
Jika ditanya aku lelah mungkin iya tapi tidak untuk menyerah
-Zea Praisa Ulya-
-Happy reading-
"Gooolllll,"
"Gol... gol... gol...."
Teriakan para penonton yang ada di lapangan sekolah PUTRA JAYA terdengar bersahutan. Para siswa dari SMA Darma Putra dan Putra Jaya berkumpul di sini untuk menyaksikan turnamen yang diadakan di salah satu sekolah favorit di Jakarta selain Darma Putra yaitu Putra Jaya.
Zea ikut bersorak karena kemenangan yang di dapatkan oleh sekolahnya. Dengan gol terakhir yang di cetak oleh Zeo tanda kemenangan untuk sekolahnya membuat dirinya tanpa sadar juga bersikap seperti orang gila. Bahkan Ia secara refleks memeluk Azlan sangking senangnya.
Zea datang ke sekolah ini setelah makan bersama Azlan tadi. Ia merengek pada Azlan untuk datang melihat pertandingan Zeo dan meninggalkan kelas musik mereka. Zea tahu dia akan dapat masalah setelah ini. Namun dia akan lebih menyesal jika tidak menyaksikan adiknya bermain di babak final itu.
Sekarang Zeo sudah naik ke podium mengambil piala kejuaraan serta piala best player yang ia dapatkan.
"Sumpah adek gue jago ternyata," ucap Zea.
"Siapa dulu dong yang ngajarin," ucap Azlan tepat di telinga Zea.
"Siapa ya? Nggak kenal," bales Zea mengejek.
Azlan memanyunkan bibirnya. Zea tertawa kecil melihat hal itu, lalu ia menepuk pelan bibir Azlan menggunakan tangannya.
"Lo jelek kalau begitu." Ejek Zea.
"Aturannya jangan pake tangan mukul bibir gue," ucap Azlan.
Zea menoleh heran.
"Terus pake apa? Pake Bola futsal atau nggak pake deker yang biasa di pake Zeo main bola?"
"Idih sadis ah kaya ibu tiri," cibir Azlan.
"Ogah bener punya ank tiri kayak Lo." Balas Zea tidak terima.
Azlan tersenyum licik. Zea dapat merasakan hawa-hawa tidak baik dari Azlan.
"Gue juga nggak mau Lo jadi ibu tiri gue, Ze. Gue maunya Lo itu jadi ibu dari anak-anak gue nanti,"
Blush
Zea merona. Dia langsung menutupi wajahnya karena malu. Ucapan Azlan membuatnya tersipu.
"Eh cie bulushing," goda Azlan sembari tertawa puas.
"Anak setan kepedean!!" pekik Zea.
Karena malu Zea langsung berlari menghampiri Zeo yang sudah turun dari podium.
"Udah ganti aja nama gue, waktu itu cowok mesum sekarang anak setan. Apa kagak ada nama yang bagus dikit gitu, untung sayang," gerutu Azlan dalam hati.
Melihat Zea yang berlari ke arahnya, Zeo juga melakukan hal yang sama. Zeo langsung memeluk adiknya itu, memberikan selamat kepadanya.
"Lo keren," ucap Zea memuji.
"Tumben Lo muji gue kak, biasa juga ngehujat." Bukannya berterima kasih, Zeo malah mamancing emosi.
Plak
Satu pukulan kecil mendarat di kepala Zeo.
"Gue males ngehujat makannya gue pukul aja," ucap Zea kemudian setelah itu mereka tertawa.
Zeo melihat Azlan mendekat ke arah mereka.
"Eh bang, lo di sini juga?" ucap Zeo.
"Gue kan sekarang jadi bodyguard abadi kakak Lo," Jawab Azlan dengan bangganya. Zea menatap Azlan tajam.
"Bahasa Lo bang, alay juga." Cibir Zeo. Bukannya marah Azlan malah terkekeh.
"Jatuh cinta kalau nggak alay nggak berasa. Lo bakal ngerasainnya juga nanti. Butanya cinta itu gimana, dan sensasinya bikin candu," bisik Azlan di telinga Zeo.
"Dih bahasa Lo bang, geli gue dengernya." Balas Zeo, kemudian mereka tertawa bersama.
Azlan mengulurkan tangannya seraya mengucapkan selamat pada pria Zeo.
"Selamat ya bro, Lo keren banget tadi. Permainan Lo sungguh waw," puji Azlan.
"Biasa aja kayaknya lah, Lo terlalu lebay muji dia." Itu suara Zea.
"Lah gue yang di puji kenapa Lo yang sewot, kak?." Zeo bersuara tidak terima.
"Gue cuma nggak mau Lo nantinya besar kepala aja Ze, nih kayak tuh cowok di depan Lo." Jawab Zea ketus. Menatap sinis Azlan.
Zeo melihat kakaknya yang terlihat kesal terkekeh pelan.
"Lah kok jadi gue sih," ucap Azlan tidak terima. Pasalnya dia memang tidak tahu apa-apa, dia hanyalah memberikan selamat pada Zeo kenapa malah Zea menuduhnya seperti ini. Sungguh tidak dapat diterima akal sehat. Namun sepertinya akal sehat Azlan memang sudahlah tidak sehat lagi, karena termakan cinta yang mulai buta.
"Ya iya lah Lo. Jadi siapa lagi coba."
"Enak aja lo,"
"Udah jangan pada ribut ngapa? Mendingan kalian urusi masalah rumah tangga kalian dulu, baru habis itu ngomong sama gue. Gue mau jumpain anak-anak dulu." Zeo langsung meninggalkan Azlan dan Zea yang masih berdebat tidak ada ujungnya.
"Stres gue dengerin mereka debat mulu."
Namun baru beberapa langkah Zeo berjalan sebuah panggilan menghentikan langkahnya.
"Ze," panggilnya.
"Lili,"
Gadis itu tersenyum hangat.
"Selamat ya, kamu keren banget tadi." Ucapnya sembari mengulurkan tangannya. Zeo menerima uluran tersebut kemudian membalas senyuman Lili.
"Terima kasih," ucap Zeo.
Zeo hendak melangkah pergi namun lili menghentikannya lagi.
"Hem Ze gue boleh minta foto bareng?" ucap Lili hati-hati.
Zeo mengangguk. Mendapat jawaban baik dari Zeo tadi, Lili langsung mendekat ke arah Zeo dan merangkul lengannya. Meminta agar temannya untuk memotret mereka.
"Ekhemm ciee ciee," bisik-bisik tetangga terdengar jelas. Membuat Zeo dan lili menoleh ke sumber suara. Ternyata itu Zea dan Azlan, dengan tangan Azlan merangkul bahu Zea setra tangan Zea yang berada di depan dada. Mereka terlihat begitu serasi. Tentunya mereka menatap Zeo dan Lili dengan senyuman mengejek.
"Apaan sih Lo kak, alay." Cibir Zeo.
Tanpa mereka sadari, Lili memotret Azlan dan Zea pada posisi tersebut. Cukup banyak foto yang ia dapat dari hasil jepretannya.
"Tidak buruk," gumamanya.
"Apanya Li?" tanya Zeo mendengar ucapan samar-samar dari hadis itu tadi.
Lili menunjukan hasil jepretannya. Zeo tersenyum puas. Bukan karena foto dirinya dan lili tetapi karena foto dua manusia yang yang lainnya.
"Kak Azlan, coba buka WhatsApp kakak!" perintah Lili.
Dahi Azlan berkerut.
"Untuk apa?" tanya Azlan heran.
"Buka aja," ucap Lili lagi.
Azlan langsung menuruti perintahnya. Senyumnya mengembang kemudian langsung menutup ponselnya.
"Apaan emangnya?" tanya Zea ikut penasaran.
"Nggak boleh kepo," ucap Azlan kemudian mencubit kecil hidung mancung Zea.
Zea mendengus kesal.
"Kebiasaan banget sih cubit hidung, di kira hidung gue kue apa," ucapnya kesal. Azlan hanya terkekeh kecil melihat wajah kesal Zea yang terlihat begitu menggemaskan.
"Udah ah kak, berantem mulu. Gue nikahin juga baru tahu," Zea menatap tajam ke arah Zeo.
"Lo mau gue sunat sampe habis?" ancam Zea.
Zeo bergidik ngeri. Tidak hanya Zeo bahkan Azlan juga sama. Pasalnya ancaman itu juga pernah Zea berikan pada dirinya.
"Dasar psikopat!!" cibir Zeo.
"Bodo amat!!"
"Udah ah ayo Lan pulang gue capek!" ajak Zea.
"Lah kita kan mau ke sekolah musik dulu, kamu lupa sama jadwal?" ucap Azlan.
Zea menghela napas kesal. Entah mengapa penyakit lupanya semakin parah.
"Udah sana kak, yang rajin Lo belajar nyanyinya entar kalok pinter terus terkenal kan gue juga yang bangga," Zea menatap Zeo tajam. Sedangkan yang di tatap hanya memberikan cengiran tanpa dosanya.
"Bawel Lo," kemudian Zea langsung berjalan pergi meninggalkan Zeo. Bahkan Azlan juga ia lupakan.
Lili yang melihat itu hanya mampu Manahan senyumannya saja. Sungguh persaudaraan yang unik. Tetapi di dalam hatinya terasa teriris. Ingin rasanya ia juga seperti itu pada Lala. Akrab dan saling mengerti, namun kembarannya itu terlalu tertutup dan dingin. Bahkan dia yang selalu bersama bahkan sempat berbagi tempat ketika di kandungan dengannya saja belum dapat mengerti Lala sepenuhnya.
Azlan yang melihat Zea pergi duluan langsung mengejarnya.
"Ze kita duluan. Traktiran kemenangannya jangan lupa," Ucap Azlan.
"Aman," balas Zeo dengan sedikit berteriak.
"Lo kok masih di sini?" tanya
Zeo pada Lili. Lili terkejut mendengar pertanyaan Zeo, ia sedikit terkesiap.
"Lo nggak pulang?" tanya Zeo lagi.
"Iya ini mau pulang," jawab Lili.
"Mau bareng?" tawar Zeo. "Gue juga lagi sendiri, soalnya kak Zea bareng bang Azlan." Tambahnya.
Kiki tersenyum senang, lalu mengangguk tanda mengiyakan.
"Tapi gue naik motor, emang nggak papa?" tanya Zeo lagi memastikan.
"Gue kan nebeng Lo Ze, jadi harus terima apa aja yang Lo naikin dong," Zeo tersenyum singkat. Senyuman yang mampu membuat semua perempuan pingsan seketika.
"Oke, Lo tunggu bentar gue mau ganti baju dulu." Ucap Zeo kemudian ia berjalan menuju ruang ganti khusus timnya.
"Lo mau ikut ke ruang ganti atau nunggu di parkiran aja?" tanya Zeo menghentikan langkahnya.
"Hah," kaget Lili.
"Gue tunggu di parkiran aja deh kayaknya," Zeo menganguk.
"Oke, tahu motor gue kan?" tanya Zeo lagi memastikan supaya Lili tidak salah.
"Tahu kok," jawab Lili cepat.
"Yaudah gue ganti dulu ya,"
"Jangan lama ya Ze."
"Yoi," Zeo kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda tadi.
Sedangkan lili langsung berjalan menuju parkiran.
Zea berjalan santai menuju ruang ganti. Namun matanya membulat ketika melihat seseorang. Dia langsung berlari mencari tempat sembunyi.
"Tuh cewek pasti nyariin gue. Ogah bener gue harus diner sama temen dia," Zeo celingak-celinguk, mencari jalan untuk ke ruang ganti. Namun sayangnya jalan untuk kesana di tutupi oleh Faira dan temannya itu.
"Sial!!" gumam Zeo.
"Udah gerah banget ini," keluhnya lagi.
Zeo merasa ada yang menepuk bahunya. Dia langsung menoleh.
"Lo, kok di sini?" heran Zeo. Pasalnya Zeo sudah meminta Lili untuk menunggunya di parkiran.
Lili tersenyum hangat, kemudian menarik lengan Zeo dari tempat persembunyiannya.
"Gue tahu Lo ngehindari mereka, jadi nggak usah ganti baju kita langsung pulang aja." Ucap Putri dengan tangan terus menarik Zeo menuju parkiran. Mereka tidak mempedulikan banyak pasang mata yang menatap mereka.
Tatapan pujian serta hujatan tentu yang diberikan. Bagaimana tidak seorang anak batu mengandeng tangan mist wanted yang menjadi incaran kaum hawa di SMA mereka.
* * *
Zeo memainkan petikan gitarnya dengan lihai. Kunci demi kunci yang ia pindahkan seakan sudah hapal tidak perlu melihat lagi. Suaranya yang merdu membuat siapapun yang mendengarnya akan berdecak kagum. Suara halus itu membawa ketenangan untuk para pendengar.
Azlan tersenyum bangga melihat Zea yang memainkan alat musik itu dengan cukup baik. Bahkan menurut Azlan Zea tidak perlu lagi belajar musik, karena musik sendiri sudah mengalir di diri gadis itu. Azlan sungguh tidak menyangka, gadis dingin dan jutek seperti Zea memiliki suara semerdu ini.
Zea mengakhiri permainannya. Ia sedikit menunduk tanda penghormatan, tepuk tangan dari para murid lain dan mentor terdengar jelas. Zea tersenyum kecil sebagai balasannya. Senyuman yang cukup mampu membuat Azlan candu. Senyuman yang sangat jarang Zea berikan.
Gue akan buat senyum Lo itu akan sering terlihat di depan gue Ze. Dan hanya untuk gue, bukan orang lain.
"Bagus Zea, permainan kamu sudah cukup baik." Itu suara Lana, salah satu mentor di sekolah musik.
Doni menyenggol lengan Azlan pelan. Merasa terusik Azlan menoleh. Ia melihat tatapan menggoda dari temannya itu.
"Apaan?"
"Cewek Lo keren," puji Doni.
"Jelas dong, siapa dulu cowoknya." Ucap Azlan bangga.
"Nyesel gue muji," Doni tersenyum kecut.
Azlan terkekeh melihat ekspresi temannya itu.
"Makannya nggak usah muji. Dan Lo jangan coba-coba deketin cewek gue," peringati Azlan.
"Halah sok iya bahasa Lo, biasanya juga Lo nggak pernah permasalahin kalau gue deketin gebetan ataupun pacar Lo sekalipun, tapi kenapa ini beda?." Azlan menatap datar Doni. Pandangannya kini beralih pada Zea yang sudah kembali duduk di kursinya.
"Zea beda, Don. Gue serius suka dia, dan gue nggak akan biarin siapapun ngerebut dia dari gue." Doni dapat melihat keseriusan dari raut wajah Azlan ketika mengatakan kalimat itu. Doni menepuk pelan pundak Azlan.
"Kalau memang beneran serius, terus jaga dia jangan sampe Lo sakitin. Gue yakin Zea itu cewe spesial sampe bisa buat raja playboy kayak Lo bertekuk lutut karena cintanya," kalimat itu sebuah saran dari Doni. Namun lebih terdengar seperti ejekan menurut Azlan.
"Thanks," balas Azlan langsung.
"Oke semuanya, kakak kasih kalian waktu istirahat lima belas menit. Setelah itu kakak bakal umumin siapa yang bakal jadi gitaris untuk ngiringi Lala nyanyi di rekaman nanti," instruksi Sasa. Selaku ketua pemilik sekolah musik ini, dan merupakan kakak dari Lala dan Lili.
"Baik kak," jawab kelima murid yang ada di dalam kelas itu termasuk Zea.
Sasa langsung keluar kelas diikuti oleh para mentor lainnya termasuk Azlan, dan pastinya ia keluar dengan senyuman manis yang diberikan kepada Zea diikuti kedipan menggoda miliknya. Zea yang melihat itu hanya mampu mendengus kesal, bahkan di dalam kelas seperti ini Azlan sempat-sempatnya menggoda dirinya. Dasar pria tidak punya malu. Selain tingkat pedenya yang selangit pria itu juga tidak mempunya rasa malu. Atau mungkin urat malunya sudah putus.
Siti dan Sindy terkekeh pelan melihat Zea yang kesal karena di goda oleh mentor mereka itu. Mentor yang paling ganteng di antara semuanya. Tapi sayangnya dia sudah milik Zea.
"Cie Zea," bisik Siti. Zea menoleh, memberikan senyuman kikuk kepada temannya. Jujur ia malu karena perlakuan Azlan yang terlalu dapat dibaca orang lain itu. Bahkan mungkin jika Azlan tidak mengumumkan hubungan mereka sekalipun, semua orang sudah dapat menebak hal itu dari sikap dan tingkah laku Azlan yang super super memalukan setiap saat. Memang dia selalu mempu membuat Zea tersipu namun dia juga begitu berbakat untuk mempermalukan Zea. Sungguh bakat yang terpendam dan perlu diberikan apresiasi, namun tetap saja menyebalkan.
Tidak lama setelah itu, Lala masuk ke dalam kelas.
"Dina, Fandi, Siti ikut saya sebentar!" ucap gadis itu dengan nada datar serta wajah dingin. Bahkan tatapannya membuat siapapun tidak berani untuk menolak.
Yang merasa namanya disebut langsung keluar ruangan dari ruangan itu. Menyisakan Zea dan Rendy di dalam.
"Eh Ze, kira-kira mereka kenapa ya di panggil?" tanya Rendy.
"Lo nanya gue, gue nanya siapa Ren? Kan kita sama-sama di sini."
"Oh iya ya hehehe," jawab Rendi sambil cengengesan.
"Eh Ze gue tinggal di kelas sendiri nggak papa kan, gue kebelet banget soalnya." Ucap Rendi tiba-tiba sembari memegangi perutnya. Mungkin dia mules.
"Oh iya, nggak papa kok santai aja." Jawab Zea langsung.
"Oke gue pergi dulu, bae-bae Lo awas di culik,"
teriak Rendy ketika berlari keluar kelas. Zea yang melihat itu hanya mampu geleng-geleng kepala saja.
"Siapa juga yang mau nyulik gue, Ren?" gumam Zea.
"Gue mau kok nyulik Lo," Zea menoleh ke sumber suara. Zea memutar bola matanya malas melihat siapa yang berbicara tadi.
"Kamu kok sendiri?" tanya Azlan ketika sudah berada di samping Zea.
"Karena nggak berdua," jawaban yang cepat namun tidaklah tepat.
"Ana SD juga tahu Ze kalau sendiri itu nggak berdua," protes Azlan.
Zea menoleh ke pria itu.
"Jadi salah gue dimana? Gue cuma jawab seadanya," jawab Zea lagi.
Azlan menghela napas dalam, ia hanya mampu mengelus dada menghadapi sikap Zea yang seperti ini.
"Serah Lo ah, cewe kan selalu bener." Ucap Azlan mengalah. Zea terkekeh pelan. Ternyata membuat Azlan kesal itu suatau hal yang menyenangkan.
"Hem Lan," panggil Zea.
Azlan menoleh singkat.
"Apa?" ucapnya sedikit ketus.
"Lah ngambek?"
"Nggak,"
"Eh Azlan ngambek, kaya cewe." Cibir Zea.
"Gue nggak ngambek Zea." tegas Azlan.
"Eh cie marah," goda Zea lagi.
Azlan menghela napas lagi. Zea sungguh menguji kesabarannya.
Zea terdiam kemudian menatap Azlan lekat.
"Lan gue pengen," Zea sengaja menggantungkan ucapannya, membuat Azlan memicingkan matanya.
"Pengen apa? Pengen gue cium?" tanya Azlan tanpa dosa.
Plak
__ADS_1
Zea memukul pelan kening Azlan.
"Otak lo nggak terlepas dari dunia permesuman, kesel gue. Dasar cowok!!," kemudian Zea bangkit dari duduknya.
"Ya kan gue normal Zea," Zea tidak memedulikan ucapan Azlan. Ia memilih berjalan melewati pria itu.
"Eh mau kemana?"
"Gue pengen es krim, temenin gue beli!" ajak Zea.
Azlan tersenyum senang, lalu mengangguk. Dengan cepat ia juga ikut bangkit lalu mengandeng tangan Zea keluar dari kelas.
"Kenapa harus gandengan sih? Kita nggak mau nyebrang Lan," gerutu Zea.
"Biar Lo nggak ilang," jawab Azlan. Katakanlah Azlan lebat, namun itulah kenyataannya.
"Gue bukan anak kecil kali yang harus di pegangin terus," keluh Zea kesal. Pasalnya Azlan selalu saja begini ketika mereka keluar dari kelas musik. Setiap harinya Azlan pasti menggandengnya seperti ingin menyebrang jalanan saja. Dan hal itu membuat semua orang menatap mereka. Entah itu tatapan kebencian ataupun pujian, Zea tidak tahu. Isi hati manusia siapa yang mengerti.
"Biar aja, biar orang tahu kalau Lo itu pacar gue. Dan hanya milik gue," entah mengapa semakin hari sifat over protective Azlan semakin meningkat. Bahkan melebihi Zeo yang menurutnya selama ini terlalu lebay. Dan Azlan jauh di atas Zeo.
"Nggak mesti begini juga Azlan Malik, orang-orang udah pada tahu juga. Nggak perlu diperjelas setiap saat juga,"
"Lo manggil nama lengkap gue barusan Lo,"
"Terus apa hubungannya?" ucap Zea sewot.
"Ya nggak papa sih, udah lah Ze nggak usah sewot Mulu. Lo tinggal diem aja gue gandeng, nggak gue tendang juga kan?. Lagian yang gandeng Lo cowok ganteng kok, jadi nggak bakal malu-maluin."
Sifat percaya diri dan pede manusia ini mulai keluar pemirsa. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Kita lihat saja.
"Atau Lo mau gue gendong kayak tadi siang?" tanya Azlan dengan seringai liciknya. Zea membulatkan matanya.
"Awas aja kalau Lo sampe berani," ancam Zea.
"Yah penonton kecewa, masa nggak mau di gendong, malah ngancem,." Ucap Azlan sok imut.
"Gila Lo!!"
"Karena Lo," Zea memutar bola matanya malas. Setiap hari kadar kegilaan pria di sampingnya itu sepertinya semangking bertambah.
"Serah Lo ah serah," Azlan tersenyum puas, sedangkan Zea hanya dapat pasrah.
Azlan membawa Zea ke salah satu mini market yang kebetulan berada di samping gedung sekolah musik mereka, lalu membelikan Zea beberapa es krim. Tidak perlu waktu lama Azlan sudah keluar membawakan es krim rasa coklat kesukaan Zea lalu memberikannya kepada gadis itu.
Zea menatap Azlan tidak percaya. Pria itu tahu rasa kesukaannya tanpa harus diberitahu.
"Kenapa? Kurang ya?" tanya Azlan karena melihat Zea yang tidak langsung menerima es krim yang ia belikan.
"Mau gue beliin lagi? Mau berapa? Sepuluh? Dua puluh? Atau satu tokonya? Bakal gue beliin untuk Lo Ze kalau mau. Tenang pacar lo nggak bakal jatuh miskin kok karena beliin Lo es krim setoko."
Zea langsung menarik kantung plastik es krim itu. Jiwa miskinnya meronta-ronta jika sudah mendengarkan kalimat sombong dari manusia di hadapannya itu.
Sombong amat lu!!. Cibir Zea dalam hati. Hanya dalam hati, tidak terucap oleh bibir.
"Nggak perlu, ini udah cukup. Lo kira gue mau jualan pake di beliin setokonya," Balas Zea ketus.
Azlan terkekeh pelan. Kemudian kembali meraih lengan Zea dengan lembut lalu mengajak gadis itu untuk kembali.
"Hem btw makasih ya,"
"Sama-sama,"
"Kok Lo bisa tahu sih gue suka rasa coklat?" tanya Zea.
Azlan tersenyum miring. Kemudian berhenti dan menatap Zea. Kali ini Zea tengah asik menikmati es krim coklat miliknya.
"Apa yang nggak gue tahu tentang Lo coba?"
Zea menghela napas pelan. Pria di hadapannya ini ternyata memang sangat sombong.
"Emang yang Lo tahu tentang gue apa aja, coba sebutin! Gue pengen tahu." Tantang Zea.
Azlan tersenyum senang.
"Oke,"
"Tapi apa hadiah buat gue kalau gue tahu banyak hal tentang Lo," ucap Azlan.
Zea tampak berpikir.
"Kalau Lo tahu 10 hal tentang gue, gue bakal turutin satu permintaan Lo," jawab Zea enteng.
"Lah dikit banget, masa satu doang," ucap Azlan tidak terima.
"Ya itupun kalau Lo mau, kalau nggak juga nggak masalah sih," ucap Zea kemudian kembali menikmati es krimnya.
"Oke gue mau," jawab Azlan cepat.
Zea langsung berjalan meninggalkan Azlan yang masih berdiri di tempat itu.
"Lah kok gue di tinggalin?" protes Azlan.
"Sebutinnya sambil jalan, entar keburu si Lala masuk kelas. Horor gue lihatnya," Azlan terkekeh pelan. Ia memaklumi ucapan Zea. Karena memang Lala tidak pernah memberikan senyuman kepada siapapun. Bahkan sikap dinginnya itu melebihi Zea.
Azlan langsung berjalan mengikuti Zea. Berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Zea. Setelah berhasil Azlan meraih tangan gadis itu untuk ia genggam.
"Es krim coklat. Lo suka rasa coklat."
Zea tersenyum.
"Poin Lo satu."
"Lo lebih suka teh dibandingkan susu,"
Zea mengangguk.
"Dua,"
"Lo suka warna hijau dan Lo suka panda. Lo suka sayur pepes, Lo lebih suka pencak silat dibandingkan taekwondo."
"Lo lebih suka di contekin dari pada nyontek."
"Tujuh,"
"Lo lebih suka siang hari dibandingkan malam hari. Karena alasannya malam itu gelap. Ya namanya juga malam ya gelap Ze, kalau sampe terang semua orang pasti pada takut, lonya yang biasa aja,"
Zea terkekeh kecil.
"Delapan."
"Lo lebih suka diem karena tahu daripada banyak bicara padahal nggak tahu apa-apa."
"Sembilan,"
"Dan yang terakhir itu. Lo lebih suka dipeluk daripada meluk," Langkah Zea langsung terhenti. Ingin memprotes ucapan Azlan tadi.
Namun belum sempat Zea melakukannya, Azlan sudah memeluk gadis itu.
"Kaya gini," bisik Azlan.
Degup jantung Zea kembali berdetak di atas normal. Jika pikirannya ingin mendorong tubuh Azlan tetapi hatinya malah menginginkan hal lain. Tanpa sadar Zea tersenyum menerima perlakuan manis Azlan ini. Zea membalas pelukannya ini.
Bahkan pelukan itu cukup lama.
"Lo sok kuat padahal Lo itu perlu sandaran,"
Nyes, ucapan Azlan seakan langsung masuk ke hatinya.
"Jangan terus kaya gini Ze, gue selalu ada buat Lo. Gue emang nggak tahu sebesar apapun masalah Lo di masa lalu. Tapi sekarang ada gue yang akan memberikan pundak untuk sandaran Lo." Zea hanya diam. Ia berusaha mencerna ucapan Azlan.
Bahkan Zea juga dapat merasakan degup jantung Azlan yang sama sepertinya. Seperti orang lari maraton.
"Lan," sebuah panggilan membuat Azlan mengendurkan pelukannya.
Dan hal itu juga membuat Zea dapat bernapas lega. Sungguh kegugupannya terlihat jelas.
"Apaan?" tanya Azlan.
"Di suruh Sasa kumpul di ruang anak-anak sekarang," ucapnya. Hak tersebut membuat Azlan heran.
"Bukannya Lo udah nggak ada jam ngajar lagi kan, Lan?" itu suara Zea.
"Gue nggak ada jam ngajar lagi Don. Lagian sepuluh menit lagi juga kelas Zea udah bubar, gue mau balik bareng dia."
Tampak Doni menghela napas berat.
"Tinggal ngikut perintah aja ngapa, Lan. Gue juga nggak tahu kenapa si Sasa tiba-tiba nyuruh kumpul padahal kita lagi nggak ada jadwal rapat," Jelas Doni. Ternyata dia juga sama bingungnya dengan Azlan.
"Yaudahlah samperin dulu aja, siapa tahu ada hal penting." Ucap Zea.
"Tuh cewek loh aja ngerti," sahut Doni. "Tapi kamu ikut juga Zea, itu perintah Sasa tadi." Tambah Doni.
"Nggak usah sok-sokan ngomong lembut begitu sama cewek gue!" sinis Azlan.
"Dih biasa aja bang, posesif bener lu." Cibir Doni.
"Biarin," balas Azlan.
"Aku juga, kak?" tanya Zea. Tidak mempedulikan Azlan yang tengah mengomel tidak jelas.
"Kenapa Zea juga?" Azlan ikut bertanya.
Tidak ingin semakin penasaran, Azlan langsung berjalan menuju ruangan siswa. Dimana tempat yang diminta oleh Doni tadi untuk ia datangi. Sebenarnya Azlan begitu bingung dan tidak mengerti mengapa hal seperti ini terjadi. Jika dikumpulkannya semua orang itu untuk mengumumkan siapakah yang akan memainkan piano ataupun gitar untuk single yang akan dibawakan oleh Lala nanti itu tidaklah mungkin. Pasalnya anak-anak baru mempelajari alat musik beberapa kali, tentunya kecuali Zea yang memang sudah berbakat memainkan alat musik itu.
Sampainya di dalam ruangan, Azlan langsung dibuat bingung dengan tatapan semua orang. Tidak hanya Azlan bahkan Doni dan Zea juga merasakan hal yang sama. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu menatap mereka tajam. Seakan mengintimidasi. Namun entah mengapa Azlan merasa tatapan mereka lebih mengarah kepada Zea. Ada apa ini?.
Zea dapat merasakan suasana sedikit kurang baik mengarah padanya. Sebenarnya dia juga mulai khawatir, nafasnya sedikit memburu seakan sulit untuk bernapas dengan lancar. Entah mengapa Zea merasa pasokan oksigen di tepatnya berdiri itu berkurang drastis.
"Ada apa ini? Kenapa kalian ngelihatin kita begitu banget?" tanya Azlan heran. Bahkan dalam keadaan seperti itu Azlan tetap menggandeng lengan Zea.
"Lo bawa pencuri masuk ke ruangan ini, Lan!"
"Nggak sadar?" cibiran itu keluar dari mulut Sasa.
Tentu mendengar kalimat itu membuat Azlan kaget dan mulai tersulut emosi. Bagaimana tidak, dia dan Zea baru saja datang sudah mendapat tuduhan seperti ini.
"Maksud Lo apa?" meski begitu Azlan tetap berusaha mengontrol emosinya. Jangan sampai ia lepas kontrol.
Zea bingung harus bersikap seperti apa. Semua orang yang ada di kelas itu menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan baik dari para mentor ataupun siswa lainnya yang merupakan teman Zea. Dan yang membuatnya semakin tidak paham adalah kalimat yang baru saja keluar dari Mulut Sasa. Siapa pencuri yang ia maksud.
"Apa harus gue perjelas, Lan?" ucap Sasa meremehkan.
Apa lagi ini? Mengapa Zea merasakan hal buruk akan menimpanya. Tidak-tidak. Berpikir buruk itu tidak baik. Itu adalah doa. positif thinking Zea.
"Sumpah ya sa, gue nggak ngerti." Ucap Azlan lagi. Karena memang ia benar-benar tidak mengerti. Namun dari ucapan dan tuduhan Sasa tadi, Azlan merasakan sesuatu yang tidak baik akan segera terjadi. Azlan tahu hal ini pasti sudah direncanakan. Tanpa ada yang tahu Azlan mengambil ponselnya lalu mengetikkan sesuatu di sana.
Sasa tersenyum kecut. Senyuman yang sepertinya tidak memberikan efek baik.
Lala berjalan ke arah Azlan membawa sebuah ransel berwarna hitam, yang tidak lain adalah milik Zea. Lalu membuka salah satu resleting tas itu kemudian mengeluarkan sebuah flashdisk berwarna biru.
"Kakak tahu kan isi flashdisk ini apa?" ucap Lala. Azlan mengangguk. Ia tahu isi flashdisk itu adalah data mengenai beberapa lagu yang akan mereka buat dan mungkin beberapa minggu lagi akan rilis.
"Asal kakak tahu flashdisk ini sempat hilang, tadinya." ucap Lala lagi.
Dahi Zea berkerut. Bukan karena kalimat yang baru keluar dari mulut Lala. Namun karena melihat sisi Lala yang lain. Entah mengapa ketika berbicara dengan Azlan gadis itu terlihat lebih santai, bahkan wajah dinginnya tidak begitu terlihat.
"Kakak tahu kan flashdisk ini penting banget!"
"Iya, gue tahu. Tapi kan sekarang Flashdisk nya udah ada. Jadi apa masalahnya?" tanya Azlan santai. Bahkan nada bicaranya terdengar seperti orang yang tanpa beban.
"Lagian apa nggak ada copy annya sih?"
"Ini bukan masalah ada atau nggaknya copyan Flashdisk itu. Tapi ini maslaah kejujuran seseorang," Sasa kembali bersuara.
"Tapi bukan berarti kalian harus nuduh Zea pencurinya," nada bicara Azlan mulai meninggi.
"Tapi kak, flashdisk itu jelas-jelas ada di tas Zea. Dan itu udah bukti yang jelas." Sahut Lala lagi.
"Lala bener Lan, flashdisk itu tadi sempat hilang dan itu buat kita semua panik sampai akhirnya kita sepakati untuk geledah semua tas, awalnya kita mau nunggu Lo sama Zea. Tapi kita nggak tahu Lo sama Zea kemana. Dan akhirnya kita periksa semua tas tanpa Lo dan Zea. Sebelumnya gue minta maaf sama Lo Zea, karena nggak minta izin sama Lo buat periksa tas Lo, tapi nyatanya flashdisk itu ada di tas Lo. Dan gue sendiri yang periksa tadi." itu suara Lana. Azlan menoleh sekilas ke arah Lana. Dia adalah satu-satunya orang yang Azlan tahu tidak pernah berbohong.
"Apa Lo yakin sama ucapan Lo Na?" Lana mengangguk.
"Lan gue udah jujur, gue yang periksa semua tas dan flashdisk itu ada di tas Zea. Gue juga nggak ngerti, tapi kenyataanya begitu. Gue cuma ngomong berdasarkan apa yang gue lihat." tambah Lana lagi.
"Tunggu-tunggu sebenarnya ini ada apa sih? Masalahnya apa gitu? To the point aja langsung Sa, nggak usah bikin pusing." Ucap Doni.
"Oh oke kalau kalian mau gue to the point," Sasa memberikan tas Zea secara kasar lalu menatap tajam gadis itu. Membuat tas itu terlempar tidak berdaya ke lantai.
Zea sama sekali tidak takut dengan tatapan Sasa. Bahkan gadis itu tidak terlihat gentar sedikitpun. Azlan tersenyum singkat melihat respon Zea yang seperti itu.
"Mulai sekarang Lo nggak perlu Dateng lagi ke sekolah ini, mulai besok bahkan selamanya!!"
Ucapan Sasa tadi bagaikan Sambaran petir bagi Zea. Meskipun tatapan yang diberikannya itu datar bahkan tanpa ekspresi Namun sebenarnya hatinya hancur. Ia terlalu pintar untuk menyembunyikannya.
"Mak--Maksudnya kak, Zea di keluarin gitu?" tanya Zea hati-hati.
"Ya, Lo gue keluarin dari sini. Karena Lo udah nyuri flashdisk ini. Sekolah gue nggak butuh pencuri kaya Lo. Meskipun Lo berbakat, tapi gue nggak suka ada kejahatan di tempat gue." Tegas Sasa.
Zea terdiam. Ia berusaha mencerna ucapan Sasa tadi.
"Tapi kak gue nggak pernah nyuri apapun. Lagian kalian nggak ada bukti kalau gue yang nyuri, kan?. Zea berusaha membela diri.
"Apa semua ini belum cukup jadi bukti hah," ucap Sasa lagi.
"Tapi kak,"
"Kalau maling ngaku penjara penuh," itu suara Lala.
Zea melirik ketiga teman sekelasnya. Mereka tidak bersuara, bahkan mereka hanya menunduk.
Temen nggak bisa di ajak susah!!.
"Tapi gue udah jujur kak. Lan Lo percaya kan sama gue?" kali ini Zea beralih pada Azlan. Azlan tersenyum hambar.
"Udahlah Zea, kamu nggak perlu berusaha nutupin kesalahan kamu, udah jelas-jelas flashdisk itu ada di tas kamu,"
"Jadi nggak usah banyak alasan. Pokoknya keputusan gue udah bulat, Lo gue keluarin dari sekolah musik ini," ucap Sasa final.
Zea tidak lagi dapat berkata apa-apa. Ia beralih menatap Azlan. Namun laki-laki itu hanya mengedipkan matanya sekali, seakan mengatakan 'semuanya akan baik-baik saja'.
Nih cowo kagak ada respon nya apa ya? Gue terancam di keluarin dia malah kedip-kedip mata doang. Gue culek juga tuh mata, bikin kesel aja.
Dan benar saja. Azlan langsung menarik lengan Zea dan mengambil tas Zea yang terjatuh ke lantai akibat lemparan Lala. Lalu mengalungkannya.
"Kalian keluarin Zea dari sekolah ini, gue juga bakal keluar." Bukan hanya Zea yang terkejut mendengar ucapan Azlan. Bahkan semua orang yang ada di ruangan itu.
"Lo gila, Lan?" ucap Sasa heran. Ia sungguh tidak percaya dengan keputusan Azlan.
"Lo serius Lan?" kali ini Doni ikut bersuara.
"Cuma karena cewek pencuri ini Lo rela keluar dari sini. Tempat yang udah kita bangun sama-sama. Lo sehat?" ucap Sasa tidak percaya.
"Gue sehat kok, bahkan gue lebih dari kata sehat. Gue yakin kalau Zea itu nggak salah."
"Dan stop panggil dia pencuri. Karena dia bukanlah pencuri, gue bakal buktiin ke Lo Sa dalam waktu dekat. Tunggu aja."
Azlan langsung menarik pelan Zea keluar dari ruangan itu.
"Kak Lo serius?" Lala bersuara.
"Lo lebih pentingkan tuh cewek dibandingin tempat ini dan kita semua?"
Langkah Azlan terhenti, ia menoleh ke Lala.
"Bahkan kalau gue di suruh pilih dunia dan isinya atau Zea, gue bakal tetap pilih Zea. Karena percuma aja gue hidup di dunia dan memiliki segalanya tapi napas gue nggak ada. Lebih baik gue hidup seadanya tapi gue bernapas dengan lancar. Karena bagi gue Zea itu lebih dari napas gue sendiri," Zea terkesima mendengar ucapan Azlan. Pria itu baru saja membelanya. Bahkan mengakui cintanya yang begitu dalam kepada semua orang. Hal pertama kali yang Zea rasakan.
Azlan menoleh ke arah Zea yang menatapnya dalam. Azlan tersenyum hangat kepada Zea lalu kembali membawanya berjalan keluar dari ruangan yang begitu sesak itu.
* * *
Zea termenung di dalam mobil. Pandangannya kosong. Bahkan sejak Azlan membawanya tadi dia tidak berbicara sama sekali. Hatinya sakit. Ia kembali di fitnah dengan kesalahan yang sama sekali tidak ia lakukan. Ini yang kedua kalinya. Dan tuduhan kali ini membuat dirinya begitu rendah. Dia memang miskin, tetapi bukan berarti ia mau mencuri. Tanpa sadar air mata Zea menetes.
Azlan yang menyadari Zea menangis langsung masuk ke dalam mobil.
"Jangan nangis, inget gue selalu ada buat Lo." ucap Azlan seraya menghapus air mata Zea.
Azlan menyodorkan sebotol air mineral kepada Zea. Ia tadi tidak langsung masuk ke dalam mobil dan lebih memilih untuk membelikan Zea minum dahulu. Supaya gadis itu lebih tenang.
"Lo percaya kan Lan kalau gue nggak nyuri flashdisk itu." Azlan tersenyum hangat kemudian mengangguk pelan.
"Gue selalu percaya sama Lo, bahkan melebihi diri gue sendiri." Jawaban Azlan membuat Zea kembali menangis.
"Lah kok jadi tambah nangis sih,"
"Lo alay,"
"Lah malah ngehina."
"Emang iya kan, Lo alay."
"Ya deh terserah Lo."
"Tu kan nggak ikhlas ngalah nya."
Azlan menghela napas.
"Salah lagi gue,"
"Emang,"
"Cowok selalu salah,"
"Emang,"
"Cewek selalu bener."
"Emang,"
Azlan memilih diam, begitupun Zea. Mereka malah saling diam. Namun karena melihat Zea yang kembali murung membuat Azlan kembali mengeluarkan suaranya.
"Minum aja dulu, biar Lo agak tenang." Ucap Azlan lembut.
Zea tidak bergeming. Tatapannya kosong ke depan.
"Tenang aja, botolnya nggak bekas gue kok."
Sontak Zea langsung menoleh.
__ADS_1
"Kenapa? Kan nggak bekas,"
"Makasih," ucap Zea singkat.
"Sama-sama sayang,"
Zea kembali diam. Dia tidak bersuara. Hal itu membuat Azlan khawatir. Azlan tahu Zea pasti sedikit terpuruk karena tuduhan itu. Apalagi hal yang ia sukai baru saja ia rasakan dan sekarang kembali terlepas. Sungguh ia selalu saja tidak beruntung.
"Kenapa gue harus dapat musibah di tuduh mencuri ya Lan? Padahal sama sekali gue nggak ngelakuinnya."
"Gue udah seneng bisa masuk ke sekolah itu, dan sekarang semuanya udah hancur."
"Ze," panggil Azlan.
"Hmm,"
"Lo nggak usah sedih lagi ya!"
"Gue bisa kok ajarin Lo. Lo lupa pacar lo ini adalah salah satu mentor terbaik di sekolah itu, seenggaknya Lo bisa manfaatin kali." ucap Azlan.
Zea menoleh sekilas. Menatap Azlan datar.
"Kalau gue belajar sama Lo, nggak mungkin gratis, kan?" Azlan tertawa kecil.
Mengusap pelan pucuk kepala Zea.
"Emm iya sih. Nggak ada yang gratis di dunia ini."
"Tuh kan baru juga di bilang," sahut Zea langsung.
"Tapi gue nggak minta Lo bayar gue pake uang," ucap Azlan menyeringai.
Zea yang menyadari itu mulai waspada.
"Awas aja kalau Lo mau modus-modus sama gue dengan alibi bayaran jadi guru musik gue." Seakan tahu maksud dari seringai Azlan. Namun wajah Zea yang waspada seperti itu membuat Azlan ingin sekali tertawa.
"Emang gue semesum itu ya di pikiran Lo Ze?"
"Emang Lo mesum," jawab Zea cepat.
Azlan kembali terkekeh.
"Selain mesum Lo juga gila. Suka ketawa tanpa alasan, gue heran lama-lama."
"Lo lucu sih,"
"Gue nggak ngelawak kali,"
"Tapi tetep aja Lo lucu,"
"Lo kira gue badut,"
"Lebih malah,"
"AZLAN!!"
Azlan kembali terkekeh.
"Iya-iya nggak, bercanda sayang."
"Gue nggak minta macem-macem kok Ze, Lo cukup bantu-bantu gue aja. Misalnya beresin rumah, ngepel, nyapu, nyetrika."
"Lo mau jadiin gue pembantu? Tega bener sama pacar sendiri."
Zea langsung menutup mulutnya. Merasa ada yang salah dari kata-katanya.
"Eh ciee udah diakui pacar ceritanya nih gue," goda Azlan.
"Siapa yang bilang?"
"Kamu, kan?"
"Kapan?
"Tadi, baru aja."
"Dih, salah denger Lo. Kepedean."
"Gue cium juga Lo. Kesel gue." Ucap Aslan geram.
"Mau gue tonjok?" ancam Zea langsung.
"Mau sih, asal pake bibir."
"AZLAN MESUM!!!" teriak Zea.
"Iya sayang, aku di sini kok. Jangan teriak-teriak kek Tarzan gitu dong." Balas Azlan diiringi kekehan kecilnya.
Belum sempat membalas Azlan dengan segala hujatan yang sudah Zea simpan hanya untuk pria itu sebuah panggilan telepon di ponsel Zea terdengar.
Zeo
Tanpa menunggu lama Zea langsung mengangkat panggilan itu.
"Halo," ucap Zea memulai pembicaraan.
Azlan hanya diam menyimak gadisnya itu yang sedang menerima telepon entah dari siapa.
"APA!!"
Mendengar Zea yang teriak. Azlan juga ikutan terkejut.
"Oke, gue pulang sekarang." Setelah mengatakan hal itu Zea langsung menutup sambungannya.
Perubahan wajah Zea yang tadinya kesal kita berubah menjadi wajah khawatir dan cemas. Melihat itu Azlan menjadi penasaran. Apa yang sedang terjadi? Dan siapakah penelepon tadi? Mengapa raut wajah Zea berubah setelah menerima panggilannya. Banyak pertanyaan yang berputar di otak Azlan. Namun untuk bertanya kepada Zea sepertinya waktunya belum tepat.
"Anaterin gue pulang sekarang, Lan!" suara Zea terdengar berat. Azlan tahu gadis itu menahan tangisnya.
"Oke," Tidak ingin membuat keadaan hati Zea semakin m memburuk. Azlan langsung menyalakan mobilnya lalu melajukannya.
Gue nggak tau apa yang terjadi sama Lo Ze. Tapi gue selalu berharap Lo itu baik-baik aja. Batin Azlan.
Mobil Azlan melaju dengan kecepatan sedang. Ia selalu berusaha menaati peraturan lalulintas. Karena bagaimanapun segala sesuatu itu berawal dari diri sendiri. Jika ingin negara ini baik, maka perbaiki diri sendiri dahulu sebelum orang lain.
* * *
Gbraaakk
Suara pintu dibuka dengan kasar.
Lili yang ada di dalam ruangan itu tersentak kaget. Ia hanya menatap bingung kepada gadis yang masuk ke dalam ruangannya dengan wajah yang terlihat begitu kesal.
"Lo kenapa? Kesurupan?" tanya Lili.
Gadis itu membanting kan tubuhnya kasar ke atas sofa. Ia meremas kuat beberapa kertas di tangannya lalu membuangnya asal.
"Dateng-dateng nyampah Lo," protes Lili.
"Please deh Li, gue lagi kesel jangan nambah kesel lagi." Ketus Lala. Lili tersenyum sinis.
"Kenapa? Rencana Lo gagal? Biasanya rencana Lo selalu berhasil, ada apa dengan kali ini." Lala menoleh sekilas ke arah Lili.
"Lo udah kaya wartawan gue lihat, nanya mulu."
Lili terkekeh pelan.
"Udahlah La, nggak usah Lo lakuin cara busuk begitu lagi. Gue miris ngelihat Lo tahu nggak,"
"Emang apa yang Lo lihat?" sahut Lala langsung.
Lili senyum meremehkan.
"Gue lihat semuanya,"
Lala langsung duduk dari tidurnya.
"Cara Lo terlalu rendah La, karena cinta Lo tega ngefitnah orang. Lo udah gila sumpah!!" ucap Lili setengah tidak percaya.
Lili mengambil laptopnya, kemudian mengotak-atik benda itu. Tidak menunggu lama Lili membalikkan laptopnya mengarah pada Lala.
"Gue emang nggak pernah ikut ambil peran dalam kerjaan Lo, gue juga nggak pernah ikut campur masalah Lo ataupun yang Lo lakuin untuk Azlan. Tapi dalam kasus kali ini gue rasa Lo udah keterlaluan." Lili memutarkan sebuah rekaman cctv yang beberapa menit lalu ia retas dari cctv yang ada di kelas para siswa.
"Lo," ucap Lala geram.
"Gue tahu Lo bakal ngehapus rekaman ini, tapi sayangnya Lo terlambat gue udah lebih dulu ngedapetinnya," ucap Lili bangga. Ia menutup laptopnya.
Di dalam rekaman itu terlihat jelas wajah Lala yang sedang mengendap-endap masuk ke dalam kelas musik dan memasukkan sebuah flashdisk ke dalam tas berwarna hitam. Yang Lili yakini itu adalah milik Zea. Karena dirinya tadi sempat bertemu dengan Zea ketika melihat turnamen futsal.
"Lo kenapa sih Li, selalu aja hancurin rencana gue." Lala mulai emosi.
"Karena gue nggak suka saudara gue ngelakuin hal jahat kayak begitu, gue itu peduli sama Lo, La. Gue itu maunya Lo jangan terlalu berambisi sama Azlan, dia itu nggak pernah ngelirik Lo," sahut Lili tidak kalah emosi.
"Gue nggak peduli!! Yang gue mau di dunia ini cuma Azlan, dan Lo nggak perlu atur gue."
"Dasar **** Lo, terlalu bucin juga nggak bagus. Jatuhnya ke tindakan kriminal tahu nggak!! Kayak yang Lo lakuin tadi contohnya. Gue takut Lo nantinya berubah jadi psikopat yang akan membunuh siapapun yang menghalangi jalan Lo."
Mendengar ucapan Lili tadi Lala tersenyum menyeringai. Ia mengambil sebuah pisau kecil dari sakunya. Melihat benda tajam itu mata Lili membulat.
"Lo,"
"Kenapa? Kaget?" Lala kembali menunjukkan seringainya. Ia berjalan mendekati Lili. Menyadari aksi kembarannya itu, Lili Sondak memundurkan tubuhnya. Namun siapa sangka, tubuhnya semakin lama semakin terhimpit ke lemari. Ingin memberontak, tapi percuma. Ia tidak akan mampu melawan Lala yang memanglah atlit taekwondo sabuk hitam.
"La, Lo mau apa sama pisau itu?" nada suara Lili mulai bergetar.
Lala tersenyum sinis. Ia mengarahkan pisau itu ke wajah Lili. Dan hal itu membuat Lili takut setengah mati. Bagaimana tidak, saat ini ia sedang di todong pisau oleh kembarannya sendiri.
"Bukannya Lo yang bilang gue bakal berubah jadi psikopat karena terlalu cinta sama Azlan, kan? Bukannya seorang psikopat pegangannya pisau?" Lala menyentuhkan ujung pisaunya di pipi mulus Lili. Jika salah gerak maka wajah mulusnya akan tergores benda tajam itu.
"Please La, jangan gila. Gue itu kembaran Lo. Kita itu saudara," lirih Lili.
Mendengar permohonan dan wajah takut Lili membuat Lala tertawa.
"Gue nggak peduli. Bahkan gue juga bakal habisin Lo, kalau Lo terus halangi jalan gue."
Lili langsung merinding mendengar ucapan Lala tadi. Apa ini? Kembarannya benar-benar psikopat. Padahal tadi dia mengatakan hal itu hanyalah untuk bercanda saja, tetapi hal tersebut terjadi secara nyata. Lili tidak ingin mati secepat itu.
"Kenapa Li? Kenapa wajah Lo berubah ketakutan begitu," Lala sedikit menekankan pisau kecil miliknya itu ke pipi Lili.
Lili sedikit meringis.
"Sepertinya kalau gue buat gambaran pola untuk pipi mulus Lo ini akan terlihat bagus," mata Lili langsung membulat.
"Please La, jangan lakuin itu." Suara Lili mulai bergetar. Tidak dapat dibohongi ia mulai takut pada kembarannya ini.
Lala semakin menekankan ujung pisau itu, mungkin sebentar lagi pipi mulus Lili akan mengeluarkan cairan kental berwarna merah.
Ckrek.
"Kalian ngapain?" itu suara Sasa. Kakak dari Lala dan Lili. Lili dapat bernapas lega. Nyawanya selamat kali ini.
"Nggak ngapa-ngapain kak, gue cuma ambilin sesuatu yang ada di rambut Lili. Ya kan Li?" Lala langsung menyimpan pisau kecilnya ke dalam saku bajunya.
Lili mengangguk ragu. Tapi setidaknya ia merasa lega karena kakaknya datang di saat yang tepat. Kalau sampai Sasa datang terlambat mungkin pipi mulusnya sudah mendapatkan ukiran indah buah karya Lala.
"Oh gitu. Oiya Li kamu di suruh balik sama mama,"
"Mau ngapain?" Lala langsung menyahut.
Lili yakin gadis itu tidak akan membiarkannya lolos begitu saja.
"Mana gue tahu. Gue cuma suruh sampein pesan aja. Udah buruan balik gih, entar mama marah Lo."
"Iya kak," jawab Lili langsung.
Tanpa menunggu lama Lili langsung meraih laptopnya lalu memasukkannya ke dalam tas.
"Gue balik duluan, Assalamualaikum." Pamitnya.
Kemudian Lili berlari cepat keluar ruangan itu. Terlihat seperti orang yang terburu-buru.
"Kenapa tuh anak? Kok kayak orang dikejar setan aja," tanya Sasa pada Lala. Sedangkan yang ditanya hanya mengangkat bahunya tanda tidak tahu. Padahal yang sebenarnya alasan Lili terburu-buru seperti itu karena dirinya.
Lo nggak akan lolos dari gue Li. Batin Lala, kemudian ia tersenyum singkat. Senyuman yang sulit untuk di artikan.
* * *
Zea mematung di tempat. Kakinya kaku seakan sulit untuk bergerak. Matanya terpusat pada tulisan yang membuat jantungnya berpacu di atas normal. Tanpa sadar tubuhnya melemah, bahkan hampir tumbang. Untungnya Azlan langsung menahannya, sehingga Zea tidak sampai jatuh ke tanah.
"Ze, Lo baik-baik aja?" tanya Azlan dengan nada khawatir yang terlihat jelas.
Menyadari kakaknya datang Zeo langsung menghampirinya.
"Kak, Lo nggak papa?" tanya Zeo sama khawatirnya dengan Azlan.
"Rumah kita di sita bank?" tanya Zea ragu.
Zeo menganggukkan kepala, tanya mengiyakan pertanyaan kakaknya itu.
"Kok bisa?" tanya Zea lagi.
"Terus mama sama Faira dimana?"
Zeo mengepalkan tangannya. Tanda emosinya mulai naik.
"Rumah kita di sita bank karena mereka kak. Mereka mengadaikan rumah ke bank demi meminjam uang, dam mereka nggak membayarnya. Parahnya kita sama sekali nggak tahu itu."
"Apa!!"
Zea juga mulai emosi.
"Gila ya tuh nenek lampir. Gue kira udah tobat, eh ternyata masih juga kelakuannya kayak setan."
"Awas aja kalau ketemu gue bejek-bejek,"
Zea mulai geram. Ia sudah salah karena menilai bahwa dua manusia itu mulai berubah sekarang.
"Percuma kak. Mereka udah menghilang dari tadi." Sahut Zeo.
Azlan hanya diam menyimak kedua kakak beradik itu mengomel.
"Gue pulang dari futsal udah nggak ada merekanya. Dan belum lima menit gue di dalam rumah, orang bank Dateng. Dan dia minta gue beresin barang-barang dan angkat kaki dari sini. Mau bilang apa lagi, karena sertifikat tanah ada sama mereka, gue nggak bisa berontak. Itu makannya gue langsung telpon Lo." Jelas Zeo.
"Terus Zia dimana sekarang?"
"Dia di rumah om Antoni," jawab Zeo.
"Dia udah tahu hal ini?"
"Udah,"
"Hah, kok Lo kasih tahu."
"Dia udah tahu dari tadi kak, gue bareng Zia di rumah tadi pas orang bank dateng karena sebelum pulang ke rumah gue jemput dia. Gue langsung telpon supir om Antoni buat jemput dia lagi karena gue nggak mau sedih dia ngelihat ini."
"Ya Allah, kenapa jadi gini sih?" teriak Zea frustasi.
"Terus kita mau tinggal dimana, coba?" tanya Zea.
"Ze, gimana ka---," belum sempat Azlan menyelesaikan ucapannya Zea langsung memotong ucapannya.
"Lan, gue tahu Lo pasti mau nawarin gue tinggal di rumah Lo ataupun dimana pun itu. Tapi sorry gue nggak bisa," Azlan terkekeh pelan.
"Gue belum ngomong padahal. Lo udah bisa baca pikiran gue,"
"Kakak gue turunan cenayang bang, jadi wajar aja." Sahut Zeo cepat. Membuat Zea memberikan tatapan tajam miliknya.
Azlan terkekeh kembali. Kemudian mengelus pelan pucuk kepala Zea.
"Udah jangan marah-marah lagi. Lo jelek kalau marah," ucap Azlan.
"Nggak usah sok romantis-romantisan di depan jomblo. Hargai dikit ngapa," protes Zeo.
"Sirik Lo," balas Zea.
"Dih ngeselin."
"Udah-udah jangan ribut mulu,"
"Zea gue tahu Lo pasti bakal nolak ini, tapi gue bakal tetap nawarin untuk Lo tinggal di apartemen gue aja."
"Lan,"
"Zea please jangan tolak ya. Gue cuma mau bantu Lo, gue cuma nggak mau Lo tidur di jalanan nantinya." Ucap Azlan lagi.
"Tapi,"
"Kak cuma ada dua pilihan, Lo terima tawaran bang Azlan atau kita tinggal di rumah om Antoni.
Zea tampak berpikir sejenak. Pilihan yang sebenarnya tidak ingin Zea pilih salah satunya. Jika Zea memilih tinggal di rumah om Antoni, secara otomatis ia akan mengulang kenangan bersama bundanya. Hal yang cukup membuat hatinya sakit karena kerinduan. Tetapi jika Zea memilih tinggal di tempat Azlan, maka Zea harus siap-siap berurusan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan orang kaya. Lagi pula Zea sudah cukup sering di tuduh memanfaatkan orang-orang di dekatnya, seperti putri misalnya. Dan Zea tidak ingin hal itu terulang kembali. Maka dari itu Zea memutuskan.
"Lan, kayaknya gue tinggal di rumah om gue aja. Bukan maksud gue bolak tawaran Lo, tapi kayaknya yang lebih pantas nampung kita itu mereka bukan Lo." Azlan tersenyum singkat. Kemudian merangkul Zea lembut. Zea sempat terkesiap karena perlakuan Azlan tadi.
"Gue nggak masalah Ze, asal Lo berada di tempat yang aman dan nggak kedinginan." Azlan tersenyum manis. Bahkan tanpa sadar Zea ikut tersenyum juga.
"Ekhem, dunia serasa milik berdua, yang lain ngontrak." Sindir Zea.
Mendengar ucapan adiknya itu, Zea langsung melemparkan pukulan kecil di punggung Zeo.
"Lebay Lo!!"
Azlan hanya tersenyum ringan. Sedangkan Zeo memberikan wajah kecutnya.
"Oh iya Ze, apa ayah udah tahu hal ini?" tanya Zea hati-hati.
Raut wajah Zeo yang tadinya kesal berubah menjadi sendu.
"Ze, ada apa? Kok muka Lo berubah sedih gitu?" tanya Zea menyadari perubahan raut wajah adiknya.
"Ayah kecelakaan kak, sekarang dia di rumah sakit."
Bagaikan disambar petir di siang bolong. Bahkan seakan ribuan ton beban menghantam pindah Zea. Satu kabar yang mampu membuat hatinya kembali terguncang. Kalimat yang sama pernah ia dengarkan dulu. Kalimat yang membuat lukanya semakin dalam. Dan kali ini dia harus kembali mendengarnya.
"Kecelakaan?" suara Zea mulai parau. Tanda bahwa ia mulai terisak.
Tubuh Zea mulai lunglai. Dengan sigap Azlan langsung meraihnya.
"Zea," nada bicara Azlan terdengar khawatir.
__ADS_1
"Kak," ucap Zeo juga.
Semakin lama Zea merasakan kepalanya semakin berat. Bahkan pandangannya mulai kabur, ia hanya mendengar suara Azlan dan Zeo terus memanggil namanya. Ia merasakan dirinya seperti dibopong. Sampai akhirnya Zea tidak sadarkan diri.