
*Assalamualaikum readers. Maaf sebelumnya ya, Author baru update hari ini.
Karena untuk up itu, Author harus mengumpulkan niat untuk nulis dan hal itu pastinya memerlukan waktu yang cukup lama, seperti menunggu harapan yang tidak pasti. (Curhat Thor heheh).
Oke bukan seperti itu. Lupakan ya. Meski melupakannya begitu berat karena terbayang dengan kenangan indah yang pernah di lalui*.
Bucin terooosss.
*Sabar ya sabar. Baca dulu aja ZEAZLAN sampai tamat.
Maaf ya, Author kebanyakan curhat. Jadi panjang deh hehehe.
Yasudah langsung aja ke cerita Zea dan Azlan. Dan untuk episode ini, Author bakal jawab rasa penasaran kalian tentang pria yang bersama bundanya Zea. Dan alasan mengapa Aisyah di sembunyikan. Selamat membaca*.
Happy reading guys 😍
* * *
Srettt
Darah segar mengalir deras dari tangan Fida. Wanita itu baru saja menggoreskan pisau di telapak tangan kanannya.
"Kalian bermain di belakangku, lihat saja apa yang akan aku lakukan setelah ini." Fida tersenyum singkat. Senyum yang begitu sulit untuk di artikan.
Fida meraih sebuah foto, dimana ada dirinya dan Zea disana. Hanya saja, di foto itu Zea terlihat lebih kecil. Mungkin gadis itu masih berusia sepuluh tahun.
"Kamu harus ada di pihakku, Zea."
* * *
Zea memasuki rumah dengan senyum yang terus menghiasi wajahnya. Hari ini dia cukup bahagia. Azlan mengajaknya ke pasar malam, tempat yang paling Zea sukai.
Mengingat apa yang mereka lakukan tadi saja mampu membuat Zea senyum terus-menerus seperti orang gila.
Karena terus larut dalam pikirannya Zea tidak sengaja menendang sebuah kotak kecil berwarna hitam di depan pintunya.
Dahi Zea berkerut menatap benda itu. Tidak menunggu lama, Zea langsung mengambilnya.
"Siapa yang naruh ini di sini ya?" tanya Zea entah pada siapa.
Zea menatap ke sekeliling, berusaha mencari seseorang. Namun Zea tidak melihat siapapun.
Karena tidak ingin pusing, Zea langsung masuk ke dalam kamarnya.
Sampai di dalam kamar Zea langsung membuka kotak kecil itu. Dahi Zea kembali berkerut, menatap isi kotak itu.
Sebuah kalung berbentuk bintang.
"Kok kayaknya kalung ini nggak asing ya?"
Zea berusaha mengingat sesuatu. Dimanakah ia pernah melihat kalung seperti ini.
"Oh iya, Zia." Zea langsung bangkit dari duduknya. Kemudian keluar dari kamarnya.
* * *
Zea keluar dari kamar Zia setelah mengambil kalung yang biasa adiknya itu pakai. Zea menatap kalung itu, menyamakan dengan kalung yang ia temukan tadi.
"Kalung ini sama," Zea berpikir sebentar.
"Bunda," gumam Zea.
* * *
Zea berjalan menuju kolam berenang. Ada satu sisi dari kolam berenang yang sebenarnya sejak lama ia curigai.
Di sisi ujung kolam berenang, ternyata berhadapan dengan sebuah lorong kecil yang ujungnya Zea tidak pernah tahu itu.
"Gue harus tahu, lorong ini mengarah kemana." Sea langsung melangkah melewati lorong itu. Ternyata lorong itu cukup panjang.
Lorong itu berbelok ke kanan. Dan anehnya, Zea mendapati sebuah taman mawar di sini.
"Mawar?"
"Apa semua mawar ini bunda yang menanamnya?"
Begitu banyak pertanyaan yang ada di pikiran Zea. Semua yang ia lihat masih samar, belum mendapatkan titik terang. Dan Zea harus mendapatkannya secepat mungkin.
Tiba-tiba Zea merasakan ada yang datang. Zea langsung bersembunyi di balik tembok.
"Apa yang kamu lakukan Ais," ucap seorang lelaki setelah melepaskan cekalan tangannya kepada Aisyah.
"Bunda," Zea tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Kali ini Zea benar-benar melihat Aisyah dengan cukup jelas. Wanita itu menatap tajam pria yang ada di hadapannya itu.
Zea tidak dapat melihat siapa pria itu, karena pria itu membelakangi Zea. Tetapi suaranya begitu familiar menurut Zea.
"Siapa laki-laki itu? Kok, suaranya kaya nggak asing ya?" tanya Zea pada dirinya sendiri. Zea berusaha mengingat suara siapa itu.
"Apa aku salah memberikan hadiah untuk putriku di hari ulang tahunnya?"
Deg
"Putri? Apa itu gue? Jadi hadiah ini dari bunda." Zea menatap kalung yang masih ia genggam sejak tadi.
"Ais, kamu nggak salah. Tapi waktunya yang nggak tepat. Kamu belum aman untuk keluar,"
Tampak Aisyah berdecih.
"Belum aman? Apa nyawa bunda terancam jika di luar?" Zea terus bertanya-tanya sendiri.
Zea begitu penasaran dengan sosok laki-laki yang sejak tadi memunggunginya itu.
Dan ya, keberuntungan ada di pihak Zea. laki-laki itu, berbalik menghadap ke arahnya. Sea langsung bersembunyi dengan cepat.
Tampak pria itu menghela napas berat. Kemudian ia berbalik lagi menatap Aisyah.
Namun, meskipun hanya sebentar Zea dapat melihat dengan jelas siapa laki-laki itu.
"Om Antoni," lirih Zea.
Zea masih menatap dua manusia yang berdebat itu.
"Tapi aku merindukan anak-anak Ku," kali ini Aisyah yang melemah. Tangisnya pecah.
"Bunda, Zea disini." Zea masih menahan dirinya untuk tidak keluar. Masih banyak yang harus ia cari tahu.
Mengapa bundanya ada di ruangan tersembunyi ini?. Mengapa pula bundanya masih hidup hingga saat ini?. Sedangkan kecelakaan maut menimpanya dua tahun lalu. Dan yang paling penting adalah, mengapa Antoni ada bersama Aisyah. Bunda Zea.
"Aku tahu Ais, tapi bersabarlah sebentar lagi. Kamu akan bertemu dan berkumpul bersama mereka." Antoni langsung memeluk Aisyah. Dan Aisyah sama sekali tidak menolak itu.
Dan hal barusan mampu membuat bola mata Zea membuat. Zea menatap keduanya tanpa berkedip.
"Nggak usah kaget,"
Zea langsung menoleh ke belakang ketika mendengar suara itu.
"Tante Fida," ucap Zea terkejut.
"Pelankan suaramu, nanti mereka mendengarnya." Fida langsung meraih tangan Zea, lalu membawanya pergi dari lorong itu.
"Tan, itu bunda. Kenapa Tante bawa Zea pergi? Zea mau temuin bunda."
Langkah Fida langsung berhenti. Wanita itu melepaskan cekalannya lalu menatap Zea tajam. Zea dapat merasakan dadanya sesak karena tatapan tajam yang diberikan oleh Fida.
"Kamu pikir dengan kamu temuiin bunda kamu sekarang, kamu akan bersama dengan dia." Sinis Fida.
"Kenapa nggak? Bunda pasti akan bersama dengan Zea." Fida tersenyum sinis.
"Bodoh!!!"
Mata Zea membulat.
"Maksud Tante?" tanya Zea ragu.
Fida menatap Zea lekat. Tersenyum kecil kepada gadis itu. Namum senyumannya begitu sulit untuk diterjemahkan.
"Antoni tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dia tidak akan membiarkan Kak Aisyah bebas begitu saja."
Zea masih mencerna ucapan Fida barusan. Jadi benar, Antonilah yang menyembunyikan Aisyah selama ini. Tetapi, apa alasannya?.
"Kenapa Tante Fida bisa ngomong begitu?"
Fida terkekeh kecil.
"Kamu itu terlalu polos Zea. Apa kamu nggak sadar, selama ini Antoni menganggap kamu seperti putrinya sendiri itu bukan tanpa alasan. Tentu saja alasannya ada Zea. Itu karena Antoni mencintai bunda kamu."
Bagaikan Sambaran petir di pundak Zea. Pernyataan yang baru saja Fida ucapkan sulit untuk Zea terima.
"Nggak mungkin," gumam Zea menolaknya.
"Jadi, menurut kamu apa alasan Antoni menyembunyikan Aisyah di tempat ini?. Tempat yang memang tidak pernah kita datangi."
Benar juga apa yang dikatakan Fida. Tempat ini memang tidak pernah di lalui oleh siapapun.
"Tapi Tan, Om Antoni itu kan suami Tante. Bagaimana mungkin dia mencintai bunda?"
Fida kembali tersenyum sinis.
"Antoni itu licik Zea. Kita nggak pernah tahu apa rencana dia. Yang jelas, dia selalu ingin memiliki Aisyah bagaimanapun caranya."
Pikiran Zea semakin tidak menentu. Dia masih belum percaya dengan apa yang ia dengar. Namun, apa yang ia lihat barusan menguatkan apa yang Fida ucapkan.
"Lalu apa yang harus kita lakukan untuk mengambil bunda dari Om Antoni?" Zea sengaja bertanya langsung ke inti.
Fida mantap serius Zea.
"Hanya dengan satu cara," ucap Fida.
"Apa itu?" tanya Zea serius.
"Membunuh Antoni."
* * *
Azlan meregangkan ototnya yang begitu lelah. Satu hari ini ia cukup bahagia. Bahkan sangat bahagia.
Selain dia dapat mengabiskan waktu dengan Zea, dia juga mendapatkan balasan untuk perasaannya.
Azlan megambil ponselnya lalu membuka galery yang berisi potret dirinya dan Zea beberapa jam lalu.
"Padahal yang lebih cantik dari Lo itu banyak Ze, bahkan ngejar-ngejar gue malah. Tapi kenapa gue bisa jatuh cintanya sama Lo ya?"
"Cewek jutek plus mulut pedas. Bahkan Lo orang pertama yang mgehujat gue dengan berbagai macam julukan. Tapi itu yang buat gue makin cinta sama Lo."
Azlan menutup matanya. Memeluk ponselnya, berkhayal seakan Zea yang ada di pelukannya.
"Bahkan gue udah kangen aja sama Lo,"
Tiba-tiba ponsel Azlan bergetar.
*Jodohku**❣️*
Azlan tersenyum lebar. Melihat nama yang tertera di layar. Tanpa menunggu lama, Azlan langsung membuka pesan yang Zea kirim.
Gue tau Lo capek karena baru pulang. Tapi kali ini gue butuh ketemu Lo, gue tunggu Lo di cafe ZA jam 10.
Azlan mengerutkan dahinya. Azlan melihat jam dinding. Sekarang sudah menunjukan pukul setengah sepuluh.
Azlane mengantarkan Zea pulang pukul sembilan. Dan dia baru saja sampai rumah hendak istirahat. Sekarang, gadis itu memintanya untuk menemuinya. Alasan apa yang membuat Zea meminta bertemu secara mendadak seperti ini.
Azlan langsung mengetikan sesuatu di ponselnya.
Nggak perlu ke cafe Za, ini udah malam. Biar gue yang ke rumah Lo aja😊
✓✓
Pesan langsung dibaca oleh Zea. Suatu keajaiban dalam hal ini sebenarnya.
Nggak bisa Lan. Kita ketemuan di luar aja, gue udah otw.
Setelah membaca pesan Zea barusan Azlan langsung mengambil jaketnya. Dan bergegas keluar rumah.
"Loh Lan, bukannya baru pulang? Kok udah mau pergi lagi?" tanya Marisa kepada Azlan.
Pasalnya putranya itu baru saja sampai rumah. Dan sekarang mau keluar lagi, melihat Azlan yang sudah rapi dengan jaketnya.
"Ada urusan mendadak mah," Azlan langsung menyalami Marisa.
"Kok gitu, apa nggak bisa besok pagi aja. Udah malam Lo, Lan."
"Masih jam stengah sepuluh lewat kok mah. Bencong aja jam segini baru keluar," Marisa mengerutkan dahinya.
"Emang kamu bencong?"
Azlan terkekeh mendengar pertanyaan spontan dari ibunya itu.
"Ya nggaklah mah, Azlan tuh laki tulen lah. Kalau bencong, Zea mana mau sama Azlan." Jelas Azlan langsung.
"Iya juga sih." Marisa manggut-manggut. "Urusan penting apa sih, kok kamu sampe mau pergi padahal baru pulang. Biasanya juga males." Ternyata Marisa belum puas dengan jawaban Azan tadi.
Azlan merapikan tali sepatunya.
"Urusah hidup dan mati mah. Yaudah Azlan pamit yah, assalamualaikum." Azlan langsung meraih kunci mobilnya, setelah itu berlari keluar menuju garasi.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"
"Mau kemana tuh bocah?" tanya Gibran ketika melihat Azlan berlari menuju pintu keluar.
"Nggak tau Pah, katanya ada urusan." Sahut Marisa seadanya.
"Urusan apa malam-malam begini?"
"Urusan hidup dan mati katanya."
"Apa!!"
* * *
Zea membuka matanya yang terasa masih begitu berat. Ia baru tertidur pukul tiga pagi tadi, dan sekarang masih pukul enam. Hanya tiga jam ia tidur.
Begitu banyak yang ia pikirkan tadi malam, dan hal itu membuat dirinya susah untuk tidur.
"Sudah bangun cantik?" Zea langsung menoleh ke sumber suara.
Matanya membulat ketika melihat siapa yang berdiri di samping pintu kamarnya. Dengan tangan disilangkan di dada.
"Jangan kaget gitu," ucapnya. Seakan tahu apa yang Zea rasakan.
"Tugas kamu segera di mulai, cepatlah bersihkan dirimu. Tante tunggu kamu di meja makan." Ucap Fida santai. Kemudian wanita itu pergi meninggalkan Zea yang sudah sibuk dengan pikirannya.
* * *
Zea menuruni tangga dengan jantung berpacu cukup cepat.
Bahkan di sekolah tadi, Zea tidak berhenti memikirkan apa yang sedang terjadi pada dirinya. Zea tahu benar, Antoni hari ini ada di rumah. Dan ya, Zea harus melakukan apa yang di perintahkan Fida. Pikirannya ingin menolak, namun entah mengapa, ketika berbicara dengan Fida, Zea langsung mengikuti apa yang wanita itu suruh. Zea selalu membenarkan apa yang Fida katakan.
Zea menyelipkan pisau yang tadi Fida berikan padanya di balik bajunya.
Pakaian yang Zea kenakan hari ini memang dibuat khusus untuk menyimpan beberapa senjata di dalamnya. Fida yang memberikannya, bahkan Zea tidak menyangka adik dari ibunya itu memiliki pakaian seperti ini.
Saat ini Zea merasa sudah seperti pembunuh bayaran seperti di film-film action yang biasa ia tonton.
Zea menghela napas dalam, ia berusaha menetralkan kegugupannya.
"Eh Zea, kamu sudah pulang sekolah?" tanya Antoni dengan ramahnya. Pria itu tengah fokus pada laptopnya.
"Iya Om," jawab Zea seadanya.
Zea berjalan menuju dapur, dia hendak membuat jus melon.
"Oh iya Om, mau Zea buatin minum nggak?" tawar Zea. Gadis itu langsung memulai aksinya.
"Kopi boleh juga." Sahut Antoni tanpa menoleh pada Zea.
Zea dapat melihat Fida tengah memperhatikan dirinya dari kejauhan.
* * *
"Ada dua pilihan untuk kamu habisin Antoni, Zea. Pertama dengan bubuk racun ini, kedua dengan pisau ini."
Zea hanya mengangguk. Untuk membantah terasa begitu sulit. Ini bukan hipnotis, namun tatapan mata Fida membuat Zea merasakan sakit yang sama seperti yang Fida rasakan.
"Beri bubuk racun ini pada minuman Antoni. Jangan lupa di aduk, karena jika tidak di aduk bubuk ini tidak akan tercampur dan tidak akan berefek apapun. Mungkin hanya pingsan beberapa menit saja."
Dan untuk kedua kalinya Zea menganggukkan kepalanya.
* * *
Zea menuangkan air panas ke dalam gelas yang berisi bubuk kopi dan bubuk racun itu.
"Ini Om kopinya," ucap Zea dengan senyuman manisnya. Setelah memberikan kopi itu, Zea langsung pamit untuk pergi ke kamar.
Antoni yan tadinya sibuk pada laptopnya kini beralih pada kopi buatan Zea. Antoni tersenyum dan menatap punggung gadis itu yang mulai menjauhinya.
Antoni mengangkat gelas kopi itu, namun dahinya berkerut ketika membaca sebuah tulisan kecil di sebuah tisu yang terselip di antara gelas dan kopi. Antoni membuka pelan kertas itu. Matanya membulat ketika membacanya.
Kopi ini beracun, jangan di aduk. Minum saja, Om hanya akan pingsan beberapa menit.
__ADS_1
Antoni membalik tisu ini mencari tulisan lainnya. Ternyata masih ada.
Siram tisu ini dengan kopi.
ZEA
Tidak menunggu lama, Antoni langsung meraih sendok yang ada di piring kopi tadi. Lalu mengambil sesendok air kopi untuk menyiram tisu. Setelah itu, Antoni meneguk kopi itu sedikit.
"Belum berefek?" gumam Antoni.
Pria itu kembali fokus pada laptopnya. Namun ternyata benar, setelah sekian detik kepalanya terasa begitu berat bahkan pandangannya mulai menggelap. Hingga akhirnya Antoni pingsan.
Dan sepasang mata yang melihat itu hanya memberikan senyum sinisnya.
"Permainan dimulai,"
* * *
Zea berjalan mengendap-endap pada sebuah lorong. Lorong yang kemarin juga ia lalui. Namun kali ini tujuannya berbeda.
Jika kemarin ia kesini mencari informasi, hari ini tidak. Zea harus menumpas sesuatu.
Zea tidak lagi bersembunyi pada tembok. Zea berjalan tanpa ragu menuju sebuah pintu yang dibaliknya Zea ketahui adalah ruangan rahasia.
Zea membuka pintu itu, dia tersenyum singkat karena pintu itu tidak terkunci.
Tanpa menunggu lama, Zea langsung masuk ke dalam ruangan serba coklat itu. Zea dapat melihat Antoni dan Aisyah sedang berbicara cukup serius pada saat itu.
"Zea," tampak Antoni terkejut melihat kehadiran Zea. Dapat dilihat dari bola matanya yang membulat.
"Iya Om. Kenapa kaget?" tanya Zea dengan senyum sinisnya.
Antoni dan Aisyah langsung berdiri. Mereka hendak mendekati Zea. Namun langkah mereka terhenti ketika melihat Zea memegang sebuah pisau.
Aisyah dan Antoni saling tatap beberapa saat.
"Ze untuk apa pisau itu sayang?" Aisyah berusaha untuk tetap tenang.
Zea tersenyum kecut. Tidak membalas ucapan Aisyah. Zea malah beralih pada Antoni.
"Untuk memberi pelajaran pada orang yang telah memisahkan Zea dan Bunda." Mata Aisyah langsung membulat, melihat Zea yang mulai melangkah mendekati Antoni.
"Zea letakan pisau kamu, ini nggak seperti yang kamu lihat." Antoni berusaha untuk tetap tenang.
Sebenarnya Antoni dapat dengan mudah merebut pisau di tangan Zea. Akan tetapi, Antoni harus tahu siapakah yang membuat Zea seperti ini. Karena Antoni tahu benar bagaimana Zea. Dia tidak akan melakukan hal nekat jika tidak ada orang yang mendorong aksinya itu.
"Zea letakan pisau itu," Aisyah berusaha untuk membujuk Zea.
Namun gadis itu tidak mendengarkannya, dia terus melangkah mendekati Antoni. Dan Antoni secara refleks langsung mundur.
Sampai akhirnya Antoni ada di pojokan dinding. Dia tidak dapat mundur lagi, karena terhalang oleh dinding.
Aisyah ingin menghentikan aksi Zea, namun Antoni memberikan isyarat untuk dia tetap pada posisinya.
"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan," ucap Antoni dengan senyuman. Dan hal itu membuat Zea tersenyum. Entah senyuman apa itu. Begitu sulit untuk di terjemahkan.
Sret
"ZEA!!"
Fida yang mendengar itu langsung tersenyum puas. Dengan bangganya wanita itu langsung masuk ke dalam ruangan itu.
Namun senyumannya sirna begitu masuk ke dalam ruangan. Giginya merapat. Bahkan tangannya ikut mengepal.
"Shit!!!"
"Awas kalian!!!"
Fida langsung keluar dari ruangan itu dengan emosi, bahkan wanita itu menendang pintu kamar cukup keras sehingga menimbulkan suara yang lumayan kuat.
* * *
"Zea kita mau kemana?" tanya Aisyah kepada Zea. Karena tiba-tiba saja putri nya itu menariknya dan Antoni pergi dari kamar tempat mereka tadi melalui jalan rahasia yang menyambungkan tempat tadi menuju halaman belakang.
"Kita harus pergi dari sini Bun," ucap Zea.
Aisyah menatap Antoni cemas. Sedangkan pria itu hanya memberikan senyuman menenangkan.
"Tenanglah, kita akan pergi ke tempat yang lebih aman." Ucap Antoni mencoba menenangkan Aisyah.
"Tapi anak-anak?" Zea menatap Aisyah. Gadis itu tersenyum hangat.
"Zia ada sama Zeo Bun, tenang aja. Semuanya udah aman."
"Apa ini semua rencana kamu Zea?" tanya Aisyah.
Zea mengangguk, gadis itu menghentikan langkahnya. Kemudian menatap Aisyah dan Antoni secara bergantian.
"Tante Fida meminta Zea untuk membunuh paman Antoni,"
"Apa!!" Antoni dan Aisyah saling tatap.
"Fida? Adikku?" Zea mengangguk mantap.
"Dia mengatakan bahwa om Antoni yang menyembunyikan bunda selama ini. Dan sengaja memisahkan bunda dengan kami. Dan dengan bodohnya Zea malah mengikuti ucapan Tante Fida, dan anehnya ucapannya seakan tidak dapat Zea tolak." Antoni berjalan ke arah Zea. Pria itu merangkul Zea.
"Fida itu psikopat Zea." Mata Zea langsung membulat.
"Psikopat?" Aisyah mengangguk. Mengiyakan pertanyaan Zea barusan.
"Iya sayang. Bunda mengira dia sudah sembuh, tetapi mendengar apa yang kamu ucapkan barusan ternyata dia masih sama seperti dulu."
"Seperti dulu? Seperti apa maksudnya Bun?" Zea semakin tidak paham.
"Banyak hal yang tidak kamu ketahui Zea. Dan kamu jangan menyimpulkan sesuatu berdasarkan apa yang kamu lihat saat ini."
"Om akan jelaskan semuanya sama kamu. Tapi, Om mau tahu apa ada alasan yang membuat kamu menghianati Fida." Antoni menatap Zea lekat. Mencoba mengintrogasi gadis itu.
"Ada,"
"Siapa?"
"Azlan."
"Siapa Azlan?" tanya Aisyah bingung.
Antoni beralih menatap Aisyah. Memberikan senyuman penuh arti kepada Aisyah. Melihat itu, Aisyah langsung paham.
"Azlan itu pacar Zea Bun." Aisyah langsung menatap Zea dengan senyuman. Aisyah mengelus lembut rambut Zea.
"Apa yang dia katakan sehingga membuat kamu berubah pikiran untuk tidak membunuh Om Antoni?" tanya Aisyah lembut.
* * *
Kemarin malam
Pukul 22:15
Azlan melangkah dengan terburu-buru untuk masuk ke dalam cafe ZA. Dia tidak mempedulikan banyak pasang mata yang menatapnya. Yang ia fokuskan hanyalah mencari sosok Zea di dalam cafe miliknya ini.
Cafe ZA ini memanglah milik Azlan. Hanya saja Zea belum mengetahui itu, karena Azlan belum memberi tahunya.
Akhirnya Azlan melihat Zea yang sedang duduk di bangku paling pojok. Gadis itu melambaikan tangannya, dengan senyuman yang begitu Azlan sukai.
Namun entah mengapa senyuman itu terlihat seperti dipaksakan. Tidak ingin berlama-lama, Azlan langsung berjalan menghampiri Zea.
"Hai," Azlan langsung duduk di hadapan Zea.
Zea membalasnya dengan senyum manisnya.
"Udah pesan minum?" tanya Azlan. Zea mengangguk.
"Sudah, cuma belum datang." Tidak lama Zea mengatakan itu, secangkir lemon hangat datang.
"Ini mbak pesanannya," ucap waiters cafe ZA.
"Teruma kasih," ucap Zea sembari tersenyum. Pelayan wanita itu membalasnya dengan senyuman juga.
"Mas Azlan mau minum apa?" tanya Waiters yang bernama Devi itu. Dapat dilihat dari nametag yang ada di dada kanannya. Memang para pelayan di cafe ini semuanya memiliki nama di dada kanan mereka. Termasuk Devi salah satunya.
"Kopi saja," jawab Azlan santai.
"Jangan kopi!!" potong Zea langsung. Devi yang tadinya hendak melangkah pergi, jadi menundanya karena ucapan Zea.
Sedangkan Azlan sudah memberikan tatapan tanya kepada gadisnya itu.
"Lo mau begadang lagi?" ucap Zea pedas. "Ganti susu hangat aja mbak, dan jangan terlalu manis." Devi mengangguk kemudian pergi.
Sedangkan Azlan sekarang menatap Zea dengan dengan yang begitu sulit untuk di artikan.
Zea tau gue nggak suka susu yang terlalu manis. Jadi makin sayang aja.
"Nggak. Lo cantik,"
"Dari lahir," sahut Zea langsung.
"Oh pantes. Lo mau nggak Ze, jadi rekan bisnis gue?"
Dahi Zea langsung bergelombang.
Hari memang sudah malam. Bahkan dapat dikatakan ini sudah jam orang tidur. Tetapi bukan berarti Azlan harus berkata ngelantur seperti ini. Zea hanya menatap bingung Azlan.
"Bisnis apaan lagi sih? nggak udah aneh-aneh deh Lan." Ucap Zea langsung. Gadis itu meneguk minumannya.
"Bisnis buat baby yang cantik bareng gue,"
"Uhuk," Zea langsung terbatuk mendengar ucapan Azlan barusan.
"Ogah!!!" tolak Zea langsung.
"Dih yakin?" goda Azlan. " Cowok kayak gue limited edition loh," tambahnya dengan seringai menggoda.
Sedangkan Zea hanya menatap Azlan dengan ogah-ogahan.
"Sinting!!" tawa Azlan langsung pecah. Melihat wajah kesal Zea saja sudah membuatnya bahagia.
"Oh iya, ngomongin mau buat baby . Kamu pasti kangen beratkan sama aku, makannya minta ketemuan malam-malam gini."
"Dih pede gila."
"Lah terus kenapa coba kalau bukan karena kangen?" Azlan sok merajuk.
"Ini mas Azlan susunya." Ucap Devi sembari meletakan segelas susu di hadapan Azlan.
"Makasih Dev," setelah tersenyum Devi langsung pergi dari hadapan Azlan.
"Kayaknya si Devi suka deh sama aku." Azlan berucap. Zea yang tadinya fokus pada ponselnya beralih menatap Azlan.
"Terus?" tanya Zea dingin.
"Ya nggak papa sih. Kamu nggak takut apa aku berpaling ke dia?" pancing Azlan.
Zea langsung meletakan ponselnya. melipat dua tangannya di meja. Tampak garis itu menghela napas sekali, kemudian menatap Azlan lekat.
"Lo mau berpaling ke dia? Siap-siap aja gue sunat sampe habis." Jawab Zea tanpa ragu.
Azlan langsung meneguk lalivannya. Salah bertanya dirinya.
"Sadis!!!"
"Biarin."
"Oh iya kembali ke topik. Lo nyuruh gue ke sini mau ngapain emangnya?" tanya Azlan serius.
"Tadi aku-kamu sekarang lo-gue. Dasar, nggak konsisten."
Tampak Azlan tengah nghla napas sekali.
"Jadi kamu nyuruh aku kesini, ada apa sayang?" Azlan mengulang pertanyaannya.
Jika biasanya Zea akan tersipu dengan panggilan sayang Azlan. Namun kali ini gadisnya itu hanya memberikannya tatapan datarnya.
"Kenapa Ze? Apa ada masalah?" Azlan seakan mengerti arti raut wajah Zea.
Zea mengangguk lemah. Azlan langsung menggenggam tangan gadisnya itu.
"Lan gue takut Lan." Lirih Zea.
"Takut? Apa yang Lo takutin?" Azlan semakin tidak mengerti. Apalagi melihat wajah Zea yang terlihat begitu cemas.
Zea menghela napas cukup dalam. Setelah itu, Zea mulai cerita kepada Azlan. Zea mengeluarkan sebuah kotak kecil berwana hitam, lalu membuka kotak itu.
"Tadi pas gue pulang jalan sama Lo, gue nemuin kotak ini di depan pintu kamar. Karena penasaran sama isinya, gue langsung buka aja. Lagipula di atas kotak ini tertera nama gue. Dan ternyata isinya kalung berbentuk bintang ini."
Azlan meraih kalung itu. Kemudian melihatnya cukup serius. Azlan merasa pernah melihat kalung ini sebelumnya.
"Kok nggak asing ya?" pertanyaan itu langsung keluar dari mulut Azlan.
"Lo bener, kalung itu emang nggak asing." Azlan menatap Zea serius. Menunggu gadisnya itu melanjutkan ucapannya.
Zea mengeluarkan kalung lainnya, yang sama persis dengan kalung yang tadi ada di dalam kotak.
"Kalung itu sama dengan kalung ini. Dan kalung ini punya Zia, pemberian Bunda di ulang tahunnya."
Azlan mengerti sekarang, Dia merasa kalung ini tidak asing karena Azlan pernah melihat Zia memakai kalung ini ketika di rumah sakit.
"Apa ini ada hubungannya dengan bunda Lo, Ze?" tebak Azlan langsung.
"Iya, semuanya ada hubungannya sama bunda. Itulah, alasan gue minta ketemuan sama Lo."
Azlan menatap Zea serius. Azlan tahu benar pasti ada hal yang membuat Zea tertekan. Jika tidak, gadisnya itu tidak mungkin memintanya bertemu secara mendadak seperti ini.
"Gue coba cari tahu tentang kalung ini tadi. Dan entah kenapa insting gue mengarahkan untuk gue pergi ke lorong di pojok kolam berenang. Dan ternyata Lan, gue ngelihat bunda sama om Antoni di sana." Jelas Zea.
"Om Antoni?" Zea mengangguk mantap.
"Dia pelukan sama bunda."
"Hah," Azlan cukup terkejut.
"Gue kaget banget pas ngelihat itu. Terus tiba-tiba aja Tante Fida ada di samping gue. Dia narik gue untuk pergi dari tempat itu,"
Azlan masih mencoba mencerna ucapan Zea barusan.
"Jadi, tente Fida ngelihat Om Antoni pelukan sama bunda Lo?" Azlan bertanya untuk memastikan.
"Iya Lan. Dia kelihatan hancur banget, dan pastinya kecewa. Gue juga sebenarnya kecewa sama Om antoni. Tapi entah kenapa gue masih nggak percaya sama apa yang gue lihat."
"Terus Tante Fida ngomong apa ke Lo, pas ngelihat kejadian itu?"
"Dia minta gue untuk balas Om Antoni. Karena Om Antoni sengaja misahin gue sama bunda."
"Balas? Maksudnya balas gimana?"
"Membunuh." Mata Azlan langsung membulat. Pria itu menggeleng lemah.
"Gila!!"
Azlan masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Dari penjelasan Zea barusan, Azlan dapat melihat bahwa Fida begitu emosi dan kecewa. Tetapi, bukan berarti Zea yang ia jadikan umpan untuk membalaskan apa yang dia rasakan. Azlan tidak akan membiarkan Zea melakukan hal kriminal seperti itu.
Azlan meraih keeua tangan Zea. Menatap gadisnya itu cukup dalam.
"Ze, dengerin gue ya. Gue tahu Lo kecewa, Lo sakit hati. Tetapi membunuh orang lain itu salah. Dan Lo juga tahu kan, itu termasuk kriminal." Zea menatap Azlan sekilas. Saat ini pikirannya begitu tidak terkendali.
"Kita nggak tahu apa alasan om Antoni lakuin itu, kan. Kita nggak bisa nyimpulin sesuatu dari apa yang kita lihat. Semuanya harus benar-benar di cari tahu kejelasannya. Kalaupun Om Antoni memang mau misahin Lo sama bunda, bukan berarti lo sendiri yang ngehukum dia. Ingat Ze, negara kita negara hukum Ada pihak berwajib yang lebih berhak dalam hal itu."
Zea langsung masuk menatap Azlan. Kata-kata pria di hadapannya itu langsung membuka pikirannya.
Azlan benar. Zea tidak berhak menghakimi Antoni jikalau diapun yang bersalah.
"Terus gue harus gimana Lan? Tante Fida ngancem bakal nyakitin Zia kalau gue nggak ngelakuin itu." Azlan terkejut untuk kedua kalinya.
Azlan jadi curiga pada Fida. Wanita itu siapa sebenarnya? Mengapa dia begitu ingin Antoni dihabisi.
"Tenang aja, ada gue Lo nggak perlu khawatir."
"Apa Lo tahu masa lalu Om Antoni dan Tante Fida itu gimana?" Azlan mencoba menyelidiki.
"Gue nggak tahu persis Lan, tapi yang Tante Fida bilang ke gue. Kalau Om Antoni itu pernah suka sama bunda. Dan hal itulah yang menjadi alasan dia nyulik bunda."
Azlan tersenyum singkat mendengar penjelasan Zea barusan. Azlan berpikir beberapa saat.
"Apa yang Lo pikirin Lan?" tanya Zea serius.
"Lo," sahut Azlan menyeringai.
"Iss, gue serius Azlan." Decak Zea kesal.
"Kan gue udah pernah bilang Zea, kalau mau di seriusin kita ke KUA aja langsung." Goda Azlan lagi.
"Gue telen juga Lo. Ngeselin banget!!" Azlan langsung terkekeh.
"Pacar gue sadis."
"Bodo amat!!!"
"Untung sayang,"
"Terserah."
__ADS_1
"Dih ngambek, mau lanjut bahas nggak nih?"
"Ya mau. Lo sih ngeselin." Zea mencebikkan bibirnya.
"Tapi sayang, kan?" goda Azlan tidak ada habisnya.
"Iya," jawab Zea langsung. Supaya cepat pikirnya.
Azlan baru saja ingin mengucap kalimat bahagianya atas pengakuan Zea barusan langsung bungkam melihat tatapan tajam Zea yang begitu mengerikan.
"Iya-iya, serem banget sih tuh mata. Untung cinta kalau nggak."
"Kalau nggak apa??" tanya Zea langsung.
"Nggak papa,"
Terjadi keheningan beberapa menit. Namun tidak lama Azlan langsung membuka suaranya. Tatapan Azlan kembali serius.
"Kalau Lo bilang alasan om Antoni nyulik bunda Lo itu karena dia cinta sama bunda Lo, gue rasa itu nggak Ze. Ya meskipun kemungkinannya hanya delapan puluh persen sih. Karena menurut gue, kalau Om Antoni mau nyulik bunda Lo, kenapa dia harus sembunyiinnya di rumahnya? Kenapa nggak di tempat lain? Bisa aja kan dia sembunyiin di luar kota atau bahkan luar negri."
Zea mencoba mencerna apa yang Azlan ucapkan barussn.
"Iya juga sih. Kenapa om Antoni malah sembunyiin bunda di rumahnya. Apalagi rumah itu dulunya rumah gue dan bunda."
Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab dari hal ini.
"Tahu lah Lan, gue pusing." Zea menunduk frustasi.
"Nggak usah pusing Ze. Lo ikutin aja apa yang Tante Fida suruh, tapi Lo nggak harus benar-benar ngebunuh om Antoni." Zea menatap Azlan serius.
"Caranya?"
"Sini gue bisikin." Zea langsung menurut, tanpa ragu Zea mendekatkan telinganya pada Azlan.
Azlan membisikan sesuatu pada Zea. Dan Zea cukup serius mendengarkannya. Karena bisikan Azlan begitu samar.
Namun kalimat yang Zea dengar malah membuat dirinya merinding dan panas dingin.
Zea langsung menoleh ke arah Azlan, pria itu tersenyum sikat padanya. Namun Zea masih tidak paham dengan senyumannya.
"Lo ngomong apa sih, gue nggak denger." Ketus Zea.
Azlan menghela napas pelan. Kemdian meminta Zea untuk mendekatkan telinganya kembali.
"I love you, sayang."
Nyes. Hati Zea terasa langsung menghangat mendengar bisikan Azlan barusan.
Cup
Mata Zea membuat. Dia langsung kembali ke posisinya. Zea menatap tajam Azlan, melihat ke sekitar cafe. Untungnya tempat ini tidak terlalu ramai karena sudah malam. Hanya ada beberapa orang saja, yang pastinya sibuk dengan diri mereka sendiri.
"Lo gila, Lan!!!" protes Zea atas perlakuan Azlan barusan. Bagaimana tidak, pria itu menciumnya di tempat umum seperti ini. Zea begitu malu sekarang.
Meskipun tidak ada orang yang melihat kejadian itu. Tetap saja, Zea merasa malu karena Zea yakin pipinya sudah merah seperti kepiting rebus sekarang.
"Anggap aja itu balasan karena Lo sudah mengambil ciuman pertama pipi kanan gue," ucap Azlan tidak merasa berdosa sama sekali. "Dan sekarang Lo harus tanggung jawab, nih pipi kiri gue cemburu karena nggak di cium kemaren." Azlan menunjuk pipi kirinya dengan jari telunjuknya.
Zea langsung mendorong pipi Azlan dengan tangannya.
"Edan!!"
Azlan terkekeh sembari mencubit gemas pipi Zea.
"Udah malam, gue anter Lo pulang." Azlan meneguk susu miliknya yang sedari tadi belum ia minum. Pria itu meminumnya hingga tandas.
"Haus apa doyan?" cibir Zea.
"Udah malem, Lo harus pulang. Gue anter ayo," Azlan langsung bangkit dari duduknya lalu meraih tangan Zea, menggenggam erat tangan gadisnya itu.
Tampak Zea ragu untuk bangkit, dan Azlan menyadari hal itu.
"Tenang aja Ze, Lo nggak perlu cemas. Lo nggak akan sendiri ngejalanin ini, gue akan ada untuk lo." Azlan tersenyum tulus.
Zea menghela napas cukup dalam. Membuang semua keraguan yang ada di hatinya. Gadis itu mencoba membalas senyuman Azlan. Setelah itu Zea bangkit dari duduknya, kemudian mereka melangkah bersama keluar dari cafe.
Namun tiba-tiba saja langkah Zea terhenti.
"Ada apa?" tanya Azlan langsung.
"Minumnya belum di bayar," Zea baru ingat. Bahwa pesanan mereka belum di bayar. Karena Zea juga tidak melihat Azlan membayarnya ataupun meletakan yang di atas meja sebagai bayaran.
Azlan terkekeh cukup keras. Dan hal itu membuat Zea bingung.
"Kok ketawa sih? Gue serius Lan." Protes Zea dengan aksi Azlan.
"Lo lucu Ze,"
"Gue nggak ngelawak Azlan," Zea semakin kesal. Pasalnya pria itu masih saja tertawa.
"Cafe ZA ini punya gue," ucapan Azlan langsung membuat Zea menatapnya tidak percaya.
Pantas saja pelayan di cafe ini sudah mengenal Azlan. Awalnya Zea mengira hal itu karena Azlan yang terlalu sering datang ke cafe ini. Ternyata dialah pemiliknya.
"Lo tahu nggak kenapa cafe ini namanya cafe ZA?"
"Nggak," jawab Zea cepat.
"Dih jujur banget sih, jawab apa kek biar gue seneng."
"Kalau mau ngasih tau ya kasih tau aja, gitu aja pake nyuruh gue nebak. Gue udah ngantuk males mikir." Zea langsung berjalan meninggalkan Azlan. Gadis itu langsung membuka pintu mobil Azlan.
Sedangkan Azlan hanya dapat tersenyum melihat Zea seperti itu. Setidaknya saat ini dia masih dapat menikmati saat-saat bersama dengan Zea. Sebelum waktu itu tiba.
* * *
Antoni dan Aisyah tersenyum hangat mendengar penjelasan Zea barusan.
"Sepertinya Azlan itu pemuda yang baik, bunda jadi ingin cepat bertemu dengan calon menantu bunda itu."
Zea langsung salting mendengar kata calon menantu yang Aisyah ucapkan.
"Cie yang salting," goda Antoni.
"Ih nggak ya, apaan sih Om ini." Tolak Zea langsung.
"Terus itu pipi kenapa pada merah hem?"
Asiyah yabg melihat itu hanya mampu tersenyum. Banyak perubahan yang pastinya terjadi pada anak-anaknya. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat. Karena Aisyah sadar, waktu yang cukup lama seharusnya dapat ia berikan untuk mencintai anak-anaknya namun hanya berakhir pada tempat sunyi yang hanya berisikan dirinya dan kesakitannya.
"Oh iya, tadi om udah bilang bakal jelasin semuanya. Jadi sekarang Zea minta Om jelasin semuanya, Zea nggak mau ada kebohongan lagi." Mendengar ucapan Zea Aisyah langsung meraih tangan Zea.
"Biar bunda yang jelasin ke kamu ya," Zea menatap Aisyah serius.
"Dua tahun lalu ketika bunda kecelakaan dan tubuh bunda hangus karena ledakan sebenarnya itu bukanlah bunda Ze."
"Hah bukan bunda? Jadi mayat itu mayat siapa?" Antoni dan Aisyah saling tatap beberapa saat.
"Bunda nggak tau itu mayat siapa, tapi yang jelas itu bukan bunda." Aisyah memperjelas lagi.
"Tapi bun, kalung itu?"
"Kalung bunda sudah hilang dua hari sebelum bunda berangkat dari Bandung ke Jakarta. Bunda nggak tahu kalung itu kemana, dan bunda sudah coba cari kemana-kemana waktu itu. Bahkan bunda sudah coba bolak-balik cari di rumah sakit yang bunda datangin di Bandung."
Zea hanya diam, membiarkan Aisyah menjelaskan semuanya.
"Bunda memang kecelakaan Zea, tetapi Bunda nggak meninggal. Bunda hanya lupa ingatan. Dan Om Antoni yang selamatin bunda waktu itu."
Zea beralih menatap ke arah Antoni. Tampak pria itu mengangguk.
"Bunda Amnesia?" tanya Zea lagi untuk memastikan.
"Iya, dan pada saat itu yang bunda ingat cuma Antoni. Dan itu juga alasan Antoni sembunyiin bunda selama ini. Karena dia mau temuin bunda dan kalian setelah ingatan bunda sudah kembali. Dan sekarang, ingatan bunda sudah kembali."
"Bunda cuma ingat Om Antoni? Kenapa? Kenapa bisa bunda nggak ingat Zea dan yang lainnya?" tanya Zea bertubi-tubi.
Yang Zea pikirkan saat ini, apakah Antoni memang pernah menjadi bagian dari hidup bundanya. Sehingga, hanya Antonilah yang Aisyah ingat.
"Bunda kamu nggak salah Ze, semuanya ini murni kecelakaan. Bunda kamu nggak bermaksud untuk melupakan kalian semua." Antoni akhirnya ikut bersuara.
Zea menoleh ke arah Antoni. Menatap Antoni dan Aisyah bergantian.
"Jawab Zea jujur, apa bener om suka sama bunda?" pertanyaan Zea barusan membuat Aisyah dan Antoni terdiam.
"Jawab om jawab!!!" nada suara Zea mulai meninggi.
"Zea tenanglah!" Aisyah bersuara.
"Om jawab om please jawab!!!" Zea mulai melirih. Bahkan saat ini dia sudah luruh ke lantai.
"Om nggak bisa jawab, berarti yang Tante Fida bilang itu bener. Om suka sama bunda, makannya om pisahkan bunda sama Zea. Om jahat, Om jahat!!! Padahal Zea udah nganggap om sama kaya ayah." Tangis Zea pecah kali ini.
Melihat Zea seperti itu Antoni dan Aisyah langsung merengkuhnya.
"Zea jangan nangis sayang, ini nggak seperti yang kamu lihat dan kamu dengar." Aisyah berusaha menenangkan Putri kesayangannya itu.
"Terus kebenarannya itu seperti apa Bun?" Zea menatap Aisyah datar.
"Om akan jelasin ke kamu Zea. Setelah ini terserah kamu mau melakukan apa, bahkan kalau kamu mau bunuh om juga itu terserah kamu."
"Toni," lirih Aisyah langsung.
"Jelaskan aja," ucap Zea datar.
"Kalau kamu tanya om suka sama bunda kamu atau tidak jawabannya adalah iya. Bahkan lebih dari itu, om mencintai bunda kamu lebih dari apapun Zea." Mendengar itu, Zea langsung mengepalkan tangannya. Namun ia mencoba menetralkan emosinya. Karena Zea tahu ada hal lain yang akan Antoni jelaskan lagi.
"Dua puluh tahun yang lalu. Om, Fida, Ayah dan Bunda kamu adalah atlit silat. Kita masuk di sebuah perguruan silat yang sama. Dan kita berempat termasuk murid yang paling hebat pada waktu itu."
"Om dan Bunda kamu itu saling mencintai Zea, dan kita berencana untuk menikah. Dan ya, kedua orang tua kami merestuinya. Dan akhirnya pernikahan itu tiba."
"Oh sama bunda sempat akan menikah?" Zea mengulang ucapan Antoni menjadi pertanyaan.
Zea menatap Aisyah, ibunya itu mengangguk.
"Iya Zea. Namun sayang, kami tidak berjodoh. Tepat di malam hari bahagia itu, tentemu Fida menyayat tangannya. Bahkan dia juga mengancam akan lompat dari lantai dua rumah nenek kamu jika Aisyah dan om tetap.melaksanakan pernikahan kami?"
"Tente Fida melakukan itu?"
"Iya Ze, ternyata Fida suka sama Om. Dan dia nggak mau Aisyah nikah sama om. Bunda kamu yang memang sangat menyayangi Fida tidak tega melihat itu. Dia memutuskan untuk membatalkan pernikahan kami dan meminta om untuk menikahi Fida." Zea menatap Aisyah lalu memeluk wanita yang melahirkannya itu.
"Karena ingin melihat bunda mu bahagia akhirnya om menerima semuanya. Akan tetapi Om tidak akan tenang jika Aisyah menikah dengan orang lain yang nantinya tidak akan membuatnya bahagia. Itu sebabnya, om meminta Ayahmu untuk menikahi bundamu."
"Jadi pada saat menikah ayah dan bunda nggak saling cinta?" Aisyah mengangguk lemah.
"Tidak ada yang saling mencintai dalam pernikahan kami pada waktu itu Ze. Kami menikah dalam waktu yang sama, hal itu karena Fida yang memintanya. Dia takut Aisyah akan berpura-pura bunuh diri di saat pernikahan dia dan Om. Wanita gila itu, memang tidak pernah waras."
"Toni, wanita yang kamu bilang gila itu adalah adikku." Protes Aisyah tidak terima. Bagaimanapun Fida tetaplah adiknya. Seburuk apapun dia.
"Tidak perlu mengingatkannya Ais, aku tahu hal itu." Sahut Antoni datar.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Zea penasaran.
"Kami pindah ke Swiss setelah pernikahan, om melanjutkan kuliah psikoloq di sana. Dan Fida mengambil kuliah kedokterannya juga di sana." Antoni menjeda ucapannya. "Dan ternyata selama empat tahun kami menikah, kami belum juga diberikan keturunan. Dan ternyata semua masalah ada pada Fida. Dia ternyata terlalu sering meminum minuman keras di saat rasa sakit di kepalanya begitu tidak tertahan. Dan Om tidak tahu hal itu. Fida ternyata psikopat dari kecil entah apa penyebabnya. Namun hal itu juga yang mambuat emosinya sering tidak terkontrol."
"Om memutuskan untuk membawa Fida pulang ke Indonesia. Meski sedikit ragu, karena takut Fida melakukan hal aneh lagi ketika melihat Aisyah. Namun keraguan itu hilang ketika kami bertemu dengan kamu Zea."
"Fida yang emosinya sering tidak setabil bahkan suka marah-marah tiba-tiba menjadi lebih tenang ketika melihat kamu. Dia menjadi lebih sering tersenyum ketika melihat Zea kecil."
"Dan kamulah Zea, satu-satunya orang yang berhasil membuat Fida seperti itu. Di usiamu yang masih dua tahun. Bahkan hingga saat ini, Fida tidak lagi kumat itu semua karena kamu yang ada di sisinya Zea. Tanpa kamu ketahui, Fida lemah tanpa kamu Zea. Kamu adalah putri dari Aisyah, tapi Fida menyayangi kamu lebih dari Rara Putri kami sendiri."
"Zea bener-bener nggak nyangka kalau Tante Fida itu psikopat." Zea langsung memeluk Aisyah. Entah mengapa perasannya lega setelah mendengar semuanya.
Antoni bangkit dari duduknya.
"Kita harus keluar dari rumah ini, Om yakin Fida nggak akan tinggal diam karena rencananya gagal." Zea mengangguk, kemudian berdiri diikuti oleh Aisyah di sampingnya.
"Jadi kamu masih mau bunuh Om?" tanya Antoni.
Zea menatap Antoni sendu. Zea jadi merasa bersalah pada Antoni. Benar kata Azlan, dia tidak boleh menyimpulkan semuanya secepat itu. Karena dirinya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Tidak menjawab apapun dari pertanyaan Antoni, Zea malah langsung memeluk Antoni. Antoni sempat kaget dengan aksi Zea. Namun dengan cepat Antoni membalas pelukan Zea dengan lembut.
"Maafin Zea om." Zea meminta maaf dengan lirih.
"Nggak perlu maaf, Zezenya Om kan nggak pernah salah." Goda Antoni.
Aisyah yang melihat itu hanya mampu tersenyum bahagia. Zea, putri kecilnya itu kini sudah beranjak dewasa.
Wajar saja Zea begitu sakit hati pada Antoni tadinya. Karena Aisyah tahu benar, seperti apa Antoni di hidup Zea. Antoni sudah seperti ayah kedua bagi Zea. Perhatian dan kasih sayang yang pria itu berikan kepada Zea sudah seperti putrinya sendiri.
Zea mengendurkan pelukannya. Zea beralih mengenggam tangan Antoni dengan tangan kanannya dan mengenggam tangan Aisyah dengan tangan kirinya.
"Kita pergi sekarang," Antoni dan Aisyah mengangguk bersamaan. Setelah itu mereka berjalan melewati lorong itu menuju taman belakang.
* * *
Zeo yang tengah asik pada PlayStation harus beralih pada ponselnya yang terus saja bergetar sejak tadi. Dengan langkah malas, Zeo meraihnya lalu membuka beberapa notifikasi yang tertera di layar ponsel.
KAK ZEA(Macan betina)
"Dih, ngapain nih macan betina nge Wa gue. Padahal kamar samping-sampingan."
Tidak ingin semakin lama meninggalkan permainannya, Zeo langsung membuka room chatnya dan Zea.
Bawa Zea pergi dari rumah sekarang!!
Jangan tanya kenapa. Karena gue nggak bisa jelasin sekarang, ikuti saja yang gue bilang.
"Nggak di chat, nggak di kenyataan terus aja merintah." Gerutu Zeo.
CEPAT ZEO!!!
Zeo menghela napas berat. Jika sudah begini, tidak mungkin untuk melanjutkan kegiatannya tadi.
"Untung kakak gue, kalau nggak udah gue Pites."
Setelah mengatakan itu, Zeo langsung meraih jaketnya dan berjalan keluar kamar. Zeo berjalan ke kamar Zia.
Tok... tok...
"Zi kamu di kamar?" tidak lama pintu kamar terbuka. Tampak gadis kecil itu masih menguap. Sepertinya Zia baru bangun tidur.
"Bangun tidur?"
"Hooam hmm iya, ada apa bang?" tanya Zia setengah sadar.
"Mau ikut nggak?" tanya Zeo.
"Kemana?"
Zeo berpikir untuk menemukan jawaban yang pas untuk Zia. Mencari jawaban yang dapat membuat Zia tertarik.
"Ke rumah kak Putri." Mata Zia langsung terbuka lebar.
"Ke rumah kak Putri? Sekarang?" Zeo mengangguk.
"Yaudah Zia cuci muka dulu ya," Ze mengangguk lagi.
Setelah mengatakan itu, Zia langsung masuk ke kamarnya lagi. Tidak terlalu lama Zeo menunggu, Zia sudah keluar dengan wajah lebih fresh. Sepertinya gadis kecil itu memberikan sedikit berak tabur bayi di wajahnya. Serta rambutnya sudah terikat rapi.
"Ayo," ucap Zia semangat.
Zeo mengangguk sambil tersenyum.
"Eh tunggu dulu!!" Zia mendadak berhenti.
"Ada apa? Ada yang kelupaan?"
"Ada,"
"Apa?"
"Zia capek, gendong ya." Melihat tatapan Zia yabg berubah memelas Zeo hanya dapat menghela napas berat.
"Siap tuan putri, silahkan naik." Zeo membungkukkan badannya. Mempermudah Zia untuk naik.
Setelah Zia naik ke punggungnya, Zeo langsung berjalan menuruni anak tangga.
Zeo mengetikan sesuatu di ponselnya. Lalu mengirimkannya kepada Zea.
KAK ZEA (Macan betina)
Gue sama Zia otw keluar rumah.
✓
Hanya ceklis satu. Mungkin Zea sedang tidak memainkan ponselnya.
Namun yang membuat Zeo bertanya-tanya tentang mengapa Zea tiba-tiba memintanya membawa Zia untuk keluar dari rumah. Aneh. Tidak biasanya.
Lagipula dimanakah Zea sekarang?. Padahal tadi ketika pulang sekolah, mereka masih bersamaan masuk ke dalam kamar masing-masing. Begitu banyak tanda tanya di kepala Zeo saat ini.
**Episode ini nggak terlalu panjang ya🙏
Author cuma bisa nulis segini doang. Insha Allah, episode selanjutnya diusahakan bakal lebih panjang.
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa vote and coment nya ya.
Maaf jika typo masih bertebaran😁
__ADS_1
Salam sayang dari Author😍**