
Senyummu itu bagaikan setrum listrik yang mampu membuatku menegang ketika melihatnya
-Azlan Malik-
Lantunan musik klasik menemani dua manusia dalam satu mobil itu. Heningnya suasana membuat alunan musik menjadi begitu menggema. Dua manusia yang berada di dalam satu tempat itu, hanya fokus pada pikirannya masing-masing. Lirikan Pria yang mengendarai mobil itu kepada wanita disebelahnya terlihat jelas. Mungkin wanita itu juga menyadari, namun dia tetap bersikap tidak peduli.
"Gue turun disini aja." Ucap gadis itu, memecahkan keheningan diantara mereka. Dengan nada yang cukup datar dan dingin.
"Nggak. Gue antar Lo sampe rumah Lo." Tolak Azlan. Ya dua manusia yang saling diam sejak tadi itu adalah Azlan dan Zea.
"Nggak perlu, gue bisa naik angkot. Turunin gue sekarang." Ucap Zea lagi. Kali ini suaranya mulai meninggi.
Azlan tersenyum singkat. Ternyata melihat gadis di sampingnya itu kesal sungguh menggemaskan.
"Gue nggak mau. Lo tanggung jawab gue. Dan gue emang seharusnya ngantar Lo pulang sampe rumah, kalau perlu sampe kamar juga."
Zea memutar bola matanya malas.
"Dasar cowok gila." Gerutu Zea.
"Gue gila karena Lo Zea," balas Azlan.
"Enak aja lo. Lo yang gila, gue yang disalahin." Ucap Zea tidak terima.
Azlan menghentikan mobilnya tiba-tiba.
"Lo gila ya!! Ngerem mendadak gini." Pekik Zea mulai emosi.
"Belum ada lima menit Lo udah dua kali bilang gue gila." Protes Azlan.
"Emang Lo gila."
"Sekali lagi Lo bilang gue gila. Gue cium Lo." Ucap Azlan dengan senyuman bangganya.
Zea membelalakkan matanya.
"Dasar cowo mesum!!!"
Azlan tertawa puasa setelah membuat Zea semakin kesal. Azlan mengacak pelan pucuk rambut Zea. Kemudian melajukan kembali mobilnya.
Namun apa yang Azlan lakukan tadi, cukup memberikan efek kepada Zea.
Jantung gue kenapa?.
"Gue antar Lo sampe rumah. Dimana alamat rumah Lo?" Zea menoleh ke arah Azlan. Memberikan tatapan tajam kepada pria itu. Azlan sama sekali tidak terpengaruh dengan tatapan membunuh dari gadis di sampingnya itu.
"Lo natap gue begitu banget. Entar jatuh cinta loh." Goda Azlan.
"Nggak akan!!" balas Zea cepat. Menyilang kan tangannya di depan dada.
"Turunin gue sekarang!!" perintah Zea lagi.
"Nggak. Lo itu tanggung jawab gue, paham!!" tegas Azlan.
"Emang kita ngapain? Sampe Lo harus tanggung jawab?." Azlan tersenyum penuh arti.
"Emang kita harus ngapa-ngapain dulu, baru Lo mau gue tanggung jawab terhadap Lo." Bisik Azlan dengan nada yang terdengar begitu menjijikkan di telinga Zea.
"DASAR LO COWO MESUM!!"
"COWO GILA!! GUE BENCI LO!!"
"Lo lupa? Peraturan yang udah gue buat, sekali lagi Lo bilang gue gila gue akan cium Lo."
Sontak Zea menutup bibirnya dengan tangannya. Lalu menjauhkan dirinya dari Azlan.
"Berani Lo nyentuh gue, habis Lo." Ancam Zea.
Namun bukannya takut Azlan malah semakim mendekatkan dirinya kepada Zea. Zea hanya mampu menahan napasnya melihat aksi Azlan. Jarak mereka semakin lama semakin dekat, sampai akhirnya hanya menyisakan lima sentimeter saja. Bahkan deru napas Azlan begitu terasa di wajah Zea. Zea menutup matanya. Karena tidak ingin melihat wajah Azlan yang begitu dekat. Bahkan saat ini detak jantungnya sudah seperti orang lari maraton.
Gue harap dia nggak denger detak jantung gue, yang kenceng banget ini.
Azlan tersenyum sekilas. Kemudian melepas sealt bath milik Zea. Setelah itu kembali ke posisi duduknya.
"Udah buka mata lo. Kita udah sampe di depan rumah Lo." Ucap Azlan. " Lo berharap gue cium ya?" goda Azlan bersamaan dengan tawa kecilnya.
Zea langsung membuka matanya dan melihat ke luar melalui Kendal mobil. Benar saja mereka sudah sampai di depan rumahnya. Tapi bagaimana mungkin Azlan tahu rumahnya? Padahal Zea belum memberitahunya sama sekali.
"Lo kok bisa tahu rumah gue?" tanya Zea heran. Bahkan Zea menghiraukan pertanyaan Azlan tadi.
"Apa coba yang nggak gue tahu tentang Lo," ucap Azlan dengan senyuman semanis mungkin. Kemudian mencoel sedikit ujung hidung Zea. Membuat Zea terkesiap karena kaget.
"Lo lucu kalau lagi kaget begitu," ucap Azlan dengan tawa renyahnya.
"Lo," geram Zea.
Zea mendengus kesal, kemudian membuka pintu mobil Azlan. Namun belum sepat ia keluar dari mobil itu pandangan dari arah luar membuat Zea mengurungkan niatnya. Ia kembali menutup pintu mobil lalu menatap datar ke depan.
"Nggak jadi keluar? Masih mau lama-lama bareng gue kan?" ucap Azlan dengan nada menggoda.
Zea menatap datar pria dihadapannya ini. Pria dengan tingkat percaya diri yang terlalu tinggi.
"Geer banget Lo."
"Mending geer daripada nggak pede."
"Apa hubungannya coba?" kesal Zea.
"Oh jadi Lo mau kita punya hubungan?" goda Azlan.
"Gila!!"
"Empat kali,"
Azlan mendekati Zea. Membuat tubuh gadis itu terhimpit.
"Lo mau ngapain?" Zea mulai merasa udara di sekitarnya menipis. Ditambah lagi jaraknya dengan Azlan yang cukup dekat membuat degub jantungnya tidak terkendali.
"Jangan macem-macem, atau gue teriak." Ancam Zea.
"Gue nggak mau macem-macem Ze, gue cuma mau jalanin aturan yang udah gue buat.'" Jelas Zea.
"Aturan apa?"
"Apa perlu gue jelasin lagi?"
Zea terdiam, melihat aksi Azlan saat ini ingin rasanya Zea langsung keluar dari mobil ini. Akan tetapi dua manusia yang ada di luar sana membuatnya menjadi ragu.
Zea jadi serba bingung. Satu sisi jika Zea keluar maka akan bertemu dengan dua makhluk yang sangat tidak ingin ia temui namun jika ia tidak segera keluar ia juga akan segera di santap oleh kucing garong di sampingnya ini. Entah mengapa Zea merasa seperti buah simalakama. Maju salah mundur salah.
Azlan semakin mendekat ke arah Zea, bahkan jarak mereka lebih dekat dibandingkan sebelumnya. Mata Zea secara spontan langsung tertutup.
"Buka mata Lo!" suara Azlan menginstruksi.
"Lo beneran ngarep gue cium ya Ze? Sampe harus tutup mata gitu."
Zea langsung membuka matanya. Ia melihat Azlan yang masih tetap pada posisinya tadi namun kali ini Ia melihat ponsel Azlan ada tidak jauh darinya. Azlan membuka kamera pada ponsel itu.
Azlan merangkul Zea. Kemudian tersenyum hangat ke arah kamera.
"Lihat ke depan Ze, ayo senyum." Ucap Azlan.
Entah magnet dari mana, Zea langsung mengikuti ucapan Azlan. Lalu mencoba untuk tersenyum.
Ckrek
Azlan mengambil beberapa pose foto mereka.
"Cantik," gumam Azlan.
Kemudian menoleh ke arah Zea yang menatapnya.
"Lo cantik," tambahnya.
Entah mengapa Zea merasa pipinya sedikit memanas. Apa mungkin Zea merona karena pujian Azlan. Hatinya sedikit menghangat mendapatkan tatapan tulus dari Azlan.
Perasaan apa ini? Tidak-tidak!! Jangan lagi!!. Hati kecil Zea berkata.
"Lo kenapa belum keluar?" tanya Azlan.
"Kalau Lo nggak mau keluar, mending ikut gue aja."
"Gue keluar sebentar lagi," ucap Zea menolak ajakan Azlan.
"Gue males aja kalau keluar ketemu sama mereka." Ucap Zea lagi sembari menunjuk dua manusia yang sedang bermesraan di depan mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat Zea dan Azlan.
"Mereka siapa?" tanya Azlan langsung.
Zea menoleh ke arahnya.
"Nggak penting, bukan urusan lo juga."
Azlan menghela napas berat. Ternyata mendapatkan hati Zea tidak semudah yang ia kira.
"Terserah Lo, puas." Zea tersenyum singkat melihat Azlan yang mulai kesal.
Bagaimana tidak Azlan kesal terhadap Zea. Dia yang memulai cerita tetapi ketika ditanya dia sama sekali tidak menjawabnya. Selalu saja seperti itu.
"Cewe itu, saudara tiri gue." Zea membuka suaranya.
Azlan hanya diam, membiarkan gadis itu melanjutkan ucapannya. Namun tidak seperti yang ia bayangkan. Zea malah menghentikan ucapannya sampai disitu saja.
"Gue duluan ya, makasih udah nganterin sampe rumah. Dan Lo nggak perlu nganter sampe kamar juga" Zea membuka pintu mobil Azlan.
"Ze," Panggil Azlan sembari mencekal tangan Zea.
"Ada apa?" heran Zea.
"Boleh gue minta sesuatu?" tanya Azlan lembut.
"Minta? Minta sesuatu? Apa yang bisa Lo minta sama cewe kaya gue Lan?" ucap Zea heran. Karena apa yang dapat Zea berikan kepada laki-laki di sampingnya itu.
"Senyum."
"Gue cuma minta senyum Lo. Lo senyum ke gue, bukan hal besar kan?" Tanya Azlan tetap dengan hati-hati.
Zea terdiam sejenak, menatap tangan Azlan yang masih memegang lengannya. Mengerti arti tatapan Zea, Azlan langsung melepaskannya.
"Eh sorry, gue lupa."
"Emm nggak papa. Makasih udah nganterin gue." Ucap Zea lembut. Kemudian tersenyum singkat. Lalu pergi meninggalkan Azlan yang mematung karena melihat senyuman Zea.
"Gue mimpikah? Baru aja, baru aja Zea senyum ke gue. Astaga, senyumnya."
"Senyumnya bisa buat gue gila seketika." Ucap Azlan histeris. Tubuhnya seakan tersetrum listrik ketika melihat senyuman singkat dari Zea tadi.
"Mah kayaknya Azlan mulai gila." Gumamnya sendiri.
* * *
Zea berjalan cepat menuju rumahnya. Sebenarnya perutnya sudah begitu sakit. Namun ia mencoba bersikap biasa saja ketika melewati pria yang sedang berdiri di pintu mobilnya. Zea tahu benar ia hanya berpura-pura memainkan ponselnya hanya untuk menunggu Zea melewati dirinya. Terkadang Zea berpikir benda canggih itu selain membantu juga sebagai tempat menumpuk dosa. Dan itu fakta.
"Zea," panggilnya.
Zea tidak menghiraukannya. Tepat dugaan Zea, pria itu akan mengganggunya lagi kali ini.
"Ze, tunggu." Kali ini pria itu memegang lengan Zea.
Dengan terpaksa Zea menghentikan langkahnya. Namun Zea tidak menatap laki-laki itu yang tidak lain adalah Rio.
"Mau Lo apa?" tanya Zea dingin.
"Gue mau lo," Zea tersenyum sinis. Menghempaskan kasar tangan Rio.
"Pria gila!!" ucapnya kemudian pergi.
Namun Rio tidak tinggal diam. Ia berlari mengejar Zea, lalu memeluknya dari belakang.
Zea terpaku. Dia hanya diam. Ingin rasanya memberontak namun mengapa itu sulit. Pelukan ini begitu nyaman ia rasakan. Tetapi ada rasa sakit bersamaan dengan kenyamanan itu. Zea tidak ingin terlarut dalam kenyamanan yang membuat dirinya lupa. Logikanya kembali menyadarkannya.
Zea melepaskan pelukan Rio. Kemudian menamparnya cukup keras.
Rio hanya diam. Bahkan tamparan Zea seakan tidak berefek apa-apa pada pipinya. Rio kembali meraih lengan Zea.
"Please Ze!! Berhenti kayak gini, gue bisa mati karna Lo!!"
"Gue nggak peduli!!" bentak Zea. Dia berusaha melepaskan pegangan Rio.
"Ze ayolah. Gue tahu Lo juga masih cinta sama gue kan. Kita bisa perbaiki semuanya dari awal lagi." Ucap Rio dengan wajah melasnya.
Zea begitu muak dengan tatapan itu. Tatapan yang membuat dirinya menjadi orang bodoh selama ini. Bahkan ingin rasanya Zea meludahi wajah penuh kebohongan itu. Namun ia masih berpikir untuk bersikap sopan. Dan menjaga sikap sebagai perempuan.
"Awal Lo bilang? Awal? Bahkan gue nggak tahu kapan akhir dari sebelumnya." Sindir Zea, ia tertawa singkat. Namun tawa itu begitu penuh luka. Dan kata-kata Zea tadi, mampu menghantam keras hati Rio. Memang benar hubungan mereka selama ini hanya berakhir tanpa adanya kalimat putus dari pihak manapun. Tetapi meskipun begitu, Zea menganggapnya berakhir dan tidak ingin memulainya lagi.
"Maka dari itu gue mau kita mulai lagi Ze, kita perbaiki semuanya dari awal, please Ze!!. Gue masih cinta sama Lo."
"Gue nggak mau!!" Tolak Zea langsung.
"Kenapa Ze? Kenapa?" nada Rio mulai meninggi.
"Apa perlu gue jelasin alasannya, hah? Terlalu sakit untuk gue buka luka lama itu Yo."
"Lo nggak tahu apa yang gue rasain," kali ini Zea mulai menangis.
"Ze, Lo nangis?" nada Rio kembali rendah bahkan terdengar lembut. Ia berusaha kembali meraih tangan Zea. Namun dibuang kasar oleh Zea.
"Jangan sentuh gue!!"
Namun Rio tidak mengindahkan ucapan Zea. Rio kembali menarik lengan Zea. Ia berusaha membawa Zea masuk ke dalam mobilnya. Zea berusaha untuk melepaskan cekalan Rio. Namun percuma, tenaga lelaki itu lebih kuat darinya.
"Lepasin gue!!" ucap Zea.
"Nggak Ze, gue perlu ngomong sama Lo."
"Nggak perlu diomongin lagi. Semuanya udah jelas Yo." Tanpa menjawab ucapan Zea. Rio langsung mendorong pelan Zea masuk ke dalam mobilnya.
Namun belum sempat Rio menutup pintu mobilnya. Sebuah tarikan di punggungnya membuat dirinya terhuyung ke samping. Lalu diikuti oleh tumbukan cukup keras di pipi kanannya.
"BERENGSEK LO!!" satu pukulan lagi hendak melayang ke wajah tampan Rio. Namun dengan cepat ia mengelak. Tidak perlu diragukan kemampuan bela diri Rio cukup baik.
Namun siapa sangka gerakan cepat juga bersamaan menghantam perutnya. Ternyata pukulannya tadi itu hanyalah sebuah tipuan.
"Shit!!" geram Rio.
Dengan cepat Rio memberikan serangan balik kepada pria yang memberikan luka pada sudut bibirnya itu. Dan gerakan itu cukup untuk melumpuhkan lawan sebenarnya. Namun siapa sangka, lawannya ini cukup baik dalam mengatasi setiap serangannya.
"Heran? Sama kemampuan gue?" seakan mengerti apa yang Rio pikirkan.
"Gue bisa aja habisi Lo sekarang, karena Lo udah berani pegang tangan kakak gue dengan tangan busuk Lo itu." Tentu kalian tahu siapa dia. Ya, dia Zeo. Zeo Erstio, yang sejak tadi memang memperhatikan percakapan antara kakaknya dan Rio. Hanya memantau dari jauh. Jika sesuatu yang buruk akan terjadi barulah ia akan turun tangan. Seperti saat inilah.
"Gue nggak seberengsek yang Lo pikirkan Ze."
"Gue cuma mau memperbaiki kesalahan yang udah gue buat." ucap Rio.
"Terus kakak gue mau?" Zeo menatap Zea yang baru saja keluar dari mobil Rio. Zea menggeleng pelan.
"Dia aja nggak mau. Dan Lo maksa? Apa itu nggak berengsek namanya, hah?" bentak Zeo.
"Lagian bukannya Lo udah jadian sama Faira hah?? Maksud Lo apa deketin kakak gue lagi? Lo mau mainin dua hati cewek? Sumpah gue matiin Lo sampe itu beneran." Zeo sudah sangat geram melihat Rio.
Sebenarnya Zeo dulu cukup menghormati pria di hadapannya itu. Selain seniornya di futsal dia juga salah satu orang yang mengajarinya ilmu pencak silat. Dan kemampuan bela dirinya ini adalah hasil dari ajaran Rio. Akan tetapi apa yang telah ia lakukan pada Zea membuat Zeo melupakan semua itu.
"Gue nggak cinta sama Faira! Gue cintanya sama Zea. Please Ze, Lo harus percaya gue cuma sayangnya sama kakak Lo, Zea." Ucap Rio berusaha meyakinkan Zeo.
"Lo pikir gue peduli!!! Nggak!!!"
"Yang gue pedulikan saat ini cuma satu. Kebahagian kak Zea. Dan Lo jangan pernah lagi ganggu dia. Dia udah bahagia tanpa Lo. Mending Lo pergi dari sini!!" ucap Zeo. Kemudian menghampiri Zea yang hanya diam.
Menarik pelan kakaknya menuju rumah mereka.
Sedangkan Rio hanya mampu menahan emosinya. Percuma dia melawan dengan otot. Zeo saat ini sudah jauh lebih berkembang. Bahkan kemampuannya jauh di atas dirinya. Entah belajar pada siapa pria itu.
Rio masuk ke dalam mobilnya. Kemudian. menancap gas lalu pergi dari pekarangan rumah Zea.
Sedangkan Azlan yang sedari tadi menatap ke arah tiga manusia itu dari dalam mobil. Hanya bertanya-tanya pada pikirannya.
"Siapa laki-laki itu? Kenapa buat Zea nangis? Dan kenapa ada Zeo disana?"
"Terus ada hubungan apa antara Zeo dan Zea? Apa mereka pacaran? Kenapa Zeo seemosi itu tadi?"
"Aarrkhhhh,"
"Kenapa gue nggak turun aja sih tadi? Bodoh!" Azlan memukul setir mobilnya. Merutuki kebodohan dirinya.
"Gue harus cari tahu," gumamnya.
"Iya gue harus cari tahu semuanya,"
__ADS_1
"Siapa cowok itu dan apa hubungannya Zea dan Zeo." Tekad Azlan.
"Udahlah nama mereka mirip lagi cuma beda A dan O doang. Jangan-jangan mereka jodoh lagi. Eh nggak-nggak jadoh Zea kan gue. Jadi itu nggak mungkin." Entah mengapa Azlan jadi seperti orang gila yang bergumam sendiri.
Tiba-tiba ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk. Karena malas meletakan ke telinga Azlan lebih memilih mespekerkan panggilannya.
"Halo, Lan. Lo dimana?"
Sira cempreng Azlina terdengar jelas.
"Gue di mobil, kenapa?"
"Eh Curut, gue nggak nanya Lo lagi duduk dimana tapi tempatnya dimana? Wilayahnya somplak." Omel Azlina.
"Lah gue kan nggak salah, malahan gue jujur kalau gue lagi di mobil."
"Serah Lo ah. Sekarang Lo mau kemana?"
"Pulanglah,"
"Ke apart gue sekarang Lo ya. Gue mau nepatin janji gue kemarin."
Azlan langsung tersenyum. Semangatnya kembali datang.
"Serius kak?" ucap Azlan antusias.
"Semangat banget bang." Sindir Azlina.
"Ya serius lah, udah buruan kesini. Lewat tiga puluh menit Lo sampe, gue batalin bantuan gue." Ucap Azlina.
"Parah bener Lo jadi kakak, sekate Kate sama adek sendiri."
"Udah buruan jalan kesini, waktu Lo terus berjalan loh."
"Oke-oke gue kesana sekarang."
Azlan langsung mematikan sambungan teleponnya. Lalu melajukan mobilnya dengan cepat. Dia jangan sampai telat untuk hal ini.
* * *
Zea dan Zeo masuk ke dalam rumah mereka dengan wajah yang sulit diartikan. Keduanya saling diam. Zeo merangkul Zea dengan lembut. Membawa kakak perempuannya itu dengan lembut menuju kamar. Namun langkah mereka terhenti ketika melihat gadis yang tengah duduk santai di sofa ruang tamu dengan earphone di telinganya. Sesekali kepalanya mengangguk-angguk mengikuti musik yang sedang di putar.
"Cewek gila," gumam Zeo.
Sea menoleh ke arah Zeo, seakan menanyakan 'kenapa'.
"Lo lihat aja kak, dia pake earphone tapi musiknya gue bisa denger dari sini. Tuh gendang telinga apa nggak pecah coba." Zeo menjelaskan.
"Iya juga ya Ze, pantes aja dia sering banget lama nyahutnya kalau di panggil mama." Tambah Zea lagi.
"Ternyata inilah alasannya."
"Tapi ada untungnya juga sih Ze." Ucap Zea.
"Untungnya?" sahut Zeo.
"Iya. Seenggaknya dia nggak denger kegaduhan di luar tadi, kalau sampai denger tuh anak bisa patah hati. Dan ngira gue nikung pacar dia, dan itu sungguh hal yang menjijikkan untuk di lakukan." Jelas Zea.
Zeo hanya terkekeh kecil mendengarkan ucapan kakaknya yang cukup panjang itu.
"Ya semoga aja dia nggak denger. Lagian pas gue mau keluar tadi, tuh anak emang udah pake earphone kuat banget. Jadi kayaknya dia emang nggak tahu kalau cowoknya belom pulang habis nganter dia." Tambah Zeo.
"Lo berdua ngapain di situ? Pake rangkul-rangkulan segala. Kaya orang penyakitan aja." Itu suara Faira. Dia menyadari Zea dan Zeo yang berdiri tidak jauh darinya.
Faira melepas earphone warna biru muda miliknya. Lalu menatap tajam ke arah Zea dan Zeo.
"Suka-suka kita kali, lagian siapa yang bisa marah kalok gue ngerangkul kakak gue.," balas Zeo tidak mau kalah.
"Kenapa jadi Lo yang sewot, biasa aja kali." Sahut Faira lagi.
Zeo hendak membalas lagi ucapan Faira namun gerakan tangan Zea membuatnya memilih diam.
"Oh iya Ze, cuaca kayaknya mau hujan. Gue tidur di kamar Lo ya." Kali ini suara Faira melembut. Biasalah ada udang di balik batu. Kalau ada maunya pasti seperti itu. Memuakkan, batin Zea.
"Kamar Lo kan ada, kenapa harus tidur di kamar gue." Ucapan Zea tanda penolakannya.
Faira menghela napas pelan. Bersamaan itu hujan pun turun cukup deras. Suaranya begitu menggema di atap rumah Zea. Rumah mereka tidak terlalu besar. Dan hal itu membuat suara hujan akan terdengar jelas dari dalam rumah.
"Tuh kan bener udah hujan." Keluh Faira.
"Terus kenapa sama hujan, lagian berkah juga." Itu Zeo.
"Kamar gue bocor, dan belom di ganti gentengnya. Makannya gue mau numpang di kamar Lo Ze." Jelas Faira. Dilihat dari wajahnya tidak ada kebohongan sama sekali.
Mungkin memang benar kamarnya bocor. Dilihat dari keadaan rumah mereka yang memang cukup tua ketika dibeli. Dan belum di renovasi sama sekali.
"Nggak. Kenapa harus kamar gue, lagian Lo yakin mau tidur di kamar gue?" mendengar pertanyaan Zea. Faira memicingkan matanya.
"Maksud pertanyaan Lo?" tanya Faira langsung.
"Iya maksud gue Lo yakin mau tidur di kamar gue? Emang Lo tahu keadaan kamar gue gimana?" ucap Zea lagi.
"Emangnya kamar Lo kenapa? Apa bocor juga?" tanya Faira bingung.
"Kalau bocornya sih nggak, tapi." Zea sengaja menghentikan ucapannya. Menatap Zeo sekilas.
"Tapi apaan?" sahut Faira cepat.
"Kalau nantinya ada suara-suara gimana gitu. Atau ada ngelihat sesuatu yang aneh jangan salahin gue ya. Karna yang minta tidur di kamar gue Lo sendiri." Jelas Zea.
"Maksud Lo apaan sih Ze. Jangan nakut-nakutin!" ancam Faira.
"Nggak kerjaan kali nakutin Lo. Lagian Lo udah dari dasarnya penakut, nggak perlu di takutin juga bakal takut." Cibir Zea.
"Enak aja lo kalau ngomong. Gue nggak penakut ya," balas Faira tidak terima.
"Yaudah kalau Lo nggak takut, coba aja tidur di kamar kak Zea." Zeo ikut bersuara.
Faira terdiam. Terlihat jelas ia mencoba menutupi ketakutannya. Suasana yang sedang hujan menambah keadaan rumah semakin mencekam. Faira merasa bulu kuduknya mulai berdiri.
"Kayaknya gue tidur di kamar mama aja deh," ucap Faira kikuk. Zeo dan Zea tersenyum meremehkan.
"Serah Lo aja," balas Zea.
"Eh jangan salah sangka dulu ya, gue nggak jadi tidur di kamar Zea bukan karna takut. Tapi karna gue inget mama juga tidur sendirian, jadi akan lebih baik kalau gue tidur sama mama aja." Tanpa menunggu jawaban Zea ataupun Zeo. Faira langsung pergi secepat kilat.
Setelah kepergian Faira tawa Zea dan Zeo langsung pecah.
"Gila!! Muka tu bocah lucu amat nahan takut begitu. Pake sok-sokan nggak takut lagi, padahal kelihatan banget takutnya." Ucap Zeo di sela-sela tawanya.
"Shutttt!! Jangan kuat-kuat ngomongnya, nanti Faira denger." Peringati Zea.
Sungguh sejak tadi Zea sudah ingin melepaskan tawanya. Ternyata Faira sungguh mudah sekali untuk di tipu.
Ya, Zea tidaklah seperti saudara tiri yang seperti di film-film. Yang akan selalu menerima siksaan dan perintah dari ibu ataupun saudara tiri mereka. Zea akan bertindak jika dia merasa haknya di ambil.
Zea tidak akan pernah tinggal diam jika ditindas. Dia tidak akan membiarkan kisahnya seperti, pembantu di rumah sendiri. Itu tidak akan terjadi. Hatinya sudah cukup tersiksa. Maka dari itu dia tidak akan membiarkan tubuhnya juga ikut tersiksa.
Tidak harus dengan otot untuk melawan mereka yang menindas. Terkadang otak juga perlu digunakan. Jika mereka punya cara yang licik untuk mengelabui ayah Zea, Maka Zea juga akan melakukan cara yang sama untuk mengelabui mereka.
"Kak, emang di kamar Lo ada apaan sih?" itu suara Zeo. Mungkin Zeo juga sama penasarannya dengan Faira tadi. Hanya saja Zeo berpura-pura sudah tahu. Untuk menambah keyakinan Faira atas ucapan Zea.
"Ya di kamar gue ada tempat tidur lah, apa lagi coba?" jawab Zea. Kemudian melangkah masuk menuju kamarnya.
"Kak, gue serius."
"Gue juga serius kali Ze. Loh nggak percaya? Tuh lihat sendiri!" ucap Zea sembari membuka pintu kamarnya.
Zeo masuk ke dalam kamar Zea. Menelisik setiap benda yang ada di dalam kamar kakaknya itu. Mencoba mencari hal yang ganjil, namun tidak sama sekali ia temukan.
"Nggak ada yang aneh sih. Semuanya terlihat normal, ada tempat tidur, lemari, meja rias, televisi, kamar mandi." Ucap Zeo sembari meletakan jati telunjuknya di dagu.
"Terus maksud Lo ngomong ada suara-suara atau penampakan itu apaan?"
Zea langsung tertawa mendengar pertanyaan Zeo. Menyentil pelan kening adiknya itu.
"Aissshhh, sakit kak." Ringis Zeo.
Zea menjatuhkan tubuhnya asal ke tempat tidur.
"Lagian Lo sama **** nya kaya Faira. Lagian mana ada suara atau penampakan di kamar gue. Yang ada suara nyamuk sama penampakan kucing masuk ke kamar."
"Jadi maksud Lo? Lo tadi itu boong berarti," Zeo menyimpulkan.
Zea membalasnya dengan senyuman kemenangan.
"Ya nggaklah, lagian kamar gue nggak sehorror itu kali."
Cklek
Suara pintu kamar mandi terbuka.
"Ze," cicit Zea.
"Kak," balas Zeo.
"Kok pintunya kebuka sendiri ya?" heran Zeo. Dia berusaha menutupi ketakutannya.
Padahal jika mau dia akan lari sejak tadi. Namun memikirkan Zea ada di sisinya. Hal itu tidak akan ia lakukan. Selain karena gengsi, Zea juga harus ia lindungi kapanpun dan di manapun. Baik musiknya dari alam nyata ataupun gaib sekalipun. Oke skip, terlalu berlebihan.
"Coba Lo cek Ze!" itu suara Zea.
"Lah kok gue?" sahut Zeo tidak terima.
"Jadi siapa lagi? Kan di sini cowoknya Lo, ya Lo lah yang cek." Nada suara Zea mulai meninggi.
"Tapi kan di sini kakaknya Lo, ya Lo lah kak yang cek." Balas Zeo tidak mau kalah.
Zea dan Zeo saling menatap. Tatapan mereka sama tajamnya.
"Cepetan cek Ze," bentak Zea.
"Kenapa harus gue, Lo aja sana cek sendiri!." Tolak Zeo mentah-mentah. Kemudian bersilang dada.
Zea mendengus kesal. Sungguh Zeo membuat mood nya semakin memburuk kali ini.
"Lo kan cowok Ze, Gentle dikit ngapa!"
Belum sempat Zeo menyahut ucapan Zea, sebuah suara mengalihkan perhatian dua manusia yang sejak tadi berdebat itu.
"Kenapa pada ribut?" tanya sebuah suara yang keluar dari kamar mandi Zea.
Zea dan Zeo sontak menatap sosok itu. Wajah kaget mereka terlihat begitu jelas.
"Zia!!" pekik keduanya bersamaan.
Zia sedikit tersentak kaget.
"I.... iya." cicitnya.
"Ternyata kamu dek yang ada di kamar mandi," ucap Zeo sembari berjalan mendekati Zia.
"Iya,"
"Kak Zea sama bang Zeo kenapa ribut dari tadi?" tanya Zia dengan wajah polosnya.
"Kita nggak ribut kok, cuma berdebat dikit aja." Jawab Zeo dengan senyumannya. Kemudian mencium pipi gadis kecil itu.
"Ih bang Ze cium-cium. Kak bang Ze cium Zia tanpa izin, kan nggak sopan." Adu Zia kepada kakaknya itu.
"Zeo," peringati Zea.
Zeo hanya tersenyum jahil. Melihat senyum Zeo yang mengerikan. Zia langsung lari kepangkuan Zea.
Dengan cepat Zeo langsung menangkap Zia. Lalu menggelitiknya. Sesekali mencium pipi cubby adiknya itu.
"Aduh bang Ze, geliiii. Zia nggak tahan, udah ampunan!!"
"Kak Zea, bang Ze nakal." Adu Zia lagi.
"Zeo udah, kasihan Zia." Peringati Zea lagi. Namun sebenarnya ia begitu menikmati kebahagian kedua adiknya itu. Setidaknya dapat melihat Zeo dan Zia tertawa puas seperti sekarang memberikan kebahagiaan tersendiri untuk Zeo.
Tidak mengindahkan ucapan Zea, Zeo malah menciumi pipi adiknya.
"Udah ah, bang Ze belom mandi bau tau!!" Mendengar ucapan Zia yang mencibirnya. Zeo langsung memeluknya. Zia hanya dapat meronta, sampai akhirnya dia pasrah. Tenaganya sudah habis karena terlalu lelah melawan tenaga Zeo yang memang jauh di atasnya.
"Kamu bilang Abang bau kan? Ini Abang peluk, biar baunya nempel di Zia." Ejek Zeo.
Zea hanya tersenyum singkat, kemudian mendekati dua adiknya itu. Memeluk erat keduanya.
Zeo sempat terkejut melihat aksi Zea. Namun sekian detik Zeo membalas pelukan Zea, diikuti oleh Zia
"Kakak sayang sama kalian," lirih Zea. Namun masih dapat terdengar oleh Zeo dan Zia.
Pelukan mereka terlepas. Zeo dapat melihat Zea kembali menangis. Ini kedua kalinya ia melihat Zea menangis langsung di hadapannya.
"Jangan nangis kak! Lo jelek kalau nangis.," ejek Zeo. Kemudian menghapus pelan air mata Zea yang mengalir di pipi mulusnya.
"Kak Zea jangan nangis dong, Zia kan jadi ikutan sedih."
Zea menatap adik perempuan yang begitu ia sayangi itu. Tersenyum hangat kepadanya. Seakan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
Zia mencium pipi Zea dan Zeo bergantian. Kemudian merangkul lengan kedua kakaknya itu.
"Zia sayang kak Zea dan bang Zeo," ucapnya tulus.
"Kakak juga sayang sama kamu dek," Kemudian Zea memeluk lembut adik perempuannya itu.
"Jadi gue nggak di sayang ini?" sindir Zeo.
Zea hanya tersenyum singkat.
"Gue juga sayang sama Lo Ze," balas Zea dengan senyuman hangatnya.
Zeo ikut tersenyum. Kemudian memeluk dua orang wanita yang begitu ia sayangi itu.
"Kak," panggil Zeo masih dalam pelukannya.
"Hmm,"
"Gue harap bisa selalu ngelihat Lo senyum kaya tadi." Pinta Zeo.
"Gue usahain," jawab Zea. "Demi kalian berdua," tambah Zea.
"Jangan demi kita kak," itu suara Zia. Masih dalam pelukan yang sama.
"Tapi demi diri kakak sendiri," ucap Zia lagi.
Di balas anggukan pelan dari Zea. Namun dapat dirasakan oleh kedua adiknya. Air mata Zea kembali mengalir. Bahkan kali ini lebih deras dari sebelumnya.
"Hari ini kakak mau tidur sama kalian berdua ya," ucap Zea menahan isaknya.
"Iya," jawab keduanya bersamaan.
"Tapi Lo mandi dulu ya kak," itu suara Zeo.
Sontak Zea langsung memeluknya.
"Emang kenapa kalau gue nggak mandi. Gue nggak bau kaki." Balas Zea tidak terima.
"Siapa juga yang bilang Lo bau,"
"Lo nggak sadar tangan Lo tadi di pegang siapa?"
Zea baru ingat. Kemudian memegang lengannya.
"Oh iya, gue lupa. Harus mandi kembang tujuh rupa gue sebenernya," canda Zea. Kemudian berlari ke kamar mandi.
"Emang tangan kak Zea di pegang siapa bang?" tanya Zia.
"Itu tadi ada setan nyasar, langsung pegang tangan kak Zea. Jadi harus di bersihin dong, biar steril lagi,"
"Emang itu setan ngapain sampe salah pegang tangan kak Zea?" tanya Zia lagi. Zeo hanya tersenyum geli, ternyata adiknya ini sungguh polos.
"Mungkin dia ngira kak Zea pacarnya kali," jawab Zeo lagi dengan asalnya.
"Gue denger ya Ze," teriak Zea dari dalam kamar mandi.
"Tuh mulai lagi kan teriak-teriak kaya Tarzan."
"Iya-iya bang. Sebenernya kak Zea titisan Tarzan atau Setan." Tambah Zia.
"Gue titisan Hulk!!!" teriak Zea lagi dari dalam kamar mandi.
Zeo dan Zia hanya bergidik ngeri mendengar ucapan Kakak perempuan mereka itu.
"Udah dek jangan di ceritain lagi Kak Zea, telinga dia udah kayak pintu kemana aja. Dimana pun bisa ada." Bisik Zeo.
__ADS_1
"Iya bang. Kayaknya kita tunda aja tidur bareng kak Zea, bahaya singa rumah mau ngamuk sebentar lagi." Dibalas angguk oleh Zeo.
Kemudian mereka berjalan pelan-pelan keluar dari kamar.
"Kalian pikir bisa kabur," ucap Zea. Yang sudah berdiri di depan kamar mandi dengan piamanya, serta rambut yang dibalut handuk pink-nya.
Zeo dan Zia berbalik kemudian memberikan cengiran tanpa dosa kepada Zea.
"Hehe pis kak, ampun!!" ucap Zeo dengan jari telunjuk dan jari tengah di angkat ke atas. Di ikuti Zia juga melakukan hal yang sama.
"Kalian dihukum!!"
"Hah," pekik Zeo dan Zia bersamaan.
"Iyalah, akan ada hukuman untuk adik yang menjelekkan kakaknya di belakang. Dan parahnya ketahuan pula itu, dasar kalian payah." Ucap Zea sembari mengeringkan rambutnya yang basah.
"Maaf kak, jangan dihukum please!!" mohon Zeo.
"Iya kk, kita nggak bermaksud kok." Ucap Zia juga.
"Kalian udah kakak maafin." Ucap Zea langsung. Membuat Zeo dan Zia menatap Zea bingung.
"Serius?" ucap keduanya berbarengan.
Zea mengangguk mantap dengan senyuman penuh arti.
"Tapi hukuman tetap dilakukan." Tambah Zea dengan senyuman kemenangan.
"Yah!!"
"Untuk Zeo, Lo harus bantuin gue delivery selama seminggu. Dan gue nggak peduli Lo ada jadwal latihan futsal. Dan Zia juga sama selama seminggu harus bantuin kakak di ruko."
"Tapi kak, gue lagi ada turnamen. Nggak mungkin gue nggak latihan kak." Tolak Zeo.
"Gue nggak peduli. Hukuman tetap hukuman." Ucap Zea lagi.
Sedangkan Zia hanya tersenyum senang. Karena dia sudah biasa membantu Zea di ruko jika dirasa kakaknya itu memerlukan bantuan.
"Zia mah enak. Emang setiap harinya dia bantuin Lo kak, ini nggak adil." Protes Zeo lagi.
"Penentu adil atau nggaknya itu Gue. Lagian yang mulai nyeritain Gue tadi itu Lo kan Ze, jadi hukuman Lo harus lebih berat."
"Gue nggak terima protesan. Keputusan gue udah bulat. Dan hukuman kalian dimulai dari besok."
"What!!'
"Nggak usah teriak-teriak kadal!! Mentang-mentang hujan, seenaknya Lo."
"Kak please jangan besok, gue ada jadwal latihan dari pagi."
"Gue nggak terima alasan apapun."
"Astaga, gue lupa." Ucap Zea tiba-tiba.
"Lupa apaan? Lo mau ganti hukuman gue." Ucap Zeo antusias.
"Idih!! Ngarep bener pak." Cibir Zea.
"Ya kan mana tau mbak." Balas Zeo
"Gue lupa kalau dapet, kenapa gue keramas. **** juga gue." Gumam Zea. Tetapi begitu terdengar jelas di telinga Zeo.
Zeo hanya menatap datar kakak perempuannya itu.
"Yang **** siapa?" sindir Zeo.
Zea menatap Zeo malas.
"Lo lah," jawab Zea cepat.
"Lah kok gue, Lo yang lupa kalau lagi mens terus keramas kenapa jadi gue yang **** coba," heran Zeo.
"Ya Lo lah, ****! Nyeritain orang masa orangnya denger, apa nggak **** coba."
"Sindir aja teros!!"
"Ribut aja teros sampe lebaran gajah!!" itu suara Zia.
"Emang ada?" tanya Zeo.
"Bang Ze pikir aja sendiri." Balas Zia kemudian jalan ke tempat tidur Zeo lalu merebahkan tidurnya.
"Hahah di skak adik sendiri." Ejek Zea.
"Ketawa aja teros sampe lebaran Kadal."
"Mana ada bambank!!'
"Suka-suka gue, mulut-mulut gue."
"Gue congkel mulut Lo baru tahu."
"Idih sadis!!"
"Bodo!! Daripada Lo ****!!"
"Dasar psikopat!!" cibir Zeo.
"Dasar ****!!" sahut Zea tidak mau kalah.
"Muka kulkas!!" ucap Zeo lagi.
"Muka sok ramah kek seles panci keliling," balas Zea.
"Ya Allah kapankah cobaan ini berakhir," itu suara Zia. Dia menatap datar ke arah Zeo dan Zea yang sedari tadi beradu mulut tidak ada habisnya.
"Zia ngantuk jangan ribut!!" ucapnya kemudian kembali berbaring di tempat tidur Zea.
"Lo sih!!"
"Lah kok gue," ucap Zeo tidak terima. "Lo yang mulai juga,"
Sedangkan Zia hanya mampu menutup telinganya dengan bantal. Karena perdebatan antara Zea dan Zeo tidak akan ada habisnya. Ibarat menunggu upin dan Ipin SD. Entah sampai kapan, dan kita tidak ada yang tahu.
* * *
Azlan menepikan mobilnya di parkiran apartemen milik kakaknya. Kemudian berlari kecil menuju apartemen itu. Bajunya sedikit basah karena hujan yang turun cukup deras. Ya akibat hujan dia sedikit telat untuk sampai di tempat ini.
"Masih dapat dikatakan tepat waktukah." Gumam Azlan setelah melihat jam di tangannya.
Azlan berjalan menuju apartemen kakaknya itu. Setelah sampai Ia langsung menekan bel yang terletak di sebelah kanan pintu. Tidak perlu menunggu lama, pintu langsung terbuka.
"Lo," pekik Azlan. "Di sini?" heran Azlan.
"Baru dateng salam dulu kek," sindir Putri.
"Eh, Assalamualaikum." Ucap Azlan kemudian masuk ke dalam apartemen Azlina.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu," jawab Azlina.
"Lo telat lima menit?" ucap Azlina langsung.
"Halah lima menit doang, masih dapat dikategorikan tepat waktulah." Jawab Azlan, kemudian berjalan menuju sofa dimana Azlina duduk.
"Pizza nya mana?" tagih Putri langsung.
Azlan langsung memberikan dua kotak pizza yang ia bawa kepada Putri. Dengan wajah berbinar putri menerimanya.
"Giliran makanan aja Lo cepet." Sindir Azlan.
"Biarin ble," ucap Putri sembari menjulurkan lidahnya.
"Tuh bocah kenapa di sini kak?" tanya Azlan kepada Azlina yang tengah asik pada ponselnya.
"Mau main katanya," jawab Azlina. Dengan tatapan tetap pada benda persegi itu.
"Oh iya gimana Lan?" tanya Azlina tiba-tiba. Kali ini tatapan sudah beralih pada Azlan.
Azlan menatap kakaknya dengan tatapan tidak mengerti.
"Gimana apanya?"
"Ya, Lo sama Zea gimana?" Azlina memperjelas maksud pertanyaannya.
Azlan menghela napas pelan. Begitu banyak pertanyaan yang ada di pikirannya saat ini mengenai Zea. Sebenarnya ia sempat senang karena Zea mulai mau tersenyum kepadanya. Namun kejadian perkelahian tadi membuat tanda tanya besar ada di otaknya mengenai gadis itu.
"Ya gitu," jawab Azlan malas.
"Kok lemes banget sih? Bukannya Lo tadi nganterin dia pulang?"
"Lo kok tahu kak," Azlan menatap Azlina intens. Pasalnya dirinya tidak ada memberitahu Azlina dalam hal ini. Apa mungkin Putri yang memberitahu Azlina perihal ini?.
"Biasa aja tuh mata. Jelas gue tahu, kan emang rencana gue." Jelas Azlina.
"Maksud Lo?" kaget Azlan. Sungguh ia tidak paham dengan ucapan Azlina.
"Semuanya udah di rencanakan kak. Lo yang harus jemput gue, dan kita ke mall tadi itu udah dalam rencana. Sebenernya rencana awalnya itu, gue yang bakal ada urusan mendadak lalu pamit duluan dan gue minta Lo buat anterin Zea nantinya, eh ternyata Zea yang buat rencana berjalan lebih baik, dia sakit perut dan alasan itu gue jadiin senjata untuk Lo anterin dia. Dan itu pas banget.. Gimana rencana gue? Keren kan?" Jelas dan ucap Putri dengan bangga.
"Jadi, semua ini?." Cicit Azlan.
"Iya Lan, semuanya udah kakak dan Putri rencanain."
"Gimana bisa kakak sama Putri kerja sama?" heran Azlan.
"Hmm simple aja sih. Kakak tahu Zea itu sekolah di Darma Putra, setelah kakak lihat salah satu postingan dia make seragam SMA Darma Putra di akun Instagram dia. Kakak inget banget kalau Putri juga sekolah di sekolah itu. Jadi kakak coba hubungin dia dan tanyain dia kenal atau nggak sama Zea, dan keberuntungan ada di pihak kakak. Putri bukan kenal lagi sama Zea, mereka itu sahabatan bahkan dari SMP."
Jelas Azlina secara rinci. Azlan mencoba mencerna ucapan kakaknya itu.
"Jadi gimana kak? Lo sama Zea udah gini belom?" goda Putri sembari menyatukan semua jarinya lalu membentuk seperti ular kemudian mendekatkan dua tangannya itu hingga bersentuhan.
"Gila Lo, ya kali baru sekali nganter dia kami udah begituan." Omel Azlan lagi.
"Emang beginian ngapain coba. Maksud gue itu Lo ada ngobrol nggak sama Zea? Soalnya gue hapal banget Zea nggak akan ngobrol sama orang asing meski dalam satu mobil sekalipun. Dia cewek paling dingin yang ada di SMA Darma Putra."
"Eh heheh." Azlan merasa malu karena sudah berpikir yang tidak-tidak. Azlina menahan tawanya melihat aksi adik laki-lakinya itu.
Lagian Putri nanya ngapain coba tangannya di gituin, ya gue langsung mikir ke sana. Batin Azlan.
"Lo tahu nggak put, si Azlan mikirnya ke mana coba tadi?" itu suara Azlan.
"Emang kemana kak?"
"Dia ngiranya Lo nanya gini itu ya begitulah. Masa nggak paham." Ucap Azlina sembari melakukan apa yang Putri lakukan tadi.
Putri menatap Azlan tajam.
"Dasar kak Azlan MESUMMMMM," pekik Putri.
Azlan menutup telinganya dengan kedua tangannya. Bisa jadi gendang telinganya langsung pecah mendengar teriakan gila dari Putri.
"Kayaknya semua cewek bilang gue mesum lah."
"Emang kakak omes. Otak Mesum." Ucap Putri lagi, dengan menekankan kalimat ' Otak Mesum' kepada Azlan.
Azlan mendengus kesal.
"Laki nggak mesum nggak normal kali Put." Balas Azlan.
"Bodo ah nggak mau denger, Putri masih polos." Tegas Putri.
"Idih sok polos Lo. Udah pernah ciuman juga." Sindir Azlan.
Azlina melotot, terkejut dengan ucapan Azlan barusan.
"Bener put?" itu suara Azlina.
"Hah, ya nggaklah. Kak Azlan itu fitnah,"
Ucap Putri dengan tatapan membunuh ke arah Azlan.
"Apa perlu gue jelasin sama kak Lina." Ancam Azlan.
"Lo ngomong yang nggak-nggak kak, nggak bakal gue bantuin Deket sama Zea." Ancam Putri balik.
Azlan mendengus kesal. Kenapa harus kelemahannya ada di tangan putri. Azlan tahu benar dengan adanya putri akan membantu dirinya untuk lebih dekat dengan Zea. Maka dari itu dia memilih untuk diam saja.
"Kak Lina nggak usah percaya kak Azlan. Dia banyak ngibulnya,"
Azlan tidak memedulikan ucapan Putri tentang dirinya. Ia lebih memilih untuk membuka ponselnya, dan membuka salah satu room chat di WhatsApp app, yang hanya berisi beberapa pesan.
Suatu hari nanti room chat ini akan penuh dengan kalimat manis dari Lo Ze. Ucap Azlan dalam hati.
Tanpa menunggu lama Azlan langsung mengetikan sesuatu disana.
Cantikπ
Malam cantik π
β
Hanya ceklis satu. Azlan mendengus pelan.
Ternyata Zea tidak online saat ini.
Namun sedetik kemudian ponselnya berbunyi. Dan Zea membalasnya.
???
Azlan menghela napas lagi. Cukup singkat sekali balasan dari Zea. Ternyata mengahadapi gadis itu harus penuh dengan kesabaran.
Lo terlalu percaya diri muji gue
Azlan tersenyum melihat balasan Zea.
Bahkan gue juga sangat percaya diri jatuh cinta sama Lo
ββ
Idih jijik gue bacanya
Jangan jijik-jijik cantik, nanti cinta Lo
ββ
Nggak akan!!
Lo terlalu kepedean
Harus dong cantik.
ββ
Karena untuk nemuin cewek kayak Lo gue butuh pencarian yang cukup lama. Dan saat ini gue udah nemuinnya, nggak bakal gue lepas.
ββ
Sumpah geli gue bacanya
Gue serius cantik
ββ
Sekali lagi Lo bilang gue cantik gue blok Lo!!
Maaf cantik
ββ
Tiba-tiba foto profil Zea tidak lagi terlihat. Bahkan bacaan terakhir kali dilihat di bawah foto itu tidak lagi ada.
"Gila, dia beneran blok gue."
Azlan mencoba menelepon Zea, tapi tidak bisa. Dan pesannya hanya ceklis satu.
"Ya Allah salah lagi gue," ucap Azlan dengan nada lelah.
"Baru kali ini jadi orang ganteng serba salah." Entah itu keluhan atau sebuah pujiannya secara tidak langsung untuk dirinya. Kita tidak ada yang tahu, hanya Azlan lah yang tahu.
**Terima kasih sudah membaca sampai bab ini
jangan lupa like dan komen ya
Temukan typo yang bertebaran
Terima kasih
Salam hangat Author**
__ADS_1