Zeazlan

Zeazlan
Siuman


__ADS_3

Assalamualaikum. Ketemu lagi dengan author yang sering up lama nih.


Di episode kali ini. Author akan kasih visual beberapa tokoh lainnya.



Ini dia Zeo Erstio.



Ini si cantik Zia



Ini dia kembaran Zia. Pasti tahu dong. Rara.


Selamat membaca. Happy reading.


* * *


"Gue nggak ngelarang Lo buat jalan sama cewek manapun. Tapi, kalau gue sampe ngelihat dan tahu hal itu. Itu tandanya Lo udah siap kehilangan gue di hidup Lo."


-Zea Praisa Ulya-


* * *


Setelah kepergian putri dari ruang rawat Zea. Azlan kembali fokus kepada gadisnya itu. Harapan semoga Zea cepat membuka matanya tidak berhenti Azlan ucapkan dalam hatinya.


Entah berada dimana Zea sekarang. Sudah hampir tiga hari dia tidak sadarkan diri. Terkadang Azlan berpikir apakah mimpi Zea terlalu membuatnya nyaman, sehingga dia enggan untuk bangun lagi.


Begitu banyak yang Azlan pikirkan. Semua itu membuat kepalanya menjadi pusing sendiri.


Azlan meraih tangan Zea. Menggenggam erat tangan wanita yang begitu ia cintai itu.


"Please Ze, bangun." Lirih Azlan.


Azlan mencium punggung tangan Zea cukup lama. Sesak rasanya melihat Zea terus-menerus seperti ini.


* * *


Zeo menghentikan motornya tepat di depan SMA Darma Putra. Dia tahu benar pintu gerbang sekolah itu sudah akan di tutup. Namun kali ini, tujuannya bukanlah sekolah.


Zeo hanya diam, memperhatikan siswa yang berlari mengejar waktu. Karena, jika mereka terlambat maka mereka tidak akan dapat masuk lagi ke dalam sekolah.


Zeo melihat satpam sekolah menutup gerbang sekolah. Namun hal menarik yang Zeo lihat setelahnya adalah sebuah mobil yang terparkir di gerbang. Tidak lama, keluarlah seorang gadis cantik yang tentunya begitu Zeo kenali.


Tampak gadis itu berdebat dengan sang satpam. Tidak menunggu lama, Zeo langsung menghampirinya.


"Eh pak, bukain pintu gerbangnya!" ucap Putri tegas.


"Maaf non Putri, bapak nggak bisa bukain. Karena non udah telat hampir sepuluh menit. Kan non tau sendiri peraturan sekolah gimana." Satpam itu menjawab.


Putri menghela napas pelan. Jika tahu seperti ini, lebih baik ia di rumah sakit saja menemani Zea, pikirnya.


"Please dong pak, bukain. Saya ada ujian hari ini. Tolong banget pak, bukain." Putri masih berusaha untuk masuk. Karena sudah terlanjur sampai sekolah juga. Jadi, dia harus berusaha untuk masuk.


"Bukain aja pak," itu suara Zeo.


Putri menoleh ke sumber suara.


"Zeo," Zeo tersenyum singkat pada Putri.


Setelah itu ia beralih menatap satpam.


"Bapak nggak takut apa kalau entar dipecat? Kak Putri kan cucu dari pemilik sekolah." Tampak perubahan wajah dari satpam itu. Zeo yakin nyalinya menciut.


"Tapi nak Zeo." Satpam itu menghela napas berat.


"Yasudah deh, sebentar saya buka dulu." Satpam itu langsung membuka gembok gerbang sekolah. Lalu membukanya dan mempersilahkan putri untuk masuk.


"Thanks, Ze." Ucap Putri tulus.


"Oke,"


Putri langsung melangkah masuk ke dalam sekolah. Lebih tepatnya berlari. Karena sudah pasti dia terlambat masuk kelas hari ini.


"Nak Zeo nggak masuk?" tanya satpam itu. Melihat Zeo masih terus berdiri di luar gerbang sekolah.


"Nggak pak, saya ada urusan lain." Setelah mengatakan itu Zeo kembali ke motornya yang ada di seberang jalan.


"Anak jaman sekarang, suka banget bolos." Satpam itu hanya geleng-geleng kepala melihat kepergian Zeo. Setelah itu, dia kembali menutup gerbang.


* * *


Putri melakukan gerakan kaki seribu. Ia harus cepat-cepat sampai di kelasnya kali ini. Jika tidak, dia akan berurusan dengan guru killer di SMA Darma Putra ini. Yang sudah pasti adalah Samudra.


Tidak akan ada guru yang berani berurusan dengan Putri selain guru yang satu ini. Putri bukannya takut dengannya, hanya saja putri selalu saja kalau telak jika berdebat dengan pria itu. Jadi, putri lebih baik menghindarinya saja.


"Putri Aulia Sandega."


Suara berat itu langsung menghentikan langkah putri.


Mati gue. Kenapa sih harus ketemu dia!!.


"Kamu terlambat lagi Putri?" Putri dapat melihat Samudra berjalan mendekat ke arahnya.


Samudra menatap tajam Putri. Sedangkan yang di tatap tidak mempedulikannya.


"Saya nggak telat, Pak." Samudra memicingkan matanya.


"Maksud kamu nggak telat gimana? Ini udah jam delapan kurang lima menit. Kamu sudah telat stengah jam,"


Putri menatap datar Samudra. Tidak ada sedikitpun rasa takut yang terlihat di wajah Putri.


"Oh gitu ya pak. Jadi saya telat ya?" Putri pura-pura tidak tahu.


"Ya iyalah." Sahut Samudra sewot.


"Yaudah deh pak, karena saya telat saya permisi ya. Saya mau ke kelas, ada ujian." Alibi putri.


Padahal dia tahu kelasnya sedang free saat ini. Karena sebelum masuk gerbang tadi putri menanyakan keadaan kelas pada sekretaris kelasnya.


Putri berjalan melewati samudra tanpa hormat sedikitpun.


Tidak ingin membiarkan gadis itu bebas begitu saja, Samudra langsung mencekal lengan putri. Dan hal itu sontak membuat langkah Putri terhenti. Tentunya dengan tatapan tajam mengarah pada Samudra.


"Iiihhh Pak Saminnnn!!!" teriakan putri membuat siapapun pasti merasakan sakit pada telinga mereka.


Untung saja keadaan saat itu sunyi, karena sudah masuk jam belajar. Alhasil hanya Samudra yang mendengarkan pekikan luar biasa dari Putri barusan.


"Dasar bapak modusan!!! Sok-sokan mau cegat saya, padahal mah mau pegang-pegang!!!" cerocos Putri lagi.


"Jaga bicara kamu putri!!"


"Lah suka-suka saya dong. Mulut-mulut saya, bukannya bapak barusan pegang tangan saya sesuka bapak, kan??" skak Putri lagi.


Samudra menghela napas. Jika dibiarkan terus begini, mulut putri akan terus nyerocos tidak jelas.


Samudra kembali menarik tangan putri.


"Eh pak Samin, lepasin gue. Nih gila ya guru, masa iya murid sendiri di tarik-tarik. Woi pak Samin lepasin gue!!!" Putri masih meronta-ronta pada cekalan Samudra. Namun percuma, tenaga pemuda itu lebih kuat dari Putri.


Usaha putri meronta hanya akan membuat tangannya sakit saja.


"Fix pak Samin, Lo gila!!!!" teriak Putri tepat di telinga Samudra. Dan hal itu berhasil membuat Samudra melepaskan tangan Putri.


"Nama saya Samudra bukan Samin." Ucap Samudra dingin.


Putri hanya menatap pemuda itu datar.


"Oh," jawabnya acuh.


Samudra kembali menarik Putri.


"Eeh mau ke mana sih???" ketus Putri kesal.


"Penghulu," jawab Samudra asal.


"Lah, ngapain??"


"Nikah lah,"


"Siapa yang mau nikah sama bapak?"


"Kamu lah, siapa lagi?" Samudra tersenyum menang.


"DASAR GILA!!! SINTING!!!I IDIOT!! NGGAK WARAS!!!!"


Putri menghempas kasar tangan Samudra. Setelah itu dia langsung berlari sekencang mungkin meninggalkan pemuda itu.


Sedangkan samudra hanya mampu tersenyum senang melihat Putri kesal seperti itu.


Dapat dipastikan Putri pasti menghujat Samudra di sepanjang jalannya.


* * *


Zea mengerjabkan matanya dengan perlahan, berusaha memfokuskan netra matanya pada objek-objek yang masih terlihat samar. Zea memegang kepalanya yang masih terasa pusing.


Zea memandang ke sekitarnya. Meski samar, Zea dapat mengetahui langsung bahwa dirinya sedang berada di rumah sakit sekarang. Melihat infus yang menempel pada tangan kirinya.


Zea berusaha untuk duduk, namun tidak jadi ia lakukan karena mendengar pintu kamar mandi terbuka. Cepat-cepat, Zea kembali menutup matanya.


Zea dapat mendengar langkah kaki yang mendekat ke ranjangnya. Tidak lama setelah itu, sebuah tangan menggenggam tangannya. Zea tahu tangan siapa itu, dan wangi parfum yang tercium di hidungnya ini, begitu familiar.


Ingin rasanya membuka mata lalu memeluk dia. Namun entah mengapa, Zea memilih untuk tetap seperti ini dahulu.


"Ze," bidiknya.


Suara pemuda itu terdengar begitu lirih. Bahkan ini pertama kalinya Zea mendengar suara kekasihnya itu selirih ini.


"Gue kangen Lo," hati Zea teriris.


Bukan hanya Azlan. Sebenarnya, Zea juga begitu merindukan pemuda itu. Entah sudah berapa lama dirinya tidur.


"Lo kapan buka mata Ze? Lo nggak pengen apa ngelihat wajah gue yang ganteng ini?"


Dasar!! Tingkat pedenya masih aja nggak berubah.


"Malah makin ganteng nih."


Zea tersenyum kecil. Namun Azlan tidak menyadarinya, karena pemuda itu sudah terisak. Dia menenggelamkan wajahnya di atas tangan Zea.


Zea dapat merasakan air menetes pada tangannya. Pria itu begitu sedih ternyata. Sungguh, Zea tidak tega melihatnya.


Zea membuka matanya. Menatap Azlan yang masih setiap menciumi punggung tangannya yang semakin basah karena air mata pemuda itu.


"Please, sayang bangun!!" suara Azlan terdengar serak akibat menangis.


Zea mengangkat tangannya lalu mengelus lembut rambut Azlan.


"Gue udah bangun, Lan."


Azlan langsung mengangkat kepalanya. Bahkan pemuda itu menghapus kasar air matanya.


Zea tersenyum hangat kepada Azlan. Tidak menunggu lama, Azlan langsung memeluk Zea.


"Zea Alhamdulillah akhirnya Lo sadar juga. Lo udah bangun Ze, gue seneng banget." Azlan melepaskan pelukannya. "Gue nggak mimpi, kan?" tanya Azlan pada Zea.


Dengan gerakan cepat Zea langsung menabok jidat Azlan. Kebiasaan yang sering Zea lakukan pada Azlan.


Azlan meringis kecil karena tindakan Zea barusan.


"Sakit, sayang." Rengek Azlan sok manja.


"Berarti nggak mimpi, kan?"


"Oh iyaiya,"


"Kalau gitu, Lo pukul gue lagi Ze." Suruh Azlan serius.


"Ha males ih." Tolak Zea langsung.


"Cepetan Ze, biar gue makin yakin kalau ini nggak mimpi."


Tampak Zea berpikir sebentar. Zea menatap Azlan serius.


CUP


Zea mengecup singkat pipi kanan Azlan. Dan hal itu berhasil membuat Azlan membulatkan matanya, bahkan mulutnya sedikit terbuka.


"Gimana? Sekarang percaya kan kalau Lo itu nggak lagi mimpi." Azlan menggeleng cepat.


"Lah kok nggak sih," Zea mengerucutkan bibirnya.


"Yang kiri belom," Azlan menaikan alisnya, lalu tersenyum jahil pada Zea.


"Yee kalau gitu mah Lo yang menang banyak,"


"Ya nggak papa, sesekali."


"Oh iya Lan, yang lain pada kemana? Kok nggak ada yang nemuin gue sih?" tanya Zea heran. Pasalnya semenjak dia sadar hingga saat ini, hanya ada Azlan di ruangan ini bersamanya.

__ADS_1


Azlan bingung harus menjawab apa. Sebenarnya, semua orang memang tidak ada di rumah sakit. Mereka sedang melakukan pemakaman Fida. Dan Azlan yang diminta untuk menjaga Zea saat ini.


Azlan ingin menjawab jujur. Namun Azlan takut jika nantinya berpengaruh pada kesehatan Zea. Lagipula gadisnya itu baru saja sadar dari pingsannya.


"Bunda sama Om Antoni di rumah kayaknya, soalnya aku yang minta supaya bunda kamu pulang untuk bersihkan diri. Kalau adik-adik kamu masih sekolah, kan ini masih jam sekolah. Mungkin bentar lagi pulang."


Ya Allah maafkan Azlan, nggak bermaksud kok untuk bohongin Zea.


"Oh gitu. Oh iya, Lo nggak kuliah apa?" Azlan nyengir kuda.


"Lo bolos kuliah, kan?" tuduh Zea langsung.


"Demi Lo. Kan gue jagain Lo," Zea tersenyum kecut.


"Lebay! Kan nggak harus bolos juga kan?" ucap Zea kesal.


Bukan karena apa. Hanya saja Zea merasa karena dirinya Azlan jadi harus mengorbankan kuliahnya. Padahal kan, hal itu jauh lebih penting dari Zea.


Azlan hanya tersenyum singkat. Ia mengambil setangkai bunga mawar yang tadi ia bawa. Lalu memberikannya kepada Zea.


"Cuma satu?" tanya Zea langsung.


Azlan terkekeh langsung. Dia mengacak pelan pucuk kepala Zea.


"Saat ini satu dulu, kebonnya entar nyusul."


"Dih, dari dulu ngomongnya begitu. Kapan jadinya tuh kebon bunga kalau wacana doang!!" sindiran yang cukup keras pemirsa.


Azlan kembali terkekeh.


"Gue udah siapin, Lo tenang aja. Tapi Lo harus sembuh dulu."


"Gue nggak sakit Lan." Tegas Zea langsung.


"Iya, gue tahu. Tapi Lo pingsan hampir empat hari lamanya."


"Hah, selama itukah?"


"Iya sayang,"


"Ngapain aja gue sampe empat hari di dalam mimpi coba?" tanya Zea entah pada siapa.


"Ya mana gue tahu,"


"Kok nggak tahu sih?"


"Emang nggak tahu Zea. Kalau mimpi gue sudah pasti gue tahu,"


"Emang mimpi Lo apaan??"


"Nikah sama Lo,"


Blush, ada yang merona pemirsa. Zea langsung memukul dada bidang Azlan karena salah tingkah.


"Dih apaan sih,"


"Ciee salting,"


"Nggak,"


"Iya,"


"Nggak!!"


"Iya sayang,"


"Ekhhheeemm,"


Sebuah deheman cukup panjang membuat Azlan dan Zea menoleh bersamaan ke sumber suara.


"Sejak kapan Lo di situ?" sinis Zea langsung.


"Sejak, emang mimpi Lo apaan? Nikah sama Lo." Zeo meniru gaya bicara Zea dan Azlan tadi. Akan tetapi terdengar lebih menggelikan.


Sedangkan Azlan dan Zea hanya saling tatap.


"Masih sekolah juga, udah ngomongin nikah!!" omel Zeo oagi.


"Perasaan yang pingsan gue deh Lan kok yang kelihatan sakit Zeo ya?" bisik Zea pada Azlan.


"Udah maklumi aja Ze, efek jomblo mah gitu." Zea langsung terkekeh kecil.


"Ngomongin apa. Gue ya?"


"Nggak lah, nggak penting ngomongin Lo." Sahut Zea langsung.


Tidak menjawab ucapan Zea, Zea malah langsung memeluk Zea.


"Aduh Ze, sesak. Lo kekencengan meluk gue," Zeo langsung melepas pelukannya.


"Dih giliran gue yang meluk ngeluh, tapi pas bang Azlan meluk anteng aja." Rajuk Zeo.


"Eh bukan gitu Ze," Zea menghela napas pelan. Sebenarnya dia tidak bermaksud seperti itu, hanya saja tadi Zeo memeluknya begitu kencang.


Zeo tersenyum singkat, setelah itu ia kembali memeluk Zea. Namun kali ini lebih lembut. Zea membalas pelukan Zea.


"Gue seneng Lo akhirnya sadar kak."


"Tumben, biasanya Lo seneng ngelihat gue sengsara," canda Zea.


"Nggak lucu,"


"Gue nggak ngelawak,"


"Emang. Lo kan lagi stand up comedi, kak."


"Entahlah Ze, serah!!" Ketiga orang itu langsung tertawa bersama.


"Kak Zea," sebuah suara membuat tawa mereka terhenti. Zea dapat melihat Zia dan Rara masuk ke dalam ruangannya.


Zea tersenyum hangat ke arah keduanya. Zia langsung berlari lalu memeluk Zea. Sedangkan Rara, gadis kecil itu terlihat ragu.


Zea menyadari hal itu. Zea menatap hangat Rara, lalu tersenyum ke arahnya.


"Rara, sini. Kak Zea pengen peluk rara." Gadis kecil itu langsung tersenyum, lalu berlari memeluk Zea.


"Rara adik kak Zea juga." Ucap Zea tulus. Rara mengangguk.


"Kak aku udah pernah bilang Ra, kalau kak Zea dan Bang Zeo itu Abang dan kakak Rara juga." Zia ikut menyahut.


Antoni dan Aisyah masuk ke dalam ruangan Zea. Mereka langsung tersenyum melihat Zea sudah siuman. Apalagi saat ini ia tengah memeluk dua adiknya.


"Zea," panggil Aisyah lembut.


"Bunda," Aisyah langsung memeluk Zea. Dia bahagia sekarang, Zea akhirnya membuka mata juga.


"Oh iya, bunda pake hijab gini cantik banget lho." Puji Zea.


"Makasih sayang, Insha Allah bunda akan pake seterusnya." Ucap Aisyah mantap.


"Serius?" tanya Zea kaget.


"Iya Zea," Zea membalasnya dengan senyuman hangat.


Zea beralih menatap Antoni, Pamannya itu terlihat tampan dengan kemeja hitamnya. Tapi tunggu, Zea merasa ada yang aneh di sini.


Antoni tersenyum hangat kepada Zea, pemuda itu langsung memeluk Zea.


"Syukurlah Ze, kamu sudah sadar." Antoni melepas pelukannya. Dia mengelus lembut pucuk kepala Zea.


"Oh iya, kok pada pake baju hitam sih? Apa ada yang meninggal?" pertanyaan itu keluar dari mulut Zea.


Semua orang terdiam, tidak satupun yang menjawab. Zea menatap satu persatu orang yang ada di sekelilingnya. Meminta jawaban atas pertanyaannya barusan.


Namun semuanya hanya terdiam. Sampai akhirnya Zeo yang membuka suara.


"Kita habis dari pemakaman." Ucap Zeo datar. Zea langsung menoleh ke arah Zeo.


Tidak hanya Zea, tetapi semua orang yang ada di sana beralih menatap Zeo. Tentunya dengan tatapan yang berbeda.


"Pemakaman? Pemakaman siapa?" tanya Zea bingung. Zea beralih menatap Aisyah.


"Bun, siapa yang meninggal?" Aisyah menatap sendu Zea. Dia berusaha untuk tersenyum.


Aisyah menghela napas cukup dalam, ia menahan dirinya untuk tidak menangis di hadapan Zea.


"Yang meninggal...."


"Siapa Bun?" desak Zea.


"Fida."


Deg


Zea menatap Aisyah tidak percaya. Bagaimana mungkin Fida meninggal. Apa yang sebenarnya terjadi ketika dirinya tidak sadarkan diri selama ini.


"Tante Fida meninggal? Why?"


Zea memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing tiba-tiba.


"Fida bunuh diri." Itu suara Antoni.


"Apa!! Bunuh diri. Kok bisa?"


Antoni menatap Aisyah sebentar. Setelah itu ia mendekati Zea.


"Ze, Fida itu begitu menyayangi kamu. Dia frustasi begitu tahu kamu pingsan karena terkena tiga suntikan yang dia buat. Karena merasa bersalah, Fida menembak dirinya sendiri." Antoni menjelaskan yang sebenarnya kepada Zea dengan lembut.


Zea terdiam sebentar. Dia masih sibuk dengan pikirannya.


Setelah itu, Zea menatap semua orang bergantian.


"Zea mau ke makan Tante Fida," ucap Zea.


"Tapi kamu baru sadar sayang," Aisyah menatap Zea khawatir.


"Zea udah nggak papa Bun."


"Zea mau ke makan Tante Fida sekarang." Tegas Zea.


"Tapi sayang...."


"Ais, sudahlah biarkan dia pergi." Itu Antoni.


"Tapi,"


Ucapan Aisyah mengantung ketika melihat senyuman Antoni. Senyuman yang mengisyaratkan untuk dirinya tetap tenang, dan tidak perlu khawatir.


"Kamu boleh pergi Zea, tapi setelah di periksa dokter,"


Senyum Zea langsung mengembang mendengar ucapan Antoni.


"Makasih Om." Ucap Zea tulus.


"Gue akan temenin Lo." Itu suara Azlan.


Zea menatap Azlan lalu mengangguk.


"Gue nggak mau, Lo juga pasti bakal maksa."


Mendengar ucapan Zea, semua orang yang ada di ruangan itu langsung tertawa.


* * *


Zea menaburkan bunga di atas makan Fida. Tatapannya begitu sendu meskipun tidak ada air mata yang mengalir.


Zea memegang nisan Fida. Membayangkan bahwa tantenyalah yang sedang ia rangkul.


"Tante Fida tenang di sana ya."


"Maaf, jika pertemuan terakhir kita tidak berlangsung baik. Maaf juga, waktu itu Zea menghianati Tante. Tapi, Zea nggak mungkin menyakiti keluarga Zea."


Azlan merangkul bahu Zea. Berusaha menguatkan gadisnya itu. Azlan tahu benar, meskipun Zea tidak menangis. Tetap saja, hati gadisnya itu pasti terluka begitu dalam. Karena mau bagaimanapun, Fida termasuk orang yang begitu dekat dengan Zea.


"Gue nggak nyangka Lan, hari itu adalah hari terakhir ketemu Tante Fida." Gumam Zea, meski dengan suara kecil. Azlan masih dapat mendengarnya.


"Jangan di sesali apa yang udah terjadi. Takdir itu tidak dapat kita tebak." Zea tersenyum kecil.


"Lo bener," sahut Zea langsung.


"Kita pulang sekarang," ajak Zea.


"Oke,"


Setelah itu, Azlan dan Zea berjalan keluar dari pemakaman. Sedih sudah pasti, namun takdir tidak dapat dirubah. Fida yang mengakhiri hidupnya terlihat begitu miris. Namun siapa yang tahu hal itu akan terjadi. Semuanya terjadi begitu cepat. Bahkan tidak ada yang dapat menghalanginya ataupun merubahnya.


* * *


"Kita mau kemana?" tanya Zea heran. Pasalnya mobil Azlan tidak mengarah ke rumahnya ataupun rumah Azlan.


"Emmm ke suatu tempat." Jawab Azlan dengan senyuman.

__ADS_1


Zea menatap Azlan curiga.


"Ngapain?" tanya Zea lagi.


"Udah lihat aja entar." Tiba-tiba Azlan menepikan mobilnya.


"Lah kok berhenti?"


Azlan terkekeh kali ini.


"Lo habis pingsan empat hari jadi banyak tanya ya, Ze." Cibir Azlan. Dan hal itu membuat Zea mencebikkan bibirnya.


"Dih apaan sih, gaje!!"


Azlan mengeluarkan sebuah kain hitam dari sakunya. Setelah itu, ia berikan kepada Zea.


"Apaan ini?"


"Tutup mata Lo pake itu."


"Ihh males ah. Kurang kerjaan," tolak Zea.


"Tutup Zea," ulang Azlan.


"Ck, dasar pemaksa." Dengan berat hati Zea menutup matanya dengan kain hitam itu.


"Jangan ngintip loh ya," peringati Azlan.


"Iya-iya, bawel banget kek cewe." Azlan terkekeh pelan, ia mengacak rambut Zea pelan.


"Oh iya Lo jangan modusin gue ya. Mentang-mentang mata gue tertutup Lo ngambil kesempatan nyium gue pula." Ucap Zea tiba-tiba. Gadis itu merapikan ikatan kain yang menutupi matanya.


"Kode nih ceritanya," Azlan mulai melajukan mobilnya.


"Dih kode apaan?" sangkal Zea. "Gue cuma memperingatkan aja," tambahnya.


"Halah sok-sokan. Padahal ngode biar gue cium."


"Ya nggaklah!!"


"Cewek mah suka gitu, sok-sokan nggak mau padahal mah ngarep."


"Nggak waras!!" Zea geleng-geleng kepala. Padahal kan niatnya memang ingin memperingati Azlan. Mengingat betapa jahilnya pemuda itu.


"Nggak waras gini pacar Lo ya Ze."


"Heran gue kenapa bisa cinta sama Lo," Zea menyesal apa yang terjadi pada dirinya.


"Eh cie ngakuin kalau cinta ceritanya." Zea langsung menutup mulutnya. Dia keceplosan.


"Nggak, Lo salah denger."


"Lah malah nyalahin gue."


"Kan cowok selalu salah. Bahkan semua Indra tubuhnya juga salah."


"Dih egois!!"


"Emang,"


"Untung cinta,"


"Oh jadi cintanya sama si untung?" tuding Zea tiba-tiba.


Azlan mengerutkan dahinya.


"Jadi Lo cemburu?"


"Hah ya nggaklah, masa gue cemburu sama untung. Kenal juga nggak."


"Halah, cewe mah gitu lain di mulut lain di hati. Sok-sokan nggak cemburu, entar sekalinya gue bawa cewe dia mencak-mencak kaya orang gila."


"Gue mah nggak begitu Lan." Ucap Zea serius.


"Gue nggak ngelarang Lo buat jalan sama cewek manapun. Tapi, kalau gue sampe ngelihat dan tahu hal itu. Itu tandanya Lo udah siap kehilangan gue di hidup Lo."


Gleg, Azlan menelan salivanya. Memikirkan Zea tidak ada di hidupnya saja membuat Azlan hampir gila. Bagaimana jika Zea benar-benar meninggalkannya?. Azlan tidak akan sanggup melanjutkan hidupnya dengan normal pastinya.


* * *


"Pelan-pelan Ze. Ha iya lompat sekali. Jalan terus, jalan. Eh eh awas becekan. Geser dikit ke kanan." Azlan menuntun Zea untuk berjalan. Karena mata gadis itu tertutup oleh kain hitam tadi.


Namun bukan Azlan namanya jika tidak memanfaatkan hal itu. Azlan terus saja menjahili Zea. Mengatakan ada lubang ataupun jalanan becek. Padahal jalan yang mereka lewati itu sangatlah bagus.


"Kita mau kemana sih Lan? Kok banyak banget beceknya?" Zea sedikit kesal.


"Ke hutan." Jawab Azlan asal.


"Lah ngapain ke hutan sih?" tanya Zea bingung.


"Jumpai macan, kembaran Lo." Jawaban Azlan langsung membuat Zea menjambak rambutnya.


"Eh eh sakit Ze, asal Jambak aja."


"Lo sih ngeselin, masa gue di samain sama macan."


"Heheh nggak sayang, becanda."


Setelah itu Azlan kembali menuntun Zea untuk berjalan. Namun tetap sama, Azlan masih saja menjahili Zea.


"Nunduk Ze nunduk ada tali nih. Jalannya pelan-pelan aja."


"Masih jauh ya Lan?" tanya Zea. "Gue capek." Keluh Zea.


Dapat Azlan dengar deru napas Zea sedikit tidak teratur. Mungkin gadis itu memang lelah.


Azlan menghentikan langkahnya. Kemudian membungkukkan tubuhnya di depan Zea. Azlan mengarahkan tangan Zea untuk naik ke punggungnya.


"Mau ngapain?" bingung Zea.


"Naik aja, gue gendong." Karena memang lelah. Zea memilih menuruti ucapan Azlan saja, Zea langsung naik ke punggung Azlan.


Tidak butuh waktu lama Azlan langsung membawa Zea ke tempat tujuannya. Tentunya dengan Zea di atas punggungnya.


"Lan gue berat ya?" tanya Zea sedikit tidak enak.


"Masih berat macan sih Ze di banding Lo." Jawaban yang asal tentunya.


"Emang Lo pernah gendong macan?" tanya Zea dengan polosnya.


"Ya belum sih,"


"Yah gue kirain udah pernah."


"Kecewa?"


"Nggak tuh. B aja."


"Dih bahasa Lo."


Zea hanya nyengir saja. Meskipun Azlan tidak melihat itu tetapi Azlan tahu keadaan hati Zea jauh lebih baik dibandingkan di pemakaman tadi.


* * *


Azlan menurunkan Zea dari gendongannya. Ia berjalan ke belakang Zea. Membuat gadisnya itu berhadapan langsung dengan sebuah pohon.


"Udah sampe?" tanya Zea.


"Udah," jawab Azlan lembut.


Azlan membuka ikatan kain hitam pada mata Zea. Zea sedikit merasa pusing, mungkin saja karena penglihatan yang tadinya gelap berubah menjadi terang.


Zea melirik Azlan yang ternyata ada di belakangnya.


"Lo ngapain di belakang," bukannya menjawab Azlan malah tersenyum. Zea hendak membalik tubuhnya namun Azlan menahannya. Dan hal itu membuat pandangan Zea mengarah pada pohon di hadapannya.


Dahi Zea berkerut ketika melihat ada sebuah kalung berbentuk love dengan gabungan namanya dan Azlan di dalamnya. Dan karena hal itu, Zea baru sadar bahwa nama mereka berdua dapat membentuk satu kata. ZEAZLAN.


"Gimana, suka?" senyuman Zea tercetak jelas. Zea mengangguk cepat.


Azlan meraih kalung itu, lalu memakaikannya ke leher Zea.


"Pasti mahal," kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Zea.


Azlan melirik Zea sekilas, ia tersenyum cukup lama.


"Lebih berharga Lo di hidup gue dibandingkan kalung ini."


"Pengen nangis sumpah. Terhura gue denger ucapan Lo." Ejek Zea langsung.


Azlan mencubit pelan hidung Zea.


"Bisa aja kamu,"


"Dih kamu!!" cibir Zea.


"Lah kenapa, manggil pacar sendiri kamu emang nggak boleh?"


"Boleh sih, cuma agak asing aja gitu. Mungkin nggak terbiasa."


"Yaudah mulai sekarang dibiasakan."


"Harus banget ya?"


"Iya,"


"Oke, gue coba."


"Heh," tegur Azlan langsung.


"Aku coba maksudnya." Zea memberikan cengiran lucunya.


Azlan kembali mengambil kain hitam tadi.


"Di tutup lagi?" tanya Zea.


"Nggak,"


"Terus?"


"Simpan aja, mungkin aja suatu hari dibutuhkan." Zea berdecak singkat, ia meraih kain itu lalu menggenggamnya.


"Oh iya Ze, besok Aku mau ke Singapura." Zea langsung menoleh ke arah Azlan.


"Singapura? Ngapain?" tanya Zea.


"Ada bisnis papa yang mengharuskan aku ke sana. Ya sebenarnya hal ini udah lama juga sih papa minta aku yang urus, cuma karena aku masih kuliah aku tolak. Bulan depan aku wisuda, dan nggak ada alasan lagi untuk nolak ini." Jelas Azlan.


Tampak jelas perubahan wajah Zea.


"Hem kamu berapa hari di Singapura?" Azlan tersenyum mendengar pertanyaan Zea.


"Jangan bilang seminggu, atau bahkan sebulan?. Atau jangan-jangan setahun. Yah Lan, aku baru aja siuman kamu udah mau pergi aja. Tahu gitu mending Aku pingsan aja." Azlan terkekeh mendengar celotehan Zea. Belum sempat dirinya menjawab, Zea sudah mengomel tidak jelas.


Azlan mengacak-acak rambut Zea gemas.


"Aku cuma sehari di sana. Mungkin cuma pengenalan aja. Setelah itu, tinggal tunggu keputusan papa."


"Jadi kamu bisa dong ikut aku ke pernikahan bang Roby?" senyuman Zea kembali terlihat.


"Emang kapan acaranya?"


"Hari Minggu."


"Gue usahain pulang lebih cepat." Zea kembali tersenyum, ia langsung memeluk Azlan.


"Makasih,"


"Sama-sama sayang."


Zea melepaskan pelukannya. Senyumannya terukir begitu indah. Azlan bersyukur sekarang. Usahanya tidak sia-sia. Lelahnya memberikan hasil yang memuaskan.


Perjuangannya untuk meluluhkan hati Zea ternyata membuahkan hasil. Senyuman yang tidak pernah ia lihat sebelumnya kini terlukis hanya pada dirinya.


Azlan membalikan tubuh Zea. Menginstruksi Zea untuk melihat apa yang ia lihat saat ini.


Mata Zea langsung membulat, senyumannya semakin mengembang. Ternyata saaj ini mereka berada di sebuah taman. Dan ya, sebuah kebun bunga terlihat jelas di netra mata Zea.


"Aku nepatin janji, kan?" itu suara Azlan.


Zea mengangguk cepat. Hari ini ia begitu bahagia. Dan semua itu karena Azlan.


"Aku boleh ngomong sesuatu nggak?"


"Ngomong aja,"


"I love you, Azlan."


Senyuman Azlan langsung mengembang. Ia memeluk Zea dari belakang. Setelah itu membisikan sebuah kalimat pada telinga gadisnya itu.


"I love you too sayang."

__ADS_1


Jadi readers, hari ini aku cuma bisa up segini dulu ya. Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa berkomentar.


__ADS_2