?" sahut sang ayah.
"Kira-kira bangun candi butuh waktu berapa lama?" tanya Azlan langsung.
"Buat apa candi?"
"Zea minta bikinin," jawab Azlan dengan polosnya.
Gibran langsung menatap Zea.
"Iya Zea,"
"Eh nggak, eh iya Om, nggak om maksudnya." Jawab Zea bingung. Bahkan gelagapan karena pertanyaan Gibran barusan.
Zea tidak menyangka bahwa Azlan akan bertanya seperti itu pada Gibran. Niat Zea hanyalah ingin menggoda Azlan saja tadinya.
"Entar kalau kamu udah jadi menantu saya, jangankan candi, kastil bakal saya bangunkan."
Sultan mah bebas.
"Nggak perlu Om, itu terlalu berlebihan." Tolak Zea langsung dengan nada yang sopan.
"Pah," tegur Marisa. Marisa tahu suaminya itu tengah menggoda Zea. Gibran hanya memberikan cengirannya.
"Jangan dengerin Om ya Zea, om suka ngarang emang sama kaya Azlan."
"Azlan juga yang kena,"
"Yah kan emang iya,"
"Ya namanya kan Azlan terbentuk dari saham papa ke mama." Ucap Gibran membuat Marisa menatap suaminya tercinta itu.
"Dih apaan sih pah, nyambungnya kok kesitu sih." Cibir Azlan.
"Stttt, anak papah nggak boleh protes. Kalau papah ngomong apapun iyain aja." Gibran bersuara.
Azlan menghela napas pelan.
"Serah papah ajalah. Orangtua mah selalu bener,"
Zea menyunggingkan senyumannya. Melihat keakraban Anak dan ayah di hadapannya ini. Membuat Zea merindukan sosok ayahnya. Dimana dulu Zea sering bercanda ria dan melakukan perdebatan kecil dengan sang ayah.
Tiba-tiba saja ponsel Gibran berdering membuat dia langsung beralih mengambil benda persegi itu.
"Halo," ucap Gibran pada orang di seberang sana, dia mulai berjalan menjauhi tempatnya berdiri tadi.
Melihat suaminya menjauh, Marisa memilih mengikutinya.
"Oh iya Zea, kayaknya om ada urusan mendadak, jadi mama mau ngurusin Om dulu ya, Mama tinggal ya Ze,"
Zea menghapus air matanya yang tiba-tiba saja menetes. Ternyata pelupuk matanya sudah tidak mampu menahan air matanya. Zea berusaha untuk tersenyum kepada Marisa
"Iya mah, makasih mah." Marisa tersenyum hangat kepada Zea.
Kemudian setelah itu Marisa berjalan menjauh dari Zea dan Azlan untuk me tusuk Gibran yang sudah masuk ke dalam rumah.
Tanpa sadar Zea kembali meneteskan air matanya.
"Tiup lilinnya dulu, Ze," Zea kembali menoleh kepada Azlan.
Zea tersenyum hangat. Setelah itu ia menutup matanya, mengucapkan doanya dalam hati sebelum mencium lilin di kue tar berbentuk mawar itu.
Tuhan, Zea hanya minta semoga semua orang yang Zea sayang selalu bahagia. Dan semoga Zea bisa cepat nemuin bunda, dan kembaran Zia.
Fuhhhh
Zea meniup lilinnya. Semua orang bertepuk tangan setelah itu.
Azlan memotong kan kue langsung menyuapi Zea dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
Azlan dapat melihat pipi Zea basah karena air mata. Azlan, menghapus air mata Zea dengan lembut.
"Jangan nangis Ze, hari ini gue mau lo bahagia. Gue udah jahat buat Lo nangis kemaren." Zea langsung mengangguk. Kemudian berusaha untuk tersenyum. Senyuman yang begitu jarang Zea berikan kepada siapapun. Dan hari ini, Zea berikan untuk Azlan.
Setelah Azlan menyuapi Zea, Zeo ikut menyuapi Zea. Setelah itu Azlina yang menyuapinya. Dan Putri yang terakhir, karena itu adalah permintaan Putri sendiri. Setelah Azlina selesai, Putri langsung mengambil piring berisi potongan kue bolu itu dari tangan Azlina. Lalu, Putri mulai menyuapi bolu itu untuk Zea dengan senyuman terus menghiasi wajahnya cantiknga.
Tidak lupa ia meminta Zeo untuk memotret dirinya pada saat menyuapi Zea. Setelah itu putri langsung memeluk Zea. Zea pun membalasnya tanpa ada penolakan sama sekali
"Selamat ulang tahun Zeze acu. I love you, yang terbaik menghampiri kamyu yah. Dan semoga langgeng nih sama kakak gue," Zea langsung menempelkan telapak tangannya ke kening Putri.
"Berobat gih put,"
Putri memanyunkan bibirnya.
"Untung Lo ultah Ze, kalau nggak udah gue karungin."
"Coba aja kalo berani," itu suara Azlan.
"Yah payahlah udah ada dekingnya sekarang. Auto kabur aja," Putri bergeser ke samping Zea.
"Dasar lebay!!" ejek Zea. Putri hanya menunjukan deretan gigi putihnya.
"Tapi tunggu deh, kok aneh ya. Tadi kan gue ngerasa ada yang nyulik gue, terus kenapa tiba-tiba gue ada di sini, sih?" Zea bertanya kepada semua orang.
Mendengar pertanyaan Zea, sontak semua orang menatapnya dengan senyuman. Zea sulit mengartikan senyuman mereka, ia memilih menatap Azlan dengan tatapan tanya.
"Lan. Kalian ngerjain gue ya?" tanya Zea serius.
Azlan mendekatkan wajahnya pada Zea, hal itu langsung membuat Zea gugup.
"Surprise sayang,"
Azlan menyentil sedikit hidung Zea, kemudian ia kembali ke posisinya.
"Jadi? Kalian?" ucap Zea tidak percaya.
"Iya Zea, semua ini kejutan buat Lo." Itu suara Azlina.
"Jangan bilang kecelakaan Azlan," Zea langsung menatap Zeo.
Zeo memberikan cengiran tanpa dosa miliknya.
"Hehehe Maaf," Zea menghela napas. Ternyata adiknya ikut ambil peran untuk mengerjainya.
"Ze emang Lo nggak curiga gitu kenapa Kak Azlan ngehilang selama seminggu?" kali ini Putri bersuara.
"Nggak sih, ya gue kira nih anak emang lagi sibuk kuliah."
Putri dan Azlina saling tatap sebentar. Kemudian tawa mereka pecah. Sedangkan Zea menatap keduanya dengan perasaan bingung dan aneh.
"Kok ketawa sih? Adakah yang lucu?"
"Lo tau nggak Ze, nih anak selama seminggu nggak ngabarin Lo kaya apa?" Azlina berucap sembari melirik Azlan.
"Kak," panggil Azlan. Azlan tidak ingin jika Azlina memberitahu yang sebenarnya.
Zea melirik Azlan sebentar. Kemudian kembali menatap Azlina.
"Emang kaya apa?"
"Jelasin put!" perintah Azlina kepada Putri.
"Siap!!" sahut putri cepat.
"Put,"
"Apaan sih?"
"Ze nggak usah percaya ucapan Putri nanti ya, dia banyakan bohongnya."
"Kalau gue percaya nantinya, Lo bisa apa?"
Azlan terdiam. Wajahnya berubah menjadi datar. Sedangkan Zea ingin tertawa saat ini juga melihat wajah Azlan seperti itu.
"Masa gitu sih? Gue kan pacar Lo." Ucap Azlan sok merajuk.
"Tapi Putri sahabat gue, gimana dong?"
Azlan menghela napas dalam. Ia menatap Putri sebentar. Terlihat jelas gadis itu menunjukan senyum kemenangannya karena Zea ada di pihaknya kali ini.
"Emang kaya gimana Azlan put?" tanya Zea.
Putri menarik napas dalam sebelum memulai ucapannya. Ia melirik sekilas Azlan. Tidak mempedulikan tatapan tajam Azlan yang seakan mengintimidasinya.
Namun bukan Putri namanya jika ia takut dengan Azlan. Hanya dengan tatapannya saja.
"Kak Azlan udah kaya anak ayam kehilangan induknya."
"Anak ayam?"
"Kalau Lo ngira kak Azlan sibuk kuliah makanannya nggak bisa ngabarin Lo itu salah besar, Ze. Nih anak nggak akan bisa hidup normal tanpa Lo kayaknya Ze. Dia udah kayak orang gila, bahkan kayak mayat hidup tau nggak Lo,"
"Separah itukah?" Pertanyaan itu dengan lancar keluar dari mulut Zea.
Zea menatap Azlan iba.
Azlan menutup telinganya. Sungguh ia malu.
"Iya Zea. Makan nggak mau, sampe Tante Marisa udah kehabisan cara bujuk dia. Dan akhirnya Tante Marisa ngancem kak Azlan buat bocorin rencana ini ke Lo, karena takut dengan ancaman itu jadinya kak Azlan mau makan. Kalo ngga mah, boro-boro. Kerjaannya kalok udah pulang kuliah, kalok nggak ngelihatin foto Lo di hpnya ya dengerin suara Lo yang ada di rekaman waktu Lo mau masuk ke sekolah musik. Nih aja dia mandi karena mau ketemu sama Lo, kalau nggak mana mandi dia, gue rasa dia udah nggak mandi selama berhari-hari." Zea membulatkan matanya.
"Serius Lan?" tanya Zea.
Azlan hanya memberikan cengiran khasnya.
"Emang sih semua rencana itu gue yang usulin. Kita pengen ngelihat Lo kecarian sosok Azlan yang sebenernya nggak penting sih menurut gue, apa nggak?"
"Etdah ngejek bener,"
"Eh ternyata Lo nya juga kaya orang kurang asupan gizi. Lemes teros dari pagi sampe pulang sekolah setiap harinya selama nggak ketemu kak Azlan. Lo nggak ada semangatnya."
"Eh, nggak ya." Tolak Zea.
"Bener Ze?" tanya Azlan tidak percaya.
"Nggak, ah." Sahut Zea langsung.
"Halah, gengsi teros sampe ikan hiu lari." Cibir Putri.
Zea menatap Putri heran.
"Kok ngegas sih Put, mana ada hiu lari juga, yang ada berenang."
Putri menghela napas pelan.
"Kesel aja gue ngelihat hubungan kalian berdua. Aneh tau nggak,"
"Biarin aja aneh, dari pada Lo, jomblo!!. Ya kan, Ze." Kali ini Azlan sudah merangkul kan tangannya di bahu Zea. Membuat Zea sedikit terkejut tadi.
"Dih penghinaan ini namanya. Gue juga jomblo loh ya." Azlina ikutan bersuara.
"Tuh lihat, Lo ngomongin jomblo, kak. Seniornya nggak terima," Putri berucap.
"Lah kalau gue seniornya, Lo apaan put?" sindir Azlina tidak terima.
"Gue mah tuan putri. Jadi jomblo itu bukanlah status gue, gue mah idaman semua cowok."
"Dih jijik!!"
"Tuan putri loh ini kak, nggak boleh jijik-jijik ah. Pamali tau," ucap Putri sok bijak.
"Serah Lo ah serah. Kesel gue."
Sedangkan Zea dan Azlan hanya menjadi pendengar serta penonton yang baik untuk Putri dan Azlina.
Dan Zeo hanya menatap keempat orang itu dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
Dirinya juga jomblo sebenarnya. Namun ia tidak mempermasalahkan orang yang mengatainya jomblo. Karena menurut Zeo. Kejombloannya ini bukanlah nasib yang buruk, akan tetapi sebuah jeda untuk bertemu dengan yang lebih baik.
Masa lalu memberikan pelajaran kepada Zeo, bahwa jomblo itu ternyata lebih santai dan asik. Tidak tertekan dan tidak terbebani.
Karena bahagia itu tidak selamanya tentang pacar.
* * *
Zea menatap jalanan dengan begitu dalam. Entah mengapa ada hal yang terasa mengganjal di hatinya. Padahal hari ini adalah hari bahagianya.
Azlan yang menyadari itu langsung menepikan mobilnya.
Saat ini mereka memang tengah berada di dalam mobil Azlan. Karena Azlan akan mengantarkan Zea pulang ke rumah.
"Kok berhenti? Apa udah sampe?" tanya Zea bingung. Pasalnya Zea merasa rumahnya masih lumayan jauh dari tempat Azlan berhenti sekarang.
Zea beralih menatap Azlan. Ternyata pria itu juga tengah menatapnya.
"Kenapa?" tanya Azlan.
Zea mengerutkan alisnya.
"Gue?" Azlan mengangguk.
"Nggak papa," sahut Zea langsung.
Azlan tersenyum sekilas. Zea tidak dapat membohonginya. Azlan tahu benar saat ini Zea sedang memikirkan sesuatu.
"Mau bohongi gue?" Zea langsung menggeleng.
"Gue nggak bohong Lan. Serius, gue nggak papa." Ucap Zea serius, bahkan tatapannya juga mengikuti ucapannya.
"Oke," Azlan menghela napas pelan. Azlan memilih untuk melanjutkan mengemudi mobilnya.
Azlan yakin, kalau Zea mau bercerita dia pasti akan melakukannya tanoa paksaan dari Azlan sendiri.
Terlihat jelas Zea menarik napas dalam.
"Sebenarnya ada yang mau gue omongin sama Lo," Zea menatap Azlan sebentar kemudian kembali fokus pada jalanan.
Tepat dugaan Azlan. Ada yang di sembunyikan oleh gadisnya.
"Gue pengen cerita udah dari seminggu lalu, tapi karena Lo nya juga nggak muncul-muncul jadi ketunda, deh."
Azlan langsung menatap Zea. Hal penting apa yang ingin Zea ceritakan sebenarnya. Kenapa gadis itu menundanya hingga seminggu. Azlan jadi merasa tidak enak karena seminggu tidak menemui Zea. Azlan yakin Zea tidak tenang karena hal itu.
"Kenapa nggak cerita dari kemaren-kemaren aja. Kan bisa telpon gue?"
Zea menoleh sekilas.
"Lo kan tau gengsi gue lebih besar dari apapun, waktu itu." Azlan terkekeh kecil.
Azlan tidak menyangka Zea akan sejujur ini dengan rasa gengsinya itu. Azlan mengacak pelan rambut Zea, membuat gadis itu berdecak kesal.
"Ih Azlan, Lo hobi banget keknya ya ngacak-ngacak rambut gue. Kan berantakan jadinya!" Zea mencebikkan bibirnya kesal.
"Giliran gue, Lo langsung marah. Sekalinya Roby yang ngacak-ngacak mah kalem aja."
Zea menoleh ke arah Azlan. Zea menahan sedikit senyumnya.
"Lo cemburu?" tanya Zea heran.
Melihat perubahan wajah Azlan yang mendadak seperti anak kecil merajuk.
Zea menahan tawanya.
"Iyalah, peke nanya lagi." Ketus Azlan langsung.
"Dih jujur banget,"
"Iya,"
"Masa, sih??" Zean menggoda Azlan.
"Ck," Azlan berdecak.
"Cak cek cak cek, kagak ada cicak di sini mah." Cibir Zea. Azlan menyunggingkan senyumannya.
"Cewek mah selalu gitu," Azlan berucap. Membuat Zea menautkan alisnya.
"Kenapa emang?"
"Cowo bohong di suruh jujur, sekalinya jujur nggak di percaya."
Zea menatap Azlan intens. Bahkan gadis itu mendekatkan wajahnya ke wajah Azlan. Membuat Azlan sedikit bingung.
"Apaan?" tanya Azlan heran.
"Quates dari mana?"
Azlan melirik Zea sekilas. Azla menghembuskan napasnya pelan.
"Dari Sabang sampai Merauke," jawab Azlan asal.
"Jauh banget! Nggak capek?"
"Nggak!!!"
"Dih, ngmbek!!"
"Nggak!!!"
"Marah??"
"Nggak!!"
"Terus apa? Nggak Mulu," Zea mulai kesal.
Azlan menghela napas pelan, dan ini untuk yang ke sekian kalinya.
Zea hanya diam. Jujur hatinya menghangat dengan panggilan Azlan. Akan tetapi ia sedikit kesal karena Azlan terus-terusan menjawabnya dengan kalimat tidak.
Terjadi keheningan di antara mereka beberapa saat. Sampai akhirnya Zea yang memulainya lagi.
"Lo beneran cemburu sama bang Roby?"
"Iya," sahut Azan langsung. "Emang di muka gue kelihatan ada kebohongan gitu?"
"Ya mana gue tau, Lo kira gue psikolog yang bis baca raut wajah orang."
Azlan terkekeh.
"Nggak perlu baca raut wajah, cukup baca hari dan pikiran gue aja Ze."
"Lah makin kagak bisa lah, Lo kira gue cenayang." Sahut Zea juga.
Azlan memarkirkan mobilnya, mereka sudah sampai di halaman rumah Antoni.
"Bisa," ucap Azlan lembut. "Lo mau tau caranya?"
Zea menoleh kepada Azlan.
"Nggak tau dan nggak mau tau," setelah mengatakan itu Zea langsung keluar dari mobilnya.
"Eh Ze, main keluar aja. Lo kan belum cerita tadi." Azlan langsung keluar mengejar Zea.
"Cerita apa?"
"Kebiasaan, pikunnya kambuh."
"Enak aja, gue nggak pikun yah!!"
"Lah terus itu apaan coba?"
"Entar gue ceritain semuanya. Tapi nanti aja dari telepon, gue sekarang cape mau istirahat. Lo balik aja, hati-hati di jalan."
Jika Zea sudah mengusir Azlan secara halus seperti itu, Azlan tidak mungkin mampu menolaknya.
"Iya, gue balik. Sampe rumah gue kabarin Lo." Azlan membuka pintu mobilnya lagi. Namun tidak Azlan duga Zea sudah berada di sampingnya saat ini.
"Astaga!!" pekik Azlan langsung. " Zea!!"
"Biasa aja kali, kek ngelihat hantu aja!!" Zea menepuk lengan Azlan cukup keras. Membuat Azlan sedikit meringis.
"Lo kenapa balik lagi? Bukannya tadi udah mau masuk rumah?" tanya Azlan heran.
Zea tersenyum cukup lama. Senyuman yang aneh menurut Azlan.
"Sini deh Lan, gue bisikin!" Zea berucap.
Awalnya Azlan ragu. Namun sedetik kemudian Azlan pangsung mendekatkan telinganya ke bibir Zea.
"Makasih untuk hari ini, ya." Azlan tersenyum. Namun posisinya masih tetap, tidak berubah.
"Makasih udah buat gue jatuh cinta sama Lo."
Mata Azlan membulat. Belum sempat Azlan berkata, untuk menjawab ucapan Zea tiba-tiba
CUP
Sebuah kecupan lembut mendarat di pipi Azlan. Azlan membeku, bahkan ia tidak dapat berkata apapun dengan perlakuan manis Zea barusan.
Dan apa ini? Zea menciumnya.
Azlan memegangi pipinya uang terasa hangat itu. Wajahnya merona. Azlan senang sekaligus kaget.
Azlan dapat melihat Zea sudah lari masuk ke dalam rumah. Mungkin harinya itu malu karena melakukan hal seberani itu.
Tuhan gue mau pingsan.
* * *
Zea langsung masuk ke dalam rumah. Lalu menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangannya. Zea begitu malu. Bagaimana tidak, dia begitu berani mencium Azlan tadi.
Sumpah Zea. Lo gila!!!
Zea mengumpat dirinya sendiri. Mengingat apa yang ia lakukan pada Azlan tadi, membuat Zea terus senyum-senyum sendiri. Sudah seperti orang gila.
Zea mengintip Azlan dari jendela. Tampak pemuda itu masih berdiri memegangi pipinya yang tadi dengan lancangnya Zea cium. Dan sekarang pemuda itu masih terpaku di samping mobilnya.
Zea yakin dirinya tidak akan berani menampakan diri di hadapan Azlan setelah ini. Sumpah Zea malu setengah mati.
* * *
Zea melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamarnya. Namun ada yang aneh di rumah ini. Rumah sebesar ini terlihat begitu sepi. Bahkan seperti tidak berpenghuni.
"Zia, Rara." Zea memanggil adik-adiknya. Namun tidak ada sahutan.
"Tente Fida,"
"Kalian di rumah?" tanya Zea entah pada siapa. Karena tidak ada sahutan dari siapapun.
"Kok sepi sih?" gumam Zea merasa aneh.
Zea menatap ke arah dinding yang dibaliknya Zea ketahu memiliki ruangan. Karena dia pernah masuk ke sana.
"Apa Tante Fida ada di dalam?" tanya Zea dalam gumamanya.
Zea hendak melangkah untuk menggeser foto yang merupakan kunci dari ruangan rahasia itu. Namun entah mengapa Zea mengurungkan niatnya.
"Kalau gue masuk, terus ada Tante Fida di dalam bisa bahaya. Mending gue ke kamar aja deh." Zea memutuskan untuk langsung masuk ke dalam kamarnya saja.
Karena Zea tidak dapat memprediksi apa yang akan ia lihat di dalam ruangan itu nantinya.
* * *
Di dalam ruangan rahasia. Nuansa putih dengan semerbak harum bunga mawar menyeruak hingga ke Indra penciuman.
Seorang wanita berparas cantik tergeletak tidak sadarkan diri di ranjangnya.
"Ais, bangun!" ucap seorang lelaki dengan lembut.
Dia menepuk pelan pipi Aisyah. Berusaha menyadarkan wanitanya.
"Sayang bangun, kamu kenapa?" pria itu masih setia di samping Aisyah.
Sampai akhirnya, Aisyah mulai mengerjapkan matanya. Kepalanya begitu terasa berat. Bahkan untuk mengangkat tubuhnya saja ia tidak sanggup.
"Kamu??" ucap Aisyah lemah.
"Iya ini aku, kamu kenapa? Pingsan lagi?" tanya lelaki itu seakan tahu apa yang terjadi.
Aisyah mengangguk, menjawab pertanyaan lelaki di hadapannya itu. Lelaki itu memberikan senyuman lembutnya.
"Apa yang kamu ingat kali ini?" lelaki itu bertanya. Ia mulai menggenggam tangan Aisyah.
"Apakah aku memiliki Putri?"
"Lalu siapakah ayah dari putriku? Aku tidak melihat kamu di ingatan itu, apakah bukan kamu ayah dari anakku itu?" lelaki itu tersenyum getir.
Kenyataan memanglah seperti itu. Aisyah mulai mengingat semuanya. Dia harus merelakan kekasihnya setelah ini. Lagi-lagii merasakan ketakutan akan kehilangan wanita yang begitu ia cintai ini.
Aisyah mulai menangis. Aisyah menarik lengan pria itu untuk semakin dekat dengannya.
"Tolong jawab aku! Apakah ingatan itu benar? Apakah yang aku lihat itu benar?" Aisyah menatap lelakinya dengan begitu dalam.
Aisyah hanya berharap apa yang dia lihat itu tidak benar. Karena dia tidak akan rela jika harus berpisah dengan lelaki yang begitu ia cintai ini.
"Jika aku mengatakan tidak, karena ingin terus bersamamu itu artinya aku egois."
"Aku tidak ingin kita hidup bersama karena kebohongan ku Ais. Kamu sudah mulai mengingat semuanya saja aku sudah bahagia. Setelah kamu ingatan kamu kembali sepenuhnya, kamu akan tahu alasan mengapa aku dan kamu tidak bersama. Dan kamu juga akan tahu siapakah suamimu."
Air mata Aisyah kembali menetes. Jawaban yang tidak ingin ia dengar sebenarnya. Namun itulah kenyataannya. Aisyah langsung memeluk lelakinya itu.
"Tapi ada hal yang harus kamu tahu," pemuda itu berucap. Aisyah masih tetap berada di pelukannya.
"Suamimu sudah meninggal,"
* * *
Zea membuka pintu kamarnya. Namun keanehan ia lihat lagi. Lampu kamarnya mati. Hal yang tidak pernah ia lakukan.
Tidak ingin pusing karena gelap, Zea langsung meraba dinding. Mencari saklar lampu untuk mendapatkan pencahayaan segera. Tidak perlu lama Zea melakukan itu, akhirnya ia menemukannya.
Cklek
"Happy birthday kak Ze, Happy birthday kak Ze, happy birthday happy birthday, happy birthday kak Zea,"
Zea terkejut ketika melihat apa yang terjadi di kamarnya. Kamarnya sekarang sudah penuh dengan hiasan ulang tahun. Dengan begitu banyak balon yang berserakan di lantai.
Zea dan Rara berjalan menghampiri Zea dengan membawa bolu masing-masing. Zea langsung tersenyum menatap keduanya. Zea tahu benar pasti mereka yang melakukannya. Merubah kamarnya menjadi serba pink seperti ini.
"Tiup lilinnya kak," ucap Zia dan Rara bersamaan.
Zea tersenyum dan mengangguk, setelah itu Zea meniup kedua lilin yang membentuk angka delapan belas tahun itu.
"Yeyyy, sekali lagi happy birthday kak Zea, semoga kakak selalu bahagia." Ucap Rara tulus.
"Makasih sayang," Zea mencium pipi kedua adiknya itu bergantian.
Zia dan Rara memotong kue itu lalu menyuapi Zea.
"Umm kak Zea harus cobain kue buatan kita," ucap Rara heboh.
"Iya kak, kita buat sendiri loh tadi kuenya." Tambah Zia tidak kalah hebohnya.
"Serius??" tanya Zea.
Keduanya mengangguk kompak.
"Cuma di bantu bi Siti tadi," tambah Zia. Keduanya nyengir kuda.
"Yah kirain," sahut Zea langsung.
"Yaudah sini kak Zea pengin coba kue buatan kalian," Zea mengajak Rara dan Zia duduk di tepi tempat tidur miliknya.
Rara dan Zia langsung menyuapi kue buatan mereka masing-masing kepada Zea. Keduanya menatap Zia menunggu tanggapan Zea mengenai kue buatan mereka.
"Gimana kak?" tanya Zia tidak sabaran.
"Enak nggak?"
"Ummm enak kok, kakak suka. Mau lagi," Zea meminta untuk disuapi lagi. Zia langsung menyuapi Zea sekali lagi.
Zea begitu bersyukur hari ini. Hari dimana ia cukup bahagia. Zea percaya sekarang, setelah hujan selalu ada pelangi. Dan ketika pelangi mulai menghilang, hari yang cerah itu akan datang.
Zea sedang menanti hari itu segera datang. Dimana dirinya dapat berkumpul dengan keluarganya. Secara lengkap.
Andai bunda ada di sini. Pasti lebih bahagia.
* * *
Fida melangkah dengan santai memasuki rumahnya. Saat ini tangannya sudah menjinjing dua buah paper bag berisi hadiah. Fida tahu hari ini adalah hari ulang tahun Zea. Jadi, ia memutuskan untuk membelikan sesuatu untuk gadis itu sepulang dari rumah sakit tadi.
Fida membuka pintu rumahnya yang memang tidak terkunci. Dahinya berkerut ketika membuka pintu. Pemandangan yang cukup aneh menurutnya. Keadaan rumah sunyi senyap seakan tak berpenghuni.
Fida menghiraukan itu ia memilih untuk melangkah masuk, mencoba mencari siapapun yang ada di dalam rumah ini.
"Bi... bi Siti."
Siti yang merasa namanya di panggil langsung menghampiri majikannya.
"Iya nyoya,"
"Dimana anak-anak?" tanya Fida langsung.
"Mereka ada nyonya. Di kamar non Zea." Dahi Fida bergelombang.
"Di kamar Zea? Ngapain mereka di sana?"
"Katanya ingin memberikan kejutan untuk non Zea. Tadi mereka juga meminta saya untuk membantu membuat kue," jelas Siti jujur.
Fida menyunggingkan senyumannya. Kemudian melangkah menuju anak tangga. Namun langkahnya terhenti, ia membalik tubuhnya.
"Apa Zea sudah pulang bi?" tanya Fida.
"Sepertinya sudah nyonya," ucap Siti dengan sopan dan hormat.
"Sepertinya?"
"Iya nyonya saya tadi tidak melihat non Zea masuk, hanya saja tadi saya melihat mobil pacarnya non Zea keluar dari rumah." Jelas Siti lagi.
"Maksud kamu Azlan?." Siti mengangguk.
Tanpa menunggu lagi, Fida langsung berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Zea.
"Oh jadi namanya pacar non Zea bahasa Inggris pulau," gumam Siti.
"Pantes aja aku nggak inget-inget. Wong bahasa Inggris toh,"
* * *
Tok... tok... tok...
Zea langsung menoleh mendengar ketukan pintu. Bersamaan dengan itu, Zia dan Rara juga melakukan hal yang sama.
Cklek
Pintu kamar terbuka lebar. Memperlihatkan sosok wanita uang masih memakai almamater dokter miliknya. Dengan senyuman manis serta lesung pipit uang menghiasi wajahnya.
__ADS_1
"Mama," pekik Rara. Kemudian dia langsung menghampiri Fida.
"Iya sayang," Fida mengecup pelan pipi putri kesayangannya itu.
Zea turun dari ranjangnya. Entah mengapa ia merasa sedikit was-was setiap melihat Fida. Setelah kejadian di ruang rahasia itu. Zea merasa ada yang aneh. Namun, Zea tidak tahu apa.
Fida menoleh ke arah Zea, lalu ia tersenyum hangat kepada keponakan kesayangannya itu
Fida berjalan menghampiri Zea, lalu memeluk gadis itu.
"Happy birthday sayang, semoga kamu selalu bahagia." Zea membalas pelukan hangat Fida. Meskipun terlihat ragu, Zea tetap berusaha untuk bersikap biasa saja. Seolah tidak mengetahui apa-apa.
"Makasih Tante," ucap Zea tulus.
"Maaf ya Tante telat ngucapinnya," sesal Fida.
"Nggak papa Tante." Jawab Zea seadanya.
"Oh iya ini buat kamu, dari om dan Tante." Fida memberikan sekantung paper bag yang berisi sebuah kotak. Zea menatap datar kotak hadiah itu.
"Ayo dibuka!" Fida menginstruksi. Zea hanya mengangguk, lalu membuka kotak hadiah itu.
Mata Zea langsung membulat melihat apa isi kotak hadiah itu.
"Tante, ini serius?" tanya Zea tanpa berkedip.
Bagaimana tidak. Isi kotak hadiah berwarna hitam itu ternyata sebuah kunci mobil. Dan ya, Fida memberikan hadiah sebuah mobil untuk Zea.
"Waw, kak Zea keren dapet mobil." Seru Zia yang heboh.
"Iya, mama baik banget kasih kak Zea mobil."
Fida tersenyum singkat. Kemudian mengangguk.
"Ta... tapi Tante, apa ini nggak berlebihan?"
Fida tidak menjawab, ia memberikan satu kantung paper bag lagi kepada Zia dan Rara kemudian meminta mereka untuk keluar dari kamar Zea.
"Hadiah itu untuk kalian. Sekarang kalian ke kamar ya, mama mau bicara sama kak Zea." Ucap Fida pada Rara.
Keduanya mengangguk, kemudian berjalan keluar dari kamar Zea.
Sepeninggalnya dua gadis kecil itu, Fida beralih menatap Zea. Fida mengajak Zea untuk duduk di bibir kasur.
"Tante,"
"Zea,"
Zea langsung diam. Zea tahu benar, Fida pasti punya alasan memberikan hadiah ini untuknya.
"Ini hanyalah hadiah kecil untuk kamu,"
Zea langsung menoleh. Zea menggeleng lemah.
"Nggak Tan, Zea nggak bisa terima hadiah ini." Fida memegang bahu Zea. Tersenyum hangat kepada Zea.
"Zea kamu harus terima ini ya. Ini bukan apa-apa kok. Bunda kamu dulu selalu kasih Tante apapun yang tente mau. Dia selalu bikin Tante bahagia. Sekarang apa salahnya Tante membahagiakan anak-anaknya."
Zea terdiam. Kalau sudah membahas tentang Ibunya seperti ini, Zea tidak akan mampu berkata-kata.
"Tapi Tan,"
"Ze," Zea ciut. "Terima ya."
Zea mengangguk. Minat itu, Fida tersenyum senang lalu memeluk singkat Zea. Setelah itu, Fida bangkit dari duduknya dan mulai berjalan keluar dari kamar Zea.
"Mobilnya ada di bawah, kalau mau kamu bisa langsung lihat Ze." Zea mengangguk.
Tidak ada pilihan selain menerima. Padahal jika di hadiah mobil itu terlalu berlebihan bagi Zea. Selain dirinya yang tidak bisa menyetir, tetapi juga benda itu tidak terlalu ia butuhkan.
Zea lebih terbiasa bepergian menggunakan motor ataupun angkutan umum. Ya meskipun sekarang mulai terbiasa menggunakan mobil karena Azlan yang selalu menjemputnya.
Zea beralih menggambil ponselnya yang ternyata sudah bergetar sejak tadi. Mata Zea membulat melihat nama yang tertera di layar ponselnya itu. Azlan tengah melakukan panggilan video call kepadanya.
"Mati gue!!" pekik Zea.
Dengan cepat Zea mengalihkan panggilan Vidio call itu ke panggilan biasa, setelah itu tidak lama terdengar suara dari seberang sana.
"*Halo, Ze."
Deg*
Ya ampun, bahkan batu denger suara Azlan aja jantung Zea sudah lari maraton. Bagaimana jika tadi ia Vidio call dengan Azlan. Semua ini karena aksi nekat dirinya tadi. Zea jadi malu sendiri ketika mengingatnya.
"Ha… halo." Jawab Zea gugub.
"Ko dialihkan jadi telepon biasa sih, gue kan mau Vidio call."
Zea bingung harus menjawab apa. Masa iya dia harus menjawab jujur. Alasannya karena tidak ingin nantinya Azlan melihat wajah gugup Zea karena menatapnya. Ya, meskipun hanya melalui Vidio call sekalipun.
"Gue lagi di kamar mandi, ya kali Vidio call an." Yah, hanya itu alasan yang pas menurut Zea.
"Lo biker bawa handphone?" Manusia di seberang sana beranggapan.
"I..iya." Jawab Zea masih gugup. Selain karena tidak pernah berbohong, juga karena bicara dengan Azlan. Sungguh Zea gugup setengah mati sekarang.
"Ze, Lo gugup ya?"
"Hah, nggak." Jawab Zea cepat.
Terdengar kekehan pelan dari sana.
"Yaelah Ze, kan yang di cium itu gue masa Lo yang gugup. Padahal masih mau minta tambah tadi. Lo udah kabur aja." Azlan kembali terkekeh di seberang sana.
Azlan tidak tahu saja, wajah Zea sudah merah merona seperti kepiting rebus sekarang. Mengingat apa yang ia lakukan tadi.
"Gue tebak pasti blushing,"
"Dih sok tau!!"
"Emang gue tau, kok."
"Nggak, Lo salah."
"Gue bener kali ini."
"Salah, S A L A H!!!."
"Oke, gue Video call sekarang." Azlan langsung memutuskan sambungan teleponnya. Tidak lama setelah itu Azlan langsung menyambungkan Vidio call kepada Zea.
"Nih orang gila atau setres sih." Ucap Zea kesal.
Zea tidak mengangkat panggilan Azlan. Membiarkan ponselnya terus berdering. Dengan fotonya dan Azlan terpampang jelas di layar ponsel itu.
Setelah berdering cukup lama. Akhirnya panggilan itu mati sendiri. Tiba-tiba.
Ting
Sebuah pesan masuk. Ternyata dari Azlan. Zea langsung membukanya.
***AZLAN ❤️*
Dalam satu menit Lo nggak telepon balik. Gue ke rumah Lo**.
Mata Zea membulat. Mulutnya menganga. Bagaimana mungkin pria itu melakukannya.
Dia baru sana dari rumah Zea. Dan Zea yakini pria itu baru saja sampai di rumah. Mas iya mau ke rumah Zea lagi. Apalagi karena kejadian tadi. Membuat Zea tidak ingin bertemu Azlan dahulu. Dengan cepat Zea langsung melakukan panggilan ke nomor Azlan. Namun di dahului oleh sebuah pesan.
Ternyata dari Azlan lagi.
AZLAN ❤️
Kamu terlambat sayang😌 Aku otw sekarang😍
Zea langsung meletakan ponselnya. Bahkan Zea belum mandi. Pria itu sudah akan datang lagi. Dasar Azlan aneh.
"Untung sayang, kalau nggak udah gue cincang heh."
Zea langsung berlari ke kamar mandinya. Zea perlu membersihkan diri. Dan tentunya mempersiapkan diri untuk mengehadap Azlan. Entah apa yang akan terjadi nanti. Zea hanya berharap dirinya tidak akan malu apalagi gugup ketika bertemu Azlan nanti.
* * *
Zea memilih memaki celana hotpants dan kaos rumahan. Tidak ada yang spesial menurutnya. Jadi, tidak perlu memakai pakaian formal.
Zea menuruni anak tangga dengan santai. Senyuman terus mengembang di bibirnya.
"Hei Zea, happy birthday." Itu suara Antoni. Zea dapat melihat pamannya itu baru saja pulang.
"Eh, Om. Makasih." Ucap Zea tulus.
"Hadiahnya sudah kamu terima?" tanya Antoni.
"Sudah Om," jawab Zea langsung.
"Oh bagus kalau begitu. Oh iya Zea, Om lihat Azlan ada di ruang tamu. Kalian mau pergi?" tanya Antoni.
Gila tuh cowo, udah sampe aja.
"Belum tau om, mungkin di rumah aja.' Jawab Zea.
Antoni hanya manggut-manggut saja. Setelah itu ia berlalu meninggalkan Zea menuju kamarnya.
Begitupun Zea, dia langsung berjalan menemui Azlan. Tentunya setelah mengatur napasnya terlebih dahulu. Untuk menetralisir kegugupannya
* * *
Azlan duduk ganteng di ruang tamu rumah Zea. Dengan pandangan tidak lepas dari foto yang berada di sebuah meja yang terletak di sudut ruangan itu. Azlan bangkit dari duduknya, lalu melangkah mengambil foto itu.
Senyum Azlan tercetak jelas. Azlan tahu gadis yang sepertinya masih berusia sepuluh tahun di foto ini adalah Zea. Dan dua wanita cantik di samping kanannya adalah Fida. Azlan tahu itu dari lesung pipi yang selalu Azlan lihat ada pada Fida. Sedangkan di sebelah kiri Zea ada seorang wanita uang begitu mirip dengan Fida maupun Zea. Azlan yakin dia adalah almarhumah Aisyah. Ibu Zea.
"Kalau benar bunda Zea masih hidup. Mungkin aja sekarang mereka kaya anak kembar tiga." Gumam Azlan dengan senyumannya.
"Mas Island," Azlan menoleh, mendengar panggilan yang menurutnya aneh.
Azlan mendapati Bi Siti, pembantu di rumah ini tengah membawa sebuah nampan berisi jus jeruk dengan beberapa cemilan.
"Island??" Dahi Azlan berkerut.
Siti meletakan jus dan cemilan ke atas meja. Lalu tersenyum ke arah Azlan.
"Ini mas Island, di minum dulu." Azlan ingin terkekeh sebenarnya.
Bagaimana tidak. Azlan dan Island itu sungguh jauh berbeda. Apalagi Siti menyebutkannya Island tidak seperti biasanya. Sebutan itu lebih terdengar seperti 'Islan'.
"Azlan, Bi." Azlan membenarkan namanya.
"Oh Azlan toh, Bibi kira islan, Ituloh bahasa Inggris pulau." Azlan akhirnya terkekeh kalinya.
"Itu mah Island bi, beda lah Bi. Bibi ini ada-ada saja." Azlan geleng-geleng kepala melihat asisten rumah tangga di rumah kekasihnya ini.
"Oh begitu ya Mas Is,"
"Azlan Bi," potong Azlan cepat.
"Eh iya, mas Azlan maksud Bibi." Ralat Siti langsung, merasa tidak enak. Setelah mengatakan itu Siti langsung pamit ke belakang.
Azlan kembali duduk setelah Siti pergi. Azlan sedikit merapikan kerah kemejanya. Menunggu tuan putri datang ternyata cukup menyita waktu.
Tanpa sengaja Azlan melihat seorang wanita yang berdiri di tepi kolam. Memang tidak terlalu jelas. Namun wajah wanita itu terasa tidak asing.
Azlan bangkit dari duduknya, ingin melihat lebih jelas sosok itu. Wajahnya begitu mirip dengan Fida dan Zea. Apakah itu salah satu mereka?. Atau malah hantu yang menyerupai keduanya, melihat dia mengenakan pakaian berwarna putih dengan rambut hitamnya yang ia gerai.
Sekian detik Azlan memperhatikan, sepertinya opsi pertama itu salah. Karena wanita itu sama sekali bukan Zea ataupun Fida. Wanita itu memang mirip dengan keduanya hanya saja dari kulitnya, Azlan tahu benar kulit Zea sedikit lebih putih darinya serta mata tajam Zea tidak seperti wanita itu. Sedangkan dengan Fida, wanita itu cukup sama persis. Namun perbedaanya ada pada rambut mereka. Azlan tahu benar rambut Fida itu bergelombang dan berwarna kecoklatan sedangkan rambut wanita itu lurus, berwarna hitam pekat sama seperti Zea.
Azlan tinggal memastikan untuk opsi kedua. Wanita itu manusia ataulah setan?. Azlan melangkah mendekati wanita itu. Azlan sedikit berjinjit untuk melihat wanita itu.
"Dia napak, berarti manusia." Gumam Azlan beranggapan. "Jadi dia siapa?" Azlan masih bertanya-tanya.
Pukk
Azlan sedikit terkejut, membuat dirinya menoleh langsung. Dan karena tidak siap Zea yang ada di belakangnya pun langsung ia tabrak. Dan hal itu membuat Zea linglung ke belakang. Dan hap.
Azlan berhasil menangkapnya. Untung saja.
Jika kalian mengira mereka akan saling pandang atau apakah itu. Semuanya salah besar. Zea langsung melepas cekalan Azlan. Meskipun tidak dapat di bohongi degub jantungnya sudah seperti orang lari maraton sekarang.
"Lo kenapa sih Lan." Omel Zea kesal.
"Celingak-celinguk kayak maling, habis itu main tabrak aja nih kepala gue. Lo kira tembok apa, sakit tauh nih."
"Maaf Ze, gue kaget tadi. Lagian Lo sih, pake nepak-nepuk segala manggil langsung kan bisa." Memang sih Azlan minta maaf. Tapi, tidak lupa juga ia membalas omelan Zea.
"Minta maaf tapi nyalahin juga. Nggak waras Lo." Zea berlalu meninggalkan Azlan, kemudian duduk di sofa ruang tamu.
Tanpa meminta izin Zea langsung meminum jus jeruk milik Azlan yang ada di meja.
"Eh minum gue Ze," protes Azlan.
Zea meneguk minumannya.
"Emang ada bacaannya minum Azlan. Kan nggak ada, jadi gue boleh aja minum dong," jawab Zea bersikap acuh.
Dan ya, inilah cara Zea untuk menghilangkan rasa gugupnya ketika bersama Azlan seperti ini.
Sedangkan Azlan, hanya mampu menghela napas berat.
"Oh iya Lo ngapain pake kemeja, pake jas juga? Mau kondangan?" Zea baru menyadari pakaian yang di pakai Azlan begitu formal. Seperti orang yang akan pergi ke acara resmi ataupun acara nikahan.
"Ya nggaklah, gue ini Dateng kesini niat banget mau ngajak pacar gue ngedate karena hari ini dia ulang tahun. Lah Lonya masih belum siap."
Zea menatap Azlan datar. Alisnya terangkat satu.
"Aneh Lo."
"Aneh?"
"Ya iyalah. Apa nggak aneh, ya kali Lo ngajak gue ngedate jam segini? Sore nggak, malam juga nggak. Lo ngajak makan maggrib-maggrib, Lo kira gue Kunti keluarnya maggrib." Zea semakin mengomel.
Azlan tersenyum kikuk. Baru sadar kalau dia terlalu cepat ke rumah Zea.
"Yaudah deh gue mau ganti dulu, entar habis maggrib kita keluar. Lo kalau mau sholat bisa sholat di ruang sholat." Ucap Zea kemudian berjalan meninggalkan Azlan.
"Eh Ze," panggil Azlan.
Zea menoleh. Menatap tanya ke arah Azlan.
"Apaan?"
"Nggak ada niatan mau sholat bareng?" tanya Azlan langsung.
"Gue udah siap kok jadi imam Lo lahir batin," tambahnya.
Zea menatap Azlan datar.
"Dasar gila, gue lagi mens." Kemudian Zea melanjutkan langkahnya.
"Yaelah, dasar Zea nggak peka." Gumam Zea.
"Woi bang!!" sebuah suara membuat Azlan menoleh.
Tampak Zeo yang menatap Azlan dari atas sampe bawah.
"Mau kondangan kamana?" tanyanya tanpa beban.
Dasar kakak adik sama aja.
"Gue mau ngedate!!" jawab Azlan ketus.
Zeo menatap Azlan heran.
"Sama kak Zea?" tanya Zeo lagi.
"Nggak, sama Bi Siti. Ya iyalah, sama Kakak Lo."
"Dih nge gas," Zeo terkekeh.
Sedangkan Azlan berusaha tidak peduli.
"Hmm bang, boleh gue kasih saran nggak." Azlan langsung menoleh kearah Zeo.
"Saran apa?"
Tampak Zeo sedang berpikir.
"Mending Lo ganti baju aja deh bang," ucap Zeo. "Pake baju gue aja dulu." Sarannya.
Azlan menatap ke arah pakaiannya. Azlan merasa tidak ada yang aneh dari apa yang ia pakai. Mengapa harus di ganti?.
"Baju Lo nggak salah bang, malah Lo kelihatan ganteng pake pakaian begitu."
Azlan menatap salut ke arah Zeo. Pria itu seakan dapat membaca pikiran Azlan.
"Terus salahnya dimana?" kali ini Azlan yang bertanya.
"Lo pasti mau ngajak kak Zea ke restauran romantis kan?" dan sekali lagi Zeo menebak apa yang akan Azlan lakukan. Sebenarnya Azlan memang sudah mempersiapkan makan malam romantis dengan Zea.
"Iya," jawab Azlan jujur.
"Mending Lo ganti tujuan deh bang. Lo lupa, kak Zea nggak terlalu suka dengan hal begituan. Apalagi pakaian Lo se formal ini." Azlan masih mendengarkan ucapan Zeo.
"Gue di kasih tahu Boby katanya ada pasar malam di depan kompleks, Lo bisa ajak kak Zea ke sana bang. Dia paling suka ke pasar malam." Zeo menyarankan.
"Lo serius?" Ze mengangguk mantap.
"Oke kalau gitu, gue ikut saran Lo." Azlan bangkit dari duduknya, lalu mendekat ke arah Zeo. Kemudian keduanya berjalan menuju kamar Zeo untuk ganti baju.
* * *
Air mata Aisyah jatuh begitu deras. Bahkan sangking derasnya membuat suaranya tidak lagi dapat keluar. Suara itu bungkam akibat tangis yang terus ia tahan. Suaranya begitu parau. Wajah cantiknya sudah penuh dengan air mata kali ini.
"Aku ingat," ucapnya parau. "Aku udah ingat semuanya sekarang," tangisan Aisyah semakin kencang. Bahkan bahunya bergetar hebat.
Aisyah dapat merasakan sebuah lengan kekar memeluk bahunya dari belakang. Aisyah melepas pelukan yang biasanya selalu ia sambut itu dengan perlahan. Dia tidak dapat menerima perlakuan manis pemuda yang ia cintai itu lagi. Tidak mungkin ia terima.
"Kenapa?" tanya pemuda itu lembut.
"Kamu bukanlah milikku, jadi bersikaplah sepantasnya."
Bagai Sambaran petir di pundak pemuda itu. Kalimat lembut yang keluar dari mulut wanita yang begitu ia cintai itu terasa begitu menusuk. Seakan seperti tikaman belati yang begitu tajam.
"Aku ingin kejelasan. Aku sudah mengingat semuanya, jadi tolong jangan sembunyikan apapun lagi."
Pemuda yang tadinya menunduk itu langsung mengangkat kepalanya. Tidak ada jawaban selain anggukan yang dapat ia berikan.
* * *
Zea menatap Azlan cukup lama. Merasa sedikit heran karena pemuda itu kini sudah berganti pakaian. Terlihat lebih santai tentunya.
"Kenapa? Gue ganteng?" ucapan Azlan barusan membuat Zea berdecak.
"Lo nyuri baju dimana?" tuduh Zea langsung.
"Dih, sembarangan. Ini baju Zeo kali, gue nggak nyuri." Sewot Azlan.
"Biasa aja kali, nggak usah nge gas juga." Cibir Zea. "Baru isi bensin??"
Azlan tidak memedulikan ucapan Zea. Ia memilih langsung menarik gadis itu untuk berjalan ke luar rumah.
"Gue udah izin sama Om Antoni mau ngajak Lo keluar," ucap Azlan. Kali ini nada bicaranya kembali lembut. Zea sedikit tersenyum.
"Terus, di izinin?" pancing Zea.
"Kalau nggak di kasih izin, gue bakal paksa." Jawab Azlan enteng.
"Edan!!"
"Biar edan tapi ganteng, kan??" ucap Azlan dengan bangganya.
Zea memutar bola matanya malas. Meskipun kegantengan Azlan itu memanglah fakta, tapi tetap saja sikap percaya dirinya yang berlebihan itu membuat Zea muak.
"Lebih edan!!" ketus Zea.
Zea melepaskan genggaman tangan Azlan. Kemudian berlalu m ndahului pria itu.
"Eh Ze, kok di lepas sih?" Azlan langsung berlari mengejar Zea, setelah itu Azlan langsung meraih tangan gadisnya itu.
Zea tidak menolak, hanya saja gadis itu tidak menoleh ke arah Azlan sedikitpun.
"Marah?"
"Nggak,"
"Terus kenapa di lepas?" tanya Azlan lagi.
"Kesel gue sama Lo,"
Belum sempat Azlan menyahut, sebuah suara membuat dua insan itu menoleh.
"Mau nyebrang? Pake gandengan segala." itu suara Zeo.
"Mau holiday ke kampung Doraemon sekaligus cari majikan buat kerja sampingan." Itu suara Zea.
Sedangkan Azlan yang mendengar itu hanya menatap datar Zea.
"Dih emosi!!" ejek Zeo.
"Jomblo diem aja," ketus Zea.
"Aih main ejek status nih. Mentang-mentang punya pasangan,"
"Udah ya Ze, kita mau berangkat dulu ya. Assalamualaikum." Potong Azlan langsung. Jika di biarkan sahut menyahut antara kakak beradik itu akan berlangsung hingga pagi. Jadi demi ketentraman bersama, Azlan memutuskan untuk menarik Zea saja.
"Awas hilang kakak gue ya Bang, jagain bener-bener. Kalau bandel, karungin aja." Teriak Zeo dari dalam rumah.
"Awas Lo Ze, gue pulang habis Lo!!" teriak Zea dari luar.
"Gue akan menunggunya, kak." Balas Zeo lagi.
Zea menghela napas cukup dalam. Menetralkan emosinya.
"Udah?" tanya Azlan.
"Udah," jawab Zea langsung.
"Ayo berangkat," Azlan langsung meraih tangan Zea, lalu menuntun gadisnya itu menuju mobilnya.
"Kita mau kemana, Lan?" tanya Zea ketika sudah berada di dalam mobil Azlan.
"Ikut aja, gue jamin Lo pasti suka." Jawab Azlan dengan senyum manisnya.
"Kalo nantinya gue nggak suka, gimana?" pancing Zea.
"Gue yang bakal buat Lo suka, Ze." Zea kembali menyunggingkan senyumannya.
"Kaya gue yang udah berhasil buat Lo suka ke gue," tambah Azlan dengan bangganya.
"Dih kata siapa gue suka sama Lo," tolak Zea langsung.
"Kata gue," Azlan mulai menjalankan mobilnya.
"Anda terlalu percaya diri bapak," Zea geleng-geleng kepala.
"Terus yang tadi sore Lo nyium gue, itu apa namanya kalau nggak suka?" skakmat. Zea membisu langsung.
"Ah.. ha.. eh.." Zea mendadak gagu pemirsa.
Gadis itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
Azlan terkekeh cukup lama. Melihat wajah Gugup Zea ternyata begitu menggelikan.
"Cie nggak bisa ngomong," goda Azlan lagi.
"Eh bisa ya," sahut Zea cepat.
"Yaudah jawab dong, suka atau nggak?" pancing Azlan lagi.
"Entahlah Lan, kesel gue sama Lo."
"Dih malah ngambek,"
Zea hanya diam. Tidak ingin berkata lagi. Karena semakin Zea berbicara, nantinya akan membuat dirinya semakin malu di hadapan Azlan.
* * *
"Jadi, di surat untuk Zeo ayah Lo juga bilang kalau bunda Lo masih hidup?" tanya Azlan memastikan lagi.
Zea mengangguk mantap.
"Iya Lan. Dan ada hal aneh lagi yang gue dan Zeo alami," ucapan Zea membuat Azlan yang tadinya fokus menyetir langsung beralih ke arahnya. Azlan menepikan mobilnya.
"Aneh?" Zea mengangguk lagi.
"Gue sempet ngelihat orang yang mirip banget sama bunda, di rumah om Antoni. Kejadian udah seminggu lewat lah." Jelas Zea.
"Pakai baju warna putih, rambutnya lurus berwarna hitam," tebak Azlan.
"Lo tahu?" tanya Zea heran.
"Gue juga lihat tadi," mata Zea membulat kaget.
"Serius?" Azlan mengangguk.
"Awalnya gue ngira itu Lo ataupun Tante Fida, soalnya mirip banget sama kalian berdua. Tapi setelah gue perhatiin, ternyata sama sekali nggak sama. Dan ya, gue ngelihat orang itu napak. Jadi, gue pastiin yang gue lihat itu bukan setan." Jelas Azlan panjang lebar.
"Lo nggak coba kejar?"
Azlan berdecak singkat. Ia kembali fokus pada kemudian ya, lalu menjalankan mobil mereka dengan santai.
"Awalnya gue mau ngenet, tapi Lo udah keburu nepuk bahu gue." Jelas Azlan. "Pake ngatain gue maling lagi,"
Zea tersenyum singkat.
"Ya sory,"
"Heem Ze, kayaknya ada yang harus diselidiki di rumah om Antoni, gue ngerasa ada yang ganjal di rumah itu." Zea ikut mengangguk.
"Oh iya Ze, selama gue nggak ada ketemu sama Lo. Ada nggak yang Lo temuin di rumah itu?" tanya Azlan serius.
"Ada," Zea menoleh ke arah Azlan. Menatap pria itu serius.
"Apa itu?" tanya Azlan langsung.
"Ruang rahasia."
* * *
Fida menuruni anak tangga untuk mengambil air minum di dapur, namun pemandangan yang ia lihat membuat emosinya langsung naik.
Fida hendak mengikut dua orang yang ia lihat. Matanya membulat, dan amarahnya semakin menjadi.
"Shit!!!"
Fida menggeram, ia mengambil sebuah pisau buah yang ada di dapur. Hendak melayangkan pisau itu ke arah dua manusia yang baru saja ia lihat. Namun sebuah panggilan menghentikannya.
"Mah, ada telepon dari rumah sakit." Teriak Zia dari lantai dua.
__ADS_1
Fida berdecak. Ia membuang napas cukup dalam. Fida meletakan pisau buah itu kembali ke tempatnya, setelah itu ia langsung berjalan menuju kamarnya.
Kalian yang memulai permainan ini. Baiklah, aku akan melanjutkannya.