Zeazlan

Zeazlan
Bunga Mawar


__ADS_3

Kamu yang selalu membuatku naik darah namun kamu juga yang mampu membuatku merona


-Zea Praisa Ulya-


Zea keluar dari kamar mandi dengan sedikit merapikan pakaiannya. Ia baru saja mengganti seragam sekolah dengan baju yang lebih santai, dan tentunya nyaman. Zea membuka ikatan rambutnya yang sedikit berantakan, kemudian berusaha menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya. Karena di rumah sakit tidak ada sisir yang ada hanyalah infus dan obat-obatan.


Namun tangan Zea secara reflek turun dari rambutnya. Sehingga membuat rambut hitamnya tergerai begitu saja dengan indahnya. Zea menatap bingung ke arah pria yang tengah berdiri di ambang pintu ruangan dengan banyak boneka rusa di tangannya.


Azlan yang melihat Zea keluar dari toilet dengan rambut tergerai dengan wajah masih terlihat sedikit basah langsung terkesima. Ia begitu takjub dengan ciptaan Tuhan yang begitu sempurna yang berdiri tidak jauh darinya itu. Kulit putih Zea seakan memancarkan aura yang begitu dahsyat sehingga kecantikannya bertambah. Dan untuk pertama kalinya Azlan dibuat terpelongo oleh seorang wanita. Bahkan dengan wajah tanpa make up seperti Zea.


Ya Allah calon bini gue cantik bener. Pengen gue halalin sekarang juga rasanya. Gue jadi percaya kalau bidadari itu beneran ada.


"Lo ngapain bawa boneka sebanyak itu? Mau jualan?" suara Zea membuat Azlan kembali tersadar ke dalam dunianya.


Azlan melangkah menuju sofa, kemudian meletakan boneka-boneka itu di sana.


"Zeo yang suruh, katanya untuk Zia," ucap Azlan sebagai jawaban.


Zea hanya manggut-manggut saja, kemudian ia melanjutkan mengikat rambutnya tadi dengan asal.


"Gue kira Lo mau jualan, mana tahu kan untuk sampingan," Azlan terkekeh mendengar penuturan kekasihnya itu.


Kemudian Azlan berjalan mendekati Zea yang tidak terlalu jauh darinya dengan tangan kanannya ia letakan di belakang tubuhnya. Zea memicingkan matanya ketika menyadari itu.


"Tangan Lo ngapain begitu? Pinggang Lo encok?" Azlan kembali terkekeh pelan. Kekasihnya ini suka sekali menanyakan hal yang asal keluar dari mulut saja, tanpa berpikir terlebih dahulu.


Azlan tidak menjawab pertanyaan Zea, walau sebenarnya ia ingin sekali tertawa mendengar pertanyaan Zea tadi, namun Azlan tetap berusaha menunjukkan wajah seriusnya.


Sampainya Azlan di hadapan Zea, mata mereka langsung bertemu. Jika Azlan menatap Zea dengan tatapan dalam, dan penuh dengan cinta, lain halnya Zea yang memberikan tatapan bingung dan tanda tanya.


"Lan, Lo sehat, kan?" tanya Zea semakin heran. Pasalnya pria di hadapannya ini hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaannya.


Zea meletakkan punggung tangannya di dahi Azlan, berusaha mengecek suhu tubuh pria itu. Namun siapa sangka Azlan malah meraih tangan Zea lalu menggenggamnya, Zea sedikit tersentak kaget karena aksi Azlan.


Ingin memberontak untuk melepas genggaman itu namun tatapan Azlan begitu menghipnotis Zea, membuat dirinya terlarut dalam tatapan yang begitu dalam itu. Zea dapat merasakan hangat yang mulai menjalar dari tangan Azlan ke tangannya akibat genggaman lembut yang Azlan berikan.


Azlan tersenyum manis kepada Zea, membuat Zea mau tidak mau membalasnya juga.


"Lo kenapa sih? Gila? Bukannya Lo emang gila, ya?" Azlan terkekeh kecil. Kemudian menarik Zea dengan sekali hentakan. Mempertipis jarak diantara keduanya.


"Lan, Lo ngagetin gue tadi sumpah." Cicit Zea. Azlan kembali tersenyum, membuat Zea menghela napas kesal.


"Lo dari tadi senyam-senyum mulu. Lo kira gue bakal kenyang makan senyum Lo," ucap Zea sewot.


"Lo ngomong lagi, gue cium juga!." Ancam Azlan.


"Dih beraninya ngancem aja,"


"Karena cuma dengan cara itu Lo bisa diem," jawab Azlan seadanya.


"Lo aja yang nggak mau usaha. Maunya jalan cepat aja," Azlan kembali terkekeh. Tanpa menunggu lama Azlan langsung mengeluarkan apa yang ia simpang sejak tadi di belakang tubuhnya. Sebuah bunga mawar merah lengkap dengan pot bunganya. Sebenarnya ini lebih tepat dikatakan pohon bunga mawar.


Azlan awalnya ragu ingin memberikan ini, karena yang ia pesan tadi itu sebuket bunga mawar namun entah bagaimana malah sepot pohon mawar yang datang. Azlan memperlihatkan bunga itu dengan ragu-ragu.


Mata Zea langsung berbinar ketika melihat apa yang Azlan bawa. Melihat ekspresi Zea yang begitu senang membuat Azlan sedikit lega. Ternyata Zea menyukai bunganya. Tanoa menunggu lama Zea langsung meraih bunga itu, namun siapa sangka Azlan lebih dulu menariknya.


"Lo boleh ambil ini tapi cium pipi gue dulu, nggak ada yang gratis di dunia ini sayang," ucap Azlan dengan senyum jahilnya.


Zea membulatkan matanya. Ia tidak menyangka Azlan akan mengatakan hal itu. Zea kira Azlan akan memberikan bunga itu dengan cuma-cuma, ternyata Zea salah.


"Ih masa gitu," protes Zea.


Azlan kembali terkekeh. Ia langsung menarik tangan Zea lalu memberikan bunga mawar itu kepada Zea. Secara reflek Zea langsung tersenyum senang. Senyum yang begitu Azlan sukai.


"Gue becanda tadi," ucap Azlan.


Zea bersorak senang, ia langsung mencium pohon bunga mawar itu. Tidak mempedulikan Azlan yang terus melihatnya.


"Tapi kalau Lo mau sih gue nggak nolak,"


Ucapan Azlan langsung dibalas tatapan malas Zea. Azlan hanya dapat tersenyum melihat tingkah gadisnya itu.


"Bilang apa kek," sindir Azlan.


Zea yang tadinya sibuk menciumi bunganya kini beralih menatap Azlan. Zea tersenyum lebar.


"Makasih Azlan, Lo tahu banget apa yang gue suka," ucap Zea tulus.


"Tentu dong, gue kan pacar Lo."


"Iya lah iya, Lo pacar gue," ucap Zea mengakui.


"Udah di akui ceritanya nih gue," Zea menoleh menatap Azlan.


"Gue nggak ngakuin Lo juga pasti bakal maksa, karna Lo kan pemaksa," Azlan tersenyum puas, kemudian mengacak-acak rambut Zea, membuat gadis itu mendengus kesal. Namun bukan Azlan namanya jika berhenti menjahili Zea.


Azlan terus menggoda Zea dengan sesekali mencoel dagunya, meniup rambut gadis itu darai belakang atau hal jail lainnya. Membuat Zea semakin kesal, namun entah mengapa Zea hanya berdecak saja tidak sampai berteriak-teriak layaknya Tarzan seperti biasanya.


"Lan udah ngapa, Lo ngeselin makin lama."


Bukannya berhenti Azlan malah terus menggoda Zea, sampai pada saat Zea hilang kendali membuat dirinya tidak seimbang Zea terjungkal ke arah Azlan dengan posisi pohon bunga mawar masih di tangannya.


Zea jatuh menimpa tubuh Azlan dengan mata terpejam serta tangan di angkat ke atas memegang bunga mawarnya supaya selamat. Bahkan ia lebih mementingkan bunga itu dibandingkan dirinya.


Sebenarnya Azlan merasa pinggangnya begitu sakit karena terjatuh dalam keadaan Zea di atasnya, namun ketika jatuh dengan wajah Zea tepat diwajahnya dengan jarak yang cukup dekat bahkan dahi mereka sudah bersentuhan semua sakit itu hilang seketika. Azlan dapat merasakan deru napas Zea yang sedikit tidak teratur mungkin gadis itu sedikit terkejut tadi. Namun hal yang membuat Azlan ingin tertawa adalah ketika tangan Zea terangkat ke atas memegangi bunga mawar pemberian Azlan tadi supaya tidak terjatuh ke lantai.


Azlan dapat melihat wajah Zea cukup lama. Bahkan gadis itu masih memejamkan matanya sampai saat ini juga. Sampai akhirnya ide jahil Azlan kembali muncul.


Azlan melingkarkan lengannya di pinggang Zea. Membuat tubuh gadis itu semakin menghimpit dirinya. Sontak Zea langsung membuka matanya. Namun ketika hendak marah semuanya tertunda ketika Zea bertatapan langsung dengan mata coklat Azlan yang begitu menghipnotis dirinya. Lagi dan lagi, selalu saja begitu. Bukannya memberontak dengan perlakuan Azlan yang sebenarnya sangat membuatnya marah, Zea malah diam kaku tidak mampu memberontak sedikitpun. Bahkan untuk berkata saja, lidahnya terasa begitu keluh.


Aduh gue gugub lagi, malah nih detak jantung kenceng bener kek lagi lari maraton aja. Azlan ganteng banget ternyata.


"Lo gugub ya Ze?" tanya Azlan langsung tanpa mengendurkan tangannya yang masih melilit di pinggang Zea.


Zea tersadar dari lamunannya.


"Baru sadar kalau gue ganteng," ucap Azlan lagi sembari merapikan beberapa helai rambut Zea yang lari dari ikatannya dengan satu tangannya sedangkan tangan lainnya masing anteng melilit pinggang ramping Zea.


"Lan lepasin gue," ucap Zea sembari berusaha untuk melepaskan tangan Azlan. Tentunya ia terlebih dahulu meletakan pot bunganya dengan hati-hati ke lantai.


"Kalau gue nggak mau gimana?" goda Azlan, membuat Zea mendengus kesal.


"Lan lepasin, gue aduin ayah lo yah udah kurang ajar gini ke gua,"


"Yaudah aduin aja," tantang Azlan.


"Yah Azlan nih nggak sopan," ucap Zea langsung, membuat Azlan terkekeh kembali


"Dih malah ketawa lagi, ngeselin banget sih."


Azlan menghentikan tawanya. Menatap dalam Zea.


"Lo ngapain sih giniin gue?" ucap Zea sedikit teriak.


Azlan tersenyum jahil, kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Zea.


"Sengaja, mana tahu khilaf, kan!"


Mata Zea langsung membulat, Zea memukul kuat dada bidang Azlan, namun pria itu bukannya kesakitan ia malah bersikap biasa saja, seakan pukulan Zea tadi itu tidak berarti apa-apa.


Zea menahan napasnya yang memburu, jika tidak sedang di dalam ruangan ayahnya yang tengah sakit, sudah dipastikan suara Zea yang seperti Tarzan itu akan keluar. Namun kali ini Zea terus berusaha menahannya, meskipun sikap Azlan terus memancing emosinya. Zea hanya dapat mengelus dada, bersabar menghadapi tingkah pria yang berada di bawahnya ini.


Azlan tahu Zea sedang menahan emosinya. Wajahnya yang memerah karena marah yang ia tahan membuat wajah gadis itu terlihat begitu menggemaskan. Azlan mengacak pelan rambut Zea, kemudian melepaskan tangannya dari pinggang ramping kekasihnya itu, Azlan tidak mungkin tega membiarkan Zea terus-menerus kesal dan menahan amarah seperti itu. Dan Zea tentu tidak menghilangkan kesempatan tersebut. Gadis itu langsung bergerak untuk bangkit dari tubuh Azlan.


Ckrek.


"Astagfirullah!!!" pekik Zeo ketika membuka pintu ruangan Ayahnya. Pemandangan yang ia lihat begitu mengejutkan, sontak Zeo langsung menutup mata Zia dengan telapak tangannya.


Zea dan Azlan langsung menoleh ke sumber suara, mereka juga ikut terkejut karena kehadiran Zeo, ralat bukan karena Zeo, lebih tepatnya karena ada Zia disana. Meskipun jarak Azlan dan Zea tidak sedekat tadi tetapi tetap saja keadaan mereka tidak pantas dilihat anak di bawah umur.


"Kalian gila ya! Masa ngelakuin adegan 18++ dirumah sakit." ucap Zea dengan nada menggoda.


"Bang Zea, kenapa mata Zia di tutup sih? Nggak kelihatan tauk, Zia mau lihat Ayah." Protes Zia kepada Zeo.


Zea langsung bangkit dari posisinya kemudian sedikit merapikan bajunya. Lalu Zea berjalan mendekati Zia dan Zeo, tentunya tidak lupa menendang tulang kering Azlan terlebih dahulu. Sebagai bentuk hukuman atas rasa kesalnya.


Azlan sedikit meringis.


"Sadis bener pacar gue," gumam Azlan pelan. Namun Zea masih dapat mendengarnya, Zea menoleh sebentar lalu menjulurkan lidahnya dan memberikan wajah mengejek. Azlan hanya geleng-geleng saja melihat tingkah Zea yang kekanak-kanakan itu, kemudian ia berusaha bangkit dari duduknya.


Sampai di hadapan kedua adiknya, Zea langsung menyentil bibir Zeo pelan.


"Nih bibir kalau ngomong suka ngasal," kemudian ia menyentil lagi kening Zeo.


"Ini untuk otak Lo yang mulai nggak beres," ucap Zea lagi. Zeo sedikit meringis.


"Lah gue kan ngomong berdasarkan apa yang gue lihat," Zeo mengusap bibir dan dahinya yang terasa sedikit sakit.


"Emang apa yang Lo lihat?" tuding Zea langsung. Zea berkacak pinggang. Sedangkan Zeo hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


Tanpa mereka sadari Zia sudah berjalan mendekati ayahnya yang terbaring di kasur rumah sakit. Mata gadis kecil itu mulai berkaca-kaca.


"Ya gue lihat itu,"


"Itu apa?" potong Zea langsung.


Sedangkan Azlan yang melihat itu hanya dapat menahan tawanya. Ia dapat melihat Zeo yang menatapnya dengan tatapan meminta tolong. Namun Azlan dapat berbuat apa jika Zea sudah marah. Azlan hanya dapat menggeleng lemah ke arah Zeo pertanda ia tidak dapat menolongnya.


"Ya itu kak, lihat Lo tiduran di----"


"Di atas Azlan?" sahut Zea cepat.


Zeo mengangguk ragu. Takut salah bicara.


Melihat adiknya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaannya Zea sekali lagi menyentil kening Zeo.


"Sakit tahu kak, Lo suka banget nyentil jidat gue." Kali ini Zeo protes.


"Biar otak Lo bener."


"Lagian Lo itu terlalu cepat menyimpulkan apa yang Lo lihat. Gue sama Azlan nggak ngapa-ngapain, gue tadi jatoh dan kebetulan nimpa dia." Ucap Zea cepat berusaha menjelaskan.


Zeo memutar bola matanya malas.


"Iya-iya gue percaya," ucap Zeo ogah-ogahan.


"Ayah," itu suara Zia.


Mendengar suara lembut adik kecilnya, Zea langsung menoleh. Begitupun Azlan dan Zeo. Mereka terkejut ketika melihat Zia yang sudah duduk di atas kursi tepat di sebelah ayahnya dengan tangan menggenggam erat satu tangan pria paruh baya itu serta air mata yang tampak jelas menetes di pipi chubby Zia.


"Zia," pekik Zea. Ia langsung menghampiri adiknya itu lalu memeluknya dari belakang.


"Kak Ze, ayah sakit ya kak?"


"Sakit apa? Kok Zia baru tahu?"


"Terus kenapa ayah nggak bangun, kak? Kan Zia udah di sini?"


Pertanyaan Zia yang bertubi-tubi tidak sanggup untuk Zea jawab satupun. Perasaan kesal dan marahnya kepada Azlan dan Zeo tadi kini berubah menjadi rasa sedih dan tidak tega kepada adik perempuannya itu.


Zeo mendekati dua saudarinya itu.


"Ayah nggak papa sayang, ayah cuma kecapekan aja. Sekarang ayah lagi istirahat, kamu jangan nangis ya, nanti kalau ayah tahu pasti ayah sedih juga." Ucap Zeo dengan lembut.


Zia berusaha menghapus air matanya.


"Zia nggak nangis kok Yah, ayah jangan sedih ya. Zia selalu ada di samping ayah, Zia sayang ayah. Ayah cepet bangun ya," Zia mengecup pipi ayahnya yang masih saja terpejam itu.


Zea tidak dapat menahannya lagi, kali ini air matanya lagi-lagi jatuh. Menyadari hal itu Azlan langsung menghampiri Zea. Memegang pundak kekasihnya itu.


"Jangan nangis Ze, kalau Zia tahu dia bakal sedih nanti." Bisik Azlan pelan. Zea menghapus kasar air matanya. Ia berusaha bersikap kuat untuk adiknya.


"Oh iya bang Ze, kata Abang tadi ayah bawain oleh-oleh untuk Zia, terus sekarang mana oleh-olehnya?"


Mendengar pertanyaan Zia, Zeo langsung menoleh ke arah Azlan. Azlan yang paham dengan tatapan Zeo langsung mendekati Zia.


"Hai Zia," sapa Azlan lembut.


"Pasti Bang Azlan, kan?" dahi Azlan mengerut. Heran karena Zia mengenalnya, pasalnya Azlan sama sekali belum pernah bertemu dengan Zia. Ini pertama kalinya.


"Pacar Kak Zea, kan?" Azlan hanya mengangguk, lalu tersenyum sebentar.


"Iya, kok kamu tahu?" tanya Azlan.


"Iya, karna Abang ganteng." Azlan terkekeh kecil mendengar jawaban Zia. Bahkan gadis kecil itu menebaknya sebagai kekasih kakaknya hanya karena ketampanannya saja. Alasan yang cukup sederhana.


Jika ada pria lain yang cukup tampan di tempat ini selain Azlan, mungkin Zia juga akan menebaknya sebagai kekasih kakaknya.


Azlan mendekatkan bibirnya ke telinga Zea.


"Dengar kan Ze, Zia aja ngakui kalau gue itu ganteng." Bisik Azlan dengan bangganya.


Kalau tidak sedang di hadapan Zia sudah pasti Zea akan menerjang Azlan saat ini juga.


"Bang Ze, dimana oleh-olehnya?" tanya Zia lagi pada Zeo.


Azlan beralih pada Zia lagi. Tangannya mengelus sayang pucuk kepala adik kekasihnya itu.


"Kamu mau tau dimana oleh-olehnya?" Zia mengangguk cepat. "Lihat ke sofa itu, oleh-olehnya ada di situ," ucap Azlan sembari menunjuk ke arah sofa.


Zia langsung menoleh ke arah yang dimaksud Azlan. Senyum gadis itu langsung merekah. Zia turun dari kursinya lalu berlari menuju sofa.


"Oleh-olehnya sebanyak ini?" tanya Zia tidak percaya. Zia menatap Zea dan Zeo bergantian setelah itu Zia menatap Azlan.


"Iya," jawab ketiganya berbarengan.


Zia tersenyum singkat. Zia mengambil satu boneka rusa berukuran sedang lalu membawanya mendekati ayahnya lagi.


"Makasih oleh-olehnya ayah, Zia suka. Cepet bangun ya."


Cup


Zia mengecup pipi ayahnya dengan begitu sayang. Kemudian Zia memeluk erat boneka rusa itu.


"Zia peluk boneka rusa aja deh, kan ayah masih sakit jadi nggak bisa peluk Zia," ucap Zia dengan polosnya.


Namun pernyataan Zia tadi membuat Zea semakin sedih, ia kembali menangis. Pernyataan yang begitu menusuk rasanya. Zeo yang menyadari kakaknya sedang tidak baik-baik saja memberi isyarat kepada Azlan untuk menenangkan Zea. Sedangkan Zeo langsung mendekati Zia lalu memeluk adik perempuannya itu.


Zea tidak tahan lagi. Zea memilih untuk keluar dari ruangan itu, namun karena tidak hati-hati Zea menabrak pot bunga mawar yang baru saja diberi oleh Azlan tadi.


Zea menatap nanar ke arah pohon bunga yang sudah keluar dari potnya itu. Air matanya kembali jatuh. Terjadi hening sesaat. Zeo menatap bingung ke arah pot bunga, heran mengapa ada pot bunga berisi bunga mawar di dalam ruang rawat ayahnya. Sedangkan Zia bingung mengapa Zea menangis.


"Kak Zea baik-baik aja, kan?" tanya Zia memastikan keadaan kakaknya. Zea menoleh sebentar, lalu mengangguk dan tersenyum hangat.


Azlan meraih lengan Zea kemudian menuntun gadisnya itu untuk keluar dari ruangan.


Zea menahannya sebentar.


"Bunganya," cicit Zea dengan suara serak karena menahan tangis.


"Gue beliin satu kebon nanti untuk gantinya," Zea memanyunkan bibirnya. Perasaan sedih dan kecewanya tadi sedikit berkurang berkat ucapan Azlan. Meskipun terdengar sombong, entah mengapa Zea merasa sedikit lega.


"Kita keluar dulu, gue tahu Lo belom makan." Ucap Azlan, kemudian menarik lengan Zea untuk keluar dari ruang rawat itu.


"Bang, Kak Zea nggak papa kan?" tanya Zia lagi. Gadis itu masih saja khawatir dengan keadaan kakaknya.


"Iya dek, kak Zea baik-baik aja. Dia cuma laper," jawab Zeo berusaha menenangkan.


"Tapi kenapa sampe nangis?" tanya Zia lagi. Ternyata dia belum puas dengan jawaban Zeo.


"Kak Zea nangis karna bunga mawar ya rusak. Kamu tahu sendiri kan kak Zea suka banget sama mawar," jelas Zeo lagi untuk meyakinkan.


"Oh gitu yah, kalau begitu nanti pulang dari rumah sakit kita beliin kak Zea bunga mawar ya bang, biar kak Zea nggak sedih lagi."


"Boleh,"


"Tenang aja, pake uang Zia belinya." Zeo memicingkan matanya.


"Emang kamu punya duit?"


"Punya dong, Zia kan punya uang di celengan ayam. Nanti kita pecahin dulu baru kita pake buat beliin bunga untuk kak Zea, biar kak Zea nggak sedih lagi."


Zeo tersenyum melihat ketulusan ucapan Zia. Adiknya itu begitu menyayangi Zea. Zeo tahu benar Zia selalu merasa bahwa dirinya itu beban untuk Zea dan Zeo, itu sebabnya ia selalu berusaha tersenyum untuk Zea. Karena Zia tahu Zea tidak akan pernah suka jika dirinya menangis.


Zeo juga sering melihat Zia sering masuk ke kamar Zea ketika malam hari hanya untuk memeluk ataupun mencium Zea. Alasannya hanya satu, karena Zia merindukan sosok ibu mereka yang begitu mirip dengan Zea.


Zea yang masih berada di depan pintu tertegun mendengar ucapan adiknya.


"Zia aja nggak mau Lo sedih, jadi jangan sedih Ze," ucap Azlan yang berada di samping Zea.


Zea mengangguk pelan.


"Gue cuma nggak tega aja lihat Zia, dia pasti terpukul banget." Azlan menarik dagu Zea supaya gadis itu menatapnya.


"Yang terpukul di sini Lo Ze, bukan Zia. Bahkan Lo yang dari tadi nangis bukan Zia. Lo yang lemah di sini Ze, bukan Zia. Tapi Lo nutupinnya karena Lo nggak mau Zia tahu itu," tubuh Zea bergetar. Zea kembali menangis.


Azlan langsung menarik Zea untuk keluar, kemudian membawa gadisnya itu untuk duduk di sebuah kursi rumah sakit.


"Jangan nangis terus Ze, Lo nggak cocok nangis. Mending Lo marah-marah aja sama gue deh. Gue lebih suka Lo ngomel-ngomel daripada nangis gini," bukannya menenangkan Azlan malah mengomeli Zea.


Zea mencubit pelan perut Azlan.


"Lo yah bukannya nenangin malah ngomel-ngomel kek cewek, ngeselin tahu nggak!!"


"Oh jadi Lo mau di bujuk ceritanya?" goda Azlan.


"Tahu ah! Kesel ngomong sama anak setan,"


"Dih ngambek,"


"Nggak,"


"Halah iya aja ngambek,"


"Gue bilang nggak ya nggak, ngeselin banget sih."


"Cie marah, gini baru Zea. Marah-marah, kalau tadi mellow banget bukan Zea namanya,"


"Terus apa?"


"Zeandralela yang terhaniaya,"


Plak


Zea memukul cukup kuat kening Azlan. Membuat Azlan meringis sakit.


"Sakit tahu Ze, kejam amat ssshhh," ucap Azlan dengan sedikit meringis sakit.


"Biarin, otak Lo geser sih." Ucap Zea kemudian bangkit dari duduknya lalu berjalan meninggalkan Azlan yang masih duduk.


"Eh Ze mau kemana?" teriak Azlan.


"Maaf mas, ini rumah sakit jangan teriak-teriak!" peringati Sorang suster yang kebetulan lewat di depan Azlan.


"Eh iya-iya sus, maaf." Ucap Azlan meminta maaf. Zea yang mendengar itu langsung terkekeh pelan. Kemudian melanjutkan langkahnya.


Azlan memilih untuk mengejar Zea langsung saja, tidak perlu berteriak seperti tadi lagi.


"Mau kemana sih? Cepet banget jalannya," tanya Azlan setelah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan langkah kaki Zea.


"Ke kebon binatang, beli bunga mawar." Jawab Zea asal.


"Hah!!!"


"Kalau nggak ke apotik aja deh lebih Deket,"


"Hah!!"


"Hah heh hah heh aja terus sampe sukses,"


Azlan terkesiap sekejap.


"Habisnya Lo aneh sih, masa iya beli mawar di kebun binatang apalagi apotik, kan nggak mungkin banget."


"Emang nggak mungkin," jawab Zea enteng.


"Terus maksud Lo tadi apaan?" Zea tiba-tiba menghentikan langkahnya, membuat Azlan mau tidak mau juga ikut berhenti.


"Lo harus tanggung jawab,"


"Hah!!" pekik Azlan kaget.


"Sekali lagi bilang hah gue tabok pake sendal jepit Lo," ancam Zea membuat Azlan langsung menutup mulutnya yang terbuka lebar tadinya.


"Ya jangan dong Ze, sadis bener. Lagian Lo aneh sih masa iya langsung minta gue tanggung jawab, emang Lo udah gue apain? Gue pegang tangan aja Lo udah ngamuk,"


Zea menatap Azlan dengan tatapan datar.


"Otak Lo makin geser kayaknya, mikirnya kejauhan. Gue minta tanggung jawab Lo untuk beliin gue bunga mawar lagi, bukan tanggung jawab yang lain." Cerocos Zea kesal. Kemudian Zea langsung berlalu meninggalkan Azlan yang otaknya sudah semakin tidak beres menurutnya.


Tidak ingin tertinggal, Azlan langsung menyusul Zea yang sudah menjauh darinya.

__ADS_1


* * *


Zea berjalan dengan susah payah, dua tangannya memegang dua pot pohon bunga mawar berwarna merah. Sedangkan Azlan dibelakangnya membawa dua pot pohon bunga mawar berwarna putih.


Azlan hanya cekikikan sendiri melihat Zea yang begitu kesulitan membawa dua pot bunga itu, namun bukan Zea namanya jika tidak keras kepala. Azlan sudah memintanya untuk menunggu saja dan membiarkan Azlan yang membawanya tetapi Zea malah memilih untuk membawanya sendiri.


"Hahhh," Zea menghela napas pelan setelah meletakan bunga mawar yang ia bawa tadi dengan selamat.


"Capek?" tanya Azlan ketika sudah berada tepat di samping Zea.


"Nggak sih, biasa aja." Balas Zea acuh


"Makasih kek udah di beliin mawar juga," sindir Azlan.


Zea menoleh ke arah Azlan, memberikan tatapan malas ke arahnya.


"Jadi Lo nggak ikhlas,"


"Ikhlas,"


"Yaudah,"


"Ck, untung sayang," gumam Azlan.


Tangan Zea terulur untuk memencet bel rumah, namun tiba-tiba pintu rumah sudah terbuka lebih dulu.


"Zea,"


"Eh, Om."


Antoni keluar dari rumah, kemudian menatap Zea dan Azlan secara bergantian.


"Siapa?" tanya Antoni.


"Oh saya Azlan om, pacar Zea." Belum sempat Zea menjawab, Azlan sudah lebih dulu memperkenalkan dirinya. Dan hal yang membuat Zea semakin kesal adalah ketika Azlan mengakuinya sebagai pacar Zea di hadapan Antoni.


"Oh pacar Zea toh, kok nggak di suruh masuk sih Ze?" sahut Antoni heboh.


Zea memutarbola matanya malas.


"Nggak perlu Om, entar kalau dia masuk rumah ini rubuh." Ucap Zea asal.


"Hus nggak boleh ngomongin pacar sendiri begitu Zea," peringati Antoni.


"Oh iya ini bunga mawar siapa?" tanya Antoni ketika menyadari ada empat pot bunga mawar di lantai.


"Emm ini bunga Zea om, boleh kan kalau Zea tanam ini di halaman." Tanya Zea hati-hati. Karena mau bagaimanapun Zea tetaplah seorang yang menumpang di sini. Meskipun Antoni dan Fida adalah paman dan bibinya, Zea harus tetap menghargai mereka.


"Om sih nggak masalah, tapi kamu coba minta izin sama Tante kamu aja dulu." Jawab Antoni serius.


"Izin apa?" itu suara Fida.


Wanita itu baru saja keluar.


"Ini sayang, Zea mau nanam bunga mawar ini di taman. Kamu izinin nggak?" tanya Antoni kepada istrinya.


Terjadi keheningan sesaat. Tampak Fida yang tengah memikirkan sesuatu. Zea sedikit deg-degan melihat wajah Fida yang serius. Namun tidak lama setelah itu Fida memberikan senyumannya.


"Tentu aja boleh," jawab Fida lembut.


Mendengar jawaban Fida Mata Zea langsung berbinar. Zea sedikit berteriak lalu berlari ke pelukan Fida. Membuat wanita itu sedikit terhuyung ke belakang. Untung saja Fida masih dapat menyeimbangkannya.


"Makasih Tante," ucap Zea tulus.


"Sama-sama sayang," jawab Fida sembari mengelus lembut rambut hitam Zea yang terkuncir rapi itu.


Zea mengendurkan pelukannya, ia memberikan sekilas senyuman kepada Antoni dan Fida.


"Yasudah kamu bisa letakan bunga mawar itu di taman dekat kolam berenang aja," kata Fida. Zea mengangguk.


Tanpa menunggu lama Zea langsung membawa pot bunga mawar itu lagi, diikuti oleh Azlan dibelakangnya. Mereka masuk melalui pintu samping yang memang langsung terhubung dengan kolam berenang.


Zea menatap tapi bunga mawar miliknya lalu tersenyum senang.


"Seneng banget kayak orang baru menang lotre aja," itu suara Azlan.


Zea menoleh ke Azlan, menatap pria itu intens.


"Syirik aja Lo,"


"Perasaan Lo jadian sama gue nggak sesenang ini deh," Azlan bersuara lagi.


"Jelas lah kok, Lo siapa mawar itu siapa kalian itu dua makhluk yang berbeda."


"Ya emang, gue kan bukan bunga. Gue ini cowok paling ganteng sejagat raya dan berstatus sebagai pacar Lo, Zea Praisa Ulya, sedangkan mawar kan tumbuhan. Gue lebih penting seharusnya,"


"Dih pede banget,"


"Jelas, Azlan Malik gitu loh." Zea menepuk pelan jidat Azlan. " Bangun bang, udah pagi mimpi mulu." Setelah mengatakan itu Zea meninggalkan Azlan yang masih memegangi keningnya yang sedikit sakit.


"Sakit juga ya. Tuh cewek tenaganya lama-lama udah kaya Samson aja." Gumam Azlan pelan karena tidak ingin Zea sampai mendengarnya. Kalau sampai gadis itu mendengarnya bisa jadi Azlan akan kena ceramah lima ratus ayat lagi. Yang membuat telinganya akan semakin panas.


Azlan berjalan hendak menyusul Zea namun sebuah pemandangan membuatnya menghentikan langkahnya. Seorang wanita berbaju putih dengan tatapan kosong tengah berdiri besilang dada menatap kolam berenang. Azlan dapat melihat wajah wanita itu dengan jelas, tiba-tiba saja wanita itu hendak melangkah pergi namun ia sempat kontak mata dengan Azlan beberapa detik. Setelah itu wanita itu berlari hingga menghilang. Azlan tidak mengejarnya, dia hanya bingung. Mengapa wanita itu lari ketika melihatnya.


"Itu bukannya tantenya Zea ya? Kenapa dia lari?" tanya Azlan pada dirinya sendiri.


* * *


Zea kembali ke pintu dimana Antoni masih berdiri disana. Zea menatap Antoni dengan tanya.


"Om masih di sini?"


"Iya, nunggu Tante kamu katanya ada yang ketinggalan di dalem." Jawab Antoni seadanya.


"Udah di taruh di taman bunganya?" Antoni gantian bertanya. Di jawab anggukan oleh Zea.


"Om mau kemana?"


"Om mau pergi ke panti asuhan tempat Om ambil Rara dulu, mau kasih santunan." Jelas Antoni.


Zea kembali mengangguk, untuk menanggapi ucapan Antoni. Rara memanglah anak angkat Antoni dan Fida. Mereka mengadopsi Rara tidak lama setelah kelahiran Zia, itu sebabnya umur Zia dan Rara tidaklah jauh berbeda. Bahkan wajah mereka sangat mirip, padahal mereka bukanlah saudara kandung. Antoni dan Fida tidak dapat memiliki anak. Berbagai pengobatan sudah mereka lakukan, bahkan mereka sempat berpikir untuk membuat bayi tabung. Namun Antoni menolaknya dan akhirnya lebih memilih untuk mengadopsi anak saja.


"Oh iya Ze, tadi guru les Zia nelpon Om, katanya Zia tadi di jemput Zeo. Bener itu, kan?" tanya Antoni.


"Iya om, tadi Zeo yang jemput Zia."


"Terus sekarang mereka dimana? Kok nggak pulang. Lagi pula seingat om Zeo belum ada ke sini semenjak rumah kalian di sita, dia baik-baik aja, kan?"


Zea menghela napas khawatir. Sebenarnya Zea tidak ingin menceritakan kejadian yang menimpa ayahnya kepada Antoni. Tetapi Zea adalah orang yang tidak pernah berbohong ketika ditanya.


Melihat perubahan wajah keponakannya membuat Antoni menatap serius Zea.


"Ada apa Ze?" tanya Antoni langsung.


Zea menghela napas lagi. Percuma saja Zea berusaha menutupi apa yang ia pikirkan, Antoni adalah seorang psikolog dan sudah pasti dia dapat membaca wajah tidak tenang Zea.


"Ada yang kamu sembunyiin dari Om, kan?"


Zea sebenarnya tidak ingin menutupinya dari Antoni. Zea hanya tidak ingin Fida tahu, itu saja.


"Cerita Zea, ada apa?." Antoni semakin mendesak Zea.


Zea kembali menghela napas untuk kesekian kalinya.


"Oke Zea akan cerita." Tegas Zea.


Antoni menatap keponakannya itu serius. Dia tahu benar ada yang di sembunyikan oleh Zea.


"Ayah kecelakaan dan sekarang dia ada di rumah sakit,"


"APA!!"


"Shuttt om jangan teriak nanti Tante Fida denger," ucap Zea memperingati.


"Kenapa kamu nggak cerita ke Om, Zea?" Antoni merendahkan volume suaranya.


"Sengaja, supaya Tante Fida nggak tahu dan nggak kepikiran." Antoni menghela napas mendengar jawaban keponakannya itu.


"Yasudah kalau begitu, nanti biar om yang akan kasih tahu Tante kamu pelan-pelan. Kamu jangan khawatir ya, sekarang kamu mau kemana?."


"Zea mau ambil pakaian untuk ganti Zia, habis itu balik ke rumah sakit."


"Yasudah kamu hati-hati,"


"Mas, ayo." Ucap Fida ketika keluar dari pintu.


"Oh iya Zea, Tante sama om mau pergi dulu ya. Kamu kalau belum makan bisa minta tolong mbak Jum angetin sayur,"


"Iya Tante," jawab Zea sopan. Fida tersenyum singkat lalu menggandeng tangan suaminya menuju mobil mereka yang terparkir di halaman rumah mereks..


"Zea paman berangkat dulu ya, Assalamualaikum." Kemudian mobil mereka perlahan menghilang dari pandangan Zea.


"Ze," panggil sebuah suara. Sontak Zea menoleh.


"Apaan," tanya Zea ketus.


"Dih ngegas aja. Sehari lembut ke gue apa nggak bisa sih?" ucap Azlan heran.


"Nggak!! Kenapa? Masalah buat Lo?"


Azlan hanya mampu mengelus dada sabar menyikapi sikap ketus kekasihnya itu.


"Hem Ze besok mau nggak ikut ke rumah gue?"


"Ngapain," tanya Zea tangannya masih hendak membuka pintu rumah.


"Nyokap gue ulang tahun, dia nyuruh gue bawa pacar gue ke rumah. Kan Lo pacar gue, jadi gue bakal bawa Lo." Jelas Azlan.


Zea terdiam sebentar, seperti sedang memikirkan kalimat untuk menjawab ucapan Azlan.


"Karena Lo tadi udah beliin gue bunga mawar sampe empat, oke gue mau."


Azlan berbinar senang, sontak ia langsung memeluk Zea.


"Seneng boleh, tapi jangan madus juga kali!!" ucap Zea setelah melepaskan pelukan Azlan secara paksa.


"Hehehe maaf sayang, reflek tadi." Ucap Azlan cengengesan.


"Lagian peluk doang,"


* * *


Azlan tersenyum sendiri ketika tiba-tiba saja wajah Zea terlintas di pikirannya. Wajah dinginnya, mulut pedasnya. Bahkan pukulan Zea di keningnya yang selalu Zea lakukan membuat Azlan seperti orang gila saat ini.


"Ze Ze Lo emang susah ya, susah buat dilupain." Azlan terkekeh pelan.


"Bahkan muka Lo yang ketus aja mampu buat gue jatuh cinta, gimana kalau manis coba?. Bisa klepek-klepek mati berdiri gue sangking terpesonanya."


Katakanlah Azlan alay. Namun itu semua benar. Mereka yang tidak merasakan hanya akan mengira dan beranggapan bahwa Azlan terlalu berlebihan. Namun faktanya seseorang yang telah jatuh cinta kadar kewarasannya akan turun menjadi 25% sehingga berpikir dan bersikap normal itu sulit untuk dilakukan. Mereka akan lebih mengikuti apa yang mereka rasakan dan hatinya katakan dibandingkan dengan logikanya. Ya contohnya Azlan saat ini.


Azlan rela menghabiskan waktu hanya untuk menemani Zea. Yang pastinya membuat tubuhnya begitu lelah. Jika Zea itu wanita lain sudah pasti Azlan akan menolaknya. Bahkan Azlan tidak pernah menghabiskan waktu dengan mantan pacarnya yang dulu-dulu itu lebih dari setengah jam. Azlan akan selalu beralasan ketika di ajak ketemuan atau sekedar makan bareng saja. Ya begitulah Azlan di masa lalu. Namun kali ini berbeda. Untuk Zea sang bidadarinya, Azlan bahkan rela menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk gadisnus itu.


Azlan meraih ponselnya, ia mengetikan beberapa pesan disana. Kemudian menutupnya kembali. Namun belum sempat Azlan meletakkannya, ponselnya kembali berdering tanda ada panggilan masuk. Azlan menepikan mobilnya terlebih dahulu setelah itu menjawab panggilan.


"Halo Lan Lo dimana? Kok gue telpon dari tadi nggak di angkat sih," sebuah suara yang begitu memekakkan gendang telinga langsung terdengar ketika panggilan telepon itu terangkat.


"Biasa," jawab Azlan santai.


"Lo mah bucinnya kelewatan, masa iya tiap hari ngapel. Nikah aja Lo sono sekalian,"


"Tunggu ajalah, bentar lagi bakal terjadi juga."


"Ada apa sih kak, Lo mau ngapain telpon gue?"


"Lan Lo harus tolongin gue, harus Lan. Gue butuh bantuan Lo banget ini," nada suara di seberang sana mulai terdengar khawatir.


"Bantuan apa sih, minta tolong ke kantor polisi jangan sama gue,"


"Tapi polisi nggak bakal bisa tolongin gue, cuma Lo yang bisa".


Azlan menghela napas pelan.


"Gue harus apa?" tanya Azlan.


"Cariin gue cowok buat gue bawa ke mama besok,"


"Hah!!"


Azlan menepuk jidatnya pelan. Tidak habis pikir dengan permintaan kakaknya itu. apa dia kira Azlan ini bio jodoh yang akan memberikan pacar atau gebetan dengan cepat. Bahkan hanya dalam waktu satu hari.


* * *


Zea melangkah dengan cukup anggun memasuki pekarangan rumah Azlan yang begitu luas. Begitu banyak bunga dan tanaman lainnya di halaman rumah ini. Membuat siapapun yang melihatnya begitu tenang.


Begitulah yang juga Zea rasakan. Bahkan jika di suruh memilih untuk melihat halaman rumah Azlan atau melihat Azlan sudah dapat dipastikan Zea akan lebih memilih untuk melihat halaman rumahnya saja. Karena lebih menenangkan.


"Ayo," ajak Azlan lembut dengan senyuman di wajah tampannya itu. Tangannya ia lekukan mengisyaratkan kepada Zea untuk menggandengnya.


"Emang harus gandengan ya?" tanya Zea sedikit malas.


"Lo pake hiels entar jatoh repot, mendingan untuk jaga-jaga Lo gandeng gue aja." Zea menoleh ke kakinya, yang saat ini memang tengah mengenakan hiels yang sebenarnya tidaklah tinggi. Namun karena Zea tidak terbiasa memakainya membuat gadis itu sedikit kesusahan.


"Lo sih nyuruh gue pake beginian, kan jadi susah." Zea menyalahkan Azlan.


"La kan biar sesuai aja Ze, Lo kan pake dress jadi akan terlihat lebih pas kalau pake sendal bertumit begini,"


"Hiels," Zea memperbaiki.


"Iya itulah pokoknya."


"Tapikan gue bisa pake sepatu," Zea masih saja protes dengan apa yang Azlan pilihkan untuknya hari ini.


Azlan memang sengaja menjemput gadis itu lalu membawanya untuk belanja kado untuk ulang tahun mama nya. Sekalian gadis itu ia belikan dress dan sendal berhiels itu . Awalnya Zea menolak namun bukan Azlan namanya jika tidak dapat memaksa Zea untuk menurutinya. Dan akhirnya Azlan berhasil membuat Zea terlihat begitu anggun dan cantik.


Dengan dress selutut berwarna peach itu, Zea terlihat begitu cantik dan memukau. Bahkan Azlan sempat ingin pingsan sangking terpesonanya dengan kecantikan Zea.


"Yaudah ah yok buruan," ucap Zea kemudian berjalan tergesa-gesa meninggalkan Azlan.


Karena tidak hati-hati dan kurang seimbang Zea hampir saja terhuyung ke belakang. Untungnya Azlan langsung menangkap gadis itu.


"Lo mah keras kepala banget, baru juga gue bilang tadi." Kali ini Azlan berbucara dengan nada sedikit kesal.


"Kalau Lo jatuh terus luka gimana? Lo nggak bisa apa nurut sama gue sekali aja Ze?" Zea hanya menunduk. Entah mengapa untuk membalas ucapan Azlan saja ia tidak mampu.


Zea merasa bersalah, hampir saja ia jatuh karena keegoisannya. Zea terlalu berpikir buruk pada Azlan, mengira pria itu hanya ingin modus dengannya. Padahal tanpa Zea ketahui Azlan begitu khawatir dengan Zea, sampai Azlan se posesif ini.


"Maaf," ucap Zea dengan nada sendu.


Menyadari nada suara Zea yang berubah. Membuat Azlan menjadi merasa bersalah. Tidak seharusnya Azlan meninggikan volume suaranya tadi.


"Udah nggak papa, sekarang Lo gandeng gue. Biar Lo nggak jatuh," ucap Azlan menenangkan.


Zea langsung mengalungkan tangannya pada lengan Azlan. Azlan tersenyum singkat. Kemudian mereka melangkah masuk ke dalam rumah Azlan.


Zea menatap rumah yang saat ini ada di hadapannya itu. Rumah yang tidak pantas dikatakan sebagai rumah. Rumah ini lebih tepat disebut Istana. Begitu megah dan mewah.


"Ini rumah Lo?" tanya Zea polos.


"Bukan, gue numpang di sini," Jawab Azlan cepat.


"Gue serius Lan,"


"Oh mau di seriusin, yaudah kita nikah aja sekarang." Zea menepuk jidat Azlan sekali


"Otak Lo nggak beres makinan," Azlan terkekeh. Wajah kesal Zea membuat Azlan merasa lega. Gadis itu tidak sedih lagi ternyata.


"Assalamualaikum ma," teriak Azlan ketiak masuk ke dalam rumah.


Wanita paruh baya yang begitu cantik tidak lama datang menghampiri Azlan dan Zea. Dia tersenyum begitu hangat, membuat Zea terenyuh dengan senyuman itu.


Jadi inget bunda.


"Oh kamu udah sampe Lan." Sahut Marisa. Zea langsung meraih punggung tangan Marisa laku menciumnya. Hal itu membuat Marisa kembali tersenyum. Dan hal itu juga membuat Azlan terdiam.


Gue baru kali ini bawa cewe ke rumah dia Salim sama Mama.


"Ini pacar kamu, kan." tebak Marisa langsung.


"Bukan mah,"


"Ya iyalah masa tukang siomay Azlan bawa ke rumah."


"Ih kamu ini, masa pacar sendiri di samaain sama tukang siomay."


"Tapi kalau tukang siomaynya itu Zea sih nggak papa mah," sahut Azlan.


Kalau nggak di depan mamahnya udah gue tendang nih bocah. Enak aja gue di jadiin tukang siomay.


"Oh jadi nama kamu Zea ya? Cantik, sama kayak orangnya." Puji Marisa ramah.


"Makasih Tante,"


"Eh jangan panggil Tante, panggil mama aja biar lebih akrab ya." Tolak Marisa.


"Eh iya ma," Zea kembali tersentuh. Entah mengapa Zea merasa kembali menatap almarhum bundanya ketika melihat wajah Marisa. Sosok keibuan Marisa membuat Zea melihat sosok Aisyah, pada dirinya.


"Di persilahkan duduk dulu kali mah," sindir Azlan.


"Eh iya, duduk dulu Zea." Zea menggangguk kemudian berjalan menuju sofa. Tentunya dengan posisi


"Kamu kok mau sih sama Azlan?" tanya Marisa langsung ketika Meraka sudah duduk di sofa.


Zea bingung harus menjawab apa. Karena tidak mungkin jika Zea mengatakan hal yang sebenarnya.


"Padahal kan Azlan orangnya selengekan, playboy lagi. Kok kamu mau sih, kamu nggak di pelet kan, Zea?"


"Dih mama, anak sendiri di jelek-jelekin astagfirullah padahal anaknya gantengnya pake banget." Ucap Azlan berlagak seolah tidak menyangka. Marisa memutar bola matanya malas.


"Mama nggak ngomong sama kamu, Lan. Jadi diem aja." Azlan langsung bungkam. Nyonya Malik sudah berbicara siapa yang berani menyahut.


Marisa kembali menatap Zea. Meski sempat kesal dengan putranya yang baru saja menyela ucapannya.


"Kamu beneran sehat kan Zea, sampe mau pacaran sama Azlan?" tanya Marisa lagi.


"Mah siapa juga yang bakal nolak Azlan, cowok paling ganteng gini, termasuk Zea juga."


Nih bocah ngomong Mulu, gue sumpel juga tuh mulut pake tisu WC umum.


"Diem aja kenapa sih, Lan. Mama lagi ngomong sama Zea,"


Mama di pihak gue.(Ketawa jahat).


"Boleh mama tahu alasannya," tanya Marisa lagi.


Azlan tahu mamanya bertanya bukan hanya sekedar bertanya atau hanya basa-basi saja. Tetapi Mamanya ini sedang mencari tahu tentang Zea, dari jawaban Zea mamanya akan cepat dapat menyimpulkan gadis ini seperti apa. Tulus atau tidaknya dengan Azlan. Marisa hanya akan melakukan ini ketika ada wanita yang datang kepadanya dan mengaku sebagai kekasih anaknya.


Sebenarnya cukup banyak yang datang, dan semua gadis yang datang menurut Marisa hanyalah terobsesi dengan putranya. Mereka tidak tulus. Karena obsesi hanya bersifat sementara.


Zea menghela napas pelan. Ia mencoba mencari kata yang pas untuk menjawab pertanyaan wanita paruh baya di hadapannya ini.


"Mama pengen tahu alasan Zea mau pacaran sama Azlan, kan?" Marisa langsung mengangguk lalu tersenyum singkat.


Entah mengapa Azlan deg-degan setengah mati saat ini. Azlan tahu benar jawaban Zea akan sangat berpengaruh dengan hubungannya dengan Zea untuk kedapannya nanti. Azlan bahkan lupa untuk memberi tahu Zea tentang hal ini. Seharunya Azlan tadi memberitahukan Zea untuk menjawab apa yang ahrus ia katakan. Kali ini Azlan merutuki dirinya sendiri.


Hubungannya dengan Zea saja belum terlalu dekat. Apa yang Azlan harapkan dari jawaban Zea nanti. Zea saja belum benar-benar menerimanya, bagaimana nanti jika ada mamanya yang melarang hubungannya juga. Azlan hanya dapat berdoa dalam hati supaya Zea memihaknya kali ini.


"Iya, apa alasan kamu, Zea?"


Zea tersenyum cukup lama, membuat Azlan semakin pusing tujuh keliling. Jika biasanya ia akan senang melihat Zea tersenyum, namun kali ini senyuman itu membuat otaknya berputar keras. Apa maksud dari senyuman Zea saja sulit untuk Azlan artikan.


Ze please jawab agak bener dikit ya.


"Azlan pernah bilang ke Zea mah ketika dia Zea tanya kenapa dia suka sama Zea. Dia menjawab karena Zea itu susah.... susah untuk di lupain." Zea menghela napas.


Marisa masih menyimak Zea berbicara dengan sangat serius.


"Kalau mama tanya Zea, kenapa Zea mau pacaran sama Azlan, jawabannya karena Azlan Kaya," Zea menghentikan ucapannya.


Marisa cukup terkejut dengan jawaban Zea.


Mati gue, nih cewek jawab jujur bener yah. Ya Allah Ze matrenya jangan dilihatin banget ngapa.


"Maksud Zea kaya orang gila kalau lagi sama Zea,"


Marisa masih menatap Zea cukup dalam. Seakan meminta penjelasan lebih dari ucapan gadis itu.


Sedangkan Azlan mulai mengacak pelan rambutnya asal.


"Azlan itu selalu bersikap seadanya di depan Zea mah, bahkan dia nggak pernah malu-malu, malu-maluin malahan. Dia menunjukan dirinya yang sebenarnya tanpa ada yang dia tutupi. Azlan yang sabar, Azlan yang perhatian, Azlan yang ngeselin, Azlan yang suka buat Zea naik darah karena tingkahnya semuanya terlihat jelas. Dan itulah yang menjadi alasan Zea mau sama Azlan."


Azlan terpaku mendengar jawab Zea. Azlan tidak menyangka gadisnya itu akan mengatakan kalimat seperti itu.

__ADS_1


"Azlan tidak bersikap sok baik demi perhatian Zea, tetapi dia lebih memilih memperlihatkan dirinya apa adanya. Meskipun dengan sikap ngeselinnya itu." Marisa tersenyum menatap Zea.


"Zea setuju Mama bilang Azlan itu selengekan, ya karna Azlan memang begitu. Azlan nggak bisa jadi orang lain untuk di sukai oleh seseorang, kan? Dia harus menjadi dirinya sendiri untuk dapat melihat siapa orang yang mau menerimanya apa adanya,"


Marisa semakin melebarkan senyumannya. Dia mengelus pelan lengan Zea.


"Terima kasih atas jawabannya ya, kalau gitu mama tinggal ke belakang dulu mau ambil minum." Zea mengangguk lalu tersenyum. Marisa langsung bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju dapur.


Sepeninggalnya Marisa, Azlan langsung menatap Zea. Menarik wajah gadis itu untuk menatapnya.


"Ze Lo nggak habis kesurupan, kan?" tanya Azlan serius dengan telapak tangan membingkai wajah Zea.


"Ya nggak lah, Lo yang kesurupan yang ada." ketus Zea sembari menepis tangan Azlan dari pipinya.


Puk


Azlan menepuk pipinya sendiri beberapa kali.


"Ngapain sih Lo?" tanya Zea heran dengan sikap Azlan.


"Nggak mimpi ternyata," gumam Azlan cukup kuat.


"Dih setres!!" cibir Zea.


"Lo, kok bisa ngomong begitu sama mama tadi coba, gimana gue nggak bingung jadinya dan ngira ini mimpi. Atau Lo beneran kerasukan setan baik?."


Zea memutar bola matanya malas.


"Emang yang gue bilang tadi itu apaan coba? Perasaan hal biasa aja. Dari pada gue bilang kenyataannya kalau Lo yang paksa gue buat jadi pacar Lo, lebih baik gue bilang begitu aja. Setidaknya yang gue bilang itu fakta dan nggak bohong kok. Cuma gue tambah dikit aja kata pujian di sana, biar mama seneng."


"Iya juga sih Ze, yang Lo bilang tadi bener ada di gue." Azlan menyetujui ucapan Zea.


"Tapi emang gue sengeselin itu ya?"


"Yess,"


"Lan," sebuah panggilan membuat Azlan menoleh.


Tampak Azlina tengah berjalan mendekat. Azlina begitu cantik dengan balutan dress santai pink yang ia pakai.


"Apaan?" tanya Azlan bingung.


"Lo lupa. Eh ini Zea ya?" Azlina yang tadinya hendak menagih janji Azlan kini beralih pada Zea yang lebih menarik menurutnya.


Azlina langsung duduk di dekat Zea. Lalu tersenyum kepadanya, Zea secara reflek langsung membalasnya dengan senyuman juga.


"Iya dia Zea," itu suara Azlan.


"Ternyata Lo beneran cantik ya Ze. Gue kira cuma gue cewek yang paling cantik," ucap Azlina dengan nada bercanda. Zea hanya membalasnya dengan senyuman lagi, namun kali ini dengan sedikit kekehan kecil dibelakangnya..


"Dih sombong banget, cantikan juga pacar gue daripada Lo." Azlina memutar bola matanya malas. Zea yang ia goda malah Azlan yang sewot.


"Pantes aja sih Ze, Azlan itu sampe tergila-gila banget sama Lo. Ternyata Lo itu beneran cantik. Walaupun sebelumnya sih, Azlan emang udah gila tapi karena ada Lo dia jadi makin gila."


Azlan membulatkan matanya. Kakaknya menghinanya di depan pacarnya dengan terang-terangan. Suatu hal yang tidak patut untuk dicontoh.


"Ngehinanya nggak nanggung ya," sindir Azlan.


"Lah kan fakta,"


"Oh iya Lan, mana cowoknya?" tanya Azlina ketika menyadari ada hal ingin ia tagih tadinya.


"Tenang aja bentar lagi juga Dateng," sahut Azlan santai.


Tidak lama Azlan mengatakan hal itu ponselnya bergetar.


"Halo,"


"....."


"Oh Lo udah di depan, masuk aja pintunya nggak di kunci." Ucap Azlan kemudian mematikan sambungan teleponnya.


"Dia udah sampe, tunggu aja bentar lagi juga masuk." Azlina mengangguk mengerti.


"Oh iya mama mana?" tanya Azlina.


"Tadi kebelakang kak, katanya mau ambil minum." Zea yang menjawab.


"Tuh orangnya," ucap Azlan sembari menunjuk ke arah pintu masuk.


Sontak Zea dan Azlina menoleh. Hal yang begitu mengejutkan untuk Zea ketika melihat siapa yang datang. Sedangan Azlina hanya memberikan senyuman singkat. Setidaknya dia aman kali ini. Tetapi hal yang membuat Azlina bingung kenapa pria itu tidak memakai setelan jas. dan malah memakai kemeja pendek saja. Memang acara ini tidaklah acara formal tetapi jika pemuda itu memakai jas pasti akan terlihat lebih berwibawa.


"Zeo!!" pekik Zea tidak percaya ketika pria itu sudah berada di hadapan mereka bertiga.


Azlina menoleh ke arah Zea.


"Kamu kenal?" tanya Azlina langsung.


Zea menoleh ke arah Azlina sebentar.


"Dia adik Zea kak," jawab Zea seadanya.


"HAH!!"


"Apaan sih kak pake teriak-teriak segala." Ucap Azlan sewot.


"Lo gila Lan, masa iya anak ABG yang Lo suruh jadi pasangan gue," protes Azlina.


"Tinggal terima aja apa susahnya sih kak, lagian Zeo cukup ganteng untuk bersanding sama Lo."


"Tapi apa nggak ada yang lain gitu, seenggaknya yang lebih tua dikit dari gue atau Lo,"


"Ada sih kak. Tukang gali kubur di depan komplek kita tuh tuadan pastinya lebih tua dari Lo bahkan dari papa, Lo mau?."


Azlina emosi setengah mati mendengar jawaban adiknya itu. Sedangkan Azlan sudah cekikikan sendiri.


"Ze kok Lo bisa sih?"


"Bang Azlan minta tolong sama gue, gue kira minta tolong apaan ternyata buat jadi cowo pura-pura kakaknya," Zea hanya geleng-geleng kepala saja melihat dua laki-laki dihadapannya ini.


"Dan Lo mau?" Zea bersuara lagi.


Zeo mengangguk.


"Iya dong, gue kan nurut sama Abang ipar." Jawab Zeo dengan senyum tanpa dosa miliknya.


Zea menatap Azlina sekilas.


"Adik kita sama gilanya Ze," ucap Azlina dibalas anggukan dari Zea.


Sedangkan dua pemuda itu tertawa puas, entah karena apa Zea dan Azlina juga tidak tahu itu.


"Gila!!" ucap Zea dan Azlina kompak.


"Nggak papa gila kak, asal ganteng."


"Gila kuadrat," sahut Azlina lagi sembari geleng-geleng kepala mendengar ucapan Azlan barusan.


"Udah ah Lo bukannya ngucap terima kasih gitu udah gue bawain cowo juga. Setidaknya Lo selamat kali ini, kak."


"Selamat sih selamat Lan, tapi nggak bocah juga."


"Sama-sama kakakku,"


"Terus kenapa dia nggak Lo pakein Jas atau apa kek yang buat dia nampak berwibawa gitu,"


"Emang apa yang salah sama baju gue, kak?" kali ini Zeo yang bersuara. Azlina menoleh lalu menatapnya cukup dalam.


"Adek kecil yang ganteng, pakaian Lo nggak salah sih. Tapi kurang pas aja."


"Sengaja kak, gue yang suruh dia pake begituan."


"Maksud Lo?" tanya Azlina bingung.


Azlan menghela napas pelan.


"Kak, Lo tahukan mama itu gimana, dia nyuruh kita bawa pasangan bukan tanpa alasan. Lo tahu nggak, tadi, Zea aja udah di interogasi sama mama." Ucap Azlan sok serius.


"Hah, introgasi apaan? Perasaan nggak ada," Zea menyahut.


Azlan menoleh singkat ke Zea lalu tersenyum lembut.


"Lo tadi itu di tanya-tanya apa namanya coba kalau bukan introgasi Zea, cuma Lo nya aja yang nggak sadar,"


"Untung aja jawaban Lo memuaskan mama,"


"Terus hubungannya Lo suruh dia pake setelan begitu sama ditanya-tanya mama, apa coba?." Tanya Azlina lagi, sebenarnya dia bingung maksud dari Azlan itu apa.


Azlan menghela napas berat.


"Mending duduk dulu ajalah, gue bakal jelasin sambil duduk."


Semuanya mengikuti instruksi dari Azlan.


"Jadi gini kak, sebenarnya bisa aja gue suruh Zeo pake pakaian kayak orang-orang kantoran gitulah. Tapi masalahnya nanti mama bakal nanya dia tentang dunia kantor. Zeo itu masih kelas sebelas SMA kak, ditanya urusan kantor mana dia tahu, Jadi gue mutusin dia untuk pura-pura jadi pelatih bola di klub Persija junior jakarta," jelas Azlan panjang lebar dengan senyuman bangganya.


Azlina dan Zeo saling tatap.


"Pelatih bola?" tanya Zea bingung.


"Iya Ze, karna Zeo itu kan ahli dalam bola setidaknya kalau di tes sama mama ataupun ditanya-tanya dia pasti bisa jawab." Jelas Azlan lagi. Zea hanya manggut-manggut tanda mengerti.


"Pinter juga Lo ya,"


"Baru sadar kalau punya pacar pinter," sindir Azlan.


"Nyesel gue muji sumpah,"


Azlan terkekeh pelan. "Lucunya pacarku kalau lagi marah," goda Azlan dengan mencoel sedikit hidung Zea.


"Iss apain sih,"


"Eh udah nambah orangnya ya," ucap Marisa ketika datang dengan nampan berisi tiga gelas jus jeruk.


"Eh mama," ucap Azlina.


"Kurang berarti minum nya ya, kalau gitu biar mama ambil lagi, tunggu bentar ya," Marisa masih hendak berjalan kembali ke dapur Zea menghentikannya.


"Emm mah," Marisa menoleh.


"Iya Zea," sahutnya. "Ada apa?"


"Biar Zea aja yang ambil minumnya lagi, kan mama hari ini ulang tahun jadi nggak boleh capek dong."


Marisa tersenyum singkat, kemudian mengangguk. Melihat jawaban Marisa, Zea tersenyum senang.


Zea langsung bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju dapur, sedangkan Marisa duduk di samping Azlina.


"Mama?" tanya Azlina kepada Azlan dengan sedikit berbisik.


"Mama yang suruh Zea tadi panggil mama begitu," jawab Azlan ikut berbisik. Azlina membalasnya dengan manggut-manggut saja.


Melihat ada orang lain selain anak-anaknya, Marisa menatap Zeo dengan tatapan tanya. Zeo pun yang merasa di tatap, langsung menghampiri dan menyalami punggung tangan Marisa.


"Selamat ulang tahun Tante,"


"Iya terima kasih, kamu?"


"Saya Zeo Tante, pacar Azlina." Ucap Zeo memperkenalkan diri.


"Owh gitu ya. Kamu udah kerja?"


"Udah Tante,"


Dih langsung tanya kerjaan bah. Tidak ada basa-basi. Batin Azlan.


"Kalau Tante boleh tahu kerja apa?" Zeo melirik sekilas Azlan. Sedangkan Azlan hanya menganggukkan kepalanya sekali saja. Mengartikan bahwa mereka masih aman.


"Lo bener Lan, dia di introgasi mama." Bisik Azlina dengan gelengan kepalanya.


"Saya kerja sebagai pelatih bola di tim Persija junior Tante," jawab Zeo tanpa ragu.


Tampak Marisa yang sedikit terkejut. Kemudian ia tersenyum singkat.


"Oh kamu pelatih bola, bisa maen bola berarti dong."


"Bisa Tante,"


"Boleh dong kamu main bola di halaman Tante, sekalian tunjukin kemampuan kamu." Zeo mengangguk mantap. Ini sudah ia prediksi sejak awal.


"Boleh Tante,"


"Mah, Zeo kesini kan bertamu, masa di suruh maen bola sih," itu suara Azlina


"Nggak papa kok sayang," ucapan Zeo membuat semua orang menoleh kepadanya.


Dahi Zea langsung berkerut ketika datang bersamaan dengan Zeo yang menguvao kata sayang tadi.


Adik ipar gue mulai membuat kemistri kayaknya.


Di panggil sayang sama bocah gue. Astaga.


"Malahan aku seneng," Zeo kembali tersenyum.


Zeo bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju halaman rumah diikuti yang lainnya. Azlan melemparkan bola kaki kepada Zeo, dan pria itu menangkapnya dengan sigap.


"Lo lawan gue, gimana?" tawar Azlan.


"Boleh," sahut Zeo bersemangat.


Azlan langsung berlari mendekati Zeo. Bahkan ia tidak ganti celana dahulu sebelum bermain bola kali ini.


Azlina dan Zea hanya pura-pura bersorak saja untuk menambah drama mereka, supaya terlihat lebih real lagi.


"Ayo Azlan kamu pasti bisa," teriak Marisa.


"Zeo semangat!!" teriak Azlina pura-pura heboh.


"Lan jangan malu-maluin gue," teriak Zea tidak mau kalah.


Azlan menoleh ke arah Zea, mengancungkan jempolnya setelah itu, Azlan mengedipkan satu matanya kepada Zea, berniat untuk menggoda gadisnya itu.


Zea hanya membalasnya dengan senyuman terpaksa saja.


"Ciee digodain sama pacar," ejek Azlina setengah berbisik.


"Apaan sih kak," balas Zea sedikit malu-malu.


"Cie bulushing ciee," Zea menutup wajahnya karena maul. Sikap Azlan tadi mampu membuat Zea tersipu begitu saja.


Sedangkan di lapangan Azlan dan Zeo sengaja bermain licik. Azlan tidak mengeluarkan seluruh kemampuannya. Sehingga dalam permainan kali ini, Zeo lah yang unggul.


"Kok Azlan kalah sih, masa sprin sama Zeo aja kalah." Marisa bersuara.


"Karna pacar Lina lebih hebat dari Azlan mah," sahut Azlina langsung. Marisa menoleh sekilas pada Azlina. Setelah itu kembali fokus ke lapangan.


"Tetap anak mama yang terbaik Lina," Zea terkekeh kecil mendengar ucapan Marisa. Kali ini Zea sadar sikap terlalu pede Azlan itu berasal dari mamanya ternyata, Marisa yang selalu menganggap Azlan adalah yang terbaik.


Azlan dan Zeo tidak bermain untuk mencetak gol. Karena, mereka hanya berdua saja, masih sangat kurang untuk membentuk tim. Maka dari itu mereka lebih memilih untuk adu dalam teknik permainan bola kaki saja.


Zea dapat melihat dengan jelas bahwa Azlan sengaja tidak bermain baik di sini. Sebenarnya apa yang dikatakan Marisa itu sangatlah benar, Azlan lebih baik dalam bermain bola dibandingkan Zeo. Mungkin pengalaman pria itu bermain bola lebih banyak dibandingkan Zeo. Mengingat umur mereka yang cukup berbeda. Mengapa Zea tahu hal itu, karena sebelumnya Zea pernah melihat keduanya bermain futsal. Meskipun berbeda dengan bola kaki namun teknik yang digunakan masih mirip. Zea memang tidak pintar bermain bola bahkan menggiring bola saja ia terpeleset, namun untuk melihat dan memperhatikan teknik seseorang Zea adalah ahlinya.


Mengapa Zea mengerti hal ini? Karena sejak kecil, Zea sudah mengenal bola. Bukan padai bermainnya, namun hanya mengerti teknik serta cara bermainnya. Namun yang ia tahu hanyalah teori bukan untuk dipraktekkan, hal ini tersebut hanyalah untuk menjadi pelajaran saja bagi Zea.


Ayah Zea adalah atlit bola ketika ia masih muda dulu. Ia mulai pakum ketika menikah dengan ibu Zea dan mulai meneruskan bisnis keluarga mereka. Dan Zeolah yang menjadi sasaran ayahnya untuk dilatih bermain bola sejak kecil.


Jadi ibaratnya begini. Zea lah yang menerima teori, Zeo lah yang memperaktekkannya. Dan hal tersebut selalu mereka lakukan di akhir pekan. Namun hal itu hanyalah masa lalu. Masa lalu yang begitu indah namun menyakitkan bagi Zea. Zea begitu menikmati permainan Azlan dan Zeo hingga hayalan masa kecilnya terus tergiang begitu jelas. Zea merindukan itu semua.


Sampai akhirnya permainan Azlan dan Zeo selesai. Mereka disambut heboh oleh Marisa.


"Ternyata kalian benar-benar hebat ya. Zeo pantas saja kamu menjadi pelatih bola, ternyata kamu hebat sekali, Bahkan Azlan kalah dari kamu."


Azlan dan Zeo saling pandang. Mereka menatap satu sama lain dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Kan Lina udah bilang mah, pacar Lina yang terbaik." Ucap Lina kemudian mendekati Zeo lalu mengelap keringat Zeo yang masih bercucuran dengan handuk kecil.


Azlan yang melihat itu beralih menatap Zea. Tidak mengerti dengan tatapan Azlan, Zea hanya membalasnya dengan tatapan bingung. Azlan menghela napas pelan. Kekasihnya itu ternyata kurang peka.


"Ini ambil sayang, lapin itu keringat Azlan," ucap Marisa lembut kepada Zea.


Sedangkan Zea hanya mampu menerima handuk kecil itu dengan sangat terpaksa. Jika bukan Marisa yang memintanya sudah dipastikan Zea akan menolaknya mentah-mentah.


Azlan tersenyum senang melihat hal itu. Azlan menatap Marisa dengan tatapan terima kasih.


Zea berjalan dengan langkah malas ke arah Azlan. Dengan begitu terpaksa, Zea mulai mengelap keringat Azlan. Tentunya dengan jarak yang cukup dekat. Zea melakukannya dengan sedikit kasar.


Azlan memegang tangan gadisnya itu. Membuat Zea langsung menoleh ke arahnya.


"Apalagi Lan, biarin gue selesain dulu." Ucap Zea dengan wajah malasnya.


"Pelan-pelan aja, nggak usah buru-buru." Ucap Azlan dengan tatapan tidak lepas dari wajah cantik Zea. Meskipun terlihat kesal seperti itu Zea tetap terlihat begitu cantik di mata Azlan.


Azlan melepas cekalannya, membiarkan Zea melanjutkan kegiatannya. Azlan cukup mengawasinya saja.


Sedangkan Zeo yang menatap Azlina dengan jarak yang begitu dekat hanya dapat terpaku dengan gadis di hadapannya itu. Jika kalian mengira Zeo jatuh cinta atau tertarik pada pandangan pertama itu salah besar.


"Ngapain Lo ngelihatin gue begitu banget, gue tahu gue cantik." Ucap Azlina ketika menyadari tatapan aneh Zeo.


"Justru itu kak yang buat gue bingung, Lo cantik kenapa nggak punya pacar coba. Di sini Lo yang nggak laku atau lonya yang selalu nolak cowo?"


Azlina tidak menjawab pertanyaan yang menurutnya tidak penting dari Zeo itu. Dia lebih memilih meneruskan aktivitasnya.


"Kayaknya opsi kedua lebih pas," Azlina tersenyum kecil. Pria yang ia anggap bocah ini sangatlah lucu. Dia yang bertanya dia juga yang menjawabnya.


Marisa yang melihat dua anaknya yang terlihat begitu bahagia itu hanya mampu tersenyum senang.


Tiba-tiba sebuah suara membuat mereka menoleh serempak.


"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to you," sebuah suara berat tengah bernyanyi. Marisa yang merasa begitu mengenal suara itu langsung menoleh dan tersenyum bahagia.


Dugaannya benar, suaminya tercinta tengah berdiri tidak jauh darinya dengan Sebuah bolu ulang tahun di tangannya.


Gibran Malik, ayah dari Azlan Malik tengah berdiri dengan wajah penuh senyuman di hadapan istrinya. Gibran berjalan pelan dengan senyumannya menghampiri istrinya tercinta.


"Happy birthday sayang," ucapnya tulus.


Marisa tersenyum bahagia.


Azlan dan Zea langsung mendekat ketika Marisa hendak meniup lilin diikuti oleh Azlina dan Zeo dibelakang mereka.


Marisa meniup lilinnya kemudian memotong kue, tentunya suapan pertama ia berikan kepada Gibran suaminya tercinta. Setelah itu dilanjutkan kepada Azlina dan Azlan. Namun begitu Marisa hendak melanjutkan untuk menyuapi Zea suara Gibran menghentikannya.


"Tunggu mah," Marisa menoleh kepada Gibran, tatapannya berisi pertanyaan.


Tidak mempedulikan tatapan istrinya, Gibran malah mendekati Zea. Gibran menatap Zea cukup dalam, seakan berusaha mengingat sesuatu.


Gibran meraih ponselnya sebentar, kemudian membuka app galeri, Gibran mencocokan sebuah jepretan foto disana dengan wajah Zea. Tidak lama setelah itu, Gibran tersenyum.


Semua orang diam. Tidak ada yang bertanya ataupun bersuara melihat Gibran yang tengah menatap Zea. Bahkan Zea sendiri juga bingung harus bersikap seperti apa.


"Dia Zea pah, pacar Azlan. Cantik, kan?." Bukan Azlan yang berbicara, melainkan Marisa. Wanita paruh baya itu merangkul Zea dengan sayang.


Gibran tersenyum singkat kepada istrinya lalu beralih kepada Zea lagi. Hal itu membuat Zea maupun semua orang di sana bingung dan juga heran.


"Kamu Zea Praisa Ulya anak dari Fahmi dan Aisyah, kan?" Zea membulatkan matanya. Bagaimana mungkin Papa Azlan mengetahui dirinya?. Apakah dia rekan kerja ayah atau ibu Zea?.


"Kamu kenal dia pah?" tanya Marisa penasaran.


Gibran mengangguk mantap.


"Tentu mah, Zea ini anak Fahmi sahabat papa." Marisa terdiam sebentar, ia berusaha mengingat teman yang dimaksud suaminya itu.


Sedangkan Zea hanya diam, begitupun Azlan dan Azlina.


Gibran beralih menatap ke arah Zeo, Ia mencoba meneliti wajah Zeo dengan begitu seksama. Tidak lama setelah itu, Gibran kembali tersenyum.


"Kamu pasti Zeo," Zeo bingung, Ia hanya mengangguk ragu.


"Papa kenal Zeo juga?" Marisa kembali bertanya.


Gibran terkekeh kecil, ia tersenyum singkat pada Marisa.


"Iya sayang, Zeo ini kan adiknya Zea, anak dari Fahmi."


"APA!!!" pekik Marisa. Dan hal itu membuat Azlan maupun Azlina langsung menegang.


Gibran membuat rencana mereka gagal. Ingin mengumpat tetapi takut berdosa. Karena bagaimanapun Gibran adalah orangtua mereka.


Sedangkan Marisa sudah menatap Azlan dan Azlina dengan tatapan tajam, seakan mengintimidasi. Azlan maupun Azlina hanya dapat menunduk saja.


Mati gue, nggak bakalan selamat kayanya.

__ADS_1


__ADS_2