
Zea menghentikan langkah kakinya, napasnya sudah tidak teratur saat ini. Padahal mereka baru beberapa menit berlarilari, namun rasanya sudah sangat lelah. Mungkin karena sudah lama Zea tidak berlari, jadi snaagt berpengaruh dengan fisiknya.
"Ayo lari lagi kak Ze. Masa baru sebentar udah ngos-ngosan," ejek Zeo.
"Iya ayo kak, lari lagi!" tambah Zia.
"Kalian duluan aja, gue capek." keluh Zea.
Zeo menghentikan langkah kakinya. Mendekati Zea yang duduk di rumput.
"Masa lemah banget sih kak. Nggak biasanya Lo gini?" ucap Zeo.
"Gue lagi nggak mood joging, jadi bawaannya capek aja."
"Yaudah kalau gitu. Lo disini aja dulu, istirahat tuh di situ," ucap Zeo sembari menunjuk sebuah halte. Niatnya Zeo ingin mengajak Zea dan Zia menuju taman, karena Zea yang sudah lelah kemungkinan hal itu tidak jadi.
"Gue mau beli bubur ayam dulu di depan komplek. Lo mau kan?" ucap dan tanya Zeo.
"Mau," jawab Zea sembari menetralkan napasnya, yang tidak normal.
"Zia ikut ya bang," pinta Zia.
"Nggak usah dek, di sini aja temenin kak Ze." tolak Zea secara halus.
Zia langsung cemberut.
"Udah nggak papa Zia ajak aja Ze. Gue di sini sendiri juga nggak akan di culik kali." ucap Zea. "Sana ikut bang Ze, tapi jangan nakal ya."
Zia tersenyum sumringah. Kemudian langsung meraih lengan Zea.
"Ayo bang," ajak Zia semangat.
Zeo menghela napas pelan. Tidak mungkin menolak ucapan Zea. Kalau Zea di tinggal sendiri, Zeo kasihan tetapi kalau di ajak ke tempat tukang bubur ayam Zea sudah lelah. Bagikan buah simalakama dirinya saat ini. Mungkin Zeo terlalu lebay, tetapi itulah kenyataannya.
Seakan mengerti apa yang Zeo pikirkan.
"Udah sana Ze. Gue nggak papa sendiri. Lagian di sini juga rame kali orang berlalu lalang." Zea berusaha meyakinkan adiknya itu.
"Tapi kak,"
"Udah sana." Tatapan Zea selama tidak ada penolakan.
"Oke, gue pergi dulu." Zeo memilih mengalah saja. Tidak akan pernah menang berdebat dengan kakaknya itu. "Lo jangan kemana-mana!" peringati Zeo.
"Iya-iya bawel amat kaya cewe." cibir Zea.
Kemudian Zeo dan Zia meninggalkan Zea sendiri. Mereka berlari kecil supaya lebih cepat sampai ke tepat yang mereka tuju yaitu tukang bubur ayam.
"Kok gue haus ya. Mau beli uang gue pake ketinggalan lagi. Zeo udah jauh juga kalau mau di teriakin, yang ada gue kaya orang gila teriak-teriak sendiri," gumam Zea.
Namun sebuah botol air mineral tiba-tiba terulur di depan wajah Zea.
Zea beralih menatap ke orang yang memegang botol itu. Dahi Zea berkerut. Merasa kenal dengan orang itu. Tapi siapa ya?.
"Ambil! Lo haus kan?" ucapnya, seakan tahu apa yang Zea rasakan.
Zea hanya menatap pria itu datar. Tidak menerima ulurannya bahkan menyahut ucapannya saja tidak. Toh Zea tidak mengenalnya.
"Udah jangan malu-malu cantik. Ini baru aja gue beli di warung itu." ucapnya lagi sembari menunjuk sebuah warung pinggiran jalan yang berada di seberang Zea.
Panggilan itu? Zea seperti mengingatnya. Tapi siapa ya?.
"Kok malah ngelamun sih cantik?" pria itu melambaikan tangannya beberapa kali di wajah Zea.
Zea terkesiap sedikit. Zea ingat sekarang. Dia adalah laki-laki yang membuatnya kesal setengah mati kemarin ketika di lapangan futsal Zeo. Kenapa dia ada di sini?. Apakah lelaki itu mengikutinya? Tetapi untuk apa juga dia melakukan hal itu? Sama sekali tidak penting. Jika dilihat dari tampilannya sepertinya dia juga joging, sama seperti Zea dan adik-adiknya lakukan. Mungkin Zea yang terlalu berpikiran buruk tentang lelaki itu.
"Nggak perlu. Gue nggak haus." tolak Zea tanpa ragu.
Padahal sebenarnya dia sudah sangat haus sejak tadi.
"Yakin?" tanya pria itu. Kemudian dia meneguk air minum dari botol lainnya.
Sungguh laki-laki di sampingnya ini menggoda iman. Penampilannya yang berkeringat serta jakunnya yang terlihat naik turun ketika minum tadi membuat Zea hanya mampu menelan salivanya. Entah karena haus atau karena hal lainnya.
"Yakinlah," jawab Zea lagi masih terus menolak.
"Lo takut gue racuni ya? Makannya Lo nolak terus. gue tahu kali Lo tadi ngomong kalau haus banget." ucap pria itu. Yang tidak lain adalah Azlan.
"Kalau lo nggak percaya nih gue yang minum duluan," kemudian Azlan meneguk sedikit air minum dari botol yang ia ulurkan ke Zea tadi.
"Nih percaya kan?"
Kemudian memberikan secara paksa kepada Zea.
"Terus gue minum di botol bekas Lo dong." keluh Zea.
"Emangnya kenapa? Gue nggak punya riwayat penyakit kok. Jadi Lo tenang aja." ucap Azlan enteng. Kemudian duduk di samping Zea.
"Enak aja lo bilang tenang," ucap Zea tajam.
Azlan mengerutkan dahinya. Bingung kenapa gadis di sampingnya itu terlihat kesal.
"Lo udah minum dari botol ini tadi. Dan bibir Lo itu nyentuh botol kalau gue minum juga dari botol yang sama, otomatis kita itu ciuman secara nggak langsung." ucap Zea menggebu-gebu.
Mata Azlan melotot. Sontak tawanya pecah. Tidak menyangka gadis di sampingnya akan berpikir sampai seperti itu.
"Malah ketawa lagi. Ngeselin banget." ucap Zea kesal.
Melihat hal itu, tawa Azlan terhenti. Dia berdiri dari duduknya kemudian berjalan menuju warung tempat ia beli minuman tadi.
"Dia mau ngapain ke warung itu lagi," tanya Zea heran.
Kemudian Azlan kembali duduk di samping Zea lalu memberikan sebotol air mineral lagi kepada Zea.
"Lo beli lagi?"
"Iya. Buat Lo,"
"Kenapa harus beli lagi?" tanya Zea lagi.
"Karena lo haus," jawab Azlan seadanya.
"Gue haus apa peduli Lo. Emango siapa yang harus ngelakuin itu?" sindir Zea pedas.
"Lo mau jawaban jujur atau boong," pertanyaan Azlan membuat Zea bingung.
Ya kali gue bilang gue beliin lo minum dan ngikutin Lo joging karena mau mastiin perasaan gue, kan nggak mungkin. Batin Azlan.
"Maksud Lo?" tanya Zea cepat.
"Nggak. Udah ambil ini, gue tahu Lo haus banget lagian muka Lo agak pucet. Lo sakit?"
"Nggak," jawab Zea singkat.
"Gue nggak minta Lo beli lagi. Kan udah kebanyakan air minum jadinya," keluh Zea.
"Emang lo mau minum bekas gue," sindir Azlan. Zea langsung menggeleng cepat.
"Yaudah ambil nih. Lo haus kan?" Zea tidak punya pilihan, dia terpaksa menerima pemberian Azlan karena hausnya sudah tidak tertahan lagi. Zea menerima air minum itu lalu meneguknya hingga merasa lega.
"Terima kasih," ucap Zea tulus.
"Sama-sama,"
Kemudian Azlan kembali berdiri dari duduknya.
"Gue duluan ya."
"Eh iya," jawab Zea gelagapan. Kaget karena Azlan yang tiba-tiba berdiri.
"Nggak usah kaget gitu, mukanya" seakan mengerti raut wajah Zea.
"Nggak ah, biasa aja." ucap Zea cepat.
"Lain kali kalau gue beliin Lo minum gue bakal minum duluan dan mungkin nggak akan gue kasih tau sama Lo kalau bekas gue, biar Lo bisa rasain ciuman pertama gue," ucap Azlan lalu berlari menjauhi Zea.
Mata Zea membulat kemudian menatap tajam Azlan, yang hanya terlihat punggungnya.
"Dasar Lo laki-laki mesum," teriak Zea.
Azlan berbalik lalu mengedipkan satu matanya kepada Zea, Kemudian Azlan melanjutkan langkahnya lagi.
"Dasar cowo, semuanya sama. Kalau nggak modus ya mesum. Heran gue," gerutu Zea. Ingin rasanya Zea mengejar laki-laki itu lalu menghajarnya. Namun mengingat dirinya sedang menunggu Zeo, rencana itu ia urungkan.
"Kenapa kak. Kok ngomel begitu," tanya Zeo yang sudah kembali dari membeli bubur ayam tadi.
"NGGAK PAPA!!" bentak Zea emosi.
"Lah ngapa anak perawan marah-marah?" heran Zeo. Pasalnya dia sedang tidak menggoda Zea, tetapi kenapa Zea sudah kesal begitu.
"Tau ah. Mana buburnya, gue laper?" tanya Zea.
"Ini," ucap Zeo kemudian memberikan bungkusan bubur itu.
"Kita makan di taman aja deh kak. Di sini nggak enak di lihatin orang." Ajak Zeo.
"Serahlah," jawab Zea singkat.
"Sabar Ze sabar, mungkin kakak Lo lagi pms," gumam Zeo.
"Ngomong apaan Lo tadi?" sinis Zea.
"Nggak ada." jawab Zeo malas berurusan dengan Zea yang lagi tidak mood.
"Oh iya Zia mana?" tanya Zea ketika menyadari adiknya tidak ikut bersama Zeo.
"Tadi gue jumpa paman Antoni. Dia ngajak Zia ke rumah untuk nemani Rara di rumah, katanya Tante Fida mau pergi." Jelas Zeo. Zea hanya manggut-manggut saja.
"Habis ini mau langsung pulang?" tanya Zeo.
"Nggak ah. Lagi males ke rumah." jawab Zea. "Pergi kemana dulu gitu ya," sepertinya Zea mulai netral lagi. Emosinya mulai stabil.
"Oke."
"Lo mau kita kemana, kak?" tanya Zeo.
"Terserah," mulai lagi deh. Jawaban nya ambigu. Terserah kan banyak, nanti kalau gue usulin tempatnya dia nggak terima.
__ADS_1
"Kita ke taman mini aja, biasanya ada senam kalau jam-jam segini." Ajak Zeo.
"Ogah ah. Gue males senam," tolak Zea. Baru juga di bilang.
"Terus Lo maunya kemana, kak?" tanya Zeo lagi. Dia berusaha sabar menghadapi Zea.
"Ya terserah,"
Zao menarik napas dalam. Sabar Ze sabar ini ujian.
"Terserah bukan jawaban kak," ucap Zeo pasrah.
"Yaudah loh terserah pokonya,"
Zeo menatap datar kakaknya itu. Kemudian menarik tangannya. Entah kemana Zeo akan membawa Zea yang jelas Zeo lelah berdebat dengan kakaknya yang tidak akan ada habisnya.
* * *
"Kita mau kemana?" tanya Zea lesu. Sebenarnya Zea sudah lelah karena berjalan sejak tadi.
"Tunggu bentar!" perintah Zeo. Kemudian Zeo pergi meninggalkan Zea. Memasuki sebuah gang perumahan.
"Mau kemana tuh bocah?" heran Zea.
Zea mengangkat bahunya tanda tidak peduli. Tidak lama Zeo pergi dia sudah kembali lagi di hadapan Zea, tetapi kali ini Zeo tidak jelan kaki melainkan naik motor.
Zea menatap heran Zeo. Motor itu serasa asing baginya.
"Motor siapa?" tanya Zea langsung.
"Motor gue," jawab Zeo enteng.
Zea menatap Zeo penuh selidik. Bagaimana mungkin Zeo punya motor. Zeo tidak bekerja, jangankan untuk beli motor jajan saja Zea yang memberinya. Bukan ayah mereka tidak sanggup untuk membelikan Zeo motor hanya saja karena pernikahannya, membuat Zeo memiliki jarak dengan sang ayah begitupun Zea. Jika tidak diberi mereka enggan untuk meminta.
"Masa," cibir Zea tidak percaya.
"Lo nggak percaya?" ucap Zeo.
"Nggak," jawab Zea cepat.
"Sama gue juga,"
"Untung Lo adik gue Ze, kalau nggak udah gue karungi. Ngeselin banget " omel Zea
Zeo hanya memberikan cengiran tidak jelasnya.
"Lagian gue duit dari mana beli motor?"
"Ada motor peninggalan Bunda aja udah syukur Alhamdulillah," ucap Zeo.
"Terus ini motor siapa?" tanya Zea sembari menatap sekilas motor N-max itu.
"Gue minjem sama temen gue. Kasihan gue ngelihat Lo jalan, lagian mau pulang ambil motor dulu gue males." jelas Zeo. "Udah buruan naik!" ajaknya. Kemudian Zeo memberikan helm berwarna pink kepada Zea.
"Pink?"
"Nggak ada lagi. udah pake aja! Itu juga helm adiknya temen gue. Gue males kena tilang gara-gara Lo nggak pake helm nantinya. Udah ayo naik," jelas dan suruh Zeo.
"Iya-iya," Jawab Zea.
Kemudian Zea naik ke atas motor itu. Zeo langsung menyalakan motor dan melajukannya dengan kecepatan sedang.
"Kita mau kemana?" tanya Zea. Dia sangat penasaran kemanakah adiknya akan membawanya.
"Ke suatu tempat." jawab Zeo cepat.
"Ya tapi kemana Ze?" tanya Zea lagi. "Kuburan juga tepat kali," cibir Zea.
Zeo tersenyum singkat mendengar ucapan kakaknya itu.
"Ya kali ke kuburan, Lo kan belom mati kak. Gue juga masih mau hidup lah." Balas Zeo. Dan berhasil mendapat cubitan maut Zea.
"Sshh sakit kali kak. Lo nyubit nggak kira-kira."
"Di kira pinggang gue kue apa?" Zeo mengelus pelan pinggangnya yang terkena cubitan Zea. Mungkin saat ini pinggangnya sudah berubah warna sedikit keunguan karena bekas cubitan Zea. Zeo tahu kakaknya itu pasti sangat kesal hingga sampai mencubit dirinya. Karena jika Zea sudah benar-benar bad mood maka dirinya bisa jadi babak belur. Itu sebabnya Ze tidak pernah ingin mencari gara-gara jika Zea sedang pms atau pra-pms.
"Kalau kue itu kok enak yah? Kalau cubitan Lo mah perih," rintih Zeo.
Zea menepuk pelan punggung Zeo.
"Sakit woi. Tadi pinggang gue Lo vubit, ini punggung gue lagi. KDRT ini mah."
"Lebay!!!"
"Lagian lo sih, masa doain gue mati. Kan gue jadi kesel." ucap Zea cemberut.
"Ya tapi jangan sampe cubit beneran juga kali kak. Sakit tahu," keluh Zeo dengan sesekali masih meringis karena sakitnya cubitan Zea.
Zea merasa tidak enak kepada Zeo. Karena sebenarnya dia juga tidak berniat untuk menyakiti adiknya itu.
"Lo sih," ucap Zea. " Makannya jangan buat gue bad mood ngapa," tambah Zea seperti semakin kesal.
Tapi tidak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya Zea tidak tega melihat Zea yang kesakitan.
"Iya-iya maaf. Maksud gue kan bukan gitu kak. Gue cuman pengen bawa Lo ke tempat temen gue. Gue yakin Lo pasti seneng."
Sepertinya Zea sudah tidak kesal lagi. Terdengar dari nada bicaranya mulai lembut kembali.
"Adalah, Lo lihat aja nanti." jelas Zeo. Zea hanya menghela napas pelan. Tanda mengiyakan. Percuma saja memaksa Zeo memberi tahu karena Zeo tetap saja merahasiakan. Toh nanti Zea juga akan tahu.
"Oke," ucap Zea mengakhiri. Zeo mengganggukkan kepalanya. Senyumannya mengembangkan. Zeo bahagia akhirnya Zea tidak rewel lagi.
Zea melihat Zeo yang sesekali memegang pinggangnya. Apa cubitan gue sakit banget ya Ze?. Batin Zea.
Zea memeluk pinggang Zeo. Meletakkan kepalanya di bahu Zeo. Sontak Zeo terkejut dengan pergerakan Zea. Namun sekian detik Zeo dapat menetralkannya keterkejutannya.
"Maaf Ze. Gue nggak bermaksud buat Lo kesakitan," ucap Zea lirih.
Zeo tahu air mata Zea mulai menetes. Dapat Zeo lihat dari kaca spion yang memang Zeo arahkan untuk melihat wajah kakaknya itu.
"Gue nggak papa kak. Lo jangan sedih gitu ah, gue nggak suka."
"Tapi gue nggak enak sama Lo. Gue nyubit Lo kekencengan jadi Lo kesakitan deh." Suara Zea semakin pelan. Bahkan hampir tidak terdengar. Sepertinya tangisan Zea semakin menjadi.
Zeo memarkirkan motornya ke tepi jalan.
"Sekarang Lo nangis sepuanya. Gue nggak akan larang." Dengan posisi Zea masih memeluk Zeo sat ini, Zeo membiarkan Zea menangis. Zeo tahu bukan karena Zea mencubit dirinyalah yang menjadi penyebab tangisan Zea. Pasti ada hal lain. Namun Zeo tidak ingin menanyakan hal itu kepada Zea. Karena Zeo tahu Zea tidak akan suka hal itu.
"Ze," panggil Zea dengan suara yang masih serak akibat menangis.
"Hmmm, kenapa? Udah selesai nangisnya," kali ini Zea sudah melepaskan pelukannya, membuat Zeo berbalik dan menatapnya.
Tatapan Zeo penuh perhatian dan kasih sayang. Mungkin jika orang yang tidak mengenal mereka pasti mengira bahwa mereka adalah sepasang kekasih bukan kakak beradik. Dapat dilihat dari tatapan Zeo yang begitu dalam.
"Maaf gue udah nangis. Baju lo jadi basah kan," lirih Zea. Pandangannya mengarak ke bawah. Zea hanya memeras tangannya yang tidak berdosa. Entah apa yang dia lakukan.
Zeo melirik bajunya yang memang sedikit basah karena air mata Zea atau bahkan air hidungnya. Namun Zeo tidak memedulikan itu. Yang terpenting saat ini baginya adalah bagaimana caranya membuat Zea tersenyum kembali.
"Mau es krim?" tanya Zeo.
Zea langsung mendongak dan mengangguk cepat. Sontak Zeo tersenyum.
"Kita beli sekarang," ucap Zeo, kemudian mengelus pelan pipi Zea. Mengelap sisa air mata yang ada di wajah kakaknya itu.
"Tuh lihat tuh masa pacaran di pinggir jalan," ucap seorang wanita tidak jauh dari tempat Zea dan Zeo memarkirkan motor mereka.
"Iya yah. Kaya nggak ada tempat lain aja." ucap wanita yang lain.
"Pake mesra-mesraan segala lagi. Di kira bumi milik berdua apa? Yang lain numpang." tambah wanita yang tadi.
"Si ceweknya nangis tuh. Mungkin di putusin sama cowoknya kali."
"*Atau mungkin di selingkuhan sama cowoknya. Atau jangan-jangan si cewek yang ketahuan selingkuh sama cowonya."
"Udah ah kok jadi kaya lambe turah sih. Nge gosib mulu,"
"Lo sih,"
"Lah kok aku? k? Kan kamu yang mulai*,"
Zeo melirik ke arah dua wanita yang sedang membicarakan dirinya dan kakaknya.
Zeo bergerak ke arah mereka, namun tertahan oleh tangan Zea.
"Lo mau ngapain? Nggak usah ngelakuin hal aneh," peringati Zea.
"Lo tenang aja kak. Gue nggak bakal ngapa-ngapain." Kemudian Zeo melanjutkan langkahnya yang tertunda karena cekalan Zea tadi.
Zeo mendekati dua wanita itu. Tampak mereka yang langsung memalingkan wajahnya karena tahu sudah tertangkap basah.
"Lo sih Ga, ngomongnya kekencengan jadi dia denger kan," ucap wanita itu kepada temannya setengah berbisik.
"Kok gue sih. kan Lo yang mulai," balas temannya.
"Lo juga pantang di pancing. Langsung ngikut juga. Cowoknya kesini lagi. ******!! pasti dia mau ngelabrak kita,"
"Udah Lo tenang ngapa? Pura-pura nggak tahu aja."
"Iya-iya.".
"Ehemm, hai." sapa Zeo dengan senyum mautnya. Padahal hatinya sudah ingin mengamuk.
"Astagfirullah senyumnya menggoda iman," batin wanita itu. Tapi sayangnya udah punya pacar.
"Eh hai juga," ucap wanita itu sedikit kaku. Mungkin nervous karena berbicara dengan Zeo. Tidak dapat dibohongi kalau Zeo memang memiliki paras yang di atas rata-rata, yang mampu membuat kaum hawa melayang ke udara ketika melihat senyumnya. Namun biasanya ketika mereka terlena dengan senyumannya akan segera ia patahkan dengan sikap dinginnya.
"Boleh kenalan?" tanya Zeo santai.
Kedua wanita itu terkejut, terlihat dari ekspresi wajah mereka yang sedikit menegang. Namun dengan cepat mereka menetralkannya.
Sedangkan Zea hanya menatap datar kelakuan adiknya itu. Dasar modus. Batin Zea.
"Gue Zeo," ucap Zeo sembari mengulurkan tangannya.
Wanita itu menatap ukuran tangan Zeo kemudian meraihnya dengan cepat.
"Aku Sifa," ucapnya dengan senyuman semanis mungkin. Namun Zeo hanya menganggap biasa.
__ADS_1
Tiba-tiba dengan cepat tangan Zeo sudah di raih wanita yang satunya.
"Nggak boleh lama-lama, belum muhrim." Bisik wanita itu kepada Sifa namun masih dapat di dengar oleh Zeo.
Kemudian wanita itu menatap Zeo dengan senyumannya.
"Gue Hany," ucapnya lembut. Entah memang sengaja Zeo tidak tahu.
Sedangkan Zea yang melihat itu hanya menghela napas. Awalnya Zea mengira Zeo akan memarahi dua wanita itu karena sudah menceritakan mereka di belakang mereka. Ralat, tidak di belakang bahkan di depan mereka. Tetapi Zeo malah mengajak dua wanita itu berkenalan.
"Oh iya, Sifa dan Hany."
"Senang berkenalan dengan kalian." Ucap Zeo lembut.
"Oh iya kalian coba lihat kesana!" Zeo menunjuk ke arah Zea. Sontak kedua wanita itu mengikuti instruksi Zeo.
Sedangkan Zea yang melihat itu hanya memberikan wajah datar bahkan tidak ada senyuman sama sekali.
"Dia Zea," ucap Zeo. Mereka berdua hanya diam Bingung dengan maksud Zeo yang memperkenalkan gadis yang mereka anggap pacar Zao.
"Oh hai Zea," ucap Sifa lembut.
"Hai," kali ini Zea membalas sapaan Sifa dengan sedikit senyuman.
Cantik. Hanya itulah yang dapat Sifa deskripsikan tentang Zea.
"Dia kakak gue," ucap Zeo.
Kedua wanita itu langsung menoleh ke arah Zeo. Tidak lama Sifa kembali menoleh ke arah Zea lagi. Mungkin dia mencari kemiripan dari dua manusia yang baru ia temui ini.
"Oh gitu ya?." Ucap Hany pelan.
Ternyata mereka sudah salah sangka. Sifa merasa bersalah karena sudah menduga dan menuduh yang tidak-tidak tentang Zeo dan Zea. Padahal mereka tidak saling kenal sebelumnya.
"Iya," saat ini Zeo menunjukkan sisi dinginnya.
Nyali Sifa menciut. Ternyata cowo ganteng kalau lagi dingin begitu seram banget.
"Gue tahu kalian dari tadi nyeritain gue dan kakak gue. Gue nggak masalah sih, tapi yang kalian ucapin itu nggak bener. Dia bukan cewek gue, dan gue nggak nyelingkuhin dia. Karena dia kakak gue," ucapan Zeo membuat Hany dan Sifa hanya mampu menunduk malu karena sudah seenaknya menceritakan orang tanpa mengetahui kebenarannya.
"Maaf Zeo kita nggak bermaksud," Sifa memberanikan diri untuk bersuara.
"Gue nggak suruh Lo ngomong," bentak Zeo.
Zea melotot, tidak menyangka adiknya akan membentuk orang lain di depan umum seperti itu.
"Ze," panggil Zea. Menatap dalam adiknya seakan mengatakan 'kontrol emosi Ze'.
Zeo menarik napasnya dalam. Memang sudah sejak tadi dia menahan emosinya.
"Udah diem aja Fa," bisik Hany kepada Sifa.
"Maaf." lirih Sifa.
Sepertinya gadis itu sangat sensitif. Wajahnya begitu sedih ketika di bentak oleh Zeo. Zeo merasa bersalah karena melakukan itu, dia tidak menyangka reaksi Sifa akan seperti itu.
"Please jangan ngebentak. Teman gue sensitif orangnya," bisik Hany pelan menatap sendu Zeo.
Zeo kembali menghela napas.
"Oke, kali ini gue maafin kalian." ucap Zeo. Sontak Sifa mengangkat kepalanya. Benar saja matanya sudah berkaca-kaca.
"Terima kasih," ucapnya tulus. "Aku nggak bermaksud untuk ceritain kalian yang nggak-nggak. Maaf ya, soalnya kalian emang lebih terlihat kaya sepasang kekasih dari pada kakak adik."
"Lo bukan orang yang pertama yang ngomong begitu," kali ini Zea yang bersuara. Dia berjalan mendekati Sifa.
"Semua orang yang baru kenal sama kita, pasti ngira begitu. Karena emang gue sama Zeo cuma beda setahun aja," jelas Zea.
"Maafin adek gue ya, mungkin dia terbawa emosi tadi," ucap Zea dengan senyumannya. Kali ini senyuman itu terlihat sempurna.
Sifa dan Hany membalas senyuman Zea.
"Yaudah kalau begitu kita pamit ya. Maaf udah ganggu ketenangan kalian." Kemudian Zea memegang tangan Zeo untuk membawanya.
"Seharusnya kami yang minta maaf bukan kalian," ucap Hany.
"Tidak papa," ucap Zea .
"Kami pergi duluan ya, sampai jumpa lain waktu." Zea menyusul Zeo yang ternyata sudah jalan lebih dulu.
"Untung aja kita selamat," ucap Hany lega.
"Iya untung aja. Serem ah lihat tuh cowok pas marah tadi, kaya harimau mau nerkam," tambah Sifa.
"Hus jangan ngomong gitu! Lo mau di datengin lagi?" peringati Hany.
Sifa langsung menutup dengan cepat mulutnya. Kepalanya hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Kalau nggak mau jaga bicara Lo," tambah Hany.
"Iya-iya."
"Aku harap aku hanya sekali aja ketemu cowo serem begitu," gumam Sifa. Namun masih dapat di dengar oleh Hany.
"Udah ah ayo pulang!" Hany langsung menarik Sifa meninggalkan tempat itu.
"Ze," panggilan Zea membuat Zeo menoleh.
"Pakai helm Lo," ucap Zeo dingin. Zea menerima helm itu.
Kenapa jadi dingin ke gue sih?. Zea menghela napas.
"Lo nggak seharusnya ngebentak orang yang nggak dikenal begitu Ze," ucap Zeo.
"Gue tahu, gue cuma kebawa emosi aja tadi. Udah buruan naik." Perintah Zeo.
Zea hanya menuruti saja. Setelah Zea naik, Zeo langsung melajukan motornya. Namun kali ini dengan kecepatan tinggi.
"Kalau lo mau mati nggak usah ngajak gue. Turunin gue disini," mendengar ucapan Zea yang kesal. Zeo langsung mengurangi kecepatan laju motornya.
"Iya-iya bawel Lo," balas Zeo.
Dan keadaan kembali hening. Sampai Zea kembali memecahkan keheningan itu.
"Ze gue pengen martabak telor," ucap Zea.
"Oke kita cari," jawab Zeo mengiyakan.
"Tapi yang kaya Lo beli kemaren itu," ucap Zea.
Zeo berusaha mengingat dimana ia kemarin membeli apa yang diminta kakaknya itu.
"Tapi kemaren itu gue beli di dekat terminal. Jauh dari sini Kak."
"Nggak papa, gue pengen."
"Kalau lo mau kita bisa beli di samping lapangan futsal gue biasa latihan. Lebih dekat dari sini, rasanya juga sama enaknya." tawar Zeo. Karena jika mereka membelinya di tempat yang Zea minta akan memakan waktu lebih dari dua jam dan itu cukup melelahkan untuk dirinya yang membawa motor.
"Bener rasanya sama?" tanya Zea memastikan.
"Iya,"
"Lagian jam segini tuh Abang martabak udah buka. Kalau yang di terminal gue nggak bisa pastiin udah buka atau belum, ya soalnya ini masih jam setengah sebelas." jelas Zeo.
"Yaudah deh, beli di dekat lapangan futsal Lo aja." Zea memutuskan.
"Tapi Ze," ucapan Zea terpotong.
"Tapi kenapa kak?"
"Ada yang mau Lo beli lagi?"
"Nggak,"
"Jadi apa?" tanya Zeo.
"Kita ke makan Bunda dulu ya. Gue kangen bunda," ucap Zea sendu. Nadanya merendah.
"Oke," jawab Zea cepat.
Kemudian Zeo membawa Zea ke sebuah tempat pemakaman umum dimana ibu mereka dimakan. Zea turun dari motornya diikuti oleh Zeo dibelakangnya. Mereka menyusuri pemakaman yang sepi, karena memang tidak ada kehidupan di sini. Hanya ada seorang tukang bersih-bersih makan yang sering Zea temui ketika berziarah ke makan ibunya serta beberapa orang yang mungkin berziarah ke makan kerabatnya.
"Assalamualaikum Bun," ucap Zea lirih ketika sampai di makan ibu mereka.
"Maaf ya, Zea jarang kesini." Air mata Zea perlahan lolos dari tempatnya. Mengalir di pipi mukus gadis itu.
"Bunda tahu, Zia pasti marah ke Zea karena nggak ngajak dia ngejenguk makan bunda. Tapi Zea nggak sengaja ngelakuinnya kok Bun. Zea tadi joging sama Zea terus di ajak jalan-jalan sama dia dan akhirnya Zea bilang Zea pengen ke sini,"
"Zea kangen bunda. Bunda udah bahagia kan disana? Tapi Zea belum bahagia di sini bun, maaf Bun kalau Zea ngeluh, tapi kepergian bunda bukan hanya membuat kami kehilangan sosok bunda tetapi ayah juga. Ayah udah nggak kaya dulu Bun, dia udah nggak sayang sama Zea dan adik-adik. Zea udah kecewa sama ayah bun. Ayah nggak peduli lagi sama Zea dan adik-adik. Zea kangen bunda, Zea pengen kayak dulu lagi. Kita kumpul bareng, tapi semuanya nggak bisa lagi. Nggak papa Bun, Zea kuat kok. Zea kan anak bunda jadi harus kuat." Zea menghapus kasar air matanya. Lalu berdiri.
Zeo memalingkan wajahnya ke arah lain. Tidak dapat dibohongi bahwa Zeo juga merasakan hal yang sama, bahkan lebih daripada Zea. Selama ini Zea selalu terlihat kuat, bahkan setelah kepergian bunda mereka Zeo tidak pernah melihat kakaknya itu menangis. Tetapi kali ini, Zea menangis lagi. Zeo tidak kuat melihat Zea menangis. Zeo merasa tidak dapat menepati janjinya untuk membahagiakan Zea. Niatnya untuk membuat Zea senang hati ini malah menghasilkan air mata yang selalma ini terpendam.
"Nggak usah sok kuat Ze, gue tahu Lo nggak sama cengengnya sama gue. Meskipun Lo laki-laki." ucap Zea tanpa melihat Zeo.
Mendengar ucapan Kakaknya itu. Zeo berjongkok, mendekati makan ibunya itu.
"Maaf Bun. Zeo belum bisa nepatin janji Zeo untuk buat kak Ze dan Zia selalu bahagia," lirih Zeo.
Zea merangkul bahu Zeo. Namun Zeo langsung pergi meninggalkan Zea.
Zeo tidak ingin Zea melihat dirinya menangis. Dia harus kuat, Zeo tidak ingin lagi terlihat lemah. Zeo harus mampu menjadi sandaran untuk kakaknya, sudah cukup Zea yang merasakan kesedihan dan menjadi pundak untuk dirinya, sekarang giliran dia yang mengambil alih semuanya.
"Zea pulang dulu ya Bun, assalamualaikum. Zea janji bakal sering kesini, dan pastinya ngajak Zia juga."
Kemudian Zea melangkah pergi dari makan ibunya. Mencari sosok adiknya, ternyata dia sudah berada di atas motornya menunggu Zea.
Mereka tidak berkata apapun. Semuanya mendadak hening. Keduanya tidak mengatakan satu katapun. Zeo hanya memberikan helm kepada Zea tanpa berbicara dan Zea pun menerimanya tanpa kata. Zea naik ke motor Zeo, setelah itu Zeo langsung melajukan motornya kali ini dengan kecepatan sedang.
Keduanya diam membisu, larut dalam pikiran masing-masing.
**Hai semuanya terimakasih sudah membaca sampai part ini-:)
Maaf kalau masih banyak typo yang bertebaran.
Aku kasih tantangan , coba temukan typo ya😊
Jangan lupa beri like dan berkomentar**
__ADS_1